After Your Gone

Author : DeeNa

Main Cast : Hunhan. GS for Xi Luhan.

.

.

.

.

.

Go go go

.

.

.

.

Luhan terkesiap dengan apa yang dilakukan Sehun. Dia terdiam sebentar, dan menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Sehun hanya diam dan melepaskan pelukannya terhadap Luhan.

Atmosfer disana menjadi canggung. Tidak ada yang memulai percakapan keduanya. Luhan menyibukkan dirinya dengan melihat jalan dengan pandangan kosong. Sehun? Dia menatap Luhan dengan intens.

"Terima kasih" Ucap Luhan tanpa menatap lawan bicaranya-Sehun-. Sehun tersenyum tipis mendengar kata – kata yang baru saja diucapkan Luhan.

"Hanya itu?"

Luhan menautkan kedua alisnya. Dia bingung dengan apa yang diucapkan Sehun barusan.

"Apa maksudmu?" Luhan menatap Sehun dengan muka datarnya.

"Tidak. Lupakan saja" Sehun berlalu menuju mobilnya sambil melepas kemeja yang dipakainya dan terlihatlah kaos hitam polos. Sehun menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Luhan yang masih berdiri dengan senyuman lirih.


"Tidak. Aku tidak menerima tamu. Sekalipun itu kau" Luhan berkata dengan tegas pada benda persegi panjang ditelinganya.

"Terserah kau saja. Intinya, aku tidak menerima tamu. NEVER!"

Pippp…

Luhan memutuskan panggilan itu. Tidak perduli dengan seseorang yang sedang mengumpat dirinya. Dia tidak ingin terima tamu. NEVER! Dia hanya ingin sendiri dirumah nyamannya ini. Tanpa ada satu orang pun yang mengganggunya.

Luhan, memang selalu tertutup dengan siapa saja. Dia selalu ingin sendiri, tanpa terkecuali. Chanyeol yang mengerti keadaan Luhan, memang memperbolehkannya untuk kerja di Rumah. Luhan memang special dimata bosnya itu. Entah, apa yang mampu membuat Chanyeol memperbolehkan Luhan berkerja dirumah saja. Luhan saja tidak tahu, saat dia meminta bahwa dirinya ingin berkerja dirumah saja, bosnya-Chanyeol- langsung menyetujui. Terkadang Luhan bingung, tapi dia tidak mempermasalahkannya. Toh, ini adalah keberuntungan tersendiri buatnya.

Luhan menyalakan televise, dan mendesis tak suka saat benda kotak itu menyiarkan tentang sosok pemuda yang Luhan benci. Musuh bebuyutannya. Oh Sehun.

Luhan memainkan remote televisinya dengan setia. Setiap dia mengganti program acara televise tersebut, pasti selalu menyiarkan berita tentang Sehun. Umpatan – umpatan keluar dari mulut Luhan. Dengan kasar dia mematikan televisinya, membuang remote televisinya ke sembarang arah.

"Aku ingin kau menulis tentang dia. Bocah itu sedang naik – naiknya saat ini"

"Ya kau benar Park. Tapi aku tak akan mencari informasinya sendiri. Cih" Ucap Luhan entah pada siapa ketika mengingat ucapan bosnya.

Luhan berjalan menuju komputernya, lalu mengklik icon document. Dan jari – jemari lentiknya mulai menari – nari diatas keyboard berwarna.

Ketika hati seseorang tiba – tiba tercampur dengan banyak hati…. itu mulai membuat hati wanita merasa tidak nyaman.

Jadi takdir…. Tolong berhenti menarik – narik begitu keras pada hatiku untuk menarikku masuk.

Luhan menghela nafas. Entah mengapa, jari – jarinya malah mengetik kata – kata itu. Luhan memperhatikan sekelilingnya. Sudah lama sekali pikirnya.

"Tidak ada yang berubah" Ucapnya entah pada siapa.

"Sepertinya aku butuh mendekorasi ulang"


"Oh Sehun, mari kita berpesta" Seseorang wanita mewakili temannya untuk berbicara di intercom pent house Sehun.

Sehun menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Oh. Apakah kau sangat bersemangat hari ini?"

"Tentu saja. Cepatlah buka pintu Oh"

Sehun membuka pintu pent housenya. Tanpa dipersilahkan, wanita dan teman – temannya itu masuk. Duduk dengan menyilangkan kakinya.

Wanita yang berbicara di intercom tadi menghampiri Sehun. Menaruh beberapa belanjaan yang dibawanya tadi. "Apa kau menerima tawaran itu hun?"

Sehun melirik sekilas wanita itu. Dia sedikit heran dengan apa yang baru saja diucapkan wanita itu. Bukankah dia kekasihnya? Mengapa dia tidak tahu? Pikir Sehun. "Tentu saja Baek. Lagian, Chanyeol hyung adalah sahabatku sejak masa kuliah dulu"

Wanita itu-Byun Baekhyun- menarik salah satu sudut bibirnya. Menyeringai mendengar perkataan Sehun. "Jadi siapa yang akan menjadi editormu dalam buku itu?"

Sehun berjalan menuju lemari esnya. Mengambil beberapa wine yang selalu tersedia didalam lemari esnya. "Entahlah. Chanyeol hyung belum memberitahuku, Baek"

Baekhyun terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun. Dia tidak habis pikir dengan pacarnya itu. "Apa yang sedang kau rencanakan, Park Chanyeol? –batin Baekhyun. "Benarkah?" Tersirat nada tidak suka dalam perkataanya.

Sehun berbalik arah. Menatap Baekhyun bingung. Mengkerutkan keningnya "Hmm. Ada apa memangnya?"

Baekhyun hanya menggeleng lemah pertanda tidak ada apa - apa. Sehun acuh tak acuh dengan sikap Baekhyun hari ini. Aneh pikirnya.

"Hun-ahh" Baekhyun menatap Sehun yang sedang mengambil beberapa snack dari dalam lemari es.

Sehun menengok kesamping, menatap Baekhyun yang terlihat aneh hari ini. "Ada apa?"

Baekhyun membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi menutupnya lagi. Baekhyun terlalu takut dengan apa yang dia katakan. Lebih tepatnya dia takut dengan reaksi Sehun.


Luhan berjalan menuju gundukan tanah yang tidak jauh dari pandangannya. Langkahnya berhenti sebentar. Dia menghela nafas panjang, lalu melanjutkan lagi langkahnya. Mimik wajahnya berubah menjadi sendu, terkesan sangat menderita.

Luhan mengeluarkan kaca mata hitamnya dari dalam tasnya. Memakainya. Luhan berjongkok agar bisa lebih dekat lagi dengan gundukan tanah itu. Tangannya terulur begitu saja untuk menyentuh gundukan tanah itu. Luhan tersenyum lirih saat menyadari jari – jemarinya bergetar.

Luhan menaruh bungan mawar yang dibawanya sedari tadi di atas gundukan tanah itu. Tetes demi tetes air mata jatuh melewati pipi mulus dan halusnya dari balik kaca mata hitamnya. Hancur sudah pertahan yang selama ini dia bangun. Tidak ada Luhan yang selalu berbicara dengan nada ketus. Tidak ada Luhan yang selalu membentak seseorang. Tidak ada Luhan yang selalu mengumpat dan masih tidak ada banyak lagi.

Luhan membenarkan letak kaca mata hitamnya. Luhan terduduk, kakinya tidak kuat menahan berat badannya. Tubuhnya lemas. Tanganya memukul – mukul gundukan tanah itu sambil terus menangis sejadi – jadinya. Dia tidak perduli jika akan ada orang yang melihatnya seperti ini.

Luhan mencoba menguasi dirinya, meredakan tangisannya. Luhan menatap lekat gundukan tanah didepannya. "Kris" Luhan melontarkan satu katu itu seperti makna.

Luhan mengelus gundukan tanah itu. "Kris-ahh, kau tau? Aku masih tidak percaya dengan semua ini"

"Kris-ahh, kau tau? Aku ingin kau kembali"

"Kris-ahh, kau tau? Aku ingin kau memeluk diriku lagi saat aku sedang lelah dengan semua pekerjaanku"

"Kris-ahh, kau tau? Ak-"

Luhan memotong ucapannya. Menarik nafas pendek sebentar. Menghapus beberapa air mata yang mengalir di pipinya.

"Aku ingin mati bersamamu kris. A-aku ingin hidup bersamamu" Luhan menangis sejadi – jadinya sambil terus memukul gundukan tanah didepannya. Luhan tidak menyadari ada seseorang yang melihatnya dengan tatapan sendu dan lirih. "Maafkan aku" Ucap lirih orang itu dan pergi begitu saja.

"Tidak baik berucap seperti itu, nak" Seorang wanita menghampiri Luhan. Berjongkok, menyamai posisi Luhan yang terduduk.

Luhan menoleh kesamping kanannya. Luhan balas tersenyum lirih saat wanita paruh baya itu tersenyum padanya. "Kau tau?-" Luhan menggeleng dengan cepat. Wanita itu paruh baya itu terkekeh saat melihat reaksi Luhan, memotong ucapannya.

Wanita itu menata Luhan penuh makna "Aku belum selesai berbicara" Wanita itu menghela nafas pendek sebentar. "Kehilangan orang yang kita sayangi adalah tempat kita belajar, belajar untuk kuat tanpa dirinya. Jangan takut akan kesulitan dalam kehidupanmu, karena itu awal perbaikan dari usaha yang kamu lakukan untuk melewati hal itu. Jangan mudah menyerah, nak. Lihatlah, mereka semua. Jangan terlalu membawa dirimu larut dalam kesedihan ini terus" Wanita paruh baya itu menunjuk sekeliling orang yang berada di sekitarnya. Luhan terdiam, dia melihat tidak ada yang menangis seperti dirinya tadi. Wanita itu benar.

Luhan menoleh kearah kanan, tempat wanita itu berjongkok tadi. Kosong! Wanita itu tidak ada. Kemana perginya? Pikir Luhan.

"Malaikat atau bukan. Manusia atau bukan. Entahlah, siapapun itu kau. Terima kasih karena telah menyadarkanku" –batin Luhan dengan senyuman yang sangat tipis.


Baekhyun mengetuk pintu ruang kerja Chanyeol. Baekhyun tersenyum saat mendengar sahutan dari dalam. Tangan mulus baekhyun membuka pintu tersebut, dan menguncinya.

Kening Chanyeol berkerut. "Kenapa dikunci?"

Baekhyun tersenyum. "Agar tidak ada yang mengganggu kita"

Chanyeol tersenyum mendengar perkataan Baekhyun. Tapi dia juga heran, tidak biasanya Baekhyun mengunci pintu ruang kerjanya.

"Apa kau sedang merencanakan sesuatu?" Tanya Baekhyun cepat.

Chanyeol tersenyum lebar. Dia menatap tepat manic mata Baekhyun.

"Tentu saja. Kau pasti sudah tau alur ceritanya, Honey"

Ponsel Chanyeol berdering, menandakan panggilan masuk. Dia mengkerutkan keningnya, saat tertera nama "Xi Luhan" di handphonenya. Dengan cepat Chanyeol menggeser icon berwarna hijau kekanan.

"Ada apa Lu?" Tanya Chanyeol tanpa basa basi.

Luhan mendesis tidak suka. Dia melihat baekhyun yang berada dipangkuan Chanyeol "Ya! Jika kau ingin bermesraan jangan dikantor. Cepat buka pintunya"

Chanyeol menolehkan kepala keseluruh ruangan kerjanya. Telak! Luhan berada dijendela dengan jari telunjuk kanan yang menghantuk – hantukkan pada jam ditangan kirinya. Durasi.

Chanyeol menghela nafas kasar. Untung saja ruangan kerjannya kedap suara. Chanyeol mendekatkan wajahnya pada telinga Baekhyun. Membisikkan sesuatu, agar rencananya yang belum dimulai ini tidak gagal. Baekhyun mengangguk, bertanda dia paham dengan apa yang Chanyeol katakana padanya tadi.

Baekhyun berjalan menuju pintu, memutar kunci pintu tersebut. "Hai, Lu. Sudah lama kita tidak bertemu" Baekhyun tersenyum pada Luhan. Luhan hanya membalasnya dengan senyum tipis.

Luhan menatap datar bosnya itu "Ada apa kau memanggilku kesini?"

Chanyeol tertawa renyah mendengar penuturan Luhan. Hal itu semakin membuatnya ingin merubah diri Luhan.

"Calm down, Lu. Berbicaralah yang sopan pada bosmu" Chanyeol mengerlingkan matanya. Menggoda Luhan yang seperti marah.

Luhan mengalihkan pandangannya sebentar. Lalu menatap bosnya itu "Ya! Jika tidak ada apa – apa mengapa kau memanggilku kemari?" Habis sudah kesabaran Luhan. Dia lelah, dia ingin beristirahat dirumah setelah menangis sejadi – jadinya tadi dikuburan.

Chanyeol mengkerutkan keningnya. Dia melihat mata Luhan yang sedikit sembab dan hidung yang memerah.

"Apa dia habis menangis?" –batin Chanyeol.

Chanyeol menatap Luhan dengan penasaran. "Apa kau habis menangis, Lu?"

Luhan mengalihkan pandangannya dari Chanyeol yang menatapnya seolah mencari jawaban dimanik matanya. "Tidak"

Chanyeol tersenyum tipis. Tidak mengakui rupanya. Pikir Chanyeol. "Okay. Aku tidak ingin mengulur waktumu Nona Xi. Aku hanya ingin menunjukan sesuatu denganmu"

Luhan menatap dengan pandangan "Jangan, bermain – main denganku Park Chanyeol!" kepada bosnya itu. Chanyeol hanya tersenyum Lebar sambil mendekat pada Baekhyun yang duduk dengan anggun disofa ruang kerjanya. Tangan memeluk pinggang ramping Baekhyun dari samping.

Luhan menatap malas dengan drama didepannya ini. Upss!..,, kau juga akan memiliki drama seperti itu sebentar lagi Luhan.

Luhan semakin kesal dengan Chanyeol. Dia merasa dipermainkan. Seseorang datang, membuat Luhan mengurungkan yang berniat ingin memaki Chanyeol.

Seseorang itu datang tanpa melihat Luhan yang berada tidak jauh darinya "Hei, hyung".

Luhan nampak berpikir. Dia merasa familiar dengan suara ini. Gotcha!,,.. Luhan membeliakkan matanya saat menoleh kearah pintu. Dia melihat Sehun yang sedang berjalan kearahnya. Oh tidak, tepatnya Chanyeol. Bos yang paling menyebalkan yang dia kenal.

Chanyeol menaikkan salah satu sudut bibirnya. Menyeringai tepatnya. Dia melihat ekspresi Luhan yang sangat Lucu menurutnya. "Well, sepertinya ini akan seru" –batin Chanyeol.

Luhan mengawasi Sehun. Memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Sehun. Dia menghela nafas kasar. "Aku pergi"

Sehun menoleh kearah kirinya. Sehun terkejut melihat Luhan. "K-kkau? B-bagaimana bisa k-kau disini?"

Luhan mendesis tidak suka. Luhan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Ya! Ini tempat kerjaku, Bocah!"

Sehun mendelik tidak suka kepada Luhan. Dia tidak terima dipanggil bocah seperti itu. Terutama oleh Luhan. Musuh bebuyutannya. "Siapa yang kau anggap bocah, Hah?" Sehun menaikkan nada bicaranya.

Luhan bertekuk lutut didepan Sehun. Sehun menatap Luhan tidak percaya. Luhan menundukkan kepalanya "Mianhae, sajangnim. Maafkan atas perbuatanku tadi. Mianhae jebal"

Luhan menggeram tertahan sebentar. Luhan mendongakkan kepalanya menatap Sehun dengan emosi yang menggebu - gebu. "Apa kau berharap aku berkata seperti itu Oh Saekkia?"

Sehun membulatkan matanya mendengar namanya dipanggil seperti itu. Dia tidak terima! "K-kau beraninya…." Sehun menunjuk muka Luhan yang berubah menjadi ekspresi sok polos.

Chanyeol dan Baekhyun hanya membiarkan drama didepan mereka terus berlanjut. Mereka menatap satu sama lain dengan saling melemparkan pandangan "Game is ON"

Te to the Be to the Ce

TBC

Annyeong. Maaf ya kalau updatenya lama. Maaf juga karena chapter ini kurang seru. Deena, lagi stuck sama tugas – tugas yang belum aku kerjain. Oh bahkan belum aku sentuh sama sekali wkwk.

Kalau ada yang mau kepo bisa kepo ke deena RastiNA_ gak papalah promosi sekali – kali. Wkwk. #AkuKhilaf #Janganhinaaku

Untuk yang udah review makasih banget ya. Buat yang side readers makasih udah mau baca ff aku. Tapi kalau bisa jangan jadi SR dong kak. Hehehe :D

Ayo review lagi, biar Deena semangat ngelanjutin ffnya. #Apaini #Gadengcanda

With Love,

Deena

Last Word. REVIEW?