LOVER
.
.
Park Chanyeol & Kim Kai
And others
GS
.
.
Chapter 3: Always
.
.
"Retrograde amnesia, Nona Kim mengidap amnesia ini akibat sebelum mengalami benturan beliau mungkin sedikit tertekan atau stress. Amnesia ini akan memundurkan ingatan Nona Kim tiga tahun ke belakang, putri anda juga tidak akan mengingat orang yang dekat dengannya akhir-akhir ini. Tapi tenang saja, Nona Kim masih akan mengingat anda orangtuanya, karena ingatannya hilang tiga tahun. Saat sadar nanti pasti ia akan bicara tahun ini tahun 2001 padahal 2004. Hanya itu penjelasan saya, saya pamit undur diri."
Gangnam, Korea Selatan, 2016
.
.
.
"Dokter yogiyo!"
Seorang wanita bertubuh tinggi, berjalan ke sebuah ranjang yang di isi oleh seorang pria berlumuran darah. Wanita itu melepas mantel abu-abunya, menggunakan sarung tangan dan memperhatikan luka si pria.
"Cepat siapkan ruang operasinya dia harus segera di operasi." ucap wanita itu membuka sebuah kain yang menutupi luka si pria kecelakaan mobil ini. Ia menatap wanita yang lebih tua darinya bersatus perawat di sampingnya, "Siapkan kantung darah untuk dia." perintah wanita itu lagi sekarang menatap perawat yang lebih muda darinya.
"Dan siapkan pengobatannya juga." lanjut wanita itu mengambil sebuah amplop cokelat hasil CT scan pasien dari rumah sakit sebelumnya.
"Kim saeng ruang operasinya sudah siap dan anestesinya juga." ucap seorang dokter yang ia perintahkan tadi untuk menyiapkan ruang operasi. Wanita itu-Kim saeng atau bernama lengkap Kim Kai mengangguk, "Rumah sakit sebelumnya sudah mengirim hasil CT scan jadi kita harus mengoperasinya sekarang." perintah Kai. Dokter pria itu mengangguk mendorong ranjang pasien ke ruang operasi.
"Kenapa kau telat lagi?"
Kai menoleh memandangi senior sekaligus gurunya dengan senyum. Dia Siwon. "Kemarin aku ada syuting acara kesehatan dan aku pulang pagi, ceosonghamnida." ucap Kai melepas sarung tangannya, membuangnya dan memakai jas dokternya. Menatap Siwon dan seorang perawat seumuran Siwon, perwat Cho Kyuhyun.
"Mau sampai kapan kau menjadi dokter idola sekaligus menjadi dokter UGD?" tanya Siwon sedikit sewot. Kai tersenyum mendengar keluhan Siwon soal dirinya yang selalu sibuk dengan pekerjaan tidak pernah memikirkan dunia luar.
"Wae? Ini pelampiasanku karena tidak bisa menjadi Profesor," Kai tersenyum mengucapkan kalimat itu. Profesor. Ia ingin menjadi seperti ibunya tapi sayangnya dunia sekarang sudah kental dengan KKN. Orang-orang yang selalu mengandalkan hal seperti itu pasti akan selalu menang dan tidak akan pernah terkalahkan. Siwon dan Kyuhyun saling berpandangan mengerti arti kalimat frustasi Kai. Tentu saja frustasi karena kalah oleh KKN.
"Kim saeng, 5 menit lagi pasien kecelakaan motor akan segera datang."
Kai menghela nafas tersenyum lebar pada Siwon dan Kyuhyun yang menghela nafas karena mereka baru saja sedikit bernafas sekarang sudah ada lagi kecelakaan. Ia tersenyum melihat pasangan yang tidak pernah mengaku ini. "Sarapan hangat baru saja datang. Kajjo!" ucap Kai sambil berlari menuju lobi rumah sakit diikuti Siwon dan Kyuhyun dari belakang.
Kehidupan barunya. Setelah sadar dari kecelakaan itu memang benar kata dokter ia melupakan segala yang terjadi selama 3 tahun termasuk Chanyeol. Sehun memilih tidak menceritakan orang bernama Chanyeol itu karena menurutnya Chanyeol adalah pria bajingan yang sangat tidak pantas untuk Kai dan ia yakin sahabat masa kecilnya ini bisa hidup tanpa Chanyeol dan benar dugaannya. Kai bisa hidup normal setelah menerima semua cerita menyedihkan tentang ayahnya dan ia berjanji akan menyelamatkan hidup manusia dengan cara menjadi dokter dan semua itu terwujud. Tapi, setelah semua ingatannya perlahan kembali ada yang masih kurang di dalam dirinya. Ada yang mengganjal. Dan ia tidak bisa mengingat kejadian apa itu?
.
.
La Rinconado, Distrik Ananea, Provinsi San Antonio de Putina, Peru, 2016.
"Abre la boca ..."(Buku mulut mu…)
Perintah seorang pria pada seorang anak kecil yang terlihat kumuh dan sedikit pucat. Lalu mengcek suhu tabah anak ini. "Panasnya memang sudah turun tapi dia harus tetap di rawat aku juga menemukan gejala Pneumonia." Pria itu mengambil hasil CT scan dari tangan seorang berrambut blonde, tubuhnya tidak kalah tinggi darinya.
"Gejalanya tidak terlalu parah, masih bisa kita tangani," ia menatap wanita yang berdiri tidak jauh dari anak ini. "No se preocupe. Su niño será hospitalizado unos días y estará a salvo." (Jangan khawatir anak anda akan kami rawat dan dia akan selamat) Tersenyum hangat meskipun senyum ini senyum palsuucap pria itu-Park Chanyeol.
"Gracias." Chanyeol mengangguk. Pria di sebelahnya menuntun anak tersebut keluar dari ruangan Chanyeol membawanya ke ruang rawat diikut oleh ibunya. Chanyeol menghela nafas, melapas stetoskop yang menggantung di lehernya, menaruhnya di atas meja.
Kalian benar sekarang Park Chanyeol seorang dokter. Dokter bedah dengan gelar PhD di tangannya dalam waktu 6 tahun. Meskipun sekarang ia seorang dokter, janjinya pada David soal menjadi ketua mafia itu masih ia jalani. Setelah menjadi dokter di rumah sakit tapi bangunannya kecil lebih pantas dibilang klinik, ia kembali ke Lima untuk menjadi ketua mafia. Menjual narkoba, pelacur, membunuh dan pekerjaan kotor lainnya. Dua pekerjaan sekaligus dan sangat bersinggungan dengan dirinya.
"Melamunkan apa?" tanya seorang pria yang baru masuk setelah mengantar anak kecil tadi. Pria keturunan China-Kanada ini sama dengan dirinya. Dokter sekaligus anggota mafia. "Penyakit anak tadi hanya campak tidak usah berlebihan seperti itu dan lagi kau harus bersiap-siap karena besok kita akan ke Korea." Kris nama pria itu berucap sambil melepas jas dokternya, duduk di hadapan Chanyeol sambil memainkan ponselnya.
"Aku melamunkan dia? Apa dia masih hidup atau tidak?"
"Ya!" teriak Kris jengkel. "Kau sudah tahu kabarnya setiap tahun dari mata-matamu, dia baik-baik saja, putus dari pacarnya, menjadi dokter, berkali-kali interview untuk professor tapi gagal dan bekerja di rumah sakit milik Choi Seunghyun. Kau sudah tahu itu dan apa yang kau lamunkan?" tanya Kris. Chanyeol tersenyum kecil. Benar juga ia tahu kabar Kai setiap tahun jadi kenapa dia selalu melamunkan Kai? Mungkin melamunkan tapi merindukan gadis itu.
"Aku takut bertemu dengannya dan kau juga harusnya takut kembali ke Korea karena dia." balas Chanyeol tidak mau kalah. Kris berdehem, tidak berniat membahas masa lalu Chanyeol karena bajingan ini pasti akan membahas hubungannya yang sangat kacau.
"Aku harus bersiap-siap. Nodoyo," ucap Chanyeol menunjuk Kris yang masih asik memandangi ponselnya. Chanyeol berdecih melihatnya, ia berjalan keluar ruangan ia harus bersiap-siap mengantar narkoba untuk Seunghyun dan juga anaknya itu.
.
.
.
Gangnam, Korea Selatan.
"Yogi wae ije?"
Pertanyaan konyol menurut Kai dan beberapa orang di ruang operasi ini. Wanita yang merebut gelar professor nya dengan menggunakan KKN. Krystal Jung tersenyum lembut tapi seperti meremehkan Kai.
"Aku menggantikan Professor Lee yang sedang mengoperasi pasien lain. Tekanan darahnya semakin menurun kita harus mengoperasinya dan kau adalah asistenku."
Kai sebisa mungkin tidak tersulut emosi. Ledekkan yang sangat menyindir untuknya. Krystal tersenyum ramah pada semua termasuk Kai meskipun tidak terlihat kalau sebenarnya ia menyeringai menang pada Kai.
"Mess~"
Tidak seperti biasanya, ia selalu berceloteh pada professor lain tapi sekarang ia seperti terlihat perang tatapan dingin pada Krystal yang seenaknya tidak memberi tugas apa-apa pada dirinya. Ia memang asisten tapi Krystal melakukannya terlalu lama, ia takut nyawa pasien ini melayang karena gaya Krystal yang sok jago.
"Aku dengar acara TV mu rating nya semakin meroket. Chukaeyo~"
"Hm, gomawo. Kau juga semakin menjadi bahan pembicaraan karena semakin jarang masuk ruang operasi." balas Kai tidak mau kalah. Krystal membuat suara tawa kecil seolah-olah yang dikatakan Kai sebuah lelucon padahal benar-benar terjadi. Tidak lama setelah suara tawa Krystal bunyi nyaring dari alat EKG membuat semua orang terkejut.
"Mwoya? Kau pegang apa?" tanya Kai panic. Sementara Krystal sudah menjauhkan tangannya, menatap layar EKG terkejut dan takut karena tekanan darah menurun secara dratis. Kai kembali pada pasiennya, memeriksa apa yang terjadi pada organ dadanya. Krystal tanpa sengaja merobek kavum pleura.
"Terjadi Tension Pneumothorax, kita harus melakukan dekompresi. Jarum abbocath 14!"
"Aku ahli bedahnya!"
Kai menghela nafas melihat tingkah sok Krystal masih berlaku di saat-saat seperti ini. "Geroum paliyo!" perintah Kai lebih terlihat membentak pada Krystal. Beberapa detik Krystal hanya diam sampai ia berteriak meminta jarum abbocath 14, menusuk ke rongga pleura dan setelah mandrin dicabut yang terjadi keluar darah mengenai Kai dan perawat di samping Kai.
"Micheosseo?! 28 french CTD!" Krystal menggeleng melangkah mundur takut dan terlalu panic. Kai berdecih mengambil alih meja operasi. Ia tidak mungkin membiarkan pria ini menjadi mayat hanya karena gaya sok Krystal yang semakin menjadi-jadi.
Beberapa jam kemudian Krystal hanya diam di tempat dengan tangan gemetar, keringat dingin bercucuran melihat Kai. Nafasnya tidak beraturan karena hampir membuat pasien ini mati. Kai melirik Krystal khawatir, mental bocah bermarga Jung ini belum siap untuk hal mendesak seperti sekarang ini.
"Jantung dan tekanan darahnya sudah normal." ucap salah satu perawat bernafas lega karena ia tidak melihat mayat di sini melainkan pasien selamat. Kai menarik nafas lega, melirik Krystal yang masih berdiri di tempat. "Syukurlah kita tadi hampir tamat. Kau bisa selesaikan jahitan ini?" tanya Kai yang langsung diangguki Krystal.
…
Kai keluar dari ruang operasi dengan ocehan mengenai Krystal dan wajahnya memerah menahan emosi dan rasa kesalnya, membuka penutup kepala, masker, sarung tangan dan baju operasinya kasar. "Kenapa dia selalu merepotkan orang dengan tingkah sok nya? Apa dia tahu kalau tadi itu membahayakan? Dia harusnya sadar harus banyak berlatih!"
Ia berkacak pinggang menahan segala emosi dari dalam dirinya agar tidak meluap secara percuma. Melirik salah satu dokter yang sedikit takut dengan kekesalan Kai. Ia tersenyum menyadari satu hal kalau ia baru saja bertingkah tidak seperti dokter.
"Apa kau takut melihat kekesalanku?" tanya Kai pelan. Dokter wanita itu menggeleng, membalas senyum Kai, "Anniyo, aku lebih takut saat di ruang operasi tadi." Kai tersenyum mendengarnya. Ia menundukkan tubuhnya, menatap perut dokter bermarga Jeon ini yang sedikit membuncit.
"Apa kau juga tadi takut melihat kekesalanku? Atau saat di ruang operasi?"
Jeon Jungkook nama dokter itu menggeleng, tersenyum kecil melihat Kai sangat senang karena melihat perutnya yang mulai membuncit lalu menatap Jungkook sambil melipat tangannya di dada.
"Apa bocah itu sudah bertanggung jawab?"
"Nde, igo~" jawab Jungkook sambil memperihatkan cincin emasnya pada Kai. Kai tersenyum melihatnya, usianya sudah 30 tahun tapi tidak ada satupun pria yang menarik perhatiannya mungkin karena ganjalan di hatinya yang masih tidak ia ketahu kenapa bisa terjadi.
"Chukaeyo~" ucap Kai pelan, menatapi cincin itu terus menerus. Ia berjalan pergi, mendahului Jungkook yang pasti menemui Kim Taehyung calon suaminya sementara dirinya ia berharap saja Sehun mendapat shift malam sehingga ia tidak bersama Luhan dan doanya terkabul. Luhan sedang memberesi mejanya. Ia, Luhan dan Sehun menjadi dokter. Cita-cita mereka semua tercapai, Luhan menjadi dokter spesiali orthopedic, Sehun dan dirinya menjadi spesialis bedah.
"Aku benar-benar kesal padanya saat di ruang operasi itu!"
Luhan tersenyum mendengar curhatan Kai soal Krystal yang selalu membuat masalah berakhir dengan dirinya yang harus menyelesaikan masalah itu. Ia menuangkan soju ke gelas besar Kai dan langsung diminum sekali teguk dan kembali mengoceh.
"Ya! Percuma saja kau seperti ini kau akan terus melihatnya dan akan terus menjadi asistennya dalam operasi-operasi berikutnya." Kai berdecih mendengarnya. Yang dikatakan Luhan memang benar sih. Ia akan terus menjadi asisten Krystal meskipun ia tidak mau sekalipun.
"Kau benar-benar putus dengan pacarmu?" tanya Luhan sambil menopang dagunya, menatap Kai kasihan. Semenjak sadar dari koma itu sifat Kai yang awalnya pemalu terhadap laki-laki berubah, ia menjadi sedikit berani dekat dengan pria bahkan memiliki banyak mantan pacar tapi tidak ada satupun yang berhasil. Kai mengangguk, merapatkan jaket abu-abu, "Dia itu pria brengsek. Aku menangkap basah dirinya tapi dia masih bisa mengelak terpaksa aku menyiramkan segelas jus ke wajahnya."
Luhan terkekeh mendengar cerita Kai soal bagaimana dia memutuskan pacarnya kemarin. Kekehannya berhenti mendengar kalimat Kai berikutnya, "Mungkin karena ganjalan itu. Aku sulit memulai hubungan karena ganjalan aneh itu, aku belum menemukan seseorang yang bisa melepas ganjalan ini."
Luhan tahu arah pembicaraan Kai. Ganjalan itu berkaitan dengan Chanyeol, meskipun otaknya tidak bisa mengingat Chanyeol pasti hatinya masih mengingat Chanyeol.
"Lulu, kau sudah tahu Jungkook sedang hamil anak Taehyung," ucap Kai membuyarkan lamunan Luhan. "aku tidak mengerti pasangan aneh itu, mereka selalu bekerja setiap hari. Bagaimana dia bisa hamil?" tanya Kai sambil meminum sojunya. Luhan tertawa sumbang sebelum menjawab pertanyaan Kai dengan kalimat vulgar, "Mereka bisa melakukan sex di rumah sakit besar ini, bahkan aku pernah menangkap basah mereka sedang berciuman di toilet."
"Ommo!" Kai menutup wajahnya, malu mendengar kalimat vulgar seperti itu keluar dari mulut wanita kalem dan elegan seperti Luhan, "Princess Luhan byuntae!" Luhan menjejalkan cemilan ke mulut Kai sebelum orang di luar sana mendengarnya.
"Kau belajar darimana? Apa Sehun yang mengajarkannya?" tanya Kai meledek, beberapa detik setelahnya sebuah jitakan mendarat mulus di kepalanya. Ia menoleh menatap kesal pada Sehun yang tidak terima dirinya disangkut-pautkan pada obrolan Kai Luhan.
"Aku memang byuntae tapi aku tidak pernah mengajarkan Lulu seperti itu," Sehun membela diri, mengambil kursi dan duduk di samping Luhan.
"Kalian sudah dengar berita baru tentang sajangnim?" tanya Sehun sambil mengambil beberapa camilan di atas meja Luhan.
"Wae? Apa dia terlibat kasus lagi?" tanya Kai sambil menuangkan lagi soju ke gelasnya. Sehun menggeleng. Choi Seunghyun memang sering terlibat kasus tapi tidak pernah terekspos media karena uang, apa mungkin dia terlibat kasus lagi?
"Choi sajangnim akan diganti oleh seseorang dari Peru menurut gossip dia keponakannya, seorang dokter bedah dengan gelar Phd di Harvard dalam waktu 6 tahun. Dia jenius seperti dirimu." Kai menatap tidak percaya kenapa memilih presdir bukan dari keturunannya malah dari orang lain? Ia menegakkan tubuhnya, menopang dagu menatap sahabatnya ini seksama.
"Kenapa bukan Choi Seungri saja? Dia anak Choi sajangnim dia juga pintar dalam bisnis, kenapa bukan Seungri saja?"
"Molla dan calon presdir itu memiliki rumah sakit di kota La Rinconada." Kai dan Luhan mengernyit mendengar nama kota yang begitu asing di telinganya. Sehun menghela nafas, mengambil ponselnya dan membuka google maps.
"Kota tertinggi di Peru, presdir baru itu memiliki rumah sakit di kota La Rinconado. Aku yakin aku masuk dalam daftar relawan yang akan dikirim ke rumah sakit presdir baru ini." ucap Sehun menundukkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan kepalanya, tidak bisa membayangkan kalau ia akan menjadi relawan di tempat seperti itu. Tempat paling tinggi dan juga dingin. Kai tertawa keras mendengarnya, sementara Luhan tersenyum mengusap-usap kepala Sehun sayang.
"Kau tidak pulang Kai?" tanya Sehun masih dengan kepala di antara kedua tangannya. Kai mendelik ke arah Sehun karena sahabatnya ini terkesan seperti mengusirnya untuk cepat-cepat pergi. Luhan tersenyum melihat tingkah pacar dan sahabatnya ini. Kai balas tersenyum, kembali melamunkan menatap lurus ke langit malam Gangnam. Entah kenapa ia merasa ganjalannya ini akan segera berakhir, mungkin seseorang yang bisa melepasnya akan datang.
.
.
.
.
"Kenapa harus ke rumah sakit bertemunya?"
Dua orang pria berkacamata hitam memasuki rumah sakit elit di daerah Gangnam. Dua pria itu adalah Chanyeol dan Kris. Mereka hanya perlu bertemu untuk mengantarkan narkoba dan membicarakan soal Chanyeol yang akan diangkat menjadi presdir di sini. Ia juga tidak tahu kalau dirinya akan menjadi calon presdir rumah sakit ini untuk menutupi bisnis narkobanya.
"Aku tidak ingin bertemu dia," ucap Kris penuh harap. Ia memandangi sekeliling berharap tidak bertemu dengan seseorang yang membuatnya takut ke Korea. Chanyeol tersenyum kecil melihat tingkah Kris, ia memukul punggung Kris beberapa kali seakan memberi semangat.
"Tapi, Tuhan tidak mendengar doamu." Kris memandangi Chanyeol aneh setelah tubuhnya dibalik ia baru paham maksud Chanyeol. Seorang wanita bertubuh tinggi, berkulit langsat nampak terkejut melihat Kris. Beberapa perawat yang ada di sekelilingnya tadi sedikit menjauh melihat kontak mata dokter wanita itu dengan pria di hadapannya.
"Aku akan mencari ruang Seunghyun sendiri," ucap Chanyeol berjalan menjauhi Kris dan dokter wanita itu.
Beberapa saat hanya hening di antara mereka, sampai wanita itu berjalan ke hadapan Kris. Wanita keturunan China ini tersenyum miris melihat Kris ada di hadapannya. Bisa dibilang mereka mantan tapi keputusan berpisah tidak pernah terucap dari bibir mereka berdua. Wanita bername tag Huang ZiTao semakin tersenyum miris melihat wajah tanpa ekpresi itu.
"Yogi wae isseo?"
Kris hanya diam, menatap lurus kedua iris hitam legam itu. Lidahnya kelu walau hanya sekedar mengucapkan hm. Tao menatap tajam Kris lalu sekeliling rumah sakit. "Jawab aku Wu YiFan." perintah Tao. Masih tidak ada balasan dari laki-laki bertubuh tinggi ini membuatnya hampir kehilangan kontorl emosinya.
"Kau pasti kemari karena berurusan denganku."
"Anniyo, aku kemari karena ada urusan lain." Tao tersenyum semakin miris. Menatap tajam Kris yang masih berwajah datar dan tidak berniat menjelaskan apapun.
"Tapi, kau bertemu denganku jadi urus urusan kita dulu. Ttarawa." Tao berjalan melewati Kris yang masih terdiam di tempat melirik Tao yang berjalan cukup cepat menjauhi dirinya. Ia menghela nafas, memang ia harus menyelesaikan urusannya dulu. Tao memilih lorong rumah sakit yang cukup sepi, mereka saling berhadapan, mengeluarkan tatapan tajam yang mereka punya. Meskpun sangat sulit bagi mereka berdua.
"Entah sudah berapa lama kita tidak saling berhadapan seperti ini," ucap Tao memandangi Kris yang berdiri kaku di tempat. Tao menggeram kesal melihat Kris tetap diam di tempat dengan wajah datar tidak ada penyesalan sama sekali.
"Kenapa kau menghindariku? Kenapa kau tidak mengangkat telfonku? Apa alasanmu?"
"Kau lebih cerdas dariku, ayahku seorang narapidana, meskipun aku kaya tapi keluargaku tidak kaya. Itu alasanku menghindarimu." Tao melangkah maju, memukul dada Kris cukup keras dengan pandangan memerah menahan tangis. Sebisa mungkin ia mencoba tidak menangis tapi ia tidak bisa menahan rasa rindu sekaligus sakitnya selama ini.
"Katakan kau ke sini untuk menemuiku…" pinta Tao dengan suara lirih, air matanya mengalir memohon seperti ini pada Kris, ia kembali memukul dada Kris berkali-kali sebagai pelampiasan emosinya ia tidak peduli jika Kris kesakitan atau apalah. "Katakan kau kembali untuk berbaikkan denganku. Katakan kau merindukanku. Katakan itu semua!" teriak Tao dengan suara lantang tapi terkesan lirih dan menyedihkan.
Kris menjauhkan kepalan tangan Tao, memandanginya lalu wajah Tao yang basah oleh air mata. "Apa kau masih mengingat kegagalan hubungan kita yang dulu?" tanya Kris tanpa hati sedikitpun. Tao menatapnya tajam, ia melepas cengkraman Kris.
"Gagal? Itu berarti kita putus tapi kau tidak pernah mengatakannya begitu juga aku." balas Tao tidak terima dengan kalimat Kris soal hubungan mereka. Jujur ia lelah dengan hubungan putus nyambungnya dengan Kris karena perbedaan derajat antara mereka ditambah pekerjaan Kris yang lain. Orangtuanya sangat tidak setuju.
"Apa aku harus mengatakannya? Hatiku sudah berubah bahkan aku sudah tidur dengan 2 wanita selama di Peru, itu sudah membuktikan aku tidak mengingatmu lagi. Jadi, kau juga harus seperti itu." Tao menggeleng, tidak percaya dengan ucapan Kris yang memang bualan. Ia mengatakannya agar Tao menjauhinya tapi sepertinya tidak bisa, gadis ini terlalu pintar membaca gerak-geriknya.
"Anmido! Geotjimal!" Tao berteriak dengan suara lantang, menatap tajam Kris yang berani mengatakan bualan seperti itu. Kris diam, ia berjalan begitu saja melewati Tao. Dengan kepala tegak dan tidak ada niatan untuk membalik tubuhnya.
"Wu YiFan! Kris Wu! Dokter Wu!" panggil Tao tapi tidak ada satupun balasan dari panggilannya. Ia langkahkan kakinya mengejar Kris yang berjalan cukup cepat tapi ia tidak menyerah. Kris memberhentikan langkahnya, berbalik dan menarik Tao kepelukannya. Melanggar janji yang ia buat sendiri semenjak ia memutuskan untuk menghindari Tao. Ia kembali melanggar janjinya. Tao kembali menangis, membalas pelukan Kris perlahan. Ia sangat merindukan pelukan ini.
…
Mungkin karena ia lebih sering masuk ke rumah sakit yang kecil ia sedikit bingung karena sedari tadi berputar-putar dan kembali ke tempat ini lagi. Ia menghela nafas kesal sekali, menarik ponsel dari saku jeansnya berusaha menghubungi Seunghyun, beberapa menit menunggu tidak ada balasan. Helaan nafas keluar lagi dari mulutnya. Ia kembali membalaikkan tubuhnya, kembali mengelilingi rumah sakit ini untuk mencari ruang presdir itu.
"Tolong beri kami jalan!"
Chanyeol meminggirkan tubuhnya menderang suara troli ranjang melintas begitu kencang dan terburu-buru. Ia kembali sibuk dengan ponselnya berusaha menghubungi Seunghyun.
"Kita membutuhkan lebih banyak darah, Cho sonsaeng."
Chanyeol membulatkan matanya. Membalik tubuhnya untuk melihat dokter yang berteriak tadi, suara itu masih sangat Chanyeol hafal. Suara Kim Kai, ia tidak salah dengar itu suara Kai. Dokter wanita yang berteriak tadi sedang menekan luka di tubuh pasien, jas dokternya berlumuran darah begitu juga tangannya. Meskipun tidak terlihat jelas ia yakin itu Kai, ia masih mengingat suara tegas seorang Kai. Suara yang sama saat ia membutuhkan pertolongan Sehun dulu. Suara itu masih sama.
"Kim Kai-ssi…"
"Chanyeol-ssi, kau lihat apa?"
Chanyeol tidak begitu menggubris pertanyaan Kris, ia masih fokus menatapi Kai hingga menghilang di belokkan lorong selanjutnya. Ia selalu merindukan suara itu, selalu merindukan tindakan cekatannya saat mengobati seseorang, selalu… Park Chanyeol selalu merindukan Kai meskipun Kai mungkin saja tidak merindukannya karena faktanya pasti Kai tidak mengingatnya.
"Urusanmu dengan Tao sudah selesai?" tanya Chanyeol beralih menatap Kris, ia mengernyit melihat baju bagian Kris basah di bagian pundak. "Apa Tao menangis lagi dan memohon kejelasan hubungan kalian?" terka Chanyeol yang langsung dijawab anggukan oleh Kris.
"Dia benar-benar menangis antara merindukanku, kesal padaku atau rasa sakitnya selama ini. Mungkin ia menangis karena tiga hal itu." ucap Kris ambigu. Ia menepuk pundak Chanyeol sambil tersenyum kecil berusaha melupakan kejadian tadi dan menghindari tatapan menyelidik Chanyeol, "Kau kesulitan mencari ruangan Seunghyun, kan? Aku tahu dimana ruangannya." ucap Kris berjalan lebih dulu diikuti Chanyeol yang masih mengamati belokan lorong terakhir yang Kai lewati tadi.
.
.
.
"Omo…"
Kai menjatuhkan tubuhnya di lantai roftoop rumah sakit, memandangi langit sore hari ini sangat cerah. Matanya terpejam berusaha menikmati semilir angina sore menerpa rambutnya, ia bangun dari posisi tidurnya, membuka kotak sandwich nya dan memakan makan malamnya lahap. Ia ada jadwal operasi nanti malam jadi, ia harus makan sekarang untuk menambah energinya.
"Kau bawa berapa sandwich?"
Kai menolehkan kepalanya ke belakang menemukan seorang pria yang membawa kotak sandwich sama seperti dirinya. Kepalanya mengangguk lalu menunjuk kotak sandwich pria itu, "Kau bawa sandwich kenapa bertanya aku bawa berapa?" pria tertawa kecil ikut duduk di samping Kai, membuka kotak sandwich itu dan memakannya.
"Aku ingin makan ditemani seseorang tapi temanku sedang sibuk bersama seseorang," jawab pria itu. Kai mengangguk sedikit berjaga jarak dengan pria asing ini, wajahnya baru mungkin dokter magang tapi dokter magang kenapa wajahnya sedikit tua.
"Ireumi mwomnikka?" tanya Kai berusaha ramah pada pria ini bisa saja dia keluarga pasien. Pria itu tersenyum menjulurkan tangannya untuk berjabatan.
"Park Chanyeol imnida, anda?" Kai tersenyum kecil sebelum menjawab namanya tapi tidak membalas jabat tangan Chanyeol. Ia nekat menemui Kai, ia melanggar janjinya sendiri untuk tidak bertemu Kai jujur rasa rindunya selama ini benar-benar membuat dirinya tersiksa.
"Aku diajari sopan santun tapi aku sedikit tidak percaya dan waspada pada seorang pria," Chanyeol tersenyum kecil, senyum yang keluar dari dirinya bukan dari otaknya. Kai terkesip memandangi senyum pria di hadapannya ini, senyum pria ini tidak asing baginya tapi ia lupa pernah melihat senyum seperti itu dimana?
"Apa kita dulu pernah bertemu?" tanya Kai otomatis, merasa penasaran dengan laki-laki ini. Chanyeol tersenyum simpul menggeleng sebagai jawaban tidak pernah padahal bohong sekali. Kai mengangguk paham, ia kembali memakan sandwich sesekali melirik Chanyeol yang sama sekali tidak meliriknya.
"Apa kau keluarga pasien?" tanya Kai lagi. Chanyeol menggeleng, sebisa mungkin ia menahan gejolak di dalam dirinya untuk memeluk Kai dan meminta maaf padanya tapi itu semua tidak akan terjadi. Sekali pun Kai mengingatnya pasti gadis berkulit tan ini tidak akan memaafkannya.
"Aku ada urusan dengan Choi Seunghyun dan besok aku kembali lagi kemari," jawab Chanyeol sambil berdiri memandangi langit senja hari ini. "aku harus bertemu dengannya lagi." lanjut Chanyeol lalu berjalan pergi begitu saja menghiraukan tatapan bingung Kai. Tentu saja ia bingung, orang itu hanya berbicara beberapa kalimat lalu keluar begitu saja. Orang aneh, itu yang ada di pikiran Kai pertama kali melihat tingkah aneh pria bernama Chanyeol itu.
Di sisi lain, Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada pintu menuju roftoop ini. Rasa penasaran dan rindunya mulai sedikit menghilang karena melihat wajahnya. Tapi, ia tidak bisa bekerja menjadi presdir di sini karena Sehun, Luhan dan Siwon bekerja di sini pasti mereka mengenali wajahnya dan sebisa mungkin menjauhkannya pada Kai. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan gadis itu lagi tapi… pasti selalu ada tapi saat ia berpikir tentang Kai. Kata itu menjadi penghalang dirinya selama ini selain David. Ia benar-benar merindukan senyum dan suaranya serta sikap Kai masih tetap sama waspada dan tegas. Tidak ada yang berubah mungkin hanya dia yang berubah.
.
.
.
Setelah operasi selesai, ia memutuskan untuk pergi ke McD membeli burger untuk dirinya Luhan dan Sehun serta beberapa kaleng soju. Mereka berencana bermain kartu sampai larut malam karena kebetulan sekali mereka tidak ada piket besok. Kai masuk ke dalam gedung McD memesan burger kesukaannya dan sesuai permintaan Luhan Sehun.
Lulu: Cheese burger ukuran large dua. Beli 3 botol soju, ya aku masih menyimpan 2 botol. Jangan lupa.
Itu pesan yang dikirim Luhan untuk dirinya. Beberapa menit menunggu pesanannya datang dan ia bergegas pergi dengan telinga terpasang earphone memperdengarkan lagu dengan volume tinggi yang sangat memekakan telinga. Langkahnya ringan menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat McDonalds ini.
"Kim sonsaeng!"
Kai menghentikan langkahnya, samar-samar ia mendengar suara orang berteriak seperti memanggil dirinya. Ia melepas earphone yang menyumpal kedua telinganya, menatap sekeliling mencari sumber suara hingga tiba-tiba sepasang lengan melingkari tubuhnya dari belakang serta membanting tubuhnya ke samping menghindari sebuah motor.
"Kya!"
Ia memutar kepalanya ke belakang, menemukan wajah yang tidak asing baginya. Orang yang ia temui di rooftop rumah sakit. Tangannya bergetar menyentuh luka di pundak orang bernama Chanyeol ini. Luka yang cukup besar dan memerlukan beberapa jahitan.
"Chanyeol-ssi, apa kau bisa bangun sendiri?" tanya Kai khawatir. Chanyeol menggeleng, merasakan luka ini lumayan perih dan benar darah mengalir cukup deras dari pundaknya karena bergesekkan dengan aspal cukup kuat.
"Apa kau bisa melakukan jahitan di sini? Aku tidak bisa menjahit luka ini sendiri."
…
Kai melirik Chanyeol yang santai saja mendapat luka ini hanya karena menolong seseorang yang baru dikenal. Ia berdehem cukup kuat, membuat Chanyeol menoleh ke belakang hanya untuk melihat wajah Kai.
"Gamsahamnida," ucap Kai terdengar lirih. Chanyeol tersenyum kecil mendengarnya, mengangguk sekilas. Ia kembali berusaha fokus menjahit luka Chanyeol. Mereka kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. "Apa kau seorang uisa?" tanya Kai penasaran, meskipun ia panic ia sempat mendengar menjahit luka ini sendiri. Pasti dia seorang dokter atau perawat.
"Nde,"
Kai mengangguk paham, kembali sibuk dengan luka di pundak Chanyeol. Tanpa ia sadari Chanyeol tersenyum kecil melirik Kai secara diam-diam, ia teringat pertemuannya dulu saat Kai menyelamatkannya sekarang ia yang menyelamatkan Kai. Hutang budinya sudah lunas itu berarti ia bisa pergi dan menolak tawaran Seunghyun menjadi presdir di sini karena ia tidak bisa melihat Kai terus menerus. Ia sudah berjanji pada David bahwa ia akan menjauhi semua orang yang pernah ia kenal di Korea termasuk Kai.
"Park Chanyeol-ssi?"
Chanyeol tersadar dari lamunannya, menatap Kai yang sudah ada di hadapannya membersihkan luka di keningnya. Jarak di antara mereka cukup dekat, bahkan Chanyeol bisa merasakan deru nafas gadis bersurai cokelat gelap ini. Kai sadar dengan tatapan intens Chanyeol padanya, gerakan tangannya berhenti, beralih menatap kedua iris cokelat gelap Chanyeol. tatapan yang singkat namun berhasil menghasilkan sengatan kecil di dada Kai, sengatan yang pernah ia rasakan bersama mantan kekasihnya tapi sengatan ini berbeda.
"Apa kita pernah bertemu? Kenapa aku merasa pernah di tatap seperti ini?"
Pertanyaan dari Kai langsung menyadarkan Chanyeol kalau ia harus menjauh sejauh mungkin agar Kai tidak mengingatnya. Kai tidak boleh mengingat bajingan seperti dirinya, bajingan memang tepat untuknya. Bajingan yang hampir membuat Kai tewas.
"Eobseo, apa aku bisa pulang?" Kai mengangguk, melepas sarung tangannya, kembali menatap Chanyeol sekali lagi. Berusaha tenggelam pada tatapan Chanyeol tapi tidak bisa lagi, seperti ada pagar pembatas yang muncul secara tiba-tiba.
"Minggu depan kasa itu baru bisa dilepas, kau juga harus mensterilkan luka ini bisa setiap hari, 3 atau 4 kali. Kau bisa meminta bantuan teman doktermu yang lain atau kau bisa melakukannya di sini." jelas Kai sambil tersenyum ramah seperti pada pasien lain. Chanyeol mengangguk kembali mengenakan jaketnya lagi, tapi langkahnya di tahan oleh Kai.
"Apa aku bisa mentraktirmu makan atau minum. Hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah menolongku." tawar Kai. Beberapa saat Chanyeol diam, mempertimbangkan berbagai hal menerimanya atau tidak. Kepalanya mengangguk sebagai jawaban ya, "Besok, kau traktir aku minum."
Kai mengangguk meng iyakan, Chanyeol tersenyum kecil sebelum pergi dan seketika itu juga dunia Kai berhenti berputar, jantungnya berhenti berdetak mengingat senyum kecil dari pemuda yang bahkan belum sampai sehari ia temui itu tapi ia sudah berani mengajak pria itu. Senyumnya mengembang, kelewat mengembang sampai-sampai hobae nya dulu saat kuliah bergidik ngeri menghampiri Kai.
"Sunbae, no gweanchana?" tanya Taehyung-hobae nya dulu dan seorang perawat yang berdiri di samping Taehyung terlihat khawatir juga. Kai terlalu sibuk menanggapi pertanyaan Taehyung. Tangan Taehyung terangkat mengcek suhu Kai, apa terlalu panas atau tidak. Kai menyingkirkan tangan Taehyung, tersenyum konyol tidak seperti biasanya semakin membuat Taehyung dan perawat itu-Byun Baekhyun khawatir.
"Malam ini dan besok kau piket, kan?" tanya Kai lembut. Taehyung mengangguk dengan gaya robot, memperhatikan Kai mengambil tas dan menyampirkan mantelnya ke pundak, "jangan ganggu aku malam ini dan besok. Beritahu Xi sonsaeng dan Oh sonsaeng aku tidak bisa menemani mereka bermain kartu. Aku harus bersiap-siap untuk…"
Taehyung menanti dengan sabar kelanjutan ucapan Kai tapi seniornya itu malah berjalan begitu saja tanpa melanjutkan ucapannya. "Sunbae kau bersiap untuk apa?" tanya Taehyung berteriak. Kai membalikkan tubuhnya, tersenyum konyol pada Taehyung.
"kencan. Aku akan berkencan." Lanjut Kai sambil mengedipkan sebelah matanya. Kembali berjalan, menghiraukan teriakan tidak percaya Taehyung soal dirinya akan berkencan padahal baru saja putus dengan pacarnya. Kai kembali tersenyum seperti orang gila, kenapa dengan otaknya? Otaknya tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
.
.
Lima, Peru.
Suara dentuman tubuh seseorang dibanting menggema di mansion ini. Tubuh bersimbah darah dan babak belur itu adalah tubuh seorang anggota NIS yang sangat payah menangkap dirinya, David Park. David berjongkok menatap orang NIS di hadapannya sudah tidak bernafas lagi, tubuhnya bersimbah darah serta tengkoraknya seperti retak, dan tubuh sekarat seorang wanita anggota FBI yang habis digilir oleh anak buah.
"I think that when Kangin was dead they would stop looking for me but no, two children were still alive and they became the second angel of my life." Ucap David meludahi wajah anggota NIS itu, bergantian menatap wanita FBI yang sudah tidak sadar diri. "She had a sweet face, you treat him and we can sell it to a pimp." Perintah David pada anak buahnya, Jiwon. Ia berdiri menatap langit kelam Lima dengan tangan memegang ponsel.
"When are you coming back? Athens lost the deputy chairman of their highly skilled, do you accept the offer Seunghyun?" tanya David pada Chanyeol di sebrang sana. Mematik rokoknya lalu menghisapnya dalam-dalam.
"I accept it but I will not watch him directly. I remained at La Rinconado keep an eye on my hospital while in hospital IlHo I watched remotely and assign Seunghyun Seungri for me in Peru." David tersenyum mendengar penuturan putra satu-satunya ini, melirik Tiffany yang masih tertidur sejak 6 tahun lalu. Istrinya itu (mereka rujuk kembali) mengalami sebuah kecelakaan akibat mafia lain dan mengangkibatkan Tiffany mengalami koma panjang dan entah sampai kapan dia harus bertahan dengan alat-alat itu.
"She's fine, she is still the same as last time you saw." David tahu Chanyeol lebih mengkhawatirkan Tiffany karena putranya itu lebih menyayangi ibunya ketimbang dirinya yang seorang bajingan seperti ini.
"Hurry back Athena and your hospital needs you." Chanyeol bergumam hm lalu memutus sambungan telfon secara sepihak tidak mengijinkan David bicara panjang lebar. David menghela nafas, memasukkan ponselnya ke saku, kembali menatap Tiffany. Entah tatapannya itu mengartikan apa.
.
.
.
Gangnam, Korea Selatan.
Rumah sakit IlHo gempar pagi ini. Setelah diberitahu semalam bahwa presdir baru IlHo akan diberitahu hari ini semua dokter wanita dan perawat wanita mulai menebak-nebak siapa presdir mereka. Luhan menguap mendorong kursi rodanya, semalam ia begadang dengan Sehun bermain kartu sambil membicarakan Kai dan kencan yang entah kesekian berapa dia lakukan serta calon presdir mereka.
"Kenapa perasaanku tidak enak," gumam Sehun. Luhan mendengarnya, menatap tunangannya ini tersenyum menenangkan. Ia menggenggam tangan Sehun cukup erat.
"Wae? Mengkhawatirkan Kai?" tanya Luhan pelan. Sehun menggeleng, tersenyum selebar mungkin agar Luhan tenang tapi sebuah dorongan tiba-tiba saja menghantam tubuh Krystal.
"Ya! Jangan bermesraan di sini, kita di sini untuk rapat bukan pacaran." Sindir Krystal pedas, melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang rapat. Luhan berdecih, siap melepas sepatunya kapan saja jika diperlukan untuk melemparkannya ke kepala Krystal. Sehun tersenyum melihatnya, membantu Luhan untuk mendorong kursi rodanya ke ruang rapat sesegera mungkin.
…
"Setelah membahas tentang beberapa dokter dan perawat yang akan dikirim ke rumah sakit di La Rinconado sekarang saya akan memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan posisi saya sebagai sajangnim rumah sakit ini. Silahkan masuk."
Sehun memperhatikan pintu tempat presdir itu masuk, tidak lama setelah pintu terbuka seorang pria bertubuh tinggi menjulang, berrambut hitam pekat, berjas hitam dengan kemeja putih serta dasi berwarna karbon masuk. Matanya sukses membulat menyadari siapa presdir baru mereka, Luhanpun sama terkejutnya begitu juga Siwon. Mereka saling berpandangan lalu kembali menatap ke depan lebih tepatnya tempat Chanyeol berdiri.
"Annyeonghasemikka, saya adalah presdir baru rumah sakit IlHo, Park Chanyeol imnida."
Taehyung mengernyitkan matanya berusaha mengingat pria yang pernah ia lihat bersama perawat Byun semalam. Sepertinya memang benar, dia pasien yang diobati oleh Kai semalam. Taehyung menyikut lengan Sehun menyampaikan hal yang ada di otaknya, "Namja itu seperti yang diobati Kai sunbae."
Sehun bergantian menatap Taehyung seakan meminta penjelas dan kebenaran ucapan Taehyung. Sebisa mungkin dulu ia membuat Kai tidak mengingat Chanyeol tapi sekarang kesempatan Kai mengingat Chanyeol cukup besar karena Chanyeol ada di sini ditambah ia dipastikan akan menjadi relawan di rumah sakit milik Chanyeol.
"Kai sunbae menjahit luka Park sajangnim semalam, aku tidak tahu kenapa dia terluka."
Sehun menekan pulpennya kelewat kuat sampai-sampai buku-buku jarinya memerah kelewat menggenggam pulpen di tangannya. Ia melirik ke tempat Luhan yang hanya mampu diam dengan pandangan terkejut. Sekali lagi mereka harus menjauhkan Kai dan Chanyeol.
.
.
.
Ini bukan kencan pertamanya tapi entah kenapa ini seperti kencan pertamanya dulu. Ia bahkan sampai membolos rapat hari ini hanya untuk ke salon, mereka bertemu setelah Kai selesai syuting acara kesehatan sekitar pukul 8 malam. Ia menatap penampilannya sekali lagi, merapihkan rambut cokelat panjangnya, lipstick dan dress putih selututnya.
"Tenang Kim Kai, ini bukan kencan pertamamu." Ucap Kai pada dirinya sendiri. Senyumnya kembali tercetak sangat jelas, berjalan keluar toilet dengan senyum mengembang dan ponsel yang menampilkan pesan dari Chanyeol soal tempat mereka bertemu. Sepertinya tidak jadi minum karena Chanyeol mengajaknya ke Mango Six.
"Kau terlihat manis dengan dress itu,"
Pipi Kai memanas pujian seperti itu keluar dari mulut Chanyeol saat mereka bertemu di parkiran. Chanyeol tersenyum kecil, membukakan pintu mobil untuk dirinya. Tidak ada yang bicara di mobil hanya ada suara ketikan jari berasal dari ponsel Kai. sepertinya dokter ini sedang sibuk berkirim pesan dengan Luhan dan Sehun yang entah kenapa berubah menjadi lebih overprotektif dari biasanya.
…
Seperti janjinya, Kai yang mentraktir Chanyeol minum kopi dan makan kue di sini. Sekarang Chanyeol merasa Déjà vu dengan semua ini, ia pernah mengalami situasi seperti ini dulu. Dan sekarang terulang kembali. Kai memesan cappuccino sementara dirinya Latte dan satu piring cake serta cup cake.
"Park Chanyeol-ssi, kau bekerja di rumah sakit IlHo atau kau sedang melamar?" tanya Kai memulai percakapan. Chanyeol tersenyum kecil menggeleng, "Anni, aku sajangnim di rumah sakit tempatmu bekerja."
Kai terbatuk mendengarnya, menatap tidak percaya karena ia berbicara non formal pada presdir rumah sakitnya sendiri. Chanyeol kembali tertawa melihat salah tingkah Kai, terkutuklah kenapa orang ini selalu tersenyum dan membuat jantungnya berhenti berdetak setiap dia tersenyum dan mengerluarkan tawa renyah seperti itu.
"Ceosonghamnida, saya tidak…"
"Tidak usah formal seperti itu, sekarang aku bukan atasanmu tapi teman doktermu." Kai kembali tersenyum meminum cappuccino nya terburu-buru. Bisa dipastikan pipinya pasti memerah karena melihat senyum tampan Park Chanyeol.
"Aku ingin mendengar tentang Park sonsaeng lalu aku akan menceritakan tentang diriku." Pinta Kai sopan, matanya berbinar penuh harap dan rasa penasaran tinggi dengan pemuda bersurai cokelat ini.
"Ayahku keturunan Korea-Peru dan dia bekerja sebagai CEO dari perusahaan farmasi. Ibuku seorang wanita biasa, aku tidak memiliki saudara. How about you?" tanya Chanyeol meminum lattenya dengan gaya super elegan bahkan Kai sampai menggigit bibirnya menahan senyum konyolnya lagi.
"Ayahku sudah lama meninggal saat usiaku 18 tahun, ibuku seorang dokter memiliki Klinik di daerah Gangnam. Kakak pertamaku seorang anggota NIS sementara kakak keduaku juga anggota tapi dia juga penyuplai senjata di NIS." Jawab Kai ikut meminum lattenya. "Kakak keduaku sudah menikah dengan seorang wanita keturunan China dan mereka pasangan paling romantis setelah ayah dan ibuku." Lanjut Kai sambil tersenyum mengingat kemesraan Jongdae dan istrinya yang membuat dirinya iri karena ia tidak pernah merasakan hal seromantis itu bersama pacaranya dulu.
"Kau suka pria romantis?"
"Nde, aku penyukai hal-hal romantis dan hal yang tidak aku sukai berbau senjata." Chanyeol melemaskan tangannya Kai masih sama saja. Meminum lattenya cepat, menatap Kai dengan pandangan meminta maaf. Kai masih sama saja, membenci hal-hal seperti 12 tahun lalu. Sebelum Kai terluka lagi ia harus pergi sejauh mungkin dan memajukan jadwal penerbangannya.
"Mianhae, kita tidak bisa memulai hubungan apapun, permisi." Kai terdiam di tempat menyerna ucapan Chanyeol di kepalanya. Entah kenapa begitu sulit satu kalimat itu tercerna di otaknya. Ia ikut bangun mengejar Chanyeol yang sudah ada di luar café.
"Wae? Kenapa tidak bisa? Apa kau sudah memiliki pacar? Istri?" tanya Kai berjalan di samping Chanyeol menuntut penjelas dari Chanyeol. Tapi pria ini sangat keras kepala, ia terus saja berjalan tanpa menatap dirinya sama sekali. Kai mencengkram tangan Chanyeol, memberhentikan langkah Chanyeol tapi Chanyeol dengan cepat menyentakkan cengkramannya.
"Park Chanyeol-ssi, jawab aku! Chanyeol-ssi!"
Sebuah sepeda melaju kencang dari arah berlawanan tangan besarnya merengkuh pinggang Kai menariknya menjauh dari jalur sepeda tersebut. Menatap tubuh Kai dari atas sampai bawah, memperhatikan dengan seksama apakah ada luka atau tidak.
"Gweanchana?"
Kai mengangguk. Pandangan mereka kembali bertemu, sengatan listrik aneh itu kembali menjalar di tubuh Kai. Ditambah dengan rengkuhan Chanyeol cukup kuat dan erat, tanpa sadar matanya terpejam menikmati hangat tubuh Chanyeol begitu juga dengan Chanyeol. Ia sangat merindukan Kai tapi ia tidak bisa menggapai wanita yang sudah ia sakiti terlalu dalam.
"Aku tidak bisa, mianhae."
Kai membuka matanya, menatap kedua iris cokelat Chanyeol sekali lagi. Pagar pembatas itu ada lagi, entah apa yang di lakukan Chanyeol hingga membuat sengatan itu tiba-tiba hilang dan pagar pembatas itu muncul. Kai menatap tajam Chanyeol, "Lalu, kenapa kau membuat sengatan itu muncul? Kenapa kau membuat jantungku berhenti berdetak? Kenapa kau lakukan ini?"
Chanyeol melepas rengkuhannya, "Aku tidak pernah melakukan itu. Kau membenci senjata tapi aku hidup dalam dunia yang penuh senjata, aku tidak ingin membahayakanmu."
Mata Kai sukses membulat, tidak percaya dengan apa yang ia dengar ini. tubuhnya perlahan mundur, ia tidak percaya dengan semua ini ia berusaha tidak percaya tapi kedua mata Chanyeol membuktikan semua ini benar.
"Arraseyo, aku akan pergi."
"Jaga kesehatanmu dan berhati-hatilah." Kai mengangguk, membalik tubuhnya sangat berat. Sangat berat. Ia pergi dengan seseorang yang membuat ganjalannya menghilang, merasakan hal yang asing tapi sialnya sangat ia sukai. Ia tidak tahu kenapa ini terjadi, matanya memerah tanpa sebab. Menangis karena memutus hubungan yang belum mereka mulai sama sekali.
.
.
.
Tao kembali menuang soju ke dalam gelasnya, kepalanya sudah sangat berat tapi akal sehatnya tidak mau bekerja. Ia tetap menuang soju dan meminumnya sekali teguk, memperhatikan foto-fotonya bersama Kris dulu. Kedai ini menjadi tempat kencan favorite mereka tapi semenjak setahun terakhir ini mereka jarang minum bersama di sini. Tao selalu menunggu seperti orang bodoh, memohon pada orangtuanya agar menyetujui hubungannya tapi Kris malah menghindar terus menerus.
"Berhenti minum!"
Tao merengut pada orang di hadapannya, berusaha mengambil kembali gelas sojunya dari tangan Kris. "Jangan ganggu aku! Aku masih ingin minum!"
Kris menjauhkan beberapa botol di meja Tao, menegakkan tubuh Tao agar menatap wajahnya. "Berhenti minum dan ayo kita pulang!" ajak Kris lembut menarik lengan Tao untuk bangun dengan kasar ditepis Tao. Menatap nyalang ke arah Kris, ia marah karena pemuda ini masih saja mengkhawatirkannya padahal sudah jelas pemuda ini bilang hubungan mereka gagal.
"Kau siapa? Kenapa kau mengkhawatirkanku seperti itu? Kau bilang hubungan kita sudah gagal tapi kenapa kau masih mengkhawatirkanku? Apa kau sengaja? Ha?!"
Kris menghela nafas, menerima semua umpatan Tao yang sudah lama dipendam gadis ini. Tao kembali menuang soju ke gelasnya, meminumnya sekali teguk dan menuangkan soju ke gelas lain. "Chan~. Ayo kita minum seperti dulu, gege~" pinta Tao diakhiri suara tawa seperti orang mabuk dan cegukan cukup keras.
"Kenapa kau menghindariku? Kau tahu saat kita bertemu di lobi rumah sakit itu aku ingin kau mengatakan aku merindukanmu, aku akan memperjuangkanmu, tapi kenapa kau tidak mengatakannya?!" tanya Tao berteriak di depan wajah Kris, tidak mempedulikan tatapan orang-orang disekitar. "Aku hanya ingin itu, tapi kenapa kau tidak mengatakannya? Wae?!"
Tao menangis, menjatuhkan kepalanya di atas meja tidak lama suara dengkuran halus terdengar. Kris sedari tadi diam, memperhatikan setiap gerak-gerik Tao yang emosi dan frustasi dengan hubungan mereka selama ini. Ia menaruh beberapa lembar uang di atas meja, membawa tas Tao dan juga tubuh ini untuk digendong olehnya.
"Aku hanya ingin kau mengatakan kau merindukanku…"
Kris memberhentikan langkahnya di depan kedai ini, ia masih mendengar gumaman Tao yang terdengar lirih, gadis bermata panda ini mempererat pelukannya pada punggung Kris sambil bergumam tidak jelas. Ia sangat khawatir mendapat telfon Tao dan suara mabuk gadis ini tanpa pikir panjang ia berlari ke sini dan menjemput Tao yang kondisinya sudah seperti ini.
"Bogoshipeoyo… neomu neomu bogoshipeo babe Tao…"
.
.
.
6 bulan kemudian.
Acara kesehatan yang ia bintangi semakin terkenal, membuat dirinya semakin terkenal sebagai dokter idola. Ia sudah melupakan impiannya untuk menjadi professor gelar yang ia miliki sekarang bahkan lebih panjang dari Krystal dan itu membuat dirinya semakin senang. Ia menjatuhkan kepalanya di meja kantin, memejamkan matanya sambil mengemur gingseng merah untuk menambah tenaganya.
"Sunbae tidak lelah menjadi dokter idola dan dokter UGD?"
Taehyung bertanya sambil menyodorkan sebotol air mineral untuk Kai. Siwon tersenyum melihat muridnya seperti itu, memakan lahap sandwich dari tangan Kyuhyuhn. "Biarkan saja, yang penting dia mulai melupakan jabatan professor, asa~" Kai mengangkat kepalanya menatap sebal ke arah Siwon karena sempat-sempatnya memikirkan posisi professor yang masih kosong.
"Tapi kau tetap saja tidak akan ikut dalam relawan di kota La Rinconada itu. Orang yang tidak memiliki uang, koneksi dan keberuntungan seperti aku, Cho sonsaeng, Byun sonsaeng, Oh sonsaeng dan Huang sonsaeng pasti akan dikirim." Keluh Siwon, kali ini pria berusia 37 tahun ini yang menaruh kepalanya di atas meja. Kyuhyun tersenyum mengelus-ngelus kepala Siwon seperti bayi.
"Geundaeyo, kota La Rinconada itu dimana?" tanya Baekhyun sambil mengemut sedotan kopinya, merasa bingung dengan nama kota itu.
"Kota itu terletak di Peru dan menjadi daerah tertinggi dengan salju abadi, IlHo membangun sebuah komplek perumahan dan sanitasi untuk kota itu." Jelas Kyuhyun sambil menyuapi Siwon lagi dengan sandwich. "Dan kau. Kau memang tidak memiliki uang, koneksi, dan keberuntungan tapi kau memiliki wajah tampan." Lanjut Kyuhyun, tersenyum lebar berusaha membuat Siwon kemali semangat lagi.
"Jinjja?" tanya Siwon mengangkat kepalanya, menopang dagunya meminta kebenaran ucapan Kyuhyun yang dibalas anggukan. Kai, Taehyung dan Baekhyun bersorak melihat couple abadi ini bermesraan di depan mereka.
"Aku akan pergi. Lagipula, Kookie sudah mengijinkanku."
Kai memukul kepala bagian belakang Taehyung karena bicara yang aneh-aneh, "Micheosseo? Kandungan Jungkook sudah 7 bulan lagipula tunanganmu itu mengandung anak kembar sewaktu-waktu dia bisa melahirkan!"
Taehyung meringis, jitakan Kai tidak pernah gagal menghasilkan benjolan merah keunguan di kepalanya, "Kookie sudah mengijinkanku, kalau aegya sudah lahir aku tidak bisa jauh-jauh dengan mereka." Bela Taehyung tidak mau disalahkan apalagi dicegah. Kai berdecih, meminum air mineralnya rakus.
"Kim sonsaeng."
Kai berdiri dari duduknya, diikuti orang-orang di sekalilingnya karena pelaksana tugas Chanyeol-Choi Seungri datang menghampirinya. Pria berjas warna karbon ini berdehem, mendekatkan tubuhnya pada Kai agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya.
"Kosongkan jadwalmu malam ini, aku mengundangmu makan malam di sky lounge." Kai berdiri kaku di tempat menatap kosong ke tempat Seungri tadi berdiri. Ia tidak salah dengar kalau Seungri mengajaknya berkencan? Ia menatap satu persatu teman dokternya, Siwon, Kyuhyun, Taehyung dan Baekhyun.
"Apa sajangnim mengajakku berkencan?" tanya Kai dengan tampang polos terlihat konyol di mata tiga orang di hadapannya ini.
"Hah?! Eotteokhae?" tanya Baekhyun menahan teriakkan histerisnya seperti fangirl. Kai tertawa menutup mulutnya antara tidak percaya dengan semua ini. Siwon menjetikkan jarinya, menatap Kai dengan seringai penuh kelicikkan.
"Kau membutuhkan sesuatu. Seperti pernikahan politik." Saran Siwon. Kai diam, kembali duduk dan mengemut gingseng merahnya. Taehyung berdecih mendengar kata pernikahan politik. Ia menganggap Kai seperti kakaknya sendiri dan ia tidak terima melihat kakaknya menikah dengan seorang duda.
"Aku tidak setuju. Dia duda sementara kau masih gadis bahkan sunbae belum pernah berciuman bibir. Aku tidak setuju." Sungut Taehyung, Kai tersenyum kembali menggeplak kepala Taehyung sayang, tertawa hambar mendengar kekhawatiran Taehyung yang sangat berlebihan.
"Apa aku harus mengangkat ke level yang lebih tinggi melalui sajangnim?"
.
.
.
Ia tidak bodoh untuk tidak menyadari ini sky lounge atau hotel. Tubuhnya berdiri kaku di ambang pintu hotel, memperhatikan Seungri yang sudah berjalan masuk lebih dulu. Menatap penampilan Kai begitu sederhana tapi sexy dimatanya. Tangannya mengepal erat karena ini sama saja pelecehan untuknya.
"Aku membutuhkan suasana yang lain." Pinta Kai masih di ambang pintu hotel, mulutnya sedikit terbuka melihat Seungri melepas jas berwarna karbon itu, memperlihat lekukkan ototnya di lapisi kemeja putih. "Suasana apa?" tanya Seungri. Kai memasukkan tangannya ke dalam saku celana panjangnya menatap Seungri jengah.
"Romantis. Karena aku suka romantis."
"Tapi, kau harusnya tahu kalau aku bukan orang yang sabaran."
Kai mengangguk paham, melangkah mendekati Seungri yang langsung mengembangkan seringai kemenangan Seungri.
"Kau membuat pilihan bagus, Kim sonsaeng." Puji Seungri merentangkan tangannya siap menangkap tubuh Kai ke dalam pelukan mesumnya. Kai tersenyum mendengar pujian tersebut. Tangannya terangkat siap melayangkan bogem mentah ke wajah Seungri tapi Seungri menahan tangan Kai. wajahnya menjadi pucat karena tidak menemukan wajah manis Kai tadi.
"Apa kau memukul isajang sepertiku?"
Kai menggeleng, menjauhkan kepalan tangannya. Seungri kembali tersenyum menemukan senyum manis Kai kembali muncul.
"Anni, aku akan menendangmu."
"Akh!"
.
.
.
.
"Jinjja?"
Kai mengangguk berulang kali. Luhan dan Sehun terperangah mendengar cerita Kai soal Seungri mengajak Kai ke hotel dan Kai menendang selangkangan Seungri lalu berlari keluar dengan wajah terangkat. Kai baru saja menolak tambang emas dengan menolak kehadiran Seungri.
"Aku punya harga diri dan semalam dia benar-benar menginjak harga diriku. Bahkan aku mau mengeluarkan jurus taekwondoku." Kai kembali menjatuhkan kepalanya di meja Luhan. Sehun memegang dagunya membuat pose berpikir memberi ide untuk Kai.
"Dia memecatku tidak, ya?" tanya Kai khawatir dengan pekerjaannya yang terancam hilang karena kejadian semalam. "Aku, kan ambassador nya. Kalau dia memecatku dia kehilangan ambassador seperti ku." Lanjut Kai berusaha menjauhi pikiran negative tentang dirinya dipecat.
"Kau ambassador IlHo sementara Choi Seungri seorang isajang." Kai semakin berteriak keras. Yang dikatakan Luhan benar juga. Dia isajang yang bisa melakukan apapun termasuk memecat dirinya kalau dia mau, sementara dirinya hanya ambassador mereka.
"Bagaimana aku bisa menatapnya setelah kejadian semalam? Aku harus mengikuti rapat hari ini." keluh Kai mengingat acara rapat ini didatangi oleh Seungri bukan ayahnya lagi. "Kau tatap saja isajang dengan tatapan mematikanmu." Saran Sehun yang langsung diangguki Luhan. Kai mengangkat kepalanya, menatap kesal Sehun karena memberi ide yang semakin membuat posisinya terancam.
…
"Masalah selanjutnya adalah ketua dari team relawan La Rinconado dan aku ingin mengirim dokter terbaik untuk menjadi ketua relawan."
Kai menundukkan wajahnya, memutar bola matanya malas mendengar ocehan Seungri soal kota dan situasi di sana. Yang ia pikirkan saat ini adalah kapan rapat ini selesai dan ia bisa melanjutkan tugasnya di UGD lalu syuting.
"Jadi, aku memutuskan untuk mengirim idola IlHo, Kim Kai!"
Kepala Kai terangkat mendengar nama dirinya disebut-sebut dalam kalimat mengirim. Tatapannya bertemu dengan tatapan penu kelicikkan Seungri dan rasa puas balas dendam akibat tendangan Kai yang sangat kuat bahkan selangkangannya masih nyeri. "Aku yakin idola kita akan setuju, di sana kau akan tinggal di asrama bersama dokter lain. Beri tepuk tangan untuk Kim Kai-ssi."
Semua dokter bertepuk tangan termasuk Siwon, Kyuhyun dan Sehun yang saling berpandangan, "Hidup ini penuh kejutan." Gumam Siwon cukup jelas di dengar oleh Sehun dan Taehyung. Mereka tentu saja terkejut dengan keputusan Seungri yang tidak berpikir panjang. Kalau Kai dikirim ke sana selama 2 minggu bagaimana acara TV yang dibantingi Kai, apa mereka tidak keperotan jika Kai pergi? Itu juga yang dipikirkan Kai. Ia membalas menatap sengit ke arah Seungri, ia tidak ingin melihat muka menyebalkan itu lagi dan suara memekakan telinga Seungri.
…
"Aku bisa menarik perintahku asalkan kau pikirkan tawaranku kemarin?"
Sekarang Kai benar-benar merasa seperti tidak memiliki harga diri. Setelah rapat terpanjang yang pernah ia rasakan selesai, ia dipanggil ke ruangan sajangnim sialan ini. Seungri menatapnya seolah ingin menerkamnya sekarang juga sekaligus kesal melihat wajah Kai masih saja sombong meskipun akan dikirim ke kota terisolir di Peru.
"Tidak terimkasih!" tolak Kai. Seungri terkejut, wajahnya semakin memerah menahan emosi dan rasa kesalnya karena Kai tetap saja tetap pada pendiriannya.
"Semenjak indisen di hotel waktu itu aku tidak menghormatimu sebagai sajangnim lagi." Siwon, Kyuhyun, Sehun, Taehyung, Tao, Baekhyun, semua anggota team relawan menguping pembicaraan Kai dan Seungri dari balik pintu. Penasaran dengan apa yang dikatakan Kai dan mereka begitu terkejut mendengar ucapan Kai selanjutnya.
"Sepertinya kemampuanku memang tidak diakui di rumah sakit itu tapi aku memiliki koneksi kuat semenjak aku menjadi dokter idola dan ambassador kalian, mungkin sekarang waktunya aku membuka klinik sendiri. Jadi, aku akan mengundurkan diri setelah tugas ini selesai dan tunggu saja tanggal mainnya. Kau mengerti?!"
Kai berjalan keluar ruangan Seungri dengan kepala terangkat, tidak peduli dengan dokter dan perawat yang menguping dan mengetahui rencana selanjutnya setelah ia kembali. Masa bodo dengan skandal sialan itu, ia akan pergi setelah tugas ini selesai.
.
.
La Rinconado, Distrik Ananea, Provinsi San Antonio de Putina, Peru.
Chanyeol menatap keluar jendela ruangannya, tangannya melemas membaca daftar dokter dan perawat yang akan dikirim ke sini. Di sana ada nama yang sangat Chanyeol hindari, begitu juga Kris. Pria campuran itu terdiam duduk di pinggir meja, melipat tangannya di dada berusaha memikirkan ia akan bertindak apa di hadapan Tao.
"Apa dia tahu kalau kau di sini?" tanya Kris memecah keheningan diantara mereka, Chanyeol menggeleng. "Anni, tapi dia sebentar lagi tahu begitu juga dengan Tao." Balas Chanyeol sarkatis. Kris tersenyum kecil mendengarnya.
"Apa mereka benar-benar jodoh kita berdua?" tanya Kris sambil berjalan menghampiri Chanyeol, menatap langit La Rinconado hari ini berawan tidak ada sinar matahari yang membuat suhu di daerah ini cukup dingin.
"Molla, tapi aku berharap sesuatu…"
.
.
.
La Rinconado Hospital, La Rinconado.
Kai menatap tidak percaya pada rumah sakit di hadapannya ini. Apa benar ini rumah sakit? Bangunan ini seperti… klinik. Besarnya mungkin hanya setengah dari ukuran rumah sakit di Korea. Ia membawa anggota team lumayan banyak sementara di sini hanya ada beberapa rumah, rumah yang lain letaknya sangat jauh. Sesangi… Wakil ketua rumah sakit itu memang terkutuk. Cuaca di kota ini sangat dingin lagi. Yang benar saja ia di kirim ke sini hanya untuk pembalasan dendam. Ia kembali membunyikan lonceng rumah sakit tapi tidak ada satupun orang muncul.
"Aish jinjja, kenapa aku di sini? Dingin sekali."
Kai melirik Siwon kasihan. Anggota teamnya datang ke sini mungkin karena ikut terkena imbas kekesalan wakil ketua terkutuk itu. Dan juga Kyuhyun yang terlihat tersenyum melihat tingkah menyedihkan Siwon.
"Hidup memang penuh kejutan." ucap Kyuhyun mengembalikan ucapan Siwon soal Kai yang dikirim ke sini padahal sudah bukan rahasia umum jika wakil ketua mereka menyukai Kai dan Kai adalah ambassador rumah sakit mereka sejak 5 tahun lalu. Siwon menaruh kepalanya di pundak Kyuhyun dan sedikit merapatkan tubuhnya. Kai tersenyum melihat pasangan, bisa dibilang ya bisa tidak. Tapi mereka cukup serasi.
"Seharusnya dokter yang menjaga rumah sakit sudah datang, aku akan ke sana dan membunyikan lonceng itu." Kai berjalan, tersenyum kecil menatapi lonceng ini seperti lonceng gereja. Tangannya sudah terangkat dan membunyikan lonceng tepat setelah itu pintu terbuka.
Ia tersenyum senang akhirnya mereka bisa masuk. Pintu rumah sakit terbuka, menampilkan lima orang pria berjubah dokter. Dua orang membuka pintu, berjalan lebih dulu. Mereka berwajah asia sama seperti ketiga laki-laki yang dibukakan pintu. Dua dari tiga laki-laki itu berjalan di depan sedangkan pria terakhir berjalan sedikit di belakang. Kai menajamkan penglihatannya, memperhatikan lebih seksama seseorang yang berjalan di belakang dua pemuda itu.
"Malto… andwae…" gumam Kai merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seseorang yang menghilang begitu saja selama 6 bulan, seseorang yang seperti ia kenal lama, seseorang yang membuatnya nyaman, seseorang yang membuatnya merasakan hal yang dulu sempat ia rasakan. Seseorang itu sekarang berjalan di depan, menampilkan wajah datar, mata menatap lurus ke depan, terkesan dingin dan tajam. Dia benar-benar Park Chanyeol.
Tao juga sama terkejutnya. Melihat seorang dokter yang sangat ia kenal, mantan kekasihnya. Entahlah hubungan mereka sangat tidak jelas. Kris. Ada di hadapannya, tidak menampilkan ekspresi apapun melihat dirinya, entah dia melihat Tao atau tidak.
Chanyeol berjalan semakin di depan, mendekat ke arah Kai. Meskipun pandangannya ke depan ia menatap wajah Kai, wajah yang selalu ia rindukan selama ini tapi berusaha ia sembunyikan. Ia tidak ingin rasa rindu itu membuatnya kehilangan Kai ia tidak ingin itu. Jadi…
Ia memutuskan hanya melewati Kai seperti semilir angin. Kai terkejut, pandangannya tidak percaya. Apa Chanyeol tidak mengingatnya sama sekali? Ia membalikkan tubuhnya, menatap Chanyeol terkejut dan tidak percaya.
"… bahwa takdir ini salah alamat dan aku tidak ingin bertemu dengannya. Karena aku sadar rasa itu akan membuat dirinya semakin menjauhiku."-Chanyeol.
To Be Continue
(TBC)
Ryeo note:
Hahaha…
Aku seneng banget adegan ini di Dots dan aku pengen bikin versi LOVER voila~~ jadilah. Waktu itu aku pernah bilang mau bikin ff tentang barista, kan? Itu sudah jadi dan akan segera publish serta ff tentang time slip aku mix sama penyakit kepribadian ganda (DID) tunggu, ya. Terimakasih yang udah review selama ini, sekali lagi mohon review karena aku lihat banyak yang baca tapi yang review sedikit.
Last, see you in chap 4
