Lewat pengalaman hidup ini, aku sedikit demi sedikit belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu, termasuk untuk tidak menyia-nyiakan seseorang yang telah mencintaiku dengan tulus. Aku tahu aku ini salah karena telah mempermainkannya, menjadikannya boneka baru, dan membohonginya tanpa berpikir panjang. Seharusnya aku tak perlu mengucapkan tiga kata itu sejak awal—lebih baik aku bisu daripada menerima kenyataan pahit seperti ini.

Aku terus berlari dan berlari, menembus hujan deras yang mengguyur kota. Otakku hanya memikirkan keadaan Kyungsoo, mulutku hanya menggumamkan nama Kyungsoo, dan mataku hanya mencari sosok Kyungsoo. Ke mana sosok itu pergi? Setelah Sehun memberitahu kebusukanku padanya, pasti dia sangat sedih dan tak mau menemuiku untuk kedua kalinya.

Itu sudah pasti, kan?

"Di mana dia? Apa sudah tiba di rumah?" kecemasanku meningkat dari waktu ke waktu. Sosok rapuh sepertinya tak mungkin bisa bertahan di tengah hujan deras, lagi-lagi ini salahku, "Kumohon—aku hanya ingin minta maaf…"

Aku mempercepat langkahku menuju rumah Kyungsoo. Tiap langkah, aku selalu berharap sosoknya berada di rumah dalam keadaan sehat. Kumohon jangan sampai aku menemukannya menggigil di tepi jalan dalam keadaan basah kuyup, atau bahkan tersesat di jalan. Melihatnya tertipu saja sudah membuatku sangat tersiksa, bagaimana melihatnya kehujanan?

Aku merasa seperti makhluk paling kejam di dunia ini.

"Ah, di situ kau!" aku memekik senang ketika menemui sosoknya berdiri di sudut trotoar dalam keadaan basah—sebenarnya hatiku merasa teriris ketika melihatnya, "Kyungsoo!"

Sosok bertubuh kecil itu menoleh ketika namanya dipanggil. Wajahnya basah karena dua hal; air mata dan air hujan. Kedua matanya berkaca-kaca, dan tubuhnya menggigil kedinginan. Sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padaku, sebab hal-hal yang tak ingin kulihat malah muncul di hadapanku, seperti ribuan batu kerikil yang menghantam kepala.

"Pengkhianat." Kyungsoo menatapku dingin, lebih dingin daripada temperatur kala itu, "Kau pengkhianat, pergi saja sana. Tinggalkan aku, aku muak melihat mukamu itu."

Aku menggigit bibir bawahku gugup, "Kyungsoo, aku mau bicara padamu. Tapi tidak di sini."

Kyungsoo membuang muka, namun aku melihat keraguan di dalamnya. Ia memeluk tubuhnya erat ketika bulir-bulir air hujan yang mengguyurnya semakin deras daripada yang tadi. Kyungsoo terlihat sangat kedinginan, bibirnya membiru dan bahkan aku tak berani menyentuh kulitnya yang sedingin es. Aku harus apa?

"Kyungsoo, ayo pulang dan kita bicarakan ini. Aku tahu kau kecewa, aku juga kecewa tahu! Cepatlah!" titahku dengan raut khawatir, tapi mirisnya Kyungsoo hanya mengabaikanku sambil mengeratkan pelukan pada tubuhnya, "Nanti kalau kau mati bagaimana? Orangtuamu pasti sedih, kan?"

"Biar saja kalau aku mati! Justru hal itu akan membuatku lebih tenang karena tidak bertemu denganmu lagi." Kyungsoo mengelak. Kini situasi sulit kukendalikan, ditambah petir mulai menyambar dan angin bertiup sangat kencang. Badai akan datang.

"Do Kyungsoo! Dengarkan aku—"

"Apa yang perlu kudengarkan? Leluconmu? Itu sudah jelas sekarang, aku tak butuh penjelasanmu lagi—lepas!" Pemuda bermata bulat itu mulai meronta ketika aku mencengkram pergelangan tangannya, "Lepas bodoh!"

"Ukh!" dengan terpaksa aku melepas cengkramanku karena Ia menggigit lenganku. Kyungsoo segera berlari ke seberang jalan, namun—

Brak!

—Ia tak sadar kalau sebuah mobil tengah melintas dengan kecepatan penuh.

.


.

[ Just a Joke? : Final Part ]
{ Kim Jongin x Do Kyungsoo }

.


.

Aku termenung di meja sambil bertopang dagu ke arah jendela yang terbuka lebar, menampilkan halaman belakang sekolah yang asri dan luas. Langit senja kala itu terlihat sangat indah, beberapa kawanan burung terbang kembali ke sarangnya. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut menerpa wajahku. Ketenangan yang kurasakan saat ini hanya berlaku sebentar—sekitar lima belas menit—dan hanya bisa kurasakan ketika pulang sekolah.

"Sampai kapan mau di situ terus, Kim Jongin?" aku menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok pemuda berambut brunette berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di depan dada, "Apa kau mau menginap di sekolah ini, eh?"

Aku menatapnya datar sebelum mengarahkan pandanganku ke jendela lagi, "Menginap atau tidak, itu bukan urusanmu. Pulang sana, kau tak perlu ikut-ikutan pulang terakhir sepertiku."

"Ketus sekali, sih." sosok itu merengut seraya mendekatiku, menciptakan sebuah rasa tidak nyaman untukku, "Kau itu sudah membunuh, masih saja bersikap sok. Memang sampah."

Aku berusaha mengabaikan dua kalimat tajam yang terlontar dari mulutnya barusan. Jelas sekali hatiku terasa sakit, dan rasa penyesalan kembali menggerogoti hatiku secara cepat. Omongan-omongan menusuk seperti itu selalu menjadi sapaan dari orang lain ketika bertemu denganku, dan aku selalu membangun dinding kokoh tembus pandang di sekitarku agar tak mudah terpengaruh.

Tapi lain lagi ceritanya kalau Byun Baekhyun yang berkata tajam.

"Sejak awal aku sudah memperingatkan Kyungsoo untuk menjauhimu, tapi dia tetap bersikukuh untuk mendekatimu, dan—tanpa kuduga, kalian berdua menjadi sepasang kekasih berkat leluconmu itu," Baekhyun menghela nafas panjang lalu menduduki salah satu meja, "Terima kasih ya, gara-gara kamu, Kyungsoo jadi menderita dan ditabrak mobil."

Mendengar ucapannya, sontak saja aku tersulut amarah lalu bangun dari kursiku dan menggebrak meja, "Aku tidak membuatnya ditabrak mobil! Dia sendiri yang ceroboh ketika menyebrangi jalan! Aku yang mencintai Kyungsoo tak mungkin mendorongnya ke jalan raya!"

Baekhyun hanya menatapku dingin, "Kalau kau mencintai Kyungsoo, kau tak akan seceroboh itu untuk membiarkannya menyeberangi jalan!"

Aku mengepalkan kedua tanganku kesal—kesal pada diriku sendiri dan kesal pada sosoknya yang begitu menyudutkanku seolah-olah akulah pihak paling kejam. Padahal, aku tidak mendorong Kyungsoo, tapi aku—aku terlalu ceroboh seperti ucapannya tadi. Seandainya waktu itu aku lebih peka terhadap keadaan sekitar, mungkin aku tak perlu menyaksikan sosoknya terbaring di atas aspal dengan bersimbah darah—

Berhenti! Kenapa semakin lama aku semakin menyalahkan diriku sendiri?

"Aku tidak membunuhnya, bukan aku pembunuhnya! Salahkan si pengemudi mobil yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi padahal di tempat itu tidak diperbolehkan!" aku berusaha mengelak, "Dan berhenti menyalahkanku atas kematiannya!"

Tanpa berbicara lagi, aku segera berjalan meninggalkan kelas.

Dan di luar dugaanku, segerombolan siswa dengan telur busuk dan tepung telah menantiku di luar kelas.

.

.


.

Esok dan esoknya pun selalu sama. Aku selalu disudutkan dan dihina oleh siswa-siswa lain yang menganggapku sebagai pembunuh dan pelawak. Mereka bertindak seakan-akan aku adalah makhluk terkejam dan makhluk paling hina—bahkan ada sebagian dari mereka yang menyumpahiku untuk mati. Perlahan namun pasti, dinding-dinding kokoh nan transparan yang mengelilingiku mulai runtuh dan aku memutuskan untuk keluar dari sekolah.

Iya. Keluar dari sekolah adalah pilihan yang sangat tepat bagiku. Tak ada tempat tinggi bagi orang sepertiku, mereka terlanjut menjudgeku sebagai pembunuh—beragam hal yang kulakukan untuk membalikkan image akan berakhir sia-sia. Sebenarnya kalau lebih teliti lagi, aku belum tentu membunuh Kyungsoo sebab setelah kecelakaan hari itu, sosoknya lenyap bagaikan di telan Bumi.

Byun Baekhyun menyebarkan rumor bahwa Kyungsoo telah tewas karenaku—Ia berpikir kalau aku sengaja membiarkannya menyeberang jalan agar tertabrak mobil sehingga mirip dengan skenario pembunuhan berencana. Aku tak tahu darimana dia mendapat teori gila seperti itu, tetapi para siswa di sekolahku mempercayainya dan mulai menyalahkanku sebagai seorang pembunuh.

Tapi, hey! Do Kyungsoo itu hilang, bukan mati.

Aku berulang kali mencoba untuk menghubungi Kyungsoo, namun tak ada yang pernah berhasil. Ke mana sosoknya pergi? Dia harus bertanggung jawab karena telah membuatku terjerumus dalam masalah berat yang membuatku disudutkan oleh para siswa—bahkan Sehun berada di pihak mereka, dan tak menganggapku sebagai sahabatnya. Inikah… balasan Kyungsoo atas lelucon tololku yang telah mempermainkannya?

Ah, aku merasa pantas untuk mendapatkannya.

Tapi—

Tak semudah itu untuk meninggalkan beban berat kepadaku kan, sementara kau pergi tanpa kabar dan tak pernah kembali lagi?

"Kim Jongin!" suara cempreng adikku, Krystal, mengagetkanku dari lamunan di siang hari. Gadis itu melempariku tumpukan surat-surat dengan wajah bosan, "Aku capek mengangkut tumpukan surat itu tiap harinya. Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa surat untukmu banyak sekali? Sedangkan surat untukku tidak ada."

"Krystal, aku juga capek menerima surat-surat ini." aku melirik tumpukan surat-surat dalam pangkuanku, "Membaca teror-teror dari mereka hanya akan membuatku ingin mati—lebih baik, buang saja surat ini."

Gadis itu mengerenyitkan dahinya, heran, "Kau sudah keluar sekolah, lalu diteror? Duh, Oppa, kau itu mau jadi apa, sih? Dulu kau itu anak baik-baik yang selalu mendapat peringkat sepuluh besar, tapi sekarang kau jatuh dan selalu duduk di sofa seperti orang yang tak punya semangat hidup."

"Untuk sementara ini, biarlah keadaannya normal. Kau boleh pergi, tapi tolong buangkan surat-surat ini." aku mengembalikan surat-surat itu pada Kyrstal lalu memberi isyarat untuk pergi, "Cepatlah. Sekarang aku sedang sakit dan tak bisa bergerak, bahkan untuk membuang sampah."

"Kau bukan sakit. Tapi m-a-l-a-s; rajin." ucapnya sebelum pergi meninggalkanku, namun Ia berhenti dan menoleh ke arahku seperti orang yang baru ingat akan sesuatu, "Oh ya,"

Aku meliriknya dengan berat hati, "Ada apa lagi?"

"Minggu depan kita akan pindah rumah karena pekerjaan Appa dipindahkan. Bukan hanya pindah rumah, tapi pindah kota." Krystal tersenyum riang, "Aku yakin kau pasti senang, karena dengan ini kau bisa memulai hidup baru. Tanpa teman-temanmu, dan tanpa Do Kyungsoo. Kuharap Oppa bisa hidup dengan nyaman dan aman di sana."

Tunggu sebentar—pindah rumah? Rasanya seperti mimpi, maksudku—hey sepertinya Tuhan masih berbaik hati padaku, dengan mengirimku ke tempat yang jauh tanpa ada pengganggu. Mungkin Krystal benar, aku bisa hidup dengan tenang di sana, dengan identitas yang bersih. Aku yakin orang-orang kota sana akan menganggapku sebagai Kim Jongin yang baik hati dan ramah, bukan Kim Jongin si pembunuh.

Aku jadi bersemangat untuk bertemu dengan orang-orang baru.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu, heh? Menyeramkan." tegur Krystal sambil memasang wajah jijik ketika melihat seulas senyum lebar di bibirku, "Aku tahu kau senang, tapi jangan seperti itu. Dasar gila."

Aku hanya menatapnya—masih dengan senyuman, "Aku memang sudah gila sejak 'dia' tiada."

Dan, Krystal berlalu.

.

.


.

Dan, sesuai ucapan Krystal waktu itu, keluargaku pindah ke sebuah kota yang sangat jauh dari Seoul. Kota ini memang tak sebagus kota lama yang kutinggali, tapi setidaknya aku masih bisa merasakan kenyamanan. Semua media sosialku, nomor teleponku, dan e-mail kuhapus demi membersihkan nama, agar tak ada lagi orang asing yang tiba-tiba menghampiriku dan memanggilku sebagai Kim Jongin si pembunuh.

Di kota baru ini-pun aku mulai berteman dengan banyak orang baru. Teman-teman yang selalu bersikap ramah, dan selalu menyambutku ketika bertemu. Perubahan demi perubahan mulai kurasakan tiap detik yang kulewati. Sifat burukku hilang dan berganti oleh sifat-sifat baik. Dengan kata lain; aku kembali bersih.

Di sekolah baruku, aku mempunyai seorang teman dekat bernama Kim Jongdae yang wataknya sangat humoris dan periang—bahkan di hari pertama, Ia sempat menyambutku dengan tarian aneh yang membuatku sangat terhibur. Baru kali ini ada orang yang sangat blak-blakan serta sangat terbuka padaku—kalau Sehun dulu jarang terbuka, Ia sangat pendiam. Tapi, Chen (nama panggilan Jongdae) juga suka penasaran terhadap hal-hal berbau misteri. Aku ingat, ketika kami bertemu untuk pertama kali, sosoknya selalu memborbardirku dengan ratusan pertanyaan seputar kehidupan lamaku di Seoul.

Namun tetap saja, meskipun sifat-sifatku berubah, semua memori dalam kepala ini takkkan pernah bisa kuubah. Entah mengapa semenjak aku pindah rumah, aku selalu memimpikan Kyungsoo—tepatnya di hari kepergiannya. Aku tak tahu kenapa, setiap tengah malam aku selalu menjerit keras dan terbangun dari tidurku. Dan aku menyadari satu hal penting; rupanya identitas baru-pun tak dapat membuatku melupakan semua kejadian yang telah berlalu.

Aku masih saja diteror, mungkin selamanya akan seperti itu.

"Jonginnnnnnnnn!" sahut seseorang sambil melambai-lambai di depan wajahku, "Kenapa daritadi diam terus, hmm?"

Aku menatap sosok itu sejenak sebelum membuang muka, "Bukan hal penting. Kau tak perlu memikirkannya, Chen."

Ia hanya menatapku penuh selidik dan curiga, membuatku sangat risih. Sepertinya sifatnya yang ingin tahu banyak sedang kumat setelah aku membuatnya penasaran. Aku memilih untuk tutup mulut karena saat ini aku sedang dalam keadaan yang buruk. Kenangan pahit itu lagi-lagi berkumpul dalam benakku, menjadi terror mengerikan tanpa henti—terus berjalan layaknya roda yang berputar.

"Kau tahu, Jongin? Kau itu orang paling misterius yang pernah kutemui, banyak hal yang ingin kukupas darimu." ucap Chen sambil melempariku tatapan tajam, "Karena cita-citaku menjadi seorang detektif, aku pasti akan mengetahui semuaaaaaaaanya tentangmu."

Aku hanya meliriknya malas, "Hmm? Selamat berjuang."

Kami berdua terus melangkah di sepanjang trotoar, tanpa pembicaraan setelah kalimat terakhirku. Chen masih saja memandangku dengan curiga—aku benar-benar muak dengan sifatnya yang ingin tahu banyak. Kalau tak kuberitahu, rasa penasarannya malah akan menjadi-jadi—dan ujung-ujungnya Ia akan meneleponku saat larut malam, hanya untuk menanyai hal-hal yang membuatnya penasaran.

"Oh ya Jongin," tiba-tiba Chen berucap, seakan teringat sesuatu, "Kemarin malam, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sangaattt imut—entah namanya siapa. Tapi dia sangat-sangat-sangat imut. Kalau dia adikku, aku pasti akan memeluknya dengan sangaattt erat."

Aku hanya meresponnya dengan cuek, "Terus?"

"Anak laki-laki itu menyuruhku untuk menanyakan sesuatu pada Kim Jongin. Tapi kurasa dia punya hubungan erat denganmu, Jongin. Kau beruntung sekali bisa dekat dengan anak laki-laki seimut dia. Kau sangat-sangat-sangat-sangat beruntung."

Sedetik kemudian, aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya. Entah mengapa kulitku mulai memucat, dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari dahiku. Aku memandang pemuda di sampingku sambil berdoa dalam hati—semoga tak ada hubungannya dengan masa laluku.

"B-bertanya tentang apa?" tanyaku, heran.

"Lelucon konyolmu sewaktu sekolah di Seoul."

.

.

.

—Dan memang benar, teror itu akan selalu mengikutiku.

.

.

.

End?


(A/N) Yossshhh! Makasih udah baca sampai sini :)

Ada yang masih ingat sama saya dan FanFic ini? Kayaknya gak ada ya—kelamaan hiatus sih T_T

Saya minta maaf ya, kelamaan update ini FF yang udah lumutan. Bener dah, kemarin2 itu sempet nge-blank mau lanjutin kayak gimana—sempet mikir buat hapus. Tapi pas liat review, jadi ngerasa bersalah dan pengen cepet-cepet lanjutin FF ini.

Makasih kepada readers yang udah nyemangatin lewat review X3 Terima kasih banyak, Love u guys! :)

Dan karena ending FF ini agak 'aneh', nanti akan ada sekuelnya X3 Tunggu aja oke? XD

Bye! '-')/


.

.

.

Review Please!