Author : Doxiel
Title : POOF!
Main Cast :
Lee Sungmin | Eunhyuk | Kim Ryeowook | Lee Mina (OC) | Han Minji (OC)
Naruto, Sasuke, Sakura, Hinata
Genre : Friendship, Comedy, Romance
A/N : Fanfiction ini murni dari pikiran dan imajinasi author bersama teman author (charene)
Mian banyak typo. No bash, no plagiat, and enjoy this storyline! :D
{Chapter 2}
-Ryeowook's side-
Aigoo, apa yang aku pikirkan. Aku terus memandang paras ayunya. Aku sampai lupa apa yang ingin kulakukan. Aish! Kenapa impianku untuk membakar komik-komik terkutuk ini selalu terhalang!? Ditambah sekarang muncul tokoh baru dalam hidupku yaitu seorang wanita yang mampu menyita sorotan mataku, yang terus bertanya aku dimana dimana aku dimana, aish!
"Ya! Ryeowook! Ya!" Seru Eunhyuk yang sudah menginjakkan kakinya di tanah yang sama dengan tanah yang kuinjak, ia mengambil komik-komik hina itu dari cengkramanku.
"Ya!" Celetukku.
"Hiyaaa! Omoo!" Eunhyuk tiba-tiba melemparkan semua komik hina itu seraya menjerit ketika tak sengaja melihat sosok wanita yang sedari tadi bertanya-tanya kepadaku dimana dia. Eunhyuk melihat gadis ini seakan ia melihat hantu. Apa yang salah dengannya? Aku yang tidak terlalu tertarik dengan wanita saja bisa terpesona dengan gadis itu, tapi kenapa Eunhyuk malah menjerit?
"Ya! K-ka-kau!? Hi-hin-hinata!?" Serunya tak etis.
"Emh.. Bagaimana kau tau namaku?" Gumam gadis ini yang ternyata bernama Hinata, nama yang sangat asing di telingaku.
Eunhyuk yang mendengar ucapan Hinata tiba-tiba tertawa-tawa sendiri dan berkata "Haha! Mimpi apa aku semalam!? Lucu sekali. Aku bertemu Sasuke dan Hinata versi asli. Apa ini cuma mimpi kali yaa.. Haha." Dan tak disangka Eunhyuk kehilangan kestablian tubuh, ia berjalan sempoyongan.
Eunhyuk terus berjalan sempoyongan tak tahu arah, dan ternyata ia menuju jalan raya. Daebak! Itu impianku yang kedua! Kalau Eunhyuk menghilang dari pandanganku, aku bisa membakar komik menjijikkan ini. Mwahaha~ terbakar habis sudah semuanya. Sementara aku puas telah membakar habis komik itu, Hinata yang semula memperhatikanku tiba-tiba berpaling menyelamatkan Eunhyuk dari ancaman truk yang hendak melewati jalan raya itu.
Aish! Kenapa harus ada yang menolong monyet yadong itu sih!? Hinata bodoh! Dia terus menghalangi impian terindahku!
Aku menghampiri mereka ke seberang jalan. Bukan, bukan untuk menemui Eunhyuk. Tapi untuk memastikan bahwa gadis berambut indigo panjang itu baik-baik saja, jauh dari jangkauan Eunhyuk-ssi.
Aigo! Aku terkejut bukan kepalang, Hinata, gadis yang kukira polos dan lemah mampu mengangkat tubuh Eunhyuk yang kadar lemaknya berlebihan. Bisa kulihat Eunhyuk juga terkesima melihatnya, lalu pingsan. Hinata kebingungan, langsung saja kuhampiri gadis manis itu. Wajahnya sangat lucu saat panik.
"E-eeh.. Kau.."
"Ehem.." Aku berdeham salah tingkah. "Ryewoook. Aku Kim Ryeowook." Potongku.
"Oh, Yewok?" Panggilnya. Hah? Apa dia memanggilku barusan?
"Ryeowook." Ulangku.
"Namamu sangat susah untuk disebutkan." Ujarnya.
Aku memijit-mijit pelipisku. "Baiklah, terserah kau mau memanggilku apa. Sebaiknya kau cepat bawa dia ke UKS sebelum monyet yadong itu ke-enak'an di gendonganmu." Tanpa sadar aku dari tadi memperhatikan Hinata yang menggendong Eunhyuk, dan ada perasaan sesak yang aneh di dadaku. Ini aneh, aku tak punya penyakit asma. Apa ini gara-gara cuaca yang sedang buruk? Hmm.. Sepertinya aku harus kembali menjelajahi rak-rak perpustakaan.
"Ikut aku." Perintahku berjalan kembali menyebrang ke sekolah. Hinata mengikutiku dengan patuh.
"Aduh!" Serunya karena menabrak punggungku. Aku teringat sesuatu dan menghentikan langkahku.
"Kau bisa menurunkan Eunhyuk-ssi sekarang. Akan kubantu kau memapahnya." Suruhku sebelum dadaku benar-benar sesak dan kehilangan oksigennya.
"Oh, tidak masalah. Biar aku yang membawanya sampai dalam." Tolaknya sambil tersenyum.
"Turunkan!" Kali ini nada suara kutinggikan. Aku tak ingin penyakit sesak di dadaku ini menjadi akut jika Hinata menggendong Eunhyuk sampai dalam.
Kulihat Hinata sedikit terkejut karena bentakkanku. Tapi akhirnya dia menurut saja, langsung kubantu ia memapah Eunhyuk, tentu saja dengan berat hati. Tapi dengan begini dadaku kembali mendapat oksigennya.
"Wah.. Kau kuat sekali.. Berlawanan dengan ukuran badanmu.." Ucap Hinata saat aku sudah membaringkan monyet yadong ini.
"Pujian yang menyakitkan.." Jawabku lemas.
Hinata cuma nyengir lalu menundukkan kepalanya. Manis.
"Kau juga. Kau sangat kuat." Ujarku.
"Benarkah?" Dia langsung menatapku tak percaya. Aigoo~ Siapa pun yang melihatnya menggendong monyet segemuk ini pasti akan berkata sepertiku.
"Yaa.. Darimana kau mendapat tenaga sekuat itu?" Aku melihat Hinata dari bawah hingga atas. Tak ada yang berbeda dengan gadis-gadis lain. Malah tubuhnya cenderung kecil nan mungil. Oh, matanya berwarna lavender. Softlens yang sangat keren. Mungkin aku bisa memakainya dan membuang kacamata cupuku.
"Aku berlatih keras untuk menjadi kuat seperti Naruto.." Jawabnya malu-malu.
"Naruto? Pasti dia pacarmu ya?" Tiba-tiba mulutku melontarkan pertanyaan itu, yang membuat hatiku sendiri terasa aneh.
Sebelum ia menjawab pertanyaanku, aku langsung mengganti topik.
"Sepertinya kau harus melatih monyet yang pingsan ini supaya lebih kuat." Terpaksalah aku mengatakan hal yang tidak penting ini.
"Aku rasa kau saja yang melatihnya, aku ingin mencari Naruto.." Jawabnya lalu pergi begitu saja. Rasanya seperti dicampakkan oleh pacar walau sebenarnya aku belum pernah punya pacar.
Mungkin memang benar kata orang. Cinta itu menyakitkan. Omo! Apa yang kukatakan barusan? Cinta? Pacar? Aigoo~ Sepertinya aku terlalu lama berdekatan dengan monyet yadong ini. Ya, pasti begitu. Lebih baik aku jauh-jauh darinya. Kembali pada alamku di perpustakan. Jauh dari Hinata. Jauh dari cinta. Pikirku dalam hati lalu meninggalkan UKS juga meninggalkan kenangan-walau hanya sebentar-bersama gadis berambut indigo bermata lavender. Sepertinya aku harus mulai mencari buku panduan cinta. Siapa tahu aku sudah tersesat di dalam pesona Hinata. Ah, maksudku.. Siapa tahu seseorang di sekolah ini membutuhkannya. Seperti aku.
-Hinata's side-
Aduh.. Kenapa aku hanya melihat orang-orang asing? Terakhir aku dimana? Apakah aku kecelakaan? Ada di dunia bagian mana aku? Aku yang kebingungan selama berjam-jam pun memilih untuk menangis di sudut jalan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Tangannya kecil dan kurus. Putih juga.
"Tersesat?" Tanyanya. Suaranya tidak asing. Kulihat dia.
"Yuwuk?" Kataku memastikan. Dengan kedatangannya airmataku lebih mengalir deras.
"Sudah kubilang, RYEOWOOK! Bukan yewok yuwuk apalah." Celetuknya. Aku terisak.
"Hm, kau dijauhi Naruto?" Dia malah berbalik tanya sok tau. Aku diam saja melanjutkan tangisku.
"Ternyata Hinata bukan wanita yang kuat seperti yang aku bayangkan ya.." Lanjutnya lagi.
"Hey? Kenapa diam saja!" Sepertinya dia baru sadar jika sedari tdi ia berbicara sendiri.
Tiba-tiba perutku berbunyi. Membuat Yewuk-ah, maksudku Yewok, ah, bukan.. Entahlah-cekikikan.
Ini gara-gara Ibu tadi tak mau menerima selembar pun uangku. Apa yang salah? Aku tak mencuri ramen kesukaan naruto itu, aku membelinya! Tapi Ibu itu malah marah ketika kusodorkan uangku.
Tanpa sadar aku merajuk sendiri.
"Ayo ku traktir kau makan." Ajaknya sambil berjalan dahulu.
"Ta-tapi.." aku sungkan.
"Tak usah sungkan. Kau sudah membantuku memapah Eunhyuk-ssi tadi." Dia tersenyum. "Tak ku sangka ia begitu berat hingga membuatmu lapar." Gumamnya membuatku tersenyum.
"Akhirnya kau tersenyum juga." Katanya tersenyum lebar sambil mengacak-ngacak rambutku. Oh, andai saja yang melakukannya Naruto-san.
Saat berjalan bersama, rasa canggung mulai muncul, rasanya sama seperti saat aku berjalan bersama Naruto. Tiba-tiba aku melihat sebuah kedai ramen. Mataku langsung berbinar-binar.
"Kau mau makan apa?" Tanya yuwuk saat tiba di kedai ramyeon/ramen itu. Jelas-jelas ini kedai ramen, masih nanya pula.
"Ramen.." Jawabku.
"Oh, sama, aku juga mau pesan ramen! Makan ramen di cuaca yang agak dingin cocok juga!" Balasnya.
Baiklah, kami makan ramen itu. Walaupun ramen ini tidak seenak ramen ichiraku, aku tetap lahap karena perutku memang sangat lapar. Risihnya, Yuwuk selalu menirukan apa yang aku lakukan! Contohnya, saat aku minum, ia akan segera meminumnya.
"Permisi! Apakah ini kedai ramen!?" Kata seorang pengunjung dengan volume yang nyaring tiba-tiba. Hei, suara itu seketika membuat jantungku memompa lebih cepat dari sebelumnya. Apakah dia..!?
"Na-naruto.." Gumamku tanpa sadar. Membuat Yuwuk mengikuti arah pandangku.
"Kau mengenalnya?" tanya Yuwuk kepo. Aku mengangguk, "Dia Naruto!" Bisikku. Aku yakin dia Naruto, tapi sepertinya ia belum menyadari keberadaanku di sini membuat niatku untuk memanggilnya urung.
"Naruto?" Tanyanya dengan tatapan bingung.
"Oh... Naruto... Pacarmu?" Tanyanya membuat pipiku merona, entah perasaanku saja atau memang benar tatapan Yuwuk menjadi kecewa dan terlihat sedikit sedih.
"Bukan pacarku sebenarnya... Aku hanya... Ehm.." Aku menundukkan kepalaku malu. Yuwuk tampak tak memperdulikan ucapanku barusan dan berkonsentrasi memperhatikan Naruto dengan pandangan menilai. Saat ini Naruto duduk di ujung kanan dan aku di ujung kiri. Dengan semangatnya ia memesan ramen. Benar-benar Naruto. Yuwuk tampak tak memperdulikan ucapanku barusan dan berkonsentrasi memperhatikan Naruto dengan pandangan menilai. Saat ini Naruto duduk di ujung kanan dan aku di ujung kiri. Dengan semangatnya ia memesan ramen. Benar-benar Naruto.
"Siapa gadis itu? Kau mengenalnya juga?" Tanya Yuwuk membuatku menoleh dan mendapat serangan jantung ringan. Naruto bersama seorang gadis. Aku sudah biasa melihatnya bersama Sakura, tapi melihat Naruto bersama gadis asing lain membuat dadaku sesak ta karuan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yuwuk kuatir. Aku tetap memfokuskan pandanganku. Memperhatikan kedua insan itu yang tengah bercakap-cakap akrab, lalu tertawa bersama. Naruto menjahilinya. Lalu gadis itu memukulnya tanpa basa-basi. Naruto tertawa terbahak-bahak. Tertawa di atas sakit hati dan kecemburuan yang kurasa. Tiba-tiba pandanganku dan Naruto bertemu. Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Hinata!" Panggilnya dengan senyum lebar khasnya. Walaupun penampilan dan dandanannya terlihat berubah aku masih dapat mengenali senyum lebar khas Naruto yang selalu membuatku tepar seketika. Namun ingatan akan Naruto dan gadis asing itu membuat emosiku meluap dan langsung bergegas meninggalkan kedai ramen itu. Aku berlari agak jauh dan bersembunyi di balik pohon di pinggiran jalan. Dadaku sesak. Napasku tersengal-sengal. Bukan karena lelah berlari tapi karna... Aish. Tunggu... Sepertinya ada yang kulupakan.
"Hinataaa!" Panggil suara seseorang. Naruto, yang kuharapakan itu Naruto. Tapi ternyata...
"Yuwuk..." Panggilku lemah, menyembulkan kepalaku dari balik pohon untuk melihatnya. Yuwuk tersenyum sumringah lalu berlari kecil menghampiriku. Dia berhenti di hadapanku tanpa kehilangan senyum sumringahnya itu padahal napasnya juga tersengal-sengal gara-gara mengejarku.
"Kau membuatku kuatir." Ucapnya. Aku tersenyum, "Terima kasih." Ucapku.
-Naruto's side-
Hah.. Hari ini terasa begitu sangat panjang. Atau bisa dikatakan mimpi yang sangat panjang. Baru kali ini aku bermimpi seindah ini. Tak kusangka aku menemukan sebuah surga dunia. Tak ada peperangan, semua orang berpenampilan baik, semua serba modern dan canggih. Aku takut jika tiba-tiba aku akan terbangun dari mimpi indah ini. Aku berpikir, aku akan meninggalkan surga dunia ini saat langit mulai terselimuti kegelapan. Kupastikan, sebelum hal itu terjadi, aku harus menemukan Sakura dan Sasuke yang mungkin juga terperangkap di tempat ini. Aku yakin hanya mereka berdua yang juga tertarik ke dunia ini karena guru kakashi adalah guru kita bertiga. Krucuk.. Kudengar suara perut Mina sedang membuat sebuah melodi. Dan setelah itu ia pasti akan berkata, "Aku lapar.." ya tepat sekali.
"Ayo kita makan di kedai ramen itu!? Kelihatannya banyak pengunjung, berarti rasanya enak!" Ucapku.
Mungkin makan di kedai ramen ini aku bisa bertemu dengan kedua temanku itu. Tapi, hei, aku melihat sosok yang bukan aku pikirkan.. Dia.. Hinata!? Ah tidak mungkin.. Dia bukan murid Kakashi, tidak mungkin dia ikut-ikutan tertarik. Tapi, jika memang benar ia tertarik juga, dia pasti ada di kantor polisi sebagai gadis hilang, bukannya malah makan bersama pria lunglit (balung kulit:tulang kulit). Sikapnya kan sangat pemalu. Yah pasti aku hanya berhalusinasi tentang Hinata..
"Hei, Om! Aku pesan ramen terjumbo ya!" Seruku penuh semangat. Om itu langsung menatapku tajam, membuatku bergidik ngeri.
"Sekali lagi kau panggil aku Om... Aku akan..." Ia mengarahkan pisaunya ke arah daging tak berdosa sambil tetap mempertahankan tatapan tajamnya ke arahku. 'TEK' sangat keras, dan dalam sekejap daging itu terbelah menjadi 5. Aku menelan ludah.
"Kau akan berakhir seperti daging ini." Katanya lalu meninggalkanku. "Kau sangat tak sopan, Naruto." Tegur Mina.
"Di sini berhati-hatilah terhadap kata ajjusshi dan ajjumah." Ia mendengus kesal. Hah? Apa masalahnya? Benar-benar aneh.
"Jeogiyo, aku pesan ramen jumbo dua!" Seru Minah yang langsung diiyakan sang pemilik kedai yang kelihatannya lebih ramah.
"Kau juga memesan ramen jumbo?" Tanyaku tak percaya melihat tubuhnya yang mungil, kecil, dan kurus.
"Ne. Memangnya kenapa? Kau yang mentraktirkan? Aku bisa rugi kalau tak memesan yang jumbo." Jawabnya.
"A-apa?" Aku tergagap dan sedikit takut-takut mengintip isi dompet bututku. Aku dapat merasakan Minah sedang melirikku was was. Aku menghela napas dan menunjukkan Minah sekeping uang yang sedari bulan lalu kesepiandi dalam dompetku.
"Ige mwoya? Cih, kau mengajakku pergi tapi tak mentraktirku." Minah mengrucutkan bibirnya. Aku cuma nyengir. Kehilangan kata-kata.
"Baiklah, aku akan mentraktirmu kalau kau bisa mengalahkan kecepatanku memakan ramen! Jika kau kalah... Ngg.. Kuanggap kau berhutang padaku! Dan, sepertinya kau harus membuang koin mungilmu itu, di sini itu sama sekali tak berarti." Katanya menantangku dan menjelek-jelekkan satu-satunya harta yang kumiliki.
"Hanya itu? Aku tentu bisa! Hahahaha.." Aku tertawa. Menertawainya. Aku pasti menang dari gadis kecil ini. Minah ikut tertawa sinis.
"Lihat saja nanti."
"Kau benar-benar Naruto. Ini keren." Ucapnya lalu tertawa lagi.
"Tentu saja ini aku kau pikir siapa?"
"Aniya, hanya saja ini terlalu aneh."
"Kau ngomong apa sih?" Kataku sambil mencubitnya gemas dan sepertinya membuat dia memukulku tanpa sungkan namun sepertinya dia berbunga-bunga, hal itu tak bisa ditutupinya. Saat aku sibuk dengan Mina, seperti ada sepasang mata yang mengawasiku. Dan itu dari seorang gadis yang mirip Hinata tadi. Mata kami pun bertemu, mata lavender itu membuatku yakin bahwa dia memang Hinata.
Langsung saja kepanggil dia, "Hinata!" Dengan senyuman lebarku sembari kulambaikan tanganku diudara. Namun entah kenapa wajahnya berasap dan tanpa membalas sapaanku ia langsung pergi dari kedai ini. Ah sudahlah, sepertinya aku salah mengenal orang. Aku yakin dia bukan Hinata. Ia sangat berbeda, jika ia Hinata pasti dia akan senang sekali bila bertemu denganku. Tapi mata lavender itu...
"Naruto, kau mengenalnya?" Tanya Mina membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng lalu tersenyum. Sekarang aku harus berlomba makan dengan Mina sekarang. Aku pasti akan mengalahkannya. Fufufu.. Mina menatapku ngerti begitu kusunggingkan senyum evilku.
-Eunhyuk's POV-
Ah, ada dimana aku? Ini UKS? Ngapain aku di sekolah sore-sore begini? Aish! Pasti ini ulah si Ryeowook ceking itu! Aigoo! Aku harus menyelamatkan komik-komik surga! Dan Hinata! Dan... Sasuke! Dia..! Berada di sekolah ini! Benar itu Sasuke! Masih dengan pakaian khas Jepangnya. Kenapa dia bisa berada disini!? Tapi, dia berbicara dengan siapa? Ini semua membuatku gila!
Daripada berdiam diri, aku nguping pembicaraan Sasuke.
"Kau pasti murid pindahan dari Jepang itu.." Kata Park Songsaengnim dengan tawa kecil sementara Sasuke hanya tersenyum memaksa.
Hah ternyata Sasuke berbicara dengan Kepsek! Apa katanya? Murid pindahan dari Jepang? Yang benar saja!? Tapi, apa iya ya?
"Namamu siapa?" Tanya Kepsek.
"Sasuke.." Jawab Sasuke ragu-ragu.
"Murid pindahan suka bercanda ya? Jelas-jelas namamu Sungmin.." Kata Kepsek terkekeh.
Hah.. Jadi Sasuke penipu..
Sasuke's POV
Aku berjalan sempoyongan mencari bocah rambut pup itu. Aku tak kuasa menahan lapar sehingga badanku mengering dan layu terbawa angin. Aku terbang entah kemana. Dan aku jatuh tepat di depan bapak-bapak tua.
"Hei, kau! Kenapa kau tergelimpuk di depan sekolahku?" Tanya bapak itu.
Aku yang tak bertenaga tak sanggup menganggapinya. Cepluk! Aku tergeletak di depan sepatunya.
"Tunggu dulu! Kau butuh energi! Kau beruntung bertemu denganku yang tidak tahan jika melihat orang kelaparan. Masuk saja ke sekolahku." Ajak bapak itu.
Ia memapahku masuk ke dalam bangunan sekolah. Tapi baru beberapa langkah, sepertinya ketuaan bapak itu terlihat. Tubuhnya bergetar dan napasnya bergetar. Sepertinya ia tak kuat memapahku. Alhasil... Akulah yang memapahnya. Sesuai petunjuknya kami masuk ke dalam satu ruang diantara puluhan ruang. Ruang serba putih, dengan 2 tempat tidur yang salah satunya tertutup tirai sebagian, di dalamnya ada seorang laki-laki sedang tertidur. Ya, Tuhan, ternyata ada seorang pemalas seperti si rambut pup.
"Kau, duduklah, kau pasti lelah. Aku akan mencarikan vitamin untukmu. Sementara makanlah roti ini dulu." Kata bapak itu mengalihkan perhatianku dari sosok yang tertidur tadi.
Aku menerima sebungkus roti yang disodorkannya padaku. Lalu merobek bungkusnya sementara bapak tadi mengacak-ngacak lemari obat.
"Kau berasal dari mana?" Tanya bapak itu.
Aku berpikir sejenak. Haruskah kukatakan yang sejujurnya?
"Ehm... Jepang?" Jawabku ragu. Tak berusaha menutupi apapun.
Tiba-tiba bapak itu menguncang tubuhku membuat roti yang belum ternodai sidik jariku sedikitpun jatuh ke lantai. Sial.
"Kau pasti murid pindahan dari Jepang itu.." Katanya membuatku melongo. Apa maksudnya?
Karena tak mendapat jawaban dariku, ia pun semakin menjadi kepo. "Namamu siapa?"
"Sasuke.." Jawabku ragu.
"Murid pindahan suka bercanda ya? Jelas-jelas namamu Sungmin.." Kata bapak itu terkekeh. Apa yang lucu?
Siapa pula sumin? Nama yang aneh. "Sumin?" Ulangku masih merasa aneh.
"Hahahaha. Berhentilah bercanda, bocah. Sungmin. SUNG-MIN." Dia terbahak dan mengeja sumin, maksudku.. Sungmin.
"Kau tinggal di mana?" Tanyanya. Bapak ini kepo sekali. Ia lebih pantas jadi Ibu-ibu rumpi daripada seorang bapak yang hanya luarnya saja terlihat berwibawa, tapi dalamnya...
"Untuk sekarang tidak di manapun." Jawabku singkat.
"Haha..." Dia hampir mulai terbahak lagi, sampai akhirnya kusumpal mulutnya dengan roti yang jatuh tadi.
"Berhentilah tertawa. Aku serius tak punya tempat tinggal. Dan kau mau menertawaiku?" Tanyaku ketus.
-Ryeowook's side-
"Kau tak punya tempat tinggal!? Dimana keluargamu!?" Tanyaku heran kepada Hinata.
Tidak ada jawaban, hanya tangis yang terdengar. Semakin membuatku kesal mendengar tangisannya itu.
"Bolehkah aku tinggal bersamamu?" Jawabnya yang tiba-tiba, dan mengejutkanku. Bagaimana tidak, aku tidak pernah membawa seorang wanita ke dalam rumah. Walaupun hari ini ayahku sedang pergi, tapi aku benar-benar tidak tertarik dengan wanita.
"Aku tidak bisa. Apa kata orang jika aku memasukkan gadis ke dalam rumah.." Jawabku yang membuatnya semakin sedih.
"Apakah kau tidak mengenal siapapun?" Lanjutku dengan bertanya.
Tiba-tiba aku teringat akan Naruto, yang mungkin adalah pacarnya. Rasa sesak di dada mulai kambuh. Tak percaya, tiba-tiba bibirku melontarkan kata-kata yang jauh dipikiranku.
"Kau bisa tinggal di rumahku, tenang saja, semua akan baik-baik saja bersamaku."
-Sasuke's side-
Bagaimana ini? Bapak ini terlalu baik padaku. Apa yang harus kulakukan padanya? Kabur begitu saja? Naruto, kunci utama adalah aku harus mencari Naruto, bukannya terjebak disini bersama bapak tua ini.
"Dasar bodoh! Ini adalah kesempatan emas untuk menjadi cowok kece! Dengan menjadi Sungmin, kau bisa bersekolah disini dan tentunya bisa mencari Naruto tanpa dipandang orang lain dengan tatapan aneh!" Kata iblis merayuku.
"Pak, sebenernya, semua barangku dari Jepang di maling orang.." Jawabku berusaha terlihat real.
"Dan keluargaku hanya memberiku semangat dari Jepang.. Tanpa memberiku uang.." Lanjutku dengan berusaha menitihkan airmata agar bapak tua ini mengasihaniku dan memberi tumpangan.
Tanpa disangka-sangka bapak tua ini tidak percaya padaku.
"Kau pikir kau siapa!? Sudah menyumpal roti ke mulutku! Kau masih berharap tinggal di kediamanku!?" Jawabnya ketus.
Aku tertegun menelan ludah beserta roti yang akhirnya kumakan, walau hanya segigit. Aku berkeringat. Usahaku sia-sia berakting di depannya.
"Hahaha! Tidak hanya orang Jepang! Orang korea juga suka bercanda! Tinggalah di rumahku, bocah tampan! Ketampananmu mengingatkanku saat aku masih muda.. Hahaha!" Lanjutnya dengan tawa bahak khasnya.
Aku menatapnya ngeri. Lalu menatap refleksi diriku di kaca yang tergantung di dinding uks sana sambil mengelus-ngelus wajahku. Apakah keriputku semakin bertambah? Bagaimana mungkin bapak ini menyamakan dirinya dengan diriku?
"Ha.. Ha.. Kau sangat lucu pak." Kataku datar berusaha tertawa seolah-olah bapak itu benar-benar lucu.
Bapak itu menepuk-nepuk punggungku lalu tertawa lagi, "Hahaha.. Kau benar-benar bocah baik. Baiklah, ayo ke rumah langsung saja. Kau masih harus membereskan gudang di loteng untuk kau jadikan kamarmu."
Aku melebarkan mataku, yang benar saja bapak ini menempatkan diriku, seorang ninja tampan, di gudang? Jika saja aku tidak sedang membutuhkannya, mungkin aku sudah menchidorinya dari tadi dan mungkin sekarang aku tak perlu mendengar tawa dan ocehannya yang menusuk gendang telingaku.
-Hinata's side-
Benar-benar beruntung aku bertemu Yuwuk. Dia sangat baik dan membuatku merasa nyaman. Bahkan dia mau menolongku yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Dia juga mau menampungku yang bukan siapa-siapanya.
Aku melirik Yuwuk yang berjalan di sampingku. Lampu-lampu jalanan yang meramaikan malam menyinari wajahnya. Membuat seulas senyum di wajahnya terlihat jelas. Tiba-tiba Yuwuk menoleh ke arahku dan pandangan kami bertemu, membuatku terkejut dan salah tingkah.
"Ini pertama kalinya kau kemari?" Tanyanya membuka pembicaraan, aku hanya mengangguk dan mengalihkan pandanganku ke arah deretan stand yang lampu-lampunya berependar turut memeriahkan keindahan malam ini.
"Apa kau senang di sini?" Tanyanya lagi. Lagi-lagi aku hanya mengangguk kehilangan kata-kata.
"Kenapa tak bersuara?" Tanyanya menyadari keheninganku.
"Ah, aku.. Aku hanya terlalu senang. Ternyata masih ada orang sebaik dirimu dan begitu peduli padaku. Aku beruntung jika kau juga mau menjadi temanku." Kataku meluapkan apa yang kurasakan.
Yuwuk terdiam, begitu mendengar kata teman pula senyumnya pudar. Ada apa? Apa dia tak ingin menjadi temanku?
"Ada apa?" Tanyaku penasaran.
"Oh, tidak.." Katanya lalu tersenyum, kali ini senyumnya terkesan dipaksakan.
"Baru kali ini aku mendengar seseorang benar-benar tulus ingin berteman denganku." Lanjutnya. Apakah senyumnya berubah karena alasan ini? Atau ada alasan lain.
"Aku juga. Jarang ada yang mau berteman dengan gadis lemah sepertiku." Kataku.
"Kau sama sepertiku, kita sama-sama terlihat lemah dan dilupakan. Melihatmu seperti melihat diriku sendiri. Maaf ya, aku malah curcol." Curcol Yuwuk.
"Tak apa, aku adalah pendengar yang baik. Eh?" Tak kusadari aku berbicara sendiri, Yuwuk sudah berbelok di pertigaan tadi. Tapi, kemana dia belok? Ak-aku kehilangan dia!?
"Yuwuk! Kau dimana!?" Teriakku sambil terisak. Mencari-cari semak belukar manakah yang menyembunyikan jejak Yuwuk.
-Sungmin's side-
"Bukankah, sekarang aku sudah sehat, suster? Tapi kenapa aku masih di cegah di rumah sakit ini? Lihatlah jam dinding yang terpampang itu. Sekarang sudah jam 7 malam. Adik kecilku di rumah sedang kelaparan menunggu kepulanganku." Ucapku pada suster bertompel dengan gelisah, aku benar-benar gelisah mengingat mobil kodokku yang kedinginan di luar sana, juga si Mina yang menungguku, mengingat saat di telfon tadi ia terdengar sangat membutuhkanku.
-Mina's side-
Lalala~ aku berharap Sungmin oppa lupa jalan pulang biar aku bisa lebih berlama-lama dengan Naruto~
"Hey Mina! Kau harus membantuku mencari teman-temanku. Aku sudah menghabiskan waktuku untuk bekerja di tempat ramen itu. Semua ini gara-gara kau tau!" Ucap Naruto.
"Aish.." Ucapku tak peduli.
"Hey! Jangan pura-pura tuli! Kau tidak menepati janjimu! Janji itu harus ditepati!" Umpatnya tak henti-henti. Aku memang salah, karena aku yang kalah taruhan, yang seharusnya membayar tagihan ramen ichiraku, tapi malah Naruto yang membayar dengan mencuci piring seharian. Aku benar-benar mengerjainya habis-habisan.
"Naruto yang sedang marah ternyata sangat lucu ya.."
"Untung saja kau seorang gadis! Jika tidak, aku akan menyerangmu dengan jurus rasengan ku!" Umpatnya lagi.
-Sungmin's side-
"Kau ini! Dasar suami durhaka!" Ucap suster bertompel itu tanpa berpikir.
"Apa maksudmu dengan suami durhaka, suster gila!? Aku masih muda dan belum menikah! Pacar saja tidak punya!" Kekesalanku benar-benar memuncak. Berapa kalipun aku berusaha meninggalkan rumah sakit ini, kawan-kawan suster bertompel itu terus menangkapku. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sadarlah! Istrimu masih dirawat! Kau malah mau pulang! Dekati istrimu yang berambut pink itu! Dia terus menyebutkan namamu dengan bubuhan 'suamiku'!" Kata suster bertompel panjang lebar.
"Apa!? Rambut pink!?"
Aku menyeret kakiku kesal ke kamar si gadis Pink tadi, hingga akhirnya aku membanting pintu itu tanpa basa-basi lagi. Bukannya mengeluarkan omelanku yang sedari tadi berputar-putar di otakku, aku malah terdiam heran akan keheningan kamar yang seharusnya diisi orang yang membuatku pusing. Kamar begitu gelap tanpa penerangan. Di mana saklar lampunya? Aku berjalan sambil meraba tembok, siapa tahu aku dapat menemukan saklar lampu, dan melangkahkan kakiku pelan-pelan, siapa tahu aku menginjak mayat seseorang di lantai, seperti halnya di film-film horror-yang diam-diam Mina selundupkan diantara kaset-kasetku saat ia berkunjung ke Jepang, Mina benar-benar ingin aku mati seorang diri di Jepang karena ketakutan. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha mengusir bayangan-bayangan hantu yang biasanya muncul di film horror bersetting rumah sakit dari pikiranku.
Aku berhasil melangkah hingga ke depan jendela. Kubuka gorden selebar mungkin, hingga perlahan-lahan cahaya lampu luar merayap memasuki kamar suram ini. Dari sini dapat kulihat taman rumah sakit yang sangat menyeramkan, suasananya angkernya sudah mengalahkan kuburan. Tiba-tiba aku melihat bayangan sekilas di bawah sana dan bulu kudukku langsung berjoget ria. Bayangan itu seolah-olah semakin mengarah ke arah jendela ini. Hingga tiba-tiba sosok gelap dengan mata tosca yang menyala terang muncul di hadapanku.
"Whoaaaaaaa!" Aku berteriak sekencang mungkin dan berlari secepat ninja keluar dari kamar, tapi tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu. Sosok misterius itu sudah ada di hadapanku. Aku menoleh ke arah jendela, jendela yang tadinya terkunci rapat, kini ribuan molekul angin malam sudah merasuk ke dalam tulangku.
"Whoaaaaah!" Aku kembali berteriak dan perlahan-lahan mundur, mungkin lebih baik aku lompat keluar jendela daripada mati konyol dibunuh hantu.
"Huahahahahaha! Tampangmu jelek sekali!" Tiba-tiba ledakan tawa seorang gadis mengingatkanku akan sesuatu, bahwa hantu, setan, atau sebangsanya hanyalah karangan fiksi bagiku. Aku yang masih tak paham hanya diam menatap sosok gelap dengan mata tosca yang bercahaya yang sedang terbahak-bahak.
Mata itu, sepertinya aku pernah lihat. "PINKY!" Seruku kemudian.
"Huwaa!" Pekikku ketika aku salah menapakkan kakiku. Sehingga aku terjatuh. Bukan jatuh keluar jendela, tapi di dalam kamar tepatnya di depan jendela. Aku langsung tak sadarkan diri.
-To be continued, maybe-
