Serenade project presents

From The Darkest Side

(remake)

Rate M

Pair : Kyumin/Jungmin

Main Cast :

Lee Sungmin

Cho Kyuhyun

Victoria Song

Kim Jungmo

Shindong Hee

A/N : author abal nan gaje kembali lagi! :D akhirnya bisa repost juga -_- naah langsung aja deh tanpa banyak kata silahkan dibaca, and if you dont like please click 'back' on your monitor and dont bash it :)

Warning : genderswitch! Many typo dan masih banyak lagi -_-

Happy Reading! ~

enJoy !

Chapter 3 : 'Good Night, Have a Sweet Dreams...'

.

.

.

.

Lelaki itu menatap Shindong lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun. Di balik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Sungmin yang berisi pakaiannya, dan tentu saja ikat rambutnya.

"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu." gumamnya tegas dan dingin.

Shindong menganggukkan kepalanya, "Baik, Tu-Tuan... Kyuhyun"

Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak, "Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau, Shindong-ah, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu."

"Saya selalu setia kepada anda berdua." jawab Shindong, suaranya mulai datar. Kyuhyun tersenyum sinis, kebiasaannya, kalau dia ingin memerangkap seseorang.

"Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Jungmo. Tapi padaku?" dengan pelan Kyuhyun beranjak tepat di hadapan Shindong yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan yang sudah berumur itu mulai kelihatan gelisah.

"Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu." jawab Shindong cepat-cepat.

"Kau memang harus setia kepadaku, Shindong-ah " gumam Kyuhyun dengan nada malasnya yang biasa, "Karena kalau tidak... Aku akan marah. Dan kalau aku marah... Ah tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan, Tuan Shindong yang terhormat?" Kyuhyun tersenyum sangat manis.

Wajah Shindong pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas, yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.

Ah... Kenapa Tuan Jungmo tidak muncul-muncul?

"Saya bersumpah tidak akan berkhianat Tuan." gumam Shindong akhirnya.

Kyuhyun terkekeh. "Ya... Ya... Karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya," Kyuhyun menoleh, senyumnya hilang dan menatap Shindong tajam, "Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan apa maksudku?"

Shindong terkejut bukan main, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Anak gadisnya dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu. Sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah. Dan semua itu terjadi setelah Shindong mencoba mengingatkan Kakek Sungmin bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.

Senyum Kyuhyun muncul lagi melihat wajah pucat Shindong, dia lalu menatap Shindong ramah, "Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku karena kebaikan hatiku?" gumamnya ramah namun sarat akan kelicikan yang ada pada senyumnya.

Shindong dengan cepat menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah, "Go-Gomawo.. Tuan Kyuhyun."

Kyuhyun terkekeh mendengarnya, tampak puas. "Dan kudengar anak perempuanmu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"

Shindong langsung pucat pasi lagi begitu Kyuhyun mengucapkan hal itu di depannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Shindong kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Kyuhyun pasti mampu melakukannya. Lelaki ini tidak punya setitikpun belas kasihan di hatinya. Oh tidak, Shindong baru menyadari jika Kyuhyun memang tidak memiliki hati manusia.

"Saya bersumpah akan setia kepada anda Tuan Kyuhyun. Tapi saya mohon, jangan sakiti cucuku. Dia masih terlalu kecil."

"Hei... Kau menghinaku, Shindong-ah" Kyuhyun terkekeh pelan, "Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk aegya dan cucumu. Lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?" Shindong menatap Kyuhyun dan bulu kuduknya berdiri. Kyuhyun mampu, dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Kyuhyun memastikan kalau Shindong tahu bahwa Kyuhyun mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.

"Bagus," Kyuhyun tampak puas dengan sikap diam Shindong, "Aku ingin kau setia kepadaku, bukan kepada Jungmo." Kyuhyun merenung lalu menatap tas pakaian Sungmin yang terbakar habis, "Menjijikkan sekali baju-baju itu, baju murah yang membuat kecantikan yeojaku lenyap," tiba-tiba Kyuhyun menoleh kepada Shindong, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"

Shindong langsung mengangguk.

"Eommanya, yeoja murahan itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, eomma paling pendengki yang pernah aku tahu, dan menurutku..." tatapan tajam Kyuhyun mulai ditunjukkan, "Eomma semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini. Hanya membuat susah dan membuat repot saja rumah ini, apalagi untuk diriku dan Sungmin".

Shindong makin pucat ketika melihat semacam api di mata itu. Itu semacam api yang sama yang muncul ketika Kyuhyun memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak diinginkannya. Shindong berdoa, untuk Victoria. Apapun yang direncanakan Kyuhyun padanya, Shindong berharap agar Jungmo bisa membujuk Kyuhyun untuk membatalkannya. Kalau itu tidak berhasil, yah... semoga Tuhan melindungi Victoria.

KYU and MIN ^O^

Ruang makan itu kosong. Sarapan hangat sudah disiapkan di meja, dan belum tersentuh sekalipun. Sungmin mengernyit, tadi Jungmo mengatakan akan menunggunya sarapan, tapi kenapa ruangan ini kosong? Lagipula di mana eommanya?

"Neomu kyeopta." Sekali lagi, suara itu mengejutkan Sungmin hingga wajah cantiknnya langsung memutar badannya, dia berhadapan dengan Jungmo yang baru memasuki ruangan. Jungmo berhenti dan menatap lekat-lekat ke arah Sungmin, dari ujung kepala sampai ujung kakinya, "Ah...mian, sekali lagi aku mengejutkanmu." Jungmo tersenyum, "Baju itu cocok untukmu." sambungnya.

Sungmin menundukkan kepalanya, "Go... Gomawo." gumamnya pelan lalu menengok ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Victoria di sana.

"Victoria tidak pernah sarapan, dia terbiasa bangun siang, kesibukannya sebagai artis sudah mengubah pola tidurnya," gumam Jungmo tenang. Lalu mendahului Sungmin ke meja makan, "Duduklah, kita sarapan bersama, banyak yang ingin kutanyakan kepadamu."

Dengan patuh Sungmin duduk, aura lelaki ini berubah. Kali ini aura berwibawa dan penuh kharisma, bukan aura menakutkan seperti tadi pagi. Mereka menyantap sarapan dalam diam sampai Jungmo membuka percakapan, "Selama ini kau dirawat oleh harbeoji dan halmeonimu?"

Sungmin mengerjap mendengar pertanyaan itu. "Ne... Victoria terlalu muda ketika melahirkan aku. Jadi harbeoji dan halmeoniku mengambil alih tugas untuk membesarkanku," Sungmin tersenyum, membayangkan harbeoji dan halmeoni kesayangannya, "Aku tidak menyesalinya, mereka pengganti orangtua yang terbaik."

Jungmo ikut tersenyum lembut melihat ekspresi Sungmin, "Kau pasti sangat menyayangi mereka."

Sungmin mengangguk, "Ne. Tentu saja."

"Kenapa kau memanggil eommamu dengan Victoria? Kenapa bukan 'eomma atau mama'?" Jungmo bertanya dengan cepat, membuat tangan Sungmin yang sedang mengarahkan sendok ke mulutnya membeku. Pengalihan topik pembicaraan secara mendadak itu sejenak membuat Sungmin terpaku bingung, tetapi dia segera menemukan jawaban,

"Ah... Mungkin karena aku kurang begitu dekat dengannya. kau tahu. Kami jarang bertemu, dan usia kami cukup dekat hingga rasanya aneh kalau aku memanggilnya eomma, Jungmo-ssi" Sungmin berbohong, dan entah kenapa dia merasa kalau Jungmo tahu bahwa Sungmin berbohong.

"Anak baik," gumam Jungmo sambil menyesap kopinya, tapi matanya menatap lekat ke arah Sungmin, "Kau melindungi eommamu meskipun eommamu sama sekali tidak peduli padamu. Aku tahu kalau Victoria tidak mau dipanggil eomma olehmu, dia tak mau terdengar begitu tua karena ada yeoja seumurmu memanggilnya dengan sebutan eomma," Jungmo langsung melemparkan kebenaran telak itu ke hadapan Sungmin. Membuat yeoja itu tidak mampu berkata apa-apa.

"Katakan," sambung Jungmo sambil meletakkan cangkir kopinya, "Apakah kau menyayangi eommamu?"

Sungmin langsung mengangguk. "Tentu saja, meskipun kami tidak terlalu akrab. Dia tetap eommaku."

Wajah Jungmo tampak datar mendengar jawaban itu. "Lalu, kalau misalnya terjadi sesuatu pada eommamu, akankah kau merasa sedih?"

Sungmin mengernyit. Sekali lagi laki-laki di depannya ini melemparkan pertanyaan yang begitu aneh. "Tentu saja." jawabnya langsung.

Jungmo terdiam, tampak berpikir, lalu menarik napas. "Apapun yang terjadi nanti, kau harus tahu bahwa kesedihanmu adalah hal terakhir yang kuinginkan." gumamnya pelan. Lalu melanjutkan menyantap sarapannya dalam keheningan.

Sementara itu di ujung meja yang satunya Sungmin sibuk berpikir, menelan semuanya. Pertanyaan-pertanyaan Jungmo benar-benar membuatnya kebingungan, dan kalimat terakhir Jungmo tadi... Apa maksudnya?

KYU and MIN ^O^

Victoria terbangun hampir menjelang malam, seharian ia tidur membuat badannya terasa kaku. Dia segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Hatinya berbunga-bunga. Matanya memandang sekeliling kamarnya, kamar ini mewah, bukan yang terbaik memang, Victoria mendengus, tapi kemudian segera tersenyum lagi.

Sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar sebentar lagi, lalu dia akan menempati kamar terbaik di rumah ini : Kamar Jungmonya.

Seulas senyum puas tersungging di bibirnya, membayangkan masa depannya nanti. Hidupnya akan dipenuhi kemewahan, dan suaminya nanti. Victoria menyeringai di cermin, suaminya adalah lelaki yang akan membuat wanita-wanita lain mati karena cemburu pada keberuntungannya. Jungmo adalah calon suami paling potensial untuknya, dia melihat lelaki itu dalam acara amal yang kebetulan mengundang Victoria sebagai artis pengisi acara di sana. Saat meliha Jungmo pertama kalinya, Victoria langsung terpesona dan memutuskan untuk mencoba merayunya.

Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Jungmo juga tertarik kepadanya, dan tiga bulan setelah mereka menjalin hubungan, lelaki itu melamarnya. Tentu saja Victoria tidak menolak. Hanya wanita bodoh yang akan menolak lamaran lelaki seperti Jungmo.

Well ...Cuma ada satu permasalahan, Jungmo selalu menolak tidur dengannya, padahal Victoria sudah jelas-jelas memberikan isyarat bersedia lebih dari sekedar bercumbu secara panas. Lagipula, bagi Victoria, jika mereka tidur bersama, ikatan mereka bisa lebih kuat. Victoria perlu memastikan bahwa Jungmo tidak akan meninggalkannya sampai ikatan mereka sah dalam pernikahan nanti. Tapi Jungmo benar-benar tak tergoyahkan, lelaki itu hanya mencumbu Victoria dengan keahliannya yang membuat Victoria hampir gila, tetapi selalu mundur ketika hampir melewati batas.

Malam ini aku harus berhasil mengajaknya tidur denganku.

Victoria bukan orang suci, dan dia tidak pernah berpura-pura sebagai orang suci. Reputasinya sebagai aktris sudah penuh dengan berbagai skandal dan gosip perselingkuhan. Tujuh tahun sejak kebodohannya yang melahirkan seorang anak yang sama sekali tidak diinginkannya, dia menikah lagi dengan seorang pejabat kaya yang kemudian diceraikannya setelah dua tahun pernikahan. Perceraian yang menghebohkan karena marak dengan spekulasi perselingkuhan dan tuduhan- tuduhan lainnya. Victoria mengerucutkan bibirnya yang indah, waktu itu dia memang selingkuh. Yah suaminya waktu itu sudah tua, sedangkan dia masih muda dan cantik. Jadi wajar-wajar saja kan kalau dia selingkuh? Setelah perceraiannya itu, dia hidup dengan bebas dan bahagia, sampai dia bertemu Jungmo. Pria yang akan mewujudkan seluruh impiannya untuk menjadi ratu yang akan membuat iri semua orang.

Setelah mengenakan gaun merah maroonnya yang paling tipis dan sexy sehingga bisa terlihat jelas lekuk tubuhnya yang indah, Victoria melangkah keluar kamar dan melalui lorong yang sepi untuk mencari Jungmo.

'Jungmo pasti akan terpesona dengan kecantikanku'. Batinnya dalam hati.

Senyum Jungmo makin membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai dia melewati lorong demi lorong rumah mewah itu menuju ruang kerja Jungmo.

"... Harus menyiapkan yang terbaik untuk nona Sungmin."

Langkah Victoria langsung terhenti mendengar suara itu.

"Itu instruksi langsung dari Tuan Jungmo, semua harus yang terbaik untuk nona Sungmin. Apakah kiriman sepatu-sepatu dan perhiasan yang dipesan kemarin sudah datang?"

Suara itu… Victoria mengernyit, itu suara Shindong, Kepala pelayan di rumah ini. Tapi apa Victoria tidak salah dengar? Yang terbaik untuk Sungmin? Sungmin?! Apa jangan-jangan kepala pelayan ini tertukar nama antara dia dengan Sungmin?

Huh, Kalau begitu kepala pelayan bodoh ini harus menerima ganjarannya. Dia akan melaporkan hal ini pada Jungmo dan memastikan Shindong dipecat! Enak saja menyebut dirinya dengan nama Sungmin.

Dan apa yang dia dengar tadi? Sepatu- sepatu dan perhiasan? Victoria langsung tersenyum lebar, lupa akan rencananya untuk mengadukan Shindong kepada Jungmo. Calon suaminya itu pasti berniat untuk memberinya kejutan. Ah! Jungmo memang benar-benar mencintaiku. Pikirnya.

Dengan senyum lebar, otak Victoria berputar... dia punya rencana. Dia harus membuat Jungmo lebih mencintainya lagi sehingga tidak bisa hidup tanpanya. Malam ini, dia akan menyusup ke kamar Jungmo dengan gaun tipis malam sexy dan menyerahkan dirinya. Jungmo pasti tidak akan menolak lagi. Tidak pernah ada yang menolak pesona Victoria sebelumnya.

Victoria mematut dirinya di cermin terakhir kali sebelum melangkah keluar kamar, mau tak mau dia mengagumi kecantikannya sendiri. Rambutnya yang diwarnai kemerahan oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah, kulitnya yang sangat halus bagai sutera – hasil perawatan salon ternama – tampak bercahaya dan lembut. Wajahnya sangat cantik, semua orang mengakuinya. Di usianya yang ke-36, Victoria telah mencapai puncak sebagai wanita matang dan percaya diri. Dia sudah berpengalaman menaklukkan hati lelaki, dan malam ini dia bertekad menaklukkan Jungmo.

Setelah mengenakan jubah kamarnya, pelengkap gaun tidurnya yang sexy, Victoria melangkah keluar kamar diam-diam. Saat itu tengah malam, lorong itu bercahaya temaram, dan dengan senyum sensual, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Victoria melangkah menuju kamar Jungmo.

Diketuknya kamar itu pelan, tidak ada jawaban. Dengan ragu Victoria memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak dikunci. Apakah Jungmo masih di ruang kerjanya?

Pikiran itu membuat Victoria tersenyum. Kalau begitu kejutannya akan berjalan sempurna. Dia akan berbaring di ranjang dengan pose sexy, dan ketika Jungmo memasuki kamar lalu melihatnya, pasti akan senang sekali.

Victoria masuk ke dalam kamar Jungmo, lalu menutup pintu di belakangnya. Kamar itu gelap dan temaram, Victoria mengernyit menyadari bahwa ini pertama kalinya dia masuk ke kamar calon suaminya itu. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ruangan. Kamar ini luas, mewah, dan indah. Tetapi terlalu 'namja'.

Victoria mencibir, begitu mereka menikah nanti, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mendekor ulang kamar ini. Karpet Persia mahal warna emas akan dipasangnya di lantai untuk menggantikan karbet bulu warna abu-abu yang sekarang diinjaknya. Dia pasti akan mendekor ulang kamar ini hingga tampak seperti kamar raja dan ratu.

Dengan puas Victoria melangkah mengelilingi ruangan, memikirkan perubahan-perubahan apa yang akan dilakukannya. Sampai ketika dia melangkah ke meja kayu di samping ranjang Jungmo, langkahnya terhenti.

Tumpukan album foto?

Tertarik, Victoria membuka album foto yang sangat tebal itu. Ada kira-kira delapan album foto di sana, dengan sampul kulit yang sangat tebal dan berukuran besar. Dan foto-foto yang ada di dalam album itu membuat Victoria ternganga.

Album foto itu penuh dengan gambar-gambar Sungmin! Ada Sungmin yang sedang berjalan di trotoar sambil membawa keranjang belanjaan, Sungmin yang sedang duduk dan minum teh di sebuah rumah makan, Sungmin yang sedang menyapu di depan rumah, Sungmin yang sedang bercakap-cakap dengan seorang ibu setengah baya di tepi ranjang...

Victoria membuka semua album foto yang berjumlash 8 itu. Kedelapan-delapannya, dan wajahnya langsung pucat pasi. Delapan album foto itu, semuanya berisi foto Sungmin sejak dia masih kanak-kanak sampai sekarang. Oh my...

Ada apa ini? Kenapa Jungmo punya album foto seperti ini? tangan Jungmo mulai gemetaran.

Dan tiba-tiba saja suara itu terdengar dari belakangnya, "Banyak orang mengatakan, kadang rasa penasaran dan keingintahuan yang berlebihan dapat membunuh dirinya sendiri secara perlahan, atau secara langsung".

KYU and MIN ^O^

Suara itu begitu dingin, berbisik seperti dihembuskan angin, tapi seperti petir di telinga Victoria. Dia begitu terperanjat hingga menjatuhkan salah satu album foto itu ke lantai dengan suara berdebum keras. Jungmo ada di sana, muncul begitu saja dari kegelapan, matanya menatap Victoria lalu beralih ke album foto yang tergeletak di lantai, wajahnya tampak tidak senang.

"Sebelum kita berbicara," suaranya lembut mengalir, "Maukah kau ambil album foto di lantai itu dan meletakkannya kembali di meja, chagi?"

'Menakutkan...'

Itulah pikiran pertama yang terlintas di pikiran Victoria ketika mendengarkan suara Jungmo. Suara itu biasa saja, diucapkan dengan sangat lembut, tetapi entah kenapa terasa menakutkan.

'Jungmo bilang apa tadi? Ah ya! Album foto...'

Dengan sedikit gemetar, Victoria mengambil album foto itu dan meletakkannya kembali di meja. Jungmo tersenyum puas melihatnya, dan tersenyum. "Jungmo…. Apa maksud semua ini ? Kenapa kau…"

"Stttt..." masih tetap tersenyum Jungmo meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri, meminta Victoria untuk berhenti bersuara, "Saat aku bilang kita akan berbicara, berarti aku yang akan berbicara, bukan kau chagiya."

Bibir Victoria gemetar, gelisah, dan bulu kuduknya tetap merinding. Kenapa Jungmo terasa berbeda? Padahal di matanya penampilan Jungmo tampak sama, begitu tampan, tetapi lelaki ini terlalu penuh senyum. Senyum yang aneh... sedikit keji, dan auranya begitu berbeda. Seperti aura menakutkan dan bisa membunuh aura lainnya.

"Bertanya-tanya ya, chagi?" Jungmo terkekeh pelan. Victoria menggeleng, lalu mengangguk, kebingungan, membelalakkan matanya dan mencoba membuka mulut untuk bersuara. "Sttttt..." Jungmo meletakkan telunjuk di bibirnya lagi, "Kita tidak mau membangunkan seisi rumah kan? Ini sudah tengah malam." suara Jungmo berbisik, matanya penuh canda, seperti anak kecil yang mengajak temannya berkompromi melakukan suatu kenakalan rahasia.

Mau tak mau Victroia menahan suaranya, menunggu. Suasananya begitu menekan, menakutkan, sementara Jungmo terus berdiri di situ menatapnya dengan senyum manisnya yang terlalu manis.

Well, harusnya Victoria menyadari, namja yang mengaku sebagai calon suaminya ini bukanlah yang ia cari.

"Sebenarnya ini di luar rencana. Aku tidak ingin melakukan semuanya secepat ini." Lelaki itu melirik ke album foto di meja kayu itu, "Jungmo akan marah, tapi seperti kubilang tadi, kadang rasa penasaran dan keingintahuan yang berlebihan dapat membunuh dirinya sendiri secara perlahan, atau... secara langsung." kata-kata terakhir itu diucapkan dengan penuh penekanan.

Victoria mengernyit, Jungmo akan marah? Apa maksudnya, bukankah lelaki yang sedang berbicara dengannya ini adalah Jungmo? Apa maksud kata-kata Jungmo tadi? Cathy mencoba mencerna, tetapi otaknya yang gelisah tidak bisa diajak berpikir.

"Kita harus memikirkan sesuatu, jalan keluar dari permasalahan ini," Kyuhyun, yeah namja bertopeng sebagai Jungmo bersedekap. Pura-pura serius, "Kita bisa memakai pisau, tapi darahnya terlalu banyak, dan aku sedang tidak ingin repot-repot membersihkan darah yang berceceran. Lagipula aku harus menggali lubang untuk mengubur mayat di belakang. Hm…. Tidak, pisau terlalu merepotkan. Harus memakai cara lain." Dahi Kyuhyun berkerut seolah berpikir, "Harus dibuat seperti kecelakaan." tiba-tiba Kyuhyun menatap tajam ke arah Victoria sambil tersenyum, lalu melangkah maju mendekati Victoria.

Otomatis Victoria melangkah mundur, tapi terhenti karena menabrak meja di belakangnya.

"Bagaimana chagi? Aku mendapat ide bagus, kecelakaan dengan tersetrum di dalam bathtub sepertinya menyenangkan. Tidak ada darah, paling cuma sedikit kesakitan. Tapi aku harus merelakan bathtub di salah satu kamarku tidak dipakai selamanya," dahi Kyuhyun berkerut seperti tidak senang karena bathtubnya tidak akan bisa dipakai selamanya. Lalu dia tersenyum lebar seperti mendapatkan ide cemerlang, "Ah! Ya, aku tahu. Jatuh dari tangga. Rasa sakitnya sedikit, paling hanya kesakitan ketika tangan atau kaki patah, dan ketika kepala menyentuh lantai dengan keras, tidak ada kesakitan lagi karena nyawamu akan langsung melayang. Kita harus berharap nyawamu langsung melayang karena kalau tidak kesakitannya akan tidak tertahankan. Hm...banyak darah mungkin, tapi aku bisa mengatasinya,"

"Jungmo-ah... kau sedang bicara apa?" suara Victoria terdengar berbisik, sedikit tercekik di tenggorokan karena ngeri. Kata-kata Jungmo yang panjang dan lebar itu begitu mengerikan, dan tidak ada korelasinya dengan apa yang seharusnya mereka bicarakan. Tidak seperti biasanya.

Kyuhyun menatap langsung ke mata Victoria, makin mendekat, senyum, ah bukan lebih tepatnya seringaian tidak pernah hilang dari bibirnya. "Membicarakan apa katamu? Victoria, kau ini bodoh atau apa?" Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berpura-pura kebingungan, "Aku maklum, semua artis biasanya bodoh." Kyuhyun sudah berdiri satu langkah tepat di depan Victoria, tangannya terulur meraih pipi Victoria dan mengusapnya lembut, "Ah…Victoria, tentu saja aku sedang membicarakan cara kematianmu."

Wajah Victoria pucat pasi, shock. "MWO?"

"Hmmm," Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dahi berkerut seperti sedang memarahi anak kecil, "Kau sudah mendengarnya dengan jelas tadi. Aku tidak mau mengulang lagi, chagiya."

"Jungmo-ah," Victoria mulai merengek, kalau saat ini Jungmo sedang bercanda, maka candanya sudah keterlaluan. Jantung Victoria seperti mau meledak karena ketakutan.

"Jungmo-ah," Lelaki itu menirukan rengekan Victoria dengan nada mengejek. "Panggil saja nama itu terus, tidak akan berhasil, kau sedang tidak beruntung sayang, karena sekarang kau harus berhadapan denganku." gumam Kyuhyun misterius.

Entah karena tatapan Jungmo yang keji, entah karena nada suara Jungmo, detik itulah Victoria sadar kalau Jungmo tidak main-main, lelaki ini benar-benar akan membunuhnya!

Victoria berusaha melangkah dan berlari, tapi dengan mudah Kyuhyun menahannya, tiba-tiba Victoria menyadari ada sesuatu yang berkilat di tangan kiri Kyuhyun, itu…. Sebuah pisau!

"Well. Ya...Ini memang pisau, kalau kau bertanya-tanya," Kyuhyun mengangkat pisau yang kelihatan sangat tajam itu ke depan wajah Victoria, membuat Victoria memejamkan matanya dengan ngeri, "Kalau kau mencoba mengusik kemarahanku, aku terpaksa menggunakan pisau ini. Bukan masalah karena pada akhirnya kau akan mati juga, tapi kau tahu tidak," senyum Kyuhyun tampak lambat-lambat dan puas, "Tertusuk dengan pisau rasanya sangat menyakitkan," Mata Kyuhyun berkilat-kilat senang, "Pada awalnya, ketika perutmu tertusuk oleh pisau ini, tidak akan terasa sakit, tapi ketika aku mencabutnya, mungkin sambil membawa sebagian organ dalammu keluar. Sakitnya tidak tertahankan, tapi tentu saja aku tidak akan berhenti di situ, aku akan menghujamkan lagi, mencabutnya lagi. Terus menghujamkan dan mencabut pisau itu berkali-kali, dan ketika aku selesai, percayalah... kau akan lebih memilih jatuh dari tangga."

Seluruh tubuh Victoria gemetar oleh rasa ngeri mendengar penjelasan gila Kyuhyun itu. "Kau tidak akan berani melakukannya! Polisi… polisi akan…"

"Oh, apa aku lupa bilang soal mengubur mayat di kebun belakangku yang begitu luas?"

Wajah Victoria pucat pasi, "Kalau aku menghilang begitu saja, polisi akan mencariku!" Victoria mencoba mengancam.

"Aku punya banyak koneksi untuk mencegah hal-hal semacam itu terjadi, sedikit uang di sana sini, dan kau akan berakhir dengan cerita 'Artis Lee Victoria kabur keluar negeri setelah meninggalkan calon suaminya yang kaya raya sebelum pernikahan mereka, dan membawa kabur koleksi perhiasan yang tak ternilai harganya dari rumah calon suaminya itu," dahi Kyuhyun mengernyit, "Meskipun kalau memang harus terjadi seperti itu, nantinya akan sedikit merepotkanku. Oleh karena itu demi kebaikan kita, sebaiknya kita lebih memilih 'tangga'." Senyum mempesona Kyuhyun muncul lagi, "Bukankah kau harus berterimakasih karena aku begitu baik hati?"

Wajah Victroia pucat pasi. Berterimakasih? Apa maksud Jungmo? Pria ini tersenyum begitu manis, tetapi tatapannya begitu keji seperti orang gila, dan Victoria yakin Kyuhyun tidak segan-segan melakukan apapun yang tadi dideskripsikannya dengan begitu mengerikan,

"Jungmo... hiks," air mata mulai muncul di sudut mata Victoria mengalir melewati pipinya dan mulai terisak, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau menakutiku…hiks, ada apa ini sebenarnya?"

Dengan santai, Kyuhyun mengambil dasinya, lalu mengikatnya di bibir Victoria yang lunglai pasrah dibungkam mulutnya. Bagaimana mungkin dia berani memberontak kalau pisau tajam yang berkilauan itu teracung-acung di mukanya? Kyuhyun mengamati hasil ikatannya, tersenyum puas melihat Victoria tidak bisa berbicara. Kelihatan senang melihat air mata mengalir di pipi Victoria,

"Hmmm…. Karena kau tidak mau berterimakasih, lebih baik aku mengikat mulutmu, dengan begitu kau tidak perlu berbicara. Aku muak mendengar suaramu, kau tahu itu? Aksen mendesahmu yang dibuat-buat itu menjijikkan di telingaku, kau pikir kau seksi sekali ya heum?" Kyuhyun mencibir, dan berbisik di telinga Victoria. "Lagipula aku tidak suka kau memanggilku dengan nama Jungmo. Kau bisa memanggilku dengan nama Kyuhyun, chagi" Lelaki itu dengan lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi Victoria, mata Victroia membelalak, bingung dengan perkataan Kyuhyun barusan, "Aahh kasihan… Kau ketakutan sekali ya, sayang? Aku tak bermaksud membuatmu begitu ketakutan. Tapi kau tahu aku memang terlalu banyak bicara kalau sedang senang, mianhae ya?" dengan lembut Kyuhyun mengecup dahi Victoria. Lalu mendorong Victoria pelan-pelan keluar ruangan, menempelkan pisau yang dingin dan keras itu di pinggangnya.

Mereka melewati lorong-lorong remang-remang itu, dan Victroia berdoa sepenuh hati, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gelisah dan ketakutan.

Kumohon! Siapa Saja! Selamatkan aku!

Tapi doanya sia-sia, rumah itu begitu sepi dan senyap. Sampai mereka berdua berdiri di ujung tangga yang mengarah turun ke pintu utama di bawah. "Ada kata-kata terakhir, Nyonya Victoria?" Kyuhyun terkekeh, "Ah! aku lupa, mulutmu diikat ya?" dengan lembut Kyuhyun melepas ikatan di mulut Victoria.

Saat ikatan di mulutnya terlepas, Victoria bertekad untuk berteriak sekeras-kerasnya, membangunkan seisi rumah ini, meminta pertolongan. Tetapi dia baru membuka mulutnya ketika merasakan tubuhnya melayang ke bawah. Kyuhyun sudah mendorongnya.

Tubuhnya terlempar ke bawah melayang-layang sebentar, lalu terjatuh dengan keras. Bunyi tulang-tulang patah berderak terdengar di telinganya disertai rasa sakit yang amat sangat. Bau anyir darah mulai tercium. Terasa hangat dan nyeri menyebar tanpa henti dari belakang kepalanya.

Tapi tidak seperti kata Kyuhyun sebelumnya, rasa sakit itu tidak langsung lenyap, Victoria masih sadar. Dan rasa sakit yang menyerangnya sangat luar biasa, sungguh tak tertahankan lagi. Victoria masih bisa mendengar langkah kaki Kyuhyun yang menuruni tangga pelan-pelan lalu membungkuk di atasnya.

"Ah…. Masih hidup?" Kyuhyun tersenyum, mengamati posisi Victroia yang terlentang dengan aneh, tangan, dan kakinya tertekuk dengan posisi berlawanan, patah dengan tulang mencuat di kedua sisi. Dan darah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, mulai menggenang membasahi rambutnya, "Victoria yang malang, sungguh tidak beruntung, kasihan sekali..." Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya pura-pura iba, lalu sekali lagi terkekeh sambil mengamati Victoria penuh rasa humor.

Victoria mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, menyembur tanpa henti, menyakitkan sekali, sampai kemudian telinganya mulai berdenging. Victoria mencoba menatap Kyuhyun, mempertahankan kesadarannya. Lelaki itu masih berdiri di sana, tersenyum manis, mengucapkan 'good night' -selamat malam- dengan lembut, tetapi kemudian kegelapan itu mulai melingkupinya, menariknya ke dalam pusaran tak tertahankan. Dan benar kata Kyuhyun tadi, semuanya hilang... Semuanya lenyap...

"Hmm, sudah dibereskan, dan sebentar lagi hanya tinggal membuatmu menjadi milikku seutuhnya, Minnie-ah..." gumamnya menyeringai dan perlahan tubuh namja itu mulai menghilang seiring meninggalkan tubuh pucat Victoria yang masih bersimbah darah.

TBC (TuBerColosis!)

Annyeong! Masih ingatkah ff abal nan bingung ini? ._. yeah 2 minggu setelah UN memang melelahkan, repostnya tengah malem pula #kebiasaan mentang2 sibuk -_- oh ya! Naah kebuktikan siapa kyuhyun sesungguhnya? Harusnya disini udah pada tau kyuhyun itu siapanya jungmo. Kayaknya ngebunuh victorianya disini gak enak banget ya apalagi dideskripsiinnya begitu .-. but hope you like it, itung2 alhamdulillah masih ada waktu buat ngelanjutin :) naaah banyak yang nanya nih itu jungmo ato kyuhyun, sebnernya yang di mimpi sungmin itu kyuhyun, karena gak mungkin jungmo disitu orang yang suka bunuh orang, nah kalo kyuhyun, dia terobsesi dengan sungmin sehingga ngebunuh siapa aja yang ngehalangin dia ._. di chap depan mungkin bakal diceritain siapa sosok ayah sungmin dan apa hubungannya dengan jungmo.

Naah maaf gak bisa bales review satu2 :" kebiasaan ngerepost di tengah malem ngantuk membuat saraf otak bikin tidur _tapi serius deh, aku makasih banget udah pada ngereview ff ini, buat semuanya lho ya tanpa terkecuali, ^^"

Sekali lagi, terima kasih buat ngereview, ingat review dibutuhkan buat ngelanjutin nih ff hehe :D

REVIEW PLEASE! :)

Authors,

Jueta.