Perusahaan menjaga kerahasiaan identitas para karyawannya secara ketat dari pihak luar. Baik lembaga pemerintah, non pemerintah, ataupun pelanggan tidak memperoleh akses data perusahaan tanpa seizin pimpinan. Perusahaan tersebut merupakan lembaga yang dibentuk secara legal, yang juga berkedok sebuah penginapan, Love Hotel. Jasa yang ditawarkan, diberikan secara langsung kepada pelanggan maupun pengunjung hotel. Beberapa kamar hanya khusus tersedia untuk pelayanan seks sehingga tidak diperuntukkan bagi sewa kamar. Untuk tarif yang ditanggung menyesuaikan dengan pelayanan biasa hingga professional. Daftar pegawai terdapat di resepsionis hotel.
Pegawai perusahaan diberikan kelonggaran. Mereka akan memakai nama samaran atau bisa disebut nama panggung ketika melayani seks. Pegawai pemula akan memulai dengan pelayanan privasi ketat diawal bekerja. Yaitu dengan pelayanan Hole. Sedangkan untuk hal lain-lain terdapat dalam peraturan perusahaan.
Untuk peraturan pelanggan :
Tidak diperbolehkan melakukan kontak bibir ke bibir kepada pegawai.
Tetap menyembunyikan identitas pegawai ketika melakukan pengambilan gambar maupun film.
.
.
Haikyuu
Furudate Haruichi
Sex Commercial Work
Akai girl
KurooXKen
.
Jika berminat silahkan~
.
.
Pemuda yang kini duduk di ranjang yang sama dengan Kenma, bernama Kuroo Tetsuro. Mereka mengambil beberapa kelas yang sama di universitas yang sama pula. Hanya saja mereka tidak berada di program yang sama, Kenma sedikit bersyukur tentangnya. Dia tidak terlalu mengenal Kuroo dengan baik. Kuroo yang tampak dari luar memang terlihat seperti tipe seseorang yang pendiam, stoic. Namun sikapnya yang stoic tersebut tampak selalu keren dimata para gadis. Dari segi ketampanan tidak ada yang menyangkal Kuroo jauh lebih tampan daripadanya.
Kebetulan yang sungguh kejam di setiap kelas yang sama tersebut, kaum hawa mendominasi dalam hal jumlah. Dan hanya beberapa jumlah laki-laki yang dapat dihitung dengan jari. Terkadang pun di kelas, Kenma merasa Kuroo selalu duduk di dekatnya. Kenma akan memilih di dekat jendela ataupun di sudut ruangan. Dia lebih memilih suasana yang tenang untuk menjernihkan pikirannya. Para gadis akan melemparkan tatapan seolah mereka meminta Kuroo bersebelahan dengan mereka, namun Kuroo selalu didekatnya. Terkadang mereka akan melakukan sedikit sekali percakapan, sebab Kenma memiliki urusannya sendiri dan dia tidak peduli dengan Kuroo.
Ketika kelas berakhir, mereka akan makan bersama, dalam hal ini Kuroo memaksanya. Kuroo selalu mengatakan padanya, betapa kurus dan pendek tubuhnya. Ucapan itu membuatnya sedikit memiliki usaha untuk berubah.
"Aku tidak percaya. Bagaimana bisa kau.." Kuroo memelankan ucapannya ketika Kenma hanya diam. Bibirnya terkunci rapat.
"Apa kau melupakannya." Kenma menyahut lirih. Kali ini dia akan menampik semua kelemahanannya. Iris kuningnya menatap tubuh atas Kuroo yang telanjang dalam keremangan ruangan. Dalam keremanganan ruangan irisnya nampak bercahaya menyerupai mata kucing, dia terbiasa melihat dalam gelap. Irisnya menelusuri tanpa berkedip sedetikpun seakan merekam baik-baik dalam ingatannya apa yang dilihatnya. Kemudian pandangannya beralih, beradu tepat dengan iris hitam Kuroo.
"Aku pernah mengatakan padamu, kau tidak usah memperdulikanku kan?" Lanjutnya ketika dia menerima tatapan datar, namun terasa menusuk dari pandangan Kuroo. Bibirnya berujar tanpa ragu, mengeluarkan setiap kata yang ingin diucapkannya. Dia tidak akan menyembunyikan apapun lagi.
Iris hitam yang memandang lekat-lekat dirinya, membuatnya bergeming. Kenma tidak tahu harus mengatakan apa. Isi otaknya telah terkuras dengan ajaib ketika melihat ekspresi datar dari wajah Kuroo.
Hanya hening yang mengisi dalam detik yang terasa panjang. Langit dengan cepat telah berubah mengelap. Sinar lampu yang redup menerobos ke dalam ruangan dari jendela. Padatnya jalanan kota pun terasa berjalan begitu lambat.
Kenma melepaskan gengamannya pada selimut yang menutupi tubuhnya. Membiarkannya terlepas dan jatuh dengan ringan ke lantai sehingga memperlihatkan tubuh telanjangnya yang penuh bekas luka. Udara dingin dari AC menembus kulitnya sementara dia beringsut mendekat ke arah Kuroo yang tengah menatapnya. "Kau menginginkan service?"
"Aku akan melakukannya." Kenma melingkarkan tangannya pada leher Kuroo, menuntun tangan Kuroo bergerak dari lembah pinggang Kenma ke puncak pinggulnya. Lidahnya mulai menjilati leher Kuroo, menawarkan lebih. Dia berusaha mengarahkan Kuroo berdasarkan sentuhan-sentuhan.
Kuroo menarik dan menghempaskan tubuh mereka di ranjang dengan lembut. Kuroo merasa dirinya menegang, berat dan menindih tubuh Kenma. Hidungnya mencium wangi sabun lemon yang menguar dari tubuh Kenma. Dia berada di atas tubuh Kenma, dalam cahaya remang-remang yang minim.
Dia bersikap cukup pasrah, tidak dapat menolak tarikan dari lawaannya. Kuroo menindih tubuhnya, menyelipkan lengan pada pinggangnya, memeluknya erat. Kenma meraih lengan berotot tersebut, mencoba melepaskan. Tangan Kuroo membelai pipinya lembut.
Kuroo memiringkan wajahnya, meraih belakang kepala Kenma. Sebuah benda lunak mendarat di bibirnya. Dia membelalakkan matanya, nafasnya yang terhalang, tertahan di tenggorokan. Kuroo menciumnya. Dia mendorong pundak Kuroo, tetapi pemuda diatasnya tidak juga bergeming. Bibir Kuroo yang semula menempel cukup lama mulai melumat bibirnya pelan.
Dalam aturan perusahaan pelanggan mendapatkan segala service yang diinginkan selain ciuman dari bibir ke bibir. Dan Kenma tidak akan tinggal diam ketika pelanggannya telah melanggar aturan tersebut. Kenma mendorong tubuh Kuroo lagi, kali ini telah menyadarkan pemuda tersebut dan melepas ciumannya.
Dia berusaha bangkit dari ranjang. Kuroo tidak membiarkannya bergerak, dengan memeluknya erat. Kepala berambut hitam yang mencuat keatas tersebut menempel di dadanya.
"Diamlah seperti ini saja." Ujar Kuroo pelan.
"K-kau telah melang-gar—" Kenma berujar ragu.
"Dan aku telah merebut ciuman pertamamu." Kuroo menatap iris kuning Kenma yang mirip mata kucing. Jemari Kuroo menyapukan usapan lembut pada bibir Kenma.
"Kau tidak mengerti."
"Selama ini aku memang hanya diam."
Tangannya memegangi rahang kenma, dan Kuroo menciumnya kembali seakan–akan sedang menumpahkan jiwanya. Gigi dan hidung mereka saling membentur. Kuroo membawa pikiran Kenma dalam suara kecipak basah jalinan bibir keduanya. Lidah Kuroo mengaduk bagian dalam rongga mulut Kenma. Air liur berlelehan di sisi bibir mereka hingga ciuman panas tersebut terlepas.
"Nghh.. hah hah." Kenma mengambil nafas dalam. Dadanya naik turun dengan cepat mengambil udara sebanyak-banyak. Bibirnya memerah dan sedikit menebal, dia mengusap sudut bibirnya yang basah oleh air liur, entah milik siapa air liur tersebut.
Tangan Kuroo mulai membelai tubuh telanjang Kenma. Bermula dari wajah terus bergerak turun menuju bagian tengah tubuh Kenma. Kemudian menyelipkan tangannya diantara belahan pinggul Kenma. Jemarinya yang kurus dengan sengaja mempermainkan lubang Kenma.
"Emngh.. jangan." Kenma meringis kesakitan diantara rasa perih juga nikmat yang diterima dari lubangnya. Jemarinya mencengkram seprai kuat hingga tampak kusut, sampai-sampai kuku jarinya memutih.
"Apakah sesakit itu?" Kuroo menerima anggukan lemah dari Kenma.
Kuroo bangkit, mendudukkan diri diantara tubuh Kenma, yang tengah dalam posisi tidur di kasur. Kuroo menjilat jari tengahnya sendiri. Kenma berpaling ketika Kuroo membuka lebar pahanya. Ini adalah sesuatu yang biasa dilakukannya. Tetapi melakukannya dengan Kuroo membuatnya canggung. Dan tidak bisa dia sangkal, bagian dibawah sana terasa sakit namun juga nikmat disaat yang bersamaan.
Kuroo mendekatkan wajahnya ke dalam belahan paha Kenma, mengamati lubang tersembunyi dalam belahan pantat kenyal tersebut. Lubang yang kecil tersebut tampak berwarna merah dan cairan berwarna putih yang mulai mengering membekas di sekitarnya. Dia menggunakan ujung jari tengahnya menyentuhnya sangat pelan ketika mendengar ringisan dari pemuda di depannya.
Hembusan nafas Kuroo membelai kejantanan Kenma ketika wajahnya mendekat ke dalam belahan pahanya. Kenma mengigit bibir bawahnya, menahan keluar suaranya supaya tidak terdengar oleh Kuroo.
"Tahanlah sebentar."
Kenma mengangguk singkat. Dia membenamkan wajahnya diantara lengannya.
Kuroo dengan perlahan dan hati-hati memasukkan ujung jari tengahnya dalam lubang kenma. Dia berhenti ketika mendengar ringisan tertahan dari pemuda tersebut. Jarinya yang telah masuk setengahnya dalam lubang Kenma terasa di cengkeram erat.
"Terus-kann.. Ha-nya sedikit perihhh." Cairan putih kembali keluar dari lubang Kenma. Kini mengotori jari Kuroo serta pantatnya. Dia merasakan jemari Kuroo mulai membuat gerakan menggesek lubangnya.
"Nngh.. Ah" Kenma telah mencoba menahan desahannya sejak awal. Namun kali ini dia tidak bisa menahannya. Sepertinya Kuroo tanpa sengaja menyentuh titik kenikmatannya berkali-kali. Kejantanannya pun mulai mengeluarkan cairan precum.
Kuroo menenggadah, menghentikan jarinya dalam lubang Kenma ketika mendengar desahan pemuda tersebut. Dia mendapati ekspresi antara tersiksa dan rasa nikmat di wajah Kenma. Tubuh Kenma juga berkeringat, kejantanan di depannya mulai mengeluarkan cairan precum. Kejantanannya yang tertutup oleh celana mulai menegang di bawah sana. Dan mulai terasa berdenyut-denyut sekarang sejak dia melihat tubuh telanjang Kenma.
"Maaf.. Aku akan berhenti." Segera dia beranjak menuju pintu kamar mandi disertai bantingan pintu. Meninggalkan Kenma di atas ranjang.
"Sialan, apa yang telah kulakukan pada Kenma." Ujarnya lirih. Dia menatap tangan kirinya yang telah kotor oleh sperma. Kenma bukanlah miliknya.
.
.
Kenma terbangun ketika berada dalam sebuah ruangan yang dingin. Lampu sorot diatasnya mengarah tepat ke arahnya, membutakan pandangannya. Tubuhnya yang telanjang bulat tertutup oleh kain tipis tidak dapat digerakkan, pengaruh dari obat bius. Dia sedikit terkejut merasakan hembusan hangat membelai benda diantara tubuhnya, pahanya dalam posisi terbuka lebar.
Seorang wanita berada di antara belahan pahanya. Wanita tersebut melumasi sebuah benda di tangannya dengan cairan. Dia membersihkan daerah sekitar rektum Kenma dengan sebatang kapas yang panjang. Kemudian dia mulai memasukkan benda di tangannya ke dalam lubang Kenma, tak lupa menyorot dengan senter untuk melihat lebih jelas.
Dia merasakan sebuah benda berdiameter 3 cm di dorong memasuki lubangnya, cairan dari benda tersebut terasa dingin. Benda tersebut mulai memenuhi lubangnya.
"Penis dan buah zakarnya baik-baik saja." Wanita berambut panjang tersebut mulai bicara. "Kalau melihat anusnya.. bagian luar yang memerah jelas menandakan iritasi ringan, ada beberapa luka gores yang terlihat dan cukup dalam disekitar dinding anus juga bagian dalam. Panjangnya sekitar satu sampai dua sentimeter ke atas."
Kenma masih mengingat apa yang dilakukannya beberapa jam yang lalu dengan Kuroo. Ingatan yang masih segar di otaknya dimana Kuroo meninggalkannya tanpa bertanggung jawab dalam keadaan tegang. Kemudian beberapa jam setelahnya dia memutuskan pergi ke klinik untuk melakukan check-up. Dokter yang dikenalnya membuatnya berakhir di ruang operasi, hanya untuk pemeriksaan anus. Padahal dia hanya menginginkan pemeriksaan yang sederhana.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Kenma beberapa jam setelah menjalani pemeriksaan anusnya.
"Iritasi ringan, beberapa goresan di daerah anus. Ko-chan apakah kau melakukan hardcore?" tanya wanita yang adalah dokternya tersebut dengan nada sedikit marah.
"Maaf.. mereka hanya terlalu berlebihan menggunakan bagian belakang. Sangat menyakitkan.. kau tahu seperti apa yang dilakukan pasangan ketika bercinta." Kenma mengucapkannya secara terus terang, meski ada nada tidak peduli dalam pembicaraannya.
"Bisakah lain kali kau mengirimkan rekaman.." Wanita tersebut memberikan pandangan meminta dengan iris birunya yang melebar dan berkaca-kaca.
"Bukankah aku sudah pernah mengirimkannya." Ujar Kenma sembari mengancingkan jaketnya. Dia memandang ke luar jendela mendapati langit mulai... mendominasi sekitarnya.
"Hanya sekali.." Wanita tersebut cemberut, memainkan stetoskopnya seakan-akan dia menghadapi kenyataan yang pahit. "Tetapi memang benar-benar menakjubkan." Lanjutnya kemudian dengan senyuman menghiasi wajah manisnya. Kenma pun mengembangkan senyum di wajahnya.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera kembali." Kenma beranjak dari ranjangnya.
"Jangan lupa menggunakan obatmu dan istirahatlah sekali-kali dari perusahaan." Ujar wanita tersebut dengan mendonggakan wajahnya ke belakang sehingga rambutnya yang panjang jatuh ke depan hampir menyentuh lantai.
"Ya.. dan terima kasih untuk semuanya."
.
.
Next-
Alat kedokteran buat periksa anus itu namanya speculum, tapi deskripsinya akai ngasal. Gomen.
Akhirannya rada maksa. IYA. Sengaja.
Terimakasih banyak atas review, read, dan segalanya. Sehingga akai semangat untuk terus melanjutkan fic ini. Terharu~
Karena entah kenapa akai selalu ngga betah buat fic yang terlalu panjang. Maafkan akai yang malas.
Next- Chapter 4
