Title: Hurt
Disclaimer: JkRowling.
Pairing: DM/HP, DM/AG, RW/HG,
Warning: Slash, Mpreg,
Summary: Draco yang bosan dengan kesehariannya, mengawali harinya dengan membaca the Daily Prophet dengan headline 'Harry Potter, The-Boy-Who-Pregnant' terkejut, sekaligus tertarik untuk mencari siapa 'ayah' dari anaknya tersebut walaupun di Koran menyebutkan Ron Weasley.
Xxxxx: tanda cerita dari Malfoy utk James.
…o0o…; tanda flashback.
Comment, Fave, dan Alert; tanda kalau kalian suka cerita ini #eaaaa.
Silakan membaca…
Chapter 3: Straw Crepes, and Tears Drop
…
"Ayahmu yang pergi meninggalkanku…"
…
Draco terdiam, lama kiranya dan James seperti mengerti kalau orang dewasa disampingnya itu memang sedang ingin berdiam diri. Si kecil itu mengusap bibirnya yang penuh dengan serpihan Crepes dan jus jeruknya. Gelasnya sudah kosong, ia melirik laki-laki yang jauh lebih dewasa darinya dan memegang rambutnya. Mereka punya rambut yang warnanya sama. Ia melirik Mr. Malfoy sekali lagi, dan ia menatap serius bentuk rambutnya. Ia memegang rambutnya dan menyapunya kebelakang.
Kesibukan James dengan rambutnya, mengalihkan perhatian Draco. Ia tertawa kecil ketika anak laki-laki manis disampingnya itu terlihat kesal karena rambutnya tetap berjatuhan menutupi dahinya sekeras apapun ia mencoba untuk mengusapnya kebelakang.
"Apa yang sedang kau lakukan, James?" tanya Draco menahan tawanya.
James melirik kearah laki-laki bermata abu-abu, dan menampakkan bibirnya yang cemberut, "Aku ingin punya rambut seperti milik Mr. Dreeeyyy, tapi tidak bisa, rambutku menutupi dahiku lagi."
"Hm? Rambut seperti ini?" tunjuk Draco pada rambutnya yang panjang dan diikat kebelakang.
James mengangguk, "Apakah rambutku harus panjang? Tapi rambut James tidak panjang."
"Kenapa ayahmu tidak memotong rambutmu saja?" Draco mengusap kepala James dan merapikan rambut James sehingga dahinya terlihat.
"Daddy terlalu sibuk… dan Mum…juga sibuk." Mendengar hal ini, jantung Draco kembali berdebar. Ia menarik tangannya dari kepala James. Napasnya semakin berat, dan rasanya…
"Mum? Siapa ibumu James?" tanya Draco dengan lirih, jujur ia sangat takut mengetahui kenyataan kalau… kalau Harry sudah menemukan seseorang yang baru yang ia cintai. Seseorang yang bisa membahagiakannya.
James melirik kearahnya, "Anda berkata apa, Mr. Drey?"
Draco tertegun, dan kemudian tersenyum kecil.
"Ah… iya, Bibi Mione dan Paman Ron, juga akan kerumah, James! Mr. Drey juga kenalan lama ayah… kan? Nanti juga ke rumah baru James yaaa?" bujuknya dan sudah menyerah soal rambut pirangnya yang menutupi dahinya.
Draco menggelengkan kepalanya, ia ragu… Harry akan menerimanya di rumahnya. James merajuk, bibirnya sudah cemberut. Wajahnya benar-benar lucu, benar-benar tipikal anak ceria dan sedikit manja.
"Kenaaappaaaa! Pasti karena rumah James jelek, ya?" rajuknya.
"James, Mr. Drey tidak tahu rumahmu seperti apa…"
"Pasti karena James, menghabiskan Crepes Mr. Drey…"
Draco tertawa melihat tingkah laku anak kecil dihadapannya, "Bagaimana kau bisa mengambil Crepes di piringku?"
"Tidak boleh bilang, Daddy bilang jangan beritahu orang lain, selain Daddy…" bisiknya sambil menutupi bibirnya dengan telunjuknya, "Ra-ha-ii-aaa…"
"Hm? Rahasia, maksudmu?" James mengangguk dengan senangnya, "Ahh… sayang sekali Mr. Drey tidak boleh tahu."
"Iyaa… Mr. Drey tidak boleh tahu apa itu rahasia."
"Rahasia itu… hal yang tidak boleh diberitahu ya?"
James mengangguk perlahan, "Iya… rahasia tidak boleh diberi tahu…" bisiknya, "Kata Daddy kalo diberitahu nanti orang lain jadi tahu…" katanya sambil berpikir dengan keras luar biasa, ada kerutan kecil di alisnya. Draco tersenyum kecil.
"Mr. Drey punya cerita rahasia."
James menengok langsung kepada Draco yang sudah menyeringai. Anak kecil itu menampakkan wajah paniknya.
"Cerita apa itu, Mr. Drey? Apa itu cerita yang tidak boleh orang tahu?"
Draco mengangguk, "Tidak ada yang boleh tahu." Dan sepintas ia menyesal berkata demikian karena wajah James tiba-tiba terlihat sedih, "Kau mau tahu?"
"Kata Daddy… rahasia tidak boleh diberitahu."
"Itu kan rahasiamu…" James melihat Draco lagi, "Mr. Drey memutuskan untuk menjadikan cerita ini bukan rahasia."
Wajah James jadi bersemangat, ia berdiri di atas kursi kayunya dan memegang pundak Draco, "Mr. Drey bisa menceritakan rahasianya sama James, James akan dengar." Bisiknya ditelinga Draco dan merapatkan telinganya dipipi Draco. Draco tersenyum dan merasa nyaman merasakan kulit halus dan kenyal menempel di pipinya.
"Jangan menempel padaku seperti ini, James…"
"Mr. Drey tidak mau cerita?"
Draco tersenyum melihat pipi chubby yang mengembung karena cemberutnya, "Bukan begitu James, nanti kau bisa diomeli Mr. Werren, dan Daddy kalau melihatmu berdiri di kursi seperti ini…" ia memukul pahanya, "Bagaimana kalau Mr. Drey pangku?"
James dengan sigap duduk dipangkuan Draco membelakangi laki-laki dewasa itu. Draco mengusap kepala James saat anak itu dengan semangatnya berkata, "Ayo..cerita! cewwwrriiitaaaa!"
"Iya…iya…cerita ini tentang seekor anak naga kecil dan tupai….
Dan Draco memulai kisahnya,
xxxxxxx
Pada suatu hari, ada seekor anak naga yang sedang terbang dengan bebasnya di langit. Karena cuaca yang panas ia berteduh di sebuah pohon yang sangat besar, ia hampir tertidur saat tiba-tiba ada tupai yang muncul. Tupai itu kebingungan, dan hampir menangis. Wajahnya kemerahan dan perutnya buncit. Si naga kecil menghampirinya dan bertanya.
"Kau kenapa?" tapi tupai kecil itu tetap menangis sambil mengusap-usap perutnya.
"Aku makan kenari…" cerita tupai itu sedikit ragu setelah lama ia tidak bersuara dan si naga kecil menatapnya dengan tajam, "A-aku makan kenari…"
"Iya lalu!" bentak si naga kecil yang kesal setelah tupai malang itu masih saja sesegukkan.
"Aku makan kenari dan kenari itu masuk ke dalam perutku…"
Si Naga itu berpikir kalau tupai dihadapannya ini mulai gila. Ia juga baru kali ini melihat ada tupai kecil yang menggunakan kacamata. Padahal sepertinya tupai dihadapannya ini bodoh.
"Memang kalau kau makan biasanya masuk kemana? Ke kepalamu yang sepertinya dungu itu?" katanya sedikit sewot.
"A-aku tidak dungu!" bentak si tupai itu dengan kesal, dan napasnya sudah sesak, "A-aku disihir, karena aku mengambil kenari yang kumakan dari pohon kenari milik penyihir jahat."
"Hn…" lirik Naga itu.
"La-lalu, tiba-tiba aku terdesak saat memakannya…"
"Tersedak…"
"Iya… tersedak, dan perutku membuncit."
Si Naga kecil itu menghembuskan napasnya, "Hei, tupai dungu! Kalau kau terlalu banyak makan, sudah pasti perutmu buncit! Hish, aku membuang waktu istirahatku saja."
"Aku tidak dungu!" bentak si tupai itu lagi, naga kecil yang tadinya akan berbaring kembali, melirik si tupai, "Aku tidak dungu! Dan…dan… perutku bergerak-gerak…"
"Perutmu bisa berpindah tempat? Pindah kemana? Kaki?"
Si Tupai memperlihatkan wajah ke-ngeriannya, "Bukan! Tapi ini…" ia mengambil tangan si naga dan menaruhnya di perut…
'ah…bergerak' pikir si Naga.
Xxxxxx
"Ungg… Mr. Drey?"
Draco menghentikan ceritanya dan menatap James yang duduk dipangkuannya, "Iya, James?" ia, senang sekali bisa sedekat ini dengan James. Anak kecil dari seseorang yang sangat ia sayangi. Ia termenung sesaat, mungkin kah ia masih mencintai Harry seperti dahulu? Ataukah… waktu dapat menghilangkan perasaan sukanya. Ia akui, sampai setahun lalu… ia lelah dengan perasaan yang selalu mencari-cari Harry dan akhirnya ia putuskan untuk menghentikannya.
Ketika ia berpikir untuk memulai kehidupan barunya dengan Astoria… lalu saat ini Harry muncul kembali. Ah… bisa kah ia berpikir kalau Harry memang ditakdirkan untuk muncul kembali? Setelah empat tahun ini? setelah ia berusaha untuk memulai hidup barunya? Setelah neraka yang ia alami selama bertahun-tahun?
"Mr. Dreeeeeyyyy!"
Draco tersentak, dan kemudian mengelus-elus kepala James, "Iya, James?"
"James, bertanya Mr. Drey! Apa itu 'dungu'?" kata James sedikit merajuk, dan pada saat yang sama Draco tahu ia telah menggali lubang kuburnya kalau sampai Harry mendengar anaknya memiliki kosakata yang baru.
"Urm…" Draco berusaha keras bagaimana caranya agar Harry tidak akan mengetahui kosakata yang baru dipelajari anak kecil dihadapannya ini. "Kau tahu, tupai itu nama lainnya 'dungu'."
James membuka lebar mulutnya sambil berkata, 'Aaaahhh…'
"Tapi kau harus merahasiakan nama tupai ini."
James melirik ke atasnya, tepat menatap wajah Draco, "Kenapa?"
"Karena ini rahasia, dan Mr. Tupai akan marah kalau sampai orang lain tahu, ingat… cerita ini rahasia."
'Aaahhh… begitu' kata James sekali lagi, dan Draco melanjutkan ceritanya setelah ia diam-diam menelan ludahnya. Tentu setiap orang tahu seberapa 'hot-blooded'nya Harry kalau ia mau, bahkan melebihi sahabatnya yang berkepala merah itu. Ditambah lagi… Draco tahu semengerikan apa laki-laki itu marah kalau ia mau.
Xxxxx
'ah… bergerak' pikir sang naga lalu merapatkan telinganya pada perut buncit dan bundar milik si tupai, "Kau sepertinya akan memiliki bayi…."
Wajah tupai menjadi pucat, "Bayi? Tapi aku kan tupai jantan!" si tupai mulai panik dan si naga menghembuskan napasnya melihat tupai yang bersedih.
"Bukankah kau bilang kalau kau disihir?" Tupai itu mulai mengeluarkan air matanya, "Sudah jangan menangis! Ini semuanya kan salahmu!"
Tupai itu menangis lebih keras lagi, "Aku harus bagaimana… aku… aku…"
Si naga kecil itu menghembuskan napasnya, "Baiklah, aku akan membantumu mengeluarkan bayimu-" wajah tupai itu kembali bersemangat, "Aku memiliki kenalan tuan ular untuk membantumu."
"Ap-apakah.., nanti aku tidak akan dimakannya?"
"Kau mau dimakan olehnya?" tupai itu menggelengkan kepalanya mendengarkan perkataan si naga, "Baiklah, aku akan membantumu, dan aku akan merawatmu sampai kau mengeluarkan kenari yang ada didalam perutmu."
Lalu… mereka berdua berusaha untuk mencari tuan ular untuk membantunya mengeluarkan kenari dari dalam perutnya. Selama berbulan-bulan si naga merawat tupai, karena tupai semakin lemah dengan kenari hidup didalam perutnya. Tuan ular pun ditemukan melingkar disarang yang biasa dilewati naga itu saat terbang dilangit dan merawat tupai itu juga. Sampai akhirnya suatu saat si tupai mengeluarkan kenari yang dikandungnya dengan bantuan tuan ular.
Dengan sihir dan lidah yang dimiliki tuan ular, di kenari bisa dikeluarkan lewat lubang pusarnya. Setelah selama berbulan-bulan si naga merawat tupai, ia sangat bahagia bisa melihat kenari itu muncul. Bayi kenari.
Tuan ular kemudian mengayunkan lidahnya yang panjang dan kemudian kenari yang bergerak-gerak itu pecah dan lahirlah bayi tupai. Bayi tupai yang sangat manis dan suaranya sangat lantang saat tangis pertamanya. Saat tuan ular menggendong bayi itu karena tidak juga berhenti menangis, mereka baru sadar kalau bayi tupai itu memiliki sayap seperti si naga kecil.
"Ini bayi kalian berdua…" kata tuan ular berdecak kebingungan. Karena ia baru pertamakali melihat bayi seperti itu.
Si naga kebingungan, "Bagaimana bisa ini bayi milikku? Kami beda spesies…" si tupai melirik naga kecil itu.
"Entahlah, tapi lihat… ini benar-benar mirip seperti kalian berdua. Mungkin karena kau merawatnya…"
"Tapi tuan ular kau pun membantuku merawat tupai ini."
Si tuan ular berpikir sejenak, "Entahlah, mungkin ini kutukan dari penyihir yang tuan tupai katakan dahulu?" liriknya pada tupai yang kelelahan dan kebingungan setelah melahirkan putranya.
"A..aku tidak tahu…" dan menatap naga dengan mata sedih, "Apakah kau membenciku? Karena melahirkan anak aneh seperti ini?"
Mendengar hal ini, naga tersenyum, "Aku senang, bukan kah aku sudah berjanji akan merawatmu? Aku juga akan merawat anak ini, aku sudah menganggapnya anakku sendiri kan? Apalagi melihat anak ini begitu mirip denganku. Kau bisa lihat?" katanya lalu mengambil anak kenari itu dari gendongan tuan ular, "Lihat wajahnya benar-benar mirip aku. Kurasa ini sungguhan anak kita berdua…"
Saat tupai itu akan mengatakan kalau mulai saat itu anaknya memang akan jadi anak si naga juga, tiba-tiba seseorang masuk kelubang persembunyian tuan ular, dan itu adalah penyihir jahat, yang memiliki ladang kenari.
"Kau mau apa!" teriak si tupai yang sudah terkejut, dan ia mencoba bangkit walaupun sulit dan memeluk si naga serta bayi mereka.
Tuan ular yang ketakutan terdiam disudut ruangan. Mereka semua tahu, penyihir itu sangat kuat dan sangat jahat. Penyihir itu tertawa, "Aku ingin mengambil bayi kenariku."
"Apa! Bayi ini bukan milikmu!" katanya dengan kesal, "Lihat! Ia ini tupai setengah naga!" bayi itu memang memiliki mata tupai dan sayap naga.
Penyihir jahat itu tertawa lagi, dan tiba-tiba mengubah tubuhnya menjadi naga, "Kau mengerti sekarang? Aku juga seekor naga penyihir, tupai kecil! berikan anak itu padaku!"
Si naga yang marah kemudian memberikan anak kenari ke tupai, "Kami tidak akan menyerahkan anak kami!"
"Baiklah, kalau begitu lawan aku!"
Lalu si naga kecil itu terbang dan melawan naga penyihir. Mereka seimbang, tapi karena mereka berdua sama naga, dan keduanya juga kuat. Tidak ada yang menang maupun kalah diantaranya. Si naga kecil melirik kearah tupai dengan rasa khawatir karena semenjak tadi di tupai dan anak kenari hanya terdiam.
Tapi…
Mereka sudah tidak ada, bahkan tuan ular pun sudah pergi. Si naga kecil tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena ia terlalu lelah menghadapi naga penyihir, akhirnya ia memilih untuk tidur.
Ia sempat berpikir kalau semuanya adalah mimpi ketika naga itu membuka matanya. Ruangan itu sangat gelap, dan sudah tidak ada lagi naga penyihir, tuan ular, si anak kenari dan… dan… si tupai berkacamata itu. Naga kecil sangat bersedih, tapi ia berjanji akan mencari si tupai dan anak mereka sampai ketemu.
…xxxxxx…
"Selesai." Draco bisa mendengar kalau James menepuk tangannya dengan bahagia, "Bagaimana, James?"
James tersenyum, "Aku tidak mengerti Mr. Drey…"
Draco menghembuskan napasnya, anak berumur 4 tahun tidak seharusnya ia paksa untuk mengambil sesuatu yang implisit dibalik kata-katanya, "Tapi ceritanya seru kan?"
James mengangguk perlahan, "James tidak mengerti kenapa si naga kecil mau merawat si dungu." Mendengar ini Draco sedikit tertegun, benar-benar gawat kalau sampai Potter mendengar kosa kata buruk yang tak sengaja diajarkan olehnya ini.
"Kenapa? Karena… tupai itu sangat manis?"
"Ahhhh… begitu…."
Draco mengusap-usap kepala James lagi, "Apa lagi anak kenari… ia jauuuuhhh… lebih manis dari kedua ayahnya." Dan Draco tersenyum.
Ia mengangkat James dan membuat anak kecil itu berdiri dipangkuan. Jujur ia merasa risih, karena nantinya ia yakin akan ada bekas sepatu di celananya. Tapi untuk saat ini ia tidak peduli. Ia ingin menatap mata anak dihadapannya ini lekat-lekat.
"Kenapa mr. Drey?"
"Kenapa apanya, James?"
"Kenapa si dungu pergi? Lalu… apakah naga kecil bisa menemukan anak kenarinya?"
Draco mengelus pipi kenyal milik James, warna kulit yang sama dengan dirinya. pucat, tapi ia tahu… James tidak sedang sakit, "Tupai pergi untuk menyelamatkan anak mereka, James…dan naga kecil tidak tahu… karena si tupai belum kembali juga."
"Ohhh…" James mengembungkan kembali pipinya, mungkin ia memang tidak mengerti cerita abstrak yang Draco buat-buat, tapi sepertinya ia paham kalau cerita ini cerita yang menyedihkan.
"Kau tidak perlu khawatir, karena naga kecil pasti akan menemukan tupai, dan anak kenari."
"Lalu mereka akan bersama?" tanya James sumpringah.
Draco hanya membalasnya dengan tersenyum. Mungkin kah?
"Mr. Dreeeyyy, wajahmu memerah?" James memicingkan alisnya, dan menyentuh kepala Draco, "Mr. Dreeeyyy sakittt!" teriaknya.
Draco ingat ia kekurangan tidur karena terlalu sibuk dengan banyak pasiennya, lalu seharusnya hari liburnya ini ia gunakan untuk beristirahat dirumah setelah hampir 3 hari ia hanya tidur seadaanya dan semalaman ia bergadang.
"Iya, sepertinya mr. Drey sedikit demam, Mr. Drey terlalu banyak bekerja."
James cemberut, "Katanya Mr. Drey Hiler… kenapa bisa sakit?"
"Karena Healer pun manusia, penyihir juga…sama seperti orang lain, juga sama seperti James."
James memiringkan kepalanya ke kanannya, "Sama seperti Daddy yang Auror?" Draco mengangguk dan kemudian anak kecil itu menyentuh pipi Draco dan…
'cup…'
Memberikan Draco ciuman di dahinya, "James?"
"Daddy kalau sedang sakit selalu menciumku di dahi…" ia terdiam sebentar karena sepertinya ada yang salah dari ucapannya, "Eh! maksud James kalau James sakit… eh… tapi Daddy juga menyuruh menciumnya. Katanya biar aku cepat sembuh. Begitu…" james tersenyum, "Mr. Drey harus mengucapkan terimakasih pada James, karena Daddy selalu sembuh esok harinya…"
Draco tersenyum dan memeluk James yang terkejut, "Iya… terimakasih, James…"
"Mr. Dreeeyyy?"
"Iya, James?"
"James, suka sekali baunya Mr. Drey…"
"Hn?" Draco menaikkan alisnya.
"James, suka sekali…baunya Mr. Drey, James juga suka baunya Daddy tapi kalau Daddy sudah mandi dan tidak pakai seragam Auror."
Draco tersenyum kecil, "Ayahmu sangat bau saat menggunakan seragam Auror, James?" ia bisa merasakan anak kecil itu mengangguk.
"Paman Ron, lebih bau lagi dari pada Daddy. Tapi Daddy tidak bau saat tidak pulang dari pekerjaannya."
"Ah, pasti ayahmu banyak berkeringat saat bekerja, James." Ia bisa merasakan James mengangguk kembali.
"Maka dari itu, James tidak mau menjadi Auror…" sekarang Draco sudah tertawa, "James mau jadi Hiler seperti Mr. Drey."
"Iya, saat kau dewasa nanti, akan Mr. Drey ajari langsung… Mr. Drey adalah Healer yang baik…"
James mengangguk kembali, dan beberapa saat kemudian ada dengkuran lembut dari arah belakang pundaknya. Draco tahu kalau anak kecil itu sudah tertidur. Yah… wajar sih, ia baru saja makan dan minum, dan dibacakan cerita lalu bersandar pada bau yang ia sukai. Draco tersenyum karena mengingat anak kecil ini menyukai 'bau'nya. Setidaknya, anak ini bisa nyaman disisinya.
Draco mengangkat James dan menaruhnya di pangkuan dengan kepalanya bersandar pada dada Draco yang bidang. Ia akan menunggu Harry datang sambil menidurkan James.
"Kalian ayah-anak yang manis, Mr. Malfoy…" Draco membuka matanya, bahkan ia sendiri tidak sadar telah menutupnya. Matanya menemukan Mrs. Sprint, wanita tua yang dulu pernah di obatinya karena ada kecelakaan kecil dengan sihir saat ia mencoba untuk mengambil tongkat sihirnya dengan tongkat sihir orang lain.
"Ah… Mrs. Sprint…"
"Aku tidak tahu kau sudah memiliki anak sebesar ini, Mr. Malfoy? Ataukah waktu berjalan begitu cepat… dan aku terlalu pikun untuk mengingatnya?" senyum nenek tua yang terlihat sangat ramah.
Draco tersenyum, ia sendiri tidak paham kenapa ia bisa semudah ini tersenyum pada orang lain. Mungkin ini yang disebut dengan senyum keprofesionalitasan, "Anak ini bukan anak saya, Mrs. Sprint, tapi kami memang memiliki hubungan darah…" walaupun ia sendiri tidak yakin dan ia tidak mau percaya. Mereka berdua memiliki hubungan darah, atau… darah mereka berdua sama. Draco tidak mau mempercayai hal itu.
Yang Draco inginkan adalah kenyataan kalau James anaknya, dan James bisa hidup dengannya. Ia tersenyum kecil, padahal mereka sudah tidak bertemu selama empat tahun, tapi rasanya ia tidak mau kehilangan James lagi. Mungkin ini rasanya memiliki anak. Sayangnya… mungkin Potter tidak akan membiarkannya.
"Hm…" Mrs. Sprint tersenyum lagi, kali ini senyum yang jauh lebih hangat dari sebelumnya, "Siapapun bisa melihatnya, kalau Mr. Malfoy adalah ayah anak ini." tawanya khas nenek tua dan membuat James mengeluarkan suara kecilnya.
Draco menepuk-nepuk kaki James perlahan, dan anak dipangkuannya kembali terdiam. Kepala James menelusup jauh ke dada Draco dan Draco bisa merasakan napasnya perlahan.
"Lihat… semua orang tidak akan meragukan kalau kau ayahnya, Mr. Malfoy… benarkan Mr. Werren?" Draco tidak sadar kalau Mr. Werren pun sudah ada disampingnya. Sejak kapan?
"Iya, semenjak tadi aku perhatikan… anak kecil ini memang anaknya Mr. Malfoy. Walaupun aku sempat kaget dengan kedatangan Mr. Potter kemari."
"Mr. Potter?"
"Iya, aku pernah melihatnya dulu sekali, di toko ini dengan anak kecil ini juga. Apakah ini anakmu dan entah karena apa dititipkan pada Mr. Potter, Mr. Malfoy? Karena mau dari sisi manapun, si kecil ini lebih mirip dengan dirimu."
Draco hanya tersenyum mendengar perkataan Mr. Werren, "Aku harap pun demikian… tapi sayang sekali, bukan." Dan senyumnya berubah menjadi getir, 'andaikan ia memang milikku…'
"James…"
Suara ini milik Potter, dan memang Harry James Potter memasuki toko ini kembali untuk menjemput anaknya, tapi bukan anak kami. Ia melihat Draco sedang di kelilingi pemilik toko dan seorang nenek-nenek tua yang tidak dikenalnya. Ia mendatangi ketiganya, dan saat akan menanyakan dimana James, ia terkejut mendapati James sedang tidur dipangkuan Malfoy. Ia tahu James itu mudah tidur, tidak sulit untuk membuatnya tidur. tapi untuk tidur dipangkuan orang asing…
"Mr. Potter?" tanya Mr. Werren yang pertamakali menyapanya, Draco hanya terdiam melihatnya, dan berusaha untuk tidak melihatnya. Mrs. Sprint mendatanginya.
"Ya?" jawab Harry ragu dan melirik Draco yang membuang wajahnya. Pasti Malfoy mengatakan sesuatu tentangnya, pikir Harry.
"Ah… akhirnya aku melihat Mr. Potter dengan mata kepalaku…" kata nenek tua yang menyentuh lengan Harry, Harry hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum, "Ternyata kau benar-benar pendek… seperti yang dikatakan Daily Prophet, kupikir semua yang dikatakan koran itu omong kosong." Nenek itu tersenyum.
"Hahahahaha… jangan berkata seperti itu Mrs. Sprint," kata Mr. Werren setengah tertawa. Ia kesal, tapi harus menjaga emosinya, terutama dihadapan Malfoy yang sekarang sudah menatapnya dengan mata menyebalkan, seakan-akan 'Tuh,kan… apa ku bilang! Kau memang pendek!'
"Tidak apa-apa, Mr. Werren." Senyumnya, "Aku kemari ingin mengambil putraku… karena kami sudah terlambat untuk menemui Weasley, dan tolong bungkuskan kami…" Harry menghitung keluarga Weasley…karena jari tangannya tidak juga sanggup menghitung dan menyerah, "Bungkuskan kami Crepes rasa coklat, strawberry, melon, jeruk, dan… ia melirik James, apel. Masing-masing rasa 5 buah."
"Oh, baik… Mr. Potter… jadi, anak manis itu sungguhan anakmu Mr. Potter?" tanya Mr. Werren, sungguhan penasaran.
"Eh?" Harry terlihat kebingungan.
"Ah… sepertinya empat tahun yang lalu aku pernah mendengar gossip ka-" perkataan nenek tua itu disela oleh Draco.
"Potter, kau jangan lupa menyuruhnya untuk menggosok gigi setelah ia sampai ke rumah nanti. Ia terlalu banyak makan manis hari ini." kata Draco kembali mengusap-usap kepala James dan menyentuh daun telinganya yang kecil.
"Kau membelikannya, Crepes lagi Draco?" tanyanya dengan sengit, insting Aurornya selalu dapat mengetahui apa yang tidak terlihat.
"Erm… anakmu berbakat dalam merayu orang lain, mungkin suatu saat nanti ia bisa bekerja di kementerian." Kata kementerian mengingatkannya pada seseorang.
"Itu bukan urusanmu, Malfoy."
"Empat tahun yang lalu kau tidak akan berkata demikian, Harry." Perubahan pemanggilan nama ini membuat Harry terkejut, Draco memanggilnya untuk mengalihkan perhatian Potter, dan sungguh beruntung Mr. Werren sudah menyiapkan crepes pesanan Harry dan Mrs. Sprint mengikuti Mr. Werren untuk memesan crepes juga.
"Kau hanya tidak tahu, Malfoy!"
"Tidak tahu apa? Apa yang tidak ku ketahui selain kau melarikan diri dariku!"
"Aku ti-"
"Draco?"
Tanpa mereka sadari, telah ada seorang gadis cantik di depan pintu. Astoria, gadis berambut coklat yang sangat sopan lagi anggun. Bukan kah ia gadis yang sangat tepat untuk Draco?
"Ah… Mr. Potter kan?" tanya Astoria ragu. Kemudian melirik kearah Draco yang masih memangku James, "Siapa anak ini Draco?"
Draco melirik kearah Harry yang sepertinya sedikit terkejut, entah terkejut karena apa, "Ini James Potter, anak dari Harry Potter."
Astoria menyentuh James di dahinya dan tersenyum, benar-benar tipikal wanita yang lembut, "Anak ini manis sekali, Mr. Potter… aku tidak pernah mendengar hubunganmu dengan seorang wanita selain dengan Miss. Weasley."
Harry mengerti apa yang dimaksud oleh Astoria, karena James, anaknya berambut pirang, berwajah tirus dan berkulit pucat. Jelas-jelas tidak mirip dengannya. Ia mendatangi Malfoy dan menggendong James, "Aku tidak ingin kehidupan pribadiku kembali memenuhi koran Miss… maaf?"
"Astoria… namaku Astoria Greengrass, mungkin kau mengingat kakakku Daphne Greengrass?"
Harry mencoba mengingat-ingat anak Slytherin, tapi… ia tetap tidak ingat yang mana Greengrass. Ia hanya mengangguk, "Miss. Greengrass, kami akan pergi dahulu-" James mulai bergerak dalam pelukan Harry, "Kita pulang, James…"
Mood bangun tidur James benar-benar buruk, seperti seseorang. Ia langsung menangis karena ia ingin tidur tapi ayahnya tidak sengaja membangunkannya. Harry panik kalau anaknya sudah bangun tidur menangis seperti ini.
"Jamie, Jamie… sudah-sudah… nanti tidur lagi… kita pulang dulu…" dan mereka juga masih menunggu pesanan mereka datang, "James please, Daddy mohon jangan menangis…"
James anak yang pandai, dan jarang sekali menangis. Tapi sekalinya ia menangis, ia akan sulit dihentikan. Draco berdiri dari duduknya setelah membersihkan pangkuannya dari bekas pijakan James. Ia menepuk-nepuk punggung James dan menunduk sebentar kearah telinga James. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, karena James tidak juga diam. Sesuatu yang seperti bola dan berkelap-kelip. Mainan yang selalu bisa menghentikan rengekan anak kecil ketika ia harus memeriksa anak kecil yang tidak bisa berhenti menangis.
"Ih-ni, un-unthuk-ku, Mr. Drey?" tanya James sambil sesegukan.
"Iya, James… maka dari itu, jangan menangis ya? Ingat seorang Healer akan menyembuhkan banyak orang yang kesakitan, kalau seorang Healer menangis… bagaimana dengan pasiennya?" kata Draco ditelinga James, tapi cukup untuk membuat Harry mendengar perkataannya.
Astoria hanya terdiam melihat perilaku Draco. Ia tahu kalau… kalau, Draco memang mencari seseorang dan ia lah yang membuat Draco menghentikan pencarian seseorang itu untuk hidup dan meninggalkan masa lalunya. Tapi rasanya… ia mulai memiliki firasat buruk dengan seseorang itu. Keluarga Malfoy, tidak ada yang menceritakannya tentang orang yang selalu dicari oleh Draco.
James sudah terdiam, sambil menggengam bola kecil mainan yang kelap-kelip. Mungkin banyak orang hanya menganggap itu hanya bola biasa. Tapi bola itu adalah bola yang ia kembangkan sendiri karena tidak tahan menghadapi tangis anak kecil beberapa tahun yang lalu. Soothing Charm telah ia masukkan dan efeknya tidak akan hilang sampai setahun yang akan datang. Tapi biasanya ia tidak pernah memberikan bola itu pada orang lain, sih… karena tidak sehat kalau anak kecil terlalu tenang.
Tapi ia yakin, kalau Potter pasti akan membuang bola itu. Jadi, ia tidak perlu khawatir.
"Mr. Potter, ini crepes pesanan anda… semuanya berjumlah 6 Sickle dan 8 knut." Harry mengeluakan koin dari celananya dan pergi menggendong James setelah ia menundukkan kepalanya pada Draco dan Astoria.
Mereka terdiam melihat kepergian ayah-anak itu. Terutama Draco, ia menatap lekat punggung Harry. Punggung yang dahulu selalu ia peluk dari belakang, dan kecup perlahan di dahinya setelah Harry membalikkan tubuhnya.
"Baru kali ini aku melihatmu sangat perhatian pada anak kecil, Draco?"
"Kau hanya tidak tahu, Astoria…"
"Hm…" gadis itu terdiam, "Apa ini ada hubungannya dengan masa lalumu?"
"Entahlah… katanya simpel."
Astoria kembali terdiam saat Draco sudah pergi untuk membayar crepesnya. Siapapun kalau melihat anak laki-laki itu pasti akan tahu kalau anak itu bukan anak Potter. Mungkin kah… itu anak Draco? Apakah mungkin seseorang yang dicari Draco itu adalah anaknya sendiri. Tapi… hal sepenting ini tidak mungkin Narcissa tidak mengatakan padanya. Pasti ada sesuatu diantara mereka.
Dan Astoria…tidak peduli apapun itu, karena ia tidak akan melepaskan Draco.
…o0o…
"Apa yang kau lakukan disini, Malfoy!"
Harry bangun dari tidurnya dengan sangat terkejut, kau tertidur disamping rivalmu, yang juga musuhmu terdahulu. Malfoy yang menggenggam tangan Harry akhirnya melepaskannya dan berdiri. Ia berusaha menjauh dari Harry. Harry bersiap untuk bangun, tapi kepalanya yang sedikit pusing memaksanya untuk tetap ditempat tidur.
"Bukankah sudah ku bilang… aku akan merawatmu? Ingat? Healer Steward menunjukku untuk menggantikannya?"
Harus ia akui, kalau dua minggu yang lalu, Harry 'mengamuk' habis-habisan pada Healer tua kurang ajar itu. Masa… masa… dia…
"Potter?" panggil Draco karena sepertinya wajah Harry memucat, setelah Harry menatapnya, "Aku akan pergi mengambil peralatanku yang tertinggal di bawah, dan akan kembali untuk memeriksamu lagi Mr. Potter."
Harry membuang wajahnya, "Lebih baik kalau kau pergi sekalian." Sebenarnya ia mulai merasa kalau tindakannya ini kekanakan. Entahlah, moodnya mudah sekali berganti dan tingkah lakunya seperti anak-anak. Mungkin karena ia sedang hamil.
"Hm… laki-laki hamil itu jauh lebih sulit untuk ditebak, harus dicatat ini." katanya tanpa memperhatikan Harry, dan kemudian melangkah keluar.
Asam naik ketenggorokan lagi.
*hueeeekkkkkkkk*
Harry tidak banyak memuntahkan sesuatu, karena makanannya habis ia muntahkan semenjak pagi tadi. Mungkin ia akan mati, dan rasa mualnya terhenti setelah tanpa ia sadari Malfoy ada disampingnya, membersihkan selimut dan pakaiannya serta mengelus-elus punggungnya.
"Bisa kau panggil elf-mu Potter?"
Harry yang setengah sadar memanggil Kreacher, dan ia tidak ingat lagi apa yang ia lakukan karena Harry sudah tertidur. Harry kelelahan, diwajahnya pun terlihat demikian. Rasa mual, dan nutrisinya terhambat. Sepertinya ia perlu ramuan nutrisi dan penghilang mual, walaupun tidak sehat kalau ia menggunakan penghilang mual. Ia takutnya nanti Harry akan tergantungan mengingat mereka tidak tahu, bagaimana kehamilan pria itu berlangsung seperti apa dan berapa lama.
Malfoy meminta Kreacher untuk membuatkan Harry bubur terlebih dahulu, karena ia mual-mual seperti itu, jadi memakan sesuatu yang bisa dengan mudah ditelan namun tetap bergizi. Ia memberikan ramuan untuk dicampurnya kedalam makanan. Ramuan yang berisi nutrisi dan dengan aroma yang membuat seseorang yang hamil akan bernafsu untuk memakannya.
Tangannya sudah berada di dahi Potter, tanpa ia sadari dan mengelus-elusnya. Wajah kesalnya berubah menjadi rileks sesaat ia menyentuhnya. Kenapa Potter hanya sendirian di rumah ini? kemana kekasihnya dan para sahabatnya? Ia sendiri tidak habis pikir kenapa ia dibiarkan sendiri seperti ini.
Apa haknya untuk marah pada teman-teman Potter karena tidak ada yang menemaninya?
Iya, haknya… karena itu akan mempersulit pekerjaannya kalau Potter dalam keadaan buruk. Iya begitu… karena tidak mungkin ia mulai peduli pada Potter! Tidak mungkin! Tapi… wajar juga kalau ia peduli pada Potter! Karena Potter adalah penentunya, ujiannya oleh Healer Erlen.
Huffffhhh…
Makanan sudah sampai, dan kini permasalahannya… apakah ia akan dikutuk oleh Potter? Ah, iya tongkat Potter harus dijauhkan darinya. Draco sudah menjauhkan tongkat sihir milik pasiennya, dan menepuk perlahan pipi Harry.
"Potter, Mr. Potter… bangunlah…"
Harry membuka matanya dengan sedikit kesulitan. Ia mendapati sesorang yang tidak ia kenal. Laki-laki berambut warna hitam dan berwajah tampan… siapa dia? Tapi kenapa ia sangat tenang disisinya.
Laki-laki yang tidak dikenalnya itu menyodorkan sesuatu seperti mangkuk kehadapannya, "Kau siapa?" tanyanya dengan simpel, itu sampai ia mencium 'aroma' tubuh laki-laki disampingnya itu, "Malfoy! Kau pikir aku bodoh!" saat Harry akan menampik semangkuk bubur ditangannya, Draco berdiri dan alhasil *hueeeeekkkkk* ia muntah kembali.
Ia lemas dan dehidrasi. Ia bahkan tidak sadar kalau ada tangan yang mengelus-elus punggungnya lagi dan sedang berbisik mengenai sesuatu yang terdengar seperti mantra. Ada lima menit ia hanya terdiam dan bersandar pada laki-laki berambut hitam itu. Sebelum ia mengingat kalau itu Malfoy!
Tapi Harry sudah tidak memiliki tenaga lebih untuk marah-marah pada Malfoy…
"Kau mau apa, Malfoy?" tanyanya setengah iritasi.
Draco menghembuskan napasnya, "Bukankah sudah kubilang, Potter… aku akan merawatmu."
"Lelucon macam apa ini? kau? bukankah kau sangat senang melihat aku menderita seperti ini… mungkin besok Daily Prophet sudah penuh dengan pemberitaan tentangku yang hamil dan terlihat lemah seperti ini."
"Mr. Potter…"
"Atau kau ingin membunuhku? Sebagai balasan atas aku mengirim ayahmu ke Azkaban untuk yang kedua kalinya, Mr. Malfoy?"
"Potter, kau membebaskanku dengan ibuku, ingat itu?"
"Ah… benar juga, mungkin kau masing menganggap bahwa hutangku masih belum lunas Mr. Malfoy? Tapi kau lihat sekarang… aku tidak memiliki apapun. Kecuali uang kalau kau mau, tapi kan kau sudah banyak uang."
"Stupefy!"
Harry terdiam dan sudah Malfoy rebahkan diatas kasur. Ia lalu memberikan warming charm pada bubur itu. Ia mengayunkan tongkatnya dan glamour yang digunakannya sudah hilang. Rambutnya kembali terlihat pirang.
"Potter. Aku sungguhan akan membantumu, jadi kau diam dan turuti aku!"
Harry tidak bisa berbuat apapun kecuali menatapnya dengan tajam.
"Kau sekarang makan dulu ya?" katanya dengan sangat lembut, "Ah.. maaf, finite.."
Dan Harry sudah dapat kembali bergerak. Tapi ia tidak bergeming, dan hanya menikmati perasaannya yang tenang. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa rasanya sangat tenang. Mungkin Malfoy yang sudah menjadi Trainee itu belajar tentang membuat 'aroma' tubuhnya yang menenangkan pasiennya?
Mungkin saja.
Harry makan bubur itu perlahan di atas kasurnya. Malfoy tidak melakukan apapun dan hanya duduk disampingnya. Menurut Miss. Lovegood seharusnya ia bercerita mengenai sesuatu atau mengusap-usap punggungnya. Tapi sepertinya tidak perlu karena Potter sudah makan dengan tenang disampingnya.
Malfoy akan beranjak pergi dan mengambil tasnya didepan rumah Potter saat laki-laki yang sedang hamil itu menghentikannya.
"Ada apa Mr. Potter?"
"Bisa kau berada disini saja?" pintanya dengan lemah dan penuh rasa kesal. Mungkin ia kesal karena ingin ditemani oleh rivalnya dan sekaligus musuhnya dulu saat di Hogwarts.
"Hum? Aku hanya akan mengambil perlengkapanku, Mr. Potter lalu kembali lagi kemari untuk memeriksamu."
Harry menggelengkan kepalanya sebentar, sesaat setelah Malfoy berdiri dan akan keluar dari kamar itu ia sudah merasa mual lagi. Padahal ia baru saja memasukkan sesuatu dalam perutnya. Ia khawatir akan kondisi janinnya, karena ia selalu memuntahkan makanannya. Apalagi ia sudah tidak pernah menemui Healer Steward setelah 'amukannya' dua minggu lebih.
"Bisa diambilkan Kreacher, Kreacher!" lalu elf itu pun muncul, "Tolong ambilkan tas milik Mr. Malfoy." Setelah elf itu menggerutu, ia menghilang dari hadapan mereka berdua, dan beberapa detik kemudian, ia muncul membawakan tas milik Malfoy.
Malfoy telah duduk dibangku dekat jendela kira-kira 3 meter dari Harry yang berbaring. Mualnya memang sudah hilang, tapi rasanya berbeda saat Malfoy tepat ada disampingnya. Rasanya saat itu ia berada di daerah yang sangat luas dan sejuk. Ia tidak kekurangan apapun, dan rumput di kakinya terasa sangat nyaman, dan langitpun biru membentang. Tapi saat ini… ia tidak mual… namun, kalau kau baru saja memakan soup ayam, lalu kau dihadapkan dengan soup tanpa isi didalamnya. Apakah akan sama?
Ruangan sangat hening, dan Harry tidak nyaman dengan keheningan itu. Malfoy sedang membaca sesuatu, dan aneh baginya, karena melihat laki-laki berambut pirang itu juga menggunakan kacamata untuk membaca.
"Aku baru tahu kau menggunakan kacamata, Malfoy?" dibalik rambut pendeknya yang tetap disisir kebelakang dan lehernya yang panjang. Ada kacamata yang menyembunyikan warna abu-abu matanya.
Malfoy berpaling kearah Harry, "Ya, Mr. Potter. Ini kacamata khusus yang hanya bisa digunakan seorang dokter untuk membaca rekapan riwayat penyakit seseorang, dan aku masih harus membuat laporan untuk 2 orang diluar anda Mr. Potter. Maaf kalau kegiatan saya ini mengganggu." Katanya dengan sopan. Malfoy benar-benar berbeda dari laki-laki yang sombong dan manja. Ia tidak mengerti kenapa seseorang bisa berubah drastis seperti ini, "Dan ada baiknya, anda tidur dan tidak mengganggu saya dengan tatapan anda yang sepertinya haus itu Mr. Potter." Dan Harry mencabut kembali kata-katanya, Malfoy tetap brings*k.
Ah, lupa…Ia sedang hamil, ia harus hati-hati menggunakan kata-kata kotor dan emosinya. Harry menutup matanya dan menarik napas dengan perlahan, kemudian membuangnya dengan perlahan pula. Begitu ia lakukan sampai 10 menit kedepan sampai ada tangan yang menyentuh dahinya. Ia membuka matanya, tangan yang putih milik Malfoy memeriksa suhu tubuhnya.
"Oh, Maaf Mr. Potter, saya hanya memeriksa suhu tubuh anda."
Harry meliriknya, "Apa tidak ada cara lain? Seperti mantra tertentu?"
"Sesungguhnya ada, Mr. Potter. Tapi…. Mantra yang ada akan sedikit menjijikan mengingat anda sedang hamil sekarang."
"Menjijikan?"
"Dan saya ingin memastikan anda baik-baik saja…"
"Maksudnya?"
"Tidak…. Saya…ingin memeriksa kandungan anda, boleh Mr. Potter?"
Harry mengangguk, karena ia pun ingin agar kandungannya diperiksa dan ia tetap 'baik-baik' saja. Draco berdiri disampingnya itu membuat suasana tubuhnya menyenangkan, terasa tidak ada masalah apapun, dan ia sendiri tidak menyangka kalau tadi pagi dan sampai satu jam lalu ia masih muntah-muntah serta mual. Aneh… mungkin Malfoy, adalah Trainee Healer yang baik dan secara psikologi memberikan Harry kenyamanan. Erm… sejak kapan Harry merasa nyaman dekat dengan seorang Malfoy? Mungkin karena kehamilannya...
Perut Harry sudah disentuh oleh Malfoy, dan si Slytherin itu berbisik, "Partus Deprendo.." lalu ada sinar kecil berwarna keemasan muncul dari tongkatnya dan mengitari area yang disentuh oleh Malfoy.
Beberapa detik kemudian, muncul perlahan seperti gelembung yang berisi sesuatu di dalamnya. Seperti sebuah biji tapi bukan biji, karena jauh lebih besar dari itu. Ia tidak bergerak, tapi rasanya ada sesuatu yang membuat gelembung dan 'benda' kecil di dalamnya sangat indah bagi Harry.
"Mr. Potter, ini janinmu, ia sehat. Kau beruntung karena kita bisa melihat dari warna gelembungnya yang bening menandakan tidak ada masalah bagi pertumbuhannya. Ini sudah mendekati minggu ke-7 janin anda." Katanya dengan formal. Harry sangat bahagia, bayinya baik-baik saja. Andaikan orang disebelahnya bukan Malfoy mungkin ia sudah menangis bahagia saking khawatirnya ia pada janinnya.
"Cantik…" gumam Harry.
"Saya tidak mengerti dimana sisi cantiknya, Mr. Potter. Tapi mungkin karena anda ayahnya jadi anda yang lebih…." Draco terdiam.
"Ada yang salah Mr. Malfoy?"
"Ah, iya… saya bingung harus menyebut anda ayah atau ibu?" katanya sambil tersungging senyum jahil diujung bibirnya. Harry melemparkan bantal kearahnya.
"Aku seorang ayah!"
"Terserah permintaan anda, Mr. Potter." Katanya bernada mengejek.
Harry benar-benar dibuatnya kesal! Tapi tak mengapa, karena janinnya yang diam itu… suatu saat nanti akan hidup, dan bersama dengannya. Ia tidak peduli disebut ibu atau ayah. Aku akan melahirkanmu dengan baik dan sempurna, Nak! Pikir Harry. Malfoy meliriknya dan tanpa ia sadari ia juga tersenyum saat kembali menatap janin kecil itu.
'Finite…' dan gelembung itu sudah hilang dari hadapannya.
Malfoy dan Harry saling menatap satu sama lainnya. Harry sebenarnya ingin sekali mengucapkan terimakasih pada Malfoy, tapi rasanya aneh dan Malfoy ingin menanyakan keadaan Harry (menjadi tugasnya) tapi ia malah ditatap oleh Harry. Mereka tidak mengerti satu sama lainnya kenapa mereka berakhir saling menatap.
"Ehem…" pertama kalinya dialihkan oleh Malfoy, karena sudah tidak nyaman dengan mata hijau yang cantik itu, errrr…. "Bagaimana keadaan anda Mr. Potter?"
Harry tersenyum lembut, "Aku merasa baik-baik saja, Mr. Malfoy… dan…dan.. errrr…" Draco menunggu apa yang akan dikatakan oleh Harry. Harry memalingkan wajahnya akhirnya berkata, "Terimakasih…"
"Hum?" Draco sama sekali tidak menyangka kalau Potter akan mengucapkan terimakasih padanya. Ini adalah kewajibannya bukan? "Ini kewajiban saya, Mr. Potter." Dan tolong jangan berpikir kalau aku membantumu dengan senang hati Potter, duh! Pikirnya dalam hati.
"Tetap bisa melihat…janin saya… untuk pertama kali itu sesuatu yang luar biasa." Katanya lirih.
"Healer Robinson belum menunjukkan janin kepada anda?" tanya Malfoy ragu. Karena seharusnya Healer Robinson sudah bertemu dengannya.
Harry menggelengkan kepalanya, "Terakhir kali aku kerumah sakit dua minggu yang lalu dan… saat itu belum sempat menemui Healer Robinson untuk memeriksa janinku…"
"Sepertinya ada yang disembunyikan… boleh saya tahu, Mr. Potter?"
Wajah Harry memerah, dan ia hanya berdiam diri. Malfoy mengerti apa maksudnya, Potter tidak mau menceritakan hal itu pada dirinya. tapi ia tidak akan ambil pusing.
"Baiklah, Mr. Potter… karena sepertinya anda baik-baik saja, saya akan kembali ke St. Mungo sekarang."
"Sok sibuk… kan kau hanya Trainee.." kata Harry sewot.
"Maaf? Bisa kau ulangi Mr. Potter?"
Harry menatapnya dengan tajam, "Kau-hanya-Trainee, Mr. Malfoy."
Sebenarnya kalau ia Malfoy tiga tahun yang lalu, dan Malfoy yang tidak berhadapan dengan Potter-yang-sedang-hamil, maka ia akan mengutuk habis-habisan laki-laki dihadapannya ini. sombong sekali Potter!
"Benar sekali, Mr. Potter, karena saya hanya Trainee maka saya harus belajar banyak, dan kembali St. Mungo secepatnya. Oh iya, untuk makan siang nanti saya sudah berikan resep masakannya pada Kreacher dan saya usahakan besok pagi saya kembali menemui anda."
"Untuk apa?"
"Bukankah sudah saya katakan Mr. Potter? Saya akan merawat anda. Ini tugas yang diberikan pada saya."
Harry membuang wajahnya, "Hm…" gumamnya perlahan.
Malfoy menghembuskan napasnya, ia benar-benar tidak mengerti perubahan mood pada wanita hamil, apalagi laki-laki hamil. Ia sudah melihat beberapa wanita memang mengalami perubahan mood yang drastis, walaupun banyak juga yang tidak. Apalagi kalau laki-laki, sepertinya ia perlu mencari-cari buku yang berhubungan dengan mood laki-laki hamil?
"Baik, saya permisi terlebih dahulu Mr. Potter." Kata Draco kemudian melangkah keluar dari ruangan Harry.
Lirih tapi pasti, ia mendengar suara seseorang memuntahkan sesuatu, dan bodohnya ia lupa memberikan tongkat sihir Potter kembali. Setelah itu ia tetap berjalan untuk kembali ke St. Mungo, karena Potter pasti akan menemukan tongkatnya dan menggunakan refreshing charm untuk menghilangkan rasa mualnya. Padahal belum ada setengah jam Potter menghabiskan makanannya. hish…
"Bisa anda duduk kembali Mr. Potter?"
Dan tanpa ia sadari ia sudah ada diruangan yang sama seperti lima menit lalu. Potter sudah terbaring lemah di kasurnya. Ia kembali memuntahkan isi perutnya tanpa sempat menyentuh tongkatnya. Padahal tongkatnya hanya berjarak satu meter darinya. Kreacher mendatangi tuannya, sepertinya elf itu tahu saat Potter muntah dan membawakan segelas air putih.
Draco sudah membersihkan muntahan Potter dan ia sedang mengusap wajah laki-laki yang lemah itu. Wajahnya terlihat sangat lelah, ia tidak habis pikir bagaimana rasanya memuntahkan sesuatu setelah kau memakannya. Mungkin para wanita yang menderita bulimia nervosa mengerti hal ini. mungkin.
"Apakah anda selalu muntah seperti ini Mr. Potter?"
Laki-laki yang sudah bersandar disisinya itu mengangguk perlahan, "Sudah beberapa hari ini…"
Anehnya, bayi dalam kandungannya baik-baik saja… dan tidak kekurangan nutrisi sedikitpun. Draco kembali menghembuskan napasnya. Ia hanya terdiam dan sudah menyuruh Kreacher untuk membuatkan sup hangat untuk Harry, apabila tiba-tiba laki-laki ini memuntahkan isi perutnya lagi.
Selain ia harus bersabar dengan perubahan mood Potter, ia juga harus bersabar dengan kondisi tubuhnya. Pantas kalau, Healer Erlen ingin mengujinya dengan kehamilan Potter. Pikirannya itu mengingatkannya kalau ia pun masih harus mencari referensi untuk kondisi 'laki-laki' hamil. Beberapa buku lama diperpustakaan yang ia temukan hanya membahas mengenai reverse pregnancy.
"Potter."
"Hn…" jawabnya lemah.
"Kau…" dan Draco menghembuskan napasnya. Healer Robinson mengatakan kalau ada 'laki-laki' lain yang menghamilinya, "Kau tahu kalau… kalau… anak yang kau kandung memiliki 'ayah' lainnya?"
Potter mengeluarkan suara seperti tersentak, "Kau mau bilang ayah dari anak ini adalah Ron!"
"Bukan, Potter! Tapi… anak ini memang memiliki 'ayah' lainnya."
"Kau pikir aku hermaphrodite dan gay pada saat yang bersamaan, Malfoy?" kata Harry benar-benar terdengar marah.
"Mr. Potter." Panggil Draco penuh dengan penekanan, "Saya hanya bertanya. Anda tahu tidak dan saya tidak akan berkomentar tentang hubungan anda dengan sahabat baik anda (yang bodoh-katanya lirih) itu." Ia pun merasa tergelitik membayangkan Potter dengan Weasel.
"Hubunganku dan Ron… hanya teman Mr. Malfoy… yah, walaupun aku tidak akan kaget kalau Daily Prophet sudah mengatakan lain besok pagi."
"Bukankah sudah saya katakan kala-"
"Keluar." Bentak Harry, "Bukankah kau banyak pekerjaan di St. Mungo? Mr. Trainee Healer Malfoy?" katanya sewot.
Draco benar-benar kesal, ia ingin membantu tapi diperlakukan seperti ini.
"Baiklah Mr. Potter saya akan keluar, tapi besok pagi saya akan kembali…" ia bisa mendengar kalau Potter berbisik 'tidak perlu', "-dan ini tongkat anda, kalau anda merasa mual anda bisa menggunakan refreshing charm."
Harry mengambil tongkatnya kembali, dan sudah melihat Malfoy keluar dari kamarnya. Sejak kapan juga ia memperbolehkan Malfoy masuk ke dalam kamarnya. Sungguh menyebalkan!
Tiba-tiba ia merasa mual kembali, ini hari ketiganya intensitas mualnya sangat parah. Padahal dari yang Hermione tahu maupun cerita Molly, pada saat ia hamil… seseorang tidak mual separah ini. mungkin karena ia laki-laki dan seperti yang dikatakan Molly kehamilan laki-laki adalah hal yang sangat langka, walaupun itu mungkin. Ingat, dunia sihir… memungkinkan sesuatu yang tidak mungkin. Tongkatnya sudah mengeluarkan cahaya kehijauan dan rasa mualnya sudah terhenti.
Malfoy baru berjalan sampai depan pintu keluar saat ia merasakan Potter sudah menggunakan refreshing charm tiga kali. Ia menghembuskan napasnya, ketika ia muntah, ia akan kehilangan nutrisi dan keseimbangan ion tubuhnya, tapi kalau ia menggunakan sihir… ia bisa kelelahan juga. Dari segi manapun, kehamilan ini hanya akan membunuh Potter. Ia, seharusnya menyarankan sesuatu yang lebih baik.
Mungkin… dari cara Potter menyayangi janinnya dan tidak juga berusaha menggugurkan kandungannya. Mungkin Potter memang memang mengharapkan kalau ia akan melahirkan anak yang ia kandung. Tapi sekali lagi seorang dokter hanya berbicara mengenai kenyataan dan bukan memberi suatu harapan kosong pada pasiennya.
"Potter…"
Harry melirik kearah pintu, ia sudah terkapar diatas kasur karena kelelahan menggunakan sihir terus menerus dalam keadaannya yang seperti ini. Draco mendekatinya dan menggumamkan beberapa sihir untuk membuat tubuh Harry nyaman kembali.
"Potter… anda bisa mendengar saya?" tanyanya dengan khawatir melihat Harry tidak juga membuka matanya.
"Erm… aku hanya kelelahan, Malfoy. Bukankah seharusnya kau sudah pergi."
"Aku… merasakan ada seseorang yang menggunakan sihir berlebihan dan tahu kalau itu anda."
"Aku tida-…" Malfoy menyela perkataan Harry, "Sudah cukup, Mr. Potter. Kalau anda tidak menuruti perintah saya… lebih baik anda dirawat ke St. Mungo."
"Jangan bermimpi aku akan ke St. Mungo."
"Kalau begitu turuti saya."
"…"
"Mr. Potter… kehamilan anda ini tergolong sangat riskan, dan pengetahuan tentang kehamilan laki-laki karena sihir kuno sangat sulit didapatkan. Jadi… untuk keselamatan anda… bagaimana kalau anda menggugurkan kandungan anda saja?"
Draco tidak tahu apa yang sedang terjadi, karena tiba-tiba ruangan sangat hening dan Potter hanya menunduk saja. Entah… mungkin laki-laki yang lebih pendek darinya itu sedang mencoba untuk mempertimbangkan menggugurkan kandungannya. Walaupun ini artinya ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lisensi dari Healer Erlen, tapi… bukankah seorang Healer yang baik itu harus memikirkan keadaan pasiennya terlebih dahulu?
"Jadi… menurutmu akan lebih baik kalau aku menggugurkan kandunganku saja? kau tidak mau repot-repot merawatku Mr. Malfoy?" kata Harry sangat lirih, tapi tetap terdengar jelas oleh Malfoy.
"Bukan begitu Mr. Potter. Ini adalah jalan terbaik untuk hidup anda."
Harry bangkit dan menarik kerah Malfoy, wajah mereka hanya berjarak kurang dari 10 cm, "Memang kau tahu apa tentang hidupku! Kau tahu apa!" lalu ia melepaskan genggamannya, dan Malfoy hampir terjatuh karenanya.
Udara semakin berat, ada sesuatu yang menggelitik dan perlahan bergerak. Malfoy baru menyadarinya apa setelah ia terhempas ke dinding dibelakangnya tiba-tiba. Benda-benda yang tergantung di dinding berjatuhan dan ada di atas lemari maupun meja berserakan. Ini luapan amarah Potter.
Potter sedang marah padanya dan kekuatan sihirnya meluap begitu saja. Ia tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, kenapa Potter bisa semarah ini. Dulu, apapun yang ia lakukan, semarah apapun ia terhadap kejahatan dan perkataan burukku padanya, tapi tidak pernah sekalipun ia mengarahkan sihirnya padaku seperti ini.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
…
"Healer Robinson."
Healer Robinson yang tengah membaca data kehamilan seorang pasien yang telah keguguran 4 kali karena ledakan sihir bayinya yang jauh lebih kuat dari milik ibunya, menengok ke asal suara.
"Healer Steward? Ada yang bisa kubantu?"
"Apakah, Mr. Malfoy telah kembali?"
"Kurasa belum, aku belum melihatnya…" Healer Robinson melihat wajah panik Healer Steward, "Ada yang aneh?"
"Iya… aku tahu kalau Mr. Malfoy sudah berkunjung ke rumah Mr. Potter dua jam yang lalu. Kalau mereka teman lama, aku bisa bayangkan mereka sedang mengobrol di ruang tamu… tapi…"
Healer Robinson menghembuskan napasnya, "Mungkin terjadi sesuatu dengan mereka? Seperti…"
Wajah Healer Steward memucat.
Dua minggu yang lalu, Mr. Potter mengamuk, dan luapan sihir yang luarbiasa menyerangnya. Ia tidak ingat apa yang terjadi, tapi ia baru sadar tiga hari kemudian dengan beberapa luka yang belum juga sembuh. Healer Erlen mengatakan kalau itu kutukan yang tidak pernah dilihatnya dan setingkat mengerikannya dengan Cruciatus dan Avada Kedavra. Kulitnya mengelupas dan banyak darah keluar dari luka seperti sayatan-sayatan disekujur tubuhnya.
Ia khawatir kalau-kalau Mr. Malfoy…
"Aku akan menghubungi Mr. Potter untuk memastikan tidak terjadi apapun pada mereka."
"Ah… silakan."
Healer Steward bergegas menuju ruangannya untuk menghubungi Mr. Potter dengan floo-nya. Semoga ia tidak terlambat.
…
Ia benci hal ini. Mengapa tidak ada seorang pun yang mengerti kalau ia sedang diberikan anugrah bukan sebuah kutukan. Ia tahu kehamilannya yang sekarang karena perbuatan seseorang yang samar-samar ia ingat ditengah peperangan Hogwarts. Saat itu Voldemort masih hidup dan seseorang-seseorang berhasil menyerangnya dengan suatu sihir. Tapi, ia tidak tahu, sihir macam apa yang ia gunakan. Karena setelahnya pun ia tidak merasakan apapun. Ia baik-baik saja. Ia bahkan bisa mengalahkan Voldemort.
Lalu apa yang terjadi padanya?
Tapi seakan-akan menjawab pertanyaannya tiga tahun yang lalu dengan kehamilannya kini. Mungkin itu sihir kuno yang dapat membuatnya hamil, tapi berkali-kali ia berpikir apa hubungannya ia hamil? Kenapa ia tidak langsung mengutuknya dengan avada kedavra dan seorang Harry Potter akan mati? Bukankah tidak begitu sulit bagi death eater untuk menggunakan mantra mengerikan seperti itu?
Ia tidak pernah menceritakan hal ini, pada siapapun. Bahkan pada Hermione dan Ron sekalipun. Saat ia pingsan dihari pertama ia mengetahui dirinya sedang hamil, saat itu ia seperti bermimpi. Kalau ia pulang kesuatu rumah dari bermainnya. Saat itu ia masih kecil, dan ia pulang ke rumah yang ia kenali sebagai miliknya di Godric Hollow. Rumah kedua orang tua kandungnya.
Ia memasuki rumah yang tidak dingin dan gelap. Cahaya dan aroma masakan menyeruak dan memasuki hidungnya sesaat ia memasuki rumahnya. Tiba-tiba ada seorang wanita yang tersenyum padanya dan berkata, 'Kau sudah pulang, Darling… cepat mandi.. dan kita akan makan malam. Sebentar lagi ayahmu juga akan pulang.'. wanita itu tersenyum padanya dan mengusap-usap kepalanya setelah pipinya di kecup. Wanita yang ia kenali sebagai ibunya.
Di dalam mimpinya ia menuruti perintah ibunya, mandi dan kemudian saat ia turun ke ruang makan, ayahnya sudah kembali dari pekerjaannya dan ia mengeluh betapa bau-nya keringat ayahnya. Orang tuanya hanya tertawa mendengar keluhannya, dan ia sibuk menggerutu pada ayahnya itu. Setelah ayahnya mandi dan membantu menyisiri rambut Harry yang berantakannya luar biasa, akhirnya ibunya duduk di sebelahnya dan mereka bertiga makan malam seperti layaknya keluarga.
Saat itu Harry menangis, karena ia sering sekali melihat Dudley yang menceritakan harinya pada kedua orang tuanya disaat Harry hanya terkunci di dalam ruangan kecil dan gelap. Harry telah lama memimpikan hal ini. Ia bahkan rela kalau ia tidak keluar dari mimpinya saat itu.
Mimpi itu hanya sesuatu yang biasa bagi kebanyakan orang, hanya makan malam dengan kedua orang tuanya. Itu saja, tapi baginya bisa bercerita tentang harinya dengan kedua orang tuanya menanggapinya dengan wajah antusias itu impian yang tidak akan pernah Harry dapatkan. Maka, saat ia mendengar ia sedang hamil. Ia tidak sedih dan ingin menggugurkan kandungannya.
Ia hanya terkejut, dan itu wajar bukan? Mengingat ia adalah laki-laki dan 'hamil' merupakan kata yang tidak pernah terpintas akan ia alami suatu saat nanti.
Tapi membayangkan ia akan pulang kerumah, dan anak yang dikandungnya serta perawatnya atau ibunya kelak nanti menyambutnya dengan masakan hangat. Itu… adalah hal sederhana yang ia inginkan. Maka dari itu… ia tidak habis pikir dengan Ron, Healer Steward, George, Percy, Malfoy dan bahkan Ginny! Yang memintanya untuk menggugurkan kandungannya.
Anaknya! Keluarganya!
Ia benar-benar kesal!
Mereka semua memiliki keluarga yang sedarah dengan mereka semuanya. Tapi tidak dengan Harry! Ini akan jadi kesempatan pertamanya memiliki seseorang yang satu darah dengannya. Orang yang akan mewarisi nama Potter-nya!
Tanpa ia sadari ia sudah ada dihadapan laki-laki yang menggunakan jubah putihnya. Ia memukul orang itu, dan ia bisa mendengar suara erangan dari orang itu, ia tidak peduli berapa kalipun ia memukul orang itu. Kalau perlu semua orang yang memintanya menggugurkan kandungannya ia bunuh! Ia akan bunuh!
Termasuk Malfoy!
Seminggu yang lalu ia tidak sengaja hampir membunuh George sekaligus dengan Percy, Dua minggu yang lalu ia melemparkan 'Sectumsempra' pada Healer Steward tanpa ia menggenggam tongkatnya. Tiga hari yang lalu, Hermione langsung membuatnya pingsan setelah ia hampir menyerang Ginny.
Mereka semua sama! Mereka menginginkan anak yang ia kandung itu mati! Maka mereka yang seharusnya mati!
"Potter!" bentak Malfoy,
Dan ia melihat mata abu-abu yang sedang menderita dicekikan tangannya itu,
"Kau kenapa!" katanya lagi, "Aku tidak ingin membunuhmu! Aku… aku… aku khawatir padamu! Apa kau tidak mengerti!"
Seorang Malfoy khawatir pada Potter? Lelucon macam apa itu? Kau hanya takut karena aku hampir membunuhmu Malfoy? Dari dulu sampai sekarang kau itu tidak berubah, kau tetap saja pengecut!
Kalau aku bisa gagal membunuh orang-orang yang menginginkan kematian anakku sebelumnya, maka kali ini aku tidak akan gagal. Aku akan membunuhmu.
Aku akan membunuhmu Malfoy, demi anakku.
'tes…'
"Potter… hentikan, Potter!"
'tes…'
"Po..tter?"
Ruangan tiba-tiba menjadi hening, dan erangan Malfoy sudah tidak terdengar, tangannya pun sudah berhenti mencekik leher Malfoy. Ia sedang menatap tangannya yang berair. Kenapa ada air ditangannya?
'tes…'
Lagi-lagi ada air yang berjatuhan…ini muncul dari mana?
"Potter…"
Suara Malfoy terdengar sangat menyedihkan…memangnya ada apa?
"Potter…"
Dan ia merasakan ada tangan yang menyentuh pipinya dan mengusap entah apa yang ada disana. Lengket dan basah, ada air diwajahnya rupanya. Kenapa bisa ada air? Bukankah ia akan membunuh Malfoy?
Baru ia rasakan saat ini, ketika ia berpikir Malfoy akan mati ditangannya. Kenapa hatinya sangat sakit dan pedih… dan diatas itu semua kenapa dirinya menangis?
Ada apa dengan dirinya?
…
"Mr. Potter?"
Seorang elf muncul dihadapannya, Kreacher. Ia sedang duduk di kasur Potter dan dilehernya pemilik rumah itu sedang tidur dengan nyaman, ia menatap Elf yang sedang berbicara dan bergumam tentang sesuatu itu. Ia tidak habis pikir kenapa Potter bisa menangis seperti itu dihadapannya. Menangis dalam diamnya, dan ia lebih tidak habis pikir dengan dirinya yang tiba-tiba memeluk Potter dan mengusap-usap punggungnya sambil mengatakan hal-hal yang manis.
Ia bahkan sudah tidak ingat perkataan menjijikan apa yang ia ucapkan pada Potter. Draco menatap tangannya kanannya sedang tangan kirinya masih mengelus-elus Potter. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa melihat Potter yang sedih membuat hatinya sakit? Sejak kapan ia benar-benar peduli pada Potter? Mungkinkah karena ia melakukannya hanya karena ia professional?
Tapi yang jelas… tubuhnya tidak merasa aneh saat ia memeluk laki-laki lainnya ini. Sepertinya ia mengenal kehangatan tubuh Potter?
Ia menggelengkan kepalanya.
"Kreacher…"
"Iya, Mr. Malfoy…"
"Tadi siapa yang menghubungi Mr. Potter?"
"Mr. Steward menghubungi Mr. Potter, Sir."
"Healer Steward? Kalau begitu aku akan pergi menjawabnya," kata Malfoy bergegas bangkit dan membaringkan Harry dikasurnya. Ia menyelimuti Harry dan mengusap dahinya sebelum ia pergi. Di perjalanan menuju ruang tamu, ia tidak habis pikir kenapa ia mengusap dahi Potter. Merlin's Ball sikapnya berubah jadi aneh hanya karena melihat Potter menangis. Ia pernah melihatnya menangis (saat Diggory meninggal-dan ia tidak peduli) tapi ia tidak pernah melihatnya menangis seperti ini dan lagi hanya dihadapannya?
Di ruangan tamu, ia sudah melihat wajah Healer Steward yang khawatir kemudian berubah menjadi wajah lega.
"Mr. Malfoy, sepertinya kau baik-baik saja?"
"Apakah aneh saya baik-baik saja, Healer?"
"Ng…" ia seperti berpikir, dan jujur Malfoy emosi melihat tingkah laku Trainer nya yang abstrak itu, "Kurasa tidak juga."
"Ada apa, Healer Steward?"
"Aku hanya akan mengingatkanmu, kalau Mr. Potter sangat berbahaya kalau kau mengatakan 'mengugurkan' dan 'kandunganmu' dalam satu kalimat. Kau ingat aku pernah ijin sakit selama tiga hari, dua minggu yang lalu?" Draco mengangguk, "Itu karena amukan Mr. Potter."
"Dan anda tidak mengatakannya padaku sebelumnya, Healer Steward? Hal berbahaya seperti itu?" katanya sedikit kesal.
"Aku sudah tua, Mr. Malfoy jadi wajar kalau aku melupakan suatu hal seperti ini… ah.. jangan-jangan kau sudah mengatakannya? Kau baik-baik saja Mr. Malfoy?"
"Seperti yang anda lihat, Healer Steward, aku baik-baik saja… terimakasih atas perhatian anda…" yang tidak perlu itu, tambahnya dalam hati.
"Apakah Mr. Potter tidak menyerangmu dengan mantra seperti penyayat dan membuat kau mengalirkan darah terus-menerus Mr. Malfoy? Ataukah kau tahu apa mantra untuk menyembuhkannya?"
"Maaf sekali Healer, tapi Mr. Potter hanya mencekik saya, dan kemudian…kemudian… ia…" Draco tidak bisa mengatakan Potter menangis, karena rasanya aneh kalau sampai ada yang tahu Potter menangis, "… ia menghentikan cekikannya entah karena apa, Healer."
"Ah… sayang sekali, padahal seminggu yang lalu dua anak laki-laki Weasley masuk rumah sakit dengan keadaan yang sama mengenaskannya. Tapi beruntunglah Healer Erlen mengobati mereka disaat yang tepat."
'Dua anak laki-laki Weasley? Diserang Potter?'
"Penyebabnya?" tanya Draco.
Healer Steward menggelengkan kepalanya perlahan, "Karena kau menaruh kata 'menggugurkan' dan 'kandunganmu' dalam satu kalimat."
"Oh… begitu…" jadi tidak hanya dirinya yang diserang oleh Potter.
"Lalu, bagaimana keadaan Mr. Potter sekarang?"
"Saat ini ia sedang tidur, dan dalam keadaan baik-baik saja, walaupun gejala mualnya sangat buruk, tapi saya rasa kami masih bisa mengatasinya."
"Hm… begitu ya, kalau begitu… akan aku tunggu laporannya, Mr. Malfoy."
"Baik, Healer Steward, besok pagi sebelum ke rumah Mr. Potter saya akan tumpuk laporan saya beserta dua la-"
Healer Steward menyelanya, "Kau hanya perlu berkonsentrasi pada Mr. Potter saja. Kita semua banyak berhutang budi pada Mr. Potter." Katanya dengan bijaksana.
"Hem…benar juga, Healer Steward, saya akan bekerja sebaik mungkin."
Saat sepertinya Malfoy akan mengakhiri percakapan tiba-tiba Healer Steward mengingat sesuatu.
"Ah, Mr. Malfoy, aku lupa."
"Iya, Healer?"
"Bisa kau periksa kan sekalian, apakah mulai muncul organ di dalam tubuh Mr. Potter?"
"Organ untuk apa, Healer? Untuk melahirkan kah? Bukankah, biasanya male pregnancy akan di caesarean?"
"Hem… itu kalau ia reverse pregnancy, ingat… Mr. Potter terkena sihir yang sangat kuno. Teks bukupun seakan-akan melupakannya."
Draco mengangguk tentang hal ini, "Ada mantra yang bisa saya gunakan?" karena ia tidak menemukan mantra yang bisa ia gunakan dibuku yang ia baca.
"Tidak perlu Mr. Malfoy, kau bisa melihatnya langsung. Apakah di tubuh Mr. Potter membentuk jalan keluar untuk bayi itu lahir. Karena aku belum sempat memeriksanya."
"Maksudnya?"
"Kau bisa melihatnya langsung dengan mata kepalamu, Mr. Malfoy, yah… mungkin kau harus meminta izin pada Mr. Potter untuk melihatnya."
"Melihat apa?"
"Melihat jalan keluar si bayi nanti, ada atau tidak? Seperti wanita pada umumnya…."
"Errrr… di mana itu?" semoga apa yang ia tebak itu tidak salah… jangan…jangan…jangan sampai ia harus…
…
Harry membuka matanya. Ia tidak sadar apa yang terjadi padanya, karena terakhir kali hal yang ia ingat adalah tangannya mencekik Malfoy. Tapi saat ini ia tidak melihat Malfoy dimanapun sekalipun ia masih bisa melihat tasnya yang dan barang-barang dikamarnya yang berantakan.
Ia meluapkan amarahnya rupanya.
"Kreacher…" panggilnya, dan Elf itu pun muncul, "Kemana, Mr. Malfoy?"
"Mr. Malfoy, sedang menjawab floo dari Mr. Healer Steward, saat anda tidur, Sir…"
"Begitu… baiklah, kau bisa pergi." Dan elf itu pergi setelah ia mengumamkan sesuatu.
Harry mencoba berdiri dari kasurnya, dan sekalipun bersusah payah, tapi sepertinya ia bisa berdiri dan keluar dari kamarnya. tubuhnya masih lemah, dan ada jubah putih milik Malfoy ditubuhnya. Ia berjalan perlahan keluar, mungkin memang benar, 'aroma' Healer bisa membuatnya nyaman dan ia pun sadar kalau selama ia ada didekat Malfoy. Ia tidak merasakan mual sedikitpun dan rasanya nyaman.
Ia sampai di depan ruang tamu, dan bisa melihat Malfoy yang sedang berbicara serius dengan Healer Steward. Apakah ini ada hubungannya dengannya. Ia memutuskan untuk mendekatinya.
"Melihat jalan keluar si bayi nanti, ada atau tidak? Seperti wanita pada umumnya…." Kata Healer Steward berwajah aneh.
"Errrr… di mana itu?" apalagi wajah Malfoy, memang apa yang mereka bicarakan?
"Kau tidak tahu dimana letak seorang bayi dilahirkan dengan normal Mr. Malfoy?"
Apakah mereka sedang bermain tebak-tebakkan? Ataukah itu test rutin untuk calon Healer? Aneh sekali kalau memang begitu caranya menjadi Healer.
"Ten-tentu saya, tahu… Healer, tapi apakah saya harus melihatnya dengan kedua mata saya? Kenapa tidak Mr. Potter saja yang melihat lalu kita bisa lihat bersama dari pensieve?"
"Ide yang bagus Mr. Malfoy, tapi akan lebih baik kalau kau melihatnya langsung? Apakah ada yang aneh? Bukankah kalian sama-sama laki-laki…"
Malfoy menelan ludahnya, dan Harry bisa tahu dari tenggorokannya yang seperti ada sesuatu yang turun.
"Ta-ta…"
Harry menyela, perkataan Malfoy, "Healer Steward?"
"Ah! Mr. Potter! Apakah anda baik-baik saja?"
Harry mengangguk, rasanya aneh melihat seseorang yang hampir ia bunuh menanyakan kabarnya dengan senyum, "Apakah anda juga baik-baik saja?"
"Tentu saja, Mr. Potter. Hahaha… anda memang sangat kuat! Saya jadi tidak ragu, tentang kekuatan anda yang bisa mengalahkan Dark Lord tiga tahun yang lalu."
Rasanya tidak nyaman…
"Maaf, saya saat itu…"
"Tidak masalah, Mr. Potter… itu kesalahan saya, Oh ya!"
Malfoy kembali menelan ludahnya.
"Ada apa Healer Steward?" rasanya aneh, dan tidak ada rasa benci sedikitpun pada Healer, mungkin lebih tepatnya rasa bersalah yang ia rasakan saat ini. rasa bersalah karena pernah menyerangnya dengan sectumsempra, untung saja ia tidak mati.
"Begini… Kami meminta izin untuk Mr. Malfoy, agar ia bisa memeriksamu…"
"Memeriksa…. Apa?"
Dan sekali lagi, Malfoy menelan ludahnya.
…
Tbc~
…
:DDDD eaaaaa… 'pemeriksaan' macam apakah itu, hayoh! Otak kalian jangan memproduksi pemikiran yang tidak-tidak yaaaaa… :v *lol* T_T padahal saya beneran nangis waktu nulis chapter ini (pas Harry mau ngebunuh Malfoy) kenapa endingnya abstrak begini. Hahaha…
Hal yang perlu diperhatikan: rambut Malfoy saat dewasa itu panjang, dan saat merawat Harry itu pendek. Partus Deprendo itu buatan saya, kurang lebih artinya Partus; fetus, dan Deprendo; detect. Nggak tahu salah apa bener, nggak ngerti latin. Tanya aja sama google untuk keterangan lebih lanjut.
Sabar ya.. .ceritanya belum sepenuhnya keliatan 'pattern'nya. Dan kemungkinan chapter depan full flashback. Nggak ada James? Setuju nggak?
buat yukimiku, saya yang buat karakter James tapi saya sendiri bingung *ngikutin gaya james* itu yang kaya apa ya? *lol [SPOILER ALERT] James-kan sebelas dua belas songong dan jail kayak Malfoy gitu.
Oh iya, cerita ini MAKSIMAL akan muncul setiap dua minggu dan bisa muncul lebih cepat dari itu...brarti lanjutannya palingggg lambat tanggal 15 Okt.. Ah,,, tadinya mau nongol ni cerita hari sabtu, tapi karena saya sedang sakit jadinya… kerjaannya tidur deh… gomen ne… :(((((
Thanks to: madness break, Aristy, IFunny-danshi boy (ini Valleria kan ya?), Olive1315, CCloveruki, JungJaema, Guest-san1, Mayasari, Uzumaki Naa-chan, Paradisaea Rubra (jeng Disaea, jangan panggil Tanpo), Fujoshi Ren, Angel Muaffi, Norfatimah96, Guest-san2, Dei, Rhie95, Heyoyo, Frosyita (thanks udah langsung dibaca ), dan YukiMiku for review…
Thanks juga sama yang nge-Fave dan nge-Alert. :)))) dan yang memberi saya semangat.
Thanks juga buat silent reader, yang masih setia membaca dan menunggu.
