Warning : OOC

Genre : Horror/Mistery


The Truth



Sasori's POV -part2-

'Saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya,'

'Kenapa dia melakukannya,'

'Padahal, dia itu adalah anak yang baik,'

'Hal itu mustahil dia lakukan,'

'Kelihatannya dia bukan manusia,'

'Dia iblis'

Kamar Tobi, 07.00

"Sebentar lagi hari ulang tahunku, tapi, apa masih ada yang peduli?" ucap Tobi pada dirinya sendiri.

"Tentu Tobi, tentu" bisik seseorang kepada Tobi

"Siapa yang berbicara?" tanya Tobi.

"Siapa lagi? Tentu saja aku," jawabnya.

"Siapa kau?"

"…"

"Jawab!!"

"…"

"Sudahlah, aku lelah, pergilah dari kehidupanku!! Aku cuma mau sendiri, itu saja, apa kau tidak bisa mengabulkan permintaanku?"

'Dingin, di sini dingin,'

'Aku butuh selimut yang bisa menghangatkanku.'

'Tolong aku,'

'Lepaskan aku dari penderitaanku ini,'

'Tolong'

"Tenang saja, tidak lama lagi, aku akan mengakhiri semuanya"

Sekolah, 09.00

"Selamat pagi, Tobi!" ucap seorang anak perempuan kepadaku.

"Pagi juga" jawabku.

"Tobi, bersemangatlah sedikit, sebentar lagi 'kan kamu ulang tahun, un!"

'Eh, Dei-chan, dia peduli padaku' batinku.

'cup' bibir Tobi menyentuh bibir Deidara dengan singkat namun lembut.

"Terimakasih, Dei-chan"

"Mm" angguk Deidara sambil menutup mulutnya, masih belum sadar apa yang Tobi lakukan tadi, dan langsung kembali ke kelasnya sambil berlari.

"Hah, kau benar, masih ada yang peduli padaku" ucapku pada diriku sendiri sambil tersenyum tipis.

Besoknya, di Sekolah, 08.00

"Tobi, kamu pagi ini kenapa? Kelihatannya kamu senang sekali, tidak seperti biasanya"

"Hehe, tidak apa-apa"

'Benar juga, padahal tidak ada apapun yang terjadi, tapi kenapa rasanya aku senang sekali hari ini ya?' batin Tobi

Besoknya lagi, 07.25

"Tobi, sudah dua hari Dei-chan tidak masuk loh!" ucap

"Oh ya? Kenapa? Dia sakit apa?" tanyaku agak khawatir.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi kok tiba-tiba ya? Padahal 'kan kemarin lusa dia baik-baik saja" ucapnya lagi.

"Kalau begitu, kita jenguk yuk!" usulku

"Kalau aku sih boleh saja" jawabnya

"Tapi kapan?" tanyanya

"Pulang sekolah saja" jawabku

"Baiklah, nanti temui aku di depan gerbang sekolah ya!" ucapnya

"Iya!" jawabku dengan penuh semangat.

Depan gerbang sekolah, saat jam pulang sekolah

" , ayo kita berangkat!" ucapku sambil masuk ke dalam mobil kesayanganku.

"Tempat tujuan berikutnya, rumah Deidara!"

'Dei-chan, aku datang!!' batinku.

'Apa yang akan kau lakukan? Jangan, tolong, hentikan~'

'Huh? Dei-chan? Tidak, itu hanya halusinasiku saja' batinku.

Depan rumah Deidara, 14.00

'knock, knock'

"Dei-chaan!" ucapku sambil mengetuk pintu.

'cklak'

"Eh, pintunya tidak dikunci"

"Dei-chan…"

'Apa ini mimpi?' batinku. Aku kaget setelah melihat keadaan Deidara dan keluarganya. Darah berceceran, sepertinya tubuhnya diseret dari kamarnya menuju ruang tamu, jantung Deidara hilang, seperti kejadian yang menimpa orangtuaku. Ada seseorang atau sesuatu yang memakan jantungnya.

'Tapi, kenapa harus Dei-chan? Kenapa?,'

'Padahal sekarang aku tahu, Dei-chan peduli padaku, kenapa?' batinku.

"…" pipiku basah, basah oleh air mata.

"Sudahlah, kamu harus sabar ya, semua ini pasti ada alasannya" ucap sambil mengelus punggungku.

"Ya, aku tahu, semua yang hidup pasti akan mati" ucapku.

Setelah itu, akhirnya polisi mencari siapa pembunuhnya. Tapi akhirnya setelah beberapa minggu, tidak ada hasil sama sekali. Pembunuh itu membuat semua kejahatannnya berjalan mulus, tidak ada satu orangpun yang melihat dan mendengar jeritan Deidara atau orangtuanya. Satu-satunya suara yang mereka dengar adalah suara lolongan anjing dimana-mana. Suasana yang mengerikan, yang baru mereka dengar lagi setelah bertahun-tahun yang lalu, saat dimana orangtua Tobi terbunuh. Malam itu semuanya terulang kembali.

Kamar mandi, Rumah Tobi, 20.00

'Splash' air dingin membasahi wajah Tobi.

"…" Tobi terdiam sambil melihat ke cermin yang ada di hadapannya.

"Ah" Tobi mengucek-ngucek matanya, atas apa yang dilihatnya… iblis yang haus darah.

"Ini, aku?"

'PRAAANGG' cermin yang ada di hadapannya pecah tiba-tiba oleh pukulan Tobi sendiri, dia pun kembali ke kamarnya, dan tertidur, tanpa mencuci tangannya yang masih berlumuran darah.

Kamar Tobi, 24.00

"Besok, aku ulang tahun"

"Aku masih tidak bisa tidur," ucap Tobi.

"Mungkin segelas susu bisa membuat aku mengantuk" ucapku sambil berjalan menuju dapur.

"Eh, malam ini ada bulan purnama ya?" aku melihat ke luar jendela, terdapat bulan purnama yang bulat penuh, bersinar terang seolah membutakan mataku, di sekitarnya terdapat awan putih, indah sekaligus menakutkan, seperti menyimpan sejuta misteri di dalamnya. Simbol yang ada di tangan kiri-kupun kembali bersinar.

"Ah, apa yang terjadi?" ucapku

"Tobi, aku akan mengakhiri semuanya, penderitaanmu, pertanyaanmu, aku akan menjawabnya sekarang" ucap seseorang yang berambut merah spikey dengan baju putih rapih dan mempunyai senyum yang indah.

"Sasori-nii, apa yang terjadi? Kemana kau akan membawaku?"

"Kau akan tahu"

Kamar Tobi, beberapa tahun yang lalu, 24.00

*hiks, hiks*

"Okaasan, Otousan, SAKIT!! Tolong aku!" jerit Tobi sambil menangis. Sepertinya ada 'sesuatu' di dalam dirinya yang meminta keluar.

"Otousan, Okaasan maafkan aku"

"Eh, Tobi, mau apa ke kamar Okaasan dan Otousan?"

"Aku mau kalian"

"Tapi, kami sudah jadi milikmu Tobi"

"Belum, tapi sebentar lagi kalian akan menjadi milikku"

"Tobi! Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu?"

"Hhee"

"JANGAN MENDEKAT!!, jangan…" Tobi menancapkan pisau itu ke jantung orangtuanya, mengambilnya, dan memakannya.

"Bohong! Kamu pasti bohong! Aku tidak melakukannya! Hentikan semua ini! Aku mohon!" ucapku sambil memegang kepalaku, tidak percaya kalau aku telah membunuh orangtuaku sendiri, dan memakan jantung mereka.

"Tobi, aku telah menjawabnya, sekarang kau tahu kenapa mereka mati, tapi belum semuanya…

Kamar Deidara, 21.00

"Tobi… Kyaa!! Tadi dia menciumku"

"Apa besok aku bisa melihat dia langsung ya?"

"Aku malu, tapi Tobi, tee-hee, apa dia suka padaku ya?"

'cklak'

"Uh, siapa?" ucap Deidara sambil mengucek-ngucek matanya.

"Eh, Tobi, mau apa malam-malam begini?"

"Aku cuma mau kamu jadi milikku"

"Eh, maksud kamu? Kamu mau aku jadi pacarmu?"

"Bukan, tapi aku mau kamu"

"Apa yang akan kau lakukan? Jangan, tolong, hentikan~"

*slurp*

"Kamu manis"

"Dei-chan…" ucapku

"Sekarang, kamu sudah tahu semuanya"

"Tapi, bagaimana denganmu?"

"Tentu saja kau tahu, itulah alasanku mengapa aku tidak pernah mengunjungimu lagi…"

"Tapi aku tidak ingat"

"Karena kamu bukan manusia, kamu 'iblis', "

"Dan sekarang, kamu harus membayarnya!" Ucap Sasori sambil mencekik leher Tobi dengan tangan kirinya, sampai topeng Tobi pun terbuka.

"Uh… Sasori-nii, kenapa ini semua harus terjadi padaku?"

"Selamat Ulang Tahun Tobi,"

"Dan, selamat tidur"

"Namaku Tobi, sekarang aku tahu semuanya"

"Aku harus membayar semuanya,"

"Semua yang telah aku lakukan"

"Aku ini iblis"

"Sekarang aku ingat semuanya"

"Tapi, biarlah semua alasanku membunuh mereka tetap jadi rahasia"

"Terimakasih"



THE END



Karikha's Note: Oyoyoi, uda tamat deh!! Maaf repiunya gak dibalas!! *ngebungkuk* Gak rame ya? Emang, saking gak ramenya, bisa-bisa aku dapet award cerita ter-Gaje nih.. . Yasud, gak review juga gak apa-apa kok, tapi ya, saiia tetep berharap dapet repiu *ditonjok*. Kalo gitu, terimakasih. Gwahahaha *dibantai*

Karikha Kujo is a good Girl  *dibantai*