Blue: OIIII! GENKKK! XDDD

Sarasa: ko 'Genk' sih?

Blue: kenape? Bosen kan kalo nyapa 'Readers' mulu

Sarasa: iya sihh..

Blue: hohoho~ tingkyu yang mau tetep stay in this fic, pertama-tama mari kita saksikan pembukanya dulu~

Sarasa: yok! Inilah 'Salah Gaul'

xXx

Shizu: KYAAA! KAKAKKKK! ADA MALINGGGG!

Jou: mana? *panik* *nyingsingin baju*

Shizu: itu...

Jou: dimana? *nyiapin pentungan*

Shizu: di tipi ._.

Jou: *mentung tipinya*

xXx

.
.

Title: Janus

Author: EvilBlueClouds~

Summary: liburan Yugi cs mendadak kacau setelah dimintai tolong oleh Malik, ditambah lagi kembalinya sang penguasa kegelapan, dan munculnya musuh baru yang lebih kuat, mampukah Yugi cs menemukan orang yang mereka cari?

Genre: romance, songfic, friendship, AU, Sacrificial, AT, Fantasy

Rating: T

Disclaimer: story punya saya, YGO punya Kazuki Takahashi, lagu Janus punya Boyfriend.

Pairing: masih ngambang *random*

Warning: beberapa OOC, OC inside, gaje, garing kriuk..kriuk..., ranjau typo, krisis kosakata, terinspirasi dari lagu Boyfriend-Janus, gak suka jangan liat!

.
a/n: ADA OC BARU DI TAKE TERAKHIR! *make toa*

.

.

I want to live in your memory till the end,
I want to smile in your memory
Like a fool, I just smile at you
-Boyfriend_Janus-

Part 3: Talk That

Castle

"Hihiihi.. apa kabar? Lama tak jumpa." sahut seorang pemuda berambut putih didepan tahta Raja. "Mau apa kau, Bakura?" tanya Aknamkanon. "Hanya tanya, dimana Sarasa? Sarasa Karin." tanya Bakura dingin, semua yang mendengar pertanyaannya begitu terkejut, apalagi Atem. Untuk apa dia menanyakan soal Sarasa.?.

"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Bakura.?" tanya Seth. Bakura menyerigai lalu menjawab "Kenapa? Tujuanku yang sebenarnya adalah membalaskan dendamku dan merebut semua Millenium Item dari kalian.". "Lalu mau apa kau mencari nona Sarasa?" giliran Aishizu yang bertanya.

Bakura menyerigai, tatapan iblis muncul dari mata coklatnya, "Fuh, kenapa kalian menutup-nutupinya?". "Apa maksudmu?." tanya Karim. "Soal Sarasa, kalian semua tahu 'kan siapa gadis itu sebenarnya?" tanya Bakura, semua pendeta menelan ludahnya masing-masing, menurut mereka akan sangat berbahaya bagi Sarasa, jika Bakura tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Sementara itu, Atem, Yugi, Anzu, dan Jounouchi menatap mereka semua bingung.

OUT

Castle

Baru saja Sarasa akan memasuki halaman istana, tapi matanya sudah dihiasi pemandangan yang mengerikan, para prajurit istana tengah terkapar bermandikan darah, perlahan Sarasa turun dari kudanya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di istana, 'Ouji-sama!' ingatnya dalam benaknya, langsung saja Sarasa menghambur memasuki istana, 'Ouji-sama, ou-sama, tunggu aku!' batinnya takut, dalam hatinya benar-benar khawatir akan keselamatan 'tuannya'.

Tap..

"Hah...hah...hah..." dengan nafas terengah-engah, Sarasa memasuki ruang tahta, ia melihat sang Pharaoh dan ratunya beserta para pendetanya lengkap dengan sang pangeran dan teman-temannya, mereka tak apa-apa hanya saja memasang posisi untuk bersiaga. Tiba-tiba Atem memberi isyarat pada Sarasa.

"SARASA MENJAUH DARI SANA!."

Belum sempat ia mendengar perkataan Atem dari belakang ia terlilit sesuatu.

Grep..

"Kyyyaaaa!"

Meronta.. ya Sarasa meronta, pasalnya saat ini bukan benda yang sedang melilitnya, melainkan sosok yang mengerikan yang tengah memeluknya dari belakang ya.. dialah Bakura.

"Lepaskan dia Bakura!" perintah Aknadin, Bakura terkekeh, "Hehehe.. karena aku belum siap bertarung, sebab aku baru saja 'kabur'. Tapi ingat aku akan membalaskan dendamku pada kalian, serta akan merebut semua Millenium item dari kalian, jadi aku ingin meminta sesuatu dari gadis ini." ucapnya sembari merapatkan tubuh Sarasa padanya dan mengeluarkan sebilah pisau dari saku bajunya.

"BAKURA! JANGAN SENTUH GADIS ITU!" bentak Atem marah, ia bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, mendengarnya Bakura tertawa sinis, "Kenapa ouji-sama? Apa kau marah kalau aku menyentuh nona yang cantiknya luar biasa ini?" tanya Bakura meledek sembari menjilat-jilat pelan telinga Sarasa, "khh..." Sarasa berusaha menjauhkan kepalanya dari Bakura badannya gemetar hebat sungguh baru kali ini dia merasakan ketakutan yang teramat sangat.

Tangan Atem mengepal kuat, "Kenapa? Dia bukan milikmu 'kan?'' tanya Bakura, pisau yang masih berada dalam genggamannya menusuk leher Sarasa, 'Sa..sakit..' pekik Sarasa dalam hati, perlahan Bakura menyayat leher gadis yang berada dalam pelukannya saat ini sampai lehernya mengeluaran sedikit darah.

Bakura menyerigai tipis, lalu menurunkan kepalanya sedikit lagi supaya bisa meraih leher Sarasa.

Sett...

Set...

"KUBILANG JANGAN SENTUH GADIS ITU, BAKURA!." bentak Atem semakin marah, karena kali ini Bakura tengah menjilati leher Sarasa yang tengah terluka itu, Bakura tak bergeming dan masih tetap melakukan aksinya itu, Sarasa memasang ekspresi horor, "KURANG AJAR KAU BAKURA! GADIS ITU PUNYAKU!." teriak Atem frustasi, tak terima 'punyanya' disentuh orang lain.

"Baiklah, karena cukup bagiku untuk memulihkan sedikit kekuatanku." ucap Bakura, "aku akan pergi, dan jangan lupa aku akan kembali." lanjutnya.

Wuusssshh...

Aura kegelapan berkumpul dibelakang Bakura lalu menyelimutinya, kemudian aura kegelapan itu menghilang bersamaan menghilangnya juga Bakura dari mata mereka yang ada di lokasi kejadian.

"Sarasa! Kau tak apa?." panggil Anzu menghampiri Sarasa, diikuti juga oleh Jounuchi, Yugi, Mana dan Seth, "Aku tidak apa-apa, hanya tergores sedikit saja." jawab Sarasa sambil menaikkan jubahnya sedikit supaya luka kecil itu tak terlihat, dari belakang Atem juga menghampiri Sarasa, dalam hatinya ia marah, sangat marah pada Bakura beraninya melakukan hal itu pada Sarasa.

Srett...

Mata Sarasa membelak, tba-tiba tangannya ditarik oleh Atem "Ikut aku." ucap Atem dingin, GLEP!, baru kali ini Sarasa melihat Atem semarah itu.

Koridor

Tap..

Tap...

Tap...

Keheningan terjadi baik Sarasa maupun Atem tak ada yang mengucapkan sepatah katapun, hati Sarasa kalut genggaman tangan Atem benar-benar kuat sampai-sampai ia tak bisa merasakan tangannya saat ini. Sementara itu, Atem yang tidak menyadari bahwa sebenarnya tangannya itu membuat Sarasa kesakitan, dia membiarkan dirinya dipenuhi rasa amarah ynag memuncak.

Brak!

Dibukanya pintu kamarnya kasar, lalu ditutupnya kembali Atem melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkan Sarasa yang berada didekat pintu, "Kenapa?." tanya Sarasa, sebelah tangannya menggenggam pelan tangannya yang tadi dicengkram kuat oleh Atem.

Atem hanya terdiam dia tak menjawab, Sarasa mundur kebelakang satu langkah.

Tap..

Atem membalikkan tubunnya, lalu berjalan selangkah mendekati Sarasa.

Tap..

Sarasa mundur kebelakang satu langkah lagi, karena Atem maju selangkah kearahnya.

Tap..

Sarasa mundur lagi ia yakin sedikit lagi tubuhnya akan membentur pintu dibelakangnya, sementara Atem maju selangkah lagi.

Tap..

Sarasa tak bergeming, hanya Atem yang mendekat.

Tap...

Atem semakin dekat, Sarasa menelan ludahnya ia tidak bisa memperhatikan wajah Atem.

Meskipun poni pirangnya menutup sebagian wajahnya, tapi Sarasa tahu ia marah, sangat marah, Sarasa mulai takut tanpa sadar sekarang Atem berada tepat didepannya.

Tap...

Tap...

Dukk..

Atem maju duluan, Sarasa mundur kebelakang tapi sayang ruang geraknya terputus pintu, perlahan keringat dingin mengucur dari pelipisnya, Atem menaruh tangannya di pintu tepat di samping kepala Sarasa, jantung Sarasa berdetak tak karuan. Mengerikan, kini ia bisa melihat jelas wajah sang pangeran, mata crimsonnya kini tak tersirat kelembutan didalamnya yang ia lihat adalah mata crimson yang dibalut dengan aura kegelapan seorang pembunuh yang tinggi.

Atem mendekatkan wajahnya pada Sarasa, Sarasa memalingkan wajahnya dan menutup matanya, tak biasanya dia begini, gemetar. Ya Sarasa gemetaran ia rasa ia tak sanggup untuk berdiri lagi, tapi ia mencoba untuk bertahan, nafasnya mulai tak karuan, ia tak percaya dengan apa yang menimpanya hari ini.

"Dari mana saja kau Sarasa?." tanya Atem dingin tepat di telinganya, Sarasa semakin rapat menutup matanya, bibirnya juga terkatup rapat, "Aku menghawatirkanmu, kau tahu?." ucap Atem datar, desiran nafas Atem terasa jelas terasa, "Khhh... a...apa yang..mau kau lakukan?." tanya Sarasa memberanikan diri untuk bertanya, Atem diam tak menjawab lalu mendekatkan wajahnya pada Sarasa.

Slup..

Slup..

Slup..

'KYAAAAAAAA...' jerit Sarasa dalam hati. Ia tak percaya Atem menjilati luka sayatan Bakura, "Hah.. ah..tu..tunggu dulu..apa yang kau lakukan?." tanya Sarasa, wajahnya memerah bagai kepiting rebus, sekuat tenaga dia mendorong tubuh Atem agar menjauh darinya, namun sayang tubuhnya terlalu lemah sekarang, 'Oh dewa Ra aku akan melakukan apa saja, aku akan melaksanakan perintahnmu apa saja, asalkan aku bisa keluar dari sini!' do'a Sarasa dalam hati, "Aku tidak mau kau dinodai Bakura, bukankah sudah ku bilang kau ini 'punyaku'." kata Atem menyelesaikan perbuatannya tadi.

"Ha..hah..hah.." nafas Sarasa terengah-engah tenaganya benar benar terkuras.

Druk-

Gadis manis itu jatuh terduduk dengan rambut hitamnya yang berantakan menutupi seluruh wajahnya, Atem berlutut agar sejajar dengan gadis manis yang masih tetap menutup kilauan amethyst yang dimiliki kedua bola matanya itu.

"Gomene.. Sarasa, kau tahu, aku benar-benar marah saat aku tahu Bakura kembali lagi." ucap Atem dengan intonasinya yang berubah, yang tadinya dingin berubah menjadi lembut kembali, "Apa lagi saat ia bilang akan mengincar Millenium item dan mengambilmu dariku, dan kau tak ada disini, membuatku cemas memikirkanmu." terang Atem, Sarasa membuka matanya cepat lalu menatap wajah Atem, "K..kau bilang Bakura ingin mengambilku darimu?." tanya Sarasa, Atem mengangguk "Aku tak tahu apa maunya dan untuk apa mengambilmu, tapi yang paling membuatku kesal adalah.." kata-kata Atem terputus sejenak..

Grep..

"... karena ia beraninya menyentuhmu, dan aku tak akan pernah merelakannya." terang Atem memeluk Sarasa lembut, Sarasa hanya bisa terdiam didalam pelukan Atem, keadaannya benar-benar mengenaskan sekarang. Gemetar yang tadi ia rasakan perlahan lenyap, mungkin karena dekapan Atem yang sangat lembut menjaganya. Dalam hati Sarasa ingin membalas pelukan Atem, tapi apa mau dikata tenaganya tak cukup bahkan untuk mengangkat tangannya saat ini.

Atem melepaskan pelukannya perlahan, ia menatap gadis yang ada didepannya. 'mengenaskan' ya.. kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan gadis itu, mata amethystnya memudar ia terlihat kelelahan, syok, dan ketakutan. "Berjanjilah Sarasa jangan pernah jauh-jauh dariku." kata Atem sambil menyibak rambut Sarasa yang sudah sangat berantakan itu.

Lagi.. lagi-lagi wajah Sarasa merona, ditatapnya pemuda itu. Atem mengambil ikat rambut yang hanya menggantung di rambut Sarasa, lalu membenarkan tatanan rambut Sarasa hingga terlihat lebih rapi. "A..arigatou ouji-sama." ucap Sarasa. Atem tersenyum dimainkannya rambut Sarasa, ditatapnya wajah Sarasa dengan tenang. Wajah Sarasa masih sangat terlihat berantakan, Atem menyerigai kecil lalu mengatakan sesuatu yang benar-benar tanpa diduga.

"Sarasa, kalu kamu berekspresi ketakutan seperti itu, lucu, ya~."

JLLEB

Hening...hening..hening sehening-heningnya keadaan hening.

BRUUAAAKKK!

"JAHHHAAAAATTTTTTTT!"

Iris crimson Atem melebar, entah mendapat kekuatan dari mana Sarasa berhasil mendorongya kuat-kuat, lalu membanting pintu kamarnya kencang dan diakhiri dengan teriakkan yang begitu menggema bahkan Seth dan yang lainnya yang berada jauh dari mereka berdua bisa mendengar suara bantingan pintu dan teriakkan Sarasa yang sangat merusak telinga itu.

'jahat..jahat... saat seperti ini masih saja mengerjaiku' omel Sarasa dalam hatinya, nafasnya terengah-engah sedikit, ia tahu kalau staminanya belum pulih. Jadi ia berhenti berlari dan bersender didekat jendela yang letaknya agak jauh dari kamar Atem.

"Sarasa!." panggil Atem yang sukses membuat Sarasa menoleh kearahnya, belum sempat Atem mengatakan sesuatu pada Sarasa, Sarasa langsung berlari tanpa arah. "Sarasa, tunggu! Aku minta maaf!." sayang gadis itu sudah cukup jauh 'Uh..apa aku keterlaluan ya?' tanya Atem dalam hati.

"Hah...hah...hah...ahh.." Sarasa kembali berhenti berlari ia membetulkan nafasnya yang tak karuan. Tanpa sadar ia sudah berada dalam kamarnya sendiri, pantas saja ia lelah. Jarak antara kamar Atem dan kamarnya bisa dikatakan lumayan.

xXx

"Jadi apa yang terjadi? Kenapa nona Sarasa berlari-lari seperti itu, huh?." tanya Seth dingin. Tentu saja beberapa menit yang lalu Sarasa berlari melewati ruang tahta dengan tergesa-gesa sambil menahan tangis, dengan sebelumnya terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras, dan teriakkan Sarasa.

"Hei! Jawab pertanyaanku!." bentak Seth keras, karena Atem sama sekali tidak merespon pertanyaannya. "Apa kau bertengkar dengan Sarasa?." tanya Yugi, Atem menggeleng. "Apa kau menjahilinya?" tanya Anzu, Atem menoleh kearah teman wanitanya itu, lalu menunduk sambil menghela nafas. "Sebentar deh.." kata Atem lemas seraya berlalu. "Kayaknya emang abis berantem deh." gumam Mana yang langsung disetujui oleh Yugi dkk.

Sarasa's berdroom

Sarasa pov

'Jahat! Ouji-sama jahat! Aku sedang ketakutan begini masih saja dijahili, jahat! Eh tunggu? Ketakutan? Aku? Aku ketakutan? Kenapa ya? Tapi aku memang baru kali ini merasakan aura berbahaya yang begitu dekat denganku, sampai-sampai membuatku takut'.

Perlahan aku mengambil bantal lalu memeluknya sambil meringkuk, takut ya aku takut entah takut apa. Tapi yang pasti ini akan menjadi buruk.

'Benar..bukan saaatnya aku ketakutan, aku harus cari cara melindungi ouji-sama. Tapi, bagaiana caranya?'

Tokk..

Tokk...

Sarasa pov end

"aku masuk ya Sara?."

"..."

"..."

"..."

Tokk...

Tokk...

"Sara?."

"..."

"Sa-"

"masuk, tidak dikunci."

Cklek...

"Sarasa.." panggil Atem, dilihatnya gadis itu tengah duduk diatas ranjangnya sambil memeluk bantal. Atem berjalan kearahnya, lalu duduk berhadapan dengan gadis itu.

"Err.. maaf ya, aku keterlaluan,ya?." ungkap Atem, Sarasa hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, aku juganya terlalu cengeng." balas Sarasa. Sarasa menghapus air matanya yang tertinggal "Kenapa kau tidak bilang?." tanya Atem. Sarasa bingung "Eh? Tentang apa?.". "Tentang kalau kau itu orang yang bisa membantuku kembali kemasa depan, gadis yang ada didalam artefak itu." mata Sarasa melebar. "Dari mana kau tahu?." tanyanya ragu, "Bakura yang memberitahukannya." jawab Atem serius.

Flash Back

"Jadi~ kau tak tahu, ya, ouji-sama?" tanya Bakura dengan penekanan dibelakangnya. "Apa? Tentang apa?" jawab Atem yang berbalik bertanya, mendengarnya Bakura mendengus. "Fuh, baiklah karena sang pangeran tidak tahu maka, izinkanlah aku untuk memberitahumu, yang mulia." ucap Bakura sarkastik.

"Sarasa, Sarasa yang kau kenal adalah bagian dari cahaya dewa Ra." kata Bakura, mata crimson atem melebar, sementara para pendeta tertunduk. "Lalu..kalian...para..ehem~ pemandu sorak." Bakura menjentikkan jarinya pada Jounouchi, Anzu, serta Yugi. "Gadis yang ada diartefak yang kalian lihat adalah Sarasa." ujar Bakura mengumumkan.

"Aku tidak peduli..."

Bakura sedikit terkejut karena pernyataan Atem. "Apa?". "Aku bilang aku tidak peduli siapa Sarasa sebenarnya, tapi untuk apa kau menanyakan tentang anak itu? Sementara urusanmu itu denganku." balas Atem sengit.

"Untuk apa? Jelas dia akan sangat berguna bagiku! Dia memiliki kekuatan cahaya yang besar karena ia bagian dari dewa Ra, yang akan kugunakan kekuatannya untuk memulihkan kekuatanku." jelas Bakura.

Keheningan terjadi sesaat. Dimana sang pencuri yang sangat berambisisus untuk membalas dendam, sementara sang pangeran yang siap untuk membunuh si pencuri tersebut.

Tap...

Tap...

Seseorang berlari-lari memasuki ruangan tersebut, lebih tepatnya seorang gadis. Dengan rambut hitamnya yang sedikit berantakan, serta mata amethystnya yang menawan menyiratkan kekhawatiran. Melihat 'sasarannya' sang pencuri menyerigai kecil. Melihat serigaian kecil dari si pencuri, sang pangeran segera memberi peringatan untuk sang gadis.

"SARASA, MENJAUH DARI SANA!"

FLASHBACK END

"Memang benar apa yang dikatakannya." kata Sarasa, "Tapi.. bukan aku yang akan mengembalikkanmu kemasa depan." jelas Sarasa, "Eh.. maksudmu?"tanya Atem bingung, "Ya.. tugasku yang sebenarnya adalah melindungimu dan membantumu jika terjadi masalah." jelas Sarasa.

"Lalu bagaimana caranya aku bisa kembali? Bukankah artefak itu menyebutkan, kalau kau –gadis yang ada disana- akan mengembalikkanku kemasa depan?" tanya Atem penasaran. "Begini, memang benar akulah gadis yang ada disana, orang yang akan mengembalikkanmu ke masa depan, tapi.. aku tidak yakin akulah orang yang akan melakukannya." jawab Sarasa.

"Maksudmu?" tanya Atem, "Untuk bisa kembali pertama-tama kau harus memiliki 'clear drop'." kata Sarasa serius. "Clear drop? Maksudmu clear drop yang 'itu'.?" Sarasa mengangguk pelan.

"Tapi... bukankah itu adalah kristal khayalan? Clear drop itu tidak ada, tidak ada yang pernah memilikinya atau mendapatkannya." gubris Atem kuat. "Benar, Clear drop adalah kristal yang tidak sengaja terbentuk dari air mata seseorang yang mencintai kita tanpa kita ketahui, dan secara tidak sengaja telah kita sakiti." terang Sarasa.

"Dan benar, tidak ada yang pernah mendapatkannya, tidak pernah ada, karena kristal itu begitu murni, karena air mata yang ditunjukkan adalah air mata yang murni dari jiwa seseorang yang murni pula." kata Sarasa menerawang.

"Jadi, bagaimana kita akan mendapatkan kristal itu?" tanya Atem. "emm... mungkin pertama-tama kita harus urus dulu Bakura, dia pasti akan menyerang kita, sebaiknya kita lenyapkan pencuri itu terlebih dahulu, baru kita cari cara mendapatkan Clear drop." usul Sarasa, yang langsung dituruti oleh Atem.

"Oh iya, aku minta maaf, karena aku menjahilimu." ungkap Atem, sebenarnya tujuan utama kenapa ia kesini adaah untuk minta maaf pada Sarasa. Sarasa terseyum kecil "Tidak apa-apa.".

Atem hanya bisa menatap mata amethyst itu datar. "Sarasa?" yang merasa terpanggil menjawab. "Ne?". "Mm... bisakah kau sehari ini saja panggil dengan aku dengan namaku?" pinta Atem. Sebenarnya Sarasa sedikit bingung dengan permintaan tuannya ini, namun pada akhirnya ia menyerah dan menurutiya, "Baiklah."

Gret...

Tubuh mungil itu terpaku diam membatu, tak disangka sang pangeran kembali memeluknya. "A..Atem?" panggil Sarasa ragu. "Sarasa.. tolong jangan jauh dariku, bisakah?" pinta Atem sekali lagi. "Kenapa?" tanya Sarasa bingung. "Sarasa sudah kuanggap kakakku sendiri, aku tak mau kehilanganmu, kehilangan kakakku." jawab Atem, Sarasa terdiam perlahan ia tersenyum lembut layaknya seorang kakak sungguhan.

"Sara?"

"Ya? Ada apa Atem?"

"Tak apa, arigatou"

"Ne.. apapun untukmu Atem, apapun"

Atem mempererat pelukannya, lalu menenggelamkan kepalanya dibahu Sarasa. Perlahan Sarasa membalas pelukan Atem. 'kakak'.

"Sarasa, aku mau tanya, boleh?" pinta Atem melepaskan pelukannya. "Apa?" responnya. "kenapa kau menutup-nutupi dirimu yang sebenarnya? Apa itu sengaja?" tanyanya. "Eh? Ano..er..aku khawatir jika kau tahu aku yang sebenarnya, kau akan menghindariku, kau 'kan orangnya keras, susah, tidak ingin siapapun mencampuri urusannya." jawab Sarasa. "Tapi, kayaknya aku seperti dibohongi habis-habisan," katanya. "A-a-ahh... ngomong-ngomong, nona Anzu 'kan ada disini sekarang bersama yang lainnya lagi.." ucap gadis itu. "Ha?" tanya Atem bingung. "Iya~... bagaimana, 'senang'.?" mengerti maksud Sarasa, semburat malu terlukis kecil di paras Atem. "JANGAN MACAM-MACAM KAMU, SARASA!" teriaknya sambil memukuli Sarasa dengan bantal. "HARUSNYA BUAT RENCANA NGELAWAN BAKURA, BUKAN DISKUSI KAYAK GINI." lanjutnya.

"iya deh... kenapa? Malu ya?" tanya Sarasa menggoda Atem sembari menjulurkan lidahnya. CTIK-!. Sebuah pertigaan berhasil diresmikan didahi Atem. "SARAAAAAA!". "AMMPPUNNNN~!"

xXx

'Hhhh...habis cerita panjang lebar, dia tidur juga' batin Sarasa. Saat ini Atem tengah tertidur dengan posisi tertelungkup di kasurnya. Segera ia membenarkan posisi tidur Atem dengan menempatkan kepalanya diatas bantal sesuai dengan posisi tidur yang normal.

Tak lupa ia melepas sepatunya, jubahnya, dan semua aksesoris yang dipakai Atem. Lalu diselimutinya pemuda itu dengan selimut tipis, kelambu yang mengelilingi ranjang Sarasa semuanya di gantung diatas jadi tidak membuat Atem sulit bernafas. Terakhir Sarasa membuka lebar-lebar jendela kamarnya agar angin sepoi-sepoi bisa masuk.

Sarasa menatap Atem dalam diam. Tangan gadis itu terkepal kuat. Bibirnya terkartup dan digigitnya kecil. Dalam hatinya ia yakin, apapun resikonya ia tak akan goyah. 'aku tak akan kalah, soal Bakura serahkan padaku'. Tanpa sadar bibir mungilnya mengumam sesuatu, "aishiteru, ouji-sama."

xXx

Malam hari, yap malam hari adalah waktu dimana orang-orang mengakhiri aktivitasya dengan tidur. Namun bagi seseorang inilah saatnya jam ia beraksi. Ditatapnya bulan yang sedang bersinar elok itu dari jendela, tanganya dirapatkan hendak berdoa. "dewa Ra maafkan apa yang kuperbuat ini." bisiknya halus.

One...

...Two...

...Three!

Plop!

Tiba-tiba banyak kertas berwarna-warni berterbangan, sosok yang tadi berdoa berubah secara penampilan. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan menggunakan pita, bajunya tanpa lengan, kerahnya dihiasi dasi kupu-kupu semuanya serba hitam kecuali roknya yang berwarna putih, kakinya ditutup long stocking dan sepatu hitam yang sama dengan bajunya, dibelakangnya terlihat seorang gadis yang sangat mirip dengannya bagai pinang dibelah dua, hanya saja ia tidak menggunakan baju serba hitam melainkan memakai gaun putih yang sangat serasi dengannya, gadis berbaju putih itu berkata, "hati-hati nona.". si ekor kuda itu menghampirinya "iya, tolong kau gantikan aku ya.". Mereka mengangguk bersamaan lalu merapatkan tangan mereka masing-masing lalu berdoa bersama, "semoga dewa Ra melindungi kita."

You're not a bad girl, You're not a bad girl
The tears shed for me, put those tears away
-Boyfriend_Janus-

.
.

TBC

xXx

All: BLUEEEEE!

Blue: budeg mendadak*

All: KITA MAU PROTESSSSSS!

Blue: errr... protesnya tunda dulu,ya? Kita balesin ripiwnya dulu

All: *misuh-misuh*

xXx

To:Gia-XY 5/4/13 . chapter 2

Sarasa: gender gua kebalik o.O

Blue: pada dasarnya Sarasa itu keras banget orangnya, sangking kerasnya Atem aja kalah ama Sarasa.

Sarasa: gua mengemban tugas berat, dan dilakukan sercara propesional

Yugi: proFEsional

Sarasa: gua gak bisa ngomong eF

Jou: itu?

Sarasa: contoh :p

Atem: namanya panik, ya nggak sadar -..-

Anzu: Atem ada rasa ama gua? *mikir* Rasa apa ya? Jeruk?

All: *elus dada*

Bakura: ohh.. tentu saja ada, ane muncul-muncul dapet part bagus *sipp*

Sarasa: nasib...nasib (_ _)'

Yugi: eh KURAP, elu nggak sakit ati tuh?

Bakura: nape emang?

Yugi: si bilang dodol, tuh

Bakura: *diem bentar* *e(s)mosi* WAHH, AWAS LU GUA DIBILANG DODOL!

Blue: ariagatou, mo ngasi tau

Peggy: sebagai hadiah dua juta rupiah plus cipok dan foto aegyo *cute act* dari saya

All: *muntah peniti*

Arisa: TENANGG AZA GIA, MULAI CHAP INI GUA AMA BLUE YANG BAKAL BIKIN ATEM SENGSARA!

Atem+Sarasa: SESEORANG PLIS GANTIIN!

Arisa+Blue: *toss* arigatou ripiwnya~

xXx

To: Litte Yagami-Cha 5/3/13 . chapter 1

Blue: gak papa telat Blue juga suka telat xp

Arisa: yang penting ripiw, tul gak?

Sarasa: kok banyak yang bilang ini fic lucu? Bukannya garing yah? TT_TT Perasaan ini fic genrenya bukan humor or parody deh? *garuk pipi*

Blue: gua juga kagak tau, tapi temen juga, gua ceritain tentang fic ini, dia juga ngakak-ngakak dengerinnya

Arisa: itu artinya elu basicnya humor

Mina: udahlah~ itu berarti para readers terhibur ama fic elu, Blue

Blue: ne~

Atem: Litte-san, dikau nggak akan pernah tahu gimana rasanya ikutan dific ini, sumfeh gua tersiksaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa XOOOOO

Blue+Sarasa+Arisa+Mina: Arigatou ripiwna~

xXx

To: Ruega Kaiba 5/9/13 . chapter 1

Blue: sip, udah bener kan semuanya? Arigatou udah mau ngasih tahu :DD

Jou: pede maksimal *lirik Blue*

Blue: soal si OC *lirik Sarasa* err.. cirinya mungkin udah cukup jelas, rambut hitam panjang bergelombang, iris ungu gelap. Sifatnya keras, namun lembut, cinta damai, santai, punya kepribadian 4D *ntu berarti orang yang tidak bisa diprediksi*, jahil.

Sarasa: ntar kepribadian 4D bukannya elu ya, Blue?

Arisa: Bluenya iya, sementara elu nurun dari gua, pan kita kakak-adek

All: banyak orang aneh ternyata, kita kudu waspada

Yugi : soal rusuh, Blue orangnya lebih rusuh lagi

Blue: Arigatou ripiwnya XDDD

xXx

To: Ruega Kaiba 5/9/13 . chapter 2

Teana: SIAPA CEWENYA ATEM? *syok*

Seth: sapalagi kalo bukan Sarasa -..-

Sarasa: sudi gitu, gua -3-

Atem B: sabar yah... namanya beda author. Beda author beda juga peruntungannya *nepok" bahu Atem R* muahahahhahahahaha

Sarasa: GUA KAGAK AKRAB SAMA SAMA SI HIRAME HITAM NTU!

Arisa: gua juga nggak ikhlas kembaran gua sama si hirame hitam =..=

Sarasa: Atem... minta maaf *dark aura*

Mana: ouji-sama, minta maaf gih, nona Sarasa ngamuk ntar, tuh liat deh tanduknya *?* ampe keluar gitu

Atem : =..=, maapin ya... m._.m

All: keliatan banget nggak ikhlasnya -..-

Blue: *angkat plang* Arigatou ripiwnya :DD /nasib gua charanya rusuh semua/

xXx

All: BLUEEEEE!

Atem: KENAPA GUA JADI MESUM DISINI, BAKAAAAA!1

Sarasa: TERUS KENAPA GUA JADI KORBAN DISINIIIIIIIIIIIIIII!

Blue: *mingkem*

Sarasa/Atem: DAN YANG PALING PENTING ADALAH, CHAP APA INIIIIIIIIII!

Blue: =..=a, WAHH! LIATTT ZELO B.A.P!

ALL girls: DIMANAAAAA? OAO', KYAAAA! ZELOO!

Blue: ._.a */selamat dari maut/ WOOIII LIATTT! BORA SISTARRRR!

ALL boys: MANAAAA? *lari kearah pintu*

All: *ngeroyokin 'tamu' yang dateng*

Blue: oke! Sekarang saat Blue and crew pamit undur diri. Mian kalo ada kecacatan yang terdapat dific sarap ini, dan mohon do'anya semuanya doain nilai UN bagus, dan buat semuanya yang senasib sama Blue semoga terwujud keinginannya Amin... TTATT~BUBYE~

Ryou: *bawa plang tulisannya* RIVIEW PLEASE!

Blue: #gelar kardus didepan klinik Tong Fang