Update updateeee~ ! ! ! *nyebarin selebaran dimana-mana
*ditangkep polisi gara-gara nyampah
kahahaha
Otak lemon saya sudah pada tingkat tertinggi *pak
Terima kasih buat semuanya yang udah baca fic (yaoi) ini *nangis sampe ingusan
Silahkan bacaa~
–Reply Review–
NetiMeongAum : halo, meongaum *ngalungin bunga
Heee ? O.o
Cekikikan saat les mat ? Sugoi ! ! *mata berbinar *plak
Hueee~
Makasih udah dibilang awsem *blushing
Tenang saja, Shin akan meraep Sakuraba hingga habis !
Kahahahahaha *ketawa iblis
Soal 'pelindung'nya Hiruma, nanti juga kau akan tahu sendiri, nak *nepuk pundak MeongAum
UzumakiKagari : Huwaaah ! !
Jangan santet sayaaaa ! ! *histeris lebay
Maap kalo update ngaret…. *ngalungin bawang putih (?)
Douzoo~….. *ngacir biar kaga disantet
cho devi : kaget ya Hiruma jadi sasaran sebelumnya XD *plaak
Shin gitu looh ! ! *ditimpuk sandal swallow
Kahahaha
Tenang aja ibunya si Sakuraba ditolingin ama pelayan rumahnya XD
Okeeey, nikmati lemonnya~~
shinXsaku lover : arigatou~
oke, ini lanjutannya
silahkaaan XDD
Kitsune Syhufellrs : waduuuh, beneran ngebayangin Hiruma di *Piiiip* sampai di *piiiiiip* O.o
Oke oke
maap kalo ntar Sena nya jadi OOC yoo
Kotaro masih lama aku munculin kayaknya :p *ngaciiir
#senyum watados sambil makan pizza (?)
pigfaaarts : *ngasih tisu
saat itu aku mikirinnya ShinSaku, tapi otakku agak sedikit merubah haluan kayaknya
moga aja gak bakal berubah pada pairingnya *amin
sip atuh~ ;DD
;:ww:;
Judul : Kisu Kisu XXX 03 by HakkiRin
Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki& Yusuke Murata
Rating : MATURE !
Peringatan : BL, kata-kata kasar, typos, AU, OOC, gak pantes dibaca anak-anak dan/atau ABG ! (terutama yang bukan fujoshi) + LEMON!, Adult content!
Aku udah memperingatkan, loh…
Happy Reading :3
;:ww:;
Preview : Hiruma terus menggedor-gedor pintu kamar Sakuraba sambil beteriak. Ia berusaha menghentikan tindakan Shin pada Sakuraba. Dapatkah Hiruma menghentikan mereka ? Atau…
:
:
:
Hiruma POV
"Sialan kau Seijuro ! ! Jangan berani-berani kau menyentuh Sakuraba ! !," teriakku sambil menggedor pintu kamar Sakuraba.
Shit ! Tak ada jawaban dari mereka ! umpatku dalam hati, terduduk didepan pintu kamar Sakuraba dan memijat kakiku yang terkilir.
"Aaah– !"
Eh, apa tadi itu ? Desahan ? ucapku dalam hati.
"Huung…Ahn–…"
Aku mendengar desahan itu lagi.
"SHIT ! Seijuro Shin, apa yang kau lakukan pada Sakuraba Haruto ! ! ?," Aku pun kembali menggedor-gedor pintu kamar Sakuraba sambil mencoba membuka gangang pintunya.
"ARGHHH ! ! SIALAAN ! !," teriakku tak karuan.
Aku pun segera mengambil HP ku dari saku celana dan menelepon seseorang.
END Hiruma POV
~510~
Sakuraba/Normal POV
Shin mendekatkan wajahnya keleherku sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat, membuat mukaku merona merah.
"S…Shin-san…," bisikku dengan nafas yang tak beraturan.
Ia menjilati leherku, kedua tangannya membuka tiap butir kancing kemejaku.
Lalu Shin memilin nipplesku dengan jarinya.
"Aaah– !," sontakku spontan dengan kedua tangan yang meremas pada seprai.
"Tak kusangka suaramu begitu merdu," ucapnya sambil terus memilin nipplesku.
Dia pun mendekatkan wajahnya padaku. Mencium dahiku.
"A…. Apa yang kau lakukan ! ?," ucapku, spontan menutup dahiku yang tadi diciumnya.
"Itu tanda bahwa kau sepenuhnya sudah jadi milikku," ucapnya.
Tangannya berhenti bermain dengan putingku dan mulai menggenggam pergelangan tanganku, menyingkirkannya dari dahiku dan menahannya diatas kepalaku.
Ia memegang pergelangan tanganku dengan tangan kirinya. Lalu, tangan kanannya menyentuh bibirku yang basah.
Ia memasukkan jari telunjuknya kedalam mulutku.
"Hnnn–! ?"
Lalu ia memasukkan jari tengahnya pula kedalam mulutku, menemani jari telunjuknya.
"Uuum– ! !"
Terasa sekali kedua jarinya itu sedang mengeksploitasi lidahku. Menekan-nekannya, menyentuhnya, hingga menariknya keluar dari mulutku.
"Aaaaaa~ ! ?"
Ia mengeluarkan lidahku dari mulutku lalu menjilatnya dengan lidahnya. Lidahnya dan lidahku pun beradu, lalu lidahnya mendorong lidahku kedalam mulutku dan uraian saliva pun terjatuh dari sudut bibirku.
Aku meronta dengan memberikan sedikit perlawanan untuk menyudahi ciuman itu. Ciuman yang membuatku tak bisa bernafas.
Ia pun melepaskan ciumannya itu. Lalu melihat wajahku yang telah merona merah.
Ya, ciuman itu membuat panas tubuhku. Aku mengeluarkan air mataku. Mukaku merona merah. Peluh membasuhi tubuhku.
"Ah, shit !," lontar Shin ketika ia melihatku. Ia memandangku dengan nafsu yang memang sudah mencapai pada puncaknya.
Tiba-tiba terasa dari selangkanganku penisnya yang sudah berdiri dari balik celananya.
"Angghh– ! ?," aku menggeliat secara spontan ketika merasakan penisnya yng berdiri itu.
"AKH ! ! SIAL !," umpat Shin lalu ia melepaskan gengamannya itu, melepas celana yang kupakai, lalu ia membuka riseleting celananya dan mengeluarkan penisnya dari boxernya.
"Wwwaaaaaa~…"
Ia menggosokkan menggenggam penisnya dengan penisku. Mengocoknya secara bersamaan. Hingga kami mencapai batasnya.
"Huuunh… Aaaa–"
Aku dan Shin pun mengeluarkan cairan kita. Pre cum.
"Ini cukup untuk melicinkan lubangmu agar gampang kumasuki," ucap Shin sambil menjilat cairan itu.
Lalu ia memasukkan jarinya kedalam lubangku.
"Angh ! ?," sontakku terkejut.
Jari telunjuknya bergerak-gerak di dalam lubangku.
Lalu Shin memasukkan jari selanjutnya, jari tengahnya, kedua jari itu melebarkan lubangku agar bisa dimasuki oleh penisnya.
Kemudian jari ketiga pun ia masukkan, untuk membiasakan lubangku atas seberapa besar sesuatu yang akan memasukinya setelah ini.
"Aahhh~ huumh~…"
Aku tak bisa mengatur nafasku. Keringat membasahi tubuh kami. Air mata tak hentinya keluar dari mataku–walaupun hanya setetes demi setetes.
Ia pun mengeluarkan ketiga jarinya itu, menangkat kakiku agar bersandar pada pundaknya lalu memasukkan penisnya kedalam lubang anusku.
"KAAAAH–! ?," teriakku dengan mata yang terbelalak.
Aku meremas seprai kasurku dengan kuat. Merasakan kepala penisnya berada didalamku.
"Tak kusangka, lubangmu masih terlalu sempit untuk kumasuki…," ucap Shin dengan nafas tidak teratur.
Ia masih berusaha memasukkan seluruh penisnya kedalam lubangku.
Ia mendorong pinggulnya sekuat tenaga.
"A….AAAH ! ? BE… BERHEN…TI…," teriakku kesakitan ketika Shin terus berusaha memasukkan penisnya.
Tapi Shin menghiraukan teriakanku dan akhirnya penisnya pun memasuki lubangku seutuhnya.
"Haaah… Haaah…," Shin bernafas tersengal-sengal.
"Huuuunggh–…," remasanku pada seprai kasurku semakin keras. Aku merasa aneh dengan sesuatu yang berada didalamku.
"Si…Siap ?," tanya Shin padaku. Tangannya memegang lenganku. Ia melepaskan cengkraman tanganku pada seprai dan menautkan jari-jarinya dengan jariku.
Shin pun menggerakkan pinggulnya perlahan.
"Kyaaah~ ! !"
"Ukh !"
"Haaaaa~…. Uhnnn~…," aku terus mendesah, sehingga membuat Shin semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
"Aah… A..ku su…sudah…," aku memejamkan mataku dan akhirnya aku mencapai titik klimaksku.
Tak lama kemudian, Shin pun mencapai klimaksnya dan mengeluarkan cairannya tepat di titik kenikmatan dalam anusku.
"Haaah…Haaah…Haaah…," Kami bersamaan mengatur nafas kami.
Ia secara cepat menarik penisnya keluar.
"Akkh ! ?," aku merasakan cairannya keluar dari dalam lubangku.
Tangan kami masih saling menggenggam. Aku melihat perut Shin yang dilumuri cairanku–dan mungkin ada sedikit cairannya.
"Apa yang kau lihat, Sakuraba ?," tanya Shin, secara spontan aku pun mengalihkan pandanganku.
"Apa kau ingin ronde kedua ?," lanjutnya, berbisik ditelingaku.
"Huuumh~…," aku sedikit mendesah ketika merasakan nafas panasnya menerpa telinga serta leherku, serta membuat mukaku kembali merona merah.
Shin pun menjilati telinga hingga leherku, lalu menggigit leherku.
"Hyaaaaaaaah– ! ?"
Aku pun sontak melihat kearah Shin dan Shin malah mencium mulutku dengan buas.
"Huuhn~"
"Mungkin satu ronde lagi tak apa, ya…," ucap Shin.
Ia pun memasukkan kepala penisnya kedalam lubangku lagi. Namun, Datanglah seseorang yang mendobrak pintu kamarku. Orang yang tak ingin kukecewekan. Ayahku.
"A…. APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU ! ?," teriak ayahku spontan ketika melihatku bertelanjang dengan seorang pria diatasku–Shin.
"Ah, om… Kami baru mau memulai ronde kedua," ucap Shin seolah tak bersalah.
Secara tiba-tiba, ayahku berlari dari pintu kamarku menuju tempat tidurku dan menarik Shin dari sana sehingga kepala penisnya yang masih terbenam dilubangku keluar secara paksa.
Ayahku pun melempar Shin keluar dari kamarku.
"KELUAR KAU ! DAN JANGAN SAMPAI AKU MELIHATMU DEKAT DENGAN ANAKKU ! !," teriak ayahku penuh ancaman pada Shin yang terduduk sakit di depan pintu kamarku.
Ayahku pun berlari kedalam dan membuang baju dan jaket Shin yang tergletak dilantai, melemparnya kearah Shin, lalu menutup pintu kamarku dengan cara dibanting.
Aku hanya bisa terbaring di kasurku. Aku merasa sangat lelah. Namun aku sempat merasakan ayahku memelukku dan berkata 'maafkan ayah, nak.'
Shin POV
"Tch !," kuusap bagian belakang kepalaku.
Aku berdiri sambil mengambil bajuku, lalu memakai dan merapikannya.
Aku pun tersenyum kecut sambil menuruni tangga rumahnya–Sakuraba.
Kekesalanku muncul ketika aku melihat seseorang yang benar-benar tidak aku suka tepat dibawah tangga.
"Jadi kau yang menelpon ayahnya, Senpai ?," tanyaku dengan nada kebencian.
Hiruma-senpai pun mendekatiku lalu memukulku. Tepat di pipi kiriku.
"Anjrit ! ?," umpatku secara spontan.
"Itu balasan yang tadi…," ucapnya.
Lalu, tak kusangka seseorang datang dari belakangnya dan menendang perutku dengan kaki kanannya. Aku pun terjatuh.
Orang yang menendangku itu pun berjongkok didepanku dan mencengkram kerah kemejaku. Ia siap-siap memberikanku pukulannya.
"TAHAN EMOSIMU, HAYATO ! !," bentak Hiruma-senpai sambil memegang lengan kirinya yang hendak memukulku.
Hayato pun melepaskan kerah kemejaku, berdiri membelakangiku dan Hiruma-senpai. Ia pun pergi keluar rumah Sakuraba dengan emosi yang sedang ditahan olehnya.
Senpai memandangku dengan pandangan 'semua-hukuman-itu-belum-cukup-untukmu!'. Lalu Hiruma-senpai berjalan menuju pintu rumah Sakuraba.
Tapi ia berhenti sebentar ketika mencapai depan pintu rumah Sakuraba dan berkata, "Sebenarnya yang menelpon ayahnya bukan aku, melainkan pelayan rumah ini."
"Tch !," aku pun membuang ludahku yang telah berbaur dengan darah ketika Hiruma-senpai telah keluar dari rumah Sakuraba.
::TBC::
Kediaman Sakuraba 22:38
"Selamat Malam," ucap ayah Haruto pada seseorang yang sedang diteleponnya.
"Ya, Selamat Malam ?," jawab seseorang dibalik telepon itu.
"Saya ayah dari Sakuraba Haruto…"
"Ada apa ya, Pak ?"
"Saya ingin mengeluarkan anak Saya dari SMA Tokona !"
"…."
"Halo ?"
"Sayang sekali, Pak. Anak Anda tak bisa mengundurkan diri dari sekolah ini," balas orang dari balik telepon tersebut.
"KENAPA ! ! ?,"
"Karena anak Anda merupakan target. Dan itu sudah diputuskan. Bukankah Anda telah setuju akan apapun yang terjadi pada anak anda asalkan dia masuk SMA Tokona ?," ucapnya dengan nada penindasan.
"Ugh !," ayah Haruto merasa terpojok atas ucapan orang tersebut. Ia merasa terlibat dalam suatu perjanjian yang dibuatnya dengan orang dibalik telepon itu.
"Saya harap Anda sudah cukup mengerti, Sakuraba-san. Selamat malam," ucap orang itu lalu menutup teleponnya.
Ayah Haruto hanya bisa mengumpat dalam hatinya setelah tak ada suara orang tersebut dari balik telepon.
:
:
Hakki's Corner
Gimana Lemon-nya ?
Saya gak pandai buat situasi xxx. =='
Kalau ada yang tidak memuaskan silahkan review.
Saya menerima review apapun. Demi menjadi saya lebih baik lagi XDD *bahasanya *plaak
Arigatou sebelumnyaaa~ *blushing
