Tittle : Skull

Chap : 3

Main Cast : Do Kyungsoo

.

.

.

"Ouch" Kyungsoo meringis pelan saat kapas dengan kandungan alkohol 99% menyentuh luka menganga di kaki kanannya. Kini Kyungsoo tengah berada di salah satu ruangan mansion Kris. Setelah Jongin datang menjemputnya dan Baekhyun, pria berkulit tan itu membawanya kembali ke mansion milik anak walikota tersebut. Sebenarnya dalam hati Kyungsoo sangat menolak untuk kembali ke mansion megah itu, tetapi luka yang didapatnya setelah terjatuh dari motor membuat pergerakannya terbatas. Selain itu, Kyungsoo juga ingin memastikan keadaan Baekhyun yang sempat tertembak senapan sebelumnya. Ia harus meyakinkan pikirannya jika Baekhyun baik baik saja dan akan slalu baik baik saja. Baekhyun harus selamat.

"Tolong tahan sebentar" seorang pria yang wajahnya sempat Kyungsoo lihat menjadi salah satu tamu Kris di pesta sebelumnya kini tengah merawat luka di kaki Kyungsoo. Dalam pengamatan Kyungsoo pria itu seperti dokter pribadi, karena ia sangat cekatan dalam merawat luka Kyungsoo. Namun yang membuat Kyungsoo sangsi wajah pria itu masih terlihat muda, seusia dengan Kris mungkin atau hanya lebih tua sedikit.

"Eerrrgghhh" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya kuat kuat saat pria itu menjahit lukanya dengan perlahan. Airmata mulai mengalir di sudut mata Kyungsoo, pemuda bertubuh mungil itu berusaha menahan rasa sakit yang terasa semakin hebat. Setiap jahitan membuat Kyungsoo menahan nafasnya karena rasa ngilu.

Setelah beberapa belas menit dihabiskan pria itu dengan bergumul antara jarum, benang dan luka di kaki Kyungsoo, akhirnya luka tersebut tertutup rapat kembali dengan 10 jahitan. Kyungsoo menghela nafas lega, tetapi rasa sakit mulai menjalar di kepalanya, mungkin karna banyaknya darah yang keluar membuat Kyungsoo kehilangan kekuatan tubuhnya. Tubuh pemuda itu limbung, Kyungsoo hampir terjatuh dari ranjang, beruntung pria yang merawatnya itu dapat menangkap tubuh Kyungsoo dengan gerakan cepat sebelum tubuh pemuda mungil itu benar benar menyentuh lantai.

"Kau baik baik saja?"

Kyungsoo mengangguk dalam pelukan pria itu dan ia mulai merebahkan diri di ranjang, berbaring selama beberapa menit akan sangat membantunya.

"Aku baik baik saja. Terima kasih..." Kyungsoo mengantungkan kalimatnya saat ia teringat, jika pria itu belum memperkenalkan dirinya sama sekali. Kyungsoo belum mengetahui nama pria dengan senyuman lembut itu.

"Yixing, panggil saja aku Yixing Hyung. Karna aku lebih tua darimu" ucapnya dengan senyuman lembut yang menghangatkan. Setidaknya Yixing tak seperti Kris dan Jongin yang bersikap dingin padanya. Sepasang lesung pipi tercipta saat Yixing tersenyum mengingatkan Kyungsoo pada wali kelasnya yang sangat terobsesi dengan cerita mistis.

"Terima kasih Yixing Hyung"

"Tak masalah. Sekarang berbaringlah, setelah keadaanmu membaik, Luhan akan mengantarmu pulang" Jemari Yixing membelai lembut pipi Kyungsoo, masih dengan senyuman khas yang terus terpasang di wajah tampannya. Mata Kyungsoo membulat saat mendapat perlakuan seperti itu dari Yixing.

"A-aku ingin melihat Baekhyun. Aku ingin tahu keadaannya" Kyungsoo sudah cukup bersabar saat Luhan memaksanya dirawat di ruang perawatan yang berbeda dengan Baekhyun. Dilihat dari tingkat keparahan luka yang ia dan Baekhyun alami, sudah pasti luka yang dialami Baekhyun memerlukan perawatan lebih intensif. Namun, itu juga yang membuat Kyungsoo menjadi tak bisa mendapat informasi apapun mengenai keadaan Baekhyun. Ia sudah sangat khawatir dan gelisah setengah mati, rasanya seperti menunggu kabar baik yang tak kunjung datang.

"Baekhyun masih mendapat perawatan intensif. Joonmyun baru saja mengabariku kalau pelurunya sudah berhasil dikeluarkan" Kyungsoo menghela nafas lega saat mendengar penuturan Yixing. Tak ada yang bisa memperbaiki suasana hatinya saat ini selain perubahan keadaan Baekhyun yang membaik. Ia butuh untuk tahu jika Baekhyun akan selamat.

"Kau sepertinya sangat khawatir pada Baekhyun?" saat Kyungsoo memejamkan matanya untuk mendoakan keadaan Baekhyun agar membaik, Yixing menangkap ada perasaan berlebih yang ditunjukkan Kyungsoo terhadap Baekhyun.

Kyungsoo mengangguk dan tanpa sadar kedua jari telunjuknya mulai bergerak dengan gerakan memutar.

"Aku tak tahu ada masalah apa antara Baekhyun, mafia mafia itu juga kelompok Skull. Tapi ketika melihat tubuh Baekhyun bersimbah darah dalam pelukanku saat itu, pikiranku menjadi kacau. Dadaku terasa sangat sesak, dan yang terlintas dalam pikiranku hanya bagaimana caranya menyelamatkan Baekhyun" Yixing tersenyum tipis saat mendengat kalimat jujur yang terlontar dari mulut pemuda mungil di hadapannya. Ia menarik selimut di ujung ranjang dan menutupi tubuh mungil Kyungsoo agar terlindungi dari hawa dingin.

"Aku mengerti. Sekarang istirahatlah. Aku akan membangunkanmu jika Luhan sudah siap untuk mengantarmu pulang" ucap Yixing kembali.

. . .

Morfin yang diberikan Yixing sebelumnya ternyata tak berfungsi dengan baik dalam tubuh Kyungsoo. Ia tetap merasakan ngilu pada luka yang baru saja dijahit Yixing, dan kepalanya terasa semakin berat. Kyungsoo mencoba untuk tidur, namun kelebatan kejadian saat Baekhyun tertembak justru semakin menari nari dalam pikirannya. Ada ketakutan luar biasa dalam hati Kyungsoo saat ia melihat Baekhyun sekarat, dan ia juga sadar matanya berubah menjadi merah saat itu. Perasaannya hampa ketika ia melihat kepulan asap dari mobil yang terjatuh di jurang, kekuatannya sudah terlalu jauh bertindak hingga membuat orang lain merenggang nyawa. Walaupun ia sadar orang orang itu adalah orang jahat, tentu saja jika ayahnya sampai tau, ia akan tetap mengurung Kyungsoo di ruang pengampunan.

Kyungsoo bangkit dari posisi tidurnya saat ia merasakan tubuhnya basah oleh keringat dingin. Berdiam diri tak akan membuatnya merasa tenang. Ia harus mencari tau keadaan Baekhyun.

"Aaagghh" rasa sakit langsung menjalari kaki Kyungsoo ketika ia menapakkan kakinya ke lantai. Hampir saja pemuda itu terjatuh, jika saja ia tak berpegangan pada pinggir ranjang. Kyungsoo meringis dan memilih untuk berdiam diri sebentar agar dapat beradaptasi dengan rasa ngilunya.

Tak lama, pintu ruangan perawatan itu terbuka menampilkan sosok Luhan yang langsung menghampiri Kyungsoo yang masih berpegangan pada pinggir ranjang.

"Kau baik baik saja?" Raut wajah Luhan dipenuhi kekhawatiran ketika ia melihat warna pada wajah Kyungsoo yang memudar.

"Aku baik baik saja. Bagaimana dengan Baekhyun?" Dengan tak sabaran Kyungsoo mendesak Luhan dengan pertanyaan yang terus menghantuinya sejak mereka membawa pria itu di ruangan yang berbeda.

"Baekhyun baik baik saja"

"Tolong jangan berbohong Luhan sshi.." Ucap Kyungsoo dengan memelas, ia sudah sangat putus asa.

"Aku tak berbohong Kyung, Baekhyun memang belum sadarkan diri. Tapi pelurunya sudah berhasil dikeluarkan, hanya tinggal menunggu dia bangun. Singkatnya dia sudah melewati masa kritis"

Kyungsoo menghela nafas panjang dan pelan. Ia meremas pinggiran ranjang sebelum menatap Luhan dengan penuh harap "Bisakah aku menemuinya?"

Sayangnya Luhan menggeleng saat Kyungsoo mengutarakan permintaannya tersebut. Dan ia hanya bisa menghela nafas berat.

"Jangan sekarang, aku akan mempertemukanmu dengannya saat kondisinya sudah membaik. Sekarang lebih baik aku mengantarkanmu pulang. Atau kau mau menginap disini?" Kyungsoo menggelengkan kepala menjawab tawaran Luhan, berada di mansion Kris tapi tetap tak bisa menemui Baekhyun itu tak membuat ketegangan dalam pikiran Kyungsoo berkurang. Lebih baik menunggu di rumah, dan beristirahat.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Kyungsoo pelan.

"Jam 3 pagi.." Luhan meraih lengan Kyungsoo dan menyandarkan pada bahunya.

"Antarkan aku pulang Luhan" Kyungsoo berbisik pelan. Luhan mengangguk, dengan penuh perhatian dan kehati-hatian, ia membawa Kyungsoo keluar ruangan agar dapat mengantarkan pemuda mungil itu pulang ke rumahnya.

. . .

Perjalanan dari mansion Kris ke rumah Kyungsoo hanya memakan waktu tak lebih dari 20 menit, tetapi Kyungsoo dan Luhan tak dapat membunuh waktu 20 menit itu dengan baik. Mereka hanya larut dalam diam, tak ada yang berani memulai pembicaraan walaupun banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran mereka masing masing. Kyungsoo sendiri tak mengerti mengapa baik Luhan, Jongin dan yang lainnya tak ada yang menanyakan perihal apapun mengenai mobil yang hancur berkeping keping di jurang setelah Kyungsoo melemparnya dalam keadaan hilang kendali. Jongin hanya melirik kepulan asap itu saat ia tiba di lokasi kejadian, dan menatap Kyungsoo dengan datar tanpa berbicara sepatah katapun. Kyungsoo pun tak memiliki keberanian lebih untuk menceritakannya pada Jongin atau Luhan, saat ini ia hanya bisa percaya pada Baekhyun di antara anggota anggota Skull yang lainnya. Ia belum berani berinteraksi lebih jauh.

20 menit berlalu, dan kini mobil Luhan telah parkir di depan teras rumah Kyungsoo. Kyungsoo melirik sekilas ke arah rumahnya dan melihat lampu bagian dalam rumah masih padam. Ayahnya belum pulang ternyata, mungkin pertemuan gereja masih belum selesai dan ia jadi menginap. Perasaan lega menghampiri hati Kyungsoo, ia masih merasa kacau balau dan belum siap jika berhadapan dengan ayahnya saat ini.

"Terima kasih sudah mengantarku Luhan sshi" ucap Kyungsoo dengan tersenyum lembut pada pria tampan berambut orange tersebut. Saat Kyungsoo akan membuka pintu mobil Luhan, ia merasakan lengannya ditarik oleh pemuda itu. Kyungsoo mengernyit dan menoleh pada Luhan.

"Kau tak ingin bertanya padaku tentang smuanya?"

"Maksudmu?"

"Kau hampir terbunuh beberapa jam yang lalu. Maksudku? Kau tak penasaran dengan orang orang itu juga dengan kamii" desis Luhan pelan.

Kyungsoo tersenyum lembut kembali dan melepaskan dengan pelan tangan Luhan yang menahan lengannya.

"Aku akan menunggu Baekhyun atau kalian yang menceritakannya sendiri padaku. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan Baekhyun. Aku tak mau memikirkan yang lainnya.."

Luhan mengangguk mengerti setelah mendengar pernyataan dari Kyungsoo. Ia meraih sebuah note di atas dashboard dan menuliskan dua baris kata di note tersebut. Setelah menyelesaikan tulisannya, Luhan merobek kertas pada buku note dan memberikannya pada Kyungsoo.

"Ingat baik baik tulisan itu. Aku akan memberikanmu waktu satu menit"

Kyungsoo mengernyit dan menautkan kedua alisnya. Daripada mengajukan pertanyaan pada pemuda itu, Kyungsoo lebih memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan Luhan. Tulisan Luhan tak terlalu bagus, namun masih bisa Kyungsoo baca. Ia menuliskan sebuah alamat web dan sebaris kata yang menyerupai sebuah password. Website apa yang diberikan Luhan padanya?

"Kau sudah mengingatnya" pertanyaan dari Luhan membuat Kyungsoo tersadar dari lamunannya dan ia mengangguk saat ia sudah benar benar mengingat apa yang dituliskan Luhan.

Luhan mengambil kembali kertas dalam genggaman tangan Kyungsoo. Ia merogoh sebuah pematik rokok dari dalam saku mantelnya dan membakar kertas tersebut.

"Jangan salah paham, aku bukan perokok. Hanya membawanya untuk berjaga jaga, siapa tau aku terdampar di sebuah pulau terpencil dan harus bertahan hidup, benda ini lebih berguna daripada ponsel ataupun earphone" Luhan langsung menjelaskan perihal pematik rokok yang dibawanya saat ia melihat mata bulat Kyungsoo tak berkedip ketika melihat pematik tersebut. Kyungsoo mengangguk pelan, namun matanya masih membulat dan scleranya masih melebar.

"Dengar.. Alamat web yang kuberikan tadi adalah web mengenai kelompok kami. Untuk membukanya dibutuhkan password, dan setiap anggota memiliki passwordnya masing masing. Password tadi adalah password keanggotaanku. Jika kau memakainya, maka Skull akan menganggap akulah yang mengakses web tersebut. Informasi mengenai keanggotaan ada smua dalam web itu, tapi jika kau ragu untuk masuk, lebih baik abaikan saja. Karna sekali kau terlibat, maka kau akan terus terseret dalam apa yang kami lakukan.."

Kyungsoo menahan nafasnya saat mendengar penjelasan panjang lebar dari Luhan. Otaknya tak dapat memikirkan apapun selain website dan password yang Luhan berikan. Rasa penasaran dan ketakutan datang secara bersamaan dalam hati Kyungsoo menimbulkan keraguan yang membesar.

"Kenapa kau mau memberitahuku?" Justru pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Kyungsoo membuat Luhan tersenyum padanya.

"Aku percaya percaya padamu, begitu juga dengan Baekhyun. Belum pernah kulihat Baekhyun begitu posesif dan melindungi seseorang seperti yang ia lakukan padamu. Dan kurasa aku mengerti, karna aku juga merasakan hal yang sama dengannya" Luhan memberikan tatapan tajamnya pada pria mungil di sampingnya. Ia berharap Kyungsoo mengerti pada kalimat terakhir yang ia ucapkan, tetapi sepertinya harapannya sia sia karna Kyungsoo hanya menatap Luhan dengan tatapan tak mengertinya. Pemuda itu terlalu polos.

"Lebih baik aku masuk" ucap Kyungsoo sambil membuka pintu mobil Luhan. Baru saja Kyungsoo akan melangkah keluar, Luhan kembali menahannya.

"Kyung.. Kuharap kau lebih bijak saat membuka web tersebut. Ada banyak hal yang tak seharusnya kau ketahui"

. . .

Jam digital di kamar Kyungsoo menunjukkan pukul 5 pagi, dan Kyungsoo sama sekali belum bisa memejamkan kedua matanya. Kejadian yang dialaminya selama semalaman penuh membuatnya terjaga sepanjang waktu. Ia melirik ke arah jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamar tidur Chanyeol, tetangganya. Kyungsoo melihat kamar Chanyeol masih gelap, pemuda jangkung itu pasti masih berada dalam alam mimpinya.

Pandangan Kyungsoo menerawang langit langit kamarnya, dan dua baris kata yang sebelumnya Luhan paksa mengingatnya terlintas kembali dalam pikiran Kyungsoo. Kyungsoo bangkit dari tidurnya dan berniat menghampiri laptop yang ada di atas meja nakas.

Namun, belum sempat ia beranjak, Kyungsoo sudah mengurungkan niatannya itu. Ia hanya berpikir untuk mengakses website yang diberikan Luhan dari komputer sekolahnya, mungkin itu lebih baik..

Sepertinya menjadi sebuah kebiasaan baru setiap pagi Kyungsoo melangkah keluar rumahnya dan disambut dengan sosok Sehun yang sudah berdiri di depan teras rumah Kyungsoo. Seperti pagi ini, Kyungsoo mendapati Sehun sudah menunggunya dengan senyuman lebar yang membuat ia mau tak mau harus membalas senyuman pemuda berambut seperti pelangi itu. Kyungsoo mengunci pintu rumah dan berjalan dengan tertatih menghampiri Sehun.

"Kenapa dengan kakimu?" Tentu saja Sehun melihat cara berjalan Kyungsoo dan langsung menunjukkan kekhawatirannya.

"Hanya terkilir, aku jatuh dari tangga semalam" lagi lagi Kyungsoo harus berbohong, berulangkali ia mengucapkan kata maaf dalam hatinya karna terpaksa terus membohongi Sehun.

"Seharusnya kau lebih berhati hati, hari pertama kau datang ke kota ini kau sudah pingsan di toilet sekolah, dan hari kedua kau jatuh di tangga rumahmu sendiri. Ceroboh sekali!" sungut Sehun kesal, ia ingin memarahi Kyungsoo karena kecerobohannya namun rasa khawatirnya lebih mendominasi. Ia mendekat ke arah Kyungsoo dan memapah pemuda mungil itu agar dapat berjalan dengan lebih baik. Seharusnya Kyungsoo merasa kesal karena kalimat ketus dari Sehun, namun karena kebohongan yang dibuatnya, ketusnya Sehun dalam arti kata perhatiannya justru memunculkan perasaan hangat dalam hati Kyungsoo.

Pintu rumah di sebelah Kyungsoo terbuka tiba tiba dan Chanyeol keluar dari rumah tersebut dengan menguap lebar. Matanya membelalak saat ia melihat Kyungsoo berjalan dengan berpegangan erat pada Sehun. Hanya dalam hitungan detik ia sudah berada di depan Sehun dan Kyungsoo, beruntung sekali ia memiliki sepasang kaki panjang yang membuat langkahnya menjadi lebih lebar dan lebih cepat saat ia berlari.

"Cutieee, kenapa dengan kakimu?" tanya pemuda jangkung itu dengan nada panik. Ia meraih tangan Kyungsoo yang tak berpegangan pada Sehun dan menggenggamnya erat.

"Dia terkilir" ucap Sehun jengah, sepagi ini dan ia sudah harus berurusan dengan seorang Park Chanyeol.

"Kenapa kau sekolah Cutie? Lebih baik beristirahat di rumah?" Chanyeol mengabaikan ucapan Sehun dan lebih memilih menatap wajah menggemaskan Kyungsoo kembali. Sehun semakin malas dengan sikap Chanyeol.

"Aku baik baik saja Chanyeol ah. Hanya terkilir" kalimat singkat dan senyuman adalah usaha terbaik yang bisa Kyungsoo lakukan untuk dua pemuda bertubuh tinggi yang kini tengah menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ia tak mau membuat keduanya cemas atau panik jika Kyungsoo menceritakan bahwa semalam dua orang mafia hampir saja membunuhnya. Sehun dan Chanyeol bisa lebih extream menjaga Kyungsoo. Mereka tak akan membiarkan Kyungsoo dekat dengan Baekhyun, meski hanya dengan jarak satu meter.

Chanyeol tiba tiba saja berjongkok membelakangi Kyungsoo membuat pemuda mungil itu bingung karenanya. "Piggyback, Cutie?" tanya Chanyeol menawarkan diri. Seperti biasa, senyuman lebar Chanyeol memperlihatkan gigi gigi besarnya yang berderet rapi.

"Se-Sehun ah!" Kyungsoo memekik saat Sehun tiba tiba menggendong tubuh Kyungsoo, bukan di punggung seperti yang ditawarkan Chanyeol melainkan dengan cara bridal.

"Yak, Oh Sehun!" Chanyeol berteriak kesal karena Sehun mencuri kesempatannya untuk selangkah lebih maju mendekati Kyungsoo.

"Abaikan saja Park Konyol itu" bisik Sehun dengan mendekatkan wajah Kyungsoo ke wajahnya. Kedua pipi Kyungsoo bersemu merah karena perlakuan Sehun, ia merasa semakin pusing dan hanya bisa pasrah saat Sehun menggendongnya selama perjalanan menuju sekolah. Setidaknya ia tak perlu berjalan dengan kakinya yang masih terasa ngilu dan sakit, walaupun kyungsoo sadar kalau ia menjadi bahan tontonan murid murid lain yang sama sama berjalan menuju sekolah. Park Chanyeol masih memasang wajah cemberut di belakang Kyungsoo dan Sehun.

. . .

"T-turunkan aku Sehun" pinta Kyungsoo tiba tiba saat mereka tiba di halaman sekolah.

"Kenapa? Aku akan menggendongmu sampai ke kelas"

"A-aku ada perlu dengan Kris" ucap Kyungsoo pelan dan sorot matanya menatap sebuah mobil bugatti merah yang baru saja memasuki halaman parkir sekolah mereka. Kris, Jongin dan Soojung keluar dari mobil tersebut saat mobil sudah terparkir di halaman tersebut.

"Kris?" Tanya Sehun dan Chanyeol bersamaan dengan masing masing kening yang berkerut.

"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya?" Ucap Kyungsoo dengan pelan. Tangannya meremas kemeja bagian atas Sehun, berharap pemuda itu menurunkan tubuhnya yang masih berada dalam gendongannya.

"Memangnya ada urusan apa kau dengan anak walikota itu?" Sehun bertanya dengan nada tak suka dalam kalimat yang ia ucapkan. Chanyeol tak bertanya lebih jauh, tapi ia memandang Kyungsoo dengan tatapan meminta penjelasan.

"Tolong, untuk kali ini saja. Aku akan menceritakannya nanti pada kalian" Kyungsoo masih berusaha meyakinkan Sehun dan juga Chanyeol yang masih saja belum mau melepaskan Kyungsoo untuk menemui Kris. Mereka takut terjadi sesuatu pada pemuda mungil itu. Mencegah lebih baik daripada memperbaiki bukan? Dan menjauhkan Kyungsoo dari pemuda pemuda aneh itu adalah bentuk antisipasi Sehun dan Chanyeol agar Kyungsoo terhindar dari masalah. Tanpa mereka ketahui jika Kyungsoo memang sudah terlibat jauh dengan Baekhyun dan teman temannya.

"Kumohon.." Kyungsoo kali ini memelas dengan mencoba menggunakan mata bening besarnya. Tentu saja Sehun dan Chanyeol akan luluh dengan puppy eyes yang sangat menggemaskan itu. Mereka menghela nafas berat bersamaan.

"Aku akan mengawasimu dari jauh" ucap Sehun dengan menurunkan Kyungsoo dari gendongannya.

"Kalian duluan aja. Aku akan segera menyusul ke kelas. Ini tak akan memakan waktu banyak" Kyungsoo menegaskan pada kedua sahabatnya jika ia membutuhkan privasi lebih saat berbicara dengan Kris.

Sehun dan Chanyeol kembali menghela napas pasrah karena kalah berdebat dengan Kyungsoo. Ternyata jika pemuda mungil itu sudah memiliki kemauan tak seorangpun yang dapat menghalanginya. Mereka berjalan berdampingan menuju kelas, meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiam diri menunggu Kris untuk masuk ke dalam gedung sekolah juga.

"Krisss!" Kyungsoo setengah berteriak saat ia melihat Kris, Jongin juga Soojung mulai berjalan menjauh masuk ke dalam gedung sekolah. Kyungsoo sedikit heran saat ia tak melihat Luhan. Apa pemuda itu tak masuk sekolah hari ini? Apa terjadi sesuatu dengan Baekhyun? Tidak.. Kyungsoo menggelengkan kepalanya berkali kali untuk mengusir pikiran buruk yang sempat melintas dalam otaknya. Kris dan Jongin masih datang ke sekolah, itu artinya belum terjadi hal yang fatal.

Kyungsoo berjalan dengan tertatih namun cepat saat ia melihat Kris, Jongin juga Soojung berdiam diri tak jauh dari mobilnya.

"Ada apa?" Kris bertanya dengan nada dingin saat Kyungsoo tiba di tempatnya.

"A-aku ingin bicara denganmu.." Ucap Kyungsoo pelan dengan melirik sekilas ke arah Jongin dan Soojung.

"Hanya denganmu.." Lanjut Kyungsoo.

"Bicara saja sekarang! Apa masalahmu?" Terdengar kalimat ketus dari Soojung saat ia mendengar permintaan konyol dari Kyungsoo. Soojung kekasih Kris, sudah seharusnya ia mendengar apapun yang orang lain ingin bicarakan dengan kekasihnya itu.

"Tolong hanya kali ini saja.."

Kris menoleh pada Jongin dan juga Soojung. Ia memberi kode pada Jongin agar membawa Soojung pergi yang diikuti anggukan dari Jongin. Jongin meraih lengan Soojung dan menyeretnya dengan setengah memaksa ke dalam gedung sekolah. Soojung terlihat akan mengajukan protes kembali, namun ia menahannya saat melihat wajah Kris.

Saat Jongin dan Soojung sudah menjauh, Kris mengalihkan pandangannya pada pria mungil yang hanya setinggi dadanya itu. Ia menatap Kyungsoo dengan tajam, sedangkan pria mungil di hadapannya hanya memandang lurus ke depan. Jika hanya memandang lurus, Kyungsoo hanya bisa menatap dada Kris.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Kyungsoo sshi?"

Kyungsoo mendongak untuk melihat wajah Kris. Ia menelan ludahnya pelan saat melihat ekpresi Kris yang sangat dingin.

"B-bagaimana keadaan Baekhyun. Bisakah aku bertemu dengannya?" Sama seperti Kris yang berbicara to the point, Kyungsoo pun langsung menanyakan pertanyaan yang terus menghantuinya sepanjang malam. Kris terlihat tak suka dengan pertanyaan Kyungsoo. Namun Kyungsoo sudah kebal, kekhawatirannya pada Baekhyun lebih besar daripada ketakutannya saat melihat wajah dingin Kris.

"Kau tak perlu memikirkannya, dia baik baik saja"

Setelah mengucapkannya, Kris berjalan melewati Kyungsoo masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Namun Kyungsoo tak bisa hanya menerima jawaban sederhana seperti itu, maka ketika Kris mencoba melewatinya kedua tangan Kyungsoo menahan lengan besar itu.

"Bisakah kau tak mengabaikanku kali ini? Aku butuh untuk melihat kondisi Baekhyun secara langsung!" Kyungsoo setengah membentak saat Kris hanya merespon permintaannya dengan sebuah kalimat singkat dan tak bersahabat. Ia sudah benar benar muak diabaikan dan tak diizinkan untuk melihat Baekhyun oleh anggota anggota Skull.

Mata Kris berkilat saat ia mendengar teriakan Kyungsoo, selama ini tak ada yang berani untuk bicara kasar padanya apalagi membentak seperti yang dilakukan pemuda mungil itu. Maka dengan sekali gerakan cepat Kris menarik kerah kemeja Kyungsoo, dan mendekatkan wajah pemuda itu hingga jarak wajah keduanya tereliminasi mendekati satu centimeter. Kyungsoo merasa sesak, cengkraman tangan Kris pada kerah kemejanya membuat leher Kyungsoo menjadi tercekik. Kaki kecilnya melayang, dan tangan mungil Kyungsoo memegang tangan Kris yang masih mencengkram kemejanya. Dilihat dari sudut manapun, ini bukan perdebatan yang seimbang mengingat tubuh Kris jauh lebih besar daripada tubuh mungil Kyungsoo.

"Dengar ini Do Kyungsoo, jangan dekati kami lagi. Atau kau akan menyesal!"

Kris mendorong kasar Kyungsoo setelah mengucapkan ancamannya. Ia tak peduli jika Kyungsoo kini tengah meringis dan kewalahan mengatur nafasnya setelah Kris hampir mencekiknya. Pemuda blasteran itu lebih memilih untuk meninggalkan Kyungsoo yang masih dipenuhi emosi sendirian di lapangan parkir.

. . .

Setelah beberapa jam tak sadarkan diri karena operasi pengeluaran peluru yang dilakukan Joonmyun, Baekhyun terbangun dari alam bawah sadarnya tepat di jam satu siang. Mata sipitnya mengerjap beberapa kali saat suara tetesan dari infus yang terpasang pada tangannya terdengar jelas karna heningnya suasana kamar perawatan. Baekhyun menghela nafas dan menggeliat pelan. Luka di dada kanannya yang tertembus peluru panas membuat dada Baekhyun mati rasa. Ia ingin bergerak, namun tenaganya yang belum pulih membuatnya hanya berakhir dengan berbaring di ranjang.

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tak menemukan siapapun di sekelilingnya. Pemuda tampan itu berusaha mengumpulkan memorinya yang masih tak beraturan, dan saat itu hanya wajah seseorang yang memenuhi ingatannya. Kyungsoo... Baekhyun mencoba bangkit dari tidurnya saat ia teringat Kyungsoo sudah membunuh orang malam itu. Ia ingin bertemu dengan Kyungsoo dan memastikan jika pemuda itu dalam keadaan baik baik saja.

Saat seperti ini, Baekhyun berharap Luhan ada di sampingnya dan membantunya untuk bangun karna Baekhyun masih merasakan ngilu yang luar biasa di bahu kanannya. Harapan Baekhyun terkabul ketika pintu ruang perawatannya terbuka, dan Luhan masuk ke dalamnya dengan membawakan sebuket bunga lili putih.

"Kau sudah bangun Baek?" Luhan langsung menghampiri Baekhyun yang masih berusaha bangun. Ia meletakkan bunga lili putih yang dibawanya pada sebuah vas yang ada di sudut meja, dan bergerak mendekati Baekhyun setelah ia menyelesaikan urusannya dengan lili putih tersebut.

"Bahuku mati rasa.." Keluh Baekhyun pelan. Luhan membantunya untuk duduk dan bersandar pada ujung ranjang.

"Aku akan minta Joonmyun menambah obat penghilang rasa sakitnya"

Baekhyun mengangguk dan menyadarkan kepalanya pada bantal, berusaha beradaptasi dengan rasa pusing yang menyerangnya semenjak ia membuka kedua matanya. Ini bukan pertama kalinya Baekhyun tertembak, tetapi ketakutan yang membesar jika sesuatu terjadi pada Kyungsoo membuatnya kehilangan tenaga dengan cepat. Tak ada yang lebih diingat Baekhyun malam itu selain mata merah Kyungsoo yang menyala dalam gelap. Ia terlalu takut jika Kyungsoo terluka.

"Kau tak sekolah hari ini?" Baekhyun mengomentari kehadiran Luhan di sebelahnya saat seharusnya pemuda itu ada di sekolah untuk mengikuti pelajaran.

"Kris menyuruhku untuk menunggumu bangun" sahut Luhan santai, ia menarik sebuah kursi dan duduk di pinggir ranjang tempat Baekhyun berbaring.

"Aku sudah terbiasa tertembak, sudah seharusnya ia tak mengkhawatirkanku" jawab Baekhyun dengan memejamkan kedua matanya. Pemuda itu masih berusaha mengatur kendali tubuhnya yang mati rasa.

"Bukan itu yang Kris khawatirkan!" Luhan memotong perkataan Baekhyun dan menatapnya tajam. Baekhyun mengerutkan keningnya, dan membuka kedua matanya. Ia balik menatap Luhan dengan tatapan tak mengerti.

"Apa maksudmu?" Tanya Baekhyun dengan cepat.

"Jongin sudah menceritakannya pada kami. Ia melihat mobil anak buah Kwon Jiyoung jatuh ke jurang dan hancur berkeping keping. Tak mungkin jika mereka mengalami kecelakaan setelah menembakmu bukan? Pasti ada yang membuat mobil itu terjatuh, dan karena kau terluka parah sudah menjadi kewajaran jika Kris mencurigai Kyungsoolah yang membuat kekacauan itu terjadi" analisa yang meluncur dari mulut Luhan membuat Baekhyun terpaksa menahan nafasnya. Ia tau betul, tak mungkin menyembunyikan lebih lama mengenai rahasia yang Kyungsoo ceritakan. Karena itu juga yang membuatnya sangat tertarik pada pemuda bertubuh mungil itu.

"Kau bisa menjelaskannya padaku Lu? Bagaimana tubuh sekecil itu bisa membuat mobil dengan 2 penumpang bertubuh besar jatuh ke dalam jurang?"

"Aku tak mengerti, mungkin ia memiliki semacam kekuatan magic?" Luhan mengendikkan bahunya.

"Apa aku harus berkata jujur?" potong Baekhyun.

"Kau tak harus jika tak ingin mengatakannya. Sama seperti Kyungsoo yang menunggu kita menceritakan tentang Skull, aku juga akan menunggunya bercerita mengenai rahasianya" Luhan tersenyum lebar saat menyatakan pernyataannya yang hanya bersambut decakan pelan dari Baekhyun.

"Aku menangkap adanya maksud lain dari ucapanmu?" Keluh pemuda berbibir tipis itu.

"Hahaha, jangan berprasangka buruk dulu Baek. Kau harus mengakuinya, Kyungsoo memang pribadi yang menarik, siapapun akan menyetujui ucapanku ini"

"Kecuali Kris dan Jongin" Baekhyun memotong ucapan Luhan kembali.

"Mereka hanya masih berada di dunianya masing masing. Suatu saat dua pemuda bodoh itu akan bisa menerima Kyungsoo"

"Kau bermaksud menarik Kyungsoo lebih jauh?" Baekhyun memberikan tatapan menyelidiknya pada Luhan.

"Aku hanya berpikir, Kyungsoo sangat cocok jika bergabung dengan Skull"

"Jangan bercanda Luhan!" Baekhyun bangun dari tidurnya mencoba mendekati Luhan, namun rasa sakit langsung terasa di dadanya saat ia mencoba bangkit.

"Tenanglah Baek, itu hanya pemikiranku. Keputusan tetap ada di tangan ketua. Tapi aku bertaruh jika kakek tua itu pasti akan tertarik jika tau apa yang bisa Kyungsoo lakukan."

"Aku tak ingin Kyungsoo terluka..."

"Kalau begitu, tetaplah hidup agar kau bisa terus menjaganya"

"Kau tau Lu? Aku benci saat kau mengguruiku tapi harus kuakui apa yang kau katakan selalu ada benarnya" Baekhyun mengumpat pelan setelah ia kalah telak dengan pembicaraannya bersama Luhan. Hanya Luhan yang bisa sejalan dengan pemiikirannya, dan ia bersyukur memiliki sahabat seperti Luhan di antara takdir keras yang terpaksa harus dijalaninya..

. . .

Siang hari saat jam istirahat, Kyungsoo memilih untuk melangkahkan kakinya menuju perpustakaan sekolah untuk memakai komputer yang ada disana. Perlakuan Kris padanya di lapangan parkir pagi tadi membuat keraguan dalam hati Kyungsoo menghilang, dan ia memantapkan hatinya untuk mencari tau segala hal tentang Skull. Kyungsoo mengambil resiko yang Luhan beritahukan semalam, bahwa jika sudah masuk untuk terlibat maka ia tak akan dapat kembali lagi.

Setelah memakan waktu hingga 15 menit meyakinkan Sehun dan Chanyeol jika ia tak ingin beristirahat di kantin dan ada urusan dengan perpustakaan, Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju ruangan yang berada di dekat ruang guru itu. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan pada seorang guru yang berjaga dan langsung menuju salah satu sudut yang dipenuhi meja komputer. Beberapa siswa yang ada di perpustakaan tersebut terlihat larut dalam kegiatannya masing masing. Kyungsoo mengambil salah satu spot dan langsung membuka browser. Ia berusaha mengingat kembali alamat web yang diberikan Luhan semalam dan saat ia berhasil mengingatnya dengan penuh kehati-hatian, ia menuliskan alamat web tersebut pada kolom searching.

Saat website ditemukan, sebuah kolom muncul dan dibutuhkan sebuah password untuk mengakses website lebih jauh. Kyungsoo kembali memejamkan matanya berusaha mengingat sebaris kata berupa password milik Luhan. Setelah yakin dengan apa yang diingatnya, jemari mungil Kyungsoo menuliskan kata yang terdiri dari kombinasi huruf besar, huruf kecil juga angka tersebut dengan perlahan dan hati hati.

Tak lama, website dapat kembali diakses dan Kyungsoo membelalakan matanya saat ia tersadar jika website tersebut merupakan salah satu alamat web resmi pemerintahan. Ia menyusuri setiap kolom yang tersedia dan kursor yang ia kendalikan berhenti tepat di sebuah kolom bertuliskan 'SKULL'.

Kyungsoo menahan nafasnya dan ia menyempatkan diri untuk melirik sekilas keadaan sekitarnya. Murid murid yang memakai komputer di perpustakaan tersebut masih terlarut dalam tugasnya masing masing, dan guru yang sedang menjaga perpustakaan juga terlihat sedang terfokus membaca sebuah buku yang dipegangnya. Tak ada yang tertarik dengan apa yang sedang dikerjakan Kyungsoo. Pemuda itu kembali mengalihkan perhatiannya pada layar komputer di hadapannya. Saat ia mengklik kolom Skull, sebuah artikel muncul yang berisikan informasi mengenai kelompok tersebut. Kyungsoo membaca setiap kalimat yang ditampilkan dengan hati hati dan kewaspadaan penuh.

"Skull adalah program percobaan dari NIS (National Intelligence Service) Korea untuk membuat sebuah pertahanan baru bagi negara. Anggota direkrut dari usia mulai 10 tahun dan dibekali kemampuan yang dapat digunakan untuk kepentingan negara. Tujuan utama dibentuknya Skull - membentuk trainee sebagai calon mata mata, juga pelatihan untuk membersihkan saksi dan barang bukti yang dapat merugikan negara."

Kyungsoo mengambil jeda untuk menarik nafas, ia menelan ludah saat membaca baris terakhir kalimat tersebut. Pembersihan saksi yang dapat merugikan negara? Apa itu maksudnya dengan membunuh saksi tersebut?

"Setiap anggota Skull akan melewati sebuah pelatihan khusus yang disiapkan langsung oleh NIS, jenis pelatihan : top secret" tak ada keterangan apapun mengenai pelatihan yang diberikan NIS terhadap Skull membuat Kyungsoo mengalihkan perhatiannya pada kolom data anggota Skull.

Satu persatu profil anggota muncul, dan sebagian adalah wajah yang tak asing dalam ingatan Kyungsoo. Potret Kris, Baekhyun, Luhan, Jongin juga Yixing menghiasi baris bagian tengah. Kyungsoo juga menemukan sebuah nama yang sempat disebutkan Luhan dan Yixing sebelumnya, Kim Joonmyun. Seorang pria berwajah tampan dengan rambut berwarna coklat gelap. Ia memiliki senyum yang menawan.

Kyungsoo membuka file milik Kris dan membaca informasi yang ada di dalamnya. Kris bernama asli Wu Yifan, ia merupakan blasteran China Kanada dan sudah menetap di Korea semenjak 10 tahun yang lalu. Keluarganya sempat akan dideportasi karena tak memiliki izin lengkap untuk tinggal di Korea, namun karena bakat kepemimpinan yang luar biasa ayahnya dipilih menjadi walikota tempat tinggal Kyungsoo saat ini, dan Kris direkrut untuk menjadi anggota pertama Skull karena intuisi kepemimpinan yang diturunkan ayahnya serta kemampuannya dalam menjadi mata mata.

Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada data milik Luhan. Orangtua Luhan adalah sepasang ilmuwan dari China yang bekerjasama dengan pemerintah Korea terutama dalam hal pengembangan senjata baru yang dapat digunakan untuk menyerang musuh negara. Butuh waktu bertahun tahun untuk meyakinkan orangtua Luhan agar meninggalkan China dan bekerjasama dengan pemerintah Korea dengan kompensasi yang sepadan. Kyungsoo mengerutkan kening saat membaca profil Luhan, ia tak menyangka pemikiran Sehun mengenai Luhan sebelumnya memang hampir benar 90%, jika mengesampingkan perkataannya mengenai virus zombie. Sehun pasti akan berbangga jika mengetahui hal ini.

Byun Baekhyun, anggota yang dilatih khusus untuk menyerang karena kemampuannya dalam hal beladiri. Kedua orangtuanya merupakan pemilik perusahaan penghasil senjata api terbesar di Korea berkedok perusahaan ekspor impor mainan anak dari China. NIS menyembunyikannya dari publik karena perusahaan tersebut ikut membantu pemerintah dalam supply senjata api. Sebagai kompensasinya NIS memberi semacam perlindungan bagi perusahaan tersebut agar terhindar dari sentuhan mafia senjata api.

Mafia? Kerutan kening Kyungsoo semakin bertambah saat membaca baris terakhir profil Baekhyun. Apa mafia yang menyerangnya dan Baekhyun semalam ada kaitannya dengan perusahaan yang dikelola oleh orangtua Baekhyun?

Kyungsoo tak ingin memikirkannya lebih jauh dulu mengingat waktunya tak begitu banyak untuk mengakses komputer sekolah karena jam istirahat hampir berakhir. Ia menyempatkan diri untuk membaca profil Jongin dan Yixing terlebih dulu.

Kim Jongin adalah salah satu peserta program perlindungan saksi dari NIS. Ia mengganti nama dan marganya untuk alasan keselamatan dan direkrut menjadi anggota Skull agar dapat melindungi diri dari kemungkinan terburuk setelah kasus yang terjadi di tahun 1999. Kasus : top secret. Kyungsoo berpikir kasus seperti apa yang dialami Jongin bertahun tahun yang lalu? Apa kasus itu juga yang membuatnya harus tinggal bersama Kris saat ini?

Tak lama, satu persatu murid yang ada di perpustakaan mulai meninggalkan tempatnya masing masing karena jam istirahat akan berakhir 5 menit lagi. Kyungsoo menyempatkan diri untuk terakhir kalinya membaca profil Yixing dan Joonmyun.

Yixing dan Joonmyun memiliki profil yang hampir sama. Keduanya adalah calon dokter yang direkrut Skull untuk merawat anggota yang terluka saat menjalankan misi. Hanya kewarganegaraan mereka yang berbeda. Yixing berkewarganegaraan China sedangkan Joonmyun asli dari Korea. Beberapa menit setelah Kyungsoo menyelesaikan acara membacanya, bel tanda istirahat berakhir berbunyi dan Kyungsoo dengan cepat menutup web yang diaksesnya. Tak lupa ia menghapus history browser dan segera beranjak dari duduknya untuk kembali menuju kelas.

Ponsel Kyungsoo bergetar saat Kyungsoo akan melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan, ia merogoh ponsel yang ada di dalam saku kemejanya dan membaca sebuah text masuk yang ternyata berasal dari nomor ponsel Luhan.

'Baekhyun sudah siuman, dia baik baik saja. Kau tak perlu khawatir lagi. PS : dia bilang dia merindukanmu. Padahal matanya baru terbuka'

Senyuman merekah di bibir cherry Kyungsoo saat ia membaca pesan dari Luhan. Perasaannya sedikit membaik saat ini, setelah ia mengetahui Baekhyun sudah dalam keadaan baik baik saja. Tapi tetap saja Kyungsoo merasa ia harus menemui Baekhyun. Banyak hal yang perlu ia bicarakan dengan atlet hapkido itu. Dan saat ini Kyungsoo tahu hanya Luhan yang dapat membantunya.

. . .

"Kau masih belum mau memberitahuku?" Suara Sehun membuat Kyungsoo tersadar dari lamunannya.

Hari sudah menjelang malam, dan Sehun memutuskan secara sepihak untuk mengendong Kyungsoo kembali. Tapi kali ini ia menggendong Kyungsoo di punggungnya. Kyungsoo merasa lebih nyaman dengan posisi ini sebenarnya karna ia tak harus melihat wajah Sehun dari dekat hingga membuat debaran pada jantungnya meningkat ratusan kali lebih cepat. Sehun dan Kyungsoo berjalan pulang tanpa Chanyeol kali ini. Pemuda jangkung itu pulang lebih cepat siang tadi karena mendapat berita neneknya mengalami serangan jantung dan harus mendapat perawatan di rumah sakit. Kyungsoo menyesal tak dapat menemani Chanyeol di saat seperti ini, namun Chanyeol sendiri melarangnya untuk ikut menjenguk neneknya karena kaki Kyungsoo yang masih belum bisa diajak berkompromi. Kembali lagi mengenai pertanyaan yang terlontar dari mulut Sehun, Kyungsoo sama sekali tak memiliki ide kemana arah pembicaraan pemuda berambut pelangi itu.

"Memberitahumu apa Sehun?" Tanya Kyungsoo dengan lembut, indera penciuman Kyungsoo dipenuhi aroma maskulin yang menguar dari rambut pelangi Sehun.

"Mengenai urusanmu dengan anak walikota itu?"

"Tak ada yang special. Aku hanya menanyakan Baekhyun karena ia tak masuk sekolah hari ini, aku takut suatu hal buruk terjadi padanya.." Kyungsoo menjadi setengah jujur saat menjawab pertanyaan Sehun.

"Kenapa kau jadi perhatian dengan si eyeliner itu?" Keluh Sehun dan Kyungsoo melewatkan saat Sehun mengerucutkan bibirnya karena ia masih berada di punggung pemuda itu.

"Aku hanya merasa masih berhutang budi dengannya.."

"Sudah kubilang jika aku tak akan membiarkanmu terikat dengan si eyeliner itu"

"Jangan konyol Sehun ah, sudahlah jangan membahas ini lagi" Kyungsoo memotong pembicaraan karena tak ingin membahas Baekhyun lebih jauh dengan Sehun. Akan menjadi pembahasan yang tak berujung jika ia tetap melanjutkannya.

Sehun menghela nafas panjang dan bergumam pelan "Aku hanya tak ingin melihatmu bersama pria lain"

"Apa?"

"Tidak, aku tak mengatakan apa apa. Oh ya, akhir minggu ini kau bisa menemaniku?" Sehun mengalihkan pembicaraannya.

"Menemanimu untuk?" Kedua jemari mungil Kyungsoo mengeratkan tautannya saat ia merasakan tubuhnya mulai turun di punggung Sehun. Sehun menyadarinya dan langsung menaikkan tubuh Kyungsoo kembali agar tak melorot.

"Ayahku mendapat tugas untuk memimpin upacara pengusiran roh jahat di desa yang tak jauh dari sini. Aku diminta untuk ikut dengannya, dan kurasa aku membutuhkan seorang teman karena perasaanku selalu menjadi tak enak jika aku mengikuti upacara semacam itu"

Kyungsoo terlonjak, Sehun dan Pendeta Oh ternyata bisa melakukan ritual pengusiran roh jahat. Ayah Kyungsoo juga pendeta, namun ia tak memiliki kemampuan semacam itu.

"Kau bisa mengusir roh halus?" Tanyanya memastikan.

"Hanya sejenis bakat yang diturunkan ayahku. Kurasa saat aku dewasa orangtua itu akan memaksaku untuk menjadi pendeta juga"

"Lalu kenapa tak mengajak Chanyeol. Kalian kan teman baik?"

"Aku butuh teman yang dapat menenangkanku setelah berurusan dengan roh halus. Bukan yang hanya bisa mengacaukan pikiranku seperti Park Konyol"

"Jangan begitu, kau harus bersikap baik pada temanmu Sehun ah" Kyungsoo merasa seperti menasehati seorang anak kecil yang sedang bertengkar dengan temannya. Sehun dan Chanyeol sebenarnya sangat kompak, terutama saat mereka dengan posesifnya menjaga Kyungsoo. Hanya pertengkaran kecil yang terkadang membuat keduanya terlihat tak akur.

"Baiklah nona, aku akan berbaikan dengan temanku. Kau puas?" Sehun tersenyum lebar setelah menggoda Kyungsoo dengan menyebutnya nona. Kyungsoo sendiri hanya merasa sedikit kesal, ia menunjukkan kekesalannya dengan mencubit pipi kanan Sehun.

"Y-yak Do Kyungsoo! Tanganmu" ucap Sehun dengan meringis.

"Jangan coba coba memanggilku nona lagi, arraseo!" Ancam Kyungsoo masih dengan tangan yang mencubit pipi kanan Sehun.

"Arra, arra. Sekarang lepaskan tanganmu" Kyungsoo melepaskan tangannya dan kembali memeluk leher Sehun erat. Ia merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini.

"Jadi bagaimana? Kau mau menemaniku?" Lanjut Sehun kembali saat Kyungsoo hanya melamun setelah mencubitnya dengan kasar.

"Tentu saja, aku akan menemanimu.." Senyuman merekah di bibir Sehun saat Kyungsoo menyetujui permintaannya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain orang yang kau sukai menerima ajakan yang kau tawarkan. Rasanya seperti mendapati kaus kaki natalmu berisikan hadiah natal yang kau minta pada Santa Claus. Seandainya Sehun memiliki keberanian lebih untuk melangkah maju. Yaa, seandainya saja..

TBC

Jadi bagaimana? Apa harus dilanjut? Kayanya gue ngerasa ini ff makin gak karuan -.- tapi tetep mengharapkan review dari reader sekalian. Review juseyooo, kamsahamnida ^_^