Title : Sacrifice
Author : BaeKyuSoo
Genre : Sad, Romance, TwoShoot/ThreeShoot/Lebih
Rating : T
Pairing : SasuNaru, slight SasuMen, GaaNaru
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto | INSPIRASI BY Novel Heart Desires
Warning : YAOI! BL! OOC! Banyak TYPO!
Summary : Naruto, Menma dan Sasuke sudah bersama sejak mereka kecil. Saat Senior High School Naruto memiliki perasaan khusus terhadap Sasuke tapi Naruto tau Sasuke menyukai Menma saudara kembarnya. Apa Naruto akan mempertahankan perasaannya atau malah mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Sasuke? Apa Naruto dapat berpaling dari Sasuke kepada Gaara, siswa baru yang terjerat pesona Naruto?
-Sacrifice-
Naruto terus berlari mencari keberadaan Gaara yang masih belum terlihat. "Kenapa dia jalan begitu cepat? Aku sudah berlari tapi masih belum menemukannya" gumam Naruto.
Naruto terus berusaha mencari Gaara hingga matanya menangkap sosok berambut merah mengenakan seragam sekolah sepertinya. Naruto menyipitnya matanya berusaha melihat lebih jelas.
Naruto melangkah maju dari tempatnya semula. Pandangannya masih belum teralih dari pemuda yang di lihatnya. Semakin dekat dia melangkah, semakin jelas sosok itu terlihat. "Gaara" ucap Naruto begitu yakin akan sosok yang dilihatnya.
Segera Naruto berlari mengejar sosok Gaara yang cukup jauh dari tempatnya. Naruto mencoba menggapai tangan Gaara hingga usahanya berhasil. Digenggamnya tangan Gaara agar dia berhenti berjalan.
Naruto berhasil dia bisa membuat Gaara berhenti. "Gaara" ucap Naruto.
"Lepas, pergilah. Jangan perdulikan aku" ucap Gaara dingin.
Sungguh nada seperti ini dari seorang Gaara yang dia benci. Terserah kalau Gaara mengatainya terus menerus asal jangan nada seperti ini. "Gaara" panggilnya lagi.
"Sudah kubilang lepas! Pergilah!" bentak Gaara.
Naruto tiba-tiba memeluk Gaara membuatnya kaget atas sikap Naruto ini. Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Tapi Naruto tidak peduli, bukankah hubungan sesama jenis sudah tabu di tempat mereka.
Gaara tidak berusaha untuk melepaskan pelukan Naruto padanya. Dia menunggu apa yang akan Naruto lakukan selanjutnya. "Baka! Kenapa kau malah pergi? Sudah kubilang kalau kau tidak nyaman dengan dia, aku akan menemanimu. Kau bisa bercerita padaku" omel Naruto.
"Aku tidak tau apa yang terjadi antara kau dengannya, tapi aku bisa membantu menenangkanmu tanpa harus kau pergi seperti tadi" sambungnya.
Gaara tertegun mendengar ucapan Naruto. 'Jadi dia masih mengingat kata-katanya sendiri?' batin Gaara.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi jika kau merasa tidak nyaman dengan kehadirannya kau bisa katakan padaku. Aku akan menemanimu"
Gaara teringat ucapan Naruto saat di kelas tadi pagi. Gaara pikir dia hanya mencoba untuk menenangkannya saja. "Maaf" ucap Gaara pelan.
"Sudah lebih baik?" Naruto melepaskan pelukkannya pada Gaara. Naruto bisa lihat sorot mata Gaara tidak setajam tadi. "Hm" gumam Gaara.
Gaara dan Naruto pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Tempat yang tidak terlalu banyak di datangi orang-orang. Mereka duduk di atas rumput sambil memandang langit yang mulai berwarna orange menandakan malam akan segera datang menggantikan siang, bulan yang muncul menggantikan sang matahari.
Gaara memecah keheningan di antara mereka. "Dia adalah cinta pertamaku. Dulu saat aku pertama kali bertemu dengannya aku seperti melihat dia gadis yang bersinar seakan-akan tidak dapat kugapai" ucap Gaara.
"Dia siapa mak-" ucapan Naruto terhenti begitu tau siapa yang di maksud Gaara.
"Lalu aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatinya. Butuh waktu yang lama sampai aku bisa benar-benar dekat dengannya. Saat aku sudah menjalin hubungan dengannya, teman-temanku mengatakan kalau dia bukan gadis yang baik. Tapi aku tidak percaya, aku tetap membelanya di depan teman-temanku. Pada akhirnya aku sendiri yang melihat kelakuannya" sambungnya.
~Flashback~
Hari ini tepat hari jadi Gaara dan Matsuri. Gaara berniat membuat kejutan untuk Matsuri dengan datang ke apartemennya dan menyambutnya pulang.
Gaara sudah di depan apartemen Matsuri dengan membawa sekotak kue di tangannya hanya tinggal menunggu gadisnya kembali.
TING!
Gaara mendengar suara password apartemen di buka. Dengan cepat Gaara menghidupkan lilin kue yang di bawanya.
Gaara berdiri memegang kuenya berjalan kearah pintu masuk untuk menyambut gadisnya. Tepat saat dia sampai, Gaara di kejutkan dengan hal yang sangat tidak ingin dia lihat. Gaara melihat gadisnya tengah bercumbu dengan seorang pemuda berambut orange.
Kue yang sedari tadi di pegangnya jatuh begitu saja membuat dua orang yang sedang bercumbu itu terhenti. Matsuri kaget begitu melihat Gaara di hadapannya. "Gaara" ucapnya pelan masih dapat di dengar oleh Gaara.
Gaara tidak bergeming, masih tetap sama pada posisinya. "Gaara aku bisa jelaskan ini" Matsuri berusaha mendekat kearah Gaara tapi Gaara menghindar seakan tidak sudi untuk di sentuh olehnya.
Gaara memasang wajah stoic-nya yang dulu sudah dapat di atasi oleh Matsuri tapi sekarang dia juga yang membuat sikapnya kembali lagi seperti dulu. "Gaa-"
"Maaf aku telah mengganggu acara kalian" Gaara pergi keluar dari apartemen itu.
Matsuri mengejar Gaara yang keluar dari apartemennya. "Gaara tunggu" Matsuri memegang tangan Gaara yang langsung begitu saja di tepis oleh Gaara. "Jangan menyentuhku dengan tangan menjijikanmu itu" ucap Gaara dingin.
"Gaara aku bisa jelas-"
"Hentikan omong kosongmu! Aku tidak peduli apa yang kau lakukan, mulai sekarang kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dan kau jangan sekali-kali muncul di hadapanku, ingat itu!"
Gaara pergi meninggalkan Matsuri yang terdiam di tempatnya.
~Flashback End~
Naruto mengelus punggung Gaara berharap bisa menenangkannya. "Pantas saja kau begitu membencinya. Gomen, membuatmu harus mengingat luka lamamu itu. Aku tidak bermaksud"
"Tidak apa, lagipula ini membuatku sedikit lega. Arigatou" ucap Gaara di sertai senyum tipis yang masih bisa di lihat Naruto.
Naruto meletakkan punggung tangannya pada kening Gaara. "Kau tidak sakit, tapi apa aku tidak salah lihat? Kau tersenyum Gaara! Ini kemajuan! Aku akan mencoba membuatmu selalu tersenyum!" ucap Naruto antusias karena melihat senyum Gaara walau hanya senyum tipis saja.
Gaara memutar bola matanya malas mendengar ucapan Naruto. "Kau berlebihan, dasar kucing!"
"Panda menyebalkan! Bagi orang yang belum pernah melihatmu tersenyum pasti akan terkejut melihatnya walau hanya senyum tipis" omel Naruto. "Tapi sering-seringlah tersenyum panda, kau terlihat lebih tampan saat tersenyum" sambungnya.
Naruto tidak tau akibat dari ucapannya dapat membuat memanas wajah Gaara dan detak jantung Gaara yang berdetak tidak normal.
-Sacrifice-
"Ohayou minna!" ucap Naruto begitu sampai di kelasnya bersama dengan Menma di belakangnya.
"Kau selalu berisik Naruto!" ucap Kiba yang selalu membuat pertengkaran dengan Naruto setiap paginya.
Naruto yang tidak terima akhirnya membalas ucapan Kiba yang akhirnya pasti selalu Naruto yang kesal dan kembali ke kursinya. "Menyebalkan! Dasar anjing" dengus Naruto begitu di kursinya.
"Kau selalu meladeni debatannya nii-san. Padahal dia hanya berusaha membuatmu marah"
Naruto tau kalau yang di katakan Menma memang benar, tapi tetap saja dia selalu meladeni setiap ucapan Kiba. "Menma, akhir pekan nanti apa kau ada acara?" ucap Sasuke.
Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke saat mendengar ucapannya. "Tidak, ada apa?" tanya Menma.
Gaara menggenggam tangan Naruto ingin menariknya keluar dari kelas, tapi Naruto menahan tangannya. Dia ingin tetap di kelas, dia akan menahannya. Mulai sekarang dia harus terbiasa dengan semua ini.
"Aku ingin mengajakmu pergi" ucap Sasuke.
"Baiklah, kau jemput aku jam 10 di rumah" Naruto melihatnya, melihat senyum tipis Sasuke.
'Aku benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi kan Sasuke? Aku benar-benar harus menyerahkan?' Naruto memejamkan matanya menahan diri agar tidak menangis.
-Sacrifice-
~Kediaman Namikaze~
TOK!
TOK!
TOK!
Suara ketukan pintu kamar Naruto terdengar. "Nii-san kau di dalam?"
"Masuklah Menma" ucap Naruto.
Menma masuk ke dalam kamar Naruto sudah berpakaian rapi. Naruto bingung melihat penampilan Menma saat ini. "Menma, bukankah kau akan pergi dengan Sasuke pukul 10? Ini baru pukul 9, kenapa kau sudah siap?" tanya Naruto.
Menma mengampiri Naruto yang sedang duduk di atas kasur. "Itulah kenapa aku menemui nii-san sekarang. Neji mengajakku pergi kemarin. Nii-san tau kan kalau aku jarang sekali pergi dengannya karena dia sibuk dengan kegiatan di sekolah" ucap Menma.
"Jadi aku mengiyakan ajakannya. Tapi aku juga tidak enak jika harus membatalkan janji dengan Sasuke" sambungnya.
"Lalu? Kau ingin aku mengatakan pada Sasuke kalau kau tidak bisa?"
"Tidak-tidak. Aku ingin nii-san berpura-pura menjadi aku dan pergi dengan Sasuke"
"Nani!? Kau gila! Itu sama saja kita membohongi Sasuke!" bentak Naruto.
"Tapi apa nii-san rela membuatnya kecewa? Nii-san juga bisa menganggap ini kencan dengannya bukan? Ayolah nii-san bantu aku"
"Baiklah baiklah, tapi aku tidak akan menganggap ini kencanku karena aku hanya berpura-pura menjadi dirimu!" tekan Naruto.
"Baiklah ayo ikut aku sebelum Neji menjemputku"
Menma menaik Naruto menuju kamarnya berniat merubah penampilan Naruto agar mirip dengannya. "Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Naruto.
"Nii-san tenang saja, dia tidak akan tau" yakin Menma.
Menma terus berkonsentrasi merubah penampilan Naruto agar sama dengannya. "Nah sudah dan nii-san kalau kau tidak sengaja bertemu denganku, kau bilang saja kalau itu kau yang sedang pergi dengan Neji. Aku memberitau ini hanya untuk berjaga-jaga kalau kebetulan kita tidak sengaja bertemu"
TIN!
TIN!
TIN!
Terdengar suara klakson mobil di depan rumah. "Neji sudah datang, aku pergi dulu nii-san. Jaa ne"
Menma berlari keluar menghampiri Neji yang sudah menunggunya. Tidak lama setelah itu terdengar suara mobil datang yang langsung saja masuk ke kediaman Namikaze tanpa meminta izin pemiliknya. Kalian pasti tau siapa itu. Ya, dia Uchiha Sasuke yang sudah menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri.
Sasuke langsung saja masuk ke dalam kamar Menma yang di dalamnya masih terdapat Naruto mematung di depan cermin. "Kau masih bersiap-siap?" suara Sasuke memecah lamunan Naruto.
Naruto berusaha untuk bersikap biasa, bersikap seperti Menma. "Tidak, aku sudah selesai" beruntung dari semua kesamaan mereka, hanya sifat mereka saja yang berbeda. Jadi dia tidak harus membuat-buat suaranya agar sama seperti Menma.
"Kita pergi sekarang?" tanya Sasuke memastikan.
"Baiklah" Naruto dan Sasuke berjalan meninggalkan kediaman Namikaze.
Sasuke merasa aneh melihat suasana sepi di kediaman Namikaze yang biasanya terasa lebih ramai karena Naruto dengan tingkah konyolnya. "Kemana dobe?"
DEG!
Jantung Naruto seakan berdetak begitu mendengar Sasuke menanyakan tentangnya. "Dia pergi dengan Neji pagi tadi" ucapnya setenang mungkin.
"Kau tidak cemburu?"
"Tentu saja tidak. Karena aku tau mereka hanya teman, tidak lebih. Mungkin mereka ingin menghabiskan waktu sebagai teman karena selama Neji berpacaran denganku, mereka tidak pernah bersama seperti dulu lagi" jelas Naruto yang masih bersikap sama seperti Menma.
Lalu keheningan menjalar di sekitar mereka tanpa tau apa yang harus di bicarakan. "Kita akan kemana?" tanya Naruto pada akhirnya.
"Kita ke restoran dulu saja"
"Tidak perlu, kita ke kedai ichiraku saja" ucap Naruto membuat Sasuke bingung.
"Menma, sejak kapan kau suka ramen?" tanya Sasuke. Naruto langsung terdiam dan merutuki mulutnya yang begitu saja berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu.
"Tidak, aku hanya ingin mencoba. Kau tau bukan aku tidak suka ramen karena saat kecil aku mencoba memakan ramen malah membuat perutku sakit" ucap Naruto. "Hanya saja nii-san mengatakan kalau ramen di sana berbeda, jadi aku ingin mengetahuinya. Tapi kalau tidak enak, aku akan melarang nii-san makan di sana" sambungnya.
Naruto menghembuskan nafas begitu dapat mengeluarkan alasan yang masuk akal akibat mulutnya yang tidak bisa dia kontrol. "Baiklah kita kesana" putus Sasuke. 'Hampir saja'
Naruto merasa lega saat tau Sasuke tidak curiga karena kecerobohannya.
-Sacrifice-
Naruto dan Sasuke sudah sampai di kedai ichiraku. Mereka turun dari mobil dan berjalan dengan santai masuk ke dalam kedai. 'Sial! Aku harus menahan diri masuk ke dalam kedai, apa lagi saat makan nanti. Menyebalkan!' gerutu Naruto dalam hati.
Kedai terlihat ramai pada akhir pekan seperti ini. "Ah Naruto kau kemari" sapa lelaki paruh baya menghampirinya.
"Gomen jii-san, aku kembaran Naru-nii" ucap Naruto. Dia harus berperan sebagai Menma bukan?
Paman itu melihat penampilan Naruto dari atas ke bawah. "Kalau di lihat-lihat kau memang berbeda dengan Naruto. Biasanya kalau dia datang kemari akan selalu berisik. Berarti kau Menma kembarannya yang selalu di ceritakannya, aku benarkan?" tanya paman itu.
Naruto memaki dirinya sendiri yang bisa-bisanya membohongi orang yang baik padanya. "Ya jii-san"
"Ah kalau begitu tidak apa, kau bisa duduk di meja yang ada di dalam tempat Naruto makan kalau sedang ramai seperti ini" terangnya.
-Sacrifice-
~Di tempat lain~
Neji dan Menma sedang berjalan di sekitar taman pusat kota. Menma terlihat bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Neji seperti ini. "Ada apa?" tanya Neji saat melihat seulas senyum tipis di wajah Menma.
Menma menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Neji. "Tidak ada, hanya saja aku senang kau memiliki waktu luang seperti ini" ucap Menma jujur.
Neji tersenyum mendengar jawaban Menma. "Maaf aku terlalu sibuk beberapa minggu ini" terlihat sekali nada menyesal dari suara Neji.
"Tidak apa"
Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum Neji memulai pembicaraan lagi. "Ah ya, rumahmu terlihat sepi tadi. Apa tidak ada orang?"
Pasalnya saat Neji datang kesana tidak ada suara ribut-ribut Naruto seperti biasanya. "Tou-san dan Kaa-san sedang pergi keluar kota untuk bisnis, sedangkan nii-san-" ucapan Menma terhenti dan menimbang-nimbang apa akan mengatakannya atau tidak.
Menma memutuskan untuk mengatakannya pada perihal masalah ini. "Sebenarnya sebelum kau mengajakku pergi, Sasuke sudah lebih dulu mengajakku. Tapi karena akhir-akhir ini kita jarang sekali bersama jadi aku-"
Menma memberi jeda saat akan melanjutkan ucapannya. "-jadi aku meminta nii-san untuk menggantikanku dan pergi dengan Sasuke sebagai diriku" sambungnya.
Neji membulatkan matanya mendengar ucapan Menma. "Nani? Bagaimana kalau Sasuke tau? Kau tau bukan kalau Naruto mencintai Sasuke. Kalau sampai ini ketahuan olehnya, Naruto bisa saja di benci oleh Sasuke"
Menma menghela nafas mendengar ucapan Neji. Memang benar kalau sampai ketahuan, Naruto yang akan lebih di salahkan oleh Sasuke. "Aku tau. Tapi aku jamin Sasuke tidak akan tau kalau itu Naru-nii"
"Baiklah terserah kau saja"
Mereka berhenti berjalan tepat di depan kursi taman. Mereka duduk di kursi itu. Neji merangkul pinggang Menma, membawanya mendekat kearahnya. Menma tersenyum melihat perlakuan Neji terhadapnya.
Ini yang Menma suka dari Neji. Dia mempunyai caranya sendiri membuat Menma senang tanpa harus meniru sikap orang lain. "Aku harap Naru-nii baik-baik saja" ucap Menma seakan-akan meyakinkan dirinya sendiri kalau dia tidak salah bertindak dan menyusahkan nii-sannya.
"Semoga saja"
-Sacrifice-
Pemuda berambut merah sedang duduk di sebuah cafe menunggu seseorang sejak 30 menit lalu. "Sial! Kemana sebenarnya aniki" makinya yang sudah tidak sabar menunggu.
Berhenti seorang gadis di hadapannya yang membuat perhatian pemuda tadi teralihkan pada gadis itu. "Gaara" panggil gadis itu.
Gaara tidak menanggapi panggilan gadis itu hingga gadis itu memutuskan duduk di kursi yang ada di hadapan Gaara. "Gaara" panggil gadis itu lagi. "Untuk apa kau kemari?" ucap Gaara dingin.
Gadis itu tidak merasa tersinggung dengan ucapan Gaara. "Ini tempat umum, jadi kau tidak bisa melarangku berada di sini" ucap gadis itu.
Gaara masih memasang tampang stoic-nya menatap gadis di hadapannya malas. "Kalau begitu kau pergi dari meja ini. Masih banyak tempat lain yang kosong"
Tanpa Gaara tau, gadis itu menggenggam erat tangannya di bawah meja. "Sebegitu bencinya kau padaku sampai seperti ini? Apa tidak bisa kita kembali seperti dulu memperbaiki semuanya?" ucapnya lirih.
Gaara hanya diam, tidak menanggapi ucapan gadis itu. "Apa karena Naruto?" ucapnya lagi.
"Itu bukan urusanmu"
"Aku masih mencintaimu. Gomen, kalau dulu aku menyakitimu. Itu bukan kemauanku Gaara"
"Aku tidak ingin mengungkit masa lalu, aku tidak peduli dulu kau seperti apa"
"Aku tau kau menyukai Naruto kan? Tapi sayang Naruto mencintai Sasuke dan bodohnya Sasuke tidak menyadari perasaannya pada Naruto. Aku benar bukan? Aku tau kau sudah menyadari itu" terang gadis itu.
Gaara terdiam mendengar ucapan gadis itu. Memang benar dia sudah mengetahuinya sejak kejadian di cafe waktu itu kalau Sasuke mencintai Naruto. Hanya saja dia tidak menyadari perasaannya terhadap Naruto karena obsesinya terhadap Menma. "Sudah kubilang itu bukan urusanmu! Berhenti ikut campur!"
Gadis itu menyeringai mendengar ucapan Gaara. "Berarti memang benar karena Naruto kau seperti ini. Tapi bagaimana kalau aku lakukan sesuatu pada Naruto?"
DRRT...DRRT...DRRT...
Handphone Gaara bergetar di dalam sakunya. Gaara mengambilnya dan melihat ada pesan masuk.
Kankuro-nii
Gaara aku tidak bisa kesana karena Tenten meminta bantuanku. Gomen baru memberitahumu dan tidak bisa menemanimu.
Gaara berdecak sebal melihat pesan anikinya. Pandangannya teralih pada gadis di hadapannya. "Sampai kau menyentuhnya sedikit saja, kau akan berurusan denganku!"
Gaara meninggalkan gadis itu di mejanya sendirian. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya. Aku Matsuri tidak akan menarik ucapanku sendiri" ucap Matsuri -gadis itu- tanpa mengalihkan pandangan dari Gaara yang mulai menjauh.
-Sacrifice-
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Entah karena waktu yang berjalan terlalu cepat atau karena dua pemuda itu yang tidak menyadarinya. Tidak ada di antara mereka yang bosan dengan kebersamaan mereka.
Sasuke salah satu pemuda itu tidak henti-hentinya merutuki debaran yang terasa di dadanya. 'Ini aneh. Biasanya jika bersama Menma, jantungnya tidak berdetak seperti ini' batinnya.
Sasuke melirik ke arah pemuda yang berjalan di sampingnya. 'Perasaan ini, seperti perasaan nyaman saat bersama Naruto. Kenapa bisa sama saat bersama Menma?' batin Sasuke lagi.
Sasuke masih melirik ke arah Naruto, pemuda di sampingnya yang berpura-pura menjadi kembarannya. "Ada apa?" tanya Naruto saat menyadari Sasuke melihatnya sedari tadi.
Sasuke langsung mengalihkan pandangannya dari Naruto ke arah depan. "Tidak ada" ucapnya datar.
"Lalu kenapa kau melihatku terus menerus?" tanya Naruto.
"Aku tidak melihatmu. Aku melihat ke stand di sana" tunjuk Sasuke pada stand yang berada di samping Naruto.
Naruto menyipitkan penglihatannya seolah mencari kebenaran di dalam mata Sasuke. Tapi tidak bisa, tidak terlihat apapun di sana. Hanya ekspresi stoic yang di tampilkan oleh Sasuke yang tidak bisa di baca olehnya.
Naruto menghela nafas dan melanjutkan berjalan. Sebelum sempat Naruto berjalan, Sasuke menggenggam tangannya untuk menahan Naruto. "Ada apa?" tanya Naruto.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"
Naruto memandang Sasuke bingung. "Kemana?" tanya Naruto yang terlihat sekali ekspresi bingung di wajahnya.
"Ikut denganku"
Sasuke menarik tangan Naruto menuju mobilnya. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Naruto hanya bisa mengikuti kemana Sasuke membawanya. Dia harus berperan dengan baik bukan?
Sasuke membawa mobilnya meninggalkan tempat keramaian. Semakin jauh melaju, semakin sepi tempat yang mereka lalui membuat Naruto semakin bingung. "Sebenarnya kita akan kemana?" tanya Naruto.
Naruto paling benci tempat yang terasa sepi dan gelap seperti ini, membuatnya merinding seakan di sekitarnya terdapat banyak hantu bergentayangan. 'Sial! Karena berpura-pura menjadi Menma, aku harus menyembunyikan rasa takutku! Sebenarnya teme akan membawaku kemana?' rutuk Naruto dalam hati.
Sasuke melirik sekilas ke arah Naruto. "Kau akan tau nanti. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam" ucapnya.
'Aku yakin kau memang tidak akan macam-macam, tapi aku merutuki tempat ini kenapa begitu gelap. Bagaimana kalau ada hantu di sekitar pohon-pohon ini' batin Naruto semakin horor saat melihat ke sampingnya terdapat banyak pohon.
Mobil Sasuke berhenti membuat Naruto bertanya-tanya kenapa Sasuke mengajaknya kemari. "Turunlah" ucap Sasuke.
Naruto hanya mengikuti ucapan Sasuke turun dari mobil. Naruto melihat Sasuke berdiri di dekat pagar pembatas. "Kemarilah" ucap Sasuke lagi.
Lagi dan lagi, Naruto hanya bisa mengikuti ucapan Sasuke. Saat sudah berada di samping Sasuke, Naruto bisa melihat kota Konoha yang dapat dia lihat dari sini.
Begitu indah dengan lampu-lampu yang menerangi yang dia lihat dari atas sini. Naruto tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. 'Aku baru tau Sasuke bisa bersikap seperti ini' batin Naruto.
Sasuke melihatnya, dia bisa melihat senyum yang ada di wajah Naruto yang dia anggap sebagai Menma. "Kau suka?" tanyanya.
"Sangat" ucapnya di sertai senyuman manis di wajahnya.
Sasuke seakan merasa dia bersama Naruto, bukan dengan Menma saat melihat senyumnya. Senyum yang sama saat dia melihat Naruto tersenyum padanya. Tapi langsung saja di tepis olehnya pikiran-pikiran itu. 'Kenapa aku malah memikirkan Naruto saat bersama Menma' batinnya.
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Aku senang kalau kau menyukainya.. Menma" ucap Sasuke memberi jeda saat mengucapkan nama Menma.
DEG!
Tubuh Naruto menegang mendengar ucapan Sasuke. Senyumnya hilang saat mendengar ucapan itu. Ucapan yang juga membuat dadanya berdenyut sakit. Ucapan yang membuat matanya memanas.
Naruto mengalihkan panangannya kedepan tanpa merespon ucapan Sasuke lagi. Sasuke menyadarinya, menyadari tingkah aneh pemuda di sampingnya. "Ada apa?" tanya Sasuke saat melihat pemuda di sampingnya hanya diam saja. Berbeda dengan sikapnya sebelumnya.
Naruto memberikan senyum kaku pada Sasuke yang malah membuatnya terlihat aneh bukan baik-baik saja. "Tidak ada"
'Bodoh! Kenapa aku malah berfikir kalau Sasuke melakukan ini untuknya. Sejak awal seharusnya aku sadar kalau dia mengajakku kesini karena menganggapku sebagai Menma. Aku tidak boleh menangis. Aku yang menyetujui ide Menma, jadi aku harus bisa menahannya' Naruto menghela nafasnya pelan.
Naruto membalikan badannya, berjalan menuju mobil Sasuke. "Lebih baik kita pulang sekarang. Aku tidak ingin membuat nii-san khawatir karena aku pulang terlalu malam, dan aku tidak ingin membuat Neji berfikir yang tidak-tidak nantinya" ucap Naruto tanpa menunggu respon dari Sasuke.
Sasuke mengikuti ucapan Naruto menutupi kebingungannya yang dia rasakan melihat perubahan sikap yang mendadak seperti itu.
Sasuke menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Terasa keheningan di dalam mobil yang membuat Sasuke tidak tahan dengan situasi ini. "Ada apa denganmu sebenarnya" tanya Sasuke pada akhirnya.
Naruto tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan di sampingnya. "Tidak ada, hanya saja aku merasa kepalaku pusing. Mungkin aku terlalu lelah karena sejak tadi pagi kita berjalan-jalan" ucapnya.
Sasuke mengalihkan pandangannya sebentar pada Naruto. Sasuke meletakkan tangannya pada kening Naruto, mengecek keadaannya. "Badanmu hangat" ucapnya. "Setelah ini kau harus istirahat" sambungnya.
Naruto hanya membalas dengan gumaman singkat. Kondisi Naruto saat ini membuat Sasuke percaya kalau perubahan sikapnya karena keadaannya. Padahal yang membuatnya seperti ini karena ucapannya.
Tidak terasa mobil Sasuke sudah memasuki pekarangan kediaman Namikaze dan berhenti tepat di depan rumah kediaman Namikaze. "Masuklah"
Naruto keluar begitu saja tanpa menghiraukan perkataan Sasuke. Sasuke hanya bisa menghela nafas dan mulai mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman Namikaze.
Naruto masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan panggilan Menma saat bertemu di ruang keluarga. Naruto masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Sekarang dia benar-benar ingin sendiri dulu.
TOK!
TOK!
TOK!
"Nii-san buka pintunya!" panggil Menma.
"Nii-san ada apa? Apa yang terjadi!? Katakan padaku! Nii-san buka pintunya!" teriak Menma.
Naruto sama sekali tidak menghiraukan panggilan dan ketukan pintu yang di lakukan oleh Menma. 'Gomen, Gomensai Menma. Aku ingin sendiri dulu untuk sekarang' batinnya.
TBC
N/A : Maaf buat update yang telat banget. Di usahain untuk chap depan di update lebih cepet.
