Warning : Drama, Bertele-tele, Typo(s), Menyebabkan pusing dan iritasi pada mata
Boleh suka boleh tidak, setidaknya baca terlebih dahulu
Happy Reading Minna-san
"Cinta? Menurutmu apa itu cinta?" tawa Naruto tiba-tiba berhenti. Kepalanya maju ke depan, tepat beberapa senti dari wajah Sakura, "Katakan padaku, apa itu cinta? Kasih sayang? Suka? Tertarik? Katakan! Kau mencintaiku kan?"
Sakura menelan ludah, rahangnya sudah kebas. Ada sesuatu di dadanya yang menyentak ingin keluar. Perutnya serasa diaduk oleh sesuatu yang menjadikannya begitu berdebar sekaligus sakit. Sakura membuka mulut tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Ia lebih memilih menangis daripada menjawab pertanyaan dari Naruto.
Gadis pirang yang sebelumnya bersama Naruto sudah menghilang di belokan dan Naruto sepertinya menyadari hal tersebut. Maka dengan sedikit mendecakkan lidah, pemuda tinggi itu mundur dan hendak berbalik pulang, "Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk meladeni cinta seperti itu."
Naruto mendengar suara tangis samar-samar diudara, membelai telinganya sangat lembut. Pemuda itu memejamkan mata. Sebelum ia pergi, sepasang tangan mengenggam jari manis dan kelingkingnya. Sedikit gemetar. Tremor itu berlangsung untuk beberapa detik.
Naruto berbalik dan mendapati wajah Sakura sudah berlumuran dengan air mata. Mata gioknya sekarang kabur oleh air asin yang keluar dari matanya dengan deras. Sakura menggigit bibirnya dan memandang kedua bola mata Naruto tanpa ragu,
"Love is ..,"
Sakura mengambil nafas sebanyak yang ia bisa. Ia tidak akan mengatakannya lagi.
"Love is what I to do alone."
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Waiting You
.
.
.
Presented by
Cygnus Jessenia
.
.
.
.
3. A Lonely Star Among The Clouds
"Aku sakit- bisa aku pinjam catatanmu nanti?"
Sakura manggut-manggut selagi dirinya menempelkan handphone-nya ke pipi dan diganjal oleh bantal kecil. Sementara satu tangannya memegang kompres di dahinya dan tangan yang lain tergeletak pasrah di atas pusar.
'Sudah kubilang jangan memaksakan diri untuk datang ke sekolah kemarin. Kau dan kepala batumu itu selalu membuatku resah, Jidat. Tiduran saja di kasurmu itu dan jangan lakukan apapun-'
Sakura terbatuk, kendati demamnya sudah mulai turun tapi rasa panas di tubuhnya tak juga menghilang. Ia merasa panas sekaligus kedinginan di saat yang sama. Ia berniat untuk tidur 3 menit yang lalu sebelum handphone-nya berdering dan sahabat karibnya mengomel seperti ibunya di seberang sana. Sakura pusing.
'Kau mendengarkanku kan? Hei! Sakura! Hello? Hello? Are you there?'
"Aku ngantuk, Ino. Siapkan saja catatanmu, ya. Aku tutup dulu, sampai jumpa."
Sakura membuang nafas. Lelehan air kompresan membasahi dahi serta bagian kepala depannya, mengalir tanpa henti ke sela-sela rambut dan pelipis dan berakhir meresap ke bantalnya. Saat ini, gadis berambut pink sebahu itu tidak berniat dengan siapapun termasuk Ino. Ia hanya tidak siap. Ada bekas luka di hatinya yang masih basah dan lembek dan Sakura tidak siap membukanya bagi siapapun.
Naruto
Tanpa terasa sudut mata Sakura sudah basah oleh air asing yang jelas bukan berasal dari air kompresan. Cepat-cepat Sakura menghapus air di sudut matanya dan melirik jam Station Mini 'Victoria' 1747-nya. Ia sudah tidur lebih dari 4 jam sejak ia terbangun di waktu subuh dan minta diantar ke kamar mandi oleh ibunya.
Sakura merasa kerongkonganya kering dan baju hangatnya dibanjiri keringat dari punggungya. Gadis itu menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur. Berjalan gontai sembari memegangi kompres di dahinya dan menggigit sebuah termometer. Panasnya 37.8 derajat celcius. Sakura keluar dari kamarnya dan mendapati ibunya sedang berbicara dengan seseorang dalam telepon di ujung tangga.
Kedua mata Sakura sayu, ada bayangan gelap di bawah matanya yang mengindikasikan bahwa ia benar-benar kelelahan dan tidurnya tidak nyenyak.
"Mama," panggil Sakura lirih.
"Ah, kau sudah bangun, Sakura-chan?" Mebuki menutup teleponnya dan mengantongi handphonenya sembari menyambut Sakura di ujung tangga, "Kau lapar? Ingin makan sesuatu?"
"Aku haus. Aku ingin susu coklat," Sakura menghempaskan tubuhnya ke sofa warna biru metalik di ruang tamu, "Mama tidak pergi bekerja?" Sakura menggosok matanya yang serasa ingin terpejam kembali.
"Mama tidak akan meninggalkanmu saat kau sakit begini." Mebuki membawakan teh bening keemasan, chammomile. Sakura mengernyit heran, ia minta susu coklat, bukannya teh.
"Susu?" Suara Sakura serak. Sepertinya flu-nya akan disusul dengan penyakit batuk.
"Tidak ada susu sampai flu-mu sembuh. Kau juga mulai batuk-batuk kan? Minum saja teh ini. Ayo! Mama tiupkan."
Mebuki tergelak ketika Sakura memberinya tatapan 'jangan bercanda' saat wanita yang bekerja sebagai penerjemah bahasa asing itu hendak meniup bibir cangkir yang ia bawa. Mebuki mengulurkan cangkir teh kepada Sakura dan tersenyum lembut ketika melihat putri semata wayangnya meminum teh dengan hati-hati, perlahan, seperti anak kecil yang minum teh untuk pertama kalinya sambil memegangi kantong kompres yang sudah mulai kering.
Sakura-nya masih belum berubah sejak mereka pertama kali pindah ke rumah ini.
Mebuki ikut duduk di samping Sakura dan mengambil alih kompres anak perempuannya itu lalu ia mengecek dahi Sakura dengan punggung tangan, "Alergimu kambuh lagi, kau jadi demam seperti ini. Kemarin kau juga pulang telat," Mebuki mengingat Sakura yang pulang dengan penampilan yang bisa dibilang berantakan. Anaknya itu menangis, wajahnya super berantakan. Tapi saat dia bertanya kenapa, Sakura hanya menjawab kalau dia sakit. Pilek katanya.
Sakura tertawa kecil, rambutnya yang acak-acakan semakin berantakan saat gadis itu merepet ke tubuh ibunya dan menaruh kepalanya di bahu sang ibu. Senyumnya hilang seketika saat ia telah menyandarkan kepalanya dan sedikit menunduk.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mebuki.
"Aku sakit," jawab Sakura singkat. Hidungnya mampat lagi saat sebulir air mata mengalir perlahan menelusuri tulang hidungnya.
Mebuki mengusap sisi kepala Sakura, "Tidak apa-apa, kau bisa bercerita kapanpun kau mau. Mama tidak akan memaksamu. Mama selalu ada disini."
Sakura memejamkan mata berusaha meredam tangisnya. Ia sakit. Hanya sakit. Tidak lebih.
Dan..
'Aku hanya terlalu takut untuk memikirkan kapan harus berhenti.'
.
.
Sakura menunggui ibunya yang sedang mengangkat jemuran di samping rumah mereka. Mebuki mengangkat jemuran sambil sesekali menengok dan mengajak bicara Sakura yang terduduk di depan pintu sambil membawa sehelai selimut yang kini tergeletak lemas di kakinya. Gadis berambut pink itu menekuk kakinya, menopang kepala dengan lutut, menyesap obat batuk hisap sementara tangan kanannya mengambar pola-pola abstrak di atas lantai. Rambut Sakura diikat ke atas asal-asalan, membuat lehernya yang berkeringat tersentuh angin. Ia nampak menggemaskan dengan celana tidur dan sweater kuning kebesarannya.
Sakura ngotot untuk duduk di luar daripada masuk ke dalam rumah dan bergumul dengan selimutnya yang hangat atau duduk di depan TV di dalam meja penghangat. Sakura bilang ia bisa mati kebosanan di dalam rumah.
Hari sudah menjelang sore namun langit yang cerah mengesankan jika siang tidak akan lengser dengan mudah. Langit masih terang, matahari masih betah berayun di cakrawala menghalau malam datang.
"Kau yakin tidak mau masuk?" Mebuki bertanya pada anak gadisnya yang bengong di depan pintu. Wanita itu kerepotan membawa banyak pakaian yang telah kering.
Sakura menggeleng. Ia menyibak rambut di dahinya sembari menyedot obatnya keras-keras sampai menimbulkan suara. Mata emeraldnya memandang langit yang mulai berwarna jingga. Ada dua layangan di langit. Saling bertarung satu sama lain berusaha memutus benang. Sakura mendongak sampai mulutnya menganga agar dapat mengamati layang-layang yang bergerak ke arah Barat dan menukik ke bawah.
Gadis itu memekik ketika mengetahui salah satu layangan –bergambar burung layang-layang dengan ekor orange- putus dan melayang jatuh tanpa daya ke bawah.
Sakura cepat-cepat mencari sandalnya dan berlari mengejar layang-layang yang melayang jatuh tanpa mempedulikan ingus yang keluar dari lubang hidungnya. Ia bisa dikira orang gila tapi ia tidak peduli. Ia tetap berlari mengejar layang-layang yang putus itu. Perasaannya mungkin sama dengan layang-layang itu. Terombang-ambing tak tentu arah. Menunggu waktu untuk jatuh.
Tapi Sakura berusaha agar jangan sampai menyentuh tanah. Layang-layang itu sama seperti hati dan perasaannya. Sakura menahannya agar tidak menyentuh dasar kekecewaan. Sakura akan memperjuangkannya meski harus mengambil jalan memutar. Meski harus berlari seperti ini. Ia ingin berjuang sedikit lagi.
Ia ingin berjuang sedikit lagi…dan melihat sampai mana batasnya bisa bertahan.
Layang-layang putus yang dikejar Sakura menyangkut pada sebatang pohon oak kurus yang daunnya tak seberapa banyak. Bertepatan dengan itu juga ada dua anak yang berlari ke arahnya. Dua anak kurus berkulit kuning yang tertawa bersama sambil berteriak-teriak mencari layangan. Keduanya kaget ketika melihat Sakura berusaha menggapai layangan mereka.
"Itu layang-layang kami, Nee-chan," teriak salah satu anak itu.
"Aku tahu. Aku," Sakura melompat untuk mencoba mengambil layangan yang menyangkut itu, "hanya ingin membantu kalian mengambilnya," Sakura hanya menggapai udara kosong, lompatannya kurang tinggi. Gadis itu nyengir, "Tapi aku tidak bisa menjangkaunya. Kalian hebat sekali tadi. Sudah lama aku tidak melihat pertarungan layang-layang seperti tadi. Dulu aku sering melihatnya karena," Sakura terlihat berpikir, "karena…orang yang kusukai sangat suka bermain layang-layang."
Kedua anak kurus tadi saling memandang satu sama lain. Mereka lalu mengamati Sakura yang memakai baju hangat, celana tidur panjang dan tak lupa dengan rambut awut-awutannya di akhir musim semi.
"Kalau begitu biar kami yang mengambil layangan itu."
Salah satu dari anak itu memanjat pohon oak dan dengan mudahnya dapat mengambil layangan dengan ekor orange itu. Setelah ia mendapatkannya, bocah itu melompat dari ketinggian 2 meter dan tersenyum ceria pada temannya.
"Ini untuk Nee-chan."
"K-kenapa kalian memberikannya padaku?" Sakura sudah menjauhkan tubuhnya ketika ia disodori layangan bergambar burung layang-layang itu.
"Nee-chan mengejar layangan ini pasti karena teringat pada orang yang Nee-chan sukai itu kan? Jika layang-layang ini begitu penting bagi Nee-chan dan membuat Nee-chan senang, maka ambilah."
Salah satu anak tersebut menyerahkan layang-layang ke tangan Sakura dan berbisik pada temannya. Mereka berdua kemudian pergi dan melambai dengan senyum teramat lebar, "Jaga layang-layang itu untuk kami ya!"
Sakura mengangguk lalu membalas lambaian mereka lalu membungkuk hormat.
Gadis itu tersenyum kecil. Ia berjalan pelan untuk pulang ke rumah sambil menenteng layangan. Sakura harus berjalan memutar agar bisa lewat di jalan yang agak sepi. Ia tidak nyaman dengan tatapan beberapa orang yang mungkin menganggapnya sebagai orang gila.
Ia terus berjalan menunduk, memperhatikan sandal ayahnya yang ia bawa pergi dari rumah. Sakura mengangkat wajahnya saat ada sorot lampu motor yang melewatinya dengan cepat. Mata emeraldnya membelalak saat melihat Naruto berjalan berlawanan arah dengannya. Pemuda itu memakai hoodie warna hitam dan berjalan dengan pandangan lurus. Ransel Naruto menggantung di lengan kirinya.
Sakura terbatuk, hidungnya masih merah dan berair. Gadis berambut pink itu mengeratkan pegangannya pada layangannya. Sorot mata Naruto begitu dingin dan membuat Sakura ragu bahkan untuk melambaikan tangan. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya seraya langsung memasang senyum cerianya. Ia masih akan berusaha.
"Naruto-kun! Selamat sore," Sakura melambai dari seberang jalan.
Naruto tidak melirik sedikitpun. Pemuda itu berjalan lurus tanpa mengindahkan sapaan Sakura seperti tidak mendengar apapun.
Sakura memandang sandalnya lagi seolah itu adalah objek yang paling menarik dan perlahan menurunkan tangan yang terlanjur terangkat. Tangan yang terabaikan. Ia tersenyum tapi air matanya tak berhenti mengalir. Gadis itu menoleh ke belakang dengan harapan bahwa Naruto akan berbalik melihatnya juga tapi Naruto tidak berbalik. Masih berjalan lurus di jalanan menurun. Melewati Sakura begitu saja tanpa memedulikan apapun.
Maka Sakura memalingkan muka dan menatap lurus kedepan. Berjalan dalam tangis sambil memegang layang-layang putus. Matanya tidak bisa melihat dengan dengan benar karena terhalang air mata.
Mungkin perasaannya akan bernasib sama dengan layang-layang itu. Mungkin ia harus berhenti melawan angin dan hanya berlayar berdasarkan arus saja. Atau mungkin Sakura harus berhenti terbang dan memilih turun. Pintu mana yang harus ia masuki dalam hidup Naruto jika Naruto sendirilah yang mengunci semuanya bagi Sakura.
Sakura ingin memohon agar Naruto tidak menghentikan cintanya. Membiarkannya untuk bermimpi tentang kemungkinan untuk bersama Naruto. Namun kenyataan tidak seperti yang Sakura harapkan.
Apa yang harus Sakura lakukan ketika mencintai Naruto semakin lama berubah menjadi rasa sakit.
I don't want to stop this love
But it hurts to love you
.
.
Sudah lebih dari 2 hari Sakura tidak masuk ke sekolah, maka ketika gadis itu menampakkan batang hidungnya lagi di sekolah, Ino langsung menghambur ke arah gadis berambut pink itu dan memberikannya kecupan bertubi di depan umum. Ayah Sakura, Kizashi, hanya bisa tersenyum maklum dari dalam mobil lalu mengucapkan selamat tinggal sambil menginjak pedal gas.
"Aku merindukanmu, Jidat. Kelas terasa sepi saat kau tak ada," Ino mengadu keningnya sendiri dengan kening Sakura. Terkadang Sakura tidak terlalu nyaman dengan skinship tapi Ino tidak pernah menggubris itu. Bagi Ino, Sakura sudah seperti saudara perempuannya sendiri. Rambut pink Sakura yang selalu memberi kesan anak-anak membuat Ino ingin memanjakannya.
"Kau menakutiku, Ino. Kau selalu berubah jadi romantis begini saat aku sakit. Jangan-jangan kau suka padaku ya," Sakura menyorong kepala Ino dan dalam sepersekian detik Ino menggerung sambil menggelitiki Sakura.
"Suka kepalamu!"
Sepasang netra biru Ino menangkap hanya ada satu wadah bento yang ada digenggam Sakura. Wadah bento pink dengan gambar panda menungging. Kesukaan Sakura.
"Hei, kau tahu, aku dapat kiriman permen dari saudaraku yang habis liburan di Turki. Sengaja ku bawa karena kau bilang akan masuk hari ini. Aku baik kan?!" Ino tersenyum lebar. Ia mengacak rambut Sakura hingga poni gadis berambut pink yang sebenarnya sudah terselip rapi di bawah bando mencuat kemana-mana.
"Aku mau!" ucap Sakura bersemangat. Gadis itu memang menyukai makanan manis. Jadi, ia tidak akan menolak jika ada orang yang memberinya permen gratis.
Ino menepuk tasnya sendiri memberi isyarat kepada Sakura jika semua permennya ada di dalam tas. Gadis bermata aquamarine itu kemudian mengajak Sakura untuk memasuki halaman sekolah.
"Permenmu…boleh kubagikan sedikit untuk Naruto-kun?" tanya Sakura sedikit ragu. Matanya berusaha menangkap emosi apa yang ditunjukkan Ino.
"Tidak boleh," sahut Ino tanpa ragu. Gadis itu melihat bibir Sakura turun seketika, "Jesus. Jangan memasang ekspresi sedih seperti itu. Aku bisa dikira sedang membully-mu. Baiklah..baiklah. Boleh, kau boleh membaginya dengannya. Satu saja ya! Aku tidak mau buang-buang permen untuk seseorang yang mulutnya tidak akan jadi manis meski makan sepanci gula-gula."
"Kau memang yang terbaik, Ino-chan," Sakura menyalami Ino dengan raut muka paling bahagia.
"Tidak usah kau katakan pun semua orang juga sudah tahu," Ino mengipasi wajahnya berlagak tidak terlalu terpengaruh dengan pujian Sakura. Melarang Sakura untuk memperhatikan Naruto sama seperti bicara pada dinding jadi selama Sakura memang belum mau mundur Ino tidak bisa berbuat banyak. Sulit sekali menghapus cinta yang terlanjur menjadi kerak di otak.
"Arigato," ucap Sakura dengan tawa kecil.
"Anytime, Sakura-chin," Ino menggoda Sakura dengan menambah sufiks –chin yang membuat nama Sakura jadi kedengaran aneh.
Gadis berambut pirang panjang itu berlari mendahului Sakura sambil tertawa keras. Sosoknya hilang dibalik kumpulan bambu hias.
Hari ini Sakura tidak membawa bekal untuk Naruto. Ia lupa meminta kembali semua kotak bekalnya pada Naruto sehingga hanya tersisa wadah miliknya sendiri dan Sakura tidak punya waktu untuk membeli tempat makan baru.
Sejujurnya, egonya menyuruh Sakura untuk tidak menemui Naruto lagi tapi setiap merasakan kebahagian, Sakura selalu teringat wajah Naruto. Bagaimana jika ia bisa membuat Naruto bahagia juga. Dan ketika Ino mengeluarkan sekotak besar permen jelly bertabur serbuk putih pada jam istirahat, Sakura langsung merebutnya dan mengatakan terima kasih sambil berlari keluar kelas. Gadis berambut pink itu mencari Naruto ke kelasnya namun agaknya tetangganya itu sedang tidak ada di kelas. Sakura bertemu Chouji di lorong dan menanyakan keberadaan Naruto. Meski harus berakhir dengan pemerasan – Chouji mengambil sepertiga permen dari Ino- Sakura akhirnya mengetahui kalau Naruto pergi ke atap.
Dengan tergesa Sakura menaiki tangga lalu membuka pintu kayu yang menjadi pembatas tangga dan atap sekolah. Gadis bermata emerald itu menoleh ke kanan dan kiri, pada detik yang sama ia menemukan Naruto yang dengan tiduran di dekat pagar pembatas. Pemuda itu berbaring, berbantal kedua lengannya sendiri, kaki kirinya tertekuk sementara yang lainnya tergeletak lurus.
Naruto tidak memakai seragam sekolahnya, hanya kaos hitam polos. Atasan seragamnya ia ikat dengan karet gelang pada sebuah besi mencuat sisa konstruksi yang tidak dipotong. Demi Tuhan, Sakura tidak kuasa melihat keindahan ini. Ia tidak tahan untuk tidak mendekati Naruto. Apalagi semilir angin diakhir musim semi ini meniup perlahan rambut Naruto. Membuat poni pemuda itu terbaring lemas menutupi matanya.
Sakura melangkah perlahan mendekati Naruto, berusaha membuat suara seminim mungkin agar tidak membangunkan pemuda yang ia sukai sejak kecil itu. Gadis itu mengambil tempat di sebelah Naruto, duduk bersila sembari membuka kotak bentonya.
"Selamat makan," bisik Sakura pada dirinya sendiri. Ia mencomot sebuah kentang manis dan jamur enoki yang digulung dengan daging sapi tipis. Sementara dirinya mengunyah, mata Sakura tak lepas dari Naruto.
Naruto begitu tenang dan terlihat rileks. Beda sekali jika sedang dalam keadaan sadar dan berhadapan dengannya. Otot wajah Naruto seakan terus menegang jika sedang berada di hadapan Sakura.
Sakura menaruh kotak makannya, "Aku tidak yakin kalau kita bisa duduk berdua seperti ini jika kau sedang sadar," ia memandangi hidung Naruto lalu bulu mata pemuda itu yang panjang dan turun, kemudian mata Sakura mengelana ke kening Naruto, "Kau selalu mengerutkan dahimu saat aku bicara."
Sakura menengadahkan kepalanya memandang arakan awan yang mulai bergeser karena tiupan angin. Aroma musim panas sudah tercium di udara. Aroma tunas yang terbang bersama biji-biji dan serbuk bunga. Gadis berusia 18 tahun itu menghela nafas sambil sesekali melirik Naruto, memastikan apakah pemuda itu terbangun,
"Kau harus lebih sering tersenyum agar semua orang tidak takut padamu. Jangan menahan senyummu hanya karena aku," Sakura mengambil nafas sembari mengalihkan pandangannya dari birunya langit ke wajah Naruto. Bayang-bayang gelap terbentuk di wajah Naruto karena bias di mata Sakura, "Naruto-kun, apa kau pernah berpikir jika kehidupan kita akan lebih baik kalau saja kita tidak bertemu? Aku tidak perlu kesusahan seperti ini," Sakura memberikan senyum yang mengindikasikan jika dirinya terluka,
"Sayangnya, seberapa sering pun aku menyesalinya, aku selalu menyukaimu lagi dan lagi. Ah, apa kita pernah berbicara tentang impian masing-masing? Aku ingin menjadi koki yang hebat dan punya restauran sendiri di Tokyo. Tidak perlu besar. Hanya restauran keluarga kecil yang menyediakan kursi terbatas. Aku ingin memasakkan makanan yang enak setiap hari untuk orang-orang dan… untukmu. Apa impianmu, Naruto-kun? Apapun itu aku akan selalu mendoakanmu."
Wajah Sakura memerah, ia mengangkat tangan dan menggosok hidungnya dengan terburu-buru. Tak berapa lama air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya. Tanpa suara. Gadis bermata giok itu menghapusnya dengan sekali sapuan.
"Maafkan aku."
Deru angin semakin mengeras namun Naruto sama sekali tak terganggu. Ia masih terlelap dalam tidurnya.
Sakura menutup kotak bekalnya, ia hanya makan dua suap saja. Gadis itu tidak benar-benar lapar setelah melihat Naruto yang terlelap damai seperti malaikat. Sakura beringsut mendekati Naruto. Ia memandangi wajah Naruto dengan lekat. Jantungnya berdebar tak karuan saat melihat bibir Naruto yang terbelah sempurna. Dengan ragu-ragu ia menyentuh bibir Naruto dan cepat-cepat menarik tangannya seperti orang yang tersengat listrik.
Sakura tidak akan berdusta. Ia sangat ingin mencium bibir Naruto sekarang juga. Akan tetapi, hal tersebut akan dianggap sebagai tindakan kekurangajaran terlebih Naruto sudah punya seorang kekasih. Kekasih yang sangat cantik. Orang yang bisa mengenggam lengan Naruto tanpa harus ragu.
Gadis yang telah bertahun-tahun mengenal Naruto itu mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Ia berusaha menahan nafasnya beberapa detik agar Naruto tak terbangun. Sakura sudah siap untuk mencium Naruto namun pada saat jarak bibirnya dan Naruto tinggal beberapa centi saja gadis itu menarik wajahnya dan malah mengecup dahi Naruto selembut mungkin.
"Aku mencintamu. Aku mencintamu. I always do."
Sakura mengusap air matanya yang kembali mengalir dan bangkit dari sisi Naruto. Tak lupa ia meletakkan permen dari Ino tepat disebelah kepala Naruto dan mulai mengambil bekal miliknya sendiri. Gadis itu berjalan pelan menuju pintu sambil membenahi rambutnya yang kusut karena angin. Sesampainya di muka pintu Sakura kembali menoleh ke belakang dan mendapati kalau Naruto masih memejamkan matanya. Seragam pemuda itu masih berkibar, rambut poninya masih sesekali terbang ditiup angin. Naruto masih di sana. Diam.
Someday, I just want to love you all I want
.
.
.
Sakura tidak tahu harus mengatakan apa ketika melihat gadis pirang yang ia jumpai bersama Naruto kemarin sedang memandangi semak lavender dan rumput hias di depan rumah Naruto bersama Naruto. Gadis itu mengurai rambutnya sehingga Sakura tidak bisa langsung melihat wajah si gadis. Gadis tersebut juga membawa sebuah tas belanja di tangan kirinya sedangkan Naruto belum lagi masuk ke dalam rumah sehabis pulang sekolah. Kelihatannya si gadis memang menunggu Naruto sejak beberapa waktu yang lalu.
Jarak antara mereka dan Sakura tidak memungkinkan Sakura untuk menghindar. 8 meter.
Seperti rutinitas biasanya, Naruto dan Sakura pulang sekolah naik kereta yang sama. Tidak saling menyapa. Naruto tidur berdiri di kereta sambil memakai earphone sedangkan Sakura duduk semester darinya. Pada saat kereta sampai di stasiun, Naruto pasti akan langsung turun bersama rombongan pria kantor yang berdesakan sementara Sakura akan tinggal sebentar karena harus turun setelah nenek-nenek tua yang membawa banyak barang bawaan. Dan mereka akan berakhir berjalan sendiri-sendiri. Naruto berjalan cepat di depan Sakura meninggalkan Sakura yang hanya bisa mendesah pasrah dan memandangi bahu lebar Naruto. Tak disangka sesampainya di depan rumah Naruto ada sosok gadis pirang tempo hari.
Gadis pirang itu kini melompat ke tubuh Naruto dan memberikan kecupan di pipi sambil tertawa mengikik. Sakura tertegun ketika kecupan di pipi itu merambat ke bibir Naruto. Si gadis mencium Naruto dengan semangat meskipun pemuda itu tidak memberikan respon.
Dada Sakura terasa sakit seperti ada jarum yang menyangkut di jantungnya. Ada rasa kejut yang menyakitkan.
Sakura memejamkan mata dan menarik nafas sedalam yang ia bisa. Baginya ini adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Naruto adalah kenyataan, cintanya adalah kenyataan dan rasa sakitnya adalah kenyataan. Jadi, Sakura tidak akan memalingkan muka dari ketiganya. Ia tidak akan mengambil jalan memutar.
Gadis berambut pink itu terus melangkah. Ia sempat menundukkan kepala saat si gadis pirang memandangnya dengan mata bulat yang menurut Sakura sangat cantik.
"Ah, gadis pink, teman Naruto! Selamat sore!"
Sakura tersentak ketika si gadis pirang berjalan ke arahnya dan melambaikan tangan seperti seorang teman lama yang sudah lama tak bertemu. Wajah si gadis pirang merona. Mungkin sedikit kedinginan karena gadis tersebut keluar hanya memakai mini dress.
"S-selamat sore.
"Kau gadis yang kemarin itu kan?" Si gadis pirang tersenyum lembut dan Sakura merona karena melihat gadis yang begitu cantik. Gadis di depannya itu sangat cantik, pantas saja Naruto menyukainya. Tidak ada lelaki normal yang akan menolak gadis ini. Kecuali orang bodoh.
Sakura belum sempat menjawab namun Naruto sudah mengambil alih pembicaraan,
"Kau bisa masuk lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti," kata pemuda itu pada si gadis pirang.
"Ngomong-ngomong, aku Shion. Miroku Shion," kata Shion sambil melangkah ke dalam halaman rumah Naruto. Gadis bermata keruh itu berjalan mundur, ia menunggu balasan dari Sakura.
"Haruno Sakura desu," Sakura membungkuk dalam. Ia terus memasang senyum sampai Shion menghilang di balik pintu rumah Naruto.
Kini yang tersisa hanya Sakura dan Naruto. Diam dalam keheningan.
Sebenarnya Naruto terus memandangi Sakura sementara gadis pink itu memalingkan wajah karena ia yakin wajahnya sekarang sudah sangat merah.
"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai ketemu besok," kata Sakura tanpa memandang Naruto.
"Permen yang di atap itu, darimu?" sahut Naruto.
"B-bukan. Permen apa? Oh, iya, bisa kau kembalikan kotak makanku? Aku kehabisan kotak makan di rumah."
Sakura mengutuk dirinya sendiri. Ia ingin menangis saat ini dan entah kenapa Naruto malah mengajaknya bicara. Mendengar suara Naruto justru semakin akan meruntuhkan tembok pertahanannya.
Sakura terdiam agak lama. Ia sedang berpikir, "Naruto-kun…bisa kita berkencan? Satu kali saja."
"Tidak mau."
"Ah, aku rasa juga tidak mungkin," Sakura menggaruk pelipisnya sendiri, ada gurat kepahitan yang coba ia tutupi dengan cara tertawa, "Aku mengerti. Bagaimana kalau makan di Ichiraku? Aku yang traktir. Ayahku dapat kupon gratis makan ramen untuk empat orang," Sakura tersenyum sampai kedua matanya menyipit sempurna, "Kutunggu sepulang sekolah besok. Aku janji hanya makan ramen saja."
"Aku ada latihan baseball, aku akan datang telat."
"T-Tidak masalah. Aku tidak akan buru-buru kalau begitu," Sakura membungkukan badan dan setengah berlari ke rumahnya. Ia tersenyum lagi dan melambai sekali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
.
.
Setelah membuat janji dengan Naruto kemarin, Sakura sampai tidak bisa tidur. Ia menjadi dua setengah kali tidak konsentrasi karena memikirkan apa yang harus dikatakan jika ia makan berdua di Ichiraku dengan tetangga yang sudah ia sukai bertahun-tahun. Sejak jam pelajaran terakhir, Sakura sudah menimang dan berkali-kali membelai kupon makan pemberian ayahnya.
Maka, di sinilah ia sekarang. Menunggu Naruto dengan segelas teh hangat. Teh hangatnya yang ke-5 sejak dua jam yang lalu. Meskipun ia sudah bilang tidak akan buru-buru namun nyatanya Sakura langsung datang ke kedai sehabis pulang sekolah. Ia terus menunggu Naruto walaupun hari semakin larut.
Paman Teuchi terus menanyakan kapan Sakura mau memesan ramen dan Sakura terus saja meminta maaf sambil mengatakan ia akan memesan kalau Naruto datang. Di saat-saat teh Sakura tinggal dua kali teguk, Ayame akan datang dan mengisi gelas Sakura dari poci berwarna hijau giok.
Gadis bermata emerald itu mengecek handphone-nya terus menerus. Sakura tahu ini. Pada akhirnya ia memang hanya akan mendapati rasa sakit. Mengikir lukanya sendiri semakin dalam. Bodohnya dia. Bodoh.
"Jii-san, aku pesan dua mangkuk ramen!" kata Sakura.
"Oh, Naruto sudah datang?" Paman Teuchi menyahuti Sakura sembari meniriskan mie.
"Dia tidak bisa datang," Sakura tertawa kecil, "Belakangan ini dia memang sangat sibuk. Malam ini hanya akan ada aku yang makan dua porsi mie ramen," Sakura mengetuk sumpitnya ke meja penuh semangat.
"Baiklah. Dua porsi ramen ekstra daging untuk Sakura-chan yang sangat bersemangat!"
Semuanya selalu punya akhir. Itulah aturan dalam hidup. Mie ramen akan berakhir di perut lalu menjadi kotoran dan berakhir di WC. Manusia mati dan berakhir di tanah. Barang baru akan rusak dan berakhir di tempat sampah. Siang akan berakhir jika matahari sudah lelah untuk bergelayut di langit. Malam akan berakhir jika bulan tidak kuat bersaing dengan matahari yang perkasa. Hati Sakura pun akhirnya akan berhenti berjuang. Jika tidak, hatinya akan meledak. Pada akhirnya hatinya akan berakhir tergeletak di tanah yang dingin. Semuanya selalu punya akhir.
"Terima kasih. Lain kali datang lagi ya," ucap Ayame tatkala Sakura siap meninggalkan kedai ramen.
"Hai" balas Sakura ceria.
Saat dirinya menyibak tirai kedai, mata emeraldnya menemukan Naruto yang berjalan ke arahnya sambil memanggul peralatan baseball. Pemuda itu tidak lagi memakai seragam sekolah melainkan seragam baseball yang sudah setengah kotor. Sepatunya sangat kusam dan celananya jauh dari kata bersih.
"Maaf. Aku terlambat," kata Naruto saat dirinya sampai di depan Sakura.
"Tidak apa-apa," Sakura tersenyum.
Naruto menurunkan peralatan baseballnya dan merogoh sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Pemuda bermata biru itu menyerahkan beberapa wadah makan milik Sakura.
"Maaf baru kukembalikan sekarang."
Sakura mengangguk, "Maafkan aku, aku tidak jadi menraktirmu. Kuponnya sudah kutukarkan semua. T-tapi aku masih ada sesuatu untukmu," Sakura mengeluarkan sebatang coklat kecil dari balik sakunya.
Naruto terlihat akan menolak,
"Tidak-kumohon terima saja. Ini yang terakhir. Ini yang terakhir. Sungguh," gadis itu berusaha menyelipkan coklat itu ke telapak tangan Naruto, lalu mengeratkan pegangannya pada tas ranselnya sendiri, "Setelah ini…mari kita saling tidak mengenal satu sama lain. Aku tidak akan memaksakan diri lagi padamu. Atau paling tidak kita bisa menjadi tetangga normal yang menyapa setiap pagi," Sakura menarik nafas, matanya mulai memanas, "Jika menjadi tetangga saja masih sangat sulit bagimu….kau boleh menganggap aku tidak ada. Sama seperti biasanya. Aku pulang dulu, Namikaze-san. Semoga harimu menyenangkan."
Sakura membungkuk hormat lalu membuang wadah makanan yang tadi diberikan Naruto kepadanya. Ia berjalan cepat untuk menghindari fakta bahwa Naruto akan melihat kecengengannya untuk kesekian kalinya. Sakura tidak ingin. Karena semuanya sudah berakhir.
.
.
Karena yang aku lakukan selama ini adalah mencintaimu
Tapi sepertinya takdir kita memang hanya sampai di sini
I don't think I can let you go like this
But I will try
Cause every dream about you is pain
.
.
.
To be Continue…
.
.
Setiap judul yang ada dibagian kiri atas dan bercetak tebal itu adalah judul lagu instrumental yang menemani Cygnus dalam menulis setiap chapter. Jika kalian penasaran bisa langsung cek di yutub. Rekomen sih kalo baca per chapter sambil dengerin lagunya. Biar sedihnya nambah.
Aku ga tahu gimana tingkat kesedihan chapter ini. Jujur sih ada bagian yang aku ketik sambil nangis-nangis gitu. Maapkan jika menurut kalian ini alay, lebay dll. Menurutku sulit menemukan mood yang bagus untuk nulis sedih-sedih gini. Makanya updatenya agak lamaan.
Terima kasih banyak pada reader yang menghargai cerita abal dan menye ini. Dukungan kalian sangat berarti buat Cygnus. Kritik dan saran selalu aku tunggu.
Jangan lupa review atau PM. Because I am waiting You xD
