Shounen Heart
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
ItaHina plus Akatsuki sebagai pemanis hubungan mereka.
.
Genre: mudah-mudahan humor dan mudah-mudahan romance [gak yakin]
.
AU, OoC, over dosis Gaje, lebay bin hiperbolis, bahasa campur aduk dan semua-semua yang berhubungan dengan kejiwaan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
.
So, happy reading, Minna-san~
Just for fun ^^
Dari tadi siang, hujan terus menerus turun dengan derasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.45. Tapi masih banyak sekali siswa-siswa Konoha High yang masih setia nongkrong di koridor dan di depan kelas masing-masing. Alasannya sepele, gak bawa payung!
Konan menengadahkan tangannya. Menampung air hujan yang turun ke telapak tangannya. "Hmm…jadi inget pas di Amegakure ya, Pein?" gumam Konan.
Pein mengangguk. Mengingat begitu peliknya kehidupan di Amegakure yang sepanjang tahun dituruni hujan-sebagai ojek payung.
"Gue duluan ah!" Kakuzu melambaikan tangan dan langsung berlari-lari kecil di bawah siraman air hujan.
Laki-laki yang punya motto hidup 'Time is money' itu, pasti rela basah kuyup untuk segera sampai di rumah. Baginya, menunggu hujan reda itu sangatlah membuang waktunya yang berharga. Kalau dari tadi dia pulang, pasti dia sudah ada di ranjang hangat miliknya.
Itachi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Matanya menangkap sosok yang sedari tadi ia cari. Hinata!
Gadis itu terlihat sedang menggosok-gosok kedua lengannya. Dia belum pulang? Apa dia juga tidak bawa payung?
Tak banyak pikir lagi, Itachi menghampiri sosok tersebut.
"Hinata?" sapa Itachi.
Hinata agak terkejut. "Se-senpai?"
"Kamu belum pulang?" tanya Itachi. Hinata menggeleng pelan. "Nunggu je-jemputan dari rumah," jawabnya pelan.
Itachi berdecak. "Ah, lama!" dan mulai membuka blazer-nya.
Eits, eits mau ngapain nih si Itachi?
Lalu dia menutupi kepala Hinata dan kepalanya dengan blazer-nya. "Aku anterin kamu pulang," kata Itachi.
"Ta-tapi, senpai!" Hinata belum sempat protes karena Itachi keburu narik Hinata buat jalan. Nembus hujan deras kaya gini dengan Itachi yang mayungin Hinata pake blazer-nya.
"Suit! Suit!" Pein bersiul-siul ke arah Itachi. Ngeliat adegan ini, rasanya Pein mau ikutan nyoba juga.
"Sukses ya, Chi!" Kisame mengacungkan jempol tangannya. Itachi menoleh, terus ikutan ngacungin jempolnya.
Dengan posisi kayak gini, Itachi bener-bener terlihat seperti gentleman.
'Fufufu bisa romantis juga gue!' batinnya narsis.
Sampai di depan gerbang, Itachi dan Hinata menghentikan langkah ketika sebuah mobil mendekat ke arah keduanya. Kaca jendela depan terbuka dan terlihatlah seorang laki-laki berkacamata yang berseru kepada Hinata.
"Nona Hinata!"
"Pa-paman Ebisu?" ucap Hinata.
"Maaf saya terlambat, Non! Tadi saya tersesat di jalan yang bernama kehidupan," jawabnya.
Hinata dan Itachi cengok. Rasa-rasanya pernah denger deh kata-kata gaje barusan.
"Gimana sih jadi supir! Nona kamu tuh udah nunggu lama tau!" bentak Itachi pada sang supir.
Lha, Nona Hyuuga-nya aja gak marah-marah kok! Kenapa Itachi…
"Maaf, Non! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong jangan laporkan hal ini pada Tuan besar," ratap sang supir tersebut.
"Halah, orang kayak gini tuh kalo dikasih hati minta jantung, Hinata!" Itachi malah mengompori.
Si supir udah natap Itachi benci. Siapa sih ni orang, ikut campur aja! Pikir sang supir.
Hinata hanya tersenyum lembut kemudian menoleh ke arah Itachi. "Te-terima kasih, senpai," ucapnya yang kemudian keluar dari 'payung' Itachi dan melangkah memasuki mobil.
Sebelum mobil melaju, Hinata membuka kaca mobil dan menundukkan kepalanya-tanda terima kasih. Itachi juga balas menunduk.
"Senpai tidak apa-apa ka-kalau basah kuyup seperti itu?" tanya Hinata dengan nada khawatir.
Itachi tertawa renyah. "Tak usah khawatir! Tubuhku ini sangatlah kuat. Aku ini gak gampang sakit, Hinata!"
.
TENG!
.
Sasuke terlihat sedang meremas kain kecil di baskom berisi air hangat di kamar itu.
Uchiha Itachi, suhu badan 41 derajat, terbaring lemas di ranjangnya.
"Kau itu memang bodoh!" untuk kesekian kalinya Sasuke berkata demikian sambil meletakkan kompres di kening sang kakak.
"Lo udah gede, masa masih main ujan-ujanan sih?" Sasuke berkacak pinggang.
"Lo gak ngerti..uhuk! Ini masalah harga diri laki-laki, tau!" ketus Itachi dengan suara serak.
Sasuke mendengus. Bangkit dari pinggir ranjang kakaknya, ia mulai mengambil termometer di meja Itachi.
"Buka mulut lo!" Sasuke menjulurkan termometer ke mulut Itachi.
"Gak mau! Itu kan termometer bekas di ketek Ayah! Kenapa lo ngasih ke mulut gue!" Itachi mulai menutup wajahnya pake bantal. "Lagian, tadi kan udah!" sahutnya.
"Itu kan tadi. Gue pengen liat, suhu badannya turun atau nambah naik?" Sasuke langsung menarik paksa bantal yang nutupin wajah itachi.
"GAK MAU!" Itachi berontak.
"Lo mau gue suntik, apa?" kata Sasuke. Pasiennya satu ini benar-benar sangat merepotkan.
"Lo-" Itachi menunjuk Sasuke dengan ekspresi depresi.
Sasuke melipat kedua tangannya di dada. Dia menghela nafas pasrah. "Terserah!" gumamnya. "Gue banyak kerjaan di Rumah Sakit!"
Itachi memandang Sasuke nanar. "Gue…gue belum sembuh, Sas! Lo mau ninggalin kakak lo ini?"
Sasuke udah siap-siap pergi. Beres sini, beres situ, masukkin ke tas kerjanya. "Gue sibuk! Hari ini ada dua belas waria yang mau ngelahirin! Gue musti cepet-cepet ke RS. Konoha!" tandasnya.
Itachi sweatdrop. Ternyata jiwa-jiwa waria lebih penting bagi Sasuke daripada dirinya yang notabene-nya kakak kandungnya ini.
Dan entah kenapa Itachi selalu denger, katanya RS. Konoha jadi banyak banget pasiennya. Membludak gitu! Terutama wanita. Kasusnya…sama! Percobaan bunuh diri.
Usut punya usut, ternyata para wanita ini pengen dirawat sama Sasuke, Dokter super muda yang oh-so-very-handsome ini. Jadi yang sehat wal'afiat pun ikutan ngiris nadi atau minum baygon supaya dilarikan ke RS. Konoha.
Itachi cuma bisa geleng-geleng kepala maklum.
Dua hari kemudian. Hari sabtu, pelajaran olahraga.
Kenapa Itachi menyukai pelajaran olahraga? Ini dikarenakan jadwal olahraga kelas 3-A dan kelas 1-A itu barengan. Yang ARTINYA, Itachi bakalan ketemu sama Hinata di lapangan sekolah. Iyyyeesss!
Siswa-siswa kelas 3-A hari ini tanding basket melawan siswa dari kelas 1-A, sedangkan siswi-siswinya, tanding voli. Dan sisanya jadi penonton.
"Go, go, go, Akatsuki! Go, go, go, Akatsuki!"
"Gaara-kuuuun…ILU, IMU, INUUUU!"
"Kyaaaa…Kakuzu senpai~ fight!"
"Naruto-kuuuuuun!"
Sorak sorai para supporter mulai terdengar ricuh di lapangan basket ini.
"PEIIIIIIIIN! Pein yang sedang main basket adalah orang yang paling Konan cintai!" teriak seorang gadis berambut ungu dari arah penonton. Dia Konan!
"Hoi!" Pein melambaikan tangannya sambil melemparkan 'sun jauh' ke arah Konan.
Bruagh!
Si Pein jatuh tersungkur gara-gara kesenggol Chouji-adik kelasnya ini.
Jangan pernah ngarep si Konan bakalan teriak 'Pein yang jatuh tersungkur adalah orang yang paling Konan cintai!' gak bakalan! Lagian, orangnya juga udah ngilang entah kemana tuh!
"Sori, senpai! Aku sengaja soalnya. Wkwkwwk!" Chouji dengan ajipnya, langsung ngeloyor begitu aja sambil ketawa-ketiwi gak jelas.
"Kurang ajaaar!" runtuk Pein kesel. Siang-siang gini ketabrak bus malem lewat. Sialan!
.
Priiit!
Bunyi peluit tanda permainan dimulai, sudah ditiup oleh sang wasit-siswa kelas 1-A.
Kali ini bola melambung tinggi di udara. Terlihat Pein dan Naruto mulai meloncat mendapatkan bola.
Paaak!
Bola terlempar ke arah Kakuzu yang sudah siap-siap dengan kuda-kudanya. Hap! Bola diterima oleh Kakuzu yang dengan gesitnya men-dribble bola dan melewati siswa-siswa kelas 1-A dengan mudahnya.
"SENPAI, LEMPARIN BOLANYA KE TOBI DONG!" teriak Tobi yang mengacaukan konsentrasi sang pemain lincah ini.
'Ih, si Tobi kan permainannya butut!' batin Kakuzu. "D aaan, tangkep nih!" Kakuzu malah melemparkan bolanya ke arah Hidan.
"OK!" Hidan melakukan aksi meloncat dan berhasil menangkap bolanya.
Dengan teknik dribbling yang sudah dikuasai di luar kepala, Hidan membawa bola semakin dekat dengan ring. Dan…sial! Dia malah dikerubungi oleh kouhai-kouhai-nya.
"SENPAI, LEMPARIN BOLANYA KE TOBI!" lagi-lagi si Tobi berteriak sambil menggapai-gapaikan tangannya.
'Ih, masa musti dilemparin ke si Tobi sih?' pikir Hidan misuh-misuh. "SASORI?"
"Jangan ke gue, Dan!" sahut Sasori cepat. Rupanya sasori juga ikut terkepung. Nasib jadi para kriminal tuh kayak gini.
"KISAMEEE!" jerit Hidan sambil melemparkan bolanya ke Kisame sementara dia langsung ditubruk dan ditindih sama kouhai-kouhainya tadi.
Hap! Kisame berhasil menangkap bola.
"Tidak akan kami biarkan!" sahut Kiba histeris yang mulai mengeluarkan teknik sliding tackle-nya dari arah kiri.
"Heeeeeaaaa!" Naruto juga ikut-ikutan men-sliding si Kisame dari arah kanan. Dan rupanya Shikamaru juga tidak tinggal diam. Dia ikutan juga dari arah depannya si Kisame. Dan sekilas, kita bisa lihat Chouji juga mulai melakukan teknik yang sama dari belakang Kisame.
Kisame yang udah uring-uringan karena di sliding dari kiri, kanan, depan dan juga belakang, mulai panik stadium akhir. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan kehendak Tuhan. Ngangkat bahunya, Kisame mulai nutup matanya pake dasi lalu menghisap rokoknya dalem-dalem.
Buagh!
Bola melambung kembali di udara. Kali ini terlihat Zetsu berlari dengan kecepatan cahaya dari arah depan. Sedikit gerakan meloncat ke udara ala kapten Tsubasa, Zetsu berhasil menyundul bola tersebut.
Dan apa yang terjadi sodara-sodara, rupanya bola didapatkan oleh sodara Gaara yang menggunakan teknik Devil Bats Ghost! Gaara mengoper bola ke arah Kiba, dioper lagi ke Naruto, dioper lagi ke Gaara, dioper lagi ke Shikamaru, dioper lagi ke Deidara! Oh, sayang sekali, sodara-sodara. Rupanya Shikamaru salah mengoper ke pihak lawan. Dan gooooollll….nya tidak jadi. =_=
Dan sekali lagi Akatsuki dihadapkan dalam posisi yang sulit.
Deidara udah keringetan dingin. "Gak bakalan gue kasihin nih bola!" katanya sambil terus mendribble bola. Sesekali celingak-celinguk, mencari celah untuk lari dari kumpul kebo ini.
Akhirnya terbesit juga sebuah ide di benak Deidara. "WOY, LIAT! CELANA DALAM SI SAKURA KELIATAN TUH!" teriaknya sambil menunjuk ke arah penonton.
"Hah! Mana? Mana?" otomatis konsentrasi para kouhai-nya ini jadi buyar semua. Otaknya jadi keruh!
Kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Deidara. Dengan cepat dia melewati kouhai yang mengerubunginya dengan gerakan memutar. "Hahaha…kena lo!" Deidara berlari mengejek dengan menjulurkan lidahnya sambil terus melihat ke belakang.
"Siaaaal! Gue ketipu, man!" runtuk Naruto dengan tangan terkepal kuat-kuat.
"SENPAI, LEMPARIN BOLANYA KE TOBI DONG! TOBI PENGEN PEGANG BOLA!" si Tobi udah loncat-loncat gaje.
Dan sepertinya di Akatsuki hanya Deidara saja yang punya hati. Dengan itu, dia melemparkan bolanya ke arah si Tobi.
Hap! Tobi menangkap bolanya.
Tubuh Tobi bergetar. Air mata memenuhi topeng orangenya. Langsung aja tuh bocah meluk bolanya dengan erat.
"Da-dasar begooo! Jangan dipeluk! Operin bolanya, gembeeel!" tubuh Deidara mulai terbakar gara-gara emosi jiwa.
"Hah? Dioperin?" cengok, si Tobi mulai keringetan. Gak tau musti dioper sama siapa nih bola! "Dioper ke siapa, senpai?" tanya Tobi bingung.
"LEMPARIN SAMA SIAPA AJA!" Zetsu jadi ikut-ikutan stress.
"O-ok!" ragu-ragu, si Tobi ngelempar bolanya sambil nutup mata.
.
.
Dari awal permainan dimulai, Itachi sama sekali gak ikutan gabung dalam kerja sama tim. Dia malah sibuk ngeliatin siswi-siswi yang lagi tanding voli. Soalnya Hinata juga ikutan main tuh! Pake celana pendek pula. Hehe…
Itachi masih aja adem ayem di posisinya berdiri sekarang. Masih belum sadar juga sebuah bola basket melesat dengan cepat ke arahnya.
"ITACHIIIII!"
"Hn?" Itachi menoleh dan…
Oh, tidak! Oh, tidak! Oh, tidak!
Bugh!
Terjadi baku hantam antara permukaan bola basket dengan wajah si sulung Uchiha ini.
Kepala Itachi terdorong ke belakang, menengadah ke atas. Bolanya masih setia nempel di wajah Itachi. Berputar-putar dulu, Itachi mencari pose yang elit buat jatuh pingsan.
Bruk!
Dan Itachi gugur di medan perang.
"ITACHI SENPAIIII!" semua penonton langsung berteriak histeris yang dengan cepatnya berlarian menuju TKP. Sementara Tobi yang merupakan tersangka pelemparan bola edan, udah gigit-gigit kuku terus kabur. Takut diborgol duluan. Uchiha kan kenalannya polisi semua!
"Itachi, Itachi!" Sasori menepuk-nepuk pipi Itachi dengan [sangat] keras. Sederhananya sih, nampar!
"Itachi, bangun woy!"
Terdengar was wis wus siswi-siswi yang saling bertukar pembicaraan. "Itachi senpai pingsan? Kasihan banget!" ucap seorang siswi.
"Aku mau deh ngasih nafas buatan buat dia!" yang ini agak-agak parah nih!
Pein cuma bisa geleng-geleng kepala.
"PANGGIL PMR, CEPETAN!" sahut Sasori.
Pein mengarahkan pandangannya ke arah siswi-siswi kelas satu. "Ada yang namanya Hinata, gak?" tanya Pein langsung.
"Hinata?" terdengar sayup-sayup mereka membicarakan nama Hinata.
"Ngg…Siti Nurhinata bukan, senpai?" salah seorang siswi berambut pirang bertanya untuk memastikan.
Pein cengok bentar. "Yeee..bukaaan!" sanggah Pein cepat. "Bukan Siti Nurhinata. Hyuuga, Hyuuga Hinata!" jelas Pein.
"Sa-saya, senpai?" sosok gadis berambut indigo yang pemalu, mudah gugup dan sudah pensiun, muncul dari balik siswi-siswi kelas 1-A.
"Ya, kamu! Ke sini!" Pein mulai melambai-lambaikan tangannya. Hinata mau tak mau mendekat juga.
"Lebih deketan lagiii!" Sasori narik Hinata makin deket sama Itachi. Akhirnya Hinata cuma bisa nurut plus nunduk di samping Itachi.
"Tapi, tapi, tapi Tobi senpai ju-juga PMR, kan?"
"Itachi maunya sama kamu!" kata Pein. Lagian si Tobi juga udah kabur duluan kali dari tadi.
"Ayo deketan lagi!" Sasori nundukkin kepala Hinata TEPAT di depan wajah Itachi.
Hinata mulai panas dingin.
Seperti mengerti perasaan Hinata yang dianiaya, kebetulan banget saat itu ada kucing [si Tora] yang lewat sebagai background adegan dramatis ini.
Dan terima kasih kepada Nak Pein yang keisengannya mulai kambuh di saat-saat genting seperti ini, yang mana langsung ngangkat si kucing terus…terus…gak tega nih ngelanjutinnya.
Terus…diciumin ke si Itachi.
Hanya satu detik saja, terlihat mata Itachi mulai mengalami gejala-gejala akan terbuka. Dan dengan cepat pula, Pein langsung melemparkan kucing yang tidak berdosa itu begitu aja.
Perlahan mata Itachi terbuka juga. Sedikit terkesiap pas Hinata ada di depannya banget. Mata onyx itu semakin terbelalak lebar. Apalagi ada rasa-rasa gimana~ gitu di bibirnya.
Tapi setelah dilihat, diduga, dicermati, dikalkulasi, disistemasi dan diproses, akhirnya Itachi sadar juga. Gak nyangka ternyata Hinata seagresif ini.
"Hi-Hinata.." Itachi nutup bibirnya pake kedua tangannya.
Di belakang, Akatsuki udah saling sikut-sikutan gara-gara nahan ketawa.
Sementara itu Hinata udah siap-siap ngutarain fakta yang sebenarnya terjadi. Tapi gak kuat nih ngomongnya! Rasanya kayak ngasih tau orang yang lagi buang air besar kalo keran air di rumahnya lagi mampet dan habisnya persediaan tisu toilet!
Ntu orang pasti syok banget!
Tapi sebelum Hinata sempet ngomong, Itachi udah keburu menginterupsi.
"H…Hinata, mulut kamu kok…"
.
.
.
.
.
"…bau ikan asin?"
Gimana kalo sekarang giliran Hinata yang pingsan?
-TBC-
Kata Ui:
Mampus gila! Pairingnya kenapa jadi ItaTora? Huwaaaaa…*nyakar-nyakar si Tora*
Tora: "sebenernya yang kucing tuh siapa?" =w=a
Ok, jangan tanyakan soal main basket tadi. Ntu olahraga emang gaje banget! Ternyata jadi komentator itu capek juga ya? Huft!
Ah iya. Ada yang tau opening Naruto yang 'Toumei Datta Sekai'? Lagunya sedih-sedih gimana~gitcuh! :P Apalagi yang terakhir-terakhir lagunya, pas si Naruto loncat -terus nyungsep-….si Pein cool banget! Wajahnya stoic abis! Sumpeh! XDD
Pein: "Ah, yang beneeer?"*blush*
Haha, tampar saya! Saya pasti kena pelet rinnegan nich! #plaak!
Thanks banget buat yang udah review chap 1 & chap 2. Special thanks for:
Ichaa Hatake Youichi
Miura Aii
Yume
aya-na rifa'i
Cielheart le'chan
Naara Uchiha
Fi-kun31
Ciaxx
Shinkerbell
Ryuki_gak log in
Ka Hime Shiseiten
Galerians
Chai Mol
Oh-chan is Nanda
Hyuuzu Fumi
Vytachi W. F
Lyner Croix Rosenkrantz
Fi suki suki
yuuaja
desertsand
Meiko Namikaze
The Portal Transmissions-19
Putri Luna
Shaniechan
mayraa
Sun setsuna
Cheeyrin Illussions
Kanata-chan
Shinrei Azuranica
Ara-chan
Nocture
Namikaze Naaraku
Wanna LightNight
Djinchuuriki schiffer
Love you all! Muach! Muach! Muach! :*
Btw, review lagi pemirsa? Hehe :P
Ciao!
