Disclaimer

: Berapa kali harus aku katakan kalau One Piece itu milikku seorang! *Dibacok Oda-sama* U-uh.. go-gomen…. OP selamanya punya Eiichiro Oda-sama, kok. He-he-he.

Warning : Aku mengingatkan sekali lagi, kalau cerita ini nyontek dari summer in seoul. OOC, abal, gaje, dan bahasanya aneh. Juga Luffy dkk itu umurnya 25 tahunan lebih.

Don't like don't read :)


~DUA

"Kau bertemu dengan Monkey D. Luffy? Dan Roronoa Zoro?"

Nami yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuhnya menatap bingung Nojiko yang duduk di sampingnya. Temannya yang berambut pendek dan berkulit agak coklat ini menatap Nami dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Aku tidak percaya kau bertemu mereka! Kenapa tidak minta tanda tangannya?" kata Nojiko dengan kesal.

Nami mengerang. "Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah... Dan lumpuh otak." Nami memegang pipinya yang pucat.

"Benar, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh. Bagaimana aku bisa naik mobil bersama dua orang lelaki yang tak kukenal? Dan lagi sudah hampir tengah malam! Oh dear, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu! Aaaarrghh! Aku sudah gila! Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?"

Nojiko mendecakkan lidah. "Hei, kau bukan bersama orang asing. Kau bersama Monkey D. Luffy dan Roronoa Zoro! Kenapa kau tidak minta tanda tangan mereka?" tanyanya sekali lagi.

"Mereka orang asing bagiku," tegas Nami. "Lagi pula aku bukan penggemar mereka. Kenapa juga aku harus minta tanda tangan?"

"Walaupun kau bukan, tapi temanmu ini pengemar beratnya. Apalagi Monkey D. Luffy. Ah, aku sudah lama menantikan kemunculannya! Dia terlalu lama vakum, sih! Empat tahun, lho! Empat tahun, aku begitu setia menunggu kemunculannya kembali!" Nojiko mencerocos panjang lebar.

Lalu melanjutkan, "Dan entah ada keajaiban apa, kau bisa bertemu dengannya kemarin. Dan ditambah juga bertemu Roronoa Zoro! Kalau jadi kau, aku pasti hampir pingsan dan juga—"

"Nojiko!"

Nojiko menghentikan ocehannya, "Gomen, gomen, tapi lain kali kalau kau bertemu mereka lagi, jangan lupa minta tanda tanggannya untukku."

Nami membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. "Kalau aku bertemu mereka lagi," gumamnya.

Pandangan Nami menerawang, "Kalau aku bertemu dengannya lagi," lirihnya pelan.

Nojiko memainkan salah satu ujung selimut, lalu tiba-tiba menyeletuk, "Oh ya, ada gossip yang bilang kalau Luffy itu gay. Aku tidak tahu gossip itu benar atau tidak, tapi kalau benar aku bisa mati karena kecewa,"

Lalu pandangannya beralih ke Nami, "Kemarin 'kan kau bertemu dengannya, menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Terlihat aneh? Apa penampilannya berubah? Atau bagaimana?"

Nami mengerutkan kening, "Entahlah, aku tidak tahu. Sepertinya biasa saja. Oh dear, Nojiko, aku 'kan sudah bilang kalau kemarin itu aku lumpuh otak. Aku saja tidak ingat kemarin dia memakai baju apa"

Nojiko menatap khawatir temannya. "Kau ini aneh. Hanya kau yang bisa demam dimusim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit?"

Nami tidak menjawab. Dia sedang memikirkan hal lain. Kemudian dia mengigit bibir dan bertanya, "Nojiko, kenapa kau suka dengan Monkey D. Luffy? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?"

Nojiko sontak tersenyum lebar, "Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi –astaga suaranya bagus sekali— dan karena dia menulis lagu-lagu yang romantis. Ah, dan album barunya akan segera diluncurkan! Aku tidak sabar!"

"Begitu?"

Tiba-tiba Nojiko memekik dan membuat Nami terperanjat.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Nami begitu melihat Nojiko meraih tasnya dengan kasar dan mencari-cari sesuatu didalamnya.

"Ah! Baka! Baka! Baka!" umpatnya pada diri sendiri. "Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku!"

"Apa?" heran Nami.

Nojiko mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. "Lihat ini!"

Nami melihat artikel berjudul 'Pertemuan Tengah Malam' yang ditunjukkan Nojiko dan memdadak merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Luffy bersama seorang wanita. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi Nami yakin kalau wanita itu adalah dirinya.

Foto-foto itu memang tidak memperlihatkan wajahnya, tetapi yang sebenarnya, bukan hanya ada dia dan Monkey D. Luffy disana. Tetapi Roronoa Zoro juga ada disana.

"Oh dear! Apa-apaan ini!" pekik Nami.

"Gomen, Nami. Aku sempat melupakannya saat tahu kau sakit. Seharusnya aku sudah bisa menduga saat kau menjelaskan tadi." Jelas Nojiko. "Wanita yang di foto itu kau 'kan, Nami?" tanyanya lagi.

"Oh dear," gumam Nami tak percaya. "Siapa yang mengambil foto-fotoini?"

"Monkey D. Luffy itu artis terkenal," ujar Nojiko dengan nada aku-tahu-semua-jadi-percaya-saja-padaku.

"Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang ini benar-benar hebat. Kau bahkan dianggap sebagai kekasihnya," lanjutnya.

Nami menggeleng kuat dan mengembalikannya pada Nojiko. Dia masih merinding. "Aku tidak hanya berdua dengan Monkey D. Luffy! Roronoa Zoro juga ada disana! Seharusnya yang mengambil foto itu tahu!"

Nojiko menghembuskan nafas panjang. "Sudah kubilang, Monkey D. Luffy itu artis terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang menarik perhatian. Kalau kalian bertiga di foto itu, tidak akan menarik."

"Tapi kenapa harus Monkey D. Luffy? Roronoa Zoro 'kan juga artis terkenal!"

Nojiko menaikkan alisnya, "Jadi kau maunya di gossipkan dengan Roronoa Zoro?"

"Tentu saja tidak! Aku tidak mau di gossipkan dengan salah satu dari mereka ataupun dengan mereka berdua!" sewot Nami.

Nami menghela nafas panjang, "Enak saja mereka membuat gossip seperti ini! Aku? Kekasihnya? Tidak mungkin! Aku tidak mau terlibat dengan hal seperti ini…" suaranya melemah.

"Kau masih pusing?" cemas Nojiko saat melihat Nami memegangi keningnya.

Nami tersenyum, "Tidak, aku baik. Sepertinya karena kecapekan ditambah stress, aku jadi demam. Nojiko, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang pasti rumah makan ibumu sedang ramai."

"Ibuku mencemaskanmu, jadi aku boleh tinggal lebih lama. Oh ya, tadi ibuku memasak bubur untukmu. Ada di dapur. Kau harus makan, mengerti?" Nami mengangguk patuh.

Nojiko mengambil tasnya. Dia meletakkan tangannya di kening Nami. "Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan kembali lagi."

Nami tersenyum. "Kau baik sekali Nojiko, dan sampaikan terima kasihku kepada ibumu atas buburnya."

"Ah, tidak. Tidak jadi. Biar aku yang menelponnya nanti. Oh ya, soal pertemuanku dengan Monkey D. Luffy jangan kau katakan pada siapapun!" katanya lagi.

"Ya ya ya, aku tahu. Tenang saja. Istirahat yang banyak. Kalau ada apa-apa telfon aku. Sampai jumpa." Kata Nojiko sebelum keluar dari kamar Nami.


Luffy masuk ruang manajernya dengan langkah gontai. Disana sudah ada Shanks, manajer utamanya sekaligus manajer Zoro juga, yang duduk disofa.

Luffy duduk disofa. "Ohayo, nii-san. Kenapa memanggilku pagi-pagi?"

Shanks tersenyum, "Ohayo, Luffy. Aku memanggilmu kesini karena ada yang harus kami bicarakan,"

Alis Luffy terangkat. "Kami?" tanyanya heran.

"Ya, sebenarnya, aku dan Zoro ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi karena dia ada pemotretan pagi ini, jadi dia tidak datang." Jelasnya.

Lalu Shanks berdeham, "Langsung saja, ini." katanya sambil menyodorkan tabloid kearah Luffy.

"Apa ini?" tanya heran.

"Baca saja." Perintahnya.

Luffy membaca artikel yang ditunjukkan Shanks. Awalnya dia masih bingung. Lalu perlahan-lahan kedua alisnya terangkat dan mulutnya menganga lebar.

"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa mereka… Ini—"

Luffy memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk, "Benar. Ini foto yang diambil kemarin malam ketika kalian mengantar wanita itu."

Luffy melempar tabloid itu dengan kesal. "Bagus, satu gossip tidak cukup rupanya." Ia menghempaskan tubuhnya. "Bagaimana bisa mereka mendapatkan foto-foto ini? Apa gadis itu ada hubungannya dengan ini? Dan kenapa harus aku? Kenapa tidak Zoro?"

Shanks menggeleng pelan. "Tidak. Kurasa tidak. Meski ada kemungkinan seperti itu, sekecil apapun, tapi menurutku tidak begitu. Dan aku tidak tahu menahu kenapa kau yang digossipkan, bukan Zoro."

Luffy mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang kemarin tidak mungkin ada hubungannya dengan gossip ini, tapi…

"Wanita yang kemarin, Nami, Zoro sudah menyelidikinya," kata Shanks sambil mengulurkan selembar kertas kepada Luffy.

Lalu melanjutkan, "Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana terkenal. Ibunya orang Prancis dan ayahnya orang Jepang. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Anak tunggal, lahir di Paris dan tinggal disana sampai usia Sembilan tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka kembali ke Jepang. Enam tahun lalu orang tuanya pindah kembali ke Paris karena ayahnya kembali ditugaskan lagi di sana. Sedangkan dia tetap di Tokyo. Latar belakangnya bersih dan sederhana."

Luffy membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. "Dari mana Zoro mendapatkan semuanya? Sampai tinggi dan berat badannya ada,"

Shanks tersenyum, "Dia orang yang pintar mencari informasi,"

Lalu mengerluarkan map dari sakunya, "Menurut orang-orang yang dekat dengannya, Nami wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Jadi aku berani menyimpulkan kalau dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto ditabloid itu." Lalu menyodorkan map itu.

Luffy menerima kertas yang disodorkan Shanks.

"Meski harus di akui… Secara tidak langsung, gossip yang satu ini sudah membantu kita," lanjutnya.

Luffy mengangkat wajahnya dan memandang Shanks, menunggu sang manajer menjelaskan maksud kata-katanya.

"Bukankah gossip ini dengan sendirinya menghapuskan gossip gay-mu? Foto-foto itu memperlihatkanmu bersama seorang wanita di depan rumahmu pada waktu yang sangat mencurigakan," kata Shanks sambil tersenyum.


"Aku tahu kau sudah meminta izin tidak datang hari ini karena tidak enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Namichin. Saat ini juga. Kami sangat sibuk. Apalagi aku. Sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik nafas. Aku terpaksa memintamu datang, Namichin. Tolong datanglah sekarang. Please… Kau pasti tidak sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah diopname dirumah sakit dan bukannya istirahat dirumah. Okay, Namichin?"

Nami berbaring di kasur dengan handphone menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir bagai air bah di ujung sana dengan mata terpejam. Seharusnya dia tidak mengaktifkan handphone-nya. Seharusnya bosnya tidak menelfonnya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh kerja? Lagi pula ini 'kan hari Sabtu! Diktator!

"Namichin? Namichin? Halloooo? Kau dengar aku 'kan? Aku tidak bisa bicara lama-lama, Namichin. I'm very very busy. Kau akan datang 'kan?"

"Ya, ya, ya, Mister Iva-san. Aku akan sampai disana dalam satu jam." Kata Nami malas.

"Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Namichin," kata bosnya lalu menutup telfon.

Nami menatap handphone-nya dengan hati dongkol. "Lihat saja! Kau akan menerima surat pengunduran diriku Senin nanti! Drakula! Penghisap darah! Hhhh! Bisa gila aku! Gila!" sambil mengumpat, Nami berjalan terseok-seok ke lemari pakaian.

Empat puluh lima menit kemudian, Nami sudah ada di studio Mister Iva-san, salah satu perancang busana paling popular di Jepang. Yang disebut studio sendiri ialah ruang kerja berantakan yang penuh kain berbagai corak, baik kain perca maupun kain baru. Studio itu terletak dilantai teratas gedung berlantai tiga. Butik ini sendiri terdiri dari dua lantai, lantai pertama untuk umum, sedangkan lantai kedua untuk tamu VIP.

Nami masuk dan melihat –eerr- pria, setengah baya, yang kini berpenampilan mencolok, berambut keriting dicat warna warni, dan berkacamata itu sedang mengamati seorang model dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali hentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.

Tepat pada saat model lain masuk ruangan, Mister Iva-san menyadari keberadaan Nami dan langsung memekik, "Namichin! Kau terlambat! Kenapa– sebentar…" ia berpaling kearah model yang baru masuk dan berkata ketus, "No! No! Bukan kau! Apa yang harus ku lakukan agar mereka mengerti model yang ku butuhkan? Oh My God! Panggilkan Mister Cha ke sini!"

Nami merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model. Harus diakui, Mister Iva-san ini bukan orang yang mudah. Kadang, orang jenius memang sudah dibuat senang.

Mister Iva-san berpaling ke Nami. "Kau lihat sendiri, Namichin, kami sedang sibuk untuk fashion show. Tolong kau antarkan pakaian-pakaian ini untuk dicoba."

Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Kenapa Mister Iva-san selalu mengharapkan orang lain mengerti kata-katanya?

"Diantarkan ke siapa dan dicoba untuk apa, Mister Iva-san?"

Mister Iva-san menatap Nami dengan muka yang di lebai-lebaikan, "Oh My God, Namichin. Kau ingat 'kan aku pernah bercerita tentang Monkey D. Luffy dan Roronoa Zoro? Luffy sudah setuju akan memakai rancanganku dan Zoro juga akan melihat-lihatnya agar dia mau menjadi model utamaku. Makanya kau pergi kesana dan pastikan kalau mereka setuju."

Lalu, sebelum Nami bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian yang berada didepan pintu, "Itu! Pakaian yang dirak itu!"

Tidak, anda belum pernah menyebukan tentang ini kepadaku, gerutu Nami dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Siapa yang anda sebut tadi?"

"Monkey D. Luffy dan Roronoa Zoro! Kau tidak kenal? Sudahlah itu tidak penting. Sana cepat pergi! Mereka sudah menunggu dibutik! Go! Go! Go!" katanya sambil mendorong punggung Nami keluar dari studionya.


"Salah seorang anak buahnya akan mengantarkan pakaian-pakaian itu ke sini," ujar Shanks lalu menutup flap handphone.

Luffy mendengus kesal dan menghempaskan diri ke sofa empuk yang ada di tengah-tengah kamar peragaan itu. "Sudah kubilang, seharusnya kita tunggu Zoro dulu baru datang ke sini." Lalu melirik jam tangannya. "Ah, kesal! Kenapa mereka lama sekali sih! Hhhh Berapa lama lagi?"

Shanks baru akan menjawab ketika handphone-nya berdering untuk kesekian kalinya dalam satu setengah jam terakhir.

Luffy menatap manajernya yang sedang berbicara dengan bahasa formal. Sepertinya telfon dari produser atau semacamnya. Shanks memberi isyarat akan keluar sebentar. Luffy mengangguk tak acuh dan Shanks keluar dari ruangan itu.

Luffy merebahkan kepala ke sandaran sofa, mencoba mendapatkan kenyamanan. Baru saja dia merasa damai dan hampir terlelap ketika ia mendengan bunyi pintu dibuka dan suara seorang wanita.

"Selamat siang. Gomen, Monkey D. Luffy-san, telah membuat anda menunggu lama."

Luffy membuka mata. Gadis berambut sebahu dan bertopi merah memasuki ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Luffy berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya.

"Mister Iva-san meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk anda. Silahkan dicoba" gadis itu mendorong rak ke dekat bilik ganti. Ia mengeluarkan salah satu pakaian dari gantungan dan mengulurkannya kepada Luffy.

"Silahkan dicoba di sana," katanya sambil menunjuk kea rah bilik yang tertutup tirai tebal.

Ada perasaan janggal yang mengusik Luffy. Tapi dia tidak tahu apa itu. Ia menerima pakaian yang di ulurkan wanita itu dan beranjak ke bilik ganti.

Selesai menggenakan pakaian, Luffy menyibakkan tirai. Tepat pada saat itu ia melihat gadis yang membawa pakaian tadi sedang duduk dikursi bulat di samping sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang berwarna oranye dengan jari-jari tangan. Luffy tertegun dan menatap gadis itu. Itulah pertama kali Luffy melihat jelas wajah si gadis sejak dia masuk tadi.

Tiba-tiba wanita itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya dia menyadari sedang diperhatikan. Ia cepat-cepat mengenakan kembali topinya dan berdiri "Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?"

Bukankah dia wanita yang kemarin? Tidak salah lagi. Luffy masih ingat jelas wajahnya. Wajah yang lelah dan pucat. Wanita yang berdiri didepannya ini memang wanita yang kemarin. Wajahnya masih terlihat sama. Tapi kenapa dia tidak berkata apa-apa? Apa dia tidak mengenalinya?

"Kita pernah bertemu," tegas Luffy. Ia tidak bertanya, tapi menegaskan. Ia sangat yakin. Karena itulah ia ingin melihat reaksi wanita itu.

Wanita itu tertegun, lalu perlahan mengangkat kepala dan menatap Luffy dengan ragu.

Tatapan itu. Tidak salah lagi sama dengan yang kemarin. Luffy menunggu dia mengatakn sesuatu.

Setelah hening beberapa saat, wanita itu hanya bergumam, "Oh?"

Luffy agak kecewa karena dia tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya menatapnya dengan matanya yang besar. Wanita itu bodoh atau benar-benar tidak ingat kejadian kemarin? Bukannya sombong, tapi Luffy tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa melupakan artis yang dia temui kemarin?

Luffy kesal karena dianya lah yang mengenali duluan. Sementara wanita itu sepertinya tidak ingat sama sekali dengannya. Bagaimana bisa? Apa dia tidak sepopuler yang dia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya?

"Kau datang kerumahku kemarin malam karena Handphone kita tertukar," kata Luffy datar dan cepat, membantu ingatan wanita itu. Demi Tuhan, memangnya wanita ini menderita amnesia?


"Kita pernah bertemu,"

Nami bergeming. Ia menggigit bibir. Ternyata dia mengenalinya. Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang akan terasa aneh. Akhirnya, dia hanya bisa bergumam.

"Kau datang kerumahku kemarin malam karena Handphone kita tertukar," kata Luffy lagi. Nada suaranya datar.

Baiklah, ia tidak bisa mengelak lagi. Nami memaksakan seulas senyum. "Oh, ya, benar. Apa kabar?" hanya itu yang bisa difikirkannya.

Monkey D. Luffy memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan mendengus, "Ternyata ingat juga." Gumamnya.

Nami mengangkat alis. "Ya?"

Monkey D. Luffy kembali menatapnya, "Jadi kau bekerja disini?"

"Ya… Bisa dibilang begitu," jawab Nami. Dia lega sekarang. Setidaknya dia tidak perlu menundukkan kepala.

"Foto di tabloid itu… Kau sudah melihatnya?"

Nami menelan ludah. Ini dia. Apa dia menyangka kalau dirinya dibalik semua ini?

"Sudah…" ujar Nami ragu. Lalu cepat menambahkan sambil menggoyangkan tangan, "Tapi bukan aku… Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan itu. Sungguh!"

Luffy tertawa kecil. "Kami juga berfikir begitu. Lagi pula, sebenarnya Foto-foto itu membantuku."

Nami mengangkat alis, tidak mengerti.

"Kau sering membaca tabloid?"

Nami menggeleng. Dia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula, Nojiko saja sudah cukup untuk menjadi tabloid berjalannya. Dia tahu semua gossip-gossip artis. Dan pasti itu akan diceritakan kepada Nami. Tak peduli Nami mau tahu atau tidak.

Luffy mengangguk-angguk, "Hmm, berarti kau tidak tahu soal gossip tentang diriku?"

"Gossip gay itu?" kata itu meluncur saja dari mulut Nami tanpa bisa diproses.

Luffy menatapnya "Bukannya kau tidak membaca tabloid?"

Nami memiringkan kepala, salah tingkah. "Temanku yang menceritakannya."

"Ternyata banyak yang sudah tahu" Luffy mendesah. "Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gossip." Lanjutnya.

Nami hanya mengangguk-angguk tak acuh, namun dia terkejut ketika lelaki di hadapannya itu mendadak menatapnya dengan wajah berseri-seri.

"Nami— Namamu Nami 'kan?" tanyanya cepat. Tanpa menunggu jawaban Nami, dia melanjutkan, "Karena kau sudah membantuku satu kali, bagaimana kalau kau membantuku sekali lagi?"

Nami mundur selangkah, "Bantu… Apa?"

Luffy menyeringai, "Jadi pacarku,"

"A-apa!"


Luffy agak kaget mendengar pekikan Nami. Tapi dia bisa memakluminya.

"Begini, biar kuganti kalimat permintaanku," katanya lalu merenung. Tak beberapa lama, Luffy kembali menatap Nami.

"Aku ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku."

Nami menatap Luffy bingung. Alisnya terangkat ketika Luffy menjelaskan maksud permintaannya.

"Hanya berfoto. Bagaimana?" tanyanya diakhir penjelasan. Dia menatap Nami yang masih kaget. Kenapa dia merasa seolah-seolah sedang disidang dipengadilan? Dia sangat pernasaran apa yang akan dikatakan gadis itu.

Dan yang keluar dari mulut Nami adalah, "Kenapa aku?"

Pertanyaan bagus. "Tidak ada alasan khusus. Ku fikir kau mau membantuku. Bagaimanapun, kita sudah pernah difoto bersama walaupun tanpa sengaja." Kata Luffy santai.

Luffy melihat kening gadis itu berkerut. Tanda sedang mempertimbangkan permintaannya. Setidaknya, dia tidak menolak mentah-mentah.

Luffy cepat-cepat menambahkan, "Kalau kau mau, anggap saja aku menawarkan pekerjaan padamu. Dan itu sama sekali tidak akan mengganggu pekerjaanmu sekarang ataupun kuliahmu."

"Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh kerjaan? Atau butuh uang?" tanya Nami datar.

Luffy menatap Nami dari ujung kepala sampai kaki. Wanita ini memang tidak seperti butuh kerjaan apalagi membutuhkan uang.

"Memang tidak, tapi begini saja, aku akan memberimu apapun asal kau mau membantuku." Tawarnya lagi.

"Hanya untuk berfoto bersama?" tanya Nami memastikan.

"Ya. Hanya berfoto." Tegas Luffy. Dia menjadi tidak percaya diri. Apa yang dia pertimbangkan? Yah mungkin karena dari awal Nami bukan penggemarnya, jadi dia tidak antusias dengan hal ini.

Tiba-tiba terdengar dering Handphone. Otomatis, Luffy merogoh sakunya. Begitu pula dengan Nami. Ternyata yang berdering adalah Handphone Nami. Luffy sadar kalau Handphone-nya dan Handphone Nami sama persis. Bahkan sampai nada deringnya sama. Mungkin dari mereka harus mengganti nada dering.

Nami menatap Handphone-nya dan langsung menutupnya. Rasa heran Luffy bertambah saat Nami mencabut baterai Handphone-nya. Siapa yang menelfonnya tadi? Heran Luffy atas tindakan Nami barusan.

"Mau bantu 'kan?" Tanya Luffy lagi.

Nami menatap Luffy, "Baiklah, asal wajahku tidak terlihat,"

Udara disekeliling Luffy menjadi ringan. Ia menghembuskan nafas dan tersenyum lega. Meminta bantuan Nami tidak sesulit dugaannya. Tidak ada syarat aneh-aneh. Kalau sekedar merahasiakan identitas, Luffy bisa memaklumi itu. Dia pasti tidak ingin berurusan dengan wartawan.

"Arigato, Nami. Aku harap kau tidak memberitahukan ini kepada siapapun. Bahkan orang tuamu. Aku tidak ingin menciptakan skandal yang lebih parah. Aku bisa mempercayaimu 'kan?"

"Ya, aku mengerti." Sanggup Nami.

Pada saat itu, pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk adalah Zoro dan Shanks. Shanks memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya.

"Kau yang kemarin 'kan?" tanya Zoro memastikan.

Shanks menoleh kearah Zoro, "Jadi dia yang ada di tabloid itu? Wah, senang bertemu denganmu. Aku Shanks. Manajer Luffy dan Zoro."

Nami menatap Zoro dan Shanks lalu tersenyum kaku, "Ah, iya, senang bertemu denganmu juga"

Luffy tersenyum lebar "Hei, Zoro, Nii-san, dia mau jadi pacarku."

Sontak Zoro dan Shanks langsung menengok kearah Luffy. "Maksudnya?" tanya Zoro bingung.

"Yang kau katakan kemarin… Soal foto… Aku sudah memikirkannya," Kata Luffy masih tersenyum. "Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu."

Zoro dan Shanks terlihat bingung. "Soal yang kemarin…?" gumam Zoro. Berfikir sejenak, lalu, "Astaga! Kau serius?" kaget Zoro.

"Hei, sebenarnya, apa yang kalian bicarakan?" bingung Shanks. Dia menatap Luffy dan Zoro tidak mengerti.

"Akan aku kujelaskan pada Nii-san, nanti," Kata Luffy sambil menepuk-nepuk pundak manajernya.

"Kita lanjutkan perkerjaan kita dulu. Bukankah kita kesini karena aku dan Zoro harus mencoba semua pakaian ini?"


Nami berjalan dengan langkah gotai. Hari ini tidak jauh beda dengan yang kemarin. Sekarang, ia agak menyesali keputusan yang dia buat tadi. Tapi apa bisa dibatalkan? Mereka sudah membuat kesepakatan. Dan nanti malam, dia sudah berjanji menemui ketiga lelaki itu.

"Baiklah Nami, jangan sesali keputusanmu! Aja aja, fighting!"

.

.

~To Be Continued~


Lolu : Yap! Akhirnya chap 2 ini selesai juga! Setelah aku dan Sora buat ulang, karena yang waktu itu gak tau kenapa bisa kehapus, akhirnya kami bisa bernapas legaaaaaa

Sora : Yah, kau benar, aku juga capek nulis chap ini dua kali… Mana panjang banget lagi…

Lolu : Benar, padahal sebelumnya kita sudah membuat ini susah payah ya… Jariku sampai keriting begini…

Sora : Heeh. Jariku malah jadi pada kribo … Butuh ke salon… rebonding… smooting…

Lolu : Iya, iya, aaaah udah gak kuat… ah, rasanya mau tepar deh… haaaaahh

Sora : Yomaaaann... Yuk kita tepar, boss…

Lolu : Yuuuuuukk… mareeeeee…

*Yah, minna, seperti yang anda ketahui, Lolu dan Sora tepar*

Robin : Fufufu, Nona Author dan Nona Asisstant sudah tidak berdaya ya…

Nami : Hah! Mereka! baru nulis dua kali aja udah gak kuat!

Robin : Fufufu, baiklah, kita saja yang tutup A/N ini, Nona Navigator…

Nami : Okay! Tapi author dan assistant yang payah ini harus membayarku!

Robin : Nah, tolong ya, kalian me-review cerita ini, kasian sama author dan asisstantnya nulis ini sampai dua kali

Nami : -ehem- YANG BACA HARUS REVIEW ! MAU GAK MAU, SUKA GAK SUKA! NIAT GAK NIAT! YANG GAK REVIEW BAKAL GUE BIKIN SEKARAT!

Robin : Fufufu, seperti biasa, Nona Navigator kejam… Nah, REVIEW PLEASE

.

.

Happy valentine's day :)