Warning! : AU/Alternate Universe, Humor garing. Ada unsur shonen-ai, OOC.

Cerita ini hanya fiksi, kalo beneran mah saya mau lah *ngidol*

©copyright: Fujiwara and Jiku.

happy reading...

Pekerjaan

SHUUUUN!/

"Wah, wah, wah. Tidak biasanya seorang Fuduki Kai girang pas shubuh-shubuh begini"

"Aku excited! Hari ini hari pertama aku kerjaaa~"

"Wah, selamat ya Kai" senyum mencurigakan kembali menghiasi wajah Shun.

"Yosh! Aku akan berusaha sepenuh hati~Heheheh!" Kai tersenyum antusias.

"Kau kerja dimana? Sebagai apa?"

"Tukang las, di bengkel las" balas Kai.

"Yaa~ persis sesuai bayanganku" Shun tersenyum tipis.

"A..apa maksudnya?! Yang penting halal kan?"

"Aku kira kau mau jadi binaragarawan di gym"

"Yaampun, Shun. Badanku ini jauh dari kekar...tapi sexy, sih. Ngomong ngomong, apa kau gak ngerasa aneh?"

"Aneh?" Shun menoleh.

"Kau ini...(tepok ndas) yah, kau tahulah kau ini udah bangkotan"

"Ya, aku memang sudah bangkotan~" Shun mengedipkan salah satu matanya.

"Kau gak ada niat cari kerja gitu?" Kai speechless.

"Kerja?"

"Ya,"

"Kerja?"

"Ya, Shun"

"Kerja?"

"Shun, di dapurku pisau banyak, lho. Tinggal mau milih yang mana" Kai mulai meleduk. "Golok, keris, katana, dll semuanya adaaa! Tinggal kepalamu saja yang ku bacok!" Sembur Kai dengan nada ala uncle Muhtu Upin dan Ipin.

"Untuk apa kerja?"

"Shun, kumohon jangan sombong. Aku tahu harta keluargamu tidak akan habis sampai 7 turunan, tapi kau harus mandiri kan?"

"Bukan begitu maksudku, Kai"

"Kerja itu supaya apa? Untuk apa bekerja? Tujuannya apa?" Tanya Shun dengan berlagak polos.

"Inalillahi"


Kota SukaMaju, jam 9.00 pagi

Di sebuah ruangan, seorang HRD perusahaan duduk berhadapan dengan seorang cowok berambut hitam keabuan dan bermuka datar dengan kemeja putih polos dan celana panjang hitam bahan.

"Baiklah, selamat Pagi" sapa HRD memulai interview-nya.

"Selamat pagi, Pak" balas cowok itu berusaha tersenyum tipis walau gak kelihatan karena mukanya datar banget.

"Baiklah, kita mulai. Siapa nama anda?"

"Arata Uduki. Umur 18"

"Fresh graduate, ya? Hmm...baiklah" HRD itu tersenyum.

"Ya, saya baru lulus dari SMA SukaMaju, jurusan IPS" balas pemuda dengan wajah datar tersebut.

"Baik. Apa keahlian anda?"

"Saya bisa menghabiskan sekotak besar susu strawberry dalam waktu 5 menit" jawab Arata.

HRD itu langsung berkeringat dingin dan sweatdrop.

"Bukan itu, maksud saya keahlian yang seperti: akuntansi, mahir menggunakan perangkat software kantor, dll."

"Oh" balas Arata dengan suara terkesan masabodo. "Ya, saya punya"

"Silakan"

"Dance...Menyanyi..."

Krik krik krik


Sore hari di SMP SukaMaju...

"Sekarang, kita beralih pada verb" Haru mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan sebelumnya di papan tulis.

"Baiiiik~~~"

"Verb (kata kerja) pada dasarnya adalah semua kata yang menyatakan gerak, tindakan, usaha, atau niat dari benda hidup maupun benda mati." Haru mulai menulis di papan tulis dengan spidol.

"Sampai disini, sudah paham?" Haru menoleh pada semua muridnya dengan senyum.

"Sudaaah~~~"

"Kyaaa~~ Pak Haru ganteng bangeeet! Pake kacamata aja udah ganteng apalagi kalau kacamatanya dilepas?~" riuh seorang siswi yang duduk paling belakang.

"Hei, tolong jangan berisik! Tolong perhatikan saya baik-baik. Kalian udah kelas 3 lho, mau ujian. Saya bakal nangis kejer kalo nilai ujian bahasa inggris kalian jelek-jelek semua lho~" Haru tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya.

"Kyaaaa!~~"

"Bisa kita lanjutkan?"

"Iyaaa~~~"

"Soal macam macam verb, kita mulai bahas dari Transitive dan Intransitive Verb dulu, Transitive diikuti direct object (ask, bring, buy, etc), sedangkan intransitive (come, arrive, go, etc) tidak." Haru mulai menulis lagi di papan tulis.

TengTengTeng Susu murni Nasi*nal (digebuk)

"Nah, baiklah anak-anak, bel pulang sudah bunyi jadi, saya rasa cukup sekian dulu. Eiits, tapi besok kita lanjutkan ke contoh Transitive dan Intransitive Verb. Paham semuanya?"

"Iyaaa~~~"

"Baiklah, silakan berkemas, doa, beri salam lalu pulang"


Seorang cowok berseragam SMA dan berambut kuning terlihat memasuki minimarket dengan tenang.

"Selamat datang Kakeru" suara datar Hajime menyapa Kakeru.

"Hajime-san!~~~ lho, belum pulang? Lembur kah?" Kakeru kaget karena Hajime belum bertukar shift.

"Belum. 15 menit lagi aku akan pulang" jawab Hajime.

"Ooh begitu toh"

"Ya"

"Kebetulan aku lagi mau nyari plester, plesternya ada?"

"Ada. Kamu jatuh lagi dari sepeda?"

"Yaaa begitulah~ tapi biasa aja tuh, enggak selebay Koikku"

"Oh, begitu. Ini, plester-nya"

"Okaaay~~ maachiiw"

Pintu depan minimarket pun terbuka lagi. Kini, cowok berambut pink masuk ke dalam.

"KOIIIKKU~~~"

"KAKERUUN~~~"

"Koikku lagi nyari apaaa?~~"

"Anu...jepit rambut buat Ai, jepit rambutnya patah"

"Whoah, lu harus beliin yang baru buat diaa~"

"Oh, jelas dong. Sebagai kakak kembar yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung plus ganteng harus berbuat baik~~"

Hajime menghela nafas panjang.

"Jepit rambut ada di sebelah situ. Tinggal kau pilih yang mana" Hajime menunjuk pada sebuah rak display khusus jepit rambut"

"Ah, Arigatou Hajime-san~" Koi segera melesat kesitu.

Sesampainya disitu, Koi melihat-lihat jepit rambut aneka bentuk dan warna.

"Hmmh...yang mana ya? Duh, aku bingung"

"Lu kenapa Koikku?~" Kakeru berada disamping Koi.

"Aku bingung, Kakerun, gue harus beliin yang mana buat adikku, hiks~"

"Jangan nangis. Emangnya dia mau warna apa?"

"Aku engga tahu, kejadiannya pas dia buru buru pergi, sih"

"Dia sempet ngomong apa?"

"Dia cuma ngomong "Warna jepitnya terserah Oniichan aja deh" udah gitu doang"

"Ooh gitu toh. Umm bagaimana kalo warna pink?"

"Jangan ah, dia terlalu banyak jepit warna pink"

"Hijau?"

"Jangan ah, ntar dikira sayuran terus dimakan sama dia"

"Merah?"

"Oh tidaaak! Jangan meraaah!"

"Kenapa?"

"Aku takut darah~"

"Lho kok takut? Di dalam tubuhmu kan ada darah juga, somplak!"

"Ouh, sorry. Kalo Darah warnanya biru aku mau~"

"Goblok, itu cuma istilah yang artinya keturunan bangsawan" Kakeru mulai panas.

"Aduuuh~ kuharus beli warna apa? Ku tak ingin dia terluka?"

"Semprul! Malah karaokean disini! Buruan, GECE! Hajime-san mau pulang tuh!"

Lalu Koi melirik Hajime yang masih menunggunya dengan tampang sangat malas.

"Sedikit lagi aku mau pulang, kalian berdua cepatlah. Kakeru, bukannya kau sudah dapat plesternya? Kenapa enggak pulang?" Tanya Hajime dengan nada datar.

"Anooo, kebetulan ada Koi, sih. Kasihan kalo gak ditemenin"

BAIKLAAAH! SUDAH KUPUTUSKAN!

JengJengJeng *ceritanya backsound*

"Aku ndak jadi beli lah" kata Koi tanpa merasa bersalah.

"EEH?!" Kakeru cengo. Setelah berabad-abad melihat, memilah jepit rambut, ujung-ujungnya nggak jadi beli?!.

"Kuharap, kalian berdua keluar..." suara Hajime sedikit menyeramkan.

"Hajime-san..."

KELUAAAR!

"UWAAH...BAIIIK!" Koi dan Kakeru langsung lari tunggang langgang keluar dari minimarket.


"Kai, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Fuh fuh fuh" Shun tersenyum tipis.

"Oh ya? Apa itu?"

"Kenek Metromini"

"NA...NANIII?"

"Itu tidak terlalu buruk kan, Kai?"

"I..Iya sih..tapi... lihatlah dirimu!"

"Hmmh?" Shun segera memperhatikan seluruh sekujur badannya mulai dari kedua kakinya.

"Tidak ada yang aneh dari diriku, Kai"

"Kau ini berasal dari keluarga terhormat! Kenapa kau..."

"Tapi, kudengar Hajime pulang pergi kerja dengan Metromini, lho. Bayangkan, kalau aku bisa jadi kondektur. Aah~ sungguh menyenangkan~"

"Yup, kemudian duit dari Hajime itu kau cium cium terus disimpan di kamarmu" Kai mendengus sebal.

"Benar, Kai" Shun mengedipkan salah satu matanya.

Guubraak