My Teacher My Husband
Kimaudrlie & Faychimen
.
.
.
Previous chapter :
"Jadi.." Yoongi mulai menusuk-nusuk potongan pancake miliknya dengan gerakan random, tidak peduli jika potongan makanan itu mulai berantakan dengan es krim yang semakin meleleh diatasnya.
Keduanya sedang berada di cafe yang berada tak jauh dari sekolah, Yoongi akhirnya menyetujui permintaan orang itu saat 'dia' berjanji akan menceritakannya sepulang sekolah.
Irisnya tak berpaling dari seseorang dihadapannya, meskipun tangannya tidak berhenti menusuk-nusuk potongan makanan itu. Matanya menyipit, "Jadi bisakah kau jelaskan secara detail, mengapa dan bagaimana kau bisa menjadi guru olahraga, apalagi itu di bidang basket yang kau juga tahu aku juga mengikutinya, Jimin-seonsaengnim?"
.
.
.
Chapter 3 : Another Meeting
.
.
.
Jimin sedari tadi menopang dagu, menatap sosok gadis dihadapannya, memperhatikan kalimat demi kalimat yang gadis itu lontarkan, menahan tawa. Rasanya ingin sekali ia menertawakan ekspresi dan sikap Yoongi yang menurutnya sangat menggemaskan saat ini.
Begitu Yoongi menyelesaikan kalimatnya dengan beberapa penekanan pada penyebutan namanya, Jimin lalu berdeham, alih-alih menertawakannya. Tak berniat langsung menjawab, ia justru meraih secangkir americano yang sedari tadi ia abaikan, kini mulai mendingin. Dengan pergerakan yang lambat yang disengaja, bak slow-motion, ia menpelkan sisi cangkir tersebut pada bibirnya, lalu menyeruputnya dengan suara yang keras. Mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Yoongi yang tengah menahan amarah yang ditutupi oleh rasa penasarannya itu.
"Aku sudah memperingatimu tadi pagi, jangan besar kepala, aku punya urusan dengan kepala sekolah dan," Jimin sengaja menggantung kalimatnya untuk kembali menyeruput americanonya, "Yah, inilah urusanku. Cukup jelas, bukan?"
"Kau bercanda?!" Yoongi menusuk pancake dengan keras, hingga garpu yang ia genggam membentur permukaan piring.
"Hei, hei, santai." Kali ini Jimin menanggapi amarah Yoongi dengan seharusnya, Yoongi tidak lagi terlihat menggemaskan jika terbesit kemungkinan gadis itu bisa saja merusak properti cafe atau bahkan melempar garpu kearah wajahnya. Jimin kembali berdeham, "Lagipula, memangnya aku terlihat seperti bercanda?"
Yoongi menunduk, lalu menggeleng.
Cukup jelas, tentu saja. Hanya saja, entah mengapa sulit bagi Yoongi untuk menerima kenyataan itu, kenyataan bahwa kedepannya ia akan bertemu dengan Jimin lebih sering dari yang ia duga.
"Sudah? Kau tidak berniat menghabiskan pancakemu?" Jimin melirik pancake dihadapan Yoongi yang sudah tidak jelas wujudnya.
Yoongi menggeleng lagi, "Aku sudah tidak selera. Lagipula, kau yang membayarnya, kan?" Ia kemudian berdiri dan meraih tasnya, "Aku mau pulang." Ujarnya, final, lalu ia berlalu meninggalkan Jimin dengan jalan yang sedikit terseok -seok karena kakinya yang masih bengkak.
.
.
.
Yoongi terlambat bangun, seperti biasanya. Namun meskipun selalu kesiangan, Yoongi selalu tertidur pulas. Tidak seperti hari ini.
Salahkan Park Jimin yang entah mengapa menghantui pikirannya semalaman, membuatnya tak bisa tidur nyenyak.
Tapi hal itu tentunya tidak membuat Yoongi bergegas menuju sekolah dengan terburu-buru. Menurutnya, itu hanya membuang-buang waktu. Karena sudah pasti ia terlambat, untuk apa terburu-buru? Toh, pasti tetap saja terlambat. Lagipula, Choi-ssaem, guru konseling sekolahnya kelewat baik hingga selalu membiarkan murid terlambat masuk dengan begitu saja.
Kali ini dengan alasan kakinya yang masih bengkak, padahal sudah membaik. Ia bahkan sudah bisa berjalan normal pagi ini, meskipun sangat dipaksakan.
Yoongi melangkahkan tungkainya dengan malas, sebentar lagi ia tiba di sekolah. Rasanya ia tidak ingin sekolah saja.
"Yo, kau terlambat, pendek."
Yoongi mengernyitkan alis matanya ketika mendapati sosok yang paling tidak ingin ditemuinya hari ini atau bahkan kapanpun, Park Jimin, yang tengah berdiri menyender pada gerbang sekolah yang sudah ditutup, lengkap dengan pakaian olahraganya.
"Terlambat dua puluh tiga menit lebih lima puluh satu detik. Wow, mungkin kau seharusnya tinggal di apartemenku agar tidak terlambat begini, hm?"
"Ya, benar. Dan tidak, tidak benar. Maksudku mungkin kau benar, jadi karena aku sudah sangat terlambat, jadi biarkan aku pulang kerumah dan tidur seharian agar besok aku tidak lagi terlambat." Tutur Yoongi, menambahkan. Sedikit merasa terganggu dengan pernyataan Jimin tentang tinggal di apartemennya, mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu yang benar-benar memalukan. Rasanya ia ingin amnesia saja. Ah, tidak, rasanya ia ingin membenturkan kepala Jimin agar lelaki itu amnesia lalu membenturkan kepalanya sendiri agar dirinya juga amnesia.
Jimin menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. "Jangan main-main, Min Yoongi." Ujarnya, dengan suara rendah yang entah mengapa membuat Yoongi bergidik.
'Apa? Kukira ia akan menggodaku lagi.' Batin Yoongi, dalam hati.
"Keliling lapangan, tujuh kali putaran." Sambung Jimin kemudian.
"Apa?! K-kakiku masih bengkak, idiot!"
"Ck." Jimin berdecak dan menggelengkan kepalanya lagi, "Kau benar, kakimu masih bengkak, jadi hukumanmu kutiadakan. Sebagai gantinya," Jimin meletakkan jari telinjuknya di bibir Yoongi, "Karena mulut manismu mengucapkan kata yang tak seharusnya, kau harus datang ke menemuiku pada jam istirahat nanti."
Mulai besok dan seterusnya, Yoongi memutuskan untuk tiba di sekolah lebih cepat dari siapapun agar tidak perlu berurusan dengan Park Jimin seperti pagi ini.
.
"Hei, lihat itu. Kapten kita terlambat lagi." Tutur Somi kepada Arin seraya menunjuk ke arah lapangan, melalui jendela ruang kelasnya. Di bawah sana, Yoongi tengah berhadapan dengan Jimin di depan gerbang sekolah.
Arin mengikuti arah pandangan Somi, "Di hukum, eh? Biasanya Choi-ssaem akan membiarkan masuk murid yang terlambat begitu saja." Ujar Arin yang tidak dapat melihat wajah Jimin yang membelakangi gerbang sekolah.
"Kau benar, tapi sepertinya bukan Choi-ssaem yang bertanggung jawab kali ini." Jawab Somi, menerka-nerka.
"Kyaaa! Bukankah itu Park-ssaem, guru olahraga kita yang baru?!" Kali ini murid perempuan lain yang menjerit histeris ketika menyadari eksistensi Jimin dibawah sana. "Astaga, betapa beruntungnya Min Yoongi, berhadapan dengan guru setampan Park-ssaem."
Dan diantara beberapa murid perempuan yang tiba-tiba mengerumuni jendela kelas, seorang perempuan tengah menatap mereka dalam diam, duduk di bangkunya.
.
"Hei, Yoongi, katakan padaku, bagaimana rasanya berhadap-hadapan dengan Park-ssaem?"
"Cih, jangankan berhadapan, kemarin dia bahkan digendong Park-ssaem, bodoh!"
"Bukankah menyenangkan?"
"Beruntung sekali kau."
"Yah, apa yang kalian bicarakan? Kalian sudah gila?!" Sanggah Yoongi. Yang benar saja, begitu ia tiba di ruang kelas, teman-teman perempuannya langsung mengerubunginya hanya untuk mempertanyakan hal itu. Konyol sekali.
"Sudah, sudah. Kembali ke bangku masing-masing, jam pelajaran sudah akan dimulai" Kali ini Kim Namjoon selaku ketua kelas yang berbicara.
.
.
.
Jam istirahat akhirnya tiba. Yah, Yoongi sebenarnya tidak melupakan perintah Jimin untuk menemuinya, namun pura-pura lupa adalah pilihan terbaik baginya untuk menghindari guru sialan itu.
Yoongi bersama teman-temannya baru saja akan keluar dari ruangan kelas, menuju kantin. Tapi begitu ia melangkah keluar, ia langsung disambut oleh kehadiran Park Jimin di depan pintu kelasnya, ditambah kerumunan murid perempuan yang entah untuk apa mengelilingi Jimin.
"Kuharap kau tidak melupakan amanahku tadi pagi, Min Yoongi." Sambut Jimin dengan eyesmile dan senyum lebar khasnya.
"T-tidak kok, aku baru saja akan menuju ruanganmu." Jawab Yoongi, berbohong tentunya.
"Eh? Kukira kita akan pergi ke kantin?" Arin mencelos dengan polosnya.
"Arin!" Yura yang menangkap situasi menyikut siku Arin dan langsung menarik lengannya agar menjauh, "Kami duluan ya, kapten. Aku akan membelikanmu roti melon kesukaanmu!" Ujarnya kemudian, sebelum akhirnya berlalu bersama Arin dan Somi.
.
Yoongi kira Jimin akan membawanya ke ruang guru, tapi ia justru malah membawanya ke ruang UKS. Tak ada pilihan bagi Yoongi selain mengikutinya.
"Oh, Jiminie! Kebetulan sekali, kau mau ke UKS?" Tanya seorang guru berpakaian jas lab yang baru saja keluar dari ruangan UKS. Yoongi merasa asing dengan guru ini, karena jujur saja, selama hampir dua tahun bersekolah, Yoongi selalu menolak mengunjungi UKS setiap kali ia terluka atau bahkan cidera saat latihan basket. Menurutnya, lukanya akan sembuh dengan sendirinya, jadi ia tak membutuhkan segala obat-obatan itu.
Jimin mengangguk menanggapi pertanyaan guru perempuan dihadapannya.
"Bagus sekali. Boleh aku menitipkan UKS padamu, sebentar saja? Aku belum sarapan tadi pagi dan rasanya aku mau mati saja!" Celoteh guru tersebut.
"Serahkan padaku." Ujar Jimin seraya terkekeh pelan, "Tapi kau sebaiknya cepat, Jin. Kau punya pasien." Sambungnya kemudian, menunjuk kearah Yoongi.
Guru tersebut mengangguk mengiyakan. Setelah menunduk beberapa kali, lalu menepuk pundak Jimin, guru tersebut langsung berlalu dari hadapan Jimin dan Yoongi.
Kemudian keduanya masuk kedalam UKS dan tanpa aba-aba, Jimin menggendong tubuh mungil Yoongi ala bridal style. "Y-yah! Hei, apa yang kau lakukan?!" Yoongi meronta kala Jimin mengangkat tubuhnya dengan tiba-tiba, membuatnya teringat ketika ia digendong Jimin beberapa hari yang lalu, memalukan.
"Hei, kau mau kujatuhkan?!" Kalimat yang sama yang diucapkan Jimin seperti beberapa hari lalu. Mau tidak mau, Yoongi akhirnya menurut.
"Keparat, menyebalkan, aku benci kau!"
Jimin membaringkan tubuh Yoongi diatas tempat tidur UKS. "Hati-hati dengan ucapanmu, bisa saja tiba-tiba kau beralih mencintaiku. Hahaha."
Yoongi tahu, itu hanya candaan, tapi mengapa wajahnya malah memerah? "Persetan!" Yoongi meraih kerah baju Jimin, berniat untuk mengancamnya, tapi Jimin yang kehilangan keseimbangan justru hampir menindih Yoongi yang terbaring.
Keduanya terdiam dalam posisi yang sama selama beberapa detik, membuat mata Yoongi membulat, wajahnya memerah padam, jantungnya berdegup tak karuan. Bagaimana tidak? Jarak mereka begitu dekat saat ini. 'Astaga, Yoongi, apa yang kau pikirkan?!'
Raut wajah Jimin yang tegas tiba-tiba melunak, kemudian ia menjauhkan dirinya dari Yoongi dan tertawa terbahak-bahak. "Astaga, yang tadi nyaris sekali. Kau seharusnya melihat wajahmu, apa kau berharap dicium oleh lelaki setampan aku?" Canda Jimin disela tawanya.
"Persetan! Aku benci padamu!" Yoongi meraih bantal dan menutupi wajahnya sendiri.
Tawa Jimin akhirnya mulai mereda dan menggelengkan kepalanya penuh ketidakpahaman terhadap Yoongi, bagaimana bisa gadis galak seperti Yoongi terlihat begitu menggemaskan seperti saat ini.
"Maafkaan aku, tapi melihatmu terlihat manis itu benar-benar langka." Cetus Jimin kemudian meraih kaki Yoongi.
"Yah! Apa lagi yang mau kau lakukan, pedofil?!" Jerit Yoongi refleks menendang perut Jimin.
"Ugh." Jimin yang mendapatkan serangan tiba-tiba itu langsung mundur dan melindungi perutnya sendiri. "Astaga. Kau ini benar-benar tidak tahu diuntung ya. Memangnya untuk apa aku membawamu ke UKS? Apa kau benar-benar mengharapkan aku mencabulimu disini?"
Yoongi meringis begitu menyadari kalau tendangannya ternyata benar-benar mengenai Jimin, padahal ia tak bermaksud. "Tidak. M-maafkan aku." Cicitnya kemudian membiarkan Jimin menyentuh kakinya lagi.
"Aku hanya akan memeriksa keadaan kakimu. Aku ada jadwal megajar setelah ini jadi sebaiknya kau tunggu Kim-ssaem kembali dari kantin dan minta ia untuk mengobatimu."
"Hm." Yoongi sedikit kecewa karena mengetahui fakta bahwa bukan Jimin yang akan mengobatinya. Tunggu, kenapa ia harus kecewa? Yang benar saja. "Ngomong-ngomong, Kim-ssaem itu guru yang tadi? Jika iya, kau terlihat begitu akrab dengannya."
Memang Jimin yang akrab dengan guru itu atau ia akrab kepada semua perempuan? Entah mengapa Yoongi malah memikirkan hal ini.
"Biar kutebak, ini pasti kali pertama kau mengunjungi UKS?"
Yoongi mengangguk polos. Apa yang salah dengan itu? Bukankah itu membuktikan bahwa ia adalah murid yang tidak pernah sakit?
"Astaga, kau ini. Dan iya, ngomong-ngomong, dia adalah teman sekolahku dulu."
Yoongi mengangguk, lega. Tunggu dulu, kenapa ia lega? Kenapa ia harus peduli dengan kedekatan Jimin dengan siapapun?
Jimin tersenyum kecil melihat Yoongi yang terlihat sedang serius memikirkan sesuatu. Ia lalu mengacak rambut Yoongi hingga berantakan, lalu berkata, "Sudah ya, jam pelajaran sudah mau dimulai." Kemudian ia beranjak meninggalkan ruang UKS.
Yoongi menghela nafas. Besok dan seterusnya, ia akan berusaha sebisa mungkin menghindari Park Jimin demi kelangsungan kehidupan sekolahnya yang damai.
.
.
.
Perhitungan Yoongi tentang berangkat pagi agar tidak berurusan dengan Park Jimin ternyata salah besar.
Ia sudah bangun lebih pagi dari kakaknya dan berangkat sekolah sepagi mungkin, dan kenapa ia masih bertemu dengan Park Jimin di gerbang sekolah?
"Selamat pagi, pendek."
.
.
.
To be Continued
.
.
.
a / n :
Faychimen in the house! Hahaha, sudah lebih kurang sudah satu tahun saya menghilang dari dunia ffn. Bagi yang membaca fics saya, anggap saja ini informasi tambahan sebelum saya kembali menulis di akun ffn saya.
Tadinya saya berniat untuk hiatus sampai tamat sekolah saja, tapi ternyata begitu tamat sekolah, saya tetap tidak bisa berleha-leha. Sulit sekali mencari waktu luang, serius. :"
Selagi hiatus, tadinya saya juga berniat untuk menabung chapter untuk Bad Enough, jadi ketika saya kembali, saya tidak telat update lagi. Tapi ternyata, setelah saya membaca ulang Bad Enough, saya baru menyadari kalau ceritanya tidak masuk akal dan alurnya terlalu cepat. Bagaimana bisa seorang guru konseling yang seharusnya mengerti tentang emosi dan psikis, justru malah kehilangan kendali terhadap murid didiknya, lalu bagaimana juga dengan cerita yang terlalu gamblang dan terkesan terburu-buru. Ah, rasanya malu sendiri kalau baca ulang Bad Enough. :"
Dan lagi, seiring berjalannya waktu, saya semakin memiliki pandangan bahwa Yoongi begitu gentle. Sulit sekali menciptakan karakter Yoongi yang uke tsundere dan hal ini membuat saya tidak menyukai yaoi. Sayang sekali, sekarang saya lebih menyukai straight ketimbang yaoi. But I can't help, most of my readers were MinYoon stans.
Lalu saya berusaha untuk kembali menyukai yaoidemi mendapatkan kembali chemistry untuk melanjutkan fics, meskipun tidak dengan YoonMin pairing. Saya membuat akun ffn dengan penname namjined dan berniat untuk menulis fics tentang NamJin. But I'm stuck again, setelah menulis satu chapter disana, saya menyerah lagi. Saya benar-benar sudah tidak cocok dengan yaoi thingy.
Saya juga tidak terbiasa membuat fics dengan Gender-Switch. Secara nyata, mereka adalah laki-laki, saya tidak bisa mengubah mereka menjadi perempuan, meskipun dalam bentuk imajinasi semata. Mungkin saya tetap akan menggunakan GS, jika diperlukan. Namun sebisa mungkin, saya akan menghindari penggunaannya.
Saya benar-benar mendapatkan masalah disini. /cries/
Lalu saya sempat berpikiran untuk tidak berkecimpung di dunia literatur lagi, mungkin ini bukan bidang saya. Tapi setidaknya saya masih punya hutang collab fic dengan Kimaudrlie, jadi saya memutuskan untuk menamatkan yang satu ini dulu. Tapi setiap kali saya ingin melanjutkan fic ini, entah mengapa saya malah ngeblank karena konsep fic ini yang tidak saya pahami, basket. Saya tidak mengerti apa-apa tentang basket, jadinya malah bingung sendiri tiap mau ngelanjutin. Hehe. Maafkan saya. :"
Saya mencari inspirasi dimana-mana, bahkan menciptakan mood untuk menulis secara paksa, meskipun saya tahu hasilnya tidak akan bagus. Tapi saya pikir, daripada tidak sama sekali, sebaiknya saya memperbaiki cara menulis saya. Jadi setelahnya, saya memutuskan untuk tetap menulis di ffn dan melanjutkan Bad Enough dan fics lainnya. Ralat, saya akan merombak Bad Enough dari awal. Tentu saja secara keseluruhan, ceritanya akan saya ubah, tapi konsepnya tetap sama kok, tentang Jimin sebagai guru konseling dan Yoongi sebagai murid berandal, dan tentu saja saya tetap menambahkan bumbu-bumbu BDSM. ^^
Sayangnya, sampai saat ini saya belum mempersiapkan apapun untuk Bad Enough, jadi saya akan mulai menabung beberapa chapter, baru setelah itu saya akan mengupdate chapter satu. Oleh karena itu, saya sangat membutuhkan dukungan kalian semua. Saya tidak bisa berjanji untuk update cepat, namun saya harap, kalian bersedia menunggu. Saya juga sangat berharap agar kemampuan menulis saya dapat meningkat dan semoga kalian dapat terhibur dengan karya-karya saya.
Oh iya, satu lagi. Maafkan saya karena chapter kali ini masih berputar-putar pada kehadiran Jimin di sekolah Yoongi dan malah diperpanjang dengan (curhatan) author's note ini. XD
Regards, Faychimen.
.
.
.
Next chapter :
"Yoongi-ya, selamat pagi!"
"Halo, Namjoon-ah. Kudengar kalian sekelas menghabiskan weekend bersama?"
"Pendek, sepertinya kau mendapatkan informasi yang salah."
"Oh, kukira ssaem tidak akan datang."
"Kau jalang, berani-beraninya!"
"Persetan, apa maumu?!"
.
.
.
A Review, please? Thank you.
