"Dia datang! Dia datang!" seru Eunjung pada suster lain yang ada di dapur.
"Mana? Mana?" tanya suster-suster lain yang berbondong-bondong menuju jendela, mengintip sesosok laki-laki bertopi yang berjalan mendekati satu ruangan sebelum dapur.
Inilah kebiasaan baru para suster Rumah Sakit Jiwa Seoul bila Namja-Tanpa-Nama itu datang ke sana. Mereka akan meninggalkan pekerjaan mereka dan mencuri-curi pandang ke arah Namja-Tanpa-Nama itu. Meskipun selalu memakai topi yang menutupi hampir separuh wajahnya, beberapa suster beruntung, berhasil menatap wajahya yang sedang tersenyum. Salah satunya Jea.
Tiga hari pertama Jea selalu mengawasi Namja-Tanpa-Nama yang menjadi objek terapi Eunhyuk. Hal itu berhasil membuat tiga perempat suster rumah sakit ini iri setengah mati.
Jea menghembus napas bosan. Dulu saja… mereka tidak percaya. Sekarang desak-desakan seperti itu ingin melihat, batinnya sambil terus mencuci piring. Ia melepas sarung tangan yang ia gunakan. Tak sengaja, matanya mendapati sebotol obat yang seharusnya diminum Eunhyuk setelah makan tadi. Kenapa aku bisa lupa memberikannya. Jea pabo!
"Ah! Jea-ssi!" panggil seorang di belakangnya menghentikan langkah Jea. "Kau mau ke mana?"
"Aku mau memberikan obat milik Nona Hyukjae," jawab Jea sambil menunjukkan botok beling di tangannya.
"AKU IKUT!" seru seluruh suster berbarengan.
Jea memandangi perempuan-perempuan kelebihan energi yang memandangnya dengan mata penuh api semangat. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, hingga yang tadinya datang ke dapur karena capek–seperti So Hee contohnya–langsung kembali semangat dan berjingkrakkan di dekat jendela, mengintip Namja-Tanpa-Nama itu.
.
.
.
.
Kazuma House Production
proudly present…
.
.
.
U
.
.
.
® 2012
.
.
.
Donghae duduk bersila di hadapan Eunhyuk yang juga duduk bersila sambil memegangi bonekanya. Dua minggu lebih membuat Eunhyuk menjalani terapi ini telah berhasil hingga Donghae bisa membuat jarak mereka sekarang dalam radius kurang lebih dua meter.
Biasanya, tidak ada yang Donghae lakukan bila berada dalam sesi terapi ini. Paling hanya mencoba mengajak yeoja itu bicara. Bila keadaannya tidak seperti ini, sudah pasti Donghae akan memeluk yeoja yang ada di hadapannya.
Dia menyentuh bibirnya, mengingat pertemuan terakhir mereka sebelum akhirnya ia menemukan Eunhyuk di rumah sakit dalam keadaan seperti sekarang. Ciuman pertamanya dan Eunhyuk. Manis. Terlalu manis untuk dikenang. Ia tidak tahu, apakah Eunhyuk masih mengingatnya atau tidak.
"Kau… setiap hari datang ke sini," kata Eunhyuk memulai pembicaraan. Hal ini cukup membuat Donghae kaget karena biasanya dia yang memulai duluan.
"Ah, itu…" Donghae bingung. Tidak mungkin ia menjawab kalau ini adalah bagian dari terapi. "…Tidak boleh?"
"Aniyo." Eunhyuk memaninkan cincinnya. "Hanya saja… aneh. Ini juga darimu, kan?" Dia menunjukkan bonekanya dengan kepala menunduk.
Gadis dengan senyum gummy–yang jarang terlihat–itu tidak cukup berani untuk memandang langsung ke wajah namja di hadapannya. Getaran-getaran aneh selalu terasa bisa ia memandang matanya. Jadinya, selama ini yang ia lihat hanya bibir namja itu. Hanya bibir, bukan matanya.
Pintu kamar dibuka, membuat kedua manusia itu mengallihkan pandangan mereka ke pintu. Jea berjalan masuk dengan botol obat, sendok, dan segelas air putih. "Maaf, tadi aku lupa memberikannya obat."
Jea duduk di samping Eunhyuk sambil menuangkan obat sirup itu ke sendok. Selama delapan tahun merawat Eunhyuk membuatnya mengerti apa yang menjadi kesukaan gadis itu. Eunhyuk sama sekali tidak suka memakan pil obat, disuntik, dan ruangan yang berantakan. Jadilah sekarang, setiap hari ruangan gadis itu harus selalu di bereskan. Dan dia hanya mau memakan obat sirup.
Saat meminum air, karena coroboh, air yang diminum Eunhyuk membentuk anak sungat di sudut bibirnya. Dengan refleks, Donghae mengeluarkan sapu tangan dan mengelap sudut bibir Eunhyuk.
Selama sesaat Donghae dan Eunhyuk bertemu mata dalam jarak kurang dari lima belas menit. Jea yang menyadarinya, menutup mulut dengan telapak tangan. Waktu seakan berhenti. Dunia berhenti berputar. Dunia serasa milik berdua.
Sadar dengan keadaan ini, Eunhyuk menepis tangan Donghae kasar. "Keluar!" Dia menjerit sambil mendorong dirinya yang masih dalam keadaan duduk untuk mundur. "Keluar!" Dia terus mendekat ke arah bel. Dia menggigit bibirnya.
Donghae masih bingung dengan keadaannya. Dia menatap Jea yang seakan menuruhnya keluar. Ia hanya mematuh dan berjalan keluar ruangan sambil berpikir kenapa Eunhyuk bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dari tadi mereka bicara baik-baik saja.
Kemudian dia menepuk dahinya. Kenapa bisa lupa? Tentu saja Eunhyuk masih tidak terbiasa dengan kehadirannya dalam jarak dekat itu. Dan tadi dia menyeka air di dagunya. Pantas saja gadis itu langsung mengamuk. Dasar Ikan pikun.
Donghae berjalan menuju pintu keluar. Bukannya tidak merasa, ia tahu ada orang-orang yang secara frontal mengikutinya. Tapi, masa bodolah. Untuk kali ini, dia tidak berbalik untuk sekedar setor senyum ke suster-suster itu. Dia terus berjalan tanpa menoleh.
.
.
.
.
.
Namja berambut kecoklatan itu menopang kepalanya sambil menatap makan malamnya tanpa minat. Padahal hari ini Ryeowook dan Sungmin datang ke dorm plus memasak untuk mereka. Tentu saja karena Yesung dan Kyuhyun yang menahan mereka dari tadi siang. Matanya beralih memandang Kyuhyun yang bermanja-manja pada Sungmin, dan Yesung bersama Ryeowook yang bersikap mesra.
Kalau Eunhyuk ada di sini, apa yang akan kami lakukan?
"Kau kenapa, Hyung?" tanya Kyuhyun. "Dari tadi kau memandangiku dan Sungmin seperti kami berdua adalah orang aneh," kata namdongsaengnya dengan wajah polos. Perkataan Kyuhyun berhasil membuat seluruh pasang mata menatap Donghae.
"Aniyo. Aku tidak memandangi kalian," sangkal Donghae sambil memaksakan mulutnya untuk makan lagi, padahal dia sudah tidak mau makan. Dia meletakkan semua alat makannya lalu berdiri. "Aku sudah selesai."
Shindong melirik isi mangkuk Donghae. "Tapi kau belum menyelesaikan makanmu!" Namja bertubuh berisi itu mengikuti arah langkah Donghae yang menuju kamarnya. "Ya! Donghae-ah!"
"Sudahlah, Shindong," kata Leeteuk yang juga memandangi pintu kamar Donghae yang baru tertutup. "Akhir-akhir ini dia memang aneh. Abaikan saja. Nanti juga balik sendiri seperti biasa."
Shindong memandangi pintu kamar Donghae sesaat, lalu kembali dengan makanannya yang sudah mendingin. Dia meresapi dalam-dalam rasa kuah dari semangkuk Gamjatang miliknya. Rasa kaldu babi menggelitik lidahnya, membuatnya semakin bernafsu untuk makan.
Sungmin menggelengkan kepalanya melihat Kyuhyun yang masih menutup mulutnya tidak mau makan. Laki-laki berusia dua puluh empat tahun itu lebih memilih untuk menekuk perutnya yang sudah lapar dan bermain PSP, dibandingkan makan–sekalipun itu masakan Sungmin. Alasannya, namja itu tidak mau makan sayur. Seperti anak kecil saja.
"Kyuhyun," panggil Sungmin yang hanya dibalas dengan gumaman ambigu. "Kenapa kau tidak mau makan sayur?"
"Karena rasanya tidak enak," jawab Kyuhyun khas jawaban bocah TK.
Yeoja itu menarik napas. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa pada namja di sampingnya. "Ya sudah. Aku tidak akan memasak untukmu lagi," katanya lalu memakan miliknya sendiri. "Jangan juga jemput aku di tempat kerja. Jangan menelefonku. Jangan menemuiku. Jangan mengikutiku. Jangan–"
"Iya! Iya! Aku makan!" jawab Kyuhyun pada akhirnya. Ia tidak tahan bila mendapat konsekuensi sebanyak itu hanya karena dia tidak mau makan sayur.
Dengan ogah-ogahan, dia memasukkan sayur ke dalam mulutnya. Lebih baik dia memakan sayur yang hanya terasa beberapa menit di mulutnya, daripada harus menghadapi ngambeknya Sungmin yang bisa mencapai berhari-hari. Dia melirik gadisnya yang sedang nyengir memandangnya.
Setiaknya aku bisa melihat cengiran tanpa dosanya, kan?
.
.
.
.
.
Eunhyuk berbaring di ranjangnya sambil menekap sebuah boneka beruang putih. Kamarnya gelap. Dari jendela, dia bisa melihat lampu lorong rumah sakit yang masih menyala, dan akan selalu menyala saat malam sampai pagi hari menjelang.
Meskipun dengan pencahanyaan yang minim, dia masih bisa melihat bentuk cincin yang melingkari jarinya. Memang bukan cincin mahal. Hanya cincin seharga tiga ribu won yang ia beli di Namansa Seoul Tower bersama…
Donghae.
Nama namja itu berputar dalam benaknya. Namja yang setiap hari pasti akan datang ke ruangannya. Entah untuk apa, dia sama sekali tidak mengerti. Namja itu seakan ingin mengatakan banyak hal melalui wajahnya, tapi tidak dengan mulutnya yang terus terkatup dan hanya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan standar.
Ia mengenangnya. Sangat mengenalnya. Tapi sisi lain dirinya tidak ingin menerima kehadiran namja itu–dan namja lainnya–di sekitar batas amannya. Hanya namja itu yang berhasil menembus barisan pertahanan yang dibuat oleh alam bawah sadarnya yang sudah terbentuk selama delapan tahun ini. Hanya dia, seorang Lee Donghae.
Jari-jarinya menyentuh cincin yang berbentuk sulur-sulur tanaman. Dia ingat, betapa sulitnya ia menawar harga sepasang cincin couple itu dengan penjualnya. Ia ingat setiap kata yang keluar.
"Ya! Itu sudah tidak bisa lagi! Empat ribu won," kata sang penjual memberikan harga mati.
Eunhyuk merengut. "Aku pernah melihatnya sekali di internet! Harganya hanya dua ribu lima ratus won! Dan bentuknya pun lebih rapi dari ini! Ayolah, Ajumma. Tiga ribu saja."
Wajah sang penjual tanpa panik. "Kau bohong saja, anak muda! Mana bisa dapat semurah itu?"
"Aku tidak bohong! Ajumma saja yang bohong. Kenapa wajah Ajumma memucat seperti itu?" Eunhyuk memandangi sepasang cincin yang sedang ia tawar. "Jadi, bisa, ya? Tiga ribu saja. Aku kan tidak menawar samapi dua ribu lima ratus."
"Baiklah… tiga ribu, sepasang," katanyanya membuat Eunhyuk loncat-loncat kegirangan.
Hasilnya, cincin itu setia melekat di jarinya selama delapan tahun. Tanpa terasa, titik-titik air mata jatuh dari kantung matanya, mengalir melalui batang hidungnya sampai ke bantal. Ia tidak mengeluarkan isakan. Hanya air matanya yang terus jatuh seperti mata air.
Bukan. Bukan maksudku untuk memperlakukanmu seperti itu. Hanya saja, aku takut hal itu terjadi lagi, batinnya mengingat apa yang telah ia lakukan terhadap Donghae hari ini. Mianhae… Mianhae…
Dia terus mengulang kata "Mianhae" bahkan dalam tidurnya sampai fajar menyingsing, menggantikan lampu sebagai sumber cahaya yang berlomba-lomba memasuki kamarnya melalui cela gorden.
Dia hanya masih belum percaya dengan namja. Tinggal menunggu waktu sampai gadis itu bisa menerima kehadiran namja dalam hidupnya sebagai manusia normal.
To Be Continue…
1.498 words
Heya… saya kembali membawa satu chapter yang kere diksi. Maaf update malem-malem, habisnya kalau pagi nggak ada yang baca. Adanya fic saya kegusur. #nasibathoryangmasihlibur.
Kalo boleh jujur, saya merasa summery fic ini kok alay, ya. Hahaha… Alay itu tidak diharamkan, kok. #plak.
Dan tadi saya menggunakan kata "babi" dalam makanan, karena memang kenyataannya yang saya lihat dari Wikipedia ya begitu. Mereka menggunakan babi sebagai salah satu isi dari Gamjatang–sejenis sop di Korea. Maaf kalau ada yang tidak suka dengan penggunaan bahasa saya yang satu itu.
Thanks to: Elly lyana, Arit291, Pikapika, Cloud77, kyunny, evilMinMin, MinnieGalz. Dan semua yang telah membaca, review, fave, alert.
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at:
Thursday, July 12, 2012
10.22 P.M.
Published at:
Thursday, July 12, 2012
10.50 P.M.
U © Kazuma House Productin ® 2012
