No Promises

Au : Yap! Alhamdulillah saya bisa menghadapi lomba dengan sukses… Alhamdulillah juga akhirnya chap 3 udah apdet… -ga nyambung- Sekarang bales review dulu, ah…

Y**a : Temenku yang makin lama makin gaje… Makasih repiu-nya… Emang sengaja fic ini saya buat singkat. Biar cepet selese –dilempar genteng-

kawaii-haruna : Jujur, saya agak bingung mencerna bagian 'tu sebenernya lagunya sasuke ato buat lagi?' Jadi, saya ga dong, hehehe –dijambak- Mohon, kalau berkenan dan ada waktu, dijelaskan sejelas-jelasnya, yah?! Makasih juga karena telah membenci Karin –maksud?- Yup, Sasuke OOC karena amnesia ^^

5 sekawan : Iya. Emang saya sengaja cepetin. Di-forward gituh… Soalnya saya masih pemula di genre ini. Takutnya kalo kebanyakan, orang pada bosen. Lagian kalo kepanjangan saya jadi bingung buat mengakhirinya. Konfliknya… baca aja dweh –gaje-. Tuh, kan… romance-nya aja kurang, masa mau dipanjang-panjangin?? Bisa-bisa dihajar massa ntar –norak-

kakkoi-chan : iie, ga papa kok! kakkoi-chan ga kelewatan. Kalo kelewatan, ya mundur dikit aja –ditendang-. Makasih atas pujiannya, saya jadi malu –blushing yang memuakkan- Iya, ini saya apdet…

Helen Lautner : Yup! Kebetulan lagi demen ama lagu itu… Wah, kalo Sasu beneran punya tompel, mana dia berani sok kul coba?? Bukannya bikin cewe-cewe pada kelepek-kelepek, malah bikin cewe-cewe muntah darah! –dichidori plus tsukuyomi- Helen bisa main piano?? –kaget- waahhh… saya paling banter juga main pianika –nangis dipojokan. Ga jelas-

Primrose Akane : Makasih atas doanya… Sekarang udah terkabul (walopun pemenang belom diumumkan) -senyum najong- Wah, ternyata cuma Primrose yang nyadar akan hal yang terselip di adegan ituh!! –acungin jempol- Soalnya saya merasa terlalu vulgar untuk mengungkapkan yang sebenarnya –takut mesumnya kambuh-

Uchiha Yuki-chan : -terpana- Ya ampyun!! Beneran Yuki-chan?! –gaje- Saya pikir Yuki-chan ga doyan baca fic cengeng begini… Tapi, makasih banget udah bersedia baca –hormat grak!- Kenapa Karin yang jadi rivalnya Sakura? Karena saya merasa Karin lebih cocok. Di fic ini, rival Sakura harus benar-benar bisa menjatuhkan Sakura. Jadi, cuma Karin yang cocok. Ino sih masih agak kalem –ga tau kenapa tiba-tiba suasananya jadi aneh- Yuki-chan kebayang Rhoma Irama pas baca Sasu maen piano? Kok bisa? Saya sih mencoba membayangkan figur Afgan pas ngetik bagian itu.

Tukang Onar Merajalela : Wah, ganti penname ya? Jadi keren sekarang –memuji. Nyari muka- Udah saya jawab, yah?? Hehehe, semua tergantung ama orang n kebiasaan masing-masing. Kalo emang lebih enjoy make dou itashimashite, ya fine-fine aja. Yup, ini saya apdet…

Okeh, segitu balesannya. Sekarang masuk ke ceritanya!!!

(o.O)

Sasuke is Back!!

"I don't wanna run away, baby you're the one I need tonight… No promises…" Sakura bersenandung riang sambil memainkan pulpennya.

Sakura tidak menyadari bahwa di belakangnya, teman-temannya sedang mencemaskan dirinya.

"Ino-chan, Sakura-chan kenapa, sih? Mencemaskan banget… Suka nyanyi-nyanyi ga jelas gitu…" bisik TenTen.

"Kalo lo tanya ama gue, gue tanya ama sapa, dong??" balas Ino.

"Tanya Sakura, lah!" Temari menimpali.

"Temari-chan… Kalo kita… bisa nanya sendiri… napa harus diem-diem… gini??" sahut Hinata.

Temari mendengus. Dia mendekai Sakura yang sedari tadi memasang wajah kasmaran akut.

"Sakura-chan, lo kenapa sih sejak beberapa hari ini sering nyanyi ge jelas terus?"

"Eh, Temari… Gue ga nyanyi ga jelas kok! Malahan jelas banget," jawab Sakura setengah sadar.

"Wah… Ga beres nih anak," Temari menggebrak meja sakura keras, "SAKURA-CHAN!!!!"

Sakura terlonjak kaget. Begitu pulan beberapa anak yang ada di kelas.

"Temari-chan!! Apa-apaan, sih?!" bentak Sakura sambil berdiri.

"Elo tuh yang apa-apaan! Ditanya malah ga konsen!" balas Temari.

"Maksud lo apa?!" Sakura agak emosi.

"Sa-sakura-chan…" panggil Hinata. Sakura menoleh.

"Kita semua khawatir," kata TenTen sambil memegang pundak Temari.

"Guys…" desis Sakura pelan.

"Kalo ada masalah, cerita ama kita," kata Ino.

Sakura memandang mereka satu-persatu, "Janji kalian ga akan nuduh gue bohong?"

Mereka saling berpandangan…

"Ya ampun, Sakura-chan! Ga mungkin, lah!" Temari meyakinkan.

"E-emang… kita teman… macam apa??" kata Hinata sambil tersenyum.

Sakura ikut tersenyum. Mereka duduk melingkar, mendengarkan cerita Sakura.

Sakura menceritaka tentang seorang laki-laki yang telah membuatkan lagu spesial untuknya. Tentu saja Sakura tidak mengatakan kalau laki-laki itu mirip Sasuke.

(o.O)

"Haruna-chan, jangan melamun terus," tegur seorang laki-laki lembut pada gadis berambut hitam panjang yang sedang termenung di dekat jendela.

Gadis itu menoleh. Matanya agak sembab, "Nii-chan…" desisnya.

Laki-laki itu menghampiri gadis bernama Haruna itu, "Melamunkan apa? Sasuke-kun lagi?" tanyanya dengan penekanan pada akhir kalimat.

Haruna mengangguk. Dia menunduk, "Itachi nii-chan sendiri tau, kan? Udah hampir sebulan Sasuke-kun menghilang. Semua cara sudah kita tempuh untuk menemukannya. Bahkan dengan menyebar brosur dan iklan di media."

"Sabar, Haruna-chan," kata Itachi—laki-laki itu—sambil membelai lembut rambut Haruna yang berkilau.

Haruna mendongak. Matanya kembali basah, "Aku tahu, Nii-chan… Tapi kesabaran orang ada batasnya, kan?"

"Aku yakin Sasuke-kun akan kembali," kata Itachi mantap.

"Aku… Aku hanya… takut… Sasuke-kun…" airmata kembali membanjiri matanya yang cemerlang.

"Tenanglah. Sasuke-kun akan baik-baik saja. Dia bisa menjaga diri," hibur Itachi.

"Nii-chan percaya itu?" tanya Haruna.

"Kalau Sasuke-kun baik-baik saja?" Haruna mengangguk, "Semoga saja."

Haruna mengalihkan pandangannya.

"Oke, sekarang jangan menangis lagi. Kau ga mau kan saat Sasuke-kun pulang, dia mendapatimu dengan kondisi mengenaskan seperti ini dan berencana menunda lagi pertunangan kalian?" ujar Itachi sambil nyengir.

"Nii-chan!!" sahut Harunaa jengkel campur geli.

Daitai itsumo doori ni

Sono kado wo magareba

Haruna meraih ponselnya

Hitonami ni magi—

Haruna : Moshi-moshi?

* : Haruna-san?

Haruna : Iya. Siapa di sana?

* : Sekarang, identitas saya tidak penting. Yang terpenting adalah, apakah Anda mau bertemu dengan Uchiha Sasuke?

Haruna : Sasuke-kun???

-Itachi memandang Haruna kaget-

* : Kalau Anda ingin bertemu dengannya, Minggu pagi, datanglah ke penginapan di dekat perbatasan Konoha.

Harunaa : Kono—??

Tuut-Tuut-Tuut

Haruna memandang ponselnya dengan tatapan bingung.

"Ada apa Haruna-chan?' tanya Itachi.

"Barusan. Telepon. Besok Minggu ke Penginapan di perbatasan Konoha. Ada Sasuke-kun," jawab Haruna tidak teratur.

"Sasuke-kun?!" pekik Itachi.

Haruna memandang Itachi kemudian mengangguk.

(o.O)

"Nih!" kata Karin sambil menyerahkan dua carik kertas pada Sakura.

"Apa ini?" tanya sakura sambil melihat kertas itu.

"Itu kupon voucher menginap gratis di penginapan yang ada di perbatasan Konoha," Karin menjelaskan sambil berkacak pinggang.

"Buat… apa?" tanya Sakura merasa tolol.

"Dibakar," jawab Karin sadis, "Ya dipake, lah!"

"Buat gue?" tanya Sakura antusias.

"Iya. Sama Sasuke-kun juga,"

"Sasuke-kun??"

Karin menghela nafas, "Lo tau kan kalo Ibu ada bisnis di luar kota beberapa hari?"

Sakura mengangguk.

"Gue mau ngadain sleepover di sini,"

"Trus? Apa hubungannya ama voucher yang elo kasih?" tanya Sakura lagi.

"Aduh… Sakura-chan yang manis nan cantik jelita… Lo ga berharap ada di rumah pas temen-temen gue lagi sleepover di sini, kan?!" Karin memasang wajah siap menerkam Sakura hidup-hidup.

"Emang ada yang salah ya kalo gue di rumah?"

Karin menghela nafas lagi, "Gue ga mau acara sleepover gue terganggu karena keberadaan elo!" Karin menunjuk dada Sakura, "Dan juga Sasuke-kun."

"Kok Sasuke-kun juga??"

"Gue ga mau temen-temen gue pada histeris kalo tau ada makhluk seperti Sasuke-kun di rumah. Bisa kacau acaranya," Karin mencoba sabar.

"Tap—"

"Stop!" Karin menempelkan jari telunjuknya di bibir Sakura, "Ga usah banyak tanya. Pokoknya, besok Sabtu sore, kalian harus udah sampe di penginapan!"

Sakura mundur kemudian berbalik pergi. Karin tersenyum licik sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Anou, Karin," Sakura kembali berbalik.

"Apa lagi, sih?!" Karin terlihat sangat jengkel.

"Voucher ini… bukan cuma satu kamar, kan?" tanya Sakura agak waswas.

"Ya ampun… Emang gue gila apa nyuruh elo sekamar ama Sasuke-kun?!"

"Iya juga, ya??" Sakura melangkah menjauh sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Karin memandang Sakura yang menjauh, "Dengan begini, rencana akan berjalan lancar…"

(o.O)

"Sleepover?" tanya Sasuke heran. Dia dan Sakura sudah berada di penginapan sejak kemarin sore. Sekarang mereka berada di pinggir kolam renang indoor.

"Ya. Makanya dia pengen kita ga di rumah," kata Sakura menjelaskan sambil menggulung handuk dengan kedua lengannya.

"Emang ada yang salah kalo kita di rumah?" Sasuke merangkul pundak Sakura.

"Sasuke-kun, sleepover itu acara yang melarang lawan jenis untuk ikutserta. Jelas aja kamu ga boleh ada di sekitar kamar Karin," Sakura tersenyum simpul.

"Trus, kenapa kamu ga ikutan?" Sasuke terus mengajukan pertanyaan dengan nada datar.

Sakura menghela nafas, "Aku ga kenal ama temennya Karin,"

Sasuke memandang ke dalam kolam renang. Sakura melihat Sasuke.

"Renang, yuk!" ajak Sakura sambil menarik lengan Sasuke menuju ruang ganti.

--

--

"Haruna-chan yakin di sini ada Sasuke-kun?" tanya Itachi sambil melihat ke sekeliling penginapan.

"Kata 'dia' sih begitu…" jawab Haruna sambil mengedarkan pandangan ke seluruh bagian penginapan.

"Emang 'dia' siapa, sih?" Itachi memandang Haruna yang masih kebingungan.

"Aku juga kurang tahu," jawab Haruna sekenanya.

"Haruna-chan, mumpung ada di sini, kita renang, yuk!" ajak Itachi.

"Renang?" Haruna memandang Itachi heran.

"Katanya, kolam renang indoor di sini berasal dari sumber air panas di kaki bukit. Jadinya ga dingin," ujar Itachi.

Haruna termangu sebentar, "Ya udah, deh! Sekalian nyari Sasuke-kun!" katanya riang.

(o.O)

"Sakura mana, sih?" gumam Sasuke sambil melihat ke arah pintu keluar ruang ganti wanita.

Dia berjalan mendekati bibir kolam. Dilihatnya bayangan wajahnya yang memantul di permukaan kolam.

"Kau ini sebenarnya siapa?" gumamnya pada bayangannya sendiri.

Tiba-tiba seorang anak berlari-lari kencang tak sengaja menyenggol Sasuke. Tubuh Sasuke oleng dan tercebut ke kolam yang berkedalaman 2 meter.

Anak itu menoleh kaget, "Gomen, Nii-chan!!!" kemudian melanjutkan larinya.

Sasuke merasa sesak nafas di dalam air. Kakinya ia coba gerakkan, tapi malah kakinya terasa sangat nyeri. Banyak air kolam yang ia telan. Pandangannya mulai kabur…

'Sasuke-kun! Ganbatte, nee!!'

'Kau yakin mau melakukannya??'

'On air dimulai 2 menit lagi…'

'Aku tidak peduli siapa dirimu. Aku tetap ingin selalu bersamamu…'

Sasuke merasa seperti menonton bioskop. Potongan-potongan kejadian seakan berputar-putar di dalam kepalanya.

"SASUKE-KUUUN!!!"

"Suara… siapa itu…" gumam Sasuke lemah di dalam hati. Sekarang dia benar-benar tidak bisa mempertahankan kesadarannya.

--

--

Itachi berjalan menuju bibir kolam. Dia sudah bersiap meloncat saat pandangannya beralih pada dua orang yang sedang berenang secara tidak wajar. Salah satunya terlihat seperti sedang diseret.

"Tolong!" teriak salah satunya yang berusaha benerang ke tepian. Itachi mendekatinya tergesa-gesa. Ternyata seorang gadis berambut pink sedang menahan tubuh seorang…

"Sasuke-kun?!" pekik Itachi tak percaya. Dia menarik tubuh Sasuke ke tepi.

Sakura keluar dari kolam. Dia terduduk sambil agak terbatuk-batuk.

"Sasuke-kun!! Sadarlah!! Haruna-chaaaan!!!" pekik Itachi histeris karena panik.

Sakura mengangkat kepalanya. Siapa dia? Kenapa tahu tentang Sasuke? Tunggu dulu… Sepertinya aku kenal… Bukankah dia juga seorang Uchiha? Ah! Dia adalah Itachi… Kakak Sasuke… Kenapa bisa ada di sini?

"Nii-chan??! Ada apa?!" pekik seorang gadis berambut hitam yang memakai yukata khas penginapan sambil berlari mendekati Itachi dan Sasuke.

Siapa lagi dia?? Sakura sepertinya masih agak pusing. Bukannya dia… Salah satu model terkenal itu?? Siapa namanya?? Haruna? Ya, Haruna.

"Ya ampun, SASUKE-KUN?!?!" gadis bernama Haruna itu kini berteriak. Membuat Sakura kembali sadar 100%.

Sakura berlutut di belakang Haruna yang juga berlutut di depan tubuh Sasuke.

Uhuuk! Uhuuk! Sasuke terbatuk. Dia banyak memuntahkan air.

"Sasuke-kun?" panggil Itachi hati-hati.

Sasuke memegang keningnya. Matanya terbuka, "Nii-chan?"

"Sasuke-kun!! Akhirnya kau kembalii!" Haruna terisak kemudian memeluk tubuh lemah Sasuke.

Sakura menegang, "Kembali?? Apa… Sasuke sudah sembuh??" batinnya.

"Haruna, lepaskan aku!" kata Sasuke sambil mencoba lepas dari pelukan Haruna.

"Nggak, Sasuke-kun! Aku ga akan ngebiarin kamu pergi lagi!" Haruna menambah erat pelukannya.

"Haruna!" bentak Sasuke.

Haruna melepaskan pelukannya dengan berat hati, "Asal kau mau janji ga akan pergi lagi."

"Kau ini ngomong apa, sih?" kata Sasuke dengan tatapan aneh. Kemudian mata Sasuke bertemu dengan mata Sakura.

"Kau… siapa?" tanya Sasuke dingin.

Haruna dan Itachi juga memandang Sakura. Sakura serasa mendapat serangan jantung mendadak.

"A… Aku… Cuma… Lupakan… Yang penting kamu selamat," kata Sakura kemudian beranjak pergi.

Sasuke, Haruna, dan Itachi memandang kepergian Sakura.

"Nii-chan…" Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah Itachi, "Siapa dia?"

"Eh? Dia… orang yang menyelamatkanmu tadi," jawab Itachi.

"Apa?! Kita harus berterima kasih padanya!" ujar Haruna sambil beranjak pergi.

"Ga perlu," kata Sasuke sambil menahan lengan Haruna.

Haruna pun mengurungkan niatnya.

"Yosh, lebih baik kita pulang sekarang," kata Itachi.

Itachi dan Haruna membantu Sasuke berdiri. Sasuke memandang ke arah perginya gadis tadi.

"Kenapa aku seperti mengenalnya… Bahkan sangat membutuhkannya…" batinnya resah.

(o.O)

Sakura menghempaskan keras tubuhnya ke atas ranjang. Dia baru saja pulang dari penginapan. Tanpa Sasuke.

Sakura menenggelamkan wajahnya ke bantal. Dia menangis sejadi-jadi.

Suara pintu kamar terbuka. Karin muncul. Dia bersandar pada pintu.

"Kenapa malah nangis? Harusnya lo seneng dong Sasuke udah balik ingatannya. Dan satu lagi, ternyata dia memang Uchiha Sasuke," kata Karin enteng.

"Siapa bukan gue ga seneng? Gue seneng, kok! Banget, malah! Makanya gue nangis. Gue terharu, tau!" Sakura merasa sangat bodoh mengucapkan kalimat barusan.

"Bagus deh kalo ternyata lo juga seneng. Gue kira lo patah hati,"

"Siapa yang patah hati?! Konyol banget?!" elak Sakura. Dia memandang Karin tajam.

Karin tersenyum pedas melihat wajah Sakura yang tak keruan.

"Lo bener. Konyol. Hidup emang ga adil. Suatu saat hidup melambungkanmu tinggi ke langit, sesaat kemudian hidup serasa menghempaskan keras dirimu ke tanah," kata Karin sambil menutup pintu kamar Sakura pelan.

Sakura kembali membenamkan wajahnya ke bantal.

(o.O)

Au : Waduuuhhh…. Saya lagi blank nih bikin ending chap ini… Kya… Jelek amat siechh?!?! –gaje-

Buat kawaii-haruna, makasih udah boleh minjem namanya. Besok saya pinjem lagi ga papa, khan?!

Sudah memasuki chap-chap terakhir, nih! Minta dukungannya dengan mereview, dooong! Sudah lama saya tidak dapat review (ya iya lah! Orang belom apdet!)!!! –gelandangan mode : on-

Betewe eniwei baswei lagi, ada yang pengen jadi dokter?