STARLIGHT
.
Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
Warning: OOC, typo(s), AU | Genre: Humor, Romance, Family, Drama | Rated: T | Main Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura | Original Character: Uchiha Hikari | Dedicated: Uchizuki RirinIin
.o.O.o.
Bintang jatuh menghancurkan luapan amarah dan pengganggu pohon Sakura. Benih bintang jatuh menghentikan segala cara sang pengganggu untuk menyakiti pohon Sakura. Agar pohon Sakura bisa bertemu seseorang terkasih.
.. Hong Kong, 2:00 a.m.
Bunyi dering telepon di saku kemeja laki-laki berusia 27 tahun. Laki-laki berambut biru gelap malam menggeliat mencari-cari ponsel genggam di saku kemeja. Dengan mata setengah terpejam, laki-laki bernama Sasuke ini melihat daftar nama yang tertera di layar ponsel. Dan ternyata itu dari Uchiha Hikari, gadis kecil yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Sasuke menekan tombol hijau, menempelkan ke telinga kanan, menyandarkan tubuh di sandaran tempat tidur, dan berkata, "Halo, sayang. Ada apa menelepon ayah sejam segini?"
"Ng... Apakah aku boleh pergi ke Hong Kong menemui ayah?"
Sasuke menyipit. "Untuk apa datang ke Hong Kong? Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Aku ingin minta ijin selama dua minggu, ayah. Aku sudah bilang kok ke bu guru Hinata. Dan aku ingin ajak Misa dan Bibi Ino juga sekalian mau ajak Ibu. Boleh, 'kan, Yah?"
Terdengar sebuah pengharapan di telinga Sasuke. Sebenarnya Sasuke tidak ingin mengajak Sakura ke Hong Kong dikarenakan ada ayahnya yang selalu mengganggu kehidupan mereka. Tentu saja Sasuke sangat tahu tabiat ayahnya yang tidak menyukai Sakura.
Sasuke merenung, menentukan pilihan apa yang cocok untuk dijadikan sebuah hal layak keesokan harinya. Dengan tarikan napas, berlama-lama, mengeluarkan secara perlahan, Sasuke mengatakan, "Baiklah. Asalkan kamu pulang saat dua minggu telah berlalu. Ayah tidak mau dimarahi oleh nenek-nenek dan kakek-kakekmu, Hikari."
"Asyikkk!" sebuah suara teriakan menggembirakan membuat Sasuke tersenyum. "Oke, ayah. Besok aku, Misa, Ibu, dan bibi Ino akan datang. Nanti dijemput, ya. Dan jangan lupa, jangan kasih tahu kakek Fugaku, nanti kakek marah lagi."
"Iya, iya. Jadi, pergilah sana. Ayah capek sekali. Sampai jumpa di bandara, ya, sayang."
"Sampai jumpa juga, ayah. Aku sayang ayah!"
"Aku juga sayang kepadamu, Hikari." Sasuke tersenyum. Suara penutup jaringan telah terputus. Sasuke menaruh ponsel ke meja, merebahkan badannya yang remuk, dan menguap tiada henti. Sebelum tidur, Sasuke berdoa semoga besok akan menjadi hari di mana tidak ada pertengkaran aneh-aneh antara ayah dan Sakura. Apalagi di sini ada Karin. "Semoga keesokan harinya berjalan baik-baik saja."
Jepang, 4:00 a.m.
Gadis kecil mungil berusia lima tahun, berambut merah muda memiliki mata hitam, meletakkan ganggang telepon tempatnya. Gadis mungil memiliki nama seperti bintang di langit, Hikari dan mempunyai nama keluarga terkenal, Uchiha.
Gadis kecil ini bangun lebih cepat tanpa membangunkan penghuni rumah ini. Hikari berjalan melihat bintang-bintang bersinar nan indahnya melalui jendela, memikirkan bagaimana caranya agar sang kakek mau menerima Sakura apa adanya.
Hikari tidak tahu apa rahasia kenapa Sakura tidak boleh bersama Sasuke. Hikari butuh penjelasan. Itulah kenapa Hikari ingin pergi ke Hong Kong bertemu sang ayah dan meminta penjelasan dari sang kakek. Biarpun begitu, Hikari anak yang cerdas. Segala seluk beluk rumah ini dan pembicaraan di rumah ini, dia sangat mengetahuinya.
"Setiap memikirkan itu, aku tidak bisa berpikir jernih," kata Hikari mengepalkan tinju kecilnya. "Aku harus meminta penjelasan dari sang kakek. Kalau tidak aku tidak bisa tahu."
Hikari jatuh bersandar di tepi jendela, masih melihat indahnya malam. Entah kenapa, matanya terpejam ngantuk. Hikari pun tertidur. Tidak disadari kalau wanita berambut merah muda melihat anaknya tertidur pulas di tepi jendela.
Sakura berjongkok, menatap anaknya sangat sayang. "Apa yang dilakukan anak ini sampai tertidur seperti ini?" Sakura tidak tahu apa-apa. Akhirnya, dia mengangkat tubuh anaknya ke atas gendongan. Rasa nyaman dihampiri oleh Sakura. Dicium kening Hikari, "Ibu merasa dilindungi olehmu, sayangku. Kamu adalah permata hidup ibu."
Hikari terasa nyaman di pelukan Sakura sambil berucap, "Ibu..."
Sakura mengetatkan pelukannya, "Tidurlah, sayangku. Ibu ada di sini bersamamu."
Sakura membawa Hikari ke kamar utama di mana Sakura dan Sasuke tidur. Jadi, Hikari terus tidur bersama Sakura tanpa ada Sasuke di sisinya. Inilah butuh beberapa logika untuk mengetahui hal itu.
.. Japan, 07:30, a.m.
"Sudah pagi lho, sayang. Kamu tidak sekolah?" Bisa dilihat Hikari bangun, mengerjapkan mata beberapa kali, menguap sedikit dengan ciri khasnya yang keren. Hikari menggeleng pertanda saat ini dia tidak ingin sekolah. Sakura mendekatinya, "Kenapa? Apa karena teman-temanmu nakal padamu?"
Hikari menggeleng, "Tidak." Hikari teringat apa yang dibicarakan sama ayahnya. "Ibu! Aku..."
Kring... Kring... Kring...
Sebelum Hikari berkata, sebuah bunyi ponsel merah muda milik Sakura berbunyi. Sakura mengambil ponsel tersebut di meja samping tempat tidur. Sakura kaget karena baru pagi datang sudah ada meneleponnya yang ternyata adalah Ino. Sakura mengangkat dengan memencet tombol warna hijau, "Halo? Ada apa, Ino? Kenapa pagi-pagi sekali kamu meneleponku?"
"Tidak usah berbasa-basi. Aku meneleponmu untuk mengajakmu pergi ke luar negeri, yaitu Hong Kong!" suara besar muncul di ponsel Sakura, Hikari menyeringai. Sakura menutup telinganya. "Sekarang aku akan menjemputmu. Cepat siap-siap. 30 menit lagi aku akan meneleponmu kembali agar kamu muncul di gerbang depan. Oke!"
"Ta-tapi..." Hubungan jalur terputus. Sakura merasa aneh, kenapa sahabatnya menelepon untuk mengajaknya pergi ke Hong Kong. Ditatap anaknya, "Kamu sudah minta ijin pada gurumu?" Hikari mengangguk pelan. "Kalau begitu bersiaplah. 30 menit lagi, bibi Ino akan menjemput kita. Bersiap-siaplah."
"Baik, Ibu!" Hikari bangkit, keluar dari kamar pribadi Sakura.
Dengan napas terengah-engah, Sakura memijit kepalanya, menepuk wajahnya berharap ini bukan mimpi. "Aku tidak bermimpi." Cepat-cepat Sakura merapikan tempat tidur, memasukkan baju-baju terbaik ke koper besar, mengganti baju, merias diri, dan berdandan rapi. "Aku sudah siap. Entah kenapa aku berharap bisa bertemu Sasuke nantinya."
"Apa ibu sudah selesai?" tanya Hikari menenteng tas ransel berwarna hitam. "Aku dibelikan ini sama Paman Naruto dan Paman Gaara. Hitam kesukaan ayah, jadi aku ikut. Aku tidak suka warna merah muda. Itu terlalu kekanakkan."
Sakura tersenyum geli. "Hahaha... begitu, ya. Terserah padamu, sayang. Itu keinginanmu. Kamu serasi dengan warna hitam itu."
Hikari tersenyum. Memang Hikari paling tidak suka warna merah muda yang terlalu feminim. Biarpun warna matanya hitam itu tidak masalah. Yang merupakan kendala adalah warna rambutnya terkesan mirip warna paling dibencinya, tapi karena dia sangat menyayangi ibunya, jadi tidak ada masalah.
"Kita berangkat dan jangan berisik karena nenek Mikoto sedang tidur. Sstt..." Sakura meletakkan jari telunjuk ke mulut. Begitu juga dengan Hikari.
Ditutup pintu kamar perlahan-lahan, lalu mengendap-endap. Hikari memiliki perasaan bahwa seluruh orang-orang di rumah keluarga Uchiha ini tengah tertidur lelap. Itupun berkat Hikari yang sengaja menaruh obat tidur di makanan mereka saat makan malam. Walaupun kelewat iseng, Hikari tidak berniat meracuni orang-orang di rumah keluarga Uchiha.
Sakura dan Hikari sudah mencapai gerbang. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Sudah waktunya Ino menjemput. Sakura mencari kunci cadangan pintu pagar besar dan panjang menjulang ke atas dengan gerigi tajam di ujungnya. Setelah mendapatkannya, Sakura memasukkan kunci tersebut. Tapi, karena memakai kode pengaman pintu, Sakura menghentikannya.
"Ibu lupa kode pagar pengaman ini?" Sakura panik. Keringat datang di pelipisnya.
Dengan sigap, Hikari maju. Diambil kunci tersebut dan memasukkan ke lubang kunci. Muncullah layar komputer aneh di posko satpam. Diambil kalkulator di dalam tas sampingan, memencet beberapa kali tombolnya dan akhirnya pintu gerbang terbuka.
"Dari mana kamu belajar hal begituan, anakku?" tanya Sakura bingung, mengangkat alisnya.
"Aku belajar sendirian dibantu Paman Kankurou kok, Bu," jawab Hikari kembali memasukkan ke ransel samping. Diangkat tas jinjing tersebut, ditarik tangan Sakura keluar dari taman keluarga Uchiha. Pintu gerbang kembali tertutup.
Di sana, Ino dan Misa telah menunggu keberadaan mereka berdua. Ino lambaikan tangan menandakan kalau dia ada di sana dengan mobil pribadinya sendiri bersama dengan Misa, anaknya.
Sakura dan Hikari berlari menuju mobil putih milik Ino. Dengan napas terengah-engah, Sakura berharap anggota keluarga Uchiha tidak ada mengetahui soal kepergiannya saat ,melewati gerbang tadi. Karena gerbang tadi adalah pertanda dia akan diketahui oleh nyonya besard rumah tersebut.
"Kamu lama sekali, Sakura." Ino cemberut. "Cepatlah masuk. Kita harus tiba di bandara beberapa jam. Jadi, kencangkan sabuk pengaman kalian dan akan kukebutkan mobil ini."
Sakura duduk di samping kursi kemudi milik Ino, sedangkan Hikari duduk di belakang bersama Misa. Ino menyalakan mobil, dan menekan gas. Mobil otomatis berlari kencang menuju bandara.
Mereka tidak mengetahui kalau Uchiha Mikoto telah berlari bersama dengan kepala pelayannya. Uchiha Mikoto masih memakai piyama tidur. Ekspresinya susah ditebak dan tidak ada lagi rasa senang di wajahnya karena sang menantu telah membawa lari cucu kesayangannya,
"Cepat telepon tuan besar tentang hal ini." Mikoto menyuruh kepala pelayan rumah ini menelepon Uchiha Fugaku. Setelah kepala pelayan pergi, Mikoto mencengkram ujung gaunnya, terlihat marah dan gusar. "Jadi, ini permulaan dirimu Uchiha Sakura. Ibu tidak akan membiarkanmu seenaknya saja mengambil cucuku tanpa sepengetahuanku. Lihat saja nanti."
Mikoto berbalik masuk rumah. Mikoto berjanji pada dirinya sendiri bahwa saat ini Sakura harus dijaga dan diperketat pengawasannya. Alasan ini memang sangat tidak masuk akal karena tidak ada satupun yang tahu kenapa orang tua Sasuke sangat membenci Sakura. Hal itu akan diketahui oleh Hikari secepat yang dia bisa.
Beberapa jam kemudian, Ino, Sakura, Misa dan Hikari sudah sampai di bandara. Sesaat Ino meminta petugas bandara mencarikan pesawat pribadi untuk mereka berempat menuju ke Hong Kong. Ino meminta juga kepada petugas bandara agar tidak membicarakan hal ini kepada pemilik bandara, Tenten.
Mereka berempat masuk ke pesawat yang telah disiapkan. Ditemani pramugari, pramugara, dan pilot, mereka berempat cepat-cepat masuk ke dalam pesawat. Dalam beberapa jam, mereka akan tiba di Hong Kong secepat mungkin. Dan waktu menunjukkan jam sembilan lewat. Dan sampai di sana, harus dalam dua jam.
.. Hong Kong, 7:15 a.m.
Pemuda berambut biru gelap malam ini memakai jas biasa bersiap-siap menjemput dua orang paling dicintainya. Sasuke melihat dirinya di cermin pun keluar dari kamar hotel. Saat dibuka pintu hotel tersebut, Sasuke tersentak dan matanya membesar.
"Karin? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sasuke menyipitkan mata.
"Aku ingin mengajakmu sarapan pagi di restoran yang aku temukan kemarin." Karin melihat pakaian Sasuke serapi tidak seperti mau pergi ke kantor. "Kamu mau ke mana, Sasuke?"
Sasuke menutup pintu kamar hotel dan menguncinya. "Aku mau menjemput Sakura dan Hikari di bandara."
Karin kaget. "Sa-Sakura dan Hikari akan datang ke Hong Kong?"
Sasuke melihat Karin terkejut. "Kenapa kamu terkejut?"
"Ti-tidak apa-apa." Karin menggigit ibu jarinya, lalu punya ide luar biasa. "Apa aku boleh ikut denganmu sekalian melihat keponakan kecilku itu?"
"Boleh saja. Aku yakin Hikari senang bertemu denganmu," kata Sasuke terseyum kecil.
Akhirnya Sasuke dan Karin bersama-sama menjemput Sakura dan Hikari di bandara. Tentu saja Karin sengaja agar saudara angkatnya itu macam-macam dengannya karena Karin membuat hidup Sakura menderita lebih dari yang sudah-sudah. Karin ingin mendapatkan Sasuke bagaimanapun caranya.
Waktu menunjukkan jam sembilan lewat empat puluh menit. Sasuke dan Karin menunggu di ruang tunggu. Sasuke memasukkan tangan di saku celana sedangkan Karin terus khawatir jika rencananya gagal untuk mendapatkan Sasuke.
"Ayah!" teriak bocah kecil berambut merah muda. Hikari meloncat ke pelukan ayahnya. Sasuke berputar-putar senang sambil memeluk buah hatinya yang sangat lucu. Sesaat berhenti, Hikari melihat Sasuke tepat di balik mata hitamnya. "Ayah menjemput kami? Aku kira ayah meminta supir pribadi untuk menjemput kami."
"Tentu ayah ingin menjemputmu, sayang. Karena ayah ingin bersamamu dan ibumu," Sasuke tersenyum. Mata Sasuke melirik Sakura, "Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Sakura."
Sakura canggung. Ini bukan pertama kalinya dia seperti ini, tapi sudah ke sekian kalinya. Sakura Cuma mengangguk seakan-akan ini bukan mimpi karena Sakura sudah tidak sanggup untuk buka suara berkat dirinya yang gugup dan juga takut.
"Aku tidak menyangka kalau kamu ada di sini bersama anakmu, Ino." Sasuke menyengir.
"Memangnya kenapa kalau aku juga ingin berlibur, Sasuke?" Ino balas menyengir menatap Sasuke. Lalu, tatapan matanya melihat Karin. "Aku juga tidak tahu kalau kamu mengajak wanita busuk itu kemari, Sasuke."
Sasuke tahu siapa yang dibicarakan Ino. Dilirik Karin yang tidak mempedulikan ekspresi marahnya, "Dia yang mau ikut, jadi aku mengajaknya."
"Oh..." Ino membentuk senyuman simpul melihat wajah Karin menahan amarah. "Oke, antar kami ke hotelmu, Sasuke. Aku tidak mau berlama-lama di sini di samping wajah perempuan ini."
"Oke, oke." Sasuke menurunkan Hikari dari pelukan, mengambil tas ransel Hikari dan koper Sakura tanpa memakai jasa layanan pengangkut barang. Soalnya Sasuke sudah kuat dari awal.
Sakura melangkah sambil merunduk. Namun, langkahnya terhenti dikarenakan Karin menahan pergelangan tangan siap memaki-maki Sakura. Sakura menoleh dan terperanjat. Langsung ditarik oleh Karin menjauh dari Sasuke, Ino, Misa dan Hikari.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sakura yang mulus. Sakura mundur dan menahan pembatas tangga agar tidak jatuh. Wajah Sakura kaget dan menatap Karin yang sudah marah meluap-luap.
"Ke-kenapa kamu menamparku, Karin? Padahal aku kira kamu baik padaku?" tanya Sakura dengan mata berkaca-kaca.
"Baik?" Karin mengangkat alis dan menyeringai keji. "Aku tidak pernah baik padamu. Aku sengaja masuk ke keluarga itu untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuamu. Tapi, apa yang kudapatkan malah aku dikucilkan bak sampah. Sejak kamu ada bersama Hikari-mu itu, aku selalu dikucilkan dan marah padamu biarpun kamu hanya satu-satunya perempuan di keluarga Haruno. Jadi, aku membalas dendam padamu agar bisa menyakiti hatimu sedikit demi sedikit."
"Tunggu." Sakura berhenti. "Jangan bilang kalau kamu ingin membalas dendam padamu memakai Sasuke?"
Karin melipat kedua tangan di depan dada, "Iya, itu benar. Sekalian merasakan jatuh cinta dan bersama dengan Sasuke tersayang walaupun dia sudah memiliki istri. Aku berharap Sasuke bisa menjadi milikku dengan cara dia bercerai denganmu."
"Itu konyol!" Sakura berteriak marah, tidak lagi merasakan sakit di pipi. "Aku tidak mau kamu merebut Sasuke! Aku sangat mencintai Sasuke! Dan aku berharap Sasuke juga begitu padaku!"
"Tenang dulu, Sakura." Karin menyeringai. "Padahal aku dan Sasuke tadi malam sedang bermesraan hebat dan aku yakin kamu tidak tahu akan hal itu."
"Kamu!" Sakura mengepalkan tinju. "Aku tidak akan membiarkan dirimu merebut Sasuke dan keluargaku begitu saja. Tidak akan pernah!"
"Berani-beraninya kamu melawanku!" Karin kembali melayangkan tangan untuk menampar Sakura.
Sakura menutup mata, siap menerima tamparan dari Karin. Namun, tidak ada suara tamparan di pipinya. Saat rasa sakit itu tidak ada, Sakura membuka mata. Sakura kaget melihat Hikari membuat Karin pingsan. "A-apa yang kamu lakukan pada bibi Karin, Hikari?"
Hikari menenteng tongkat pemukul bola dengan wajah sangat puas. "Aku hanya memukul kepalanya agar pingsan saja, Bu."
Sakura mendekati Hikari melewati Karin yang sudah pingsan. "Kamu tidak melakukan hal-hal aneh 'kan, sayang?"
"Aku tidak akan membunuhnya, Bu. Aku hanya memukul bagian vitalnya agar tidak bisa menampar ibu." Hikari menurunkan alat pemukul bisbol ke lantai bandara. Hikari menatap pipi memar memerah akibat ditampar oleh manusia iblis. Hikari menyentuh pipi memar itu, Sakura meringis. "Dia sudah menampar ibu sampai seperti ini? Aku minta maaf datang terlambat dan semoga saja aku bisa melindungi Ibu selama aku masih bersama Ibu. Aku sudah berjanji 'kan akan menjaga ibu?"
Sakura mengangguk sambil berlinang air mata. Dipegang tangan mungil yang menyentuh pipinya. "Ibu sudah mendengar janjimu waktu itu, sayang."
"Jadi, ijinkan aku menjadi pengawal ibu di saat kita mendarat di Hong Kong." Hikari memeluk Sakura, erat.
Sakura pun membalasnya. Menangis di dalam pelukan anaknya.
Tiba-tiba Karin bangun dan meringis kesakitan. Hikari melepas pelukan sang bunda, mengambil tongkat bisbol. Namun, tindakannya dihentikan Sakura. Hikari menghela napas, lalu mencari sesuatu agar bisa menyingkirkan wanita yang telah berbuat kurang ajar kepada ibunya.
Saat menemukan sosok yang tepat, Hikari menghampirinya. Ini membuat Sakura bingung karena Hikari tidak bilang apa-apa Cuma menghampiri orang tidak dikenal. Bisa dilihat Sakura kaget dan siap mundur saat Karin bangun, menatapnya tajam.
"Ke sini, Paman." Hikari menarik orang besar berbadan super gemuk. "Dia orangnya!"
Karin tidak tahu apa-apa ini, ditarik oleh seseorang berbadan gemuk. "He-hei! Apa-apaan ini! Lepaskan aku!"
Karin terus meronta-ronta meminta bantuan, namun tidak ada yang dengar. Padahal di sana ada Sakura dan Hikari. Karin kaget dan terperangah melihat Hikari mengangkat satu tangan memperlihatkan ibu jari. Ditunjuk ibu jari tertanda oke, namun ibu jari itu berbalik arah menjadi turun mengatakan "Rasakan kamu!" sambil menyengir puas.
"A-anak itu..." Karin terpaku. Ekspresinya tidak bisa dibaca, mulutnya terkunci, dan tidak ada pemberontakan lagi dari dirinya. Setiap melihat wajah Hikari seperti melihat Sasuke. Itu menyatakan bahwa Hikari benar-benar anak yang tangguh.
Sakura membungkuk ke Hikari, "Apa yang kamu katakan pada orang itu, sayang?"
"Aku bilang pada Paman petugas itu bahwa wanita iblis yang bangun tadi adalah seorang penderita sakit jiwa," Hikari tertawa puas.
"Eh?" Sakura kaget. "Sa-sakit jiwa?"
"Sudahlah, Bu. Tidak usah pikirkan si bibi jelek goreng tidak bermoral itu. Kita kembali ke tempat ayah, bibi Ino, dan Misa. Karena mereka sudah menunggu kita sedari tadi makanya aku menjemput ibu," Hikari menarik tangan ibunya menuju tempat parkir bandara.
"Bagaimana dengan Karin?" Sakura sempat menoleh melihat sosok Karin sudah tidak ada lagi.
"Kita akan bilang pada ayah bahwa bibi Karin sedang ada tugas penting," Hikari memang memiliki ide yang cukup cemerlang. Membuat ibunya jadi terkagum-kagum melihat anaknya mempunyai IQ cukup tinggi, yaitu 185.
"Baiklah, anakku yang pintar." Sakura mengusap-usap rambut merah muda Hikari penuh sayang.
Hikari berwajah datar dan menampakkan ekspresi serius. Aku tidak akan membuat ibu menangis. Dan aku akan menjaga ibu dari wanita iblis itu maupun kakek Fugaku. Dan aku akan membuat kakek Fugaku angkat bicara soal kenapa keluarga Uchiha kecuali Paman Itachi membenci Ibu. Aku harus mengetahuinya secepat yang aku bisa.
.o.O.o.
A/N: Waktu Hong Kong dan Jepang mungkin beda dua jam, ya? Saya tidak mengerti ==a. Nah, baiklah kita memulai dengan membalas request-nya dari para pembaca yang tidak login saja, ya. Untuk yang sudah login, saya lewat PM saja.
Hazel Murai: Biarpun chapter dulu agak bermasalah, semoga saya bisa mempersembahkan chapter ketiga ini untukmu. Dan terima kasih sudah me-review.
Terima kasih sudah membaca chapter ketiga ini. ^^
Love and Hug,
Sunny (Blue) February
Date: Makassar, 01/17/2013
Mind to Review?
