Yeahh karena hari ini aku ulang tahun, jadi aku post kelanjutannya hari ini juga~
ENJOY GUYS!
Last section on part 2 :
["Yang membuat jantungku berdebar cepat, membuatku senang seketika itu adalah kau hyung" ucap jimin.
DEG
'Andwae, dia mencintaiku' batin suga terkejut mendengarnya.]
Part 3!
"N-ne?"
"Sepertinya aku mencintaimu hyung, kau membuatku nyaman" ucap jimin.
Entah kenapa, suga tidak menyukai bahwa perasaannya dibalas. Apa yang harus ia lakukan? Mereka berstatus saudara. Suga terdiam.
"H-hyung?" Tanya jimin.
"Kita bersaudara" ucap suga judes.
"Tapi aku mencintaimu hyung"
'Aku juga jimin' batin suga.
"Kita pulang ya?" Tanya suga.
"W-wae?" Tanya jimin.
Suga langsung berdiri dan menuju ke parkiran dan disusul oleh jimin. Jimin merasakan sedih tetapi ia tidak menangis. Ia sendiri belum memahami apa yang ia rasakan saat ini. Diperjalanan pulang, keadaannya berbeda. Sunyi. Jimin tidak berani berbicara pada suga. Hyungnya terlihat sangat menyeramkan sekarang. Jimin memilih untuk diam. Saat sampai dirumah, suga langsung masuk ke kamar tanpa mengatakan sesuatu. Jiminpun akhirnya ikut masuk ke kamar, sebenarnya ia ingin bercerita pada ibu tetapi ibunya sudah tidur maka dari itu jimin memilih langsung tidur.
Keesokannya, jimin terbangun. Ia keluar kamar dan melihat ibunya sedang membaca salah satu novel. Ya ibunya memang sangat menggemari novel.
"Eomma" ucap jimin dan menguap.
"Ne jimin" ucap ibu melihat jimin.
Jiminpun duduk disamping ibunya.
"Eomma apa tidak memasak hari ini?" Tanya jimin.
"Sudah, pekerjaan eomma sudah selesai"
"Ne? Mengapa cepat sekali?" Tanya jimin yang berniat membantu ibunya memasak.
"Kau bangun jam setengah 9 hari ini, biasanya lebih pagi. Apa kau kelelahan akibat jalan-jalan kemaren jimin?"
"Tidak eomma, kemaren aku menghabiskan waktu bersama suga hyung. Mengasikkan" ucap jimin.
Ibupun tersenyum menatap jimin.
"Ahh iya ibu lupa memberitahumu, eomma akan pergi melihat kondisi appamu selama satu minggu. Dia kangen pada eomma, jadi bisakah eomma meninggalkan kalian berdua dirumah?" Tanya ibu.
"Tentu saja eomma! Aku kan sudah besar, suga hyung pasti merawatku dengan baik" ucap jimin tersenyum.
"Baiklah" ucap ibu.
"Kapan eomma akan pergi?" Tanya jimin.
"Sebentar lagi eomma akan ke bandara"
"Mendadak sekali eomma, kapan eomma menyiapkan barang-barang eomma?" Tanya jimin bingung.
"Eomma sudah merencanakannya dari kemaren, tetapi kau kan jalan-jalan bersama suga. Eomma sudah menyiapkannya dari kemaren sebelum tidur" ucap ibu.
"Hmm baiklah eomma, eomma harus jaga diri baik-baik ne?" Ucap jimin.
"Tentu saja" ucap ibu tersenyum.
"Bangunkanlah suga, eomma ingin kita sarapan bersama sebelum eomma berangkat" ucap ibu.
Jiminpun menurut dan masuk ke kamar suga. Seketika ia mengingat kejadian tadi malam. Ia menjadi takut sekarang.
"Hyung?" Jimin menggoyangkan badan suga yang masih tertidur pulas.
Ia menggoyangkan berkali-kali hingga suga membuka matanya perlahan. Ia menatap jimin dengan tatapan yang tajam. Jimin menunduk perlahan.
"Apa?" Tanya suga.
"Eomma mau pergi melihat kondisi appa dan eomma meminta hyung bangun untuk sarapan bersama" ucap jimin.
"Ya keluarlah" ucap suga yang mendudukan dirinya diatas kasur.
Jiminpun dengan menunduk lesu keluar dari kamar suga. Ia menatap sang ibu.
"Waeyo? Mengapa wajahmu seperti itu?" Tanya ibu menatap aneh pada jimin.
"Kajja makan eomma, hyung sudah bangun" ucap jimin ceria lagi.
Sang ibu dibuat tambah bingung tetapi tidak terlalu memikirkannya. Jadi ia dan jimin menuju ruang makan disusul oleh suga yang baru mencuci wajahnya.
"Eomma mau kemana?" Tanya suga.
"Ingin melihat kondisi appamu" ucap ibu.
"Berapa lama pergi?" Tanya suga.
"Sekitar seminggu, entahlah mungkin bisa lebih atau kurang. Jagalah adikmu dengan benar. Jangan terlalu fokus mengerjakan tugas. Jangan berkelahi terus" ucap ibu.
Suga hanya mengangguk-angguk. Merekapun makan bersama dalam diam. Seusai makan ibu langsung mengeluarkan tas yang akan dibawanya.
"Eomma jangan pergi lama-lama ya?" Ucap jimin yang terlihat sedih.
"Ne jagalah jimin baik-baik" ucap ibu pada suga yang hanya mengangguk.
"Hati-hati eomma" ucap suga.
Ibupun pergi setelah taksi yang ia pesan tiba. Jimin terlihat sedih sedangkan suga biasa saja. Ibunya memang sering melihat kondisi ayahnya jadi ia sering pergi selama satu minggu bahkan lebih ditempat kediaman appa.
"Huh jadi tambah sepi" ucap jimin.
Suga masuk lagi ke kamarnya membuat jimin tambah sedih. Jiminpun ikut masuk ke kamar suga dan melihat suga yang sedang mengeluarkan bukunya.
"Hyung?"
"Mm?"
"Hyung marah sama jimin?"
Suga diam.
"Hyung?"
"Keluarlah" ucap suga.
"W-wae?" Tanya jimin.
"Kau menggangguku" ucap suga.
"T-tapi hyung kan kemaren bilang jimin boleh diam dikamarmu hyung" ucap jimin.
"Kau sungguh berisik. Aku benar-benar terganggu akan suaramu"
DEG
Jimin diam. Matanya berkaca-kaca. Ia sudah biasa dikatakan pengganggu oleh suga dan ia menganggap biasa saja karena jimin memang orangnya tidak cepat memasukkan ke hati, tetapi entah kenapa kali ini omongan dari hyungnya itu menyakiti hatinya.
"Ne aku akan berhenti berisik. Hyung tidak akan stress lagi." ucap jimin pelan dan keluar dari kamar suga.
Suga sedih. Ia sebenarnya tidak ingin menyakiti jimin. Tetapi ia juga tidak ingin jimin mencintainya. Suga memilih diam dan lanjut belajar. Sedangkan jimin yang sekarang berada dikamarnya sendiri menangis. Entah karena kejadian barusan atau kejadian tadi malam.
"Apa aku benar mencintai suga hyung? Mengapa rasanya sakit" ucap jimin terisak pelan tidak ingin hyungnya mendengar bahwa dia menangis.
Ia memeluk Jisu dengan erat.
"Apa yang harus kulakukan? Hh ini sangat membosankan" ucap jimin mengelap air matanya sendiri.
"Seminggu tanpa ibu dan sepertinya tanpa suga hyung pasti akan sangat membosankan" ucap jimin cemberut.
Ia sudah berhenti nangis dan keluar untuk menonton televisi dengan cemberut. Moodnya sedang turun. Setelah beberapa lama ia menonton, jiminpun memilih untuk berjalan-jalan menuju taman dekat rumahnya. Ia hanya berjalan mengelilingi taman. Setelah capek, ia baru duduk pada salah satu kursi berwarna coklat di taman.
"Kau dari tadi keliling, untuk apa?" Tanya namja yang duduk di samping jimin.
Jiminpun menoleh.
"Kau berbicara padaku?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Namja tersebut mengangguk.
"Hanya kau yang ada didekatku" ucap namja tersebut dan terkekeh.
"Ah aku hanya bosan" ucap jimin.
"Apa kau tidak mempunyai teman?"
"Aku jarang bermain dengan temanku, biasanya aku bermain dengan hyungku" ucap jimin tersenyum.
"Lalu kemana hyungmu?" Tanyanya.
"Dia sedang sibuk" ucap jimin.
"Ahh begitu" ucap namja tersebut.
"Apa kau tinggal didaerah sini?" Tanya jimin menatap namja tersebut.
"Ne" ucap namja tersebut.
"Aku jarang keluar rumah, jadi aku tidak terlalu mengenal warga disini" ucap jimin
"Taehyung. Kim taehyung imnida" ucap namja tersebut tersenyum.
"Ahh ne, park jimin" ucap jimin.
"Kau bisa memanggilku V" ucapnya.
"Ne? V?" Tanya jimin.
"Teman-teman disekolahku sering memanggilku dengan huruf V karena aku selalu berpose peace saat berfoto" ucapnya terkekeh pelan.
"Jinja? Wahh" ucap jimin.
"Sepertinya aku harus pulang, ini sudah lumayan siang. Apa kau ingin berkunjung ke rumahku?" Tanya namja bernama V tersebut menatap jimin.
"Ahh tidak, aku masih ingin disini" ucap jimin tersenyum.
"Rumahmu dimana?" Tanya V.
"Dua blok dari sini nomor 6" ucap jimin.
"Aku akan bermain kerumahmu nanti, aku juga sering kesepian" ucap V.
"Tentu saja" ucap jimin bersemangat.
"Kalau begitu, aku pamit dulu" ucap V dan melambaikan tangannya lalu pergi.
Jimin tetap duduk di kursi tersebut. Ia memperhatikan sekelilingnya. Taman sudah mulai sepi karena matahari semakin memanaskan cahanya. Hanya tersisa beberapa anak kecil disana. Jiminpun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia berjalan lesu karena rasa bosan kembali menyerangnya. Sampai dirumah, ia menghempaskan badannya ke sofa dan memilih untuk tidur.
Jimin terbangun karena suara berisik yang mengganggu acara tidurnya. Ia bangun dan mencari suara berisik tersebut yang datang dari arah dapur. Iapun segera menuju ke dapur. Ia melihat hyungnya sedang memasak. Ia berniat membantu hyungnya tetapi ia langsung merubah niatnya. Ia teringat bahwa suga hyung terganggu olehnya. Tatapan mata mereka bertemu saat suga hyung mengambil piring.
"Makanlah" ucap suga.
Jiminpun dengan diam mengambil makanan yang sudah suga masak. Jujur saja ia memang sangat lapar sekarang. Mereka berdua makan bersama tetapi suasananya hening, tidak seperti biasanya ada saja yang diomongkan oleh jimin. Kali ini jimin memilih untuk diam dan menghabiskan makananya lalu kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi. Ia tidak terlalu mempedulikan hyungnya yang masih makan.
TOK TOK TOK
Jimin berjalan ke arah pintu karena pintu rumahnya digedor. Ia membukakan pintu dan melihat V didepannya.
"Eh? V?"
"Ahh ne jimin, aku sedang kesepian. Apa boleh aku bermain ke rumahmu sekarang?" Tanya V.
"Tentu saja, ayo masuk" ucap jimin.
V pun segera masuk. Saat masuk, V melihat suga hyung didepan televisi yang balik melihatnya.
"Nugu?" Tanya suga.
"Ah aku taehyung imnida. Aku temannya jimin" ucap V menunduk.
"Kajja V kita main dikamar" ucap jimin mengajak V masuk ke kamarnya sedangkan suga hanya menatap mereka dengan tatapan aneh.
Karena pasalnya jimin tidak pernah membawa temannya ke rumah.
"Jimin, berapa umurmu?" Tanya V.
"Aku 17 tahun" ucap jimin.
"Aku juga" ucap V tersenyum.
"Wah kalau begitu lebih enak, kau bisa bermain setiap hari ke rumahku" ucap jimin membuat V terkekeh.
Merekapun berbincang-bincang untuk mengenal satu sama lain hingga malam tiba. V pamit pulang karena sudah malam. Jimin bersyukur ada V karena jika tidak, ia pasti sudah mati kebosanan hari ini. Setelah mengantar V sampai depan pintu, jimin membalikkan badannya dan melihat suga menatapnya tajam.
"Siapa dia?" Tanya suga.
Jimin menghiraukan suga dan hendak masuk ke kamarnya, tetapi tangan suga terlebih dahulu menahan pergelangan tangan jimin untuk pergi.
"Aku bertanya, siapa dia?"
"Aku tidak ingin membuatmu stress hyung" ucap jimin.
"Aku akan pergi ke klub didepan sekarang" ucap suga.
Jimin menepis tangan suga dan segera masuk ke kamarnya. Hyungnya memang sering pergi ke klub dekat rumahnya, biasanya jimin akan memarahinya karena pergi ke tempat seperti itu. Tetapi kali ini jimin berusaha untuk tidak mempedulikannya. Ia memilih tidur lagi.
Jimin terbangun. Ia menatap layar hp.
"Jam 12 malam" ucap jimin.
Sepertinya ia tidur terlalu cepat dan menyebabkan dia bangun ditengah malam seperti ini. Sambil memeluk Jisu, ia keluar berniat ke kamar suga. Jimin membuka pintu kamar suga.
"Hyung?"
Jimin mendekati ranjang suga. Kosong.
"Ah apa hyung masih ada di klub? Ini sudah malam? Sebaiknya aku kesana" ucap jimin dan segera keluar dari rumah menuju klub yang berada tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sesampainya diklub, jimin berpikir lagi. Haruskah dia masuk? Dia tidak pernah memasuki tempat yang bernama klub ini. Tetapi karena ia mengkhawatirkan hyungnya, jiminpun masuk. Baru saja masuk, jimin sudah terkejut mendengar suara dentuman musik yang keras. Ia juga terkejut melihat banyak perempuan yang berpakaian sangat minim berjalan santai disekitarnya.
"Suga hyung" ucap jimin berkali-kali memanggil hyungnya yang tentu saja tidak kedengeran.
Suara dentuman musik merendam suara kecil milik jimin.
"Hey" ucap salah satu gadis.
Jimin hanya diam.
"Apa kau tersesat namja kecil?" Tanyanya sambil mencolek dagu jimin.
Bagaimana tidak ia dipanggil namja kecil? Lihatlah, dia mengenakan piyamanya serta memeluk Jisu ke klub.
"Aku ingin mencari hyungku" ucap jimin.
"Bagaimana jika kita bermain dulu? Baru aku kasih tau dimana hyungmu berada" Tanya gadis tersebut.
"Apa kau mengetahui dimana kakakku?" Tanya jimin tersenyum senang.
"Tentu saja" ucap gadis tersebut dan mulai meraba dada jimin.
"Y-yak kau mau ngapain?" Tanya jimin yang merasa tidak nyaman diraba oleh wanita muda tersebut.
"Bermain" ucapnya sambil melepas kancing atas baju jimin.
Detik kemudian, wanita tersebut sudah terdorong menjauh dari tempatnya karena didorong secara kasar oleh seseorang dibelakangnya.
"Dia milikku" ucap namja tersebut yang ternyata adalah suga hyung.
"Hyung!" Ucap jimin senang.
Suga menarik tangan jimin ke tempat yang lebih sunyi. Lalu mendorong badan jimin hingga membentur tembok.
"Kau ngapain kesini?" Tanya suga yang bingung melihat jimin karena jimin masih mengenakan piyamanya dan juga membawa Jisu.
"Aku mengkhawatirkanmu hyung"
Suga mendekat pada jimin.
"Kau terlihat sangat menggoda" ucap suga menatap jimin tajam.
"Mengenakan piyama dengan kancing atas terbuka dan memeluk boneka ke klub, semua akan memakanmu disini" ucap suga dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah jimin.
"N-ne? Memakan? Memakan itu seperti apa hyung?" Tanya jimin bingung.
"Kau mulai cerewet ya? Kau ingin tau?"
Jimin hanya mengangguk pelan.
CUP
Suga mencium jimin.
TBC!
Bagaimana kelanjutannya? kkk~
Ada kabar buruk dan kabar baik nih,
Kabar buruknya chapter 4 bakalan jadi chapter ending huhuhuT.T
Dan kabar baiknya itu chapter 4 isinya ehem naena aja muehehe~
So, ditunggu kelanjutannya ya!
