Remake A Mask

.

Chapter 2

Main Cast : Park Jimin

Pair : YoonMin

Genre : Romance Mystery

.

Happy reading

Love and Peace :3

.

.

.

Park Jimin P.O.V

"Letakkan di situ saja!"

"Hati-hati! Itu barang pecah belah!"

BRAK!

"SUDAH KUBILANG HATI-HATI!"

Sayup-sayup suara nyaring mulai merambah masuk ke telingaku; sangat, sangat, sangat berisik! Kenapa manusia bisa dengan mudah menaikkan satu oktaf di setiap kata-katanya dan mengganggu orang lain yang membutuhkan ketenangan?! Oh, ayolah! Polisi sepertiku ini sangat susah mendapatkan waktu beristirahat! Dan sekarang adalah hari liburku! Setidaknya yang aku inginkan hanyalah tidur tanpa perlu merasa terganggu sedikitpun.

Yah, walau sesungguhnya juga aku tidak bisa tidur nyenyak jika suasana terlampau senyap.

Bagaimana bisa aku memejamkan mata dengan tenang jika ada sebuah fakta menarik yang sedang terpampang jelas? Bahwa seorang psikopat yang kemungkinan besar tergila-gila akan tubuh manusia dan juga tanggal dua belas sedang berkeliaran di sekitar wilayah ini? Tentu saja aku tidak bisa berbaring serta terlelap dengan nyaman. Demi Tuhan, aku sangat tidak sabar menanti datangnya 12 Desember. Dan sayang, masih ada sebulan kurang lamanya, mengingat hari ini adalah tanggal 18 November.

Oh, jangan lupakan pula soal kasus-kasus kecil lain yang menjadi selingan dan terasa menyebalkan. Itulah nilai plus yang sukses membuat otakku terasa berat hingga memutuskan untuk tidak tidur sama sekali. Sial, kapan terakhir kali aku bisa tidur dengan nyenyak?

Aku semakin terganggu saat beberapa kata umpatan diserukan di luar sana. Memang ada seseorang yang baru pindah dan menempati apartment sebelah. Artinya, aku mendapat tetangga baru. Tapi, haruskah ia memiliki pribadi yang kasar? Dia bahkan dengan mudah mengeluarkan kata-kata laknat itu dari mulut dan terdengar seperti kebiasaan. Sudah sangat jelas jika ia bukanlah orang yang bersahabat.

Mendadak, aku merasa rindu dengan tetangga lamaku.

Gedung apartment ini laku sekali, mungkin karena ruangannya yang kecil namun terasa pas dan nyaman untuk ditempati satu orang saja. Serta alasan lain mengenai letak gedung yang berdiri di pusat kota, membuat semua orang sanggup berebut untuk mendapatkan satu ruangnya. Oh, jangan lupa dengan tarif harga yang sungguh-sungguh menarik minat.

Akan tetapi, karena jangkauan ruangan yang kecil dan harga murah, aku jadi lebih mudah mendengar suara dari apartment di kanan-kiri. Well, ini memang bukan gedung apartment mahal yang kedap suara. Aku bahkan berani menjamin jika sekat pemisah antar apartment ini hanyalah sebuah triplek tipis. Karena jujur, walaupun itu bisa disebut dinding kuat, telingaku masih sanggup menangkap suara dari ruang sebelah.

Maka dari itu, aku bisa mendengar dengan sangat jelas jika si orang baru berteriak, mengumpat, atau memaki. Walau tidak heboh seperti ibu-ibu tapi umpatannya terasa begitu tajam.

Aku jadi merasa kasihan dengan orang yang bertugas memindahkan barang-barangnya….

Dan makin lama omelan itu terdengar seperti kompor, membuat aku menjadi panas saja. Tidak tahan!

Mungkin membersihkan diri setelah dua hari tidak menyentuh air mampu membuat mood-ku berubah lebih baik. Lagipula, kenapa sebuah kasus yang bisa membuatku terlampau fokus sampai lupa membersihkan diri kalah dengan umpatan orang baru itu? Gerah aku mendengarnya. Mungkin ini bisa disebut sebagai salah satu akibat karena terlalu banyak mendengar sumpah serapah kasar.

Setelah melakukan ritual di kamar mandi selama tiga puluh menit lamanya, aku segera menuju dapur. Saat menyadari tak ada lagi umpatan-umpatan yang terdengar, tanpa sadar aku tersenyum tipis. Seperti ini lebih baik.

Tanganku membuka lemari pendingin dan terdiam. Sial, kupikir lebih baik mendengar kembali hardikan si tetangga baru daripada melihat isi lemari pendingin yang kosong. Apa aku lupa belanja bulanan? Ah, ayolah! Aku bahkan juga lupa membayar uang sewa! Sejak kapan aku menjadi pelupa seperti ini?

Aku melihat sekitar, menatap rumahku sendiri yang sudah seperti kapal pecah. Mataku berhenti di sebuah amplop warna cokelat—tergeletak begitu saja di atas meja makan—gaji bulananku seminggu yang lalu. Agaknya aku harus memperbaiki satu kebiasaan buruk itu, selalu meletakkan sesuatu serampangan.

Menghitung sebentar beberapa lembar di dalam amplop tersebut, barulah aku mulai mengira-ngira. Mungkin aku bisa membayar uang sewa terlebih dahulu, lalu belanja bulanan, dan sisanya ditabung. Selanjutnya, aku akan….

Mataku sekali lagi menatap sekeliling rumah, kemudian menghela napas panjang. Jadi sepulangnya dari rangkai kegiatan itu aku akan kembali ke apartment dan membereskan semua ruangan di sini.

Setelah mengenakan jaket hitam, aku langsung membuka pintu apartment dan terkejut melihat seorang pria yang tengah membawa tiga kardus besar ditumpuk sekaligus. Sekilas aku mendengar pria itu bergumam lirih, berdoa agar ketiga kardus yang diangkatnya tidak jatuh ke lantai.

Apa dia tetangga baruku? Atau petugas angkat barang yang sudah mendapati umpatan serta makian dari tetangga baruku? Entahlah, aku tidak tahu. Aku merasa jiwa penuh selidik akibat profesiku sebagai polisi selalu melekat, sekalipun aku sedang tidak bertugas. Dan kini, keinginan untuk membantu juga mulai muncul.

"Apa kau perlu bantuan?" tanyaku pelan, tidak ingin mengejutkannya. Bagaimanapun juga, tiga kardus itu terlihat begitu berat. Mungkin isinya memang barang penting, tidak lucu jika ia terkejut lalu menjatuhkan semua kardus tersebut.

Pria itu sedikit menggeram, menoleh ke samping dan memandangku dengan tatapan tajam. Hanya sekilas, karena setelah itu pupil matanya kembali normal. Sempat kutatap ia dari atas ke bawah, dari puncak kepala hingga ujung sepatu. Penampilan yang begitu urak-urakan, juga wajah kuyu itu membuatku segera menebak jika dia adalah tipe orang yang mungkin saja bisa tahan tidak mandi satu minggu dan tidak pula keluar rumah.

Oh, lihatlah! Hoodie abu-abu tua yang melekat di tubuhnya terlihat kusam. Jangan lupakan jins warna biru donker dengan style robek di sana-sini. Dia persis seperti seseorang yang tidak pernah merawat diri. Ditambah kulit kelewat pucat serta surai blonde yang tertutupi oleh tudung jaketnya. Ah, sekarang dia terlihat seperti vampire.

"Menurutmu?" jawabnya ketus. Sial. Dia, 'kah, tetangga baruku? Karena tidak mungkin pegawai pengangkut barang akan bersikap tidak sopan seperti ini.

Ia langsung memberikan kode untuk mengambil kardus paling atas. Dan entah kenapa aku menurutinya tanpa menunjukkan sikap kesal, bahkan aku sudi memberinya sebuah senyum tipis. Terkutuklah sikapku yang terlalu ramah ini.

"Hati-hati, isi kardus itu novel," lanjutnya sambil terus berjalan menuju pintu yang tidak jauh dari apartment-ku. Aku bahkan hanya bisa berjalan pasrah mengikuti dirinya. Sial, sepertinya memang tidak ada sopan dan santun sedikitpun yang tertanam pada etikanya! Haruskah aku memberitahu bahwa seseorang yang suka rela membantunya ini adalah polisi? Setidaknya, dia harus belajar untuk mengucapkan terima kasih.

Dengan cepat jari-jarinya menekan password pintu dan mendorongnya supaya mau terbuka lebar. Begitu ia melangkah masuk, barulah aku menyusul. Sempat aku memutar pandang ke sekeliling, menatap apartment yang dihiasi oleh tumpukan kardus serta beberapa perabotan baru. Terlihat lebih berantakan dari apartment-ku. Entah kenapa, aku merasa senang akan fakta tersebut.

"Letakkan di situ saja," katanya sembari menunjuk salah satu sudut ruangan. Membuat aku langsung melepas sepatu dan berlari kecil meletakkan kardus tersebut di atas tumpukan kotak lain.

"Ini saja?" tanyaku yang membuat dirinya mengangguk. Tanpa sadar, rasa penasaran muncul di dalam hati. Membuat aku diam-diam mengintip isi kardus tadi yang tidak diberi perekat. Mulutku tidak sengaja bergumam, terkagum melihat sederet novel tersusun rapi dengan nama pengarang yang sama.

Pantas saja dia terus menyuruhku untuk berhati-hati. Ternyata isi kardus itu adalah koleksi novelnya. Yah, beberapa orang memang akan sensitif dengan barang yang sudah mereka kumpulkan dan mereka jaga. Terbukti dengan tampilan novel-novel ini yang tidak tergores cacat sedikitpun.

Tanganku mulai terasa gatal, mengambil beberapa buku dari dalam kardus dan membaca setiap judul serta sinopsisnya. Mungkin saja aku bisa menemukan sesuatu yang menarik. Hingga jari-jariku terhenti, menatap novel tipis berjudul Secret. Sungguh, aku tertarik dengan cover bernuansa sendu itu, ditambah sebuah gambar seorang pria menatap wanita lain yang sedang duduk di dalam café dengan tatapan bersalah.

Indah sekali.

"Min Yoongi." Tanpa sadar aku bergumam, mengucapkan nama pengarangnya dan mengangguk kecil. Mungkin aku bisa mengingat novel ini lalu membelinya di toko buku nanti.

"Iya?" Tetangga baru itu langsung menimpali, membuat aku menoleh ke belakang dan menatapnya. Aku menggeleng pelan.

"Ah, tidak. Aku hanya membaca nama pengarang buku ini." Aku langsung menunjukkan buku itu dan menyengir lebar.

Tiba-tiba dia langsung berdiri, berjalan cepat mendekatiku dan merampas buku tersebut. Aku sempat terkejut melihat tingkah lakunya. Apalagi di saat dia menatapku tajam yang membuat aku tersadar akan sebuah fakta. Bahwa tinggi kami sebenarnya sama, namun manik mata hitam itu dengan begitu mudahnya berhasil mengintimidasi hingga aku merasa begitu kecil.

"Aku pengarang buku ini," katanya dengan nada menusuk, membuat aku tanpa sadar sudah meneguk ludah kecil. "Dan aku tidak suka jika cetakan pertama bukuku ada di tangan orang lain," lanjutnya lagi sembari berjalan melewati tubuhku, meletakkan karyanya itu kembali ke dalam kardus.

Aku yang masih terdiam hanya bisa mengerjapkan mata. "O—oke…," cicitku setelah berhasil kembali menguasai diri sendiri. Aku dapat melihat dirinya yang kembali melangkahkan kaki menjauh dariku, menuju sebuah sofa baru dan mengangkatnya tanpa terlihat kesusahan.

"Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau sudah selesai mengantarkan kardusku?" tanyanya dengan suara serak dan dalam, serta selalu ada intonasi yang terkesan malas di tiap kata-kata bermakna mengusir itu. Aku langsung merasa kesal.

Begitu saja, 'kah?!

Tidak ada ucapan terima kasih?!

Aku mendengus jengkel, menatapnya dengan tatapan menantang dan melengos pergi. Sengaja aku menghentakkan kaki begitu kuat hingga menimbulkan suara, membuat dirinya mendesah karena terganggu. Apa peduliku? Aku benci dengan sikapnya!

Terakhir, sengaja aku menjejakkan kedua sepatu boot yang kukenakan di lantai apartment miliknya. Sehingga tanah-tanah kotor itu menodai keramik putih bersih tak bersalah.

Tanpa mengucapkan kata maaf, aku memutuskan pergi.

Tidak peduli dengan umpatannya yang sedikit tertangkap di telinga kecilku.

Menyebalkan!

.

.

.

Aku berjalan pelan sembari menghela napas. Mungkin ini rasanya menjadi seorang pengganggu yang kesepian.

Pasalnya, beberapa menit yang lalu aku mendatangi apartment Taehyung tanpa tahu malu. Tentu saja setelah selesai belanja bulanan dan membayar uang sewa. Tapi apa mau dikata, Taehyung yang notabene sahabatku sejak di sekolah tinggi ilmu kepolisian itu membukakan pintu tanpa memakai baju.

Hanya boxer.

Jangan lupakan penampilan berantakan serta luka bekas cakaran di beberapa tubuh. Juga bau sesuatu yang menyengat.

Sialan, kurasa Jungkook tidak akan bisa berjalan dengan benar setelah ini.

Kemudian, tidak mungkin aku mendatangi Hoseok ke apartment-nya lalu memaksa untuk bermain game di laptop bersama. Alasannya hanya ada satu, Hoseok benci diganggu di hari libur. Kecuali jika tunangannya dari luar negeri datang, mungkin dia akan membuat pesta kecil dan mengundang kami semua. Jadi, lebih baik berjalan santai di taman yang paling kusuka.

"Kyahaha! Tangkap aku!"

Ah, dengarkanlah suara tawa menyenangkan dari para bocah yang sedang berlarian. Aku merasa telingaku sedang dicuci oleh air surga sekarang. Tenang sekali.

Memang tidak ada salahnya aku bersantai sejenak di taman seperti ini. Mungkin bersandar di pohon rindang kesukaanku selama beberapa jam juga tak apa. Sebelum pulang dan membereskan apartment tentunya.

BRUKK!

Langkahku terhenti, melihat seorang anak kecil yang tiba-tiba terjatuh dan tersungkur di hadapanku. Dengan sigap kubantu ia berdiri. "Lain kali hati-hati kalau bermain," ucapku dan menyunggingkan senyum kecil sembari membersihkan bajunya yang sedikit kotor.

"Terima kasih, Paman!" jawabnya riang, mengangguk lucu sebelum akhirnya memilih pergi dan melanjutkan nada cerianya.

Sedangkan aku hanya mampu diam sejenak, merasakan dongkol yang mendadak muncul kembali. "Yak! Aku tidak setua itu!" teriakku kesal, dan tentu saja tidak dihiraukan oleh bocah tadi.

Aku mendengus kecil, biar sajalah. Lagipula dia hanyalah seorang bocah, tidak apa-apa. Perkataan seperti itu tidak akan membuat mood-ku siang ini jadi semakin buruk.

Kakiku mulai melangkah lagi, menghampiri pohon rindang yang selalu menjadi tempat kesukaan. Baru saja aku ingin tersenyum begitu melihat pohon kokoh di seberang sana, mataku sudah lebih dulu menangkap seseorang dengan headset menangkup telinganya, juga laptop di pangkuan. Cih, mendadak tersenyum menjadi hal berat untuk dilakukan sekarang.

Ada apa dengan hari liburku? Apakah Tuhan bermaksud terus menerus membuat susana hatiku buruk hingga tidak bisa menikmati apapun dengan tenang?

Apa sekarang aku harus mencari pohon lain? Atau—

Pikiranku terhenti sejenak saat melihat seekor kucing berwarna putih dengan corak hitam di kepala menghampiri lelaki itu. Tanpa basa-basi hewan liar tersebut melompat, menaiki laptop hitam itu dan menyamankan diri di atas keyboard. Membuat pergerakan jari-jari sang pemilik laptop jadi terganggu.

"Hei! Apa yang kau mau, kucing tengil?!" Lelaki di sana langsung mengernyit, merasa tidak suka sekaligus risih. Sedangkan si kucing kecil hanya menyahut dengan meongan kecil.

"Pergi sebelum aku menendangmu menjauh…." Dia mulai mengeluarkan suara berat penuh ancaman. Membuat aku mendecih kesal. Lihatlah! Bahkan dengan seekor kucing dia sekejam itu!

Bukannya pergi, kucing kecil itu justru semakin menyamankan diri. Sedikit mendengkur dan mengabaikan tatapan tajam dari seseorang yang diganggunya. Baru saja aku ingin bertepuk tangan karena melihat keberanian binatang tersebut, tiba-tiba tubuh kucing kecil itu diangkatnya. Membuat aku hampir saja berteriak karena takut kucing tersebut dilempar dengan kasar.

Akan tetapi, teriakan itu berhenti di tenggorokan. Digantikan oleh mulut yang ternganga karena melihat sang lelaki hanya memindahkan posisi si kucing. Meletakkan tubuh ringkih itu ke samping kiri dan mengelus bulunya pelan. "Dasar bodoh, jika kau ingin dimanja bilang saja. Tidak usah menggangguku, kucing sialan," dengungnya santai.

Seakan tidak merasa tersakiti karena ucapan kurang ajar itu, sang kucing malah kembali mengeong pelan. "Sekali lagi bersuara, akan kumasak kau hidup-hidup," kata si pria cepat, membuat aku sedikit meringis mendengarnya. Sedangkan si kucing hanya mendengkur pelan, menandakan dia nyaman dengan usapan dari tangan pucat itu.

Lama-lama aku jadi tertawa kecil. Rasanya tidak cocok saja jika melihat seseorang dengan hoodie abu-abu kumal dan kepala yang tertutup bertingkah laku seperti itu. Kesan yang dikeluarkannya terlalu mengerikan untuk mengelus seekor kucing manis. Tidak cocok sama sekali. Jatuhnya malah seperti hiburan kecil.

Tawaku semakin mengecil dan berubah menjadi batuk canggung saat menyadari dirinya yang mulai menatapku tajam. Tatapan intimidasi itu dengan mudah mengunci pergerakan. Membuat aku hanya bisa berusaha sekuat mungkin untuk menghindari kontak mata.

"Apa?" tanyanya tajam yang membuat aku sedikit tersentak. Aku hanya bisa menatap dirinya dengan senyum ragu-ragu.

Detik itu juga, angin berhembus begitu kencang. Membuat tudung yang ia kenakan terlepas, menampakkan muka pucatnya. Bagaikan slow motion, aku terpaku. Menatap mata lesu namun tajam itu. Perlahan surai blonde miliknya bergerak kecil karena hembus angin. Entah kenapa, wajahnya tampak sempurna sesaat. Apalagi dengan pahatan paras menawan, hidung yang tidak terlalu mancung, serta mulut tipis berwarna abu-abu pudar. Oh, jangan lupa juga dengan garis rahang yang tampak begitu tegas. Dia nyaris sempurna.

Tanpa sadar, aku mengamati wajah tersebut dalam waktu yang sangat lama. Bahkan di saat dirinya menarik kembali tudung itu untuk menutupi setengah dari wajah, bisa kurasakan hatiku mendesah pelan. Sayang sekali, wajah seperti itu tidak patut untuk disembunyikan.

"Sopanlah sedikit! Berapa umurmu?!" Sekali lagi, aku terkejut. Nada kesal yang keluar dari mulutnya berhasil membuat aku semakin merasa canggung. Entah kenapa, aku begitu gugup. Sial, apa dia menyadari bahwa tadi aku mengamati wajahnya?

"A—ku? Aku… umur dua puluh tujuh. Iya, dua tujuh!" Suaraku terkesan takut, padahal aku gugup luar biasa. Bahkan aku bisa merasakan panas yang menjalar di wajahku. Tunggu dulu, bagaimana bisa aku merasa segugup ini hanya karena melihat wajahnya?!

"Aku dua puluh sembilan, jadi panggil dengan sopan," lanjutnya lagi. Membuat aku langsung mengangguk cepat.

"Iya! Siap, Yoongi Hyung!" jawabku tegas, layaknya polisi yang sedang diberi perintah oleh petinggi. Untung saja tanganku tidak refleks memberi hormat. Tapi dengan nada yang seperti itu ternyata sanggup membuat Yoongi tertawa kecil. Dan mampu membuat detak jantungku berdentum lebih keras.

Tunggu dulu… kenapa dirinya sangat tampan jika tertawa?!

"Duduklah, kakimu bisa hancur jika berdiri terus." Dia menepuk tanah kosong di samping kanannya. Bagaikan perintah mutlak, kakiku bergerak sendiri untuk mendekat. Duduk dengan jarak yang sedikit jauh, rasanya jantungku bisa meletus jika kami terlalu berdekatan.

Bahaya, hatiku merasakan bahaya. Kapan terakhir kali aku merasakan hal-hal seperti ini?

"Luruskan kakimu," katanya dengan santai. Aku yang sedikit canggung hanya bisa menatapnya bingung lalu meluruskan kaki secara perlahan. Sedikit ragu-ragu karena tidak mengerti apa maksud dari perintahnya.

Pelan tapi pasti dia menutup laptopnya, meletakkan gadget tersebut di samping kiri dan mengangkat kucing putih yang sadari tadi masih setia mendengkur halus.

Tanpa meminta izin dariku, dia langsung merebahkan diri. Menjadikan pahaku sebagai bantalan, membuat aku sempat sedikit tersentak karena tingkahnya yang tidak diduga. Aku mulai menggerakkan kakiku secara sembarangan. Tentu saja aku merasa tidak nyaman dan dengan sangat jelas jika aku menolak sikapnya. Tapi dengan sangat jelas pula dia tidak peduli akan penolakanku.

"Anu— Hyung…." Aku mulai berani membuka mulut, sesekali melirik kucing putih yang sekarang tertidur nyaman di atas perutnya. "Hyung… Aku rasa ini sedi—"

Perkataanku langsung terhenti saat tangan kirinya tiba-tiba terangkat. Mengelus rambutku dengan begitu lembut hingga membuat aku menunduk. Menatap matanya yang tertutup damai. Sekali lagi, dia berhasil membuat jantungku berdegup tidak karuan.

"Sebentar saja, aku mengantuk," ucapnya dengan senyum tipis. Terlalu tipis hingga mampu membuat wajahku memanas. Aku hanya bisa terpaku, bahkan menjawab pun tidak mampu. Saat tangan kirinya mulai turun, bisa aku rasakan sepercik kecewa. Karena jujur, menerima usapan seperti tadi rasanya begitu nyaman.

Aku yang mengalami stagnasi hanya bisa menatap wajahnya tanpa berkedip. Terus begitu hingga tiga menit terlewati. Menikmati derau angin yang sekali lagi menerpa wajahnya. Membuat tudung itu kembali terbuka kecil, menampakkan surai blonde berantakan.

Entah kenapa, tanganku tergerak. Menyisir pelan rambut halusnya dengan jari kecilku. Tanpa sadar aku tersenyum kecil saat mendengar dengkuran halus keluar dari kemudian mulutnya justru menampakkan senyum tipis di paras menawannya.

Membuat jantung ini kembali melompat ria.

Membuat hati ini kembali merasakan bahaya.

Dan membuat wajah ini kembali memanas.

Oh tidak, jangan katakan bahwa senyum sialan miliknya itu—yang sayangnya sangat tampan—mampu membuat diriku…

Jatuh hati.

.

.

.

TBC