Goodnight Like Yesterday

RnR please..?

Gomawo...

Ia berjalan menuju pintu dengan diikuti sekretaris Kim dibelakangnya. Namun,langkahnya terhenti ketika ia

merasakan kepalanya yang tiba-tiba

terasa sakit teramat sangat.

Ia jatuh terduduk. Pandangannya mulai mengabur. Tubuhnya tidak sanggup lagi

menahannya dan ia pun jatuh pingsan.

.

.

.

.

Chapter 3 : Too Late.

.

.

.

Tubuh Hoseok terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Terlihat seseorang disamping Hoseok yang menungguinya dengan gusar.

Ia memegang tangan Hoseok dengan erat. Ia takut jika Hoseok akan meninggalkannya sendirian. Hanya Hoseoklah yang ia punya sekarang. Ia akan melakukan segala cara agar Hoseok tetap berada di sampingnya. Ia pun hanya bisa menangis dan berharap agar Hoseok dapat segera bangun.

Tangisannya terhenti ketika seseorang pria berpakaian jas hitam lengkap masuk dan memberitahukan suatu hal padanya.

"Maafkan aku karena mengganggu. Tapi,kami telah menemukannya."kata pria itu.

"Benarkah kau sudah menemukannya?"kata Hyein penuh harap.

"Iya. Tapi,ada sedikit masalah."kata pria itu.

Seketika wajah Hyein berubah begitu mendengar penjelasan pria suruhannya itu.

"Sepertinya dia mengetahui jika kita sedang mencarinya. Tempat itu sepertinya baru saja ditinggalkan. Hal itu diperkuat dengan adanya sisa-sisa pembakaran kayu yang masih hangat. Sepertinya ia pergi belum lama. Kami sedang berusaha mencarinya."penjelasan pria itu.

"Jadi dia lolos? Bagaimana mungkin ia mengetahui jika kita sedang mencarinya? Cepat cari dia! Aku tidak ingin kita kehilangan jejaknya!."perintah Hyein.

Pria itu pun mengangguk mengerti dan segera keluar dari ruangan. Setelah pria itu pergi,pandangan Hyein kembali tertuju pada Hoseok. Hatinya terasa sakit melihat keadaan anak satu-satunya sekarang.

Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasa bersalah karena semua hal ini terjadi karena dirinya.

"Maafkan eomma Hoseok. Ini semua salah eomma. Jika saja eomma bisa jujur padamu,mungkin kau tidak akan menderita seperti sekarang. Tapi,jika eomma memberitahumu yang sebenarnya,eomma takut kau akan begitu terpukul setelah mengetahui kebenarannya. Aku minta maaf. Aku berjanji akan memberitahumu jika waktunya tiba. Jadi,bangunlah agar kau bisa mengetahuinya. Aku mohon.."ucap Hyein dengan putus asa.

.

.

Flashback

.

Seorang dokter terlihat sedang memeriksa keadaan Hoseok. Hyein yang berdiri tidak jauh darinya merasa sangat khawatir. Saat sang dokter selesai memeriksa Hoseok,ia langsung menanyakan keadaan anaknya.

"Bagaimana keadaannya dok? Tidak terjadi hal yang serius kan?"tanya Hyein dengan khawatir.

"Kondisinya stabil. Hanya saja..."jawab dokter itu dengan kalimat yang menggantung.

"Apa... apa yang salah?"tanya Hyein tambah khawatir.

"Karena adanya trauma di masa lalu. Saat kenangan-kenangan lama itu muncul,dia belum sanggup untuk menanggungnya. Rasa sakit yang ia alami di masa lalu membuat saraf dalam kepalanya terguncang yang dapat mengakibatkan rasa sakit yang teramat sangat pada kepalanya."penjelasan sang dokter.

"Lalu,apa ada jalan lain untuk mengatasinya?"tanya Hyein.

.

.

.

(Terdengar suara seseorang mengetuk pintu).

"Masuklah."perintah Hyein.

Sepasang kaki putih yang jenjang perlahan memasuki ruangan dimana Hoseok masih terbaring tak sadarkan diri.

"Kau sudah datang. Itu hal bagus. Ternyata kau sangat peduli dengan Hoseok. Jika Hoseok tahu dia pasti sangat senang calon istrinya datang untuk menjenguknya."puji Hyein panjang lebar.

"Tidak perlu memujiku dengan berlebihan ibu. Itu sudah kewajibanku sebagai calon istrinya."kata wanita itu dengan tersenyum.

"Ibu?kau memanggilku ibu?. Aku senang mendengarnya. Kau sangat cantik dan pintar. Aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupnya."kata Hyein.

"Oh iya,Kim Yura. Aku dan ayahmu sudah memutuskan tanggalnya. Apakah ayahmu sudah memberitahukannya padamu?"tanya Hyein.

"Iya. Ayah sudah memberitahuku. Tapi,apakah ini baik-baik saja menentukannya tanpa memberitahu Hoseok dulu? Aku takut ia akan membenciku setelah tahu hal ini."kata Yura sambil matanya melihat ke arah Hoseok.

"Dia akan menurut padaku. Kau tidak perlu khawatir. Siapkan saja dirimu dengan baik. Aku ada sedikit urusan. Tolong jaga Hoseok dengan baik."kata Hyein seraya berdiri.

"Baik ibu. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menjaganya dengan baik."jawab Yura dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

Hyein pun meninggalkan mereka berdua. Sebelum benar-benar pergi,ia memandang ke arah Yura yang berdiri di samping Hoseok. Setelah itu,ia keluar dari ruangan.

Saat pintu sudah ditutup,senyuman manis yang ditunjukkan oleh Yura tadi berubah menjadi senyuman yang sinis. Sikap dan ekspresi wajahnya berbeda dengan saat ia berbicara dengan Hyein. Dengan perlahan ia duduk di samping Hoseok dan menggenggam tangannya.

"Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi aku akan memilikimu seutuhnya."kata Yura dengan senyuman sinisnya.

.

.

.

Hyein tiba di ruangannya. Ia memerintahkan sekretarisnya untuk memanggil sekretaris Kim agar menemuinya sekarang.

Tak kama kemudian Sekretaris Kim sudah sampai di ruangannya.

"Anda memanggil saya nyonya?"tanya sekretaris Kim.

"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Ini tentang presdir."kata Hyein to the point.

Seketika wajah sekretaris Kim membeku. Hal itu tentu saja tidak luput dari pandangan Hyein.

"Apa terjadi hal-hal aneh pada presdir akhir-akhir ini?"tanya Hyein.

"Tidak nyonya. Semua yang dilakukan oleh presdir berjalan seperti biasanya. Tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada beliau."jawab sekretaris Kim mencoba menutup-nutupi.

"Apakah itu benar?"tanya Hyein berusaha memastikan.

"Tentu saja nyonya."jawab sekretaris Kim sambil mengepalkan tanganya dengan erat.

Hyein yang menangkap perubahan tingkah laku sekretaris Kim pun merasa curiga dan mempersilahkannya untuk pergi. Setelah sekretaris Kim pergi,ia memanggil sekretarisnya.

"Ikuti dia dan cari tahu latar belakangnya. Aku rasa menutupi sesuatu dariku."perintah Hyein dan segera di iyakan oleh sekretarisnya.

Sementara itu,ketika sekretaris Kim sydah sampai di rungannya,ia segera nenghubungi seseorang.

"Apa kau sudah menemukannya?"tanya sekretaris Kim.

"Kami kehilangan jejaknya. Kami akan berusaha sebaik mungkin."jawab seseorang di seberang telefon.

"Ada satu hal lagi yang aku ingin kau mencarinya. Cari tahu latar belakang nona Kim Yura. Ingat,jangan sampai orang lain mengetahuinya. Lakukan dengan cepat dan bersih."kata sekretaris kim.

"Baik. Saya akan melakukannya dengan sebaik mungkin."jawab orang itu.

.

.

.

Hoseok perlahan-lahan mulai terbangun dari pingsannya. Ia mengerjapkan matanya berkali-berkali karena pandangannya mengabur.

Dengan samar-samar ia bisa melihat ada seseorang yang tengah duduk disampingnya. Ia mengangkat tanyannya berusaha memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing dan terlihat selang infus yang bertengger di tangannya.

"Hoseok-ah...Kau sudah bangun? Apa kepalamu masih terasa pusing?"tanya Yura dengan nada khawatir.

Hoseok pun mencoba duduk dengan bersandar dan dibantu oleh Yura.

"Dimana eomma?"tanya Hoseok.

"Aku baru saja menghubunginya. Aku memberitahunya jika kau sudah bangun."jawab Yura tersenyum dengan memegang tangan Hoseok erat. Hoseok yang melihatnya hanya membiarkan tangan Yura berada di tangannya.

"Oh. Gomawo."kata Hoseok.

"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Lagipula,bukankah kau calon suamiku? Itu sudah sewajarnya untukku."kata Yura.

"Calon suami?"tanya Hoseok bingung.

"Itu benar. Kita akan segera bertunangan dan menikah. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya."kata Yura dengan gembira.

Hoseok mencoba mencerna kata-kata Yura. Akhirnya ia mengerti jika eomma-nya lah yang memutuskan. Ia hanya bisa pasrah mengetahuinya. Tak lama kemudian,Hyein datang dengan tergesa-gesa.

"Kau sudah bangun? Syukurlah."kata Hyein sambil memeluk Hoseok dengan erat.

"Ne eomma. Maaf telah membuat eomma khawatir."ucap Hoseok dengan lemah. Ia balas memeluk Hyein dengan erat.

"Tidak apa-apa. Kau sudah bangun sekarang. Jika kau sampai meninggalkan eomma sendiri,eomma tidak akan pernah memaafkanmu."kata Hyein dengan sayang. Hoseok yang mendengarnya hanya tersenyum simpul dan mempererat pelukannya.

Hyein pun melepas pelukannya dan berterima kasih pada Yura karena telah menjaga Hoseok saat ia tidak ada disampingnya.

"Tidak apa-apa ibu. Karena Hoseok sudah bangun,saya mohon pamit."kata Yura.

"Ya. Kau boleh pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih."kata Hyein dengan tulus.

Yura pun membungkuk memberi hormat dan berjalan meninggalkan ruangan. Setelah sampai di depan rumah Hoseok,ia mendapatkan telefon.

"Yeoboseyo?"kata Yura pada seseorang di seberang telefon.

"Kami menemukannya."ucap seseorang di seberang telefon.

"Kerja bagus. Aku akan menghubungimu lagi nanti."kata Hyein. Ia menyeringai menatap ke arah rumah Hoseok dan segera masuk ke dalam mobil.

Tak jauh dari sana,nampak seseorang yang tengah berdiri dan memotret semuanya.

.

.

.

"Kau harus banyak istirahat. Tidak perlu memaksakan diri."kata Hyein.

"Gwaenchanha eomma. Itu sudah tanggung jawabku sebagai seorang presdir."jawab Hoseok.

Hyein pun memberikan segelas air pada Hoseok. Ia kaget melihat cincin yang tengah dipakai Hoseok.

"Darimana kau mendapatkan cincin itu?"tanya Hyein dengan gemetar.

"Aku menemukannya di kantor. Jadi aku memakainya. Lagipula motifnya bagus. Aku menyukainya."jawab Hoseok.

"Memangnya kenapa?"tanya Hoseok.

"Tidak apa-apa. Eomma hanya ingin tahu."jawab Hyein.

Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Bagaimana bisa Hoseok memiliki cincin itu? Tidak mungkin jika ia memilikinya. Tubuhnya gemetar ketika mengingat kejadian silam.

.

.

.

"Kau bilang kau sudah menemukannya?"tanya Yura.

"Iya. Kami sudah menemukannya. Tapi,dia sudah mati 2 tahun yang lalu."penjelasan orang suruhan Yura.

"Itu hal yang bagus. Aku tidak perlu repot-repot menyingkirkannya."kata Yura dengan tersenyum sinis.

.

.

.

.

Di sebuah ruangan yang cukup gelap,terlihat seseorang yang tengah berdiri di depan rangkaian photo-photo. Nampak photo Yura,Hoseok,sekretaris Kim dan photo orang yang selalu muncul dalam mimpi Hoseok. Ia mengambil photo Hoseok dan menangis. Ia pun berkata

"Maafkan aku Hoseok-ah. Karena melakukan hal ini."

TBC...

Keong-ngesot : makasih buat reviewnya. :-D. untuk sementara 'koma'nya si j-hope akan tetap menjadi mistery dulu...

Aulia rosa :iya. ini chapter 3 nya udah update. makasih buat reviewnya. :-)