The Last One (c) hasegawa tsubaki

Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama

Warning = Boys Love, Yaoi hardcore dan sebagainya. OC berlebihan, bahasa tidak baku, typo(s), dll.

.

.

.

Setelah kejadian itu, Eren kelihatan tampak murung dan tidak pernah bertemu dengan Rivaille lagi. Padahal 2 hari lagi pernikahan mereka akan dilangsungkan.

"Tuan Eren.. Anda tidak apa – apa? Anda terlihat pucat sekali." Tanya Petra yang sedang mengajari Eren menjahit.

"Ah? Ah tidak, aku tidak apa – apa Petra – san... Hanya sedikit kelelahan hehe" Eren tersenyum tipis.

Petra meletakkan telapak tangannya ke kening Eren. "Astaga! Badan anda panas sekali tuan. Sebaiknya tidak usah memaksakan diri. Saya antar ke kamar saja ya?"

"Tidak usah Petra – san! Lihat? Saya baik – baik saja" Eren memaksakan dirinya untuk berdiri dan hampir jatuh.

"Tidak usah dipaksakan tuan. Saya akan mengantarkan tuan ke kamar dan membawakan obat."

Akhirnya Eren mengalah dan Petra mengantarkannya ke kamar.

Sore harinya, Rivaille kembali kerumah setelah bekerja dan bertemu Petra. Tetapi ia tidak menemukan keberadaan Eren.

"Petra, mana Eren?" tanya nya dengan muka datar. Seperti biasanya.

"Ah, tuan Eren sedang tidur dikamarnya, tuan. Dia demam tinggi"

Rivaille kaget tetapi tentu saja tidak terpancar di mukanya yang datar sedatar talenan. Rivaille baru saja akan melangkah menuju tangga tetapi Petra menahannya.

"Tuan... Maafkan saya kalau saya lancang. Tapi anak itu, Eren... Dia keliahatan benar – benar mencintai tuan.." Rivaille menoleh ke arah Petra

"Ketika saya sedang ingin mencuci gordennya, saya pernah memergokinya menangis sambil berbicara sendiri. Jadi tolong, jangan berikan dia waktu yang sulit, tuan" kata Petra menyelesaikan kata – katanya. Rivaille tidak merespon apapun dan melangkah menuju kamar Eren.

Dibukanya pelan – pelan kamar Eren. Ia melihat Eren yang sedang tidur dengan tenang di kasurnya. Kelihatannya dia kekurangan tidur beberapa hari ini.

Rivaille duduk di samping kasur Eren pelan – pelan, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ia lalu menatap wajah Eren yang tidur dengan tenang. Entah mengapa rasanya ia senang sekali melihat wajah anak itu. Ingin rasanya ia melihat lebih banyak senyuman yang terpancar dari wajah anak itu daripada air matanya.

"Maafkan aku Eren... Aku hanya bisa membuatmu menangis." Bilangnya pelan sambil memandangi wajah Eren.

"Maafkan aku karena aku sudah banyak menyakitimu... Tapi sungguh, sebenarnya tidak ada sedikitpun niat untuk menyakitimu Eren" Rivaille menggantungkan kata – katanya.

"Maafkan aku karena sering menggodamu... Aku hanya senang sekali menggodamu. Menurutku, wajahmu saat aku menggodamu itu sangat manis" Rivaille memegang tangan kanan Eren lembut.

"I'm sorry for letting you suffering this much. I... I love you Eren. I really meant it." Akhirnya kata – kata itu diucapkan Rivaille yang selama ini tertahan dikerongkongannya.

"Maaf aku sudah banyak melarikan diri. Aku sebenarnya ingat kejadian dimana aku menolongmu.. Karena jauh sebelum aku menolongmu, Aku sudah sering melihatmu dari foto yang diberikan oleh Erwin padaku sedari aku kecil. Dia bilang 'inilah orang yang akan menjadi pengantinmu suatu saat nanti'. Waktu itu rasanya aku senang sekali. Matamu indah sekali, Eren.." ia menunduk, menguatkan pegangan tangannya ketangan Eren

"Sudah lama aku ingin bertemu denganmu Eren... Tapi aku tidak tau harus bagaimana untuk mengatakannya. Jadi ku pikir lebih baik kalau aku menggodamu saja... Tetapi justru hal itu malah menyakitimu. Aku minta maaf Eren" oke bilang Rivaille tidak jantan he doesn't give a damn tapi dia tidak sengaja menitikan sedikit air matanya.

Ia memandangi lagi wajah Eren yang masih tertidur lelap dan mencium dahinya lalu pergi.

"Rivaille – sensei..." Eren memegangi keningnya. Rupanya Rivaille tidak tau kalau Eren mendengarkan ocehannya daritadi. Air mata bahagia mengalir dari pipinya. Muka Eren yang merah akibat demam kini makin memerah saat Rivaille pergi dari kamarnya.

.

.

.

Malam harinya, Eren tidak bisa tidur. Mungkin karena siangnya dia terlalu banyak tidur karena demam. Ia memutuskan untuk kedapur dan meneguk segelas air putih.

Ketika Eren sampai didapur, ia melihat Rivaille yang sedang menyeduh kopi. Mungkin tidak bisa tidur juga, eh?

"Rivaille – sensei.." Eren memanggil pelan. Rivaille menoleh

"Um... Sensei tidak bisa tidur?"

Rivaille melihat ke kopi yang ia seduh. "Tidak, aku masih harus meneliti jenis obat"

"Oh..." Eren melangkahkan kakinya ke arah lemari dan mengambil air dingin dari kulkas.

"Jangan minum air dingin kalau sudah malam. Terlebih lagi, kau ini sedang sakit bocah." Kata Rivaille

Eren tersenyum dan meletakkan air es itu ke dalam kulkas. "Sensei perhatian sekali denganku hari ini" kata Eren dengan nada semangat.

"Jangan bercanda bodoh, aku memang begini setiap hari." Kata Rivaille menyanggah.

"Minum ini saja" kata Rivaille menyodorkan p*cari.

"Terimakasih sensei" kata Eren tersenyum. Rivaille heran, Eren malam ini semangat sekali... Padahal ia sedang sakit.

"Dan juga... Terimakasih untuk yang tadi" kata Eren sambil meneguk poc*ari nya.

"Tadi?" Rivaille mengerenyitkan dahinya.

"Haha sensei lupa lagi... Yang sensei katakan ketika aku tertidur" kata Eren sambil mengembangkan senyumnya

Rivaille kaget setengah mati. Tidak menyangka Eren akan mendengar pernyataan sukanya disaat seperti itu. Sedikit semburat merah menghiasi pipi yang lebih tua. "Kau mendengarnya, eh? Bocah nakal."

Keheningan tercipta selama 10 detik. Namun kemudian Eren memutuskan untuk berbicara duluan.

"Sensei... Benar menyu..kaiku?" tanya Eren malu – malu.

"Menurutmu?" kata Rivaille sambil menyeringai.

Rivaille kembali mempersempit jarak diantara mereka dan perlahan Eren mulai merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya.

Rivaille menjilati bibir bawah Eren dan menggigitnya pelan agar pemuda yang lebih muda mempersilahkan lidahnya untuk masuk.

"Aw...Hmph.." mulut Eren terbuka seraya Rivaille memasukan lidahnya, mengabsen gigi – gigi, langit – langit serta lidah Eren. Permainan yang lebih tua kembali mendominasi yang lebih muda. Sadar Eren membutuhkan asupan oksigen untuk paru – parunya, Rivaille melepas ciuman mereka. Eren menghirup nafas.

"Kau tidak protes, hei bocah?" kata Rivaille menggoda.

"Jangan menggodaku sen... hmph" Rivaille kembali mengunci Eren dalam ciuman panas lalu melepasnya lagi ketika Eren membutuhkan oksigen.

Kini mata Rivaille tertuju pada leher Eren yang menurutnya kelihatan enak untuk dimangsa. "Aku tau kau tak akan protes kali ini, yakan Eren?"

Belum sempat Eren menjawab, Rivaille sudah melahap leher eren. Jilat. Gigit. Hisap. Meninggalkan tanda kepemilikan yang baru dileher Eren. Tapi kali ini lebih intens dari pada sebelumnya. Ia juga meninggalkan tanda kepemilikan untuk Eren di tengkuk dan dekat dada.

"Ahn...Ah..." Eren mendesah

"Seperti ku duga, kau sensitif sekali, bocah." Kata Rivaille sambil memegang junior Eren yang sudah menegang.

"Ah... Ja-Jangan di-disini sensei..Ahn.." Rivaille mulai memijat junior Eren.

"Jadi kau mau dikamarku, eh?" Rivaille berhenti dan menatap mata emerald Eren.

Eren diam saja dengan mukanya yang sekarang sudah seperti kepiting rebus.

"Hee.. Kau ini benar – benar bocah nakal, Eren" kata Rivaille sambil menggendong Eren ala bridal style

"T-Turunkan aku sensei.. Aku bisa jalan sendiri.."

"Diam saja bocah." Kata Rivaille sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya

Rivaille membuka pintu kamarnya perlahan dan menutupnya. Lalu di taruhlah Eren diatas kasurnya.

"I will hold you tonight." Kata Rivaille sambil membuka baju Eren dan celananya dan hanya menyisakan celana dalam Eren.

"Eren..." kata Rivaille bernafas ditelinga Eren lalu menciumi badannya. Mulai dari sekitar leher, dada, sampai perut. Puting Eren yang kemerahan pun dimainkan juga olehnya.

"Ahh..." Eren mendesah ketika Rivaille mulai memilin dan sedikit menarik putingnya

"Ekspresimu benar – benar manis sekali, Eren" kata Rivaille sambil membuka bajunya dan melemparnya kesembarang arah, membiarkan dada bidangnya terekspos didepan yang lebih muda. Muka Eren seketika menjadi sangat merah.

"Ne Eren... Kau turn on hanya karena melihatku shirtless ya?" belum sempat Eren menjawab, ia kemudian menjilat dan menghisap puting kiri Eren, sementara tangan kananya memilin puting Eren dan tangan kirinya memegang tangan kiri Eren. Setelah dirasa cukup, ia melakukan sebaliknya.

"Ahh.. Sensei... Ah..." Eren makin mendesah. Rivaille menciumi badan Eren dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan.

Rivaille menghentikan permainannya dan melihat bagian bawah Eren "He... Kau sudah sangat basah? Padahal aku baru bermain dengan badan mu saja bocah... Kau memang nakal" kata Rivaille menyeringai.

Tangan kiri Rivaille menjalar dari perut ke bagian bawah Eren, memegang junior Eren yang sangat menegang. Tangan kanannya membuka celana dalamnya. Ia kemudian mulai memijat dan mengocok junior Eren.

"Ahh.. Ah... S-Sensei... Ah..." Eren makin mendesah

"Bukan Sensei, Eren... Panggil namaku" kata Rivaille sambil mempercepat gerakan mengocoknya sambil menciumi selangkangan Eren.

"R-Rivaille... Ah...Ahhh.." Eren mendesah tidak menentu.

"Aku.. M-Mau... Keluar... Aahh..." dengan desahan yang panjang, Eren mengeluarkan hasrat yang ada dalam tubuhnya.

Diteguknya susu Eren oleh Rivaille dengan sempurna, menjilati sisa – sisa susu Eren yang ada ditangannya dengan tatapan seduktif. Eren makin memerah.

Rivaille kemudian membuka celana beserta celana dalamnya. Kini juniornya terekspos didepan muka Eren, menegang.

"Its your turn to give me pleasure, Eren"

Eren bangun dari kasur dan duduk didepan junior Rivaille. "S-Sensei.. Aku... Tidak tau..." kata Eren malu – malu.

"Taruh tangan kirimu Eren, setelah itu buka mulutmu." Kata Rivaille mengintruksikan

Eren melakukan sesuai yang diperintah oleh Rivaille. "Bagus. Sekarang pijat juniorku dan lakukan blowjob. Lakukan dengan lidahmu. Kau pahamkan Eren?" Eren melihat ke arah Rivaille dan mengangguk. Dorong. Tarik. Jilat. Hisap.

"Hng..." Rivaille mendesah sambil mengusap rambut Eren.

"Lebih cepat Eren" katanya sambil memegang bagian belakang kepala Eren. Eren patuh dan mempercepat gerakannya

"Eren.. Ahhh..." Rivaille klimaks. Susunya sukses membanjiri mulut Eren.

"Teguk bocah, jangan sampai ada yang tersisa" Eren kemudian meneguknya dan menjilati sisa – sisa susu yang ada ditangannya.

Setelah itu Rivaille kembali membanting Eren.

"Buka mulutmu bocah" Eren membuka mulutnya dan Rivaille memasukkan jarinya ke mulut Eren. Pertama telunjuk, kemudian jari tengah dan yang terakhir jari manis.

"Ahn...Hmphh.."

Setelah itu ia memasukkan jarinya ke lubang Eren. Dua jari langsung diluncurkannya

"Ahh... Ittai..." Eren mendesah dan mengeluarkan sedikit air matanya.

Rivaille kemudian menerapkan gerakan menggunting didalam lubang Eren.

"Ahh.. S-Sensei.. Sa...kit.." kata Eren merengkuh kesakitan. Tangannya merengkuh Erat seprei kasur.

Jari ketiga dimasukan oleh Rivaille dengan perlahan. Maju, lalu mundur. Didekatkannya muaknya kepada wajah yang lebih muda dan menciumnya brutal agar yang lebih muda melupakan rasa sakitnya.

"Ahhn..." tiba - tiba Eren mengerang dengan keras. Rivaille menemukan sweetspot nya.

"Disini, eh?" Rivaille menyeringai dan mempercepat gerakan tangannya.

Rivaille melepaskan ciumannya, sadar yang lebih mudah sudah membutuhkan asupan oksigen.

"S-Sensei... A-Aku mau k-keluar..." kata Eren yang kehabisan nafasnya karena sweetspot nya ditabraki berkali - kali oleh Rivaille.

"Jangan dulu Eren." katanya sambil melepaskan tangannya dari lubang Eren kemudian mulai memasukan barangnya.

"S-Sensei t-tunggu... Ahh ittai..." tubuh Eren bergetar, air mata mengalir disudut matanya dan salivanya mengalir deras dari ujung bibirnya.

Rivaille memasukan barangnya perlahan sambil mencium Eren. Ia kemudian lebih memperdalam ciumannya agar yang lebih muda melupakkan rasa sakitnya.

Setelah junior Rivaille masuk , ia mulai menggerakannya perlahan. Eren merengkuh punggung Rivaille dengan kuat.

"Ahhh.." Eren mendesah. tak pernah ia merasakkan kenikmatan seperti ini.

"Eren.." Rivaille membisikkan suara seduktifnya ke telinga Eren.

"Ahhh...Ahnn..." Eren mendesah keras. Rivaille menemukan sweetspot nya Eren lagi.

Rivaille kembali menyeringai dan mempercepat gerakannya.

Desahan Eren makin keras dan tak terkendali. Matanya mulai berkabut dan pikirannya tidak menentu. Ia rasanya ingin lagi dan lagi.

"Sebut namaku, Eren" kata Rivaille yang makin mempercepat gerakannya

"R-Rivaille.. Ahh... Rivaille..." Eren sudah tidak tahan. Ia ingin klimaks secepatnya, mengeluarkan hasrat yang ada dalam tubuhnya.

"Rivaille...Ahh..." dan Eren pun klimaks dengan desahan yang panjang.

"Eren..." dan Rivaille pun ikut klimaks dengan waktu yang bersamaan dengan Eren.

Kedua nya kehabisan oksigen dan dua – duanya sama – sama lelah. Rivaille lalu melihat Eren yang kelelahan disampingnya. Eren mulai memejamkan matanya.

"I love you, Eren Jaeger. Goodnight" lalu Rivaille mencium kening Eren lembut.

.

.

.

"Selamat ya Rivaille! Wah Eren... Kau manis sekali!" kata Hanji Zoe, teman sejak kecil Rivaille sekaligus guru IPA Eren disekolah yang menyandang gelar 'genderless tukang gosip' yang terpana melihat Eren yang dibalut dengan kimono merah darah.

"Terimakasih, Hanji – sensei" kata Eren sambil tersenyum

"Minggir bodoh kau menghalangi jalan" celetuk Rivaille kepada Hanji

"Hahaha iyaiya tidak usah begitu dong..." kata Hanji sambil menoleh kebelakang yang mendapati Armin sedang melihat ke arah pengantin... atau Erwin?

"Kyaa! Armin kau imut sekali!" kata Hanji sambil memeluknya. Bukannya minggir malah makin menjadi... Rivaille hanya memijat keningnya ringan.

Ya, yang di undang kepernikahan Rivaille dan Eren hanyalah keluarga dan teman dekat saja. Rivaille tidak suka terlalu meriah dan Eren setuju – setuju saja.

"Lepaskan Hanji... Wajahnya sudah pucat karena kau memeluknya terlalu kencang" celetuk Erwin.

"Ah iya maaf" Hanji melepas pelukannya dari si rambut pirang lalu beralih menoleh ke arah Erwin.

"He... Tidak biasanya Erwin memperhatikan orang lain. Kau suka padanya, eh?" kata Hanji menggoda Erwin. Armin yang mendengarnya langsung blushing ketika sedang menyalami si pengantin. Erwin memalingkan muka, tidak mendengarkannya.

"Hmm... Menarik sekali." kata Hanji dalam hati

Hari sudah malam, para undangan sudah pulang dari sore. Dan sekarang, newlyweds kita sedang menikmati malam pertama mereka.

"Sensei..." panggil Eren lirih. Lelah, habis mengeluarkan hasrat yang ada dalam tubuhnya.

"Jangan panggil aku sensei, Eren. Kau ingat?" Rivaille ambruk ditubuh Eren.

"Mm... Ri..Rivaille..." kata Eren sambil menatap langit – langit.

"Hm?" kata Rivaille yang sekarang berbaring disampingnya.

"Sepertinya Armin suka pada Erwin – san..." kata Eren sambil menghadap ke Rivaille

"Ya, aku sudah tahu itu dan lelaki tua itu sudah lama suka padanya" kata Rivaille yang sekarang menghadap ke arah Eren.

"Ah... Baguslah. Aku ikut senang. Habisnya, Armin terlihat sangat mencintainya.." kata Eren tersenyum tipis.

Sekarang Rivaille meraih pipi Eren dengan tangan kanannya dan Eren memegang tangan Rivaille yang mendarat dipipinya.

"Um... Boleh aku bertanya.. R-Rivaille?" kata Eren malu – malu.

"Ya. Kau boleh tanya apa saja."

"Kenapa waktu itu senpai berbohong tidak mengingatku?"

Rivaille tidak menjawab dan menatap mata emerald Eren lekat – lekat. Dikecupnya singkat bibir orang yang baru saja resmi menjadi istrinya.

"Karena aku tidak mau kau menjadi sasaran bocah – bocah di SMA Sina. Seperti yang kau tau, mereka sangat liar kan... Jika waktu itu aku terlambat, aku tidak tau apa yang akan terjadi padamu.." kata Rivaille menerangkan

Eren tersenyum lebar dan sedikit menitikan air matanya. Eren mengecup bibir Rivaille singkat.

"Dan... aku selalu penasaran hal ini..." kata Eren

"Nani?" kata Rivaille

"Berapa... u-umurmu?"

"34"

"HEEEE?"

Eren Jaeger, 15 tahun, cinta pertama yang berakhir indah.

.

.

.

FIN~

ADUH SAYA NULIS APASIH HAHAHAHA HINA SEKALI SAYA *MATI*

Udah lemon belom ini? *senyum nista*

Maaf kalo adegan lemonnya kurang hot atau terlalu hot atau kurang pas. Maklum pengalaman pertama u,u

Arigato gozaimasu yang sudah menyempatkan diri membaca ff pertama yang saya post dan sudah sangat nista. Review nya boleh? C: