Disclaimer: I Do Not Own Naruto, all materials belong to The Great Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC (sudah pasti), Rated M (Lemon-ish, aaand FULL of Violence!) Please, masih ada kesempatan untuk cari fic lain yang lebih "sehat" jika anda kurang dari 18 tahun sangat, sangat, sangat dianjurkan untuk meng-klik "Back" (di lain pihak, semua pilihan tetap diserahkan pada masing-masing pembaca) :D

Do Not Like Do Not Read! Author tidak menerima flames dalam bentuk apapun! Di lain pihak, opini dan masukan sangat author harapkan terutama dari author-author senior.


Chapter 3

Normal's POV:

Seorang pemuda yang berusia sekitar 20 tahun duduk termenung di salah satu sudut di perpustakaan tua tersebut, di hadapannya hanya terdapat buku-buku yang sebagian sudah menjadi sampah, buku-buku tersebut kesemuanya berbahasa Belanda. Sambil menggelengkan kepala, ia mendesah. "Ah, semuanya sudah hancur... semua buku-buku berharga ini... aku tidak suka perang..." ia mengeluh.

Tak lama seorang pria berlari memasuki perpustakaan tersebut, dan memecahkan keheningan dengan teriakan: "SAAAAIII! Kabar buruk!" teriaknya.

"Aa..." orang yang dimaksud menjawab seadanya seraya memungut buku-buku yang masih utuh dari lantai.

"Gawat, Sai! Ini sudah gawat!" lelaki yang bernama Genma tersebut kembali mengulang maksudnya, dengan kondisi terengah-engah. "Kita harus meninggalkan Bandung! Secepatnya!"

"Apanya yang gawat?! Meninggalkan Bandung? Tidak lihat apa? Di hadapanmu ini yang gawat! Kau tidak lihat perpustakaan pribadiku hancur?" jawab lelaki bernama Sai yang menumpuk buku di atas meja yang tersisa di pojok ruangan. "Kalau tidak ada buku kita tidak bisa pintar, kalau tidak pintar kita tidak bisa ke Belanda, mengerti?" ucapnya lagi.

Genma kemudian menarik lengan orang yang diajaknya bicara tersebut. "Aku serius!" ia sedikit membentak laki-laki yang berwajah pucat di hadapannya. "Jepang sudah sampai di Bandung! Bahkan beberapa kompi sudah memencar ke beberapa desa!"

"Bukankah Jepang ingin membantu negara ini merdeka? Bukankah Jepang ingin memisahkan kita dari Belanda? Kalau kau ingin aku berjuang, pergilah, aku ini bukan nasionalis, aku pro-Belanda. Puas?" Sai membalas dengan sinis.

"Sai! Dengarkan aku! Kau ini sarjana! Kau orang berpendidikan! Bangsamu sedang membutuhkanmu sekarang, para pejuang membutuhkan ilmu yang kau miliki! Sampai kapan kau akan membela pejajah seperti Belanda? Dan kau tahu apa soal Jepang? Jepang lebih jahat daripada Belanda, kau tahu tidak? Mereka tidak ingin membantu kita merdeka, mereka ingin menguasai kita semua! Kau dengar yang kukatakan? KITA SEMUA!" Genma kini membalas dengan nada tinggi sebelum ia menarik kerah pakaian laki-laki di hadapannya itu. "Kalau Jepang menang, mimpi saja kau bisa ke Belanda! Jangankan pergi ke sana, bisa bernafas saja kau sudah untung! Aku tahu bahwa kau mati-matian membela Belanda hanya karena kakekmu orang Belanda, hanya karena seperempat darahmu itu darah Belanda, lalu di mana tiga perempat lagi? Tiga perempat dirimu adalah orang Indonesia! Kau sadar tidak siapa yang harus kau bela?!"

Sai berbalas mendorong Genma dengan kasar, memaksa kawannya tersebut untuk melepaskan tarikan di kerah pakaiannya. "Apa yang kau tahu?! Pejuang-pejuang itu membunuh kakekku! Lalu apa yang mereka lakukan kemudian pada orang-orang sepertiku setelah kakekku meninggal? Mereka mengambil perkebunan kami! Hanya seonggok tanah ini yang tersisa, hanya perpustakaan pribadi ini yang tidak mereka ambil! Dan sejak saat itu seluruh keluargaku sudah berangkat ke Belanda, yang tinggal di sini hanyalah aku. Kau pikir apa yang akan kau perbuat selanjutnya jika kau menjadi diriku, huh?! Aku hanya ingin berkumpul dengan keluargaku, mengerti?!"

Genma kemudian menarik nafas, ucapan Sai memang beralasan. Tak lama keduanya terdiam sejenak, sampai akhirnya Sai memalingkan wajah. "Maaf... aku emosi... teruskan beritanya saja... apa lagi yang hendak kau katakan padaku?"

"Aku juga minta maaf padamu, aku mengerti keinginanmu besar untuk berkumpul dengan keluargamu di Amsterdam. Namun situasinya akan sulit bagimu untuk pergi ke sana selama masih ada Jepang di sini. Dengarkan aku, Sai. Pilihan terbaik yang tersisa untukmu adalah bergabung dengan para pejuang republik, karena kau adalah sarjana, para pejuang membutuhkan tenaga dari kaum intelek sepertimu. Selain itu, ada alasan lain mengapa kau harus berperang menghadapi Jepang..." Genma membalas.

"Apa yang kau maksud, Genma?"

"Aku dengar, mereka mencari gadis-gadis muda untuk dijadikan jugun ianfu. Dan dari telegram yang kuterima, mereka telah menangkap beberapa gadis termasuk di Desa Jati..." ucapan Genma sedikit bergetar.

"Ju-gun... Ian-fu...? Apa itu? Lalu... apa hubungannya dengan Desa Jati?!"

"Jugun Ianfu adalah gadis penghibur yang direkrut oleh tentara Jepang, gadis-gadis diculik dari kampung halaman mereka untuk dijadikan pelacur yang melayani tentara Jepang selama mereka berada di negeri yang dijajahnya... Desa Jati yang kumaksud, tak lain adalah Desa Jati tempat di mana sepupu jauhmu tinggal. Kudengar paman dan bibi jauhmu juga sudah meninggal..." jelas Genma.

"Jangan-jangan Inu sudah dibawa? Berarti... gadis itu juga?" Sai hampir berteriak setelah mendengar ucapan Genma.

Genma memejamkan mata sebelum mengangguk. "Ya... termasuk teman sepermainannya itu... gadis... yang kau cintai itu juga sudah dibawa oleh Jepang untuk dijadikan wanita penghibur..."

Dan dalam sekejap mata, Sai merasa dunia sudah runtuh. Tubuhnya setengah kolaps ke arah meja di hadapannya. Ia menarik kelima jemarinya menjadi satu kepalan utuh yang mengeras.

"Aku tak peduli jika tentara-tentara Jepang itu membawa sepupuku yang angkuh itu... atau siapapun gadis yang mereka bawa untuk dijadikan pelacur... tapi, jangan sekali-kali mereka membawa gadis itu... aku tak bisa membiarkan dia jatuh ke tangan mereka... tidak akan!" gumam Sai dalam hati seraya mendorong seluruh tumpukan buku yang sudah disusunnya berdasarkan abjad di atas meja tersebut. Temannya, Genma, hanya diam dan menyaksikan kemarahan yang ditunjukkan oleh Sai di hadapannya. Ia sudah tahu tugas memberitahu ini akan sulit baginya, dan bagi sahabatnya tersebut.

"Sai... tenangkan dirimu, dan kita akan bicarakan ini lagi jika kau sudah siap." Genma berkata seraya mundur perlahan dari ruangan yang penuh buku-buku tersebut. "Kau tahu bahwa tentara rakyat akan senantiasa menantikan kehadiranmu di tengah-tengah kami..."

Sai tidak menjawab, ia masih terdiam menahan amarah, ia bahkan tidak menoleh ke arah Genma yang berjalan perlahan menuju pintu perpustakaan tua tersebut. Namun tiba-tiba Genma berhenti, dan menoleh ke arah Sai kembali sebelum berkata. "Satu lagi, Sai. Dengan bergabung bersama kami, kau tahu bahwa kau punya kesempatan untuk merebut gadis kesayanganmu sekali lagi... Sektor Bandung sangat memahami medan, dan aku sangat yakin mereka tahu di mana para tentara Jepang menyembunyikan gadis-gadis tersebut..."

Pria berwajah pucat itu kemudian menoleh dengan tatapan tajam. "Kau tidak perlu bicara lagi, Genma..."

Genma bergidik mendengar ucapan sahabatnya tersebut. "Aku mendengarkan..." ia berhenti sejenak, menunggu Sai menyebutkan kata-katanya sendiri.

"Aku ikut... hanya dia alasan aku masih bertahan di sini..." jawab Sai dengan penuh keyakinan.


Normal's POV:

Sementara itu di Markas Pasukan Jepang Sektor Priangan yang berjarak hanya lima belas kilometer dari Bandung, ke duapuluh enam gadis yang sebelumnya di tahan di satu ruangan kecil secara paksa digiring keluar oleh Bundancho Nara Shikamaru—salah seorang tentara dengan IQ 200 yang telah dilatih khusus untuk beroperasi di Asia Tenggara.

Nara Shikamaru dipercaya untuk berkomunikasi dengan orang lokal karena pengetahuannya akan bahasa yang cukup banyak, di antara bahasa-bahasa yang dikuasainya adalah bahasa Thai, bahasa Tagalog, dan bahasa Melayu. Tak heran dia mendampingi si Chudancho Ningrat, Uchiha Sasuke yang malam ini akan membagi jatah perempuan bagi tiap-tiap tentara yang dipimpinnya, dan memilih satu dari ke duapuluh enam gadis yang kini berbaris di hadapannya untuk dijadikan simpanan pribadinya selama berada di Indonesia.

"Nara! Berapa jumlah tentara yang kubawahi?!" Uchiha Sasuke bertanya pada Shikamaru yang berdiri di belakangnya.

"Siap! Tujuh puluh lima, Pak!"

"Berapa banyak gadis di hadapanku sekarang?!"

"Siap! Dua puluh enam, Pak!"

"Mereka sehat?" tanya Chudancho Uchiha.

"Siap! Semua sehat, Pak!"

"Bagus. Sehingga berapa perhitungan yang akan didapat dari jumlah tentara dengan jumlah gadis di sini—yang dikurangi satu?" tanya sang Chudancho lagi.

"Siap! Perhitungannya adalah, satu orang gadis akan melayani tiga orang tentara, Pak!"

"Hn, cukup manusiawi untukku. Kerja yang bagus, Nara..." Uchiha Sasuke melempar senyum datar. Shikamaru hanya membungkuk membalas ucapan atasannya tersebut. "Kalau begitu, aku akan mengatur pembagiannya setelah aku memilih salah satu gadis di sini..." sang kapten berjalan memutari barisan gadis-gadis yang semuanya nampak bingung tersebut.


Sasuke's POV:

Hmm, aku tidak tahu harus memilih yang mana. Semua gadis nampak sama. Gadis-gadis di sini sama seperti gadis-gadis yang kutemui di Filipina, mereka semua berkulit cokelat, tidak terlalu gelap, dan juga tidak terlalu terang. Seperti orang Asia kebanyakan, rata-rata mereka berambut hitam.

Ah, ada satu gadis yang berambut pirang, dan berkulit cerah! Gadis itu nampak cantik juga, nampak dari kulihat sedikit dia pasti berdarah setengah Belanda. Sayang sekali, aku tidak suka gadis model Eropa seperti dia.

Lalu gadis di belakangnya itu? Ah, kulitnya kuning sekali, matanya kecil, sudah pasti dia gadis Cina yang sudah lama tinggal di sini. Aku sudah terlalu sering melihat gadis Cina selama perjalananku menuju Hindia Belanda.

Hmm, siapa perempuan yang ada di sampingnya itu? Gadis yang cantik itu sedikit berbeda. Ah, rambutnya sedikit berbeda... kulihat lagi... tidak, rambutnya benar-benar tidak hitam! Kulitnya indah sekali, kulit yang sedikt lebih terang dari gadis-gadis pribumi yang lain, sedikit kuning dan tidak seputih seperti gadis Eropa tadi. Dan matanya? Ha? Dia bermata hijau? Gadis dari manakah dia? Apakah dia gadis Indonesia dengan jumlah kelahiran satu banding sepuluh juta? Dia unik sekali.

Hmm, kulihat pinggulnya. Betapapun kain batik itu mencoba untuk menutupi pinggulnya, ia tidak akan mampu menutupi kenyataan bahwa pinggulnya sangat menarik. Bokongnya yang naik, ah! Lalu kulihat payudaranya yang tertutup kebaya itu! Gadis ini tubuhnya indah sekali. Berapa usianya kira-kira? Tujuh belas? Delapan belas? Kurasa dia hanya enam tujuh tahun lebih muda dariku saat ini. Aku yakin sekali karena tubuhnya nampak sudah siap dipanen! Heh, tanpa kusadari aku sudah cengengesan dengan imajinasi yang kubayangkan tentang apa yang hendak kuperbuat dengan gadis ini.

"Nara!" panggilku pada sang Budancho.

"Siap, Pak!" Nara dengan sigap mendekatiku.

"Aku pilih gadis yang ada di samping gadis Eropa itu. Suruh dia untuk mengikutiku." Ucapku seraya menunjuk gadis yang kumaksud. Sontak saja seluruh gadis-gadis di sampingnya nampak terkejut, gadis itu sendiri nampaknya agak bingung dengan situasi yang sedang terjadi, tapi kalau kulihat saat sedang bingung pun ia nampak terlihat cantik jelita!

Nara mengangguk sebelum mendekati gadis yang kumaksud dan menariknya ke hadapanku. Gadis itu tidak meronta, namun aku yakin dia sangat ketakutan, ia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk. Begitu aku melihat wajahnya dari dekat, ia nampak cantik sekali. "Si-apa... nama kamu...?" aku mencoba berbahasa melayu dengan gadis yang kutunjuk tadi.

Nara nampak memberi tanda pada sang gadis dengan tatapan tajam, dan gadis yang sebelumnya menunduk sedikit demi sedikit menaikkan dagunya namun ia tidak berusaha menatapku. "Sa... Sakura... Haruno." Dia menjawab perlahan, ia tidak terdengar kesulitan melafalkan nama Jepang itu.

Sakura Haruno katanya? Bukankah itu nama yang kupilihkan? Aku tersenyum kecil pada Nara Shikamaru. Dia memang paling tahu cara membuatku senang.

"Kanojo wa totemo kireida*..." aku berucap di hadapan Nara. Kulihat bawahanku itu mengangguk dengan setengah badan membungkuk. Si gadis tidak paham, aku tambah senang saja, dia akan selalu siap menerima kejutan-kejutan yang akan kuberikan di kemudian waktu.

"Aku ambil gadis ini, dan ambil sisanya untuk kalian semua, aku tidak peduli dengan gadis yang lain." Aku berkata pada Nara dan tentara-tentaraku yang lain sebelum meraih tangan Sakura Haruno dan menggiringnya berjalan menuju kamarku.

Namun tak disangka hanya dalam tiga langkah ke depan tiba-tiba gadis yang kugandeng dengan kasar menarik tangannya dan berlari ke arah barisan gadis-gadis yang lain seraya berteriak: "LARI! Semuanya lari!" dan dalam sekejap saja situasi menjadi berubah, para gadis yang sebelumnya tenang kini nampak panik, Sakura terus berteriak-teriak sebelum para anak buahku menangkap tubuhnya yang meronta-ronta dan berusaha melawan.

"Sakura!" gadis Eropa yang tadi kulihat berlari dan berusaha mengambil Sakura dari para anak buahku sebelum Nara menangkap tubuhnya dan melemparkan tamparan keras ke pipinya. Kejadian tersebut sontak membuat gadis-gadis lain semakin panik, dan mulai berlarian ke sana kemari. Kurang ajar! Hanya karena satu gadis saja semuanya jadi kacau! Mataku mencari Sakura, dia juga memandang mataku seakan menunggu reaksiku. Gadis ini tidak bisa kumaafkan!

"Kalian! Bawa Sakura masuk ke kamarku!" aku memerintahkan para anak buahku yang berhasil menangkap Sakura yang terus menerus berteriak-teriak memandangi Si Gadis Eropa yang kini sudah pingsan.

"Tangkap semua gadis-gadis yang berusaha kabur, dan malam ini mereka semua adalah milik kalian!" aku berteriak pada seluruh tentaraku yang kemudian berlarian kegirangan menangkap para gadis yang semakin panik. "Pukul saja mereka jika mereka tidak patuh pada kalian!" aku menambahkan.

Hanya sekejap setelah aku berkata demikian, aku melihat Nara dengan cepat mengambil gadis Eropa yang baru dibuatnya pingsan, dan menelanjanginya tepat di hadapanku sebelum mengumbar mulutnya ke mulut gadis tersebut. Hal yang sama dilakukan para anggotaku yang lain, mereka memukuli gadis yang berhasil mereka tangkap sebelum mereka kendalikan sesuka hati.

Aku tidak mau menyaksikan lebih lanjut ulah para anak buahku yang nampak sangat beringas pada gadis-gadis tersebut, sebenarnya aku tidak peduli! Aku mendengar gadis-gadis tersebut berteriak, heh berisik sekali mereka! Tiba-tiba salah satu anak buahku mendatangiku dan berkata bahwa kamar sudah dapat "kugunakan" lengkap bersama Sakura Haruno.

"Lapor, Kapten! Kamar sudah siap! Kami membuatnya setengah pingsan untuk dapat mengikatnya ke ranjang anda." Lapor Chouji padaku.

"Bagus. Sekarang kalian boleh berburu jatah kalian sendiri." Aku membalas seraya tersenyum penuh kemenangan. Kedua anak buahku tak lama berlari dengan wajah cengengesan mengikuti keramaian yang terjadi di lapangan tersebut, sementara itu aku berjalan dengan perlahan menuju kamarku sendiri, untuk menikmati hidanganku yang paling baru.


Sakura's POV:

Aku sudah tahu ini yang akan terjadi! Aku tahu firasat burukku merupakan petanda bahwa sesuatu yang akan terjadi!

Ini semua kesalahanku! Sejak awal aku sudah merasakan keanehan. Seandainya saja aku mengikuti pesan dari Juugo-san yang memperingatkanku untuk kabur sebelum masuk ke dalam barak ini!

Aku tidak mengerti apa-apa, aku tidak memahami bahasa mereka, tapi aku bisa membaca apa yang sedang terjadi di sekelilingku. Laki-laki itu! Orang yang dibilang sebagai Chudancho itu adalah biang dari semuanya! Sejak ia keluar dari ruangannya setelah kami dipaksa untuk berbaris, aku sudah curiga bahwa dia memerhatikan kami semua dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Aku pikir dia akan memilih Ino, dia terus-menerus melihat ke arah kami. Tetapi ternyata dia memilihku! Apa yang sesungguhnya telah terjadi?! Apa yang diinginkanya dariku?

Begitu Shikamaru-san menarikku untuk maju, aku sangat ketakutan. Aku tidak berani menatap wajah Sang Chudancho, aku hanya melihat sedikit dan tahu bahwa kulitnya sangat pucat, postur tubuhnya secara kasar cukup tinggi, dan tegap. Aku bahkan tidak menatap matanya. Tapi aku bisa membaca dari nada bicaranya, bahwa ia ingin membawaku. Setelah dia menarik tanganku untuk pergi, aku tidak bisa lagi menahan dan akhirnya berteriak. Aku hanya ingin pergi bersama teman-temanku dari tempat ini, tidak lebih! Setidaknya jika aku tidak berhasil melarikan diri, teman-temanku harus bisa pergi dari sini selagi mereka bisa!

"LARIIII! Semuanya lari!" aku berteriak. Beberapa detik kemudian aku melihat Ino berusaha lari ke arahku sebelum Shikamaru-san menahannya, dan aku bisa melihat Sang Chudancho dengan terang saat dia menatap mataku langsung dengan penuh kemarahan.

Ya. Akhirnya aku melihatnya! Dia seperti manusia setengah dewa!

Terlihat dari tatapan matanya, ia sangat marah padaku, kemudian dia menyuruh dua orang anak buahnya untuk mengurusku—atau apalah yang dia katakan. Dalam hitungan detik, aku merasakan sebuah tamparan melayang ke pipiku dengan sangat keras, aku terlempar sebelum dibopong dengan kasar oleh tentara-tentara itu. Kemudian aku melihat Ino sudah terkapar, apakah dia sudah mati? Aku berteriak keras sekali, namun itu tidak menghentikan langkah kedua tentara yang terus berlari membawaku ke suatu tempat.

Aku terus-menerus meronta melawan dua orang tentara yang membopongku ke sebuah kamar yang mungkin kamar paling bagus di tempat itu. Keduanya memiliki tenaga yang sangat besar, yang satu tubuhnya sangat besar, yang lainnya tidak terlalu besar namun dari penampakannya ia cukup kuat.

"Lepaskan aku! Kumohon lepaskan!" aku meronta-ronta, berusaha memukul, dan menampar, bahkan menendang kedua tentara tersebut.

Perlawananku pada akhirnya nampak sia-sia setelah salah satu tentara tersebut melemparkan pukulan ke pipiku dengan sangat keras, hingga aku merasa rahangku tak dapat digerakkan selama beberapa saat.

"Damare*!" dia berteriak, aku tak tahu maksud ucapannya, namun ia terus mengulangi sambil menampar wajahku hingga aku tersungkur. Dalam keadaan tersungkur, seorang tentara yang lain memegangi kakiku sambil mengikatnya dengan sebuah tali. Aku terus berteriak. "Tolong! Kumohon, jangan lakukan ini padaku! Kumohon!" akhirnya aku menangis.

Setiap kali aku berteriak, semakin keras pukulan yang diberikan kepadaku. Setelah kakiku terikat, mereka berusaha mengikat tanganku. Dengan penuh keberanian aku meludahi muka salah satu dari mereka, dan ahlasil sebuah tinju dilontarkan ke hidungku, rasanya sakit sekali. Tak hanya itu, keduanya kemudian menendang tubuhku, yang satu menendang perutku, yang lain menendang punggung belakangku, mereka terus melakukannya hingga aku tak lagi berdaya untuk berkutik. Aku mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa Jepang yang tidak kumengerti, dan setelah mereka berhasil mengikat tangan dan kakiku mereka keluar dari kamar tersebut.

Mereka keluar?

Benarkah?

Mereka membiarkanku hidup?

Mustahil...

Atau jangan-jangan...

Tunggu, apakah Sang Chudancho akan kembali?

Dia akan kembali...

Dia "memilihku"...

Sejenak aku berpikir sebelum aku mendengar suara teriakan dari ruang sebelah, teriakan meminta tolong, yang disertai teriakan memaki...

"Jangan! Jangaaan!" dengarku.

Tak lama aku mendengar jerit kesakitan...

Jerit kesakitan seorang perempuan dari kamar sebelah...

Kemudian jerit tersebut berubah menjadi rintihan, desahan...

Gadis itu... diperkosa...

Aku terdiam.

Apakah artinya aku hanya menunggu waktu untuk giliranku sendiri?

Oh, Tuhan. Dengan tangan dan kaki terikat, aku hanya dapat memejamkan mataku yang berair ini seraya menunggu apa yang akan terjadi padaku.

TBC


Hahahahaha... maaf ya... harus skip lagi... mau menyiapkan sesuatu yang BESAR di chapter selanjutnya... :D

Please read & review!

Japanese in this chapter:

Sebelumnya mohon maaf kalau ada kesalahan, maklum author gak bisa bahasa Jepang tapi ingin nuansanya tetap Jepang.

*Kanojo wa totemo kireida artinya dia cantik sekali.

*Damare itu makian dalam bahasa Jepang.