We are The Resistance by Inoyamakiori
Disclaimer : Fairy Tail milik Hiro Mashima tapi ide cerita milik inoyamakiori.
Chapter 3 : First Encounter
"Jadi.. Ini sekolahnya?" Lucy Heartfillia menunjuk bangunan di depannya dengan wajah kagum dan tidak percaya. Teman-temannya juga memiliki ekspresi yang sama di wajah mereka.
Lor Cache Academy adalah sekolah paling top dan bagus se-Fiore yang bertempatkan di Crocus, ibukota Fiore. Sekolah SMP dan SMA itu memiliki 3 bangunan utama dan beberapa bangunan kecil di sekitarnya. Gedung SMP berada di kiri, gedung SMA di kanan dan gedung tengah difungsikan sebagai GOR, kantin, perpustakaan, tempat ekstrakulikuler, aula besar, lapangan, kolam renang dan tempat rapat para OSIS. Sedangkan bangunan di sekitarnya adalah gudang, lapangan indoor dan tempat festival sekolah outdoor.
Selain tempatnya yang stratergis dan bangunannya yang mewah, akademik di sini sangat bagus dengan para muridnya sering mendapatkan penghargaan internasional maupun nasional walau mungkin Erza dan Mira akan membawakan ratusan piala jika bergabung di sekolah ini.
"Kurasa begitu.. Aku juga tak menyangka sekolah saja sebegini bagusnya." Kata Juvia juga kagum. Juvia memang mempunyai kebiasaan untuk menjaga semua tempat dan barangnya simpel dan minimalis... kecuali kamarnya sendiri.
"Namanya juga sekolah elit, tidak salah Jiemma memasukan anaknya ke sekolah ini," Erza tersenyum, "Tunggu apa lagi? Ayo masuk! Kita seperti apa saja berdiri di depan gerbang dan nggak masuk"
"Tunggu Erza! A-aku agak malu memakai seragam ini.." kata Lucy perlahan, menarik-narik roknya yang pendek agar lebih menutupi kakinya.
Seragam perempuan disini terdiri atas atasan kemeja putih tulang lengan panjang yang dipadukan rompi hitam dan dasi merah kecil. Bawahan mereka adalah rok merah bercorak kotak-kotak di atas lutut. Tapi berkat Levy yang tidak ikut dalam misi ini, seragam mereka telah di modifikasi untuk menyimpan senjata mereka. Juvia saja yang hanya menggunakan sarung tangan pinknya, dan jujur saja itu agak mencurigakan.
"Malu bagaimana?" kata Erza menyinggungan senyum nakal. Lucy memerah dan terus menarik-narik ujung roknya.
"Paling itu tuh.. Yang besar itu loh.." Goda Mira menunjuk-nunjuk dada Lucy yang memang tergolong besar.
"ERZA MIRAA!" teriak Lucy yang bisa membuat kaca-kaca pecah. Untungnya mereka masuk waktu sekolah sudah di mulai, jadi tidak membuat siswa-siswa tuli.
"Baiklah berhenti membicarakan dada Lucy (Lucy : Juviaaa!), ayo kita masuk saja."
Setelah 30 menit memutar-mutari sekolah ini, para Rebellem Sole akhirnya sampai di depan kantor kepala sekolah. Mereka pun masuk tapi tidak menemukan siapa-siapa di dalamnya.
"Aku disini, men." Sebuah suara mengagetkan mereka yang ternyata berasal dari kakek tua yang bisa dibilang.. sangat pendek dan bersinar. Keempatnya menatap dia selama beberapa saat. Si kakek bersinar tersenyum sambil berputar-putar.
"ALIENOS!"
"Eh? Men. Kalian bilang apa? Men." tanya si kakek tetap tersenyum aneh. Memang benar-benar aneh.
"T-tidak... Kami disini untuk bertemu kepala sekolah." Jawab Mira masih shock melihat sang kakek.
"Kalian berada di depannya sekarang, Men! Aku Ichiya, Men! Kepala sekolah disini, Men!" kata Ichiya, mengendus-ngendus Erza yang langsung tepar terkena tendangan maut sang Titania.
"Erza! Ipse caput scholam!" teriak Lucy yang langsung membantu Ichiya berdiri.
"Thank You, Men." Ichiya bangkit lagi dan menaburkan banyak parfum dari botolnya ke lantai. "Ada yang bisa aku bantu, Men?"
"Kami siswa baru disini, pindahan dari Magnolia. Uang muka dan uang sekolah sudah di transfer ke rekening sekolah. Rapot dan surat lainnya juga sudah di kirim. Tolong tunjukan daftar pelajaran dan kelas kami." Kata Juvia selayaknya siswa baik dan berprestasi. Ichiya lalu mengeluarkan kertas dari balik rompinya dan membagikannya ke keempatnya.
Mereka dengan cepat berterima kasih kepada Ichiya walau Erza kelihatannya sangat tidak tulus dan keluar dari ruang KepSek. Mereka semua mengaku berumur 17 sehingga dapat memantau Sting dan Rogue yang juga kelas SMA 2 dan Lumen Luteo yang rasanya juga di angkatan yang sama.
"Aku dan Juvia di kelas 11E!" seru Mira girang. Ia dari 3 hari yang lalu sudah sangat antusias menghadapi hari ini dan hari berikutnya. Juvia tersenyum.
"Wah, kalian berarti di lantai 2. Aku dan Lucy di 11C yang di lantai 3." Kata Erza yang senang dapat sekelas dengan sahabatnya. Mira dan Juvia juga sahabatnya, tapi ia dan Lucy memiliki sejarah yang panjang sekali dan membuat mereka sangat dekat. Ia juga salah satu alasan Lucy bergabung di Rebellem Sole.
"Jadi tidak ada yang sekelas dengan Sting atau Rogue. Mereka di kelas 11A, di lantai 1. Duh, kenapa susunan kelas di sekolah ini aneh sih?!" seru Lucy frustasi.
"Tidak apalah Lu. Kita kan bisa ketemu di kantin atau tempat lainnya. Tapi yang membuatku khawatir, di kelas mana ya Lumen Luteo?" Keempatnya saling pandang, lalu mengangkat bahu.
"Selamat siang, anak-anak!" Suara khas Ms. Kinana membahana di ruang kelas yang besar itu.
"Ms, kita sudah remaja!" salah satu dari sekian banyak murid itu berteriak dan membuat kelas gaduh untuk sementara.
"Tenang, anak-anak. Sebelum kita mulai pelajaran biologinya, kita kedatangan 2 murid baru lagi. Memang hari ini banyak murid baru ya? Sudah ada Gray Fullbuster dan Laxus Dreyar, sekarang ketambahan lagi." Murid-murid tertawa. Juga banyak gadis menoleh sebentar ke arah 2 laki-laki yang ganteng dan keren. Gray mengedipkan satu mata dan Laxus hanya tersenyum keren.
"AAA! GRAY-SAMA MENGEDIP KE AKU!"
"LAXUS-SAMA! KAU SANGAT KEKAR DAN KEREN!"
"JADIKAN AKU PACARMU, GRAY-SAMA!"
"LAXUS-SAMA LIHAT KEMARI!"
Gadis-gadis yang semuanya terpikat kepada 2 lelaki itu menjerit-jerit. Bahkan ada yang sampai lompat-lompat di meja.
"Aku tak mengira menjadi murid lelaki bisa seuntung ini." Bisik Gray ke Laxus yang ada di seberangnya. Laxus hanya mendesah dan mengacak-ngacak rambut pirangnya.
"Ya, sangat beruntung jika idola mereka tidak memakai baju sekarang."
"AAA! Kapan ini terjadi?!" seru Gray, mencari-cari bajunya sekarang dan membuat gadis-gadis makin menjadi-jadi.
"Diam." Suara Ms. Kinana berubah dari lembut menjadi seperti ular dan sukses membuat kelas diam seperti kuburan. "Oke, sekarang saya akan panggilkan murid baru kita!"
Ms. Kinana pun keluar kelas dan kembali dengan membawa 2 gadis yang sangat cantik dan elegan di belakangnya. Gray dan Laxus seketika duduk tegak di kursi mereka dan menatap kedua gadis dengan tatapan serius.
"Silahkan perkenalkan diri kalian!"
"Mirajane Strauss." Mira dulu yang memulai dengan perkenalan yang sangat singkat dan terkesan kaku. Mata birunya menyapu seluruh siswa di kelas termasuk mata Gray dan Laxus. Ia menatap Laxus sejenak (yang juga menatapnya) dan tersenyum senyuman khasnya, senyuman manis monster. Laxus menyeringai. 'Rebellem Sole..'
"Juvia Lockser. Kami pindahan dari Magnolia." Kata Juvia dingin, terus menatap Gray yang juga menatapnya. Gray menyeringai kejam saat Juvia menampakkan raut wajah kaget dan kesal.
"Baiklah! Mirajane kau bisa duduk di sebelah Max Alors dan Juvia di sebelah Droy!"
"Tunggu!" seru Laxus tiba-tiba. Seluruh mata disana menatapnya, termasuk Mira dan Juvia yang menatapnya dan berharap listrik dapat keluar dari mata mereka dan membunuh Laxus dan Gray.
"Ada apa, Laxus?"
"Miss, kami kan sama-sama anak baru dan saling tidak mengenal teman-teman sekelas, jadi bagaimana jika Mirajane duduk di sebelahku dan Juvia di sebelah Gray? Guru juga jadi lebih mudah menerangkan pelajaran kami yang ketinggalan. Kasihan anak-anak lainnya harus menjelaskan kepada kami, iya kan?" Mata Juvia dan Mira membesar, shock dan kesal atas perkataan 2 dari Lumen Luteo.
"Itu saran yang cukup bagus.. Tapi apakah Mira dan Juvia bersedia?" tanya Ms. Kinana menatap kedua gadis yang masih shock.
"K-kami.."
"DUDUKLAH BERSAMA KAMI! JUVIA!" teriak Gray kesal. Para gadis-gadis yang suka padanya langsung patah hati dan menangis di pojokan, sementara Juvia hanya melongo.
"Baiklah." Kata Mira agak terpaksa. Laxus dan Gray menatap satu sama lain dengan perasaan yang sama di hati mereka.
Kemenangan.
'Dimana Lucy?! Tadi katanya ke toilet tapi belum kembali juga! Dan aku kesasar lagi! Dimana Lucy dan kelasnya?!' Pikir Erza frustasi. Rasanya dia ingin mengeluarkan kapaknya dan membelah sekolah ini sampai ia menemukan Lucy.
Erza terus berjalan di lorong-lorong yang kelihatannya lorong kelas 10, sampai suatu saat ia merasakan seseorang di belakangnya. Gadis cantik itu menoleh ke belakang dan menemukan seorang pria lebih tua dari dia yang tersenyum ke arahnya.
"Titania."
Lucy sudah keluar dari toilet sekitar 10 menit yang lalu dan tertunduk lesu di samping pintu kelas 12. Ia belum menemukan Erza ataupun yang lainnya. 'Kau juga bodoh Lucy! Kenapa pakai ke toilet segala?! Jadinya kan kesasar!' sang gadis menjambak-jambak rambutnya sendiri dan berusaha berpikir caranya keluar dari bagian gedung besar ini dan menemukan Erza atau kelasnya!
"Lucy..?" Merasa namanya dipanggil, Lucy menoleh ke arah suara dan melihat sosok yang ia sangat kenal dengan baik.
"Natsu?!"
To be Continued...
Thanks for reading and please review!
