NATURAL THOUGHT
Baekhyun pikir ia telah berlari jauh sampai Chanyeol tak mampu mengejarnya. Namun yang ia dapati adalah sosok pria itu berikut dengan cengkraman pada lengannya, begitu kuat menyadarkan Baekhyun akan sosok itu tak lagi memiliki jarak berarti dengan pijakannya. Chanyeol menahan Baekhyun lalu memaksa kontak mereka terjalin disana.
"Baekhyun kau hamil?" Chanyeol masih menanyakan hal serupa dan menuntut Baekhyun untuk sebuah jawaban. Remaja itu menggeleng kuat seolah itu mampu menyakinkan pria itu jika buncit perutnya bukanlah terisi oleh janin.
"Kau—sudah menikah?" namun Chanyeol mengejar lagi untuk pertanyaan yang lain. Mata bulatnya kacau mencari sipit Baekhyun dan ia merasa konyol dengan dentuman dada resah menanti hal itu. "Jawab aku." Chanyeol menuntut.
"Ya." Baekhyun menjawab. Begitu pelan namun taunya mampu menghentikan seluruh motorik Chanyeol seketika.
"Apa?" Pria itu berguman setengah tak percaya. Baekhyun tak ingin peduli dan dengan segera menarik lengannya namun lagi ditahan Chanyeol.
"Siapa?" lantas lagi menuntut jawaban. Ada nada tak suka terdengar, berat intonasinya terujar begitu dingin bagi Baekhyun. "Beritau aku siapa?"
"Paman tidak mengenalnya!" Baekhyun menyentak sekali diantara usaha mati-matian menahan getaran pada ucapannya. Tangan ia tarik kuat terlepas dari genggaman Chanyeol dan tergesa masuk ke dalam rumah. Chanyeol mengejar dan mengetuk pintu keras meminta agar kayu itu terbuka namun Baekhyun abaikan.
"Baekhyun buka pintunya!" Chanyeol berteriak dari luar sana dengan ketukan terhujam semakin tak terkendali. "Baekhyun!"
Resah menderanya sampai ke seluruh saraf. Baekhyun tak bisa mengingkari nyatanya ia ketakutan. Chanyeol dan kehadiran pria itu lagi, bagaimana Baekhyun menyebutnya selain mimpi buruk.
Tubuhnya bergetar, Baekhyun melunglai jatuh pada lantai sembari memeluk perutnya erat-erat.
Tidak… ia menggeleng lagi. Lebih kuat sampai kepalanya terasa pening. Tidak untuk kedua kalinya, Baekhyun takkan membiarkan bayinya di ambil lagi. Bahkan oleh Chanyeol pemilik biologisnya.
…
"Baekhyun!" Chanyeol mengerang keras dan menghempaskan kepalan tangannya kuat pada daun pintu itu. Perasaannya berkecamuk walau Chanyeol tau mengapa ia harus seperti itu.
Baekhyun… Chanyeol masih tak mampu berpikir tentang alasan mengapa ia datang kesini, menemui Baekhyun lalu mendapati anak itu tengah berbadan dua.
Baekhyun mengaku ia telah menikah dan bagaimana bisa Chanyeol malah menyangkali hal itu dan menekan kepada dirinya sendiri jika itu hanyalah kebohongan. Baekhyun tidak, dia tidak mengikat dirinya dengan seseorang yang lain. Chanyeol menyakini hal itu lalu… bagaimana bisa Baekhyun hamil? Siapa pemiliknya?
"Baekhyun buka pintunya!" Chanyeol berteriak lagi. Ia menunggu dan mencoba untuk sabar namun tak terlihat pintu itu akan terbuka disana.
Chanyeol seharusnya tau diri lalu pergi bukannya malah berdiam diri di tempat itu. Sosoknya tak beranjak, terpekur diam di depan sana dan seperti orang bodoh memanggil Baekhyun berulang.
Otak kusutnya semakin tak beraturan. Chanyeol seperti hilang ingatan lalu mendapatkan secelah memori lampau lalu menghabiskan waktunya dengan menjabari semua itu.
Semua adalah Baekhyun dan apa yang baru saja ia dapati dari remaja itu. 6 bulan telah berlalu, setengah tahun tanpa kontak hubungan apapun dan Chanyeol tak pernah menyadari jika ia selalu saja membayangkan apa yang remaja itu lakukan.
Bagaimana ia melewati harinya, bagaimana kabarnya dan apa saja yang ia lakukan—Chanyeol memikirkan hal itu dalam sisa tidur malamnya. Lalu ketika semua itu berlalu dan Chanyeol datang untuk melihatnya, yang ia dapati adalah apa diluar nalar pikirannya.
Lalu mengapa Chanyeol harus peduli nyatanya mereka bukanlah dua orang yang saling terikat dalam hubungan. Mereka sudah tidak lagi…
…
"Baekhyun?" Joohyun berkerut kening mendapati sosok Baekhyun di depan tokonya lagi. Ini sudah malam dan toko telah tutup juga beberapa saat yang lalu Baekhyun telah pulang lalu mengapa ia melihat remaja itu lagi disini.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun tak segera menjawab. Deru nafasnya bergulung sedang satu tangan memegang perutnya sembari menaiki anak tangga di teras toko itu. Joohyun dengan sigap membantunya naik lalu menuntun duduk pada salah satu kursi.
"Noona bisakah malam ini aku menginap disini?" Baekhyun bertanya kacau disela deru nafasnya. Sipitnya menghujani Joohyun penuh harap namun lagi kerut kening menjadi respon pertama yang ia dapati.
"Ada apa?" Joohyun bertanya lagi.
Baekhyun terdiam sedang otak memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. "Aku… kehilangan kunci rumahku." Ia menjawab akhirnya. "Hanya untuk malam ini…" Baekhyun meminta, "kumohon…"
Walau bingung dan menumpuk pertanyaan, Joohyun akhirnya bangkit dan membuka pintu tokonya kembali. Lampu ia hidupkan sedang mata berpendar menatap sekitar.
"Apa kau yakin?" ia bertanya ragu.
Baekhyun mengangguk cepat. "Aku baik-baik saja."
Joohyun masih menyisakan ragu menatap Baekhyun seksama namun buram ia tangkapi mengapa Baekhyun harus memaksa dirinya menginap disana.
"Aku akan mengambil selimut di—"
"Tak apa," Baekhyun memotong cepat. "Aku baik-baik saja." Baekhyun meyakinkan sekali lagi.
Joohyun meninggalkan toko dengan Baekhyun di dalam sana. Pertanyaan masih menghantui dan ia putuskan untuk menyimpan itu semua sampai esok hari.
Baekhyun menutup pintu toko kembali selepas kepergian Joohyun dan memastikan pintu dan jendelanya dalam keadaan terkunci. Hela nafas lega baru mampu ia lakukan setelah itu dan Baekhyun baru menyadari bagaimana peluh membanjiri wajahnya dimana-mana.
Matanya melirik pada luaran toko dan memastikan betul Chanyeol tak berada disana. Dia tak mungkin melihatnya kesini bukan?
Baekhyun pergi melalui pintu belakang, menyetop bus lalu pergi ke toko tempatnya bekerja. Chanyeol tidak melihatnya atau mungkin pria itu masih tak menyadari kepergiannya dari rumah.
Baekhyun mendesah lega dan menempatkan dirinya duduk. Nafas beratnya ia coba tarik berulang namun taunya masih tak mampu mengurangi resah dalam dada.
Baekhyun tak mampu menutupi bagaimana ketakutan menderanya lagi. Kehadiran Chanyeol, Baekhyun tak ingin menaruh tanya mengapa pria itu datang lagi menemuinya. Yang Baekhyun inginkan adalah hari kemarin, tanpa Chanyeol atau apapun yang membawa ia dalam ketakutan kembali.
Baekhyun hanya ingin hidup tenang bersama bayinya. Hanya itu saja.
…
Satu-satunya yang Chanyeol pikirkan adalah Sooyeon yang akan menjawab seluruh pertanyaan miliknya. Ia pulang ke rumah orangtuanya itu tanpa mengindahi Kris yang menatapnya penuh selidik, alih-alih berseru memanggili Sooyeon.
Wanita itu terkejut, bukan tentang Chanyeol yang datang menemuinya juga bagaimana kacaunya pria jangkung itu.
"Baekhyun sudah menikah?" Chanyeol segera menembak pada pertanyaan. "Siapa pria itu?"
Sooyeon membelalak terkejut diikuti dengan debaran jantung menggema di dalam rongga. "Kau… menemuinya?"
Chanyeol mengerang kesal mendapati pertanyaan balik kepadanya.
"Hanya jawab aku, siapa pria itu?!"
Sooyeon tersentak kaget atas bentakkan itu. Rahangnya terkatup kuat lalu dalam satu desak nafas ia menjawab.
"Ya, seseorang datang meminta restuku untuk bertanggungjawab atas Baekhyun. Mereka akan segera menikah." Tak ada nada ragu sedang semua untaian kalimat itu terucap begitu lugas.
"Apa?" Chanyeol melinglung.
"Untuk itu jangan temui Baekhyun lagi." Sooyeon menukas sebelum beranjak pergi. Ia menyisakan tatapan terakhir memperhatikan anak tirinya itu dan satu-satunya yang ia miliki adalah Chanyeol dengan sejumput kecewa dari matanya.
Sooyeon tak mengerti, sebenarnya Chanyeol pun tak paham mengapa ia bisa sekecewa itu hanya tentang Baekhyun… yang bukan siapa-siapa baginya.
Mengapa harus seperti itu?
…
Baekhyun seharusnya sadar jika hidupnya takkan baik-baik saja semenjak Chanyeol datang lagi. Dia seperti Sehun terlihat dimana-mana di hari lalu hanya saja dengan sejuta keresahan yang Baekhyun bahkan hanya melihat bayangan mobilnya yang terparkir di halaman.
Baekhyun mulai takut untuk pulang. Ia bahkan mengambil beberapa pakaian lalu membawanya ke toko dan meminta ijin Joohyun untuk menginap lagi. Joohyun masih bertanya tentang mengapa dan Baekhyun berjanji akan menceritakannya kapan-kapan.
Baekhyun berusaha keras menghindari. Apapun tentang Chanyeol dengan sejuta ketakutan akan bayi dalam kandungannya. Chanyeol begitu mendominasi sedang si bodoh Baekhyun hanya memiliki rengekan dalam permohonan namun taunya itu takkan mampu memberinya hasil apapun.
Chanhyun—adalah alasan mengapa Baekhyun menjadi begitu posesif, tidak untuk Chanyeol atau siapapun… Baekhyun takkan memberikan darah dagingnya lagi. Baekhyun akan melakukan apapun jika ia tak mampu, maka Baekhyun berharap Tuhan menjemput nyawanya.
Itu akan menjadi harga yang pantas.
…
Sooyeon datang lagi dengan sekantung bawaan penuh untuk Baekhyun. Ia mengisi lemari penyimpanan, memberinya gingseng merah, vitamin juga susu kehamilan yang Baekhyun butuhkan tanpa mengindahi penolakan anak itu.
Baekhyun melihatnya dengan perasaan berkecamuk. Pikirnya, apa yang Sooyeon lakukan hari ini adalah apa yang akan ia miliki nantinya. Sooyeon mengetahui jika bayi yang Baekhyun kandung adalah milik Chanyeol, keturunan Park dan Sooyeon akan mengambilnya lagi.
Baekhyun ketakutan. Permohonannya seperti angin lalu dan ia mulai melihat Sooyeon sebagai sumber keresahannya yang lalu.
Wanita setengah baya itu mengetahuinya. Ia menghampiri Baekhyun memberikannya pelukan dan berbisik, "Kau harus menjaga dan merawat bayimu, dia harus tumbuh menjadi anak yang sehat."
Baekhyun termenung selama beberapa saat mencoba mencerna apa yang baru saja Sooyeon katakan. "Nyonya tidak akan mengambilnya lagi?"
Pertanyaan itu menghancurkan Sooyeon dalam rasa bersalah. Ia bukan tak menyadari bagaimana Baekhyun ikut melihatnya seperti monster; sama seperti Chanyeol. Sooyeon sama kejamnya dan bagaimana ia bisa mengatakan jika itu semua alamiah Baekhyun rasakan setelah apa yang terjadi.
"Dia bayimu Baekhyun, dia milikmu." Sooyeon menyakinkan.
Senyum Baekhyun kontan melebar. Sendunya menghilang di gantikan sinar yang mengingatkan Sooyeon saat Baekhyun masih berara di yayasan dulu. Begitu ringan, tanpa beban seolah Baekhyun hidup tanpa apapun yang ia pikirkan.
"Kumohon jangan anggap aku sebagai musuhmu lagi."
Itu adalah bagaimana Baekhyun perlahan menyamankan dirinya lagi. Ia tak lagi sungkan mengatakan apapun tentang dirinya kepada wanita itu. Tentang pekerjaannya juga hormonal kehamilan yang ia jalani.
Baekhyun sedikit menimang tentang Chanyeol dan kehadiran pria itu kemarin namun urung ia lakukan dan beralih pada pembicaraan yang lain. Sooyeon bercerita tentang yayasan, fasilitas tambahan yang ada di gedung asrama dan anak-anak yang semakin ramai mengisi setiap kamar.
"Omong-omong tentang Sehun," Sooyeon menyambung pada topik yang lain. "Apakah dia menemuimu disini?"
Baekhyun mengangguk membenarkan, "Ya, tapi sudah lama sekali sejak hari terakhir."
Hela nafas pelan Sooyeon menciptakan pertanyaan dalam diri Baekhyun. ia tak pernah bertanya mengapa Sehun tak lagi menemuinya; pria itu mungkin sibuk, atau dia telah kembali London dan melanjutkan study-nya. Baekhyun tak menaruh tanya sampai bagaimana tatapan sedih Sooyeon adalah apa yang menarik perhatiannya kini.
"Sehun mendapat tawaran kerjasama di salah satu perusahaan di London. Dia adalah satu-satunya yang terpilih." Sooyeon berkata seolah tau Baekhyun penasaran akan hal itu.
"Itu bagus, apakah Sehun hyung berada di London sekarang?" Baekhyun merespon dengan rasa takjub.
Sayangnya gelengan pelan Sooyeon memudarkan senyumnya seketika. "Sehun tidak ingin pergi."
"Mengapa?"
Sooyeon menggidikkan bahunya pelan walau kenyataan ia tau betul alasan dari keengganan Sehun untuk pergi.
"Aku sudah memintanya beberapa kali namun Sehun tetap urung," Sooyeon menyambungi. Mata teduhnya beradu dengan sipit Baekhyun dengan secercah harapan tumbuh disana. "Bisakah kau bantu aku untuk meminta Sehun mempertimbangkan hal ini?"
"Huh?" Baekhyun berkerut kening.
"Mungkin Sehun akan mendengarmu." Sooyeon mengulum senyum.
Baekhyun tertegun selama beberapa saat. Sisi hatinya bukan tak menangkap bagaimana secara tak langsung Sooyeon menganggap dirinyalah sebagai alasan mengapa Sehun tetap tinggal. Dengan kata lain Baekhyun adalah penghambat dan satu-satunya cara mengatasi itu adalah dengan diri Baekhyun sendiri.
Baekhyun berubah tak enak hati. "Aku akan berusaha untuk membujuk Sehun hyung."
…
Tangisan Jackson adalah apa yang menyambut Chanyeol ketika ia kembali ke rumah. Langkah kaki panjangnya seperti melompat masuk ke dalam kamar dan membelalak mendapati apa yang ada di dalam sana.
"Apa yang kau lakukan?!" Chanyeol berseru dan tak menyisakan detik segera menarik Jackson dalam gendongan Hyebin. Wanita itu tersentak dan gelagapan bangkit dari duduknya.
"Di-dia tiba-tiba saja menangis saat aku—"
"Kau menyakitinya!" Chanyeol menyalak dalam amarah. Punggung Jackson ia tepuk-tepuk lembut mencoba menenangkan bayi itu sedang mata menghujani Hyebin dengan dingin serupa.
"Aku berusaha mendiamkan—"
"Jangan mencari alasan! Pergi keluar!" Chanyeol mengusir.
Hyebin berganti dalam pelototan dan berganti bersedekap dengan kesal. "Apa-apaan kau Chanyeol! Kau menyuruhku pulang dan sekarang menyuruhku pergi, sebenarnya apa maumu?!"
"Aku mau kau menutup mulut dan jangan membantahku!" Jika saja tak ada Jackson dalam gendongannya Chanyeol masih berniat menyambungi setiap sahutan itu di udara. Amarahnya bertumpuk dan Chanyeol siap mengeluarkan semua itu namun memilih beranjak pergi bersama Jackson disana.
Ia menuju lantai teratas rumahnya itu dan menempatkan dirinya duduk pada sofa di depan tv dengan Jackson ia dekap di dada. Tangisan bayi itu mereda, digantikan dengan isakan-isakan pelan memeluk Chanyeol dengan erat.
Keterdiaman itu terisi dengan Chanyeol bersama pikirannya tentang apa yang terjadi. Baekhyun dan kehamilannya, apa yang Sooyeon katakan lalu limpahan amarahnya pada Hyebin.
Chanyeol kacau. Otaknya seperti berkarat dan Chanyeol tau betul itu semua berawal dari emosinya sendiri. Chanyeol mencoba mengingat darimana semua itu bermula dan ia tercenung seorang diri kala otaknya menghempaskan dirinya pas beberapa bulan silam.
Semua adalah Baekhyun dan lumpuhnya ia dalam berpikir rasional sejak kepergian remaja itu dari rumahnya. Sejak itu hidupnya berubah mengaku, seolah semuanya telah di rangkai serupa tiap harinya. Tanpa warna, tanpa keinginan apapun yang Chanyeol miliki untuk hari esoknya.
"Apa yang terjadi padaku, Nak?" Chanyeol menatap Jackson seolah bayi itu mampu memberinya jawaban.
…
Dan Chanyeol benar-benar kehilangan akal sehatnya dengan mendatangi Baekhyun lagi. Pemecatan yang Kris lakukan taunya tak memberikan banyak pengaruh alih-alih Chanyeol malah memanfaatkan hal itu dan inilah bagaimana ia mengisi waktu luangnya.
Baekhyun dan apa yang remaja itu lakukan. Juga mencari tau siapa pria yang Sooyeon sebutkan sebagai pemilik janinnya.
Chanyeol berada di dalam mobil, duduk diam di balik kemudi sedang mata tak lepas menatap pintu rumah tertutup itu. Pagi beranjak menjadi siang, jingga langit berubah menjadi kelam dan yang Chanyeol dapati adalah pemandangan serupa yang sama.
Baekhyun tak terlihat dimanapun juga seseorang yang mungkin tinggal bersamanya. Kediaman itu seolah tak berpenghuni dan seketika melenyapkan apapun yang Baekhyun dan Sooyeon katakan.
Keduanya berbohong.
Baekhyun tak memiliki seseorang yang akan menikahinya dan bertanggungjawab dengan kehamilannya. Remaja itu berbohong, untuk alasan yang masih ragu Chanyeol katakan, Baekhyun menyembunyikan kebenaran tentang siapa pemilik janin yang tengah di kandungnya.
Chanyeol mengerang frustasi seorang diri. Ia menggigit kepalan tangannya kuat—menahan lonjakan dalam dada hanya untuk menafsirkan jika Baekhyun tengah mengandung bayinya lagi.
Chanyeol menyetubuhinya dalam jumlah yang terlalu banyak sejak persalinannya. Mungkin... Baekhyun berhasil Chanyeol buahi lagi, mungkin...
Chanyeol berkeringat dingin hanya dengan memikirkan spekulasi itu. Mata bulatnya menerawang pada luar kaca mobilnya dan menangkap sosok mungil itu disana.
Pria dewasa itu terburu membuka pintu mobil, berlari menghampiri lantas mencegat Baekhyun. Lengannya ia cengkram kuat dan Baekhyun tersentak bukan main—terkejut dan meronta melepaskan genggaman tangan itu.
"Kau membohongiku. Kau tidak menikah dengan siapapun," Chanyeol menandas dengan dada kembang kempis. Ia tak peduli bagaimana Baekhyun melihatnya seperti hantu dan menggeliat menjauh seolah Chanyeol adalah kotoran bersentuhan dengannya. Chanyeol tak peduli, kecuali jawaban yang ia miliki untuk pertanyaannya.
"Katakan bagaimana bisa kau hamil? Apa—itu anakku?"
Baekhyun membelalak sebagai respon pertama lalu cepat-cepat menggeleng. Begitu kuat sampai kepalanya berubah pusing.
"Bu-bukan!" Ia terbata memberikan sahutan.
"Lalu siapa yang melakukannya?" Chanyeol berubah tak sabar dan tak menyadari bagaimana tangannya mencengkram lengan kurus itu semakin kuat. "Baekhyun..." nada bicaranya ia coba rendahkan, tak ingin menakuti Baekhyun dari bentakkan suaranya. "Kau bisa mengatakannya padaku..."
Namun itu tak cukup mampu menghilangkan ketakutan dalam diri Baekhyun. Ia menggeleng lagi, "Aku tidak tau," lalu menjawab dengan suara terlampau pelan.
"Kau tidak tau siapa yg menghamilimu?" Chanyeol mencolos tak percaya.
"Dia hanya datang dan melakukannya. La-lalu pergi." Baekhyun tak sempat berpikir panjang mengatakan apapun yang ada dalam bersitan otaknya.
Chanyeol tertegun, sedetik kemudian mendengus dengan senyum miring atas kesimpulan sepihak yang ia miliki. "Kebohongan apalagi ini?" Ia berguman.
Baekhyun mengambil kesempatan itu dengan beringsut mundur namun Chanyeol lagi mencegahnya disana.
"Oh, aku paham..." pria itu masih setengah berguman mengatakannya. Mata bulatnya menghujani Baekhyun lagi menusuknya sampai ke jantung. "atau jangan-jangan sekarang ini adalah pekerjaanmu ya?" Chanyeol berdecih.
"Sekarang kau menyewa rahimmu kepada siapa saja demi uang," decakan itu menghujam Baekhyun sampai ke ulu hatinya.
Baekhyun merasakan perih dan melihat terluka pada Chanyeol namun sisi gelap diri Chanyeol mendominasi dan menganggap hal itu hanyalah lakon semata.
"Wah Baekhyun, kau pasti belajar banyak selama bersama denganku, ya?"
Baekhyun kelu hanya untuk menyangkal. Denyutan dalam rongga dadanya adalah satu-satunya yang nyata berpendar dalam dirinya. Rasanya begitu menyakitkan, menyayatnya sampai ke ujung. Namun apa yang Baekhyun miliki lagi adalah diam tanpa penyangkalan apapun. Ia membiarkan Chanyeol mengatakan semua yang ingin ia katakan, apapun jika itu mampu mematahkan pikiran Chanyeol tentang dialah pemilik bayi dalam kandungannya.
Tak apa... Baekhyun menenangkan dirinya sendiri. Sakitnya akan sembuh seiring berjalan waktu… Baekhyun menenangkan dirinya sendiri. Ia memaksa tungkai menjauh dari hadapan Chanyeol, rasanya sulit seolah gerak tubuhnya menjelli dan mengambil selangkah pun sulit untuk ia lakukan.
"Mengapa aku harus terkejut, kau memang pelacur." Ujaran itu masih mampu Baekhyun tangkapi. Seolah deburan ombak bukanlah apa-apa selain berat suara Chanyeol memenuhi udara sekitarnya.
"Aku hanya menghabiskan waktu menemuimu disini."
Kecuali desak kecewa yang Chanyeol miliki, lagi… untuk alasan yang tak Baekhyun ketahui mengapa pria itu harus miliki.
Cocot:
BAEKHYUN CANTEKS BANGET DI TEASER GILAK, SUKA GA PAHAM CY MASIH AJA BISA NAPAS LIATIN MAKHLUK SEINDAH BAEKHYUN, BISA PELUK CIUM NAENAIN TIAP HARI LAGI ADUDUDUDUU
