WARNING:
OOC, Typos, AU

DISCLAIMER:
Calm down, Kishimoto-sensei. Naruto always belongs to you ^^

PAIRING:
Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

So this is it! Anonymous Hyuuga presents:

.

.

.

.

.

.

.

"THE MUSIC OF BUTTERFLY"

PART THREE
(LAST PART)


"Hentikan."

Sejenak kegiatan para laki-laki itu terhenti dan mereka serentak melihat ke sumber suara.

Aku tak dapat melihat siapa yang datang karena mereka begitu ketat mengerumuniku, sehingga pandanganku terhalangi. Namun jelas sekali suara dingin bernada tajam itu milik siapa. Aku tahu ia siapa. Aku sangat tahu.

Kudengar langkah kaki mendekati aku dan enam laki-laki di sekelilingku. Tiba-tiba laki-laki di depanku mendecih dan berkata dengan nada menghina, "Oh, anak saudagar kaya sedang sok pahlawan, ya?"

Perkataannya itu diikuti tawa oleh yang lainnya. Aku merasa geram mendengar tawa mereka. Kalian tidak boleh menertawakannya! Kalian tidak boleh menertawakan Sasuke!

Namun apa daya, aku masih belum bisa bergerak hingga saat ini.

"Siapa yang sok pahlawan?" tanya Sasuke dengan dingin tanpa ekspresi apa pun dalam nada bicaranya.

Ucapan itu begitu penuh akan kharisma yang tak dapat dipungkiri karena keenam laki-laki yang mengerumuniku segera diam dan tidak lagi berkata apa-apa.

"Sekarang pergilah sebelum kupanggil guru," ucap Sasuke lagi.

Seperti kerbau yang baru dicambuk majikannya, enam laki-laki itu pergi meninggalkan kami berdua dengan kesal—namun tak bisa berbuat apa-apa.

Tinggal kami berdua.

Aku merasakan pundakku yang sempat tegang melemas sehingga posisi dudukku merosot. Tas dalam pelukanku pun akhirnya terlepas dan jatuh ke lantai sebelum aku terisak keras. Aku memikirkan apa yang akan terjadi padaku jika Sasuke tidak datang. Aku tidak bisa membayangkan tubuhku diraba-raba oleh enam pemuda brengsek itu jika Sasuke tidak datang.

"Bodoh!" bentak Sasuke sambil menarik kerah kemejaku hingga aku berdiri dan mendorong aku hingga menabrak jendela besar di belakangku.

"A-ah, S-Sasuke-kun!" pekikku tertahan karena merasakan punggungku sakit.

Sasuke mengeratkan cengkeraman pada kerah kemejaku dan membentak, "Mengapa kau datang sendirian ke kelas yang dipenuhi laki-laki, eh?! Kau mau cari mati?! Dasar bodoh!"

Aku merasa sakit hati saat mendengar ucapannya. Dengan kesal kutepis kedua tangannya dan kubalas bentakannya dengan setengah terisak, "M-mengapa k-kau tidak m-membiarkan ak-aku dijamah mereka saja j-jika kau hanya i-ingin membentakku?!"

Tak diduga, Sasuke menjatuhkan aku ke dalam pelukannya. Ia memelukku begitu erat sambil berkata, "Bagaimana mungkin aku membiarkanmu diperkosa oleh mereka, Bodoh?"

Ia kembali memanggilku 'Bodoh'. Sial, aku merasa senang.

Isakanku semakin keras di dalam pelukan Sasuke. Kulepaskan segala kekesalanku padanya melalui tangisan. Tanpa malu-malu aku menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya dan terisak di sana. Persetan dengan kemejanya yang basah.

Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dalam hatiku. Segera kulepaskan pelukannya. Aku menggenggam kedua tangannya dan menatap tepat ke arah matanya lalu bertanya, "B-bagaimana k-kau b-bisa ada di sini?"

Sasuke terdiam sejenak lalu ia berkata, "Ke toilet."

Dengan heran aku mengerutkan keningku. "B-bukannya d-di lantai bawah a-ada toilet?"

Sasuke terdiam lagi dan kembali menjawab, "Dibersihkan."

Sebenarnya aku tidak percaya seratus persen dengan ucapannya. Tetapi aku memilih untuk tidak ambil pusing dan mengangguk-angguk seakan aku mempercayainya.

"Ya sudah. Aku pergi dulu," kata Sasuke sambil menarik diri dariku. Ia segera berbalik badan dan berkata tanpa menengok ke arahku, "Jaga dirimu."

Sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku, aku memanggilnya, "S-Sasuke-kun!"

Ia menghentikan langkahnya dan menengok ke kiri—masih tetap tidak melihatku—dan menyahut, "Apa?"

"Um, a-ano. A-arigatou," gumamku, entah aku tak tahu ia mendengarnya atau tidak.

Namun setelahnya, aku segera tahu ia mendengarnya karena kulihat otot pipinya sedikit tertarik—menandakan ia tersenyum—lalu ia mengangguk dan berkata, "Hn."

Setelahnya, ia benar-benar menghilang dari pandanganku.

Aku merasakan jantungku berdebar dengan gila. Aku tersenyum kegirangan dan memeluk diriku sendiri—berkhayal bahwa Sasukelah yang memelukku. Aku berbuat demikian hingga tak sadar bel masuk telah berbunyi, dan sebagian besar murid kelasku yang masuk ke kelas memandangku dengan aneh.

xxx

Aku masih membayangkan betapa senang dan leganya aku tadi saat tiba-tiba Sasuke datang untuk menyelamatkan aku dari tangan-tangan jahat anak-anak laki-laki tadi. Ia bersikap sangat heroik dan memukauku. Senyuman dan rasa hangat pelukannya masih dapat kubayangkan dengan jelas. Ia menyentuhku dengan sebuah perasaan besar yang jelas sekali kurasakan mengaliri tiap-tiap nadiku.

Aku mulai berani berpikir bahwa Sasuke tidak benar-benar membenciku, dan memiliki alasan khusus yang membuatnya mendadak dingin dan terkesan kejam kepadaku. Bahkan aku berani berpikir bahwa hubungan kami akan kembali seperti semula. Saat aku bisa berjalan di sebelahnya dengan leluasa. Saat aku bisa mendengar suara baritone-nya yang mengalir lembut dalam rongga telingaku.

Saat baru keluar dari ruang kelas pada jam pulang, aku tak membuang-buang waktu lagi untuk segera meminjam kunci ruang musik dari Kurenai-sensei. Setelah dengan mudahnya aku mendapatkan kunci itu, aku bergegas menuju ke ruang musik, namun langkahku terhenti karena melihat Sasuke yang tengah berdiri di depan ruang perpustakaan. Kepalanya sedikit melongok ke dalam, dan ia terlihat sedang berbicara dengan seseorang.

Aku menggigit bibir untuk menahan senyum. Tak banyak bicara, aku menghampirinya dan menepuk pundaknya. Sasuke dengan cepat menoleh ke arahku dan memandangku dengan kening berkerut sementara aku tersenyum padanya.

"S-Sasuke-kun, m-maukah k-kau berlatih musik denganku?" tanyaku dengan takut-takut.

Sasuke memandang tak suka ke arahku, membuat aku sedikit terlonjak. Pergi ke manakah pandangan lembut yang ia berikan saat jam makan siang tadi?

"Membuang-buang waktu saja," ujarnya dingin sambil menatap tajam ke arahku.

Kurasakan dadaku mulai terasa sesak. Ternyata perkiraanku salah. Hubungan kami sama sekali tidak akan membaik hanya karena kejadian kecil semacam tadi. Tetapi kurasa memang ia memiliki alasan khusus yang membuatnya terlihat begitu membenciku, yaitu ia muak padaku.

Dengan lesu aku memaksakan seulas senyum dan berkata, "B-baiklah kalau begitu. Ak-aku akan berlatih sendiri."

Aku membalikkan badanku, dan baru beberapa langkah aku berjalan, Sasuke menahan pergelangan tanganku. Merasa terkejut, aku membalikkan badan dan kembali menatapnya. Ia terlihat melihat-lihat keadaan sekitar.

Berikutnya, ia mendekatkan wajahnya pada telingaku dan berkata, "Tunggu aku dalam dua puluh menit."

Meskipun tidak paham benar apa maksudnya, aku mengangguk dan kembali melanjutkan perjalananku ke ruang musik di lantai dua setelah Sasuke melepaskan pergelangan tanganku.

xxx

Kembali pandanganku menangkap sebuah benda besar nan elegan berwarna putih saat baru kubuka pintu ruang musik. Benda itu begitu indah dan berkilauan, mengingatkanku pada memori dua hari yang lalu. Memori yang sangat miris di mana Sasuke menciumku namun akhirnya secara tiba-tiba menjadi dingin dan kejam padaku.

Aku mencabut kunci dari lubang kunci, masuk, dan menutup pintu ruang musik. Setelah itu aku mendekati benda besar putih elegan itu dan duduk di belakangnya. Kutekan satu tuts dan kembali kurasakan rasa hangat menjalari tiap-tiap pembuluh darahku ketika mendengar satu not yang menurutku sangat merdu.

Seperti dua hari yang lalu, aku seakan masuk ke dalam duniaku sendiri ketika memainkan nada-nada buatanku sendiri. Terhanyut dalam segala perasaan yang kusalurkan melalui dentingan piano. Aku memainkannya sembari memejamkan mata, menikmati tiap melodi yang dikeluarkan piano itu dengan bantuan sepuluh jemariku.

Setelah agak kelelahan memainkan piano, aku menghentikan permainanku. Kemudian kudongakkan kepalaku untuk menatap jam dinding. Sudah lima belas menit sejak Sasuke mengatakan bahwa ia akan datang dalam waktu dua puluh menit. Aku menghela napas. Sudah pasti Sasuke tidak akan datang.

Kulangkahkan kakiku untuk mulai menjelajahi ruangan musik besar dengan berbagai alat musik ini. Kusentuhkan jemariku kepada tiap-tiap alat musik yang ada di sana. Mulai dari Drum hingga Sakuhachi—alat musik tradisional Jepang. Aku tersenyum. Aku merasa tiap alat musik memiliki jiwa dan perasaan. Seperti halnya manusia yang memainkannya. Itu terbukti dari bagaimana perasaan seseorang akan tersalurkan dari benda-benda itu. Menurutku perasaan orang, yang memainkan alat musik, akan sampai pada pendengarnya karena alat musik itulah yang membantu kami menyalurkannya.

Kutatap lagi jam dinding di dinding bagian atas dekat pintu. Aku menghela napas lagi saat kulihat waktu sudah menunjukkan satu menit sebelum dua puluh menit yang dijanjikan Sasuke. Hah, sudah barang tentu ia tidak akan sampai di sini.

Merasa bosan menunggu, aku memutuskan untuk pulang saja. Aku mengeluarkan kunci ruang musik yang kumasukkan ke dalam saku kemejaku dan melangkahkan kedua kakiku untuk mendekati pintu. Baru saja aku hendak membukanya, pintu itu terbuka sebelum aku berhasil menyentuhnya. Sesosok manusia berseragam sekolah laki-laki pun mendadak muncul di depan hidungku. Aku mendongak dan kulihat wajah datar dengan mata hitam itu memandangku sambil tersenyum sangat tipis.

"Tepat waktu, bukan?" tanyanya sambil berjalan melewatiku.

Aku tidak bergerak dan hanya mengangguk pelan, kemudian tersenyum. Setelah menutup pintu ruang musik, aku berjalan ke arah sosok tadi berjalan—ke tempat piano berada. Ia sudah duduk di bangku yang ada di belakang piano, dan sudah bersiap memainkannya. Aku tetap diam pada tempatku dan memandangnya. Ia memandangku dan mendengus.

"Sampai kapan kau akan memandangiku? Kemarilah," ujarnya sambil menggeser sedikit letak bokongnya, menyisakan tempat untuk aku duduk. "Aku tidak suka main sendirian."

Sambil tersenyum gugup aku berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

"Lagu apa?" tanyaku dengan wajah memanas. Entahlah, duduk di sebelahnya saja sudah membuatku merasa gugup hingga nyaris mati.

"Terserah," jawabnya dingin.

Aku pun memulai permainan seperti tadi, dengan menekan sebuah tuts dan nada-nada mulai meluncur dari piano itu, akibat permainanku dengan Sasuke. Musik ini terdengar lembut tetapi juga memancarkan ketegasan dalam nadanya. Musik ini terkesan seperti perpaduan antara kepribadian kami yang cukup berbeda—aku yang terlalu lemah dan terkesan rapuh yang dipadukan dengan sosok tegas dan dingin sekaligus hangat milik Sasuke.

Kami akhirnya menyudahkan permainan kami setelah melakukannya selama dua puluh tiga menit—kira-kira. Terjadi keheningan yang canggung selama beberapa detik setelah kami memutuskan untuk sama-sama berhenti menekan tuts-tutus piano itu. Karena merasa tidak akan terjadi perbincangan berarti di antara kami, aku berdiri dan mengambil tasku lalu mulai berjalan. Baru beberapa langkah, tangan Sasuke menggenggam erat pergelangan tangan kiriku. Otomatis aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya yang sudah berdiri.

"Mengapa pergi?" tanyanya sambil menatap dalam-dalam kedua mata amethyst-ku.

"A-ano, a-aku—" aku menggantung ucapanku karena tidak tahu harus mengatakan apa.

"Jangan pergi dulu," ucapnya dengan nada memaksanya yang biasa—oh tentu saja ia masih tetap Tuan-Sok-Elegan-Yang-Penggerutu-dan-Pemaksa, "Aku ingin berdua saja denganmu."

Jantungku seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Dapat dibuktikan dari betapa sesaknya dadaku saat ini karena dipenuhi perasaan yang sangat besar. Kurasakan rasa hangat mulai menjalari tubuhku mulai dari ujung kaki hingga berhenti di wajahku. Kubalas tatapannya dengan pandangan tidak percaya, sementara ia hanya menatapku dengan datar.

"T-tapi I-Ino-s-senpai?" gumamku sambil menundukkan kepalaku.

"Jangan berisik," kata-kata khasnya mengalir dari bibir tipisnya yang memancarkan ketegasan, "Izinkan aku menciummu, Nona."

Aku kembali membelalakkan mataku saatmendengar kalimatnya yang terakhir.

"T-tak seperti b-biasanya kau minta izin," sahutku dengan berupa gumaman tidak jelas.

Sasuke mengangkat daguku dengan ujung jari telunjuknya. Saat aku baru mendongak, hal pertama yang kulihat adalah Sasuke yang mengerutkan keningnya dengan pandangan bertanya.

"Seperti biasanya?" ulangnya, "Memangnya berapa kali aku menciummu?"

Ah, benar. Ia tidak ingat saat ia mencuri ciuman pertamaku. Ia sama sekali tidak ingat.

"M-maksudku s-seperti d-dua ha—"

Tanpa memedulikan kelanjutan kalimatku, Sasuke segera meletakkan bibirnya pada bibirku. Mataku yang semula membelalak akhirnya terpejam menikmati perasaan yang ia salurkan melalui bibirnya. Saat ia menciumku, aku menjadi percaya pada kata-kata Naruto bahwa Sasuke mencintaiku seperti halnya ia mencintai piano. Kuangkat tanganku, dan mulai kugenggam kemeja bagian dada Sasuke dengan erat.

Kemudian ia melepaskan ciumannya.

Aku kecewa, namun ternyata itu bukan berarti semuanya berakhir. Ia ternyata hanya ingin menarik napas karena untuk yang keempat kalinya ia kembali menciumku. Tetapi yang kali ini jauh lebih liar dari sebelumnya. Ciuman yang jauh lebih dalam dan terkesan penuh napsu. Namun aku tidak peduli. Kuikuti saja permainan yang ia ciptakan untuk kami.

Akhirnya permainan Sasuke selesai. Wajahnya tampak memerah. Tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, Sasuke menyambar tasnya yang tadi ia lempar secara asal. Kemudian ia berkata, "Ayo kuantar pulang."

Perkataan itu terkesan lebih seperti perintah dari pada ajakan. Sebelum menunggu Sasuke memaksaku, aku segera mengangguk dan berjalan di belakang Sasuke yang lebih dulu berjalan ke luar ruang musik.

xxx

Kami berhenti di depan hutan pinus, tempat di mana semua orang bisa memandang dengan jelas rumah besar yang sudah termakan usia. Sasuke terperangah dengan mata membelalak saat dilihatnya rumah besar itu. Aku tahu apa yang ada di pikirannya.

"Kau tinggal di dekat sini?" tanya Sasuke tanpa melepaskan pandang dari rumah besar itu. Tangannya menggenggam kemudi mobil dengan sangat erat.

Aku mengangguk. Setelahnya aku sadar ia tidak akan melihat gerakanku karena matanya yang terpaku pada suatu objek yang jelas sedang bermain-main di memorinya. Kemudian aku berkata 'ya' dengan suara yang hampir tak ada.

"Di sebelah mana?" tanyanya lagi. Kali ini ia memandangku seperti sedang menelaah tiap inci tubuhku. Aku sedikit risih dengan pandangannya yang terkesan menilai. Tebakanku, ia sedang membandingkan aku dengan bayang-bayang samar 'gadis di masa lalunya'.

Aku menunjuk ke hutan pinus dan menjawab, "Di seberang hutan pinus, jauh di belakang rumah lamamu."

Sasuke terkesiap mendengar perkataanku. Ia membelalakkan mata sembari menatapku tidak percaya. Kemudian ia bertanya dengan suara bergetar, "B-bagaimana k-kau tahu?"

Aku menurunkan pandanganku ke arah ujung sepatuku yang bergerak-gerak canggung. Sembari tersenyum miris dan menahan air mata, aku menggeleng dan bergumam, "Hanya asal bicara."

Sambil menghembuskan napas berat, Sasuke mengalihkan pandangannya. Ia meletakkan kedua sikunya pada kemudi mobil dengan tangannya yang berdiri secara vertical. Kemudian ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya yang terkepal erat, dengan dahi tertempel pada kemudi mobil. Berikutnya kudengar suara seperti isakan, dan kulihat pundaknya bergetar.

Sasuke menangis.

"S-Sasuke-kun," panggilku sambil menyentuh pundaknya dengan ujung jari-jariku. Aku merasa bersalah karena sudah mengingatkannya pada 'kenangan masa lalunya'.

"Aku tidak apa-apa. Kau boleh pergi," kata Sasuke tanpa bergerak. Ia bilang bahwa ia tidak apa-apa, tetapi suaranya yang serak jelas menggambarkan kesedihannya yang mendalam. Menyadari aku yang tak kunjung turun dari mobil, Sasuke berkata dengan suara yang terkesan tidak sabar, "Pergilah."

Aku pun mengangguk, mengucapkan terimakasih, dan turun dari mobil Sasuke.

xxx

Setelah kejadian di dalam mobil tadi, aku melamun berjam-jam di dalam kamarku. Dapat kudengar suara derit serangga yang minta diberi makan, namun aku tidak menghiraukan mereka karena sedang sibuk berkutat dalam pikiranku. Mikoto, Miki, Maru, Mari, Moko, maafkan aku ya. Aku sedang tidak mood bergerak.

Aku tidak menyangka, bahwa Sasuke sangat memikirkan aku yang pernah hadir dalam masa lalunya. Aku tidak menyangka bahwa perasaannya, saat ia terpaksa meninggalkan aku, adalah sangat terpukul. Aku tidak menyangka bahwa usahanya untuk melupakanku merupakan perjuangan yang sangat sulit baginya.

Ia tidak melupakan aku untuk kesenangannya sendiri. Ia hanya takut aku akan terus membayanginya dalam malam-malam gelapnya.

Dan aku terlalu egois untuk memikirkan kemungkinan Sasuke yang merasa sangat terbebani. Aku tidak tahu bahwa tidak hanya aku yang merasa kehilangan. Tetapi juga Sasuke.

xxx

Sampai istirahat siang hari ini, aku tidak melihat Sasuke. Apakah ia kembali menghindariku? Aku sebenarnya masih sangat heran bagaimana mungkin Sasuke menjadi seperti bunglon yang terus berubah-ubah sesuai dengan tempat dan kondisinya. Di saat dalam keramaian, Sasuke tidak pernah lagi menegurku dan bersikap hangat padaku. Berbeda saat kami hanya berdua. Ia senantiasa tersenyum dan terkadang menyentuhkan bagian tubuhnya padaku untuk menyalurkan sebuah perasaan besar yang menghanyutkanku.

Aku berjalan ke belakang sekolah untuk mencari tempat untuk makan, melewati banyak sekali pengurus OSIS yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan pentas seni minggu depan. Seperti dua hari yang lalu, Naruto dan Sakura menawarkan tempat duduk kosong di depan mereka untuk aku duduki. Namun aku menolaknya dengan alasan ingin mencari suasana baru selain kantin—karena jika aku mengatakan 'aku tidak ingin mengganggu kalian' sambil tertawa canggung, aku berani taruhan mereka akan mengatakan 'kau sama sekali tidak mengganggu' dengan serempak dan membuatku terpaksa menyerah. Ya, mereka orang-orang baik.

Baru saja aku duduk di lantai, yang berada di pinggiran gedung sekolah bagian belakang, dan membuka kotak bekalku, sinar matahari yang semula menerpaku mendadak terhalang tiga sosok manusia yang berdiri menjulang di depanku.

Spontan aku mendongak dan seketika keringat dingin menjalari punggungku saat kulihat siapa yang berdiri di sana. Ino dan kedua temannya di kedua sisinya. Yang satu berambut kuning dengan kuncir empat di belakang kepalanya—konyol—dan yang satunya berambut biru dengan sebuah jepitan besar berbentuk bunga di atas kepalanya sebelah kiri—juga konyol. Mereka memandangku dengan kejam seakan berkata, 'kami akan menerkammu di sini.'

"Hyuuga Hinata," desis Ino, "Di sini kau rupanya."

Aku tidak menjawab dan hanya memandang mereka dengan ketakutan. Untung suasana di sini tidak terlalu sepi karena aku berani bersumpah jika ini sepi, maka semua orang akan mendengar suara gemeletuk gigiku.

Temannya yang berambut kuning berjalan mendekatiku. Ia menggerakkan tangannya untuk menepis kotak bekal di pangkuanku sehingga jatuh dan isinya tumpah semua.

"Be-bekalku!" seruku sebelum orang berambut kuning itu menarik kerah bajuku dengan kasar dan mendorong aku hingga terbentur dinding di belakangku.

"Aku tidak peduli dengan bekalmu!" bentak gadis berambut kuning sambil menekan tubuhku dan membuatku meringis.

"Sudah, Temari-chan, biar aku yang mengurusnya karena ia yang merebut kekasihku," ujar Ino sambil menahan tangan Temari. Ia maju beberapa langkah, dan kini ialah yang berdiri tepat di depanku. "Senang, ya ditolong oleh Sasuke kemarin?" tanyanya sambil tersenyum meremehkan.

Aku melirik ke sana ke mari berusaha mencari celah untuk melarikan diri. Namun posisiku yang terkepung membuat kemungkinan melarikan diri menjadi sangat mustahil.

"Jawab pertanyaan Ino, adik kelas kurang ngajar!" bentak temannya yang berambut biru sambil menampar pipi kananku.

Tubuhku gemetar ketakutan. Inilah kali pertama ada kakak kelas yang melabrakku, apalagi dengan perbandingan jumlah masing-masing kubu yang sangat tidak adil. Satu lawan tiga. Bagaimana mungkin aku bisa menang melawan mereka. Aku mendesah dalam hati, merasa menyesal telah berhenti dari klub karate beberapa tahun yang lalu, yang hanya kuikuti dua hari dan segera kutinggalkan karena merasa takut.

Dan kesalnya lagi, sudah terpojokkan dan tak mempunyai ilmu bela diri, aku tidak memegang senjata! Andaikan aku membawa tas selempangku, aku bisa melempar stoples kaca yang senantiasa kubawa ke arah wajah 'cantik' mereka—ide yang sama ketika aku disudutkan enam laki-laki bejat di dalam kelas kemarin.

"Bagaimana latihan musiknya kemarin, Hyuuga?" tanya Ino lagi. Aku terkejut. Bagaimana bisa ia mengetahui tentang latihan musikku dengan Sasuke? A-apakah ia ada saat itu? Setahuku, kami—aku dan Sasuke—hanya berdua di lantai dua saat itu. Kurasa ada seorang mata-mata yang membocorkan ini pada Ino. Ino tertawa dengan suara melengking. Ia menampar pipi kiriku—wajahku kini simetris—dan berseru, "Berani-beraninya kau mendekati Sasuke!"

Temari dengan geram menampar pipi kiriku lagi, sedang aku hanya bergetar ketakutan di tempat. Kemudian gadis berambut kuning dan berkuncir empat itu menjambak rambutku, hingga kepalaku tertarik ke belakang. Teman Ino yang satunya—yang berambut biru—pun juga hendak menampar lagi pipi kananku. Aku bersiap dengan jurus memejamkan mata—agar aku tidak melihat proses tangannya mendarat pada pipiku.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Tangan itu tidak juga menyentuh pipiku. Aku perlahan-lahan memberanikan diri untuk membuka mata dan terkejut saat melihat siapa yang berdiri di antara Ino dan gadis rambut biru dengan posisi tubuh agak di belakang. Ia menahan tangan kanan Si Gadis Rambut Biru sembari memandang Ino dengan geram. Jelas sekali siapa yang hendak menamparku, namun orang itu justru menatap Ino. Itu membuktikan dengan jelas siapa yang mencari masalah.

"Cukup, Ino," ujar orang itu sembar melepaskan genggamannya pada tangan Si Gadis Rambut Biru.

"T-tapi S-Sasuke-kun—"

"Jangan sentuh Hinata-chan lagi. Bukankah aku sudah mengingatkanmu?" ujarnya dengan dingin.

"Tetapi ia sudah kegenitan mendekatimu! Aku kan sudah bilang kalau aku—"

Lagi-lagi Ino tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Sasuke segera memotong, "Itu kesalahanku. Aku yang melanggar aturan. Sekarang pergilah. Kau boleh menjadi pacarku sepuasmu asalkan kau tidak mendekati Hinata-chan lagi."

Deg.

Ino menatap aku dengan kesal, lalu menarik kedua temannya untuk pergi.

Aku menghela napas, merasa lega sudah terbebas dari tiga kakak kelasku itu. Saat sudah bebas, aku justru menangis sejadi-jadinya. Kurasakan pundakku disentuh oleh Sasuke, dan aku langsung mendongak untuk menatap matanya. Ia memeluk tubuhku dengan singkat.

"Jangan menangis lagi. Semua sudah kukendalikan," ujarnya sebelum melepaskan pelukannya.

Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Kepalaku tiba-tiba memutar untuk melihat kotak makanku yang sudah berakhir menyedihkan di bawah kakiku dengan posisi terbalik sehingga semua makanan yang kusiapkan sejak pagi tumpah ruah di lantai.

Sasuke mengikuti arah pandangku dan berkata, "Biar aku yang menggantinya."

"T-tidak u-usah," tukasku cepat sebelum ia sempat memberikan aku uang dari dompetnya, "A-aku tidak lapar."

Mendengar itu, Sasuke mengangguk dan memasukkan kembali dompetnya pada saku celananya. Kemudian ia berkata, "Aku pergi dulu." Dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.

Melihar kepergian Sasuke, aku merasa sedih. Padahal aku mengharapkan Sasuke memelukku lebih lama dan berkata 'aku ada di sisimu, Hinata' lalu ia mencium bibirku. Namun jelas itu tidak mungkin. Aku berjongkok untuk membersihkan nasi dengan nori yang berserakkan di lantai, dan saat itulah aku mendadak mengingat kalimat Sasuke tadi kepada Ino.

'Kau boleh menjadi pacarku sepuasmu asalkan kau tidak mendekati Hinata-chan lagi.'

Jadi itu penyebab Sasuke menjadi seperti bunglon. Ia memacari Ino hanya agar Ino—yang mungkin mengancamnya akan menyakitiku—tidak jadi menyakitiku. Aku tersenyum perih mendengar itu. Ini adalah cerita pengorbanan cinta yang buruk dan menyedihkan. Aku tak tahu harus senang atau sedih.

Tiba-tiba, saat aku hampir terjatuh dalam keterpurukan, perkataan Naruto terngiang-ngiang dalam benakku.

'Teme sama sekali tidak mencintai Ino, walau sedikitpun. Sama sekali tidak.'

'…Kalau ternyata dugaanku tentang kau yang menyukai Sasuke itu benar, berusahalah untuk mendapatkannya. Peluang untukmu begitu besar, Hinata-chan! Jadi kau tak perlu takut. Itu pun jika kau mau.'

Seiring dengan tanganku yang menutup kotak makanku, aku tersenyum cerah. Naruto benar. Peluang untukku begitu besar dan aku tidak boleh berhenti berusaha untuk mendapatkan Sasuke meskipun aku harus berakhir dengan hasil kekejaman Ino.

Aku berdiri dari tempat itu dan pergi ke kelas dengan perasaan riang.

xxx

Jam makan siang ini ternyata masih tersisa waktu yang sangat banyak. Karena bingung hendak melakukan apa, aku akhirnya memutuskan untuk bermain piano di ruang musik. Seperti biasa, aku menjumpai Kurenai-sensei dan meminjam kunci ruang musik, dan—seperti biasa pula—Kurenai-sensei memberikannya dengan mudah padaku.

Aku berpikir mungkin dengan bermain piano, aku bisa melupakan sejenak perasaanku yang sedang tidak menentu ini, dan juga melupakan sejenak kemungkinan masalah yang akan menimpaku.

Di tengah-tengah permainanku, aku melihat Kurenai-sensei tengah berjalan masuk—entah sejak kapan ia membuka pintu. Aku segera menghentikan permainanku saat melihat Kurenai-sensei, karena merasa malu.

"Mengapa dihentikan? Lanjutkan saja. Permainanmu sangat indah," kata Kurenai-sensei dengan wajah berseri-seri.

Aku tersipu malu mendengar Kurenai-sensei memujiku.

"A-ah, S-sensei terlalu berlebihan," ujarku dengan wajah yang memanas.

Namun Kurenai-sensei menggelengkan kepala, tersenyum, dan berkata, "Tidak. Aku serius. Kau sangat berbakat, Hinata."

Mendengar pujian itu, aku tersenyum dan kembali terhanyut pada permainan pianoku. Setelah kira-kira lima menit memainkan piano, aku menghentikannya, dan melihat Kurenai-sensei bertepuk tangan dengan mata berbinar-binar. Ia terlihat sangat senang mendengarkan permainanku.

"Hinata, kau tahu minggu depan ada pentas seni, bukan?" tanya Kurenai-sensei dan aku mengangguk, "Pulang sekolah nanti, ambillah undangan di tempatku. Akan kubuatkan undangan untukmu agar bisa menjadi pengisi acara pentas seni."

Aku terkejut mendengarnya. Jujur saja aku merupakan tipe orang yang mudah demam panggung. Aku segera mengibas-ngibaskan kedua tanganku dan menolaknya dengan halus, "T-tidak, K-kurenai-sensei. A-aku m-mudah demam panggung!"

"Aku memaksa. Kau harus mau," ujar Kurenai-sensei sambil tersenyum, "Aku tidak akan membiarkan bakat muridku tidak diketahui orang lain—jika aku mengetahuinya."

Mati aku! Kurenai-sensei sudah memaksaku, dan itu artinya aku harus menurutinya. Tetapi bagaimana? Kalau sendirian, sudah dapat dipastikan aku akan pingsan saat itu juga. Tetapi bagaimana jika berdua? Mungkin kegugupanku akan berkurang sedikit. Saat itu jugalah wajah Sasuke melayang di benakku.

"A-ano Kurenai-sensei, a-aku a-kan ikut jika bersama partner bermain pianoku," ujarku sambil tersenyum.

Kurenai-sensei mengerutkan kening. Ia berkata, "Sepertinya tahun ini hanya kau yang bisa bermain piano, Hinata."

Aku menggeleng sambil tersenyum lebar. "A-ada satu lagi. L-laki-laki. Namanya Sasuke."

"Sasuke? Sasuke yang mana? Apa nama keluarganya?" tanya Kurenai-sensei sambil berpikir.

Nama keluarga? Bodohnya aku tidak tahu. Aku menggigit bibir, lalu menjawab, "Eng, a-aku t-tidak tahu nama keluarganya. T-tetapi ia anak kelas dua."

"Ah! Aku tahu. Maksudmu Uchiha Sasuke, 'kan? Laki-laki berambut hitam, dengan kulit putih, yang sangat dingin. Benarkah ia bisa bermain piano?" tanya Kurenai-sensei dengan nada meragukan.

"J-jauh lebih hebat dari aku," timpalku dengan nada menggebu-gebu.

"Baiklah. Tetapi kau yang mengajaknya, ya? Aku tidak yakin ia mau. Kalau begitu, akan kubuatkan surat untuk kalian berdua," kata Kurenai-sensei, dan tepat setelahnya bel tanda masuk berbunyi. Kurenai sensei segera berkata, "Sudah kau kembali saja ke kelas, biar aku yang menguncinya."

Aku mengangguk, lalu berdiri untuk pergi setelah sebelumnya mengatakan beribu-ribu terimakasih untuknya.

xxx

Kemarin aku baru mengambil surat undangan yang diberikan Kurenai-sensei untukku dan Sasuke. Selain memberikan surat undangan spesial, Kurenai-sensei juga memberikan aku hal spesial untuk memegang kunci duplikat ruang musik, dan hak istimewa untuk menggunakan ruang musik sesukaku.

Aku ingat betapa kemarin aku menggenggam kedua undangan itu dengan erat saking senangnya, hingga dua kertas malang itu lecak. Neji, sepupuku, mengatakan bahwa ia turut bersuka cita aku akan tampil di pentas seni. Ia juga mengatakan bahwa ia akan menonton aku saat aku tampil minggu depan meskipun sudah kularang puluhan kali.

Dan saat ini, aku tengah mempersiapkan hatiku untuk menemui Sasuke dan memberikan surat undangan itu padanya. Setelah keberanianku terkumpul, aku berjalan ke mejanya di kantin pada jam makan siang. Ia tengah duduk bersama Ino di sebuah meja, dan di meja sebelah mereka ada Temari dan Si Gadis Rambut Biru. Keberadaan tiga perempuan menyebalkan itu membuatku sedikit gentar, namun aku memutuskan untuk membulatkan tekadku.

"S-Sasuke-kun," panggilku saat aku sudah berhasil melangkahkan kakiku ke sebelah tempat duduk Sasuke.

Ketiga perempuan keparat itu memperhatikanku dengan pandangan tidak suka, sementara Sasuke menatapku seakan berkata, 'Sedang apa kau di kandang buaya?'

"Hn," sahut Sasuke acuh tak acuh—atau berpura-pura acuh tak acuh?

Aku membuka surat undangan itu dan memegangnya di depan wajah Sasuke, sehingga kertas undangan itu menggantung di hadapannya. Ia mengerutkan kening dan membaca apa yang terlampir di sana.

"Ini s-surat undangan s-spesial dari Kurenai-sensei. K-kita akan b-berduet," ujarku sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar penuh harapan.

Keheningan sejenak. Sasuke tampak menimbang-nimbang akan memberi tanggapan apa untukku. Dan tanggapan yang ia berikan sangat jauh berbeda dari harapanku.

Ia berdiri sambil menyambar kertas di hadapannya. Kemudian ia menatapku dingin sembari menyobek-nyobek kertas itu di depan mataku, lalu berkata, "Tidak berguna dan menghabiskan waktu."

Aku mematung di tempatku saat ketiga perempuan itu menertawakan aku dengan nada mencemooh. Pandanganku berubah kelabu. Harapanku dihancurkan begitu saja oleh Sasuke. Padahal aku hanya berusaha seperti yang dikatakan Naruto, namun aku tidak tahu kalau hasilnya akan sesakit ini. Aku tidak tahu kalau Sasuke ternyata akan melakukan itu padaku.

Aku tersenyum getir. Pandanganku tak berani tertuju pada Sasuke, sehingga aku menerawang ke arah tanah. Dengan suara bergetar aku berkata, "K-kalau begitu… terimakasih."

Dan aku pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sama sekali mati.

xxx

Aku menekan tuts piano yang ada di hadapanku dengan kasar. Kusalurkan segala perasaan benci—benci pada diriku sendiri—kepada piano malang yang mungkin merasa kesakitan. Air mataku meleleh dengan liar dan kurasakan hidungku berair sehingga aku berkali-kali harus menghirupnya lagi agar kembali masuk ke hidungku.

Nada yang kuhasilkan tidak seperti biasanya. Tidak sendu. Tidak halus. Dan tidak ceria. Nada yang kuhasilkan terdengar marah. Kebencian benar-benar terpancar dari melodi yang keluar dari piano itu.

Aku berani taruhan, jika ada seseorang sekarat dan hanya bisa disembuhkan oleh nada-nada indah dari permainan pianoku, ia akan mati dalam sekejap.

Aku membenci semuanya. Aku membenci permainan pianoku. Aku membenci sikap Sasuke yang seperti bunglon. Dan terlebih lagi, aku membenci diriku sendiri yang tidak berguna.

Tangisanku pecah lagi dan aku spontan menghentikan permainan pianoku. Hatiku perih. Dadaku terasa sesak dan sama sekali tidak merasakan apa pun selain rasa sakit yang menusuk. Aku merasa seperti Mikoto,kupu-kupuku, yang kutemukan jatuh tak berdaya di hutan pinus karena sayapnya yang terluka—tak mampu terbang dan merasa tidak berguna.

'Sayapku patah' hal itulah yang akan kujawab jika seseorang bertanya padaku mengapa aku menangis. Dan memang benar, aku sukses membuat Kiba, teman semejaku, merasa heran saat ia bertanya padaku di dalam kelas.

xxx

Aku menceritakan tentang Sasuke yang menolak untuk kuajak bermain berdua, dan Kurenai-sensei bilang bahwa ia merasa tidak kaget dan justru ia sudah tahu dari awal bahwa Sasuke akan menolak ajakanku.

Kurenai-sensei membantu aku memperbaiki beberapa hal dalam permainan pianoku yang tidak terlalu sempurna. Ia bilang bahwa tempo permainanku seringkali tidak beraturan. Ia mengajarkanku dengan sabar, dan aku cukup terpana saat ia mempraktekkan cara bermain piano yang lebih benar. Kurenai-sensei tampak menawan saat ia berjibaku dengan grand piano putih itu. Sangat berkilauan. Sama halnya dengan Sasuke.

Bodoh. Masih saja ada Sasuke dalam pikiranku. Aku harus senantiasa fokus dalam permainan pianoku jika ingin menghasilkan nada yang sempurna.

Beberapa kali Kurenai-sensei mengatakan melodi yang kuhasilkan terdengar marah dan penuh kebencian. Saat ia menanyakan 'mengapa', aku hanya menjawab 'sayapku patah' dan ia tertawa seakan menganggap itu adalah lelucon terlucu yang pernah ia dengar.

Padahal memang benar. Memang benar bisa dikatakan bahwa 'sayap'ku patah, jika aku mengandaikan hatiku sebagai 'sayap'.

xxx

Hari pentas seni.

Tak terasa seminggu sudah berlalu sejak Sasuke mempermalukan aku untuk yang kedua kalinya di depan banyak orang. Dan tak terasa pula sudah seminggu Kurenai-sensei menjadi pelatih pribadiku. Aku mengucapkan berjuta-juta terimakasih padanya karena sudah menumbuhkan rasa percaya diri dalam diriku, dan ia hanya berkata bahwa ia sangat senang bisa membantuku karena ia begitu bangga akan kemampuanku yang tidak seberapa ini.

Aku memandangi wajahku di depan cermin toilet. Pipi dipoles merah, bibir dilapisi lipstick berwarna soft pink dan beberapa riasan di mataku yang membuatku terlihat menawan. Aku mengagumi diriku sendiri. Pandanganku kini teralihkan pada tubuhku yang dibalut gaun satin putih ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhku. Di kakiku ada sepasang high heels berwarna putih juga—sepatu mendiang ibuku.

Dalam hati aku merapalkan doa, agar aku tidak pingsan saat nanti di panggung, dan aku juga berkata dalam hatiku bahwa malam ini akan menjadi malamku. Setelah menghembuskan napas kuat-kuat, dan membayangkan Neji yang tidak jadi hadir karena ada pertemuan dengan teman-teman sesama pecinta arsitekturnya, aku berjalan dengan tubuh tegap keluar dari toilet. Dan hal pertama yang aku lihat saat baru membuka pintu toilet adalah, sesosok pemuda tampan berambut raven dengan balutan jas putih lengkap dengan kemeja dan celana hitam. Di lehernya menggantung dasi panjang berwarna merah. Sepatu hitam mengkilap turut memperindah penampilannya.

Pemuda itu menatapku lurus-lurus dari bawah hingga ke atas—seperti yang aku lakukan padanya. Aku tidak mengabaikan tatapannya, dan hanya berjalan melewatinya. Aku berpikir, untuk apa aku harus mengabaikan orang yang telah menghancurkan dan melukai 'sayap'ku? Aku tak punya waktu untuk memikirkannya meskipun tak bisa kupungkiri terkadang rasa sakit yang tidak terbayangkan menyerang 'sayap'ku yang lukanya sudah menganga.

xxx

Kini tibalah giliranku untuk naik ke panggung. Kurenai-sensei mengatakan bahwa aku pasti bisa melakukan apa yang selama ini aku latih. Sebenarnya tak ada lagu spesifik yang akan aku mainkan, karena aku terbiasa membuat lagu secara spontan jika sudah berhadapan dengan piano.

Aku naik ke panggung dengan keringat membasahi telapak tanganku yang kukepal erat. Jujur saja aku merasa cukup gugup saat kudengar tepukan tangan dari para penonton yang menyambut kedatanganku ke atas panggung. Untuk menanggapinya, aku hanya terseyum canggung dan berjalan untuk duduk di bangku grand piano putih yang sudah diangkat dari ruang musik ke panggung.

Baru saja jariku hendak menyentuh tuts piano, ada sebuah suara yang otomatis menghentikan pergerakanku.

"Kupikir kau tidak akan bermain tanpaku," ujar suara itu.

Spontan aku menoleh, dan pemuda yang tampak berkilauan dengan jas putihnya memandang aku sambil tersenyum tipis. Ia berjalan dan mengisyaratkan padaku untuk bergeser dan memberinya tempat. Angin yang berhembus di panggung outdoor ini semakin memperburuk keadaanku yang merasa dingin saat melihat kedatangan Sasuke yang sangat tiba-tiba. Bukankah ia bilang ini tidak berguna dan menghabiskan waktu? Apakah ia datang untukku?

Saat kami sudah duduk berdua di balik piano, seluruh penonton tampak menahan napas. Aku membayangkan diriku dan Sasuke yang duduk di belakang grand piano akan tampak sangat berkilauan. Oh, pasti bukan aku pusat kilaunya. Tetapi pemuda di sebelahku.

Sasuke menoleh ke arahku, menatapku seakan minta persetujuan. Sambil tersenyum, aku mengangguk dan saat itulah nada-nada lembut namun menggelegar yang luar biasa indah menghipnotis para penonton sehingga membuat mereka segera bertepuk tangan bahkan sebelum permainan kami berakhir.

Aku merasa bahagia, dan perasaanku ini kuserahkan pada piano yang kumainkan, agar ia menyalurkannya pada para pendengar kami. Perasaan bahagiaku tak lain berasal dari Sasuke yang pada akhirnya duduk juga di sebelahku sebagai partner bermain pianoku.

xxx

Setelah pertunjukan kami—aku dan Sasuke—berakhir, ia segera pergi dan menghilang dari pandangan. Beberapa orang tampak mendatangiku dan berseru-seru untuk menyampaikan bahwa aku sangat menakjubkan dan segala macam yang lainnya. Aku hanya menanggapi dengan kata 'kalian berlebihan' atau 'ah, tidak juga' sambil tersenyum canggung dan mengibas-ngibas tanganku. Setelah itu, aku pamit untuk berganti pakaian.

Pakaian yang kupakai saat ini indah tetapi sangat merepotkan sehingga aku dari rumah sudah membawa pakaian ganti berupa mini gown yang juga berwarna putih bermodel kemben dengan bagian bawah yang mengembang, sehingga mempermudah gerak kakiku. Aku melipat long dress yang tadi aku kenakan dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang cukup besar untuk memuat pakaian dan juga barang pemberian Sasukeku.

Saat aku tak sengaja menyentuh kotak kaca berisikan dasi kupu-kupu dan jam tangan hijau milik Sasukeku, aku tersenyum dan segera membulatkan tekadku untuk menunjukkan benda yang sudah lama ingin kutunjukkan ini, kepada sang empunya awal.

Aku melangkah keluar dari toilet dan bergegas mencari Sasuke sembari menggenggam erat kotak kaca di tanganku. Aku membayangkan, ketika aku menunjukkan dua benda di dalam kotak kaca ini, gerbang memori Sasuke akan terbuka lebar, matannya akan berkaca-kaca, lalu ia akan segera memeluk aku dalam pelukannya yang terhangat. Setelahnya ia mengatakan betapa ia merindukanku dan sangat mencintaiku.

Namun khayalanku itu terasa sangat bodoh ketika aku melihat pemandangan menyakitkan di depanku.

Aku melihat Sang Pemuda Raven Berjas Putih tengan mencium seorang gadis berambut pirang panjang dengan ciuman dewasa di bibirnya—gadis itu Ino. Mataku terbelalak, dan mulai memancarkan air mata yang jelas melunturkan riasan wajahku. Tanganku mulai bergetar hebat, dan kotak kaca dalam genggamanku terjatuh dan pecah, menghasilkan suara yang sangat mengundang perhatian, karena di dalam ruangan ini hanya ada aku, Ino, dan Sasuke.

Kedua sejoli itu melepaskan ciumannya, dan samar-samar aku melihat Sasuke yang membelakangi aku segera menghadap aku dan memandangku. Tanpa banyak bicara, aku berlari menjauhi mereka dan dapat kudengar pula Sasuke berseru memanggil aku beberapa kali, namun segera terhenti entah karena apa.

xxx

Aku menangis sejadi-jadinya. 'Sayap'ku yang mulai sembuh akhirnya terluka lagi karena Sasuke mencengkeramnya dengan erat sehingga perban dan segala macam obat yang kuberikan bagi 'sayap'ku hancur berkeping-keping dan menyisakan luka yang kian mendalam. Sembari terisak kencang, aku berlari keluar dari sekolah. Aku merasakan kakiku sakit karena heels yang aku kenakan. Dengan emosi aku melepas kedua sepatuku dan berlari dengan bertelanjang kaki.

Akhirnya aku sampai di hutan pinus. Tak kuhiraukan lagi suasana gelap yang menurut orang sangat mengerikan. Aku segera mencari Pohon Tua, dan setelah menemukannya, aku duduk dan bersandar padanya. Aku merasakan telapak kakiku perih karena aku yang berlari begitu cepat di atas aspal. Namun aku tidak peduli. Rasa sakit pada 'sayap'ku jauh lebih menyakitkan daripada yang di telapak kakiku. Aku menangis di sana, membiarkan udara dingin menusuk-nusuk tulangku, membiarkan nyamuk-nyamuk menghisap darahku—toh mereka juga akan segera mati setelah menggigit aku. Jadi untuk apa aku membunuh mereka?

Tiba-tiba kata-kata Naruto tentang Sasuke yang sama sekali tidak mencintai Ino, menyebar dalam pikiranku. Itu semua bohong. Naruto hanya berniat untuk menghiburku. Tetapi tidak ada gunanya aku mempersalahkan Naruto. Toh memang kenyataannya aku hanyalah sampah yang pantas dibuang oleh Sasuke.

Kenangan akan Sasuke terputar bagai film dokumenter di dalam otakku. Kenangan akan pertemuan pertama kami di dekat Pohon Tua. Kenangan akan pertemuan kedua kami saat ia mempermalukan. Kenangan saat ia tertawa karena melihatku memakan teriyaki yang sangat menjijikkan. Kenangan saat ia memakan bekal bersamaku. Kenangan saat ia menciumku di ruang musik. Kenangan saat ia menjadi seperti bunglon setelahnya. Kenangan saat ia menyobek kertas undangan yang kuberikan untuknya dari Kurenai-sensei. Kenangan saat ia datang untuk bermain piano bersamaku. Dan akhirnya saat ia mencium Ino ketika aku hendak menceritakan tentang benda yang ia berikan untukku.

Ngomong-nomong soal benda itu, di mana mereka? Ah, aku menjatuhkannya. Tubuhku segera melemas setelah itu. Aku memang ingin melupakannya agar rasa sakit ini tidak terus menguasaiku, namun biarlah aku memiliki sedikit saja kenangan darinya. Dan ternyata aku memang tak boleh memilikinya. Pasti Sasuke tidak menghiraukan benda yang kujatuhkan tadi, dan pergi untuk melanjutkan aktivitasnya dengan Ino.

Angin malam musim gugur yang dingin mulai berhembus kencang, membuat mataku menjadi sangat berat. Kurasakan kepalaku mulai tertunduk, dan setelahnya aku tak ingat apa yang terjadi.

xxx

Aku terbangun dan mengerjap-ngerjapkan mataku. Suasana masih sama. Masih sangat gelap. Tetapi ada yang berbeda di sini. Kepalaku bersandar pada sebuah benda kokoh di sebelah kananku. Aku melirikkan mataku, dan aku mendapati yang ada di sebelahku adalah sesosok pemuda dengan setelan jas putih. Aku tahu siapa orang ini.

"Kalau sudah bangun, mengapa masih bersandar?" tanya orang di sebelahku, membuat aku spontan duduk dengan tegak.

Aku memandangnya dengan getir. Sasuke. Sedang apa ia di sini? Mengapa ia ada di sini?

"M-mengapa k-kau di sini?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku tidak dapat mengontrol emosiku sehingga air mataku mulai membludak. Kembali aku melanjutkan perkataanku sembari terisak, "M-mengapa k-kau tidak m-mengurusi I-Ino saja?"

Sasuke tidak menjawab. Ia hanya menunduk sembari memegang sesuatu. Aku tak dapat melihat apa yang ia pegang karena kondisi yang sangat gelap. Muak. Aku muak melihatnya. Dengan segera, kupungut sepatu yang kuletakkan di sebelah tubuhku, dan aku beranjak untuk berdiri, namun segera ditahan oleh sebuah tangan yang mencengkeram lembut pergelangan tanganku.

"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Sasuke dengan suara lembutnya sembari menunjukkan benda yang ia pegang. Benda itu dasi kupu-kupu dan jam tangan hijau miliknya.

"Itu m-milikmu. A-ambillah da-dan bi-biarkan aku pergi," sahutku dengan dada yang terasa semakin sesak.

"Yang aku tanyakan, dari mana kau mendapatkan benda ini?" tanya Sasuke dengan nada memaksa yang sudah sangat biasa ia keluarkan.

"B-bukan urusanmu, 'kan? Sekarang lepaskan tanganmu dan biarkan aku pergi!" jeritku marah.

"Ini urusanku karena benda ini sudah menghilang sejak sepuluh tahun yang lalu," Sasuke tetap bersikeras untuk membuat aku menceritakannya. Aku merasa ia sudah mengingat apa yang terjadi. Jika memang begitu, ya biarkan saja ia mengingatnya. Bukankah aku bukanlah suatu pengaruh besar dalam hidupnya?

Aku tidak menjawab dan hanya membungkam mulut sembari mengalihkan pandangan dengan tidak menghadap wajahnya. Kepalaku menghadap ke sebelah kiri dan sama sekali tidak berniat untuk berputar seratus delapan puluh derajat.

"Kau mendengarku, 'kan?" tanya Sasuke. Aku tetap tidak bergeming. Sasuke tampaknya semakin jengah karena ia memaksa aku menghadapnya dengan cara memutar kepalaku secara paksa dengan tangannya yang memegang daguku. "Jawab aku."

Aku tak kuasa memandang matanya, sehingga aku menunduk untuk melarikan diri dari mata hitam kelamnya. Dengan isakan keras, aku mulai meracau tidak jelas, mengatakan dengan alur berantakan bahwa aku pernah bertemu dengan sosok laki-laki kecil berusia delapan tahun yang memberikan aku dua benda itu dan memberikan aku sebuah ciuman.

Terjadi keheningan panjang setelah ceritaku usai. Aku dengan takut-takut mencoba menatap wajahnya. Ternyata Sasuke tidak pernah sekalipun melepaskan pandangnya selama aku bercerita. Ia terus menerus memandangku dengan intens. Mulutnya terbuka sebentar, seperti hendak mengatakan sesuatu, namun segera dikatupkannya kembali.

Aku menghela napas dengan berat. Kepalaku rasanya pusing dan berputar-putar. Kusandarkan kepalaku pada batang Pohon Tua, dan aku memejamkan mataku untuk meredakan rasa pusing yang kian menjadi-jadi. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipi kananku. Aku terlonjak saat merasakan jari-jari dingin itu mengenai kulitku.

Jelas sekali pelakunya adalah Sasuke. Aku tidak menghiraukannya, hingga rasa sesak kembali kurasakan. Kembali aku memejamkan mata, namun napas Sasuke yang terasa begitu dekat, yang berhembus di telingaku, membuatku kembali membuka mata. Hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah mata. Sepasang mata dengan bola mata hitam yang sangat indah. Ia menatapku dengan dalam, dan tak lama kemudian kulihat sedikit air mulai keluar dari mata itu.

"Berdirilah," ujar Sasuke sambil menghela napas, mencegah tangisnya yang hampir keluar.

Aku menuruti kata-katanya tanpa banyak bicara, dan kemudian ia juga ikut berdiri. Sasuke berdiri di hadapanku dengan tangan masih menggenggam pergelangan tanganku. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun segera ia hentikan, dan ia memelukku. Memelukku dengan sangat erat hingga aku nyaris tidak dapat bernapas. Pelukan itu sarat akan kerinduan. Kurasa ia benar-benar sudah mengingat aku. Alih-alih menolak pelukannya, tanganku terangkat untuk melingkari lehernya, sementara kepalanya bersandar pada lekukan antara leher dan pundakku.

Sembari memejamkan mata, air mataku tidak berhenti mengalir. Perasaan yang selama ini kutahan-tahan pada akhirnya membuncah dari dalam dadaku. Aku sudah sampai pada puncak emosiku. Dengan isakan yang keras, aku mengiringi kecupan-kecupan yang diberikan Sasuke pada leherku. Ia tidak memberikan kecupan itu dalam rangka memenuhi kebutuhan rohaninya sebagai laki-laki. Tetapi sebagai penyaluran rasa sayang dan rindu yang dapat dengan jelas aku rasakan.

"Hinata-chan," panggilnya dengan kepala masih membenam di pundakku.

"Ya?" sahutku masih sesenggukan.

"Benarkah kau orangnya?" tanya Sasuke. Suara pemuda itu terdengar semakin pelan pada akhir kalimatnya.

Aku tidak menjawab dan hanya mengangguk sembari mempererat pelukanku, begitu pula dengan Sasuke. Kami berpelukan cukup lama, saling melepas rindu satu sama lain. Kini aku merasa sangat bahagia. Pada akhirnya aku bisa benar-benar bertemu dengan Sasuke—maksudku Sasuke yang benar-benar Sasukeku. Penantianku tidak sia-sia. Aku bersyukur dulu aku memutuskan untuk menunggunya di hutan pinus ini. Berharap ia kembali datang dengan kaki-kaki kecilnya, tersenyum padaku, dan memelukku seakan tidak akan pernah ia lepaskan lagi.

Dan semua itu terjadi. Ia memelukku seakan tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Akhirnya ia melepaskan pelukanku, namun aku tidak merasa kehilangan. Karena aku tahu, ia akan selalu bersamaku.

Pandangan matanya yang hangat hanya tertuju pada kedua mataku. Ia tersenyum lebar. Senyum yang—kata Naruto—sudah lama tak pernah ia keluarkan. Senyumannya kali ini berbeda dari senyumannya yang biasa, yang angkuh dan tidak berperasaan. Senyumannya kali ini juga berbeda dengan senyuman lembut yang ia berikan padaku di ruang musik saat kami untuk yang kedua kalinya berciuman. Senyumannya kali ini terlihat sangat bahagia. Kebahagiaan yang biasa tampak dalam diri anak kecil. Senyuman inilah yang kutunggu sejak sepuluh tahun yang lalu. Sejak dua puluh menit pertemuan kami yang pertama dulu. Dua puluh menit yang sanggup menyalurkan perasaan rindu yang begitu besar dan tidak terkira.

"Aku mencintaimu," kata Sasuke dengan nada jenakanya yang tidak biasa—tanpa beban saat mengatakannya.

Kurasakan wajahku memanas. Aku menunduk malu mendengar itu. Namun tak dapat kupungkiri bahwa aku juga sangat mencintainya. Aku mendongak saat ia mengangkat daguku dengan satu jarinya. Kutatap lagi mata onyx-nya yang menawan, dan ia memandangku dengan pandagan menuntut—seperti memaksa aku untuk mengatakan hal yang sama.

"A-aku j-juga mencintaimu, S-Sasuke-kun. Sangat… mencintaimu," bisikku dengan sangat lirih.

"Kau anak perempuan, 'kan?" tanyanya, seperti sepuluh tahun yang lalu.

Aku mengangguk, namun kali ini tidak ragu-ragu seperti sepuluh tahun yang lalu.

Kemudian, ia menciumku dengan lembut dan singkat—seperti sepuluh tahun yang lalu.

"Jadi begitu rasanya mencium orang yang kita cintai?" tanyanya sembari tersenyum lebar. Pertanyaannya kali ini juga tidak seperti sepuluh tahun yang lalu. Namun tetap saja senyuman itu sama seperti yang dulu.

"M-mengapa k-kau menciumku?" tanyaku, berusaha mengikuti kejadian sepuluh tahun silam.

Sasuke tampak berpikir sebentar. Kurasa ia sudah agak lupa dengan percakapan kita dulu. Kemudian ia menjawab masih dengan senyum lebarnya, "Karena aku mencintaimu, Bodoh."

Kemudian Sasuke menjentikkan jarinya di keningku, membuatku meringis kesakitan. Tak terasa air mataku kembali meleleh, dan aku tertawa di sela-sela air mataku. Tanpa menunggu Sasuke, aku segera melingkarkan tanganku di lehernya. Ia tampak tidak siap karena segera terjatuh ke belakang, hingga tubuhku sekarang menimpa tubuhnya yang cukup lebih besar dari tubuhku. Dengan wajah merona merah, aku menatapnya, dan ia tersenyum jahil sebelum ia menarikku ke dalam pelukannya. Kami berpelukan dalam posisi terbaring, dan aku merasa sangat bahagia.

Sasuke mengobati luka pada 'sayap'ku. Mengobati dengan cinta yang ia racik sendiri. Mengobati luka yang sudah ia torehkan pada 'sayap'ku. Aku merasa senang akan kenyataan itu. Ia bertanggung jawab dengan segala perbuatannya yang membuat aku tidak bisa terbang selama beberapa saat. Dan kenyataan bahwa ia mengobatinya di tempat ia mulai menorehkan lukanya membuatku semakin merasa bahagia.

Kami kembali bertemu di bawah Pohon Tua dalam keadaan yang nyaris sama dengan keadaan tahun-tahun silam. Ia datang dengan setelan jas kepadaku yang menggunakan rok. Ia datang dengan membawa pengobatan pada aku yang sama-sama terluka. Dulu kakiku yang terluka, dan ia mengobatinya tanpa sadar saat ia membawaku berjalan untuk bermain ke rumahnya. Dan kini 'sayap'ku yang terluka, dan ia mengobatinya tanpa sadar saat ia memelukku sambil menyatakan cintanya.

Ia tidak lagi membawaku ke rumahnya, tetapi membawaku ke dalam kehidupannya.

Kurasa aku sudah siap terbang bersamanya saat ini.

Sudah sangat siap.


EPILOG

"Neji-nii!" panggilku dari arah teras depan rumah. Aku tidak sendirian. Pinggangku saat ini dilingkari sebuah tangan besar milik seorang pemuda tampan yang akhirnya menjadi milikku seutuhnya. Tak ada jawaban, aku kembali berseru, "Neji-nii-san!"

Tak lama kemudian, keluarlah sosok berantakan yang tampak gusar akan panggilanku. Ia menggunakan kemeja yang empat kancing atasnya tidak terkancing. Ujung kemeja bagian bawahnya tampak mencuat ke sana kemari dari dalam celana panjangnya yang terlihat sobek di sana-sini. Kaca mata coklat yang membingkai matanya terlihat melorot, dan di telinga kirinya terselip sebuah pensil kayu yang tampak menyedihkan—kurasa pensil itu sudah harus pensiun dilihat dari pendeknya yang menyerupai kelingking bayi.

Aku memandang wajahnya dengan mata berbinar-binar, seperti tidak bisa melihat keadaannya. Persetan dengan keadaannya, aku sudah tahu ia baru saja berkutat dengan kertas besar berisi gambar-gambar arsitekturnya yang membuatku pusing setengah mati.

"Ada apa?" bentak Neji tidak sabar.

Aku tidak peduli akan tanggapannya, dan memperlebar senyumanku.

"Kau tidak lihat? Perkenalkan, ini Sasuke kecilku!" ujarku pada Neji sambil mengangkat tangan kanan Sasuke untuk bersalaman dengan sepupuku.

Neji mengerutkan kening sambil memandangi tangan itu. Pandangannya naik ke arah wajah Sasuke. Ia meneliti tiap inci wajah Sasuke dengan kening berkerut. Aku sudah tahu apa tanggapannya. Dengan masih memandangi Sasuke, Neji menyambut uluran tangan Sasuke dan menjabat tangannya.

"Imouto-chan, siapa dia?" tanya Neji. Nah, sesuai dugaanku.

Aku mendengus kesal dan menyahut, "Dia Sasuke kecilku!"

"Ah, aku tidak mengerti!" ujat Neji sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dan berbalik untuk kembali masuk ke kamarnya.

"Laki-laki tadi kakakmu?" tanya Sasuke akhirnya setelah lama bungkam.

"Ya, ia kakak sepupuku. Kami tinggal berdua di sini selama orang tua kami mengurus perusahaan mereka di luar negri," jelasku panjang lebar dan Sasuke hanya manggut-manggut mengerti. Aku menarik lengan kirinya yang melingkari tubuhku, untuk menyuruhnya masuk. "Masuklah, aku ingin memperlihatkan serangga-serangga manisku."

Sasuke mengernyit sambil menahan langkahnya. "Kau masih suka serangga?" tanyanya dengan nada jijik.

Aku memberenggut saat mendengar nada bicaranya, lalu menyahut, "Dan kau sudah pasti masih tidak menyukai serangga. Tetapi ayolah, aku ingin memperlihatkannya padamu!"

Dengan berat hati Sasuke mengikuti langkahku menuju kamar. Aku membuka satu persatu 'rumah' seranggaku, dimulai dari Moko, si kupu-kupu berwarna kuning terang, sembari memperkenalkannya pada Sasuke.

"Sasuke, ini Moko. Moko, ini Sasuke," ujarku sambil membuka penutup 'rumah' Moko.

"H-hai," sahut Sasuke sambil menjaga jarak aman. Aku terkikik mendengar sahutannya yang canggung.

Kemudian aku membuka 'rumah' milik belalang coklat tua bernama Mari dan memperkenalkannya dengan cara yang sama dengan Sasuke—dan ditanggapi dengan cara yang sama oleh Sasuke, namun kali ini terlihat lebih was-was.

Aku memperkenalkan Sasuke pada mereka satu persatu, hingga sampailah pada kupu-kupu putih dengan corak hijau bernama Mikoto, yang notabene kutemukan dalam keadaan terkapar karena sayapnya yang terluka.

"Sasuke-kun, ini Mikoto. Mikoto, ini Sasuke," ujarku sambil tersenyum dan memperlihatkan kupu-kupu cantik itu pada Sasuke.

Lama tak ada jawaban darinya, aku menolah untuk melihat wajahnya. Aku berani bertaruh wajah Sasuke saat ini sangatlah lucu. Mulutnya terbuka lebar dengan mata membelalak sempurnya. Ia memandangku dengan pandangan tidak percaya, dan aku heran akan hal itu.

"K-kau k-kenapa, S-Sasuke-kun?" tanyaku takut-takut, takut kalau Sasuke merasa tersinggung akan ucapanku.

"K-kau—" ucapannya digantung olehnya. Ia menggeleng-geleng, dan mulai berjalan mundur hingga terduduk di ranjangku. Ia memijit pelipisnya dengan tangan yang ditopangkan di atas paha kanannya.

"S-Sasuke-kun! K-kau sakit?" tanyaku panik sambil berjalan cepat menghampirinya. Saat aku hendak menyentuh tangannya, ia menepiskan tanganku sambil tetap menggeleng-geleng.

Aku terpaku melihatnya, merasa yakin bahwa ia marah padaku karena suatu hal.

Kemudian Sasuke menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan. Campuran antara geli, kesal, kaget, dan heran. Ia berdiri menghadapku dan menghela napas.

"A-ada apa?" tanyaku lagi, masih dengan takut-takut.

"Tidak. Hanya saja—" ia kembali menggantung kalimatnya dengan menghela napas keras.

"Hanya saja apa?" ulangku, semakin panik.

Ia menatap mataku lagi dan mengerang frustasi, "Mengapa kau memberi nama kupu-kupu dengan nama ibuku?!"

Ucapannya sukses membuatku melongo.

The end.


WKWKKWK~ Akhirnya apdet juga chapter 3-nya (yang sekaligus chapter terakhir) xD *sighing* meskipun udah nunda-nunda lama, tetep aja yah yang review dikit. *terisak* *narik ingus* #srroooottt

Tapi yaudah lah, aku nulis bukan untuk mendapat komentar kok ^^ tapi cuma usaha untuk berbagi aja~ berbagi khayalan ku ngehehehe~

Nah, sebelum kita capcuss, kita liat balesan ripiu yaah~ check it out!

-bluerose: Aaah, arigatou rose-san x3 tentang itu.. um.. inget gak yaa?~ inget tuuh x3 alasan kenapa dia sama Ino pacaran juga ada di sini, tetapi cuma slight (silakan mengartikan sendiri ^^a) oke, at least: Arigatooou~

-diamond: Yeaah~ doumo arigatou~ xD

-You-chao: Waah, tapi sayangnya Gaara ai suki ga ada x( nanti aku bikin fiction sendiri aja yah yang ada Gaara-kun-nya x3 *baru nyadar ga pernah masukin Gaara ke story* ^^a Arigatou gozaimasu~

-lavenderchia: Iyaa, di sini Neji agak-agak mesum gitu (meskipun ga banyak diceritain). xD waah, bukan Kiba ituu~ tapi Suke-kun :3 Okeeh~ terimakasih banyak yaa~

-Diane ungu: ah, really? tapi kenapa ga teganya xD wkwkwk~ Tau tuh si duck butt, sok jual mahal banget padahal mau tuh sama Hina-hime. Cih. *dichidori* Uhuk. M-makasih b-uhuk-banyak yah, Diane-san uhukk.

-Riz Riz 21: Waaah, aku senang mendengarnyaa xD semoga kamu suka sampe chapter terakhir ini yaa xD arigatooouu gozaimasu~

Yep, sekian lah review yang berhasil kudapat. Itu juga karena aku ngecek 'moderate reviews', baru bisa dapet segini Y^Y *miris* Tapi sekali lagi, aku nulis ini sekedar untuk menuangkan khayalanku dan membaginya kepada duniiaaa *nebar potongan kertas* *dilemparinsendal*

Yeah, aku hanya berharap gak ada yang kecewa sama ending cerita ini. Karena aku udah 'do my best'. ^^

Ohya, aku lagi nulis fiction yaoi Kakashi-Iruka nih *garuk idung* ini pertama kalinya aku nulis fiction gak normal, karena diminta sama temenku -_- mesum emang tuh anak, kagak normal, ecchi, trus- *dia datang bawa sendal*

A-ah, di-dia dateng, a-aku pergi dulu yah! *ngelukis di gulungannya Sai* Ninpou: Chouji giga! *terbang*

Aduh, ada yang kelupaan! *nepok pantat* eh maksudnya *nepok jidat* *balik*

Never stop trying to be better and better!

-Anonymous Hyuuga-

*terbang lagi*