Buat review-review yang menambah semangat mengetik saya... terima kasih atas saran dan kritiknya... aku jadi semangat.. mohon masukannya...

Tobi d lucifer : Terima kasih. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Chapter pertama emang masih prolog... chapter selanjutnya bakal lebih berusaha lagi, deh... tapi chapter 3 kayaknya bakal amburadul, deh...

Darries : Terima kasih atas Review-nya. Untuk masa lalu Sasu... tunggu aja, deh...yap... Rukia dan Sasuke itu renkarnasi dari pasangan suami istri... oh... trituradora muñeca itu artinya boneka pembunuh...

Guest : Oke, terima kasih atas semangatnya...

Suci minoz : itu bakal aku bahas di chapter ketiga...

Bleach Cuma milik Tite Kubo

Oc chara:Kasumi Sumita

Bagian kedua

Roh yang tersembunyi dan pemilihan ketua OSIS

Chapter pertama :

Roh yang bersembunyi

Mimpi itu datang lagi.

Saat sakura yang bersemi perlahan-lahan gugur. Wanita berkimono ungu muda itu tengah duduk menanti di bawah pohon sakura dan di bawah bulan sinar bulan purnama. Dan Rukia dapat melihatnya, karena ia juga berada di sana. Rukia termangu di belakang wanita itu, terdiam tanpa ingin mengeluarkan kata-kata. Rukia ingin menyapa, namun lidahnya kelu. Lalu ia mencoba mendekati wanita itu dari samping untuk melihat wajah wanita itu dengan jelas. Namun wanita itu menoleh ke arah yang berlawanan darinya, sehingga Rukia tidak dapat melihat wajah wanita itu. Akhirnya Rukia tahu alasan wanita itu menoleh, saat ia melihat seorang pria dari kejauhan yang melangkah ke arah lelaki itu. Lelaki itu tersenyum lembut di wajahnya yang dingin. Wanita itu mengangkat sebelah tangannya dan disambut oleh tangan lelaki. Mata indah Rukia terbeliak lebar saat ia dapat melihat wajah Sasuke dengan jelas. Itu SASUKE! Tidak salah lagi. Dia adalah Sasuke. Tapi kenapa Sasuke bisa memasuki mimpi-mimpinya dan mimpi itu seolah adalah mimpi yang saling terkait. Dan saat sebuah kelopak bunga sakura tersangkut di rambutnya, secercah cahaya menyilaukan memasuki kedua matanya, dan perlahan-lahan mimpi itu mengabur bersamaan dengan ia membuka kelopak matanya. Setelah Rukia mampu beradaptasi dengan cahaya disekitar ruangan itu, Rukia lantas menyibak selimut yang menyelimutinya hingga sepinggang lalu bangkit terduduk.

"Mimpi lagi," bisik Rukia.

Rukia menghela nafas sedikit kesal. Apa tidak ada yang bisa ia mimpikan selain hal-hal yang tidak masuk akal itu lagi? Rukia menggelengkan kepala sedikit kesal.

"Oh ya, kenapa aku bisa di sini, ya?!" pikir Rukia saat dia menyadari bahwa ia berada di UKS sekolah.

Rukia mengingat-ingat kejadiannya dengan sedetailnya, dan berakhir dengan wajah memerah. Gyaahh... di salah memasuki toilet cowok! Dan saat ia muntah, seorang cowok masuk ke toilet yang dia gunakan dan dia adalah... S-A-S-U-K-E. Orang yang selalu muncul dalam mimpinya. Tapi ia sedikit bersyukur karena yang bertemu dengannya adalah Sasuke, setidaknya orang yang ia tahu. Tanpa Rukia sadari, sejak tadi tingkah Rukia di awasi oleh sepasang mata turqois yang sejak tadi rebahan di bilik samping bilik Rukia. Lalu pelan-pelan, tirai bilik itu kembali di tutupnya.

"Hah... " Rukia menarik nafas berat.

Rukia lalu bangkit dari ranjang dan merapikan selimut dan sprai ranjang UKS yang berwarna putih, lalu meninggalkan tempat itu. Namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara berisik dari samping UKS. Rukia segera berlari ke dekat jendela, karena suara itu berasal dari sana. Dan ia mempercepat langkahnya saat ia yakin mendengar suara Kasumi. Bingo! Itu memang benar. Dan yang buruk adalah, Kasumi sedang di-Bully oleh teman-temannya. Salah seorang terlihat tengah merebut boneka beruang berwarna merah muda dari tangan Kasumi dan salah seorang lagi menjambak rambut Kasumi. Rukia bereaksi keras dan segera membuka jendela UKS lalu melompatinya karena kegugupannya melihat Kasumi tertekan.

"Kamu jangan cari muka di depan Kuchiki-san, ya. Dia bukan barang. Kamu tidak berhak memonopolinya sendiri," ucap seorang gadis dengan tatapan garang.

Rukia semakin gugup karena namanya di sebut-sebut, dan segera berdiri di hadapan Kasumi untuk menjadi tameng Kasumi. Gadis-gadis itu terlihat gugup saat melihat Kuchiki yang tiba-tiba melompat dari jendela dan langsung berdiri di hadapan mereka.

"Ah... aah... Kuchiki-san... Anoo, kami tidak bermaksud begitu. Aku hanya mengatakan pada Sumita bahwa dia tidak berhak memonopolimu," ucap salah seorang dari mereka.

"Memonopoli?! Aku tidak merasa di monopoli. Kalian bercanda, ya?!"

"De-demo, dia yang mengatakan hal itu pada kami," ucap gadis itu mencoba menjelaskan.

"Tidak mungkin. Sekarang kalian cepat pergi dari sini. Segera," ucap Rukia sambil memicing tajam dan gadis-gadis itu segera berlari meninggalkan mereka karena ketakutan dengan aura dingin yang dimiliki Rukia.

Setelah para gadis itu menghilang dari pandangannya, barulah Rukia merasa lega.

"Kamu tidak apa-apa'kan Su- ah... Kasumi-chan," ucap Rukia lembut lalu menoleh pada gadis di belakangnya.

Kasumi tidak menyahut dan itu membuatnya bertanya-tanya. Rukia menoleh ke belakang, namun Kasumi sudah tidak ada di tempatnya semula. Dan Rukia menemukan gadis itu tengah berjongkok di bawah sebuah pohon sakura sambil memeluk boneka beruangnya.

"Ternyata kamu benar, onii-chan. Berkomunikasi dengan orang lain sama sekali tidak menyenangkan. Lebih menyenangkan saat bersamamu. Maafkan aku karena aku mengabaikanmu selama ini," ucap gadis itu pada boneka beruang yang dipegangnya.

Rukia mendekat pada gadis itu, merasa khawatir dengan Kasumi.

"Ka-Kasumi-chan?!"

"Jangan mendekat!" hardik Kasumi dan spontan menghentikan langkah Rukia.

"Ka-Kasumi-chan?!"

"Manusia hanyalah sampah!" ucap gadis itu lalu bangkit dan menghadap Rukia.

Rukia terkejut karena mata gadis itu telah berubah menjadi hitam pekat menakutkan. Dan saat itu juga, langit berubah gelap dan halilintar menyambar-nyambar. Semua berubah dengan cepat. Suara berisik dari sekolah kini lenyap, dan kehidupan seolah telah berhenti. Gadis itu menyeringai menakutkan lalu mengangkat boneka beruangnya tinggi-tinggi. Dan mata boneka itu berwarna merah menyala menakutkan. Cambuk ungu muncul dari bayangan gadis itu dan melesat kearah Rukia. Dengan cepat Rukia menghindarinya, lalu berlindung di balik sebuah pohon sakura. Rukia berjongkok untuk mengatur rencana, dan kembali menghindar saat cambuk ungu milik Kasumi menumbangkan pohon sakura tempat Rukia berlindung.

"Mau kemana, Rukia-chan?! Kamu tidak akan bisa melarikan diri dari cambukanku... hahaha..." Kasumi tertawa lebar dan itu sangat mengerikan untuk Rukia. Tiba-tiba cambuk itu berubah menjadi empat bagian dan mengepung Rukia dari semua penjuru.

Blaaar... ledakan hebat terjadi saat benda itu menyentuh tubuh Rukia dan meninggalkan kabut tebal berwarna abu-abu. Ledakan itu sempat membuat gedung sekolah goyah sejenak. Namun tidak ada jerit panik dari gedung karena memang mereka semua sudah mati. Bukan dalam konteks kehilangan nyawa, namun karena itu yang disebut Zero Time, yaitu dimana waktu terhenti dan makhluk-makhluk hidup—kecuali tumbuhan—akan mati sejenak karena tekanan tenaga roh yang sangat kuat.

Dari kejauhan, di atap gedung sekolah, enam orang bagian OSIS tengah menyaksikan pertarungan sengit itu. Sementara satu orang anggota OSIS ada di UKS, lalu satu di ruang musik, dan satu lagi berada di ruang kelas yaitu Sasuke. Terkejut juga dia saat tahu bahwa Rukia bukan gadis biasa. Namun ia juga cemas karena ledakan tadi. Namun rasa kekhawatiran itu tidak bertahan lama, karena saat kabut itu menipis, sosok Rukia muncul kembali dengan sebuah pedang yang indah di tangannya.

Klining...

Lonceng yang terdapat di ujung pegangan pedang itu berbunyi indah saat Rukia menggerakan pedang berwarna perak itu ke samping tubuhnya. Seragam yang di kenakan Rukia sudah koyak di beberapa bagian. Rukia mengangkat pedangnya ke depan lalu memicing tajam.

"Ahaaahaa... nee, nee. Rukia-chan... ini akan semakin menarik, bukankah begitu?!"

Kasumi tertawa kejam, dan manik hijau itu kini ternoda oleh aura kehitaman yang semakin pekat. Lalu tawa itu terhenti dan Kasumi menatap Rukia dengan tatapan sedih namun dengan segera tatapan itu kembali seperti semula. Kasumi kembali menyerang Rukia tanpa ampun dengan cambuknya, membuat Rukia kewalahan menghalau serangan-serangan itu, sementara Kasumi tertawa lebar mengerikan.

"Mereka tidak pernah menganggapku ada. Mereka tidak pernah menyapaku. Kenapa? Padahal aku selalu bersama mereka. Tapi kamu baru sehari berada di sini namun mereka ramah padamu. Bukankah dunia seperti itu tidak adil?!"

Zraat... tubuh Rukia terdorong ke belakang dengan keras dan ia segera menancapkan pedangnya ke tanah dan ia berhasil berhenti sebelum tubuhnya menabrak pohon Sakura di belakangnya.

"Bagaimana ini? Terlalu sulit bertarung di sini."

Rukia mendongakkan kepalanya menatap atap sekolah dan sebuah pikiran melesak dengan cepat ke otaknya. Di sana lebih aman dan terbuka untuk bertarung. Dan Rukia memutuskan untuk mengakhirinya di sana. Ia akan menyegel roh kegelapan itu di sana. Sebuah serangan dilancarkan oleh Kasumi, dan beruntung ia dapat menghindarinya meskipun cambuk itu berhasil melukai pipi kirinya. Namun tidak apa-apa, daripada cambuk itu menerobos kepalanya.

Dengan cepat Rukia berbalik dan melompat ke dinding sekolah lalu melakukan transformasi saat itu juga. Sebuah cahaya berwarna putih melingkupinya saat itu juga dan dalam hitungan detik, cahaya itu menghilang bersamaan dengan Rukia. Kasumi terkejut karena gadis yang diincarnya menghilang.

"Ah, Onii-chan. Gadis itu menghilang."

Kasumi sedikit bergetar ketakutan. Ia takut bila kakaknya akan marah padanya dan akan membuangnya begitu saja.

"Jangan panik. Aku sudah pernah mengatakan padamu, jangan panik. Berpikirlah dengan kepala dingin. Lihat disana," sahut boneka beruang itu lalu tangannya terangkat, menunjuk sisi lain gedung.

Tampak seorang gadis berambut perak kebiruan yang panjang dan terurai, terbang dari satu atap ke atap yang lain. Kasumi tertegun sejenak lalu seringaian kejam tersungging di wajah pucatnya. Dia mengirim dua cambuk ke arah gadis. Dalam hitungan detik, cambuk itu memanjang dan berhasil menyusul gadis yang hampir berhasil mencapai atap itu.

Slaap...

Cambuk itu membelit sebelah kaki Rukia dalam mode transformasinya, dan menariknya turun ke bawah dengan kuat. Rukia menancapkan pedangnya kedinding dengan kuat untuk menahan tubuhnya. Serangkaian rasa sakit menyerang di sepanjang punggungnya yang mulai kram saat itu juga.

"Buruk. Ini sangat buruk. Kekuatanku hampir sampai pada batasnya," pikir Rukia panik.

Rukia memaksakan kepalanya untuk melihat ke bawah, dan ia dapat melihat Kasumi yang terus tertawa dengan ekspresi yang mengerikan. Pemandangan itu berganti dengan sosok Sasuke yang melesat cepat kearahnya. Dan bersamaan dengan itu, tangannya sudah terlepas dari gagang pedangnya dan ia pun jatuh bersama beberapa reruntuhan gedung.

"Apakah akan berakhir begini?"

Rukia berusaha menggapai-gapai udara di sekitarnya sambil menutup mata, hingga akhirnya ia jatuh di kedua tangan kekar Sasuke. Rukia baru membuka matanya saat ia merasakan hawa panas di sekitarnya. Dan ia terkejut karena kini ia melambung tinggi ke angkasa bersama Sasuke yang bersayap api. Cambuk-cambuk Kasumi terus berusaha menyusulnya. Dengan kecepatan dan kelihaian yang menakjubkan, Sasuke dapat menghindari cambuk-cambuk itu dengan mudah. Tidak berapa lama, Kasumi pun menyusul terbang dengan cambuknya yang membentuk sayap ungu. Sasuke memicingkan matanya lalu terbang menukik ke bawah. Dengan kecepatan yang sama, keduanya melesat hingga akhirnya bertubrukan di udara.

Blaar..!

Ledakan keras kembali terjadi, dan asap tebal mengepul di udara. Sesosok tubuh terlempar dari dalam kabut dan boneka beruang yang di pegangnya terlempar tidak jauh darinya. Boneka beruang itu lalu membentuk lingkaran hitam besar berpendar kemerahan dan membuat aliran angin disekitarnya kacau. Lingkaran itu melesat ke atap sekolah, dan kembali terjadi ledakan. Rukia dan Sasuke menatap kejadian itu dengan tatapan tidak percaya.

"Hahh... jadi dia masternya?! Akhirnya, muncul..." ucap Rukia.

Bola itu memudar tertiup angin, menampakan sesosok pemuda berambut oranye yang dengan cekatan menangkap tubuh Kasumi yang terkulai hanya dengan satu tangannya.

"Haaahhah... sama sekali tidak berguna," ucap pemuda itu dengan tatapan mengasihani namun juga meremehkan,"Seperti yang aku duga sebelumnya."

Lalu pemuda itu mendekap gadis itu. Sasuke mendarat bersama Rukia digendongannya, tidak jauh dari sana. Setelah kakinya menapak tanah, ia segera menurunkan gadis itu lalu sayap apinya mengecil hingga akhirnya menghilang tertiup angin.

"Siapa kamu?!" tanya Sasuke dengan tatapan dingin namun tegang.

Dengan cepat, Rukia berdiri di hadapan Sasuke untuk mencegah pemuda itu bertindak jauh.

"Terima kasih untuk bantuannya. Sekarang biar aku yang menyelesaikan bagian ini," ucap Rukia.

"A-apa?! jangan bercanda! Kamu baru saja siuman!" protes Sasuke karena khawatir, namun nadanya tetap datar.

"Kekuatanku masih cukup untuk menyegelnya," ucap Rukia lalu mengeluarkan sebuah kertas bergambar sebuah lingkaran unik yang terdiri lima lingkaran berpadu dengan sebuah bintang enam.

"Meskipun begitu... "

"Jernihkan pikiranmu dulu sebelum bertindak."

Rukia berlari menyerang dengan tangan kosong, lalu dengan gerakan yang mengagumkan, ia menembakan sebuah bola berwarna biru sebesar bola basket ke arah pemuda itu. Namun pemuda itu seolah hanya menganggap bahwa bola itu hanya gangguan kecil. Dan dia menampiknya dengan satu tangan. Bola itu melesat ke arah lain dan meledak, membuat atap berlubang cukup besar.

"Aku tidak punya waktu main-main dengan anak kecil sepertimu. Jadi jangan membuang kekuatanmu dengan sia-sia," ucap pemuda itu angkuh lalu dengan kecepatan cahaya,pemuda itu telah berhenti di belakang Rukia.

Tubuh Rukia membeku saat ia merasakan deru nafas yang menerpa tengkuknya. Lalu ia merasakan bahwa rambutnya tersibak dan deru nafas itu menggelitik tengkuknya.

"Hm... kamu membuatku tertarik. Lain kali kita akan bertemu lagi, nona," bisik pemuda itu di telinganya.

Rukia melirik kesamping dan dengan segera ia melayangkan tangannya yang memegang segel ke arah itu, namun hanya mengenai udara. Pemuda itu kini kembali ke tempat ia meletakkan Kasumi. Lalu setelah mengangkat Kasumi, pemuda itu melompat keudara dan menghilang seperti angin. Namun Rukia masih dapat mendengarkan suara pemuda itu dari kejauhan.

"Kita akan bertemu lagi, nona!"

Rukia mengumpat karena gagal mendapatkan buruannya. Cahaya putih kebiruan membentuk lingkaran dan dalam waktu singkat, Rukia kembali ke wujud semula. Seragamnya sudah compang-camping sehingga ia terpaksa menutupi tubuhnya apa adanya sambil terduduk.

Pluk... sebuah jas jatuh dan menutupi kepalanya. Rukia mendongak untuk melihat orang yang baik hati meminjaminya jas. Dan matanya membulat.

"Pakailah," ucap Sasuke singkat dan datar lalu melangkah menjauh.

Rukia memegang ujung jas Sasuke sementara matanya tidak lepas dari punggung Sasuke yang menjauh. Sayap api di punggungnya muncul kembali lalu Sasuke terjun dari atap gedung. Sementara itu, enam orang anggota OSIS yang menyaksikan pertarungan itu pun melangkah meninggalkan atap. Rukia bangkit berdiri dengan mengenakan jas sekolah Sasuke dan menatap langit yang berangsur-angsur kembali normal. Suara hiruk pikuk dan aktivitas-aktivitas di sekolah itu telah kembali. Hahhh... Rukia melepaskan nafas ringan. Sepertinya ia terpaksa bolos untuk pelajaran berikutnya sampai ia menemukan seragam yang lain untuknya.

Chapter kedua

Pemilihan ketua OSIS

Saat Rukia memasuki halaman sekolah, seluruh perhatian teralih padanya, membuat Rukia sedikit risih namun bingung. Tatapan mereka bukan tatapan yang dilayangkan saat pertama kali Rukia menginjakan kakinya di halaman sekolah itu. Hari ini adalah hari ke sepuluh ia belajar di sekolah itu dan ia sudah melewati hal-hal tidak terduga. Seperti saat ia melawan Kasumi waktu itu. Sejak saat itu, Kasumi tidak berada di sekolah. Keberadaannya seolah-olah tidak pernah ada. Kini ia duduk bersebelahan dengan Rurichiyo Kasumioji, gadis bangsawan bertubuh mungil yang baru saja datang dari Paris. Rukia sedikit risih dengan gadis itu karena sikapnya dingin dan acuh. Meskipun baru berusia 14 tahun, Ririchiou memiliki sifat elegan, dewasa, dan karisma yang luar biasa. Namun justru karena itu, Rukia menganggap bahwa gadis itu justru tidak biasa. Ada hal yang berbeda dari gadis itu. Hati kecil Rukia hanya mengatakan bahwa ia harus hati-hati pada gadis baru itu.

Sreeeg... Rukia membuka pintu kelas lalu mengucapkan selamat pagi seperti kebiasaannya yang langsung disambut heboh oleh teman-temannya.

"Ohayou gozaimasu...!"

"Ohayou, Kuchiki-san...!"

"Ohayou!"

"Ohayou Kuchiki..."

"Apa berita itu benar, Kuchiki-san?!" tanya seorang gadis bercepol pada Rukia, Momo Hinamori, teman yang duduk di depan Rukia.

"Ya, Kuchiki. Kamu luar biasa," sambut seorang gadis tomboy, Tatsuki Arisawa.

"Ah, maaf. Ada apa ini?" tanya Rukia bingung.

"Heeeeee?! Kuchiki tidak tahu?!" ucap teman-teman satu kelasnya hampir bersamaan yang membuat Rukia semakin kebingungan.

"Kuchiki-san direkomendasikan untuk jadi salah satu kandidat calon ketua OSIS," sahut Momo heboh.

"Heeeeeeeee..." kini kebingungan Rukia berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa.

"Ketua?!" ucap Rukia hampir berteriak.

"Ya. Ganbatte Kuchiki-san! Kami akan mendukungmu!" ucap teman-temannya.

"Demo..."

"Ah, sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Cepat kembali ke tempat duduk masing-masing..." perintah Tatsuki sebagai ketua kelas.

"Baik!" sahut semuanya kompak.

"Kalian!" seru Rukia frustasi.

Semua tertawa melihat tingkah yang tidak biasa dari Rukia. Rukia lantas menghela nafas frustasi lalu melangkah menuju tempat duduknya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Beberapa anak tampak sedang asyik berbisik-bisik lalu tertawa, membuat Rukia semakin frustasi. Dan saat itu, seorang gadis cantik berambut pirang pucat tengah mengamatinya dari tempat duduknya dengan raut misterius.

"Rukia-chan. Aku duluan!" seru Tatsuki sambil melambaikan tangan pada Rukia yang tengah mengangkat plastik penuh sampah.

"Baik, ketua," sahut Rukia sambil melangkah menuju ke samping sekolah untuk membuang sampah. Dengan terseok-seok, Rukia menyeret langkahnya melewati anak tangga demi anak tangga. Rukia merutuki anak tangga itu.

Cling... mata Rukia berbinar senang. Dengan cepat, ia menoleh ke kanan dan kirinya untuk memastikan bahwa tidak ada orang selain dirinya di sekolah. Rukia memandang plastik-plastik sampah yang berada tidak jauh darinya. Rukia menatap kedua tangannya dan partikel-partikel cahaya berwarna biru membentuk lingkaran sebesar bola kasti di tangannya. Sebuah cahaya biru membentuk sebuah pola abstrak tercipta di dahi Rukia.

"Seindah cahaya yang hangat, dan selembut salju nan putih... lewat desah suara angin, aku memanggilmu. Shirayuki...!" seru Rukia membacakan mantra.

Sebuah cahaya muncul di hadapan Rukia membentuk sesosok wanita bersurai putih yang tengah berjongkok di hadapan Rukia. Rukia tertawa senang.

"Ada apa Rukia-sama memanggilku?" tanya wanita itu dengan penuh hormat.

Rukia menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu berpura-pura bersikap malu-malu untuk merayu Shirayuki yang tengah menatapnya dengan penuh tanya.

"Ano..." ucap Rukia ."Tolong gantikan aku piket. Hari ini..."

"Jadi aku harus membuang sampah-sampah ini, ya?!" sebelum Rukia menyelesaikan ucapannya, Shirayuki telah mengambil plastik berisi sampah di tangannya.

Dan saat itu juga Shirayuki membekukannya di tempat.

"Shi-Shirayuki!"

"Ada apa Rukia-sama?"

"Bukan membekukannya. Tapi membuangnya," protes Rukia dengan wajah merah padam.

"Oh, jadi membuangnya. Ah!" tiba-tiba Shirayuki memukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak kirinya.

Shirayuki segera mengambil plastik-plastik berisi sampah yang berada di depan kelas Rukia.

"Yokatta. Syukurlah dia bisa mengerti," ucap Rukia lega.

Namun kelegaan Rukia hanya sekejap saja karena Shirayuki melempar plastik-plastik berisi sampah itu ke tangga begitu saja. Plastik-plastik itu pun melayang lalu menggelinding mulus menuju dasar tangga. Rukia hanya bisa memelototkan mata tidak percaya dengan tubuh bergetar.

"Shirayuki!" seru Rukia murka.

"Oh, di bawah ada orang. Wah... sepertinya aku harus pamit. Jaa nee... Rukia-sama..." ucap wanita itu lalu meletakkan telunjuk tangannya di pelipisnya.

Blup... dalam sekejap, sosok Shirayuki segera berubah menjadi cahaya kecil dan memudar.

"Shirayuki...!" seru Rukia dengan wajah memerah dan asap mengepul dari atas kepalanya.

Kedua jari-jari Rukia bergerak gemas ingin menghajar Shirayuki. Perempatan telah tercetak rapi di kepalanya.

"Oooii..." seru seseorang dari dasar tangga.

Rukia segera menoleh ke asal suara dan mendapati hawa yang tidak enak menguar dari sosok itu. Nada suaranya memang terdengar datar. Namun bila kalian sadar, suara itu penuh kemarahan dan sangat mengerikan.

Bulu-bulu Rukia berdiri seperti bulu-bulu kucing yang terkejut. Apalagi mendapati wajah pucat Sasuke yang kini ternoda oleh sampah dan plastik sampah di hadapan pemuda itu.

"S-ss-sss—aaaa-... suuu—suu... SASUKE!" bisik Rukia yang terpaku dengan peluh yang bercucuran.

Ga-gawat, pikir Rukia. Keringat yang mengucur di tubuh Rukia semakin deras saat pemuda itu meniti anak tangga demi anak tangga menuju puncak tangga dengan wajah dingin yang menakutkan. Rukia mundur dua langkah ke belakang, berencana untuk melarikan diri.

"Lariiii..." seru Rukia lalu berlari.

Namun Sasuke lebih cepat dan cerdas. Ia segera bergegas saat melihat gelagat mencurigakan dari gadis itu dan menarik kerah belakang Rukia yang bersiap-siap mengambil kuda-kuda untuk berlari-lari.

"Mau kemana?" ucap Sasuke di belakang telinga Rukia, yang sontak membuat bulu Rukia kembali berdiri.

"Hwwaaaaa..." jerit Rukia saat merasakan nafas hangat Sasuke di belakangnya, dan tubuhnya terasa lemas seketika.

Tubuh Rukia terhuyung-huyung lalu terjatuh ke lantai. Wajah pucat Rukia berubah menjadi merah padam, membuat Sasuke mengernyitkan alisnya heran.

"Mataku terasa berputar-putar. Itu tadi... terlalu dekat..." ucap Rukia.

"Oiii... kamu tidak mati, kan?!" tanya Sasuke sedikit keras sambil mengguncang bahu gadis itu.

"Itu tadi terlalu dekat," racau Rukia.

"Oooii... apanya yang terlalu dekat?" tanya Sasuke dengan perasaan kesal, meskipun suaranya datar.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah merah Rukia yang polos dan terkesiap saat hati kecilnya berbisik bahwa gadis itu cantik.

Dengan mata terbuka sebelah, Rukia dapat melihat wajah Sasuke yang sangat dekat dengan wajahnya. Mata Rukia terbelalak lebar, membuat Sasuke semakin kebingungan dengan tingkah laku gadis itu.

"Apa... ada yang... salah.. ukh..." Sasuke mengaduh karena gadis itu bangkit tiba-tiba dan menubrukkan kepalanya pada kepalanya.

Sasuke menjauhkan wajahnya dari wajah Rukia dan segera berdiri, sementara wajah merah Rukia sudah mengeluarkan asap tebal dengan tatapan antara marah dan malu. Rukia segera bangkit dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Rukia berdiri sambil berdekap dada dengan angkuh, sementara tubuhnya sudah panas tidak karuan.

"Po-po-pokoknya..." Rukia berusaha menghimpun keberaniannya." Ja-jangan lakukan itu lagi."

"Haah... lakukan apa?" tanya Sasuke linglung.

Rukia segera berbalik menghadap Sasuke ssambil menunjuk wajah pemuda itu.

"Ja-jangan pura-pura deh... itu... itu..."

Ayo katakan sesuatu dengan lancar! Seru inneer Rukia dalam hati.

"I—ituu... ituu..." meskipun begitu, namun pada kenyataannya, Rukia tetap terbata-bata mengucapkannya.

Sasuke semakin mengernyitkan alisnya, namun sebentar kemudian ia dapat menangkap maksud dari perkataan Rukia. Tiba-tiba ia menjadi ingin menggoda kelinci mungil itu.

"Oh, maksudmu yang tadi," ucap Sasuke dengan nada bosan.

"Be-benar... ah... ah..."

"Kamu mau bicara apa?langsung saja..."

"A-aaakkuuu.. kamuuu.."

"Ah, kamu ingat apa yang kita lakukan saat kamu tidak sadarkan diri di toilet waktu itu?"

"To-toilet? Ung..." Rukia berpikir sejenak, memutar memorinya.

Tapi waktu itu kan dia tidak sadarkan diri? Bagaimana ia bisa mengingat kejadian saat ia sadarkan diri?

"Jangan bercanda. Waktu itu aku tidak sadarkan diri. Bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu lakukan... tu-tunggu..." mata Rukia berkedip berulang-ulang.

"Aawwaawaaa...waaa...wa..." Rukia hendak mengatakan sesuatu, namun mulutnya hanya terbuka dan tertutup seperti ikan koi.

Sasuke menghela nafas ringan. Benar-benar polos, pikir Sasuke. Sasuke melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Rukia ang sedang kebingungan. Namun langkahnya di hentikan oleh benda yang mirip dengan Shuriken yang terbuat dari kristal es.

"Haah..." mata Sasuke terbeliak lebar, dan ia segera berbalik dengan cepat.

Zraaaat... Sasuke meringis saat ujung benda tajam mengenai pipinya. Beruntung karena ia dapat menghindarinya sehingga tidak berakibat fatal. Tapi sebagai gantinya ia harus menghindari serangan-serangan mematikan dari Rukia.

"Oooi... aku bercanda..." ucap Sasuke.

Rukia berhenti menyerang, namun masih berdiri dengan gemetar dengan raut wajah antara malu dan marah. Sasuke menghela nafas lega karena serangan itu berhenti. Namun pada detik berikutnya Rukia telah berlari ke arahnya dengan pedang kristal es-nya.

"Hhhaaaaaaa..."

Paaapp... Sasuke menahan tepi pedang itu dengan kedua tangannya. Rukia menambahkan kekuatannya, namun masih kalah kuat dari Sasuke sehingga serangannya terpental. Dengan nafas terengah-engah, Rukia kembali menyerang yang membuat Sasuke kewalahan menghindari satu demi satu serangan Rukia, hingga akhirnya ia terpojok di dinding.

"Cih... sial," bisik Sasuke sembari mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan.

Zraaakkk... pedang raksasa Rukia menancap di dinding tepat di sebelah wajah Sasuke. Lagi-lagi beruntung tadi Sasuke sempat menghindarinya. Rukia mengerahkan kedua tenaganya untuk menarik pedang es raksasa itu.

"Cih, apa boleh buat. Aku akan memakai cara ini untuk menghentikanmu," ucap Sasuke sembari menarik lengan Rukia.

"?" Rukia menatap Sasuke penuh tanya.

Dan tanpa banyak bicara, ia menghapus jarak antara keduanya dan bibir mereka bertemu. Sangat singkat, namun mampu membuat Rukia tidak berkutik sama sekali. Sasuke segera melepaskan ciumannya dengan wajah sedikit memerah lalu meninggalkan Rukia yang masih terpaku di tempatnya.

"Hah!" seolah tersengat oleh listrik, Rukia tersentak lalu menatap punggung Sasuke yang menjauh.

"Sasuke... Bakaaaaaaa...!" umpat Rukia dengan keras, sementara wajahnya benar-benar semerah tomat masak."Itu... ciuman pertamaku...," lanjutnya lirih.

Sasuke hanya melangkah dengan wajah merona.

"Akhirnya... aku terpaksa melakukannya juga," ucap Sasuke sembari menepuk dahinya lalu tangannya turun ke bibirnya.

Bayangan saat ia berciuman tadi terbayang kembali dan membuat wajahnya semakin memerah.

"Basah... dan lembut..." bisik Sasuke dengan wajah sedikit melembut.

Sementara Rukia terus meneriakkan sumpah serapahnya pada Sasuke yang mulai menjauh.

Rukia terduduk lunglai di tempat duduknya. Hari ini adalah hari pemilihan Ketua OSIS yang baru, dan sudah satu minggu lebih sejak insiden itu. Namun Rukia tidak dapat melupakan adegan menyebalkan –baginya—itu. Rukia menggosok bibirnya keras-keras dengan kedua tangannya, tidak menyadari bahwa ia tengah diawasi oleh Sasuke yang kini menghela nafas berat.

"Ada apa, Rukia-chan?" tanya Momo yang tanpa sengaja melihat tingkah aneh Rukia.

"Uhuuk..." Rukia tersedak oleh air liurnya sendiri.

"Ti-tidak apa-apa," sahut Rukia singkat dan sedikit kasar.

Momo mengernyitkan keningnya melihat sikap yang tidak biasa dari gadis itu. Ia hendak menanyakan hal yang mengganggunya itu, namun ia mengurungkan niatnya karena Tatsuki mendekati mereka.

"Ayo kita pergi, Rukia-chan. Sebentar lagi akan dimulai," ucap Tatsuki dengan kardus di tangannya.

"Oh, ya. Sebentar," ucap Rukia dengan sedikit enggan.

"Oh ya, ngomong-ngomong sainganmu cukup berat, lho," ucap Tatsuki sembari melangkah lebih dulu.

"Ah, siapa?" tanya Rukia, meskipun ia tidak merasa penasaran.

"Uchiha," jawab Tatsuki.

"Oh, Uchi-... Apa? Uchiha? Maksudnya Sasuke?!"

"Benar." Tatsuki menjentikan jarinya.

"Apa? Sasuke!" teriak Rukia seperti tersambar oleh petir.

"Hai-hai... jangan terlalu serius begitu, dong!" ucap Tatsuki sweatdrop.

"Hah, jelas aku akan kalah. Dia punya banyak Fans sih..." ucap Rukia.

"Tapi, jika aku bisa jadi ketua OSIS, aku bisa menyalahgunakan kekuasaan itu, kan? Eh, contohnya aku bisa menyuruh Sasuke sesukaku, ya?!" ucap Rukia sambil meletakkan telunjuknya di dagu.

"Oii, apa maksudmu "menyalahgunakan kekuasaan", hah?" ucap Tatsuki semakin sweatdrops.

"Aku tahu kalian tidak begitu akrab, tapi tidak sampai seperti itu juga, kan?" lanjut Tatsuki.

"Yosh! Sudah aku putuskan. Aku harus bisa mengalahkannya!" seru Rukia sembari mengacungkan kepalanya ke atas dengan berapi-api.

"Percuma. Aku sama sekali tidak didengar," ucap Tatsuki menghela nafas kesal.

Pemilihan Ketua OSIS berjalan dengan lancar dan sukses. Tinggal menghitung hasil akhir, dan itu membuat kepercayaan dirinya luntur. Padahal saat pidato untuk mengenalkan visi dan misinya tadi, ia begitu semangat dan berapi-api. Bahkan ia menghiraukan pencatat waktu yang mengatakan waktu perkenalannya selesai. Ada lima kandidat lain sebagai calon Ketua dan dia satu-satunya anak perempuan di lingkup itu. Rukia duduk dengan gelisah, sehingga ia berulang kali meminta izin karena untuk pergi ke toilet.

"Tadi kamu pilih siapa?" saat hendak keluar dari toilet, tanpa sengaja Rukia menangkap pembicaraan beberapa orang siswi di toilet.

"Ah, aku pilih anak baru itu. Aku yakin yang memilih mungkin hanya aku," sahut yang lain.

Rukia menghentikan langkah untuk keluar dari dalam kamar mandi dan bertekat mendengarkan percakapan mereka hingga usai.

"Ah, aku juga pilih anak baru itu. Aku ingin lihat apa dia bisa bertanggung jawab. Ah, lawannya tuan Sasuke, kan? Dia pasti kalah, kan?" ucap yang lain.

Rukia mengeratkan pegangannya pada handle pintu saat mendengar setidaknya –5—orang siswi di ruangan itu, yang meremehkannya.

"Kyaaa... tuan Sasuke..." ucap teman-temannya yang lain dengan suara yang ceria.

"Huh," Rukia segera keluar dari kamar mandi dan membuat para siswi itu kelimpungan saat melihat orang yang mereka bicarakan ada di sana.

Rukia menatap mereka dengan tatapan tajam dan dingin saat mereka melewati segerombolan siswi itu, dibalas dengan tatapan meremehkan dari gadis berambut pirang pucat. Rukia segera berlalu meninggalkan kamar mandi dengan sedikit kesal sehingga ia menutup pintu toilet dengan kasar. Rukia berhenti sejenak di depan pintu toilet dengan tatapan sendu.

"Ukh... mereka. Dasar gadis-gadis menyebalkan..." rutuk Rukia dalam hati sambil melangkah dengan menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.

Di sepanjang perjalanan menuju ruang pemilihan OSIS, Rukia melangkah dengan menghentakan kaki-kakinya dengan kesal. Ingin sekali ia menginjak-injak wajah gadis-gadis tadi dan memakannya mentah-mentah. Yah, ia akan memakan gadis-gadis tadi jika dia pemakan sesama. Tapi sayangnya ia normal, jadi dia tidak akan melakukannya. Sesampainya di ruang pemilihan, Rukia disambut dengan tatapan aneh dari tatapan teman-temannya.

"Darimana saja, Rukia-chan?" tanya Momo dengan cemas.

"Ehheehee... maaf aku terlalu lama di toilet. Ada sedikit masalah," ucap Rukia dengan wajah innocent andalannya.

"Kalian seri," ucap Tatsuki sambil berdiri dengan serius dan gigi gemeletuk.

"Eh?"

"Kalian seri. Kamu dan Sasuke! Sekarang harapan terakhir kita bergantung pada gadis berambut merah muda itu," ucap Tatsuki.

"Haaahhh? Gadis berambut merah muda?" Rukia menoleh lurus pada gadis berambut merah muda yang kini tengah melangkah meninggalkan podium.

"Sakura Haruno, gadis paling populer di sekolah," ucap Tatsuki.

"Sakura Haruno?!"

"Yah, aku dengar dia juga menyukai Sasuke. Jadi sepertinya peluang kita sangat tipis..." ucap Tatsuki.

Panitia pemilihan mulai membacakan selembar kertas di tangannya, sementara Rukia fokus pada gadis berambut merah muda yang kini tengah duduk dengan anggun di tempat yang berseberangan dari tempatnya berdiri. Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu, membuat Rukia segera memalingkan wajahnya.

"Aku tidak menyangka gadis itu mampu menyaingi Sasuke-kun. Padahal Sasuke begitu terkenal, bukan?" tiba-tiba Rukia menangkap pembicaraan seorang pemuda berambut pirang pada salah seorang temannya.

"Benar. Gadis pertama dalam kelompok kita," ucap seorang temannya, pemuda berambut pirang dan sedikit gondrong.

"Tapi bukan itu tujuan kita merekomendasikannya, kan?" sahut pemuda yang lain, seorang pemuda berwajah cantik yang kini menatap lurus pada podium.

"Yah, dia tahu tentang Trituradora Muñeca. Lagipula kita butuh orang yang cukup kuat untuk melindungi kita dari manusia-manusia boneka itu. Dan aku merasa bahwa Sasuke dan gadis itu adalah pasangan yang pantas," ucap seorang pemuda yang baru muncul belakangan.

"Oh, sudah dibacakan!" seru pemuda cantik itu.

Terasa semua berjalan sangat lamban, Rukia dapat mendengar namanya disebut-sebut. Dan ia segera merasakan guncangan yang kuat pada pundaknya.

"Rukia-chan! Kamu jadi," seru Tatsuki riang.

Dengan wajah linglung, Rukia memiringkan kepalanya.

"Apa?" tanya Rukia perlahan.

"Hebat Rukia-chan!" seru teman-temannya sambil memeluk Rukia.

"Tidak aku sangka gadis itu akan memilihmu. Padahal dia sangat terobsesi pada Sasuke," ucap Momo sambil meloncat kegirangan.

"Uwwaaah..."

"Haaa..." mulut Rukia melengkung, dari kebingungan menjadi kebahagiaan.

"Selamat..." gadis-gadis itu segera berebut untuk memeluk Rukia.

"Selamat untuk Rukia Kuchiki. Silahkan naik ke atas podium," ucap mantan Ketua OSIS itu.

"Let's go, Rukia. Ganbatte...," ucap teman-temannya sembari mendorong punggung Rukia.

"Eh, eh..."

Rukia segera melangkah menuju podium. Saat akan menaiki panggung, Rukia berhenti sejenak lalu menghela nafas sebanyak-banyaknya, berusaha mengumpulkan keberaniannya. Sementara dari kejauhan, sepasang mata biru tengah mengawasinya.

"Aku tidak menyangka kamu akan memilih gadis itu. Apa alasanmu, Sakura?" tiba-tiba seorang gadis berambut pirang menepuk pundaknya.

"Kamu juga," sahut Rukia.

"Heh, jangan lupakan bahwa kita ini rival, Sakura," ucap gadis berambut pirang pucat itu lalu duduk di sebelah Sakura.

"Yah, Ino... gadis itu berbeda dari gadis kebanyakan. Sasuke-kun selalu ingin jadi yang nomor satu. Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan keduanya berdampingan, meskipun hanya sebagai Ketua dan Wakilnya. Aku yakin dia akan mengundurkan diri karena jadi yang kedua," ucap Sakura dengan tatapan lurus ke depan.

"Sangat mengerikan," komentar Ino.

Keduanya lantas terdiam sembari mengawasi si gadis mungil Rukia yang kini tengah berrpidato dengan berapi-api. Sementara Sasuke yang duduk tidak jauh dari sana hanya mengulum senyum samar, tidak bisa disadari oleh orang lain.

"Kalah. Jadi Ketua OSIS kita seorang gadis kecil, ya?!" ucap segerombolan pemuda tadi.

"Ingat, kita harus memilih anggota baru dengan teliti. Kita sudah tahu kemampuan gadis itu. Dan dia patut untuk menjadi kandidat sebagai Ketua OSIS," ucap pemuda berambut perak itu.

"Kita ini Dewan sekolah. Biarkan mereka yang menemukan anggota mereka. Oh, aku teringat perjanjian kita dengan Sasuke waktu itu," ucap yang lain.

"Hm?" semua menoleh pada pemuda berambut biru yang baru saja mengatakan hal itu.

"Dia akan mundur, bukan? Sayang sekali dia menjadi yang nomor dua," lanjut pemuda itu.

"Cih, kamu memang benar," ucap pemuda berwajah cantik itu sembari duduk sambil bertopang dagu.

"Kakuto, temui Sasuke. Aku ingin bicara dengannya," perintah pemuda bertudung yang sedari tadi terus diam pada pemuda berambut perak itu.

"Suruh dia untuk menemuiku segera," lanjutnya lalu melengggang meninggalkan gedung itu.

"Baik," sahut pemuda itu.

Pemuda itu lantas melangkah dengan terburu-buru untuk menemui Sasuke. Sasuke yang melihat pemuda itu dari kejauhan segera turun dari panggung. Setelah keduanya saling berhadapan, pemuda itu lantas berbisik pada Sasuke.

"Cih, seenaknya saja," umpat Sasuke kesal karena perintah itu.

Lalu dengan setengah malas, pemuda itu mengikuti Kakuto yang melangkah lebih dulu. Di sepanjang perjalanan, keduanya tidak saling bicara. Terutama karena sikap pendiam Sasuke. Tempat yang mereka tuju ruang Dewan Sekolah.

"Dia menunggumu di sini,"ucap Kakuto lalu mempersilahkan Sasuke masuk.

Sasuke masuk dengan sedikit malas, dan mendapati bahwa seluruh Dewan Sekolah sudah berkumpul di tempat itu. semua segera mengalihkan pandangan mereka pada sosok Sasuke yang kini duduk di ujung meja. Sasuke melayangkan tatapan yang paling dingin pada sosok yang berada di seberangnya. Pemuda berambut biru itu hanya menyeringai dengan tatapan meremehkan.

"Sebelum kalian bertanya, aku menarik ucapanku waktu itu," ucap Sasuke tegas dan sukses membuat semua terkejut.

"Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya pemuda bertudung yang duduk di ujung meja.

Sasuke tidak menjawab dan lebih memilih untuk melihat ke arah pintu, menghindari tatapan para Dewan.

"Oh, kamu tertarik pada gadis itu, bukan?!" ucap seorang yang duduk di sebelah kanan pemuda bertudung itu, terdengar feminim namun angkuh.

Mata kiri Sasuke berubah merah dengan cepat lalu ia menatap Dewan yang mengatakan hal itu. Seringaian menghiasi wajah orang itu. Tujuh di antara Dewan Sekolah itu mengenakan tudung, sementara delapan di antaranya tidak mengenakan tudung kepala. Namun di beberapa bagian tubuh mereka terdapat angka. Sasuke mengenal nama mereka semua, namun ia tidak mengetahui wajah ke tujuh Dewan Sekolah yang bertudung itu. Hanya nama mereka. Ia tidak tahu marga-marga mereka.

Seorang Dewan bertudung di dekat Sasuke bersiul rendah.

"Sepertinya pembicaraan kita sama sekali tidak berguna. Jadi aku akan pergi," ucap Sasuke lalu bangkit dan melangkah.

"Kamu sangat mirip dengan kakakmu ya, Sasuke-kun..." ucap Dewan Sekolah bernomor enam.

Sasuke menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Si Nomor Enam,

"Jangan pernah membandingkan aku dengan Itachi... atau... kamu akan menyesal!" ancam Sasuke dengan mata menyipit, lalu kembali melangkah meninggalkan ruangan itu.

Sasuke menghela nafas kesal dan berjalan kembali ke ruang pemilihan. Di sepanjang perjalanan, beberapa gadis berbisik-bisik dengan menatapnya memuja, membuat Sasuke risih. Sasuke mempercepat langkahnya menuju ruang pemilihan dan ia berpapasan dengan Rukia yang mulai meninggalkan ruang bersama pemilihan bersama teman-temannya. Rukia segera menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Sasuke, bersamaan dengan Sasuke yang berbalik menatap Rukia. Keduanya bertemu pandang, dan sontak wajah Rukia memerah seperti tomat karena bayangan kemarin melintas benaknya. Mulut Rukia terbuka dan tertutup hendak mengeluarkan kata-kata, namun tidak ada yang keluar.

"Se-selamat. Ak- aku harap kita bisa bekerjasama. Itu saja," ucap Rukia dengan cepat lalu berbalik meninggalkan Sasuke yang terpaku di tempatnya.

Sasuke menggedikkan bahu, lalu kembali melangkah masuk ke ruangan pemilihan. Namun ia masih sempat menatap punggung Rukia yang menjauh bersama teman-temannya. Sementara Rukia yang sedang diperhatikannya tengah asyik berbincang-bincang sambil sesekali tertawa. Cahaya matahari yang menerobos masuk membuat gadis itu seolah bersinar di mata Sasuke.