Title: Happy Birthday, Papa!
Author: Myka Reien
Main Cast: LeoN/Neo
Genre: AU!VIXX Family, Rate T, GS!Hakyeon
Note: No bash, no flame, no copycat. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~
.
.
.
Stars' Lights
Happy Birthday, Papa!
.
.
.
Seperti mimpi. Taekwoon merasa ada sesuatu yang kecil, dingin, dan licin menyentuh pipinya, bergerak ke ujung hidungnya, lalu membuat sebuah lingkaran di sana. Kikik kecil terdengar. Suara yang tidak asing untuk Taekwoon. Namun rasa kantuk luar biasa membuat kedua matanya begitu sukar untuk dipaksa terbuka.
"Jangan banyak-banyak, nanti Papa bangun." Suara Jaehwan berbisik dibalas oleh cekikikan Wonshik.
Apa yang dilakukan bocah-bocah nakal itu kali ini? Taekwoon mengerutkan alis, mencoba untuk membuka mata walau otaknya memberikan penolakan. Berjam-jam bergumul di dalam ruang operasi memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan, sukses membuat Taekwoon baru bisa memejamkan mata di sepertiga terakhir malam. Hakyeon sudah menyuruhnya untuk tidur di rumah sakit saja dan jangan memaksakan diri menyetir pulang ke rumah, tapi dia tidak peduli. Tetap berada di rumah sakit hanya akan membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang sebab panggilan darurat bisa datang sewaktu-waktu. Lain halnya jika dia di rumah, hal emergency akan ditangani lebih dulu oleh dokter piket dan bila yang ditunjuk tidak sanggup barulah pihak medis akan menghubungi dokter spesialis.
TAPI, bukan berarti tidur di rumah juga merupakan pilihan terbaik. TIDAK, jika yang tinggal serumah denganmu adalah TIGA ORANG ANAK HIPERAKTIF dan SATU ORANG BAYI yang mulai menunjukkan tanda kalau dia menuruni sifat ketiga saudaranya. Meski begitu, bagi Taekwoon rumah masih tetap menjadi yang terbaik walau terkadang suara jeritan Jaehwan mengagetkannya dan tangisan Hongbin mendayu-dayu laksana lagu yang menyedihkan. Taekwoon mulai terbiasa dengan semua itu—bukan—mau tidak mau dia harus terbiasa dengan semua itu.
Taekwoon merasa wajahnya semakin sering disentuh oleh jari Jaehwan (dan Wonshik—sepertinya), meninggalkan bekas sesuatu yang dingin dan menempel di permukaan kulitnya. Lelaki itu mendengus samar, memaksakan badannya yang masih terasa berat untuk bergerak—terutama—kedua matanya yang masih betah terpejam.
Hakyeon-ah, kau dimana? Taekwoon menggerutu dalam hati. Biasanya, setiap kali dia sedang tidur sehabis shift malam, istrinya akan dua kali lebih siaga menjaga anak-anak mereka. Hakyeon akan mengunci pagar pengaman yang dipasang di pintu kamar tidurnya dan sebisa mungkin menjauhkan anak-anak dari Ayah mereka yang sedang beristirahat. Dia juga akan lebih cerewet meminta Jaehwan untuk tidak berteriak-teriak maupun melerai Wonshik yang selalu merasa gemas berlebihan pada Hongbin atau Sanghyuk—dan kemudian berakhir membuat kedua adiknya menangis—walau pada kenyataannya, yang paling keras dan berisik adalah suara sang Mama sendiri.
"Twinkle twinkle little sta—" Jaehwan sedang mencolek-colekkan ujung jari mungilnya di bibir Taekwoon saat mendadak kedua mata Ayahnya terbuka. Sekejab Jaehwan dan Wonshik terlonjak di tempat mereka berdiri dengan mata membulat lebar selebar-lebarnya. Karena cara Taekwoon membuka mata barusan tidak ada bedanya dengan mayat yang kembali membuka mata setelah divonis mati di film-film horor, terlebih dengan ekspresi wajahnya yang datar, Jaehwan dan Wonshik terlihat seperti orang yang sedang menyaksikan teror paling mengerikan di sepanjang hidup mereka.
"MAMAAA!" nyaris bersamaan kedua saudara itu berteriak dan berlarian keluar kamar kedua orang tuanya. Terdengar suara Hakyeon yang menyambut kepanikan kedua anaknya dengan sabar.
"Papa bangun! Papa—!" Jaehwan masih belum dapat menguasai dirinya, sementara Wonshik sudah menenggelamkan muka di dada Ibunya dengan kedua lengan memeluk erat tubuh Hakyeon.
"Papa bangun?" mata bulat Hakyeon melebar. "Yah, kau masuk ke kamar Papa? 'kan Mama sudah bilang untuk tidak ke sana. Kau bocah nakal." Dengan gemas wanita itu mencubit pelan sebelah pipi gembul Jaehwan.
"Papa—" Jaehwan tidak menghiraukan omelan ibunya dan terus bicara. "Papa bangun seperti hantu. Matanya begini—trang!" bocah tersebut mempraktekkan bagaimana ayahnya barusan membuka mata dan mengagetkan dia serta Wonshik.
Hakyeon tertawa renyah. Dengan sayang dia mengusap kepala anaknya. "Itu karena kau mengganggu tidur Papa, makanya Papa marah—"
Kalimat Hakyeon terhenti bersamaan dengan terdengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Sosok lelah Taekwoon muncul di ambang pintu, lengkap dengan rambut hitam acak-acakan dan warna hitam samar di bawah matanya yang menyorot malas. Hakyeon menahan tawa, bukan karena melihat 'penampilan bangun tidur' suaminya tapi karena hal yang lain.
"Apa itu di wajahmu?" tanya Hakyeon sembari menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Harusnya aku yang tanya," balas Taekwoon dengan intonasi suara setengah kesal setengah mengantuk. "Apa ini?" namja itu mengusap krim putih yang menempel di sebelah pipinya akibat ulah tangan jahil Jaehwan dan Wonshik, lalu menunjukkannya pada sang istri yang hanya menanggapi dengan gelak tawa.
"Maafkan aku," ujar Hakyeon. "Aku hampir menyelesaikan kuenya tapi anak-anak bangun. Mereka terlanjur melihat adonan krimnya, jadi—" wanita itu menyelesaikan kalimatnya dengan satu angkatan bahu.
Taekwoon menghela napas, mengedarkan pandangan, dan baru menyadari bagaimana kacau keadaan ruang duduk apartemennya. Sebuah mangkuk besar berisi adonan krim putih—yang didakwa Taekwoon menjadi terpidana utama atas semua kerusuhan ini—nampak tergeletak dengan posisi terbalik di atas lantai. Di sebelahnya ada Hongbin yang sedang tengkurap dan menggambari permukaan ubin dengan jari kecilnya yang berlumuran krim sambil mulutnya menyanyikan lagu anak-anak. Sesekali bocah itu akan berhenti menggambar untuk mengemut krim di jarinya lantas mencolek lagi tumpahan krim di lantai di sebelahnya dan kembali menggambar tanpa sadar jika wajah, lengan, serta lehernya hampir penuh oleh noda makanan manis yang lengket tersebut.
Di sebelah Hongbin ada Sanghyuk yang dengan penasaran bermain krim menggunakan kedua tangan. Bayi itu menepuk-nepuk tumpukan krim di lantai, mengambilnya segegam, lalu meremasnya. Kedua matanya yang bulat seketika bercahaya ketika tahu betapa lembut dan lembek benda di tangannya sekarang. Sanghyuk memperhatikan tangannya sendiri dengan mata mengerjab takjub. Dia kemudian melihat sekeliling dan menemukan masih banyak krim yang tersisa untuk dia mainkan. Bayi yang belum genap delapan bulan tersebut lalu meraih tumpukan krim lain di atas lantai, meremasnya, dan menepuk-nepuknya, lantas tertawa senang. Sanghyuk nampak begitu tertarik dengan mainan barunya.
"Untuk apa kau membuat krim? Anak-anak bisa sakit gigi kalau makan makanan manis sebanyak ini," tanya Taekwoon mengarahkan tatapan mata menghakimi pada Hakyeon yang dia kenal sebagai seorang pribadi yang ceroboh. Bahkan setelah menjadi Ibu sekali pun, wanita itu masih belum bisa menghilangkan kebiasaan teledornya.
"Untuk membuat kue ulang tahunmu," jawab Hakyeon simpel.
"Kue ulang ta—" Taekwoon menghentikan kemarahannya dan baru sadar dengan apa yang dikatakan istrinya barusan. Dia menatap lurus manik coklat Hakyeon, lalu turun ke bibirnya yang tersenyum lembut.
"Selamat ulang tahun, Jung Taekwoon~" ujar Hakyeon dengan suara yang hanya dia dan suaminya yang mendengar, karena kalau sampai ketiga tuyul mereka ikut mendengar, bocah-bocah itu pasti akan langsung ribut tidak karuan.
"Selamat ulang tahun, Yeobo~" imbuh Hakyeon membuat bibir suaminya mengatup rapat.
"Selamat ulang tahun Jaehwanie-Wonshikie-Hongbinie-Sanghyukie Appa~"
Dan Hakyeon hanya dapat kembali menahan tawa saat dilihatnya wajah Taekwoon memerah hingga ke daun telinganya.
"Sudah bertahun-tahun..." Hakyeon menutupkan punggung tangan ke depan mulutnya sendiri. "...tapi kau masih tetap begini kyeowo. Aiguu, eotteoke~" wanita itu memegang perutnya yang mulai terasa sakit.
"Diamlah," desis Taekwoon merasa malu sendiri dengan sikapnya yang terlampau pemalu, padahal yang dia hadapi adalah istrinya, orang yang paling sering berinteraksi dengannya.
"Tidak heran tidak ada yang percaya kalau kau sudah punya empat anak." Hakyeon masih terkikik. "Kau benar-benar seperti anak SMA yang belum pernah berpacaran, hihihi."
"Cha Hakyeon, hen-ti-kan—!" kali ini Taekwoon memberikan tekanan di setiap suku kata kalimatnya. Kalau saja tidak ada anak-anak di sekelilingnya, sudah pasti dia akan mengkelitiki pinggang istrinya yang jahil itu sampai Hakyeon tergelak kehabisan napas.
"Bersihkan wajahmu dan kembalilah tidur. Biar aku yang mengurus anak-anak. Aku akan membersihkan rumah dan menyelesaikan kuenya nanti waktu mereka tidur siang," ujar Hakyeon setelah puas menertawakan suaminya.
"Tidak." Taekwoon bergerak meraih kotak tisu dan membersihkan wajah sekenanya. "Kau tidak akan bisa mengatasi mereka sendirian."
"Anak-anak!" suara Taekwoon menggema, menghentikan langkah kaki Jaehwan yang sedang mengejar Wonshik dan Hongbin yang akan beralih menggambar di atas meja sofa.
"Omo!" Hakyeon memekik tertahan ketika melihat Sanghyuk hampir memasukkan kelima jarinya yang belepotan krim ke dalam mulut.
"Jangan, Sanghyuk-ah. Kau belum boleh memakan ini. Nanti pertumbuhan gigimu terganggu," ujar Hakyeon, langsung membersihkan tangan bayinya dengan celemek yang dia pakai.
Sanghyuk menjerit protes melihat tangannya sudah dibersihkan paksa oleh sang ibu. Dia kembali meraih tumpukan krim lain di lantai dan mau memakannya namun kembali dihentikan oleh Hakyeon. Bayi itu berteriak, tangannya menunjuk pada Hongbin yang sedang menjilati krim manis di jari tangannya sendiri.
"Hyungnim boleh makan ini, tapi kau belum boleh. Kau boleh makan nanti kalau sudah sebesar Hyung—" bujukan Hakyeon dihentikan oleh jeritan Sanghyuk. Terlebih ketika tubuhnya diangkat dari atas lantai, makin mengamuklah bayi itu. Taekwoon memandang istrinya yang sedang susah payah membujuk si bungsu, lalu menghela napas.
"Sudah 'ku bilang kau tidak akan bisa mengatasinya," desis Taekwoon.
"Ayo, mandi!" komando sang Ayah pada ketiga anaknya yang langsung menanggapi dengan kerutan alis tanda penolakan.
"Mandi, lalu tidur," imbuh Taekwoon namun tidak satu pun dari ketiga anaknya yang terlihat akan mematuhi perintahnya dengan mudah.
Namja muda itu menghela napas panjang.
"Baiklah," ucapnya mencoba sabar. "Kalau kalian mau main lebih lama..." dia bangkit berdiri.
"Siapa yang harus Papa tangkap~" Taekwoon mengubah suaranya menjadi se-husky mungkin dan itu membuat anak-anaknya memekik nyaris bersamaan. Sambil tertawa-tawa mereka berlarian menghindari tangkapan tangan ayahnya. Hongbin menubruk Hakyeon dan menjerit senang ketika Taekwoon menangkapnya, membuat Sanghyuk melepaskan mulut dari puting susu ibunya dan ikut tertawa riang, tangan mungilnya menggapai-gapai ke arah Taekwoon yang menggendong Hongbin menuju ke kamar mandi.
"Tunggu, kalian berdua. Jaehwan dan Wonshik. Kalian yang selanjutnya," ujar Taekwoon sambil mengarahkan telunjuk pada dua kepala yang berdesakan bersembunyi di bawah meja.
"Ande! Ande! Ande!" Wonshik bicara sambil tertawa, agaknya dia merasa senang mendapat tantangan seperti itu.
"Huwaaa, eottokajiii!?" pekik Jaehwan sambil meletakkan kedua tangan di pipinya, gesture paling cute yang dia miliki.
Dan melihat itu semua, Hakyeon hanya bisa tertawa.
-END-
Too lazy to edit -,- please excuse any typo, kkk
HAPPY BIRTHDAY, PAPA LEOOO~ *emot lope-lope*
copyright mykareien/151110/stars-lights-vixx/happy-birthday-papa
