Hello there! Kamu! Iyaaa kamu~

Sori lama update guys. Buanyak tugas, banyak presentasi, banyak hal yang harus dipikirin, kaya kamu. Iyaa, kamuu.

Sori kalo jelek, sori kalo typo, sori kalau ooc, sori kalau kita tak akan pernah satu ehh.

Doesn't need more speech from me, so let's check this out!

Enjoy!


Entah bagaimana langit tampak luar biasa cerah hari ini. Hanya ada beberapa awan tipis yang menggantung lemah dilangit, selebihnya merupakan hamparan luas langit biru yang begitu jernih. Pemandangan yang begitu tak wajar mengingat seminggu terakhir ini hujan turun tanpa henti. Hinata menatap langit melewati jendela disampingnya dengan tangan menyangga dagu malas. Sudah seminggu lebih Hinata melompat dalam lubang penuh buaya Suzuran. Tak ada kejadian menghebohkan semenjak perang akbar dengan Sasuke terakhir kali. Karena sebenarnya Hinata tidak masuk dua hari setelah kejadian itu. Satu hari penuh ia habiskan untuk menangis dan menjedotkan kepalanya ke pintu sampai tengah malam, kemudian hari berikutkan ia gunakan untuk memohon-mohon pada ayahnya untuk keluar dari Suzuran dan berakhir dengan hasil nihil meskipun Hinata sudah nyaris pingsan menjelaskan bahwa ada Uchiha Sasuke di sana. Ayahnya tidak begitu peduli, seperti biasa. Maka Hinata tidak perlu membuang tenaganya untuk hal sia-sia. Ia harus menghadapi apapun yang terjadi karena sudah terlanjur berada di tempat terkutuk ini.

Bahkan pelajaran di Suzuran luar biasa menyedihkan. Presentase ketertarikan anak-anak Suzuran pada pelajaran hanyalah sebesar satu persen, dan itu adalah Hinata yang memperhatikan karena merasa ia memang setidaknya harus mendapat ilmu di masa SMA dan karena rasa kasihan melihat guru jika tidak diperhatikan. Tapi Hinata bisa menarik sebuah kesimpulan bagaimana cara kerja murid Suzuran menerima pelajaran setelah sebulan lebih bersekolah di sini. Dari semua pelajaran yang disampaikan oleh guru, hanya ada dua mata pelajaran yang benar-benar —sebenarnya lebih ke pura-pura—diperhatikan oleh anak-anak.

Pertama, pelajaran Tsunade-sensei. Alasan utama, beliau guru matematika yang sangat mengerikan dan tidak segan melempari muridnya meja agar mau menghitung angka-angka. Alasan lainnya, dadanya besar. Lumayan untuk bahan fantasi nanti malam.

Kedua, adalah pelajaran Kakashi-sensei. Alasan utama, orang itu menarik perhatian muridnya dengan presentasi materi ekonomi dengan gambar-gambar paling oke dari situs dewasa yang dikelolanya sendiri. Alasan lainnya, dia memang berjiwa muda sehingga mudah berbaur dengan para muridnya.

Selebihnya, mata pelajaran lain biasanya hanya dihadiri sedikit orang. Hinata selalu ada. Yang lain ke kelas untuk tidur ataupun bermalas-malasan. Intinya, mereka percaya diri dengan mengatakan bahwa tidak perlu mengikuti pelajaran tidak menarik itu, yang penting saat ujian bisa lulus. Hinata sendiri tidak mengerti darimana kepercayaan diri semacam itu datang.

Seperti pagi ini, ketika Hinata dikagetkan dengan sura langkah kaki yang terburu-buru memasuki kelas. Beberapa orang memilih melompat melewati jendela dari koridor untuk masuk kelas ketimbang berdesak-desakkan di pintu yang sempit. Terkadang Hinata ikut berdebar karena kepanikan anak-anak saat jam pertama matematika. Melihat mereka bersemangat masuk kelas untuk mengikuti pelajaran—meskipun sebenarnya karena takut, tapi memberikan sedikit harapan Hinata bahwa mungkin, mungkin, kelasnya bisa mengerti arti sekolah sesungguhnya.

"Gosh! Sialan! Kenapa pagi-pagi sudah apes! Harus menginjak kotoran anjing lagi," geram Naruto yang melepar tas ke bangku sebelah Hinata, kemudian duduk dengan menggerutu keras.

Hinata mengernyitkan hidung karena bau yang menguar dari sepatu sport bertali milik Naruto. Jangan salahkan kesensian Hinata pagi ini. Hari pertama menstruasi memang selalu membutnya dipenuhi emosi. Kemudian ia mengeluarkan sebotol penuh cairan parfum yang sengaja dibelinya saat terakhir kali Naruto kentut tepat di depannya. Hinata menyemprotkan isi parfumnya pada sepatu Naruto dalam diam karena menahan napas.

"Hei! Apa yang kau lakukan, Hinata-chan?" tanya Naruto panik.

"Ah, aku sedang mencoba parfum baru yang kemarin kubeli. Tidak apa-apa 'kan?" dalih Hinata sambil ternsenyum.

"Ooh, iya tidak apa-apa! Wah, kau ini terkadang membawa barang-barang aneh ya, Hinata-chan?" canda Naruto sambil tertawa.

Memang siapa yang kemarin mengeluarkan botol beer yang sudah kardaluarsa dari dalam tas-nya.

"Hei Hinata!" panggil Kiba mendekati tempat duduknya. "Wow, apa itu Hinata?" tanya Kiba sambil menunjuk-nunjuk botol kecil berwarna ungu yang ada di tangan Hinata.

"Parfum," jawab Hinata. "Kurasa Kiba juga harus menggunakannya?" saran Hinata sembari menyerahkan botol itu, mengingat Kiba selalu berbau mirip anjing.

Kiba mengenduskan hidungnya yang sensitif pada botol itu kemudian menyemprotkannya sedikit. "Wah! Ini adalah bau tubuh Hinata! Hmm, benar-benar wangi," ucap Kiba tampak senang.

Naruto memukul kepala Kiba dari belakang, "Hei! Kau kedengaran sangat mesum!" seru Naruto dan terjadilah perkelahian kecil di antara mereka seperti biasa.

Hinata benar-benar menjadi tak sabar melihat tingkah mirip anak kecil mereka, mungkin di hari normal lainnya Hinata akan tertawa kecil melihatnya karena bagaimanapun perkelahian-perkelahian kecil di kelas mereka tampak sangat didasari persahabatan dan itu sangat manis. Tapi karena hari ini adalah hari pertamanya dan perut Hinata mulai bergejolak sakit, ia tak bisa menahan amarahnya.

"Ehm! Sebenarnya ada apa Kiba memanggilku?" tanya Hinata tak sabar.

Mereka sama sekali tak menggubris pertanyaan Hinata ketika Naruto masih sibuk meninju-ninju bokong Kiba dengan bersemangat. Urat dahi Hinata muai tampak, ia mulai marah. Hinata yang selalu sopan dan lembut sama sekali menghilang jika sudah masuk periode bulanannya.

Brak!

Hinata menggebrak mejanya begitu keras sampai selama beberpa detik kelas menjadi hening karena kaget.

"Ada apa Kiba memanggilku tadi?" tanya Hinata dengan senyum yang mungkin dinilai Kiba sebagai ancaman.

"O-oh iya! Itu tadi Gaara menyuruhku memanggilmu," sahut Kiba sambil mengarahkan jempolnya ke arah pintu.

"Gaara?" tanya Hinata pelan, entah pada siapa. Ia kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kelas.

Naruto dan Kiba saling berpandangan dalam tanya.

"Waah, Hinata-chan bisa marah juga ya?" gumam Naruto sambil mengelus dagunya sendiri.

"Kupikir dia bukan tipe yang bisa marah begitu," kata Kiba.

Naruto menjitak kepala Kiba sekali lagi, "Yah kita tidak tahu banyak tentang di 'kan? Lagipul ini semua salahmu, kalau kau tidak muncul saat itu pasti aku bisa tahu cerita hidup Hinata dan Sasuke."

"Apa maksudmu, idiot?" tanya Kiba sambil menggaruk kepalanya bekas jitakan Naruto.

"Argh! Pokoknya itu salahmu! Waktu aku tagih cerita, Neji sudah tidak mau mengatakan sepatah katapun. Sialan!" Naruto tampak marah-marah sendiri dan mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Kiba yang sangat penasaran.

Hinata mengintip di koridor, celingukan mencari sosok berambut merah yang katanya mencarinya. Well, sebenarnya ini pertama kalinya Gaara duluan yang mencarinya. Di masa lalu, Gaara seakan tidak pernah mencari siapapun. Dia adalah orang yang sebenarnya peyendiri dan tidak perlu mencari orang karena dia tidak terlalu butuh.

"Hinata," panggil seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

"G-gaara-kun? Ada apa? Ah! Selamat pagi," Hinata cepat-cepat membungkuk memberi salam.

Gaara tersenyum tipis melihatnya, "Pagi," balasnya singkat.

"Ada apa mencariku?" tanya Hinata lugas.

"Kenapa kau langsung bertanya? Seperti aku tidak pernah ada perlu denganmu saja," ujarnya tampak bebasa-basi. Wow. Sabaku Gaara berbasa-basi. Sungguh diluar dugaan. Sepertinya ada yang disembunyikannya.

"Memang tidak pernah 'kan," jawab Hinata.

"Benarkah?" Gaara tampak berpikir dengan mengerutkan alisnya sedikit, "Kurasa kau benar. Dulu waktu masih SMP kau yang selalu mencariku," katanya mengangkat bahu.

Kurang ajar.

"Ada apa sebenarnya sampai Gaara-kun yang sibuk sampai mencariku?" tanya Hinata dengan wajah merah, merasa dipermalukan.

Gaara diam sebentar, matanya bergerak mengamati koridor yang penuh oleh orang-orang yang berlarian. Bahkan ada kursi meluncur keluar melewati jendela dan hancur di tembok koridor. Sepertinya kelas sebelah sedang ada pemanasan pagi.

"Kita bicara sambil jalan," ajak Gaara.

"T-tapi pelajaran Tsunade-sensei sudah hampir mulai," kilah Hinata merasa agak takut.

"Jangan kuatir. Percaya padaku," kata Gaara persuasif, tampak begitu santai.

Hinata tak punya pilihan selain mengikuti Gaara dari belakang. Mengesampingkan rasa takutnya jika terlambat saat pelajaran matematika. Selama berjalan Hinata hanya bisa membayangkan benda apa yang akan dilempar Tsunade-sensei pada orang yang membuka pintu untuk masuk saat pelajarannya tengah berlangsung. Hinata sedikit bergidik mengingat penggaris besi yang tepat menancap di pintu saat Sasuke telat pada hari itu. Hari saat pertengkaran terkutuk mereka yang terakhir kali. Setelah itu tak pernah mereka saling melontarkan kata satu sama lain. Ketika berpasasan entah di kelas, koridor, atau lapangan. Melirikpun Sasuke tampak tidak berminat. Hanya terkadang Hinata bisa dengan jelas merasakan sesuatu yang membuatnya sesak saat tak sengaja mata mereka bertemu. Sasuke tidak akan pernah—selamanya—melihat Hinata dengan tatapan yang sama lagi. Sasuke tidak mungkin akan pernah melihat Hinata sebagai temannya. Hinata akan selalu menjadi gadis jalang brengsek bagi Sasuke. Dan Hinata sama sekali tidak boleh keberatan. Ia tak memiliki hak untuk keberatan atas pandangan kebencian dari Sasuke. Ia pantas menerimanya.

"Ada apa?"

Hinata menangkat kepalanya terkejut. Gaara berhenti berjalan dan tampak heran.

"T-tidak ada apa-apa," sahut Hinata cepat. Ia baru sadar kalau mereka sudah berjalan sampai ke halaman belakang sekolah yang dipenuhi pohon-pohon rimbun. Beberapa tetes embun jatuh turun menetesi tubuh Hinata.

"Dari tadi kau menunduk terus." Gaara tampak berusaha mendapatkan perhatian Hinata.

"A-aku memang biasanya menunduk," elak Hinata, berusaha menutup pikirannya agar Gaara tak bertanya lebih jauh.

"Apa itu tentang Sasuke?"

Pertanyaan itu menimbulkan keheningan yang begitu mendadak. Hinata sangat terkejut mendengar Gaara bertanya tentang Sasuke.

"T-tidak," sahut Hinata singkat.

Gaara menatapnya dingin. "Jadi benar tentang dia."

Hinata memang tidak begitu pandai berbohong, apalagi jika dihadapkan dengan Gaara. Tatapan mata emerlandnya begitu keras seakan tak ada yang bisa disembunyikan darinya. Gaara menghela napas pelan.

"Sebenarnya aku ingin bicara padamu tentang itu sejak lama, tapi tidak pernah ada waktu yang tepat. Maaf," kata Gaara kemudian menambahkan. "Kau pasti sudah melewati banyak hal berat."

"Kenapa.. Kenapa Gaara-kun minta maaf?" tanya Hinata dengan nada sedikit tinggi. Ia tak bisa menutupi kemarahan yang tak jelas alasannya ketika Gaara mulai membicarakan Sasuke. Kenapa dia kedengarannya menyesal? Memang siapa Gaara sampai dia harus menyesali masalah antara Sasuke dan Hinata?

Gaara menatapnya dengan pandangan iba.

Hinata menggigit bibirnya, "Apa ini yang mau kaubicarakan? Apa ini yang memaksamu memanggilku terlebih dahulu disaat kau terlalu sibuk mengurusi duniamu sendiri? Apa cerita tentang Sasuke dan aku akhirnya membuatmu menyadari keberadaanku?" Hinata nyaris kedengaran marah. Napasnya agak terputus-putus ketika akan menyelesaikan kalimatnya. "Kau pasti mendengarnya dari Neji," gumam Hinata pelan, putus asa.

Hinata tak memberikan kesempatan Gaara yang sudah membuka mulut bersiap mengatakan argumennya. Hinata menatap Gaara dengan agak sayu, mendadak ia merasa lelah dan karena merasa bahwa orang yang dikenalnya juga ikut menyalahkan Hinata. Memang, memang benar itu salah Hinata. Tapi kenapa Gaara juga harus menatapnya dengan pandangan kasihan?

"Tapi Gaara-kun tidak tahu apa-apa, karena itu kumohon jangan bicara seolah-olah memahami situasinya. Gaara-kun tidak pernah peduli padaku bukan?" Hinata menarik napas berat. "Jadi tolong tetaplah seperti itu," pinta Hinata dengan suara yang nyaris bergetar.

Gaara tampak tertegun menerima reaksi Hinata yang diluar bayangannya. Hinata tak pernah sekalipun meninggikan suaranya pada Gaara. Hinata tidak pernah berani menjawab pertanyaan Gaara dengan sangkalan yang berlebihan. Hinata juga tak pernah membalas tatapan Gaara dengan pandangan marah ataupun lelah. Tapi semua berbeda jika menyangkut Sasuke. Segalanya tentang Sasuke membangkitkan titik-titik sensitif Hinata baik mental maupun fisik. Bahkan jika itu Gaara atau ayahnya sekalipun, Hinata tidak akan membiarkan mereka berkata seakan mengetahui alur cerita mimpi buruk tentang Sasuke dan Hinata.

"Kalau begitu aku permisi," ucap Hinata membalikkan tubuh dengan cepat.

Pergelangan tangannya dicengkeram erat secara mendadak, tangan Gaara menahan agar Hinata tidak pergi terlebih dahulu.

"Aku... aku juga mau memberikan ini dulu sebelum kau pergi," kata Gaara seraya mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat dari dalam kantong celananya. "Itu tugas matematika dari Tsunade-sensei, dia tidak bisa masuk hari ini dan menyampaikannya padaku kemarin untuk kelasmu. Dia bilang jawabannya harus ada di mejanya hari ini juga kalau tidak minggu depan adalah minggu terakhir kalian hidup, begitu pesannya."

Hinata terpaku sebentar, kemudian menertawai dirinya sendiri dalam hati karena sudah setengah berharap Gaara akan memberinya entah apa itu untuk menghiburnya. Well, soal matematika juga bisa masuk hitungan juga.

"Baik," balas Hinata. "Terimakasih," tambahnya kemudian beranjak pergi.

Baru beberapa langkah Hinata menjauh, Gaara meneriakinya.

"Kau bilang aku ingin membicarakan tentang itu padahal aku tidak pernah peduli padamu?" tanya Gaara dengan suara agak keras. "Justru aku ingin bicara padamu tentang itu karena aku peduli padamu."

.

Ucapan Gaara seakan terus mengulang-ulang di dalam pikiran Hinata sampai kembali ke kelas. Hinata tertawa kosong mengingat itu. Peduli katanya. Hinata masih tidak bisa percaya bahwa Gaara peduli padanya, atau orang itu memiliki rasa kepedulian. Ah, Gaara memang terkadang peduli, dia sebenarnya memiliki sisi baik dan tak segan menolong orang meski diimbangi dengan sikap dinginnya. Dia memang baik, tapi Hinata ragu kalau kebaikannya karena didasari rasa kepedulian. Gaara adalah tipe yang bertindak sesuatu karena memang harus terlihat seperti itu. Dia adalah orang yang membantu seorang nenek untuk menyebrang jalan bukan karena dia peduli, tapi memang karena hukumnya manusia seperti itu, memang jika seorang lansia butuh bantuan maka orang yang lebih muda harus bergerak membantu. Seakan Gaara tidak menyadari bahwa tindakan seperti itu harusnya didasari perasaan, dan Gaara bukanlah orang yang dipenuhi perasaan.

Kenapa Hinata bisa menyimpulkan pribadi seseorang seperti itu? Bukannya ia mengarang cerita. Tapi beberapa tahun mengenal Gaara dan menghabiskan waktu bersamanya cukup membuat Hinata berani menilai orang. Sama seperti waktu itu. Ketika SMP Hinata memiliki kesulitan menjadi panitia festival sekolah, Gaara menemaninya dari pagi sampai tengah malam di sekolah dan membantunya mengerjakan apa yang kurang. Tentu saja darah Hinata bergejolak atas tindakan Gaara yang bisa dikategorikan sebagai 'tindakan seorang lelaki sejati'. Dia masih kelas tiga SMP, maka Hinata yang masih dalam masa pubertas dan dipenuhi fantasi cerita dongeng karena hormonnya jadilah Hinata menjadi berharap. Bahwa Gaara membantunya karena dilandasi perasaaan juga.

Namun ketika Hinata bertanya kenapa Gaara harus membantunya, orang itu hanya mengangkat bahu dan "Karena kau tampak sedang kesusahan dan kau adiknya Neji."

Tamat.

Secepat itu juga perasaan Hinata pada Gaara selesai. Ia hanya tak ingin menjadi orang yang berharap, karena nantinya ia yang akan menjadi orang yang paling sakit. Hinata paham bahwa Gaara adalah orang baik meskipun dia tidak pernah benar-benar peduli pada Hinata, maka hal itu tak mengurangi rasa kagum dan hormat Hinata padanya sedikitkpun. Ia masih menganggap Gaara adalah orang yang disayanginya.

"Eh Hinata-chan! Habis dari mana?" seru Naruto dari pojok kelas ketika melihat Hinata menggeser pintu masuk. Dia tampak berkutat dengan bola sepak yang dimainkannya dengan Kiba di dalam kelas.

Baru saja mulutnya membuka untuk memberikan jawaban ketika matanya menangkap kepala Sasuke yang bergerak dibarisan paling depan. Orang itu baru bangun tidur dan tak sengaja pula melihat Hinata yang berdiri mematung di depan pintu.

Matanya yang semula tidak fokus karena kantuk berubah berkilat penuh kebencian hanya dalam sedetik. Pura-pura acuh, mata orang itu kemudian mengikuti Hinata yang bergerak ke depan kelas.

Berdehem sebentar untuk mengumpulkan keberaniannya, Hinata nyaris berteriak di depan anak-anak. "Ehm! Semuanya?" sapa Hinata yang ternyata lebih pelan dari dugaan. Sebenarnya bukannya dia yang terlalu pelan, tapi suara kencang Naruto yang meneriakkan yel-yel saat berhasil memasukkan bola dalam gawang buatan Kiba dari meja.

Tak ada harapan. Cara ini tentu tak akan berhasil. Orang-orang dihadapannya lebih liar dari sekumpulan serigala. Mendadak darahnya naik lagi, Hinata merasa emosinya bisa membuncah setiap saat tanpa ada peringatan terlebih dahulu dan ia dalam kondisi yang tidak mood untuk mengontrol emosinya sendiri.

Brak!

Sekali lagi Hinata memukul meja guru di depannya, yang membuat meja setengah rusak itu menjadi tampak lebih menyedihkan lagi. Luar biasa. Hanya Suzuranlah satu-satunya tempat yang bisa mengubah Hinata untuk menunjukkan sisi kerasnya.

"Tsunade-sensei tidak bisa masuk hari ini, jadi—"

"HORE!"

Hembusan angin sampai terasa menghempas tubuh Hinata ketika anak-anak berdiri dalam sorak sorai penuh suka cita. Belum ada satu detik gelombang kemenangan itu menghilang bersamaan mereka yang saling berdesakkan untuk berebut keluar dari kelas.

Tangan Hinata sampai kebas menahan kepalan penuh emosi.

"AKU BELUM SELESAI BICARA SIALAN!"

Hinata mematahkan penggaris kayu ketika membenturkannya pada meja. Penggaris itu patah jadi dua dan Hinata melempar masing-masing dari benda itu pada pintu keluar kelas dimana anak-anak membeku seketika di tempat.

Ya ampun. Hinata mengumpat. Rasanya Hinata bisa mendengar teriakkan marah ayahnya dari Inggris ("Segala ucapan Hyuuga adalah keindahan! Ingat itu! Keindahan!")

"Jangan berani ada yang melangkahkan kaki keluar dari kelas ini, sampai kalian selesai mengumpulkan tugasnya," desis Hinata menyipitkan mata kemudian mengambil kapur untuk mulai menuliskan tugas di papan tulis.

Langkahnya terhenti ketika melihat jaket almamater entah milik siapa menggantung di papan tulis dan mengeluarkan bau rokok dan darah yang membuat Hinata menjadi pening.

Hinata menahan napas penuh kejengkelan, "Apa ini?" tanyanya berusaha kalem.

Tak ada yang berani menjawab. Mereka semua masih merasakan pukulan syok atas selip lidah Hinata tadi. Meski malu karena tak seharusnya dia mengumpat, tapi Hinata tahu itulah yang terbaik. Orang-orang Suzuran seperti mereka tidak akan mau mendengarkan orang jika tak dirasa berharga untuk dilihat. Hinata hanya merasa harus membuat dirinya dihiraukan oleh mereka. Meski itu keluar jalur dari keinginan Hinata agar bisa hidup tenang di Suzuran tanpa harus menarik perhatian, namun faktanya ia tak akan bisa bertahan disini jika terus diabaikan. Hinta lelah diabaikan. Entah oleh Sasuke, atau ayahnya. Tapi yang pasti Suzuran tak boleh mengabaikannya. Hinatalah yang seharusnya mengabaikan Suzuran. Ia tak boleh kalah dan diinjak di Suzuran.

"Apa kau buta?" sindir seseorang.

Sasuke berjalan kedepan dari tempatnya duduk tadi. Orang itu terus berjalan meski dia tahu tempat yang ditujunya adalah tempat Hinata berdiri. Entah mengapa Hinata melangkahkan kakinya mundur selangkah, atau dua tiga karena Sasuke tak menunjukkan niat berhenti menuju kearahnya. Jarak mereka semakin habis dan napas Hinata mulai tertahan karena tegang. Takut apa yang akan dilakukan Sasuke, atau sebenarnya takut kenapa Sasuke mau mendekatinya.

Sasuke berhenti tepat di depannya. Dada sasuke tepat di hidung Hinata karena orang itu seakan menghimpitnya diantara tubuhnya dan papan tulis. Lalu tangannya terjulur dan Hinata memejamkan matanya erat.

"Ini milikku," katanya datar namun penuh penekanan. Sasuke mengambil almamaternya yang menggantung di papan tulis.

Hinata melepaskan napas yang sedari tadi ia tahan. Tak ada satupun yang membuatnya merasa takut di Suzuran. Ia tak boleh takut karena dia seorang Hyuuga dan gadis yang mandiri. Tapi sebuah pengecualian jika itu menyangkut Sasuke. Segala hal tentang Sasuke membuatnya takut. Takut akan semua masa lalu dan masa depan mereka.

Sasuke berjalan menuju pintu kelas, merasa tidak ada alasan untuk tetap tinggal lebih lama dalam kelas.

"Get your fucking ass off here," ancam Sasuke pada gerombolan anak yang sedang terjebak karena terjepit pada ambang pintu yang penuh sesak.

"Eh? Ya, oke. Ayo makan saja," Naruto menyahut dengan ling-lung karena tidak mengerti sama sekali situasi yang sedang terjadi.

Mereka sedang menguraikan satu persatu bokong yang terjebak di pintu maupun jendela ketika Hinata meninju meja lagi.

"Mau kemana? Aku bahkan belum menulis soalnya," ujar Hinata penuh aura maut yang membuat mereka semua bergidik ngeri.

Menelan ludah, Naruto berkata "Eh? Hinata-chan karena kau murid baru jadi kau belum paham benar iya 'kan?" Naruto tertawa dengan kesan dibuat-buat, sambil melirik-lirik takut pada Sasuke yang tampak seperti akan mematahkan leher seseorang menatap Hinata. "T-tapi kita tak perlu mengerjakan soal itu Hinata-chan, nenek tua itu sudah biasa memukuli kita setelah itu dan kita bisa menghadapinya, kok."

Astaga. Mereka masih saja tidak mengerti, anak-anak itu. Hinata tahu anak SMA berandalan normal lainnya juga akan mengacuhkan tugas, tapi itu bukan tujuan Hinata marah pada mereka.

Ini bukan tentang menerima hukuman dari guru jika tidak mengerjakkan tugas, tapi tentang tanggung jawab.

"Tidak ada yang boleh kabur sebelum mengumpulkan tugas padaku," kata Hinata keras sambil mengambil kapur dan mulai menuliskan soal logaritma yang ternyata setelah diamati cukup mudah.

"Dan siapa kau sampai kami harus mendengarkan omong kosong ini?" tukas Sasuke dingin.

Hinata berhenti sejenak, ia menelan ludah. "S-sasuke-kun juga harus mengerjakan tugas—"

Prangg!

Kini giliran Sasuke yang membanting vas bunga yang sudah retak di dekatnya. Dia membantingnya tanpa ekspresi marah, hanya tampak agak terganggu. "Aku tak ingin mendengar bualanmu lagi di sini," katanya sedingin es.

Hinata terus menulis soal kedua dalam diam, tulisannya mulai tampak bengkok karena tangannya agak bergetar. "Sudah kukatakan kalian semua harus mengumpulkannya hari ini."

Sasuke mendengus hebat, lalu seulas seringai tampak di wajahnya. "Brengsek," umpatnya pelan. "Kau pikir kau siapa?" dia menambahkan dengan ejekan.

Kapur ditangan Hinata patah karen ia terlalu menekannya, "Memangnya Sasuke-kun pikir siapa dirimu?"

Hinata sudah terlanjur menyiram minyak, kini Sasuke tampak melancarkan tatapan membunuhnya. "Aku orang nomer satu di Suzuran, dan kau, kau hanyalah gadis perawan yang bego karena berpikir hidupmu bisa aman di sini. Jadi, Hinata, demi keselamatanmu sendiri, tutup mulut sialanmu itu sekarang juga." Itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah Sasuke lontarkan untuk Hinata sejak mereka memutuskan tidak melihat satu sama lain lagi. Meskipun semua isi kalimatnya menyakiti Hinata, ia merasa Sasuke kini mengakui bahwa Hinata eksis di tempat dan waktu yang sama dengannya lagi. Hinata sudah memaksa keberadaanya diakui oleh Sasuke. Maka mungkin satu ketakutannya sekarang sudah berkurang.

"Salah," potong Hinata menahan napas. "Sasuke-kun belum mengalahkan Juugo. Kau masih sama arogannya seperti dulu," timpalnya makin berani. Mengingat sejarah panjang rantai makanan di Suzuran dari ocehan Neji ternyata bermanfaat juga.

Sasuke tertawa tanpa ada keriangan di dalamnya. "Kau benar-benar tidak tahu diri ya."

Jatungnnya berhenti sedetik karena ucapan Sasuke. Seakan kalimat itu ditujukannya karena kesalahan masa lalu, bukan karena pembelotan hari ini.

"Tidak ada alasan aku harus menuruti perkataan Sasuke-kun. Begitu juga kalian semua," ujar Hinata menatapi anak-anak yang tertegun. Wajah-wajah bodoh itu memandang Hinata dengan tatapan tidak percaya. "Bodoh," gumam Hinata dengan senyum putus asa.

"Apa yang kalian banggakan saat ini? Apa yang membuat kalian pikir sekolah itu hanya untuk bersenang-senang? Berkelahi? Seperti orang bego saja. Membuat kelas menurut kekuatan fisik? Menggelikan," olok Hinata kejam. Ia hanya ingin mereka semua sadar akan alasan apa yang seharusnya ada jika bersekolah.

"Oi, kau sudah keterlaluan Hinata!" seru Kiba tidak terima.

"Benar! Kau tahu, kau seorang perempuan dan artinya kaulah yang paling lemah disini, Hinata," timpal orang yang kalau tidak salah namanya Suigetsu.

"Apa?" tukas Hinata marah. "Apa yang membuat kalian berpikir kalau aku lemah?" Hinata tahu ia sudah melewati batas.

"Bukankah Suigetsu sudah mengatakannya?" Kini Naruto buka suara. Hinata menatapnya kecewa, ternyata Naruto sama saja dengan yang lain. Hinata lah yang begitu bodoh menganggap bahwa dia berbeda hanya karena sikap ramahnya. Naruto balik menatap Hinata tampak marah, "Karena kau perempuan."

Pernyataan Naruto sudah mengobarkan dukungan dari teman-teman sekelas. Bahkan Shino yang selalu diam, tampak ikut jengkel. Mereka mulai mengerecoki Hinata dengan makian kata-kata kotor yang dominasi dengan deskriminasi gender.

"Jangan berlagak manis dan mengatur kami semua Hinata. Perlu kau tahu, bahkan guru di sini tak bisa mengatur kami. Jadi kau," kata Suigetsu lagi, "Kau bukanlah apa-apa di sini. Kami hanya senang karena kau bisa jadi penghibur, jangan ngelunjak. Kau tahu, sungguh menyenangkan melihat gadis sepertimu ada disini. Kau hot—"

"Huh?" sela Hinata yang tampak kehabisan napas menahan gejolak kemarahan yang sungguh sulit dikendalikannya saat ini.

Shikamaru kini melihatnya, "Kau hanyalah perempuan Hinata. Makhluk yang membangkitkan nafsu kami. Jadi mungkin yang Suigetsu ingin katakan adalah, kau jangan banyak bertingkah jika ingin selamat." Katanya mengangkat bahu enteng.

Tubuhnya bergetar hebat menahan entah apa itu, tapi Hinata tak pernah merasa semurka ini. Tak pernah ada dalam sejarah hidupnya, darahnya naik sampai ke ubun-ubun mengakibatkan wajahnya merah luar biasa. Wajah Hinata yang memerah sudah tertutup poninya karena dalam posisi menunduk. Kepalan tangannya begitu kencang sampai Hinata merasa sakit saat kuku-kuku tangannya melukai telapaknya sendiri. Keinginan untuk menangis yang sedari tadi dirasakannya berangsur menghilang dan digantikan dengan rasa marah yang luar biasa.

Dan kengerian itu bertambah buruk ketika tak sengaja mata Hinata menangkap seringai kemenangan yang terulas di wajah Sasuke. Seakan orang itu ingin membuktikan bahwa tak ada di dunia ini yang bisa mematahkan kuasanya. Begitu arogan orang itu hingga membuat Hinata muak.

Sasuke kembali ke ekspresinya yang dingin, "Sekarang berhentilah—"

DAARRR!

Meja guru didepannya terbelah menjadi dua dengan tidak rapi. Tangan Hinata berdenyut sakit tapi itu tak ada artinya bila dibandingkan rasa yang mencengkeram dadanya. Hinata mengusap air mata kemarahannya dengan cepat, kemudian mengubah air mukanya sekalem mungkin menghadapi mereka semua.

"Aku yang akan memerintah kalian disini," ucap Hinata sekata demi sekata penuh penekanan.

"Demi Tuhan apa yang ada di kepalamu, Hinata-chan? Jangan ngelantur—"

"Aku adalah pemimpin di Suzuran," Hinata menoleh dengan cepat ke arah Naruto sampai membuat orang itu terperanjat. Lalu dengan langkah ringan namun keras Hinata berjalan kearah pintu keluar. Ia berdiri tepat di depan hidung Uchiha Sasuke.

"Aku akan menggeser posisi orang nomer satu di Suzuran saat ini sehingga kalian segera telanlah lagi semua yang kalian semburkan padaku sebelumnya," tegas Hinata dengan mata berkilat, menatap tepat di depan Sasuke. Berusaha menembus mata gelap didepannya itu dengan keberanian.

Sasuke masih tanpa ekspresi, hanya tatapannya terasa seratus kali lebih dingin. Berusaha membekukan segala usaha yang Hinata buat.

"Gadis sinting," geram Sasuke.

Hinata mengacuhkannya, meski jantungnya berdegup luar biasa kencang saat ini ia sudah membulatkan tekad. Konfrontasi hari ini menjadi bukti nyata bahwa Suzuran benar-benar merupakan tempat liar yang tanpa aturan. Mereka tidak akan mencapai apa-apa kecuali menjadi pengangguran atau preman jika kondisi ini terus berlanjut hingga kiamat. Ya. Kecuali Hinata yang akan merubahnya.

Ia sudah bersumpah akan mengubah Suzuran beserta orang-orang di dalamnya menjadi lebih baik.

Termasuk Uchiha Sasuke.

Dan satu-satunya cara ia bisa membungkam habis mulut kotor mereka ialah dengan mendapat pengakuan mereka terlebih dahulu. Dengan menjadi pemimpin Suzuran.

Hinata melangkah melewati Sasuke dan dengan sengaja membenturkan sedikit bahu mereka karena murni kemarahan yang mendasari tindakan nekadnya.

"Hoi mau kemana Hinata?! Katanya mau melawan Sasuke?!" seru Kiba disusul dengan tawa cemoohan dari mereka semua saat melihat Hinata berjalan di koridor dan pergi menghilang dibalik tangga turun.

Agak lama mereka semua tertawa sambil keluar kelas dengan santai, menganggap segala hal yang dikatakan Hinata hanya gurauan sinting yang terlalu nekad sampai ketika Chouji dibuat terperangah menatap keluar jendela.

"Hei! Bukankah itu Hinata?" seru Chouji dengan jari menunjuk-nunjuk arah lapangan. Tepat di bawah pohon Sakura yang sedang berbunga.

"A-apa yang dilakukannya di bawah situ?" tanya Naruto melotot.

Semua menjadi heboh dan mulai berbondong-bondong turun untuk menyaksikan secara langsung kegilaan Hinata.

Sasuke mengintip di balik jendela, napasnya berhenti sebentar melihat pemandangan diluar nalar itu. Gadis bodoh itu berdiri di bawah pohon Sakura, mengusik jatah tidur siang sang penunggu.

Juugo.

Sai berkata di sebelahnya dengan senyum menakutkan. "Hinata-san memang benar menantang orang nomor satu di Suzuran bukan?


Hinata menatap ngeri sesosok manusia yang berukuran diluar normal sedang berbaring pada sofa bekas di bawah pohon Sakura. Beberapa detik ia habiskan untuk berpikir mundur untuk menemukan ide gila darimana ia akan menantang orang yang berukuran mirip beruang ini. Ah, benar. Karena harga dirinya sebagai Hyuuga harus dipertahankan dari olokan orang-orang Suzuran. Ini juga demi kelangsungan hidup Hinata di Suzuran karena ia tahu besok ia akan menjadi daging cincang kalau tidak bertindak sesuatu setelah pertengkaran akbar antaranya dan kelas 2-2.

Benar. Hinata mantab melakukan ini.

Groook~

Hinata terperanjat mendengar dengkuran mirip knalpot bobrok keluar dari mulut orang yang namanya Juugo itu.

Tidak, tidak, tidak. Hinata tidak bisa. Ia menyerah. Mungkin setelah ini Hinata akan memohon pada ayahnya lagi agar dipindah. Tapi itu sama saja dengan kabur. Tidak. Nyawanya lebih penting ketimbang harga diri. Tidak. Seringai Sasuke sungguh menjengkelkannya. Tidak. Dia masih belum menikah jadi belum boleh mati dulu.

"Siapa kau?"

Suara berat orang itu mengagetkannya. Mata Hinata membulat melihat orang itu bangun dari tidurnya. Dia terduduk sambil mengamati Hinata dari ujung kaki hingga atas tanpa eksresi yang berarti.

"P-pagi, Hinata disini," sapa Hinata bego. Hinata mengutuk dalam hati, kenapa malah menyapa idiot?! Kenapa tidak sekalian tanya dia mau sarapan apa?!

Juugo tak menunjukkan eksprsi lain selain mengamati Hinata dalam diam.

"M-maaf mengganggu tidur siangmu, kalau begitu aku permisi dulu!" Hinata membungkuk dalam-dalam dan segera berniat pergi sebelum kejadian buruk bisa terjadi. Baru sedetik ia membalikkan tubuhnya untuk kabur, rombongan Naruto berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa dan secepat itu pula Hinata sudah menjadi inti dari lingkaran berlapis orang-orang yang datang untuk melihat—well, membuktikkan omongan Hinata. Hinata bergidik ngeri melihat lebih banyak orang yang datang dan bagian terburuknya adalah saat melihat Sasuke berdiri paling depan berikut geng GPS-nya yang memasang wajah tak percaya melihat Hinata.

"Hentikan! Hentikan semua ini!" seru seseorang menyeruak keluar dari lautan manusia dengan panik. Neji berlari menerjangnya dengan wajah tidak karuan. Dia memeluk Hinata sebentar, kemudian mengguncangkan bahu Hinata kasar.

"What the hell are you thinking?" Neji meremas bahunya seakan ingin menyadarkan pikiran Hinata yang kelewat batas.

"Neji-nii," panggil Hinata lirih.

"Sudah, jangan katakan apapun. Kita pergi dari sini," Neji berkata seakan itu perintah. Dia menggandeng tangan Hinata dan berjalan menjauh dari bawah pohon, berusaha keluar dari kerumunan yang semakin bertambah banyak.

"Mau kabur?" tanya seseorang saat mereka mencoba melewati lapis pertama.

Hinata berhenti bergerak. Sasuke Uchiha berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sudut bibirnya terangkat sedikit, mata gelapnya melirik Hinata yang berhenti tepat di sampingnya dengan pandangan merendahkan.

"Pengecut," kata Sasuke tajam. Hinata menatapnya dan orang itu mengalihkan pandangannya secepat dia bisa. Menolak memandang mata Hinata terlalu lama. Masih dengan seringai khasnya, dia berkata sembari menatap Jugoo yang berdiri di bawah pohon. "Benar-benar tipikal Hinata Hyuuga. Penakut. Lari dari kesalahan yang kau buat sendiri. Mau kabur seperti saat kau meninggalkan Itachi, huh?"

Rasa sakit itu kembali menyerang, mencekik lehernya saat nama Itachi keluar dari mulut adiknya sendiri. Hinata merasa tak bisa bernapas. Ia menundukkan kepalanya.

"Kita pergi, hanya membuang waktu." Ujar Sasuke pada teman-temannya.

Sedangkan Hinata masih tertunduk, namun tangannya yang dari tadi bergetar kini sudah mengepal kencang. Ia mengambil napas banyak-banyak dan membulatkan tekadnya. Ia tidak akan goyah oleh siapapun, entah itu suara dengkuran, ratusan pasang mata yang menonton, atau bahkan Uchiha Sasuke. Tak ada. Tak boleh ada yang menghentikan Hinata melakukan ini.

Jika ia tidak bertindak sekarang, maka tidak ada hal yang tersisa untuk bisa dirubah.

Dengan perlahan, Hinata membuka satu persatu kancing almamaternya hingga lepas semua dan segera menyerahkannya pada Neji. Hal itu membuat rombongan Sasuke harus membalikkan badan untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.

"Neji-nii," panggil Hinata dengan tatapan penuh tekad. Neji menelan ludah, karena hanya dalam sedikit kesempatan dia pernah melihat tatapan mata yang seperti itu dari Hinata. Hinata tersenyum meyakinkan, "Tolong siapkan saja ruang UKS-nya."

"Sudah kubilang, aku tidak ingin kau terluka—"

"Untuk dia," potong Hinata cepat sambil membalikkan badan menghadap orang yang masih berdiri saja di bawah pohon. "Untuk Juugo-san, maksudku."

Rahang Neji jatuh drastis mendengar ucapan yang terdengar sangat gila itu.

Hinata melangkah maju. Kini yang tersisa hanyalah seragam putih berdasi merah maroon yang Hinata pakai, kemudian ia menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Menghela napas, ia membungkuk sebentar pada Jugoo yang terheran-heran.

"Jika aku mengalahkanmu, maka artinya akulah yang terkuat di Suzuran, benar?" tanya Hinata mengkonfirmasi.

Juugo masih tanpa ekspresi agak lama, tapi sepertinya dia mengerti maksud dan tujuan Hinata. Dia mengangguk samar. "Aku tidak tahu kau percaya sistem itu," katanya megejutkan karena terdengar tegang.

"Aku tidak percaya pada pensisteman tak masuk akal seperti itu," kata Hinata disusul geraman dari belakang yang ia percayai GPS. "Tapi kita hidup diadalamnya dimana orang-orang ini menganut sistem itu. Maka, ya, aku akan mengikuti sistem itu. Jadi, aku akan mengalahkanmu."

Tawa cemoohan terdengar dari segala penjuru saat Hinata mengatakan hal itu. Juugo tak terusik juga, tapi Hinata bisa melihat orang itu bergerak-gerak tidak normal. Seperti... gelisah? Aneh. Tapi bukan masalah besar.

Juugo menghembuskan napas panjang, "Kau... perempuan."

Tawa membahana kembali, wajah Hinata memerah sedikit. "Tentu saja aku perempuan. Dan aku adalah perempuan pertama yang akan mengalahkanmu."

"Woooooooo~"

"Ucapannya lebih keren daripada Sasuke, hahaha!"

"Kami tidak disini untuk mendengarkan kalian latihan drama, hoi!"

Hinata mengatupkan rahangnya malu. Dia menghela napas panjang. Berdoa ia masih diberi kesempatan melihat wajah adik dan ayahnya lagi.

"Maafkan aku!" seru Hinata kencang dan ia berlari menerjang Juugo yang masih mematung.

Duuk!

Tendangan dari Hinata mengenai sisi kanan perut orang itu. Suara riuh sorakkan penonton memenuhi udara di lapangan depan Suzuran, bahkan samar-samar sepertinya ada yang menabuh tong kosong untuk memanaskan suasana. Juugo tak bergerak sesentipun dari tempatnya, walaupun Hinata bisa melihat ekspresinya berubah saat tendangan Hinata tadi mengenainya.

"Aku tak akan melawanmu," kata Juugo.

"Itu bukan yang kuinginkan," sahut Hinata sambill berteriak menyerang.

Hinata menyerang lagi. Lebih cepat, lebih kuat sampai akhirnya Juugo tak punya pilihan selain menghadapi Hinata. Ia lebih banyak menangkis semua pukulan dan tendangan Hinata daripada balik menyerang. Sampai saat Hinata lengah, bogem mentah orang itu mendarat telak mengenai perutnya. Hinata mundur agak jauh, meludahkan sedikit air liur bercampur darah sebentar sambil memegangi perutnya yang mungkin akan membiru.

Ini tidak akan mudah.

Hinata tidak pernah berlari secepat itu, menghilang dalam angin dan saat Juugo tak menyadarinya, Hinata sudah melompat kearahnya. Dengan menggunakan sikutnya ia berhasil mengenai tulang pipi Juugo sangat keras sampai orang itu mundur beberapa langkah. Pipinya memar. Siku dan tangan Hinata lecet di sana sini. Ia kembali menyerang Juugo, menarik leher orang itu dengan kedua lengannya, tapi karena Juugo terlalu kuat, Hinata dibuat melayang saat orang itu menegakkan lehernya. Hinata mengambil kesempatan sekecil mungkin untuk terus bergelayutan di leher Juugo kemudian menghujamkan lututnya dengan keras dan berkali-kali pada dada Juugo sampai orang itu merasakan sakit dan melepaskan Hinata. Hinata jatuh terengah-engah. Juugo memegangi dadanya.

Tapi tak ada tanda-tanda orang itu akan jatuh.

Hinata menggigit bibirnya gelisah. Lalu ia mencoba menenangkan pikirannya. Menghirup napas sangat dalam, ia mencoba membuka semua tenaga dalamnya. Hinata mundur beberapa langkah menyiapkan kuda-kuda khas klan Hyuuga. Keluarganya memiliki seni bela diri sendiri. Bukan teknik petarung jalanan yang rata-rata dimiliki orang Suzuran.

"Hyaaaaa!"

Cepat dan tepat. Itulah inti bela diri Hyuuga. Tentu, Neji lebih ahli darinya dan Hanabi lebih kuat darinya. Tapi Hinata lebih cepat dan terampil. Ia mengetahui seluk beluk titik vital manusia, bahkan yang tidak diajarkan di buku. Pengetahuan lama klan Hyuuga. Mereka menyebutnya teknik 64 pukulan.

Hinata menyerang sebelum Juugo sempat berkedip, menotok keras titik-titik vital di tubuhnya sampai berjumlah 64 pukulan. Pukulan terakhir benar-benar membuat Juugo nyaris berlutut. Tapi itu tidak terjadi.

Hinata sudah hampir kehabisan napas, matanya membulat melihat Juugo masih bisa berdiri karena orang normal—pencopet dan orang mesum yang pernah dihadapinya, akan jatuh pingsan karena pukulannya tadi. Hinata benar-benar dibuat terperangah. Apa orang ini benar-benar seekor beruang?!

Hinata mencoba bangkit berdiri dengan tangan kanan memegangi perutnya yang kini terasa sangat pegal di tambah sakit perut karena menstruasi benar-benar membuatnya pucat.

"Hinata hentikan!" Neji meraung dramatis campuran antara marah dan cemas.

Hinata tidak menghiraukan teriakkan peringatan kakaknya. Ia tidak akan menyerah, apapun itu ia adalah gadis yang tidak ingin menyerah karena itu akan dianggap lemah.

"Hentikan saja," kata Juugo memperingatkannya dengan napas tersengal juga.

"Dalam mimpimu," balas Hinata dan ia kembali menyerang.

Walau sudah melambat dan agak lemah, Hinata berusaha menendang Juugo lagi. Tapi kemudian ia terpeleset dan jatuh menimpa orang itu. Hinata berada di atas Juugo. Ia mengangkat wajahnya yang sudah dibasahi keringat dan darah yang mengalir di ujung bibirnya, mata Hinata membulat penuh melihat Juugo tampak menganga seperti orang bodoh. Kemudian orang itu tampak bergerak-gerak gelisah seperti kebakaran jenggot.

"M-menyingkirlah!" seru Juugo.

Hinata yang kaget segera berusaha bangun tapi tangannya yang sakit tidak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri. Sekali lagi Hinata terjatuh di dada orang itu dan... dada mereka tak sengaja saling menekan satu sama lain.

Jrooooot!

"Wahhhh!" Hinata berteriak kaget saat darah muncrat keluar dari hidung Juugo. Ia segera berusaha berdiri dengan susah payah dan menjauh dari tubuh orang itu yang masih terlentang dan mimisan hebat. Juugo berusaha bangun untuk duduk sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah begitu deras.

"K-kau...!" seru Juugo terdengar marah, masih dengan darah mengucur dari hidungnya kini tampak menyedihkan. "Kau perempuan... yang seksi."

Kemudian dia tersungkur pingsan.

Speechless.

Keheningan yang luar biasa menyergap mereka begitu cepat. Tong sudah tidak lagi ditabuh. Sorak sorai tak lagi terdengar. Suara angin yang lewat dengan kencang seakan menertawai kejadian ini.

Hinata berdiri dengan wajah melongo hebat. Tapi orang-orang disekelilingnya tampak lebih dungu. Kiba ikut pingsan dan semua orang menganga tampak kehabisan napas melihat pemandangan ajaib ini.

"D-dia pingsan," kata Naruto dengan wajah tolol. "D-dia pingsan!" timpalnya heboh dengan mencengkeram kedua sisi kepalanya tak percaya.

"JUUGO DIKALAHKAN!"

Euforia kemenangan meledak begitu dahsyat. Semua orang berteriak hebat sampai mungkin akan terdengar sampai di seberang jalan. Ada yang melempar jaket, sepatu bahkan melempar orang ke udara juga. Bahkan ada yang banjir air mata dan ingus dan menelpon ibu mereka. Adrenalin kehebohan dan suka cita bercampur rasa tak percaya itu bercampur menjadi satu memenuhi udara. Kemudian terdengar nyayian, yel-yel, tabuhan tong kosong memeriahkan suasana ajaib ini.

Hinata masih membeku ditempatnya, tak berani bergerak sedikitpun karena masih belum bisa menerima apa yang terjadi. Ia masih memprosesnya dengan cermat. Orang itu pingsan... karena bersentuhan dengan dada Hinata.

Orang itu...

"Sialan! Ternyata selama ini Juugo lemah terhadap perempuan!" seru Naruto heboh dengan panci bekas yang entah didapat dari mana, ia kenakan di kepala seperti orang bodoh.

"Dia ternyata orang mesum! Brengsek! Aku tertawa sampai hampir ngompol!" sahut Lee kemudian. Mereka tertawa terbahak-bahak.

"Jadi dia selama ini mencuri majalah playboy-ku!" tuduh Naruto disambut tawa heboh dari teman-temannya.

Hinata masih saja terperangah atas kejadian sinting ini. Tapi, ia berhasil membuat orang itu pingsan. Dengan kata lain... Hinata menang.

"Ukhh," Hinata melengkuh sakit saat perutnya berdenyut hebat. Perutnya bergejolak nyeri dan perih, sakit sekali dan ia tahu darah mengalir keluar lebih deras dari bagian bawah tubuhnya.

Ia kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh jika lengan seseorang dengan sigap menyangganya agar tidak merosot. Pandangannya kabur, ia hanya sempat melihat mata hitam gelap itu menatapnya sebelum semuanya berubah mejadi hitam.

.

Suara kelontangan mengganggu tidurnya. Hentikan, please. Ia masih ingin tenggelam dalam tidurnya yang sangat nyaman ini. Sepertinya sudah lama sekali Hinata tidak tidur seenak ini.

"Brengsek! Dua pangkat dua itu delapan tahu!" seru seseorang.

Ugh, hentikan keributan itu.

"Dasar dungu! Kau tidak lulus SD ya? Kok bisa sih masuk SMA?!" seru yang lainnya.

Hentikan.

"Aku juara lomba matematika tingkat komlpeks kau tahu tidak!"

"Yang tinggal di kompleksmu pasti bego semua! Sudah kubilang pangkat itu sama saja kali!"

"Lalu kenapa kau tadi bilang lima pangkat tiga itu 125?! Kalau sama saja kali maka seharusnya jawabannya lima belas!"

"DIAM!"

Semua suara yang mengganggu itu mendadak hilang tak bersisa saat Hinata berteriak bangun. Ia bangun terlalu cepat sampai tubuhnya menegang kaku. Ia bisa melihat Naruto masih menganga atas argumennya yang terpotong dan Shikamaru yang siap melempar kursi di tangannya harus terhenti diudara karena teriakkan Hinata.

"Ukh," Hinata melengkuh kaget saat perutnya terasa sakit.

"Hinata!" seru seseorang menghampirinya khawatir. Neji memegang bahunya cemas, "Kau baik-baik saja?" tanya Neji.

"Rasanya ingin muntah," sahut Hinata merasa pening. Ia melihat berkeliling, dan terkejut menemukan dirisnya sendiri ada dalam UKS yang bobrok ini dan dikelilingi oleh orang-orang itu. Naruto, Kiba, Shikamaru, Chouji, Sai, Shino, Lee, Suigetsu, Konohamaru, Gaara dan Neji yang sedang merangkulnya. Kamar UKS ini benar-benar mirip salah satu kamar pasien rumah sakit yang sudah jatuh tempo. Temboknya belum disemen dengan sempurna, catnya mengelupas di sana-sini, wadah lampu neon diatasnya bergerak-gerak lepas bisa terjatuh kapan saja, bau alkohol dan darah menjadi satu. Hinata menatap jedela yang tidak ada kacanya, sinar matahari begitu terik tandanya sudah memasuki puncak siang hari.

"Apa yang kalian—ouch!" seru Hinata saat memegang perutnya yang ternyata diperban.

"Jangan banyak bergerak!" seru Neji dengan alis berkerut cemas.

"Siapa... siapa yang memakaikan perban padaku?" tanya Hinata sedikit ngeri.

"Aku!" seru Naruto mengangkat tangan tanpa dosa dengan cengirannya itu.

Hinata melongo tak percaya sebelum akhirnya Neji menendangnya menjauh dari ranjang mirip rumah sakit tapi catnya sudah mengelupas.

"Aku yang memakaikannya, aku juga yang mengobati semua luka ditubuhmu," kata Neji meyakinkan.

Astaga, semua?

Naruto bangkit setelah tendangan Neji tadi, "Ehm! Hinata-chan?" panggil Naruto tampak ragu, mirip anak kecil yang takut bilang kalau dia mengambil uang kembalian dari belanjaan Ibunya. "K-kami minta maaf," katanya kemudian.

"Maaf?" tanya Hinata.

"Iya! Kami rasa kami sudah keterlaluan mengejekmu waktu di kelas. Juga, juga kau secara harfiah bisa membuat Juugo jatuh. Hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan bahkan oleh Sasuke sekalipun, jadi..."

"Diam," potong Hinata.

"Ehhhh?" Naruto tampak sangat kecewa dengan sikap ketus Hinata. "Kami benar-benar minta maaf—"

"Pergi dari sini!" seru Hinata membentak.

Semua orang tampak kaget atas reaksi Hinata yang diluar harapan mereka. Dengan loyo, mereka menuruti perkataan Hinata dan berjalan keluar dari kamar kecuali Neji dan Gaara.

"Mau kemana kalian?" tanya Hinata mendadak.

"Loh bukannya kau menyuruh kami pergi?" tanya Kiba balik.

Hinata tersenyum yang bisa dibilang sedikit, jahat?

"Kalian, kelas 2-2 dan GPS semua masih ada di sini bukan?" tanya Hinata dijawab dengan anggukan bingung dari semua orang. "Kalau begitu ini tugas pertama kalian dariku—"

"Tugas? Memangnya kau siapa memerintah kami—"

"AKU PEMIMPIN SUZURAN," potong Hinata penuh penekanan disetiap suku katanya.

"Tapi Hinata, pemimpin di sini itu hanya simbol bahwa dialah yang terkuat di Suzuran bukan berarti bisa memerintah kami—"

"Kau bilang apa?" Hinata menyela dengan senyum manis di wajahnya. Senyum malaikatnya yang... sangat mengancam.

Glek! Semua orang bergidik ngeri melihat senyum manis yang biasanya Hinata tampilkan, menjadi terkesan mengerikan seperti ini.

"Masih berani mempertanyakan posisiku di sini, setelah kalian melihat kejadian tadi?" sindir Hinata dengan senyum kemenangan.

"T-tapi kami sudah mengerjakkan tugas nenek itu kok! Lihat!" seru Naruto menggoyangkan kertas di depan hidung Hinata berisi jawaban mereka yang belum selesai.

"Itu karena aku memaksa kalian melakukannya," ujar Neji membenarkan.

"Tapi, tapi, tapi..."

"Pergilah," kata Hinata memejamkan mata. Dia menghela napas, kemudian melihat ke arah anak-anak yang berdiri di dekat pintu keluar. "Ke supermarket, ini mendesak."

Kamar ini menjadi sepi, hanya ada suara dengkuran keras dari kasur sebelah yang terbarik sesosok laki-laki bertubuh besar. Juugo masih tertidur dengan tisu menyumpali kedua hidungnya yang tadi mimisan. Wajahnya agak pucat karena darahnya mengucur lancar tadi dan sekarang dia tampak kekurangan darah.

"Hinata, kau itu punya nyali juga," kata Neji yang duduk di kursi di samping kasurnya.

Hinata tersenyum, "Nekad ya?"

Neji tertawa pelan, "Nekad dan bertindak gila itu beda tipis," katanya. "Kau juga cukup berani memaksa mereka semua membeli benda itu untukmu," tambahnya kini benar-benar tertawa.

Hinata tertawa kecil mendengarnya. "Untuk pelajaran pertama mereka."

Neji memandangnya dengan tatapan memuji, kemudian dia berdecak "Kau serius melakukan ini?"

"Tentu saja," jawab Hinata mantab. Ia menyentuh luka di tubuhnya, "Bukankah ini sudah cukup membuatmu yakin kalau aku ingin mengubah Suzuran?"

Neji memejamkan mata, berpikir sebentar kemudian menghela napas tanda kalah. Dia melihat Hinata dengan tatapan tajam, "Kau mungkin akan lebih terluka daripada ini mulai dari sekarang."

Hinata terdiam agak lama. Ia kehilangan kata-kata untuk meyakinkan kakaknya, karena sebenarnya ia sendiri tidak menemukan keyakinan yang masuk akal untuk dirinya sendiri mengubah Suzuran. Tapi ia yakin, ia akan bisa menemukan alasan itu seiring berjalannya waktu.

Hinata terseyum tipis, "Tidak mungkin ada kejadian yang lebih buruk lagi daripada bertemu Sasuke Uchiha bukan?"

Neji mengangguk pelan, "Mungkin yang lebih buruk lagi akan terjadi ketika kau jatuh cinta padanya." Neji bergumam tak jelas.

"Apa?" Hinata bergerak mendadak, "Neji-nii ini bicara apa?!" Hinata nyaris meneriaki Neji.

Neji mengangkat bahu sembarangan. "Siapa tahu? Kalian dulu dekat."

"Sebagai teman," ujar Hinata tegas. "Dan Neji-nii tau pasti itu tidak mungkin terjadi. Aku meyakininya sebesar aku yakin bahwa bumi itu bulat," Hinata melipat kedua tangannya di depan dada. Marah, atau kaget. Entahlah.

"Oke, oke. Maaf. Tapi orang terbaik yang bisa tahu hal itu adalah dirimu sendiri."

Hinata memalingkan wajah dari Neji, kesal pada kakaknya yang terkadang suka bicara ngelantur tak masuk akal. Ia menolak melihat wajah Neji selama beberapa saat, tapi sepertinya tak ada niat dari kakaknya meminta maaf. Huh. Kenapa dia diam saja?

"Bukankah seharusnya kau minta ma—" kalimat Hinata tak selesai karena terkejut melihat sosok Neji berganti menjadi orang berambut merah yang duduk di kursi itu.

"Gaara-kun," ucap Hinata pelan.

Gaara menatap Hinata tanpa senyum, "Neji pergi sebentar untuk menerima telepon," katanya.

"O-oh, baik," respon Hinata seadanya. Mengingat pertemuan mereka tadi pagi dan Hinata malah marah padanya membuat Hinata tak berani menatap langsung mata Gaara dan lebih memilih untuk menunduk. Menyembunyikan sebagian wajahnya dengan rambutnya yang turun.

Hinata terkesiap saat merasakan sebuah tangan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya dan menyelipkannya pada telinga sebelah kirinya. Tangan Gaara terasa dingin menyentuh kulitnya.

"Kau... benar benar sesuatu yang lain," katanya lirih. Tangannya bergerak turun untuk menyentuh pipi Hinata.

Hinata tak menyahut. Ia tak bisa mengatakan apapun karena atmosfer yang membuatnya tegang.

Suara napas Gaara terdengar begitu keras karena keadaan kamar yang sepi. Dengan memberanikan diri, Hinata mencuri pandang dan nyaris bergidik kaget saat melihat Gaara masih menatap wajahnya. Hinata cepat-cepat menunduk lagi. Berusaha membuat pikirannya kembali bekerja dengan benar. Dia hanya bertindak baik. Dia hanya bertindak baik dan kau tahu itu.

"Gaara-kun, tanganmu," kata Hinata menyadarkan lamunan Gaara.

Gaara menarik tangannya dari wajah Hinata dengan cepat. Kemudian mereka berdua diam dalam canggung, masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Hinata mencoba melihat Gaara dan sekali lagi menemukan Gaara menatapnya secara intens. Astaga, ada apa dengan orang ini.

Gaara bergerak mengambil kain basah bekas kompresan di rak sebelah mereka, kemudian memerasnya sebentar dan tangan yang satunya menarik dagu Hinata agar menghadap wajah orang itu.

"Bibirmu masih bengkak," katanya lalu membersihkan darah yang mengering pada luka di ujung bibir Hinata.

"T-tidak perlu," sanggah Hinata berusaha menyingkirkan tangan Gaara dan yang ada malah orang itu menahan tangan Hinata dengan cara menggenggamnya erat.

"Diamlah," katanya datar namun berisi perintah. "Dan aku melakukan ini karena aku memang peduli padamu," tambanhnya kini menatap mata Hinata dan Hinata tak bisa mencegah jantungnya berpacu lebih kencang daripada biasanya.


Sasuke tidak mengerti sama sekali. Hatinya mengutuk-ngutuk tindakan Sasuke yang mau saja di seret ke tempat ini. Sekarang mereka—Sasuke,Naruto, Kiba, Shikamaru, Suigetsu dan Lee (entah kenapa dia ada di sini) berdiri berjejer-jejer layaknya orang bego di depan Minimarket. Tak ada diantara mereka yang berani bergerak duluan. Sasuke menoleh cepat dengan tatapan membunuh ke arah Naruto, begitu juga semua orang menoleh ke arah paling pojok kanan dimana pirang idiot itu yang menyeret mereka semua untuk memenuhi keinginan gadis gila itu.

"Aku pergi," kata Sasuke membuang muka.

Mereka semua dengan kompak menahan lengan Sasuke.

"Mau kemana kau, huh? Bukannya kau yang paling mengejek Hinata tadi pagi?" tanya Naruto, wajahnya mendekat, luar biasa jengkel pada Sasuke. Kemudian Naruto menarik leher Sasuke untuk ikut membentuk sebuah lingkaran.

Naruto menghirup napas dalam-dalam sampai kedua lubang hidungnya melar besar sekali, "Batu kertas gunting!"

Jreeng!

Mereka harus mengulanginya sampai sepuluh kali untuk menentukan siapa yang harus masuk ke minimarket itu. Dan pada akhirnya Sasuke menemukan dirinya berdiri konyol di depan kasir minimarket. Ia melamun sampai suara cekikikan menyadarkannya. Beberapa anak gadis berseragam melihatnya dengan tawa ("Dia keren sekali, aduh matanya indah banget!")

Sasuke menelan ludah, ia segera melangkahkan kaki ke bagian yang dirasanya benar. Tapi sialnya anak-anak gadis itu berada dalam bagian yang sama dengan Sasuke. Ia menggigit bibir, berpura-pura melihat-lihat alat cukur sementara matanya sebenarnya bergerak ke samping melihat merek-merek bungkusan warna-warni yang ada di sebelah pisau cukur.

"Aduuh, di melihat-lihat pisau cukur! Jantan banget~"

Sasuke memejamkan mata mendengar bisikan gadis-gadis di sebelahya.

Ini. Harus. Segera. Berakhir.

"Permisi," sapa Sasuke pada ketiga gadis itu.

Mereka tampak kaget sekali diajak bicara terlebih dahulu olehnya.

"A-ada apa?" tanya gadis yang memiliki banyak jerawat dihidungnya.

"Boleh bertanya? Aku butuh salah satu dari kalian untuk membantuku memilih," kata Sasuke sekalem mungkin.

"Eeehhh?" seru merek heboh sekali. Sasuke memeriksa keadaan sekitar dengan takut karena malu.

"Baik! Baik! Akan kubantu!" seru satunya lagi yang berambut kepang dua, "Kalau ayahku biasanya memilih merek ini karena pisaunya lebih tajam—"

"Mm, bukan." kata Sasuke menghela napas. "Tolong... tolong tunjukkan padaku pembalut yang ada sayapnya."

Sasuke bisa mendengar gelak tawa Naruto dan yang lain dari luar minimarket terkutuk ini.

TBC

Ya ampun cheesy bgt ya maafkan :(

Kalau mau lebih baik lagi, bisa banget lho kalian review ff ini. Jangan cuma dibaca aja ya, review untuk kita bersama HAHA

*Udah nonton movie Me Before You? Satu-satunya film romantis yang bisa bikin saya nangis. that's the only one. Very recommended buat jomblo biar pada baper eeeeh*

Review please :)