Arc I: Uzumaki Naruto dan Klub Penelitian Ilmu Gaib
Chapter II: Sona Sitri Tepat Seperti Apa Yang Diduga
2.1
.
Anggap saja begini, jika ada hal yang bisa kau hindari, maka secara pasti akan kau hindari 'kan?
Dan untuk beberapa alasan hal itu berlaku padaku.
"Uzumaki!"
Apa yang kau lakukan, jika kau sedang membaca buku dan saat itu, buku yang kau baca sedang dalam masa-masa klimaks. Sementara, ada orang yang mengetuk pintu di ruanganmu. Nah, jelas, akan muncul dua buah keadaan yang saling berkaitan.
Satu, membukakan pintu dan kau akan secara otomatis kehilangan minat membaca. Lalu hasilnya, kau akan salalu dihantui oleh ending dan sementara, niat membacamu tak ada. Aku pernah merasakannya, dan perasaan itu sungguh menyakitkan. Makanya, kalau bisa, aku tak mau mengulanginya lagi.
Dua, melanjutkan bacaan dan menghiraukan apapun yang terjadi. Maka dengan itu kau takkan dihantu ending, dan minat membacamu akan naik secara signifikan. Namun, efek paradoksnya, kau harus kehilangan satu poin di mata sosial. Dan jika itu berkelanjutan kau akan dipaksa menjadi seorang penyendiri.
Kehilangan niat membaca atau tak dipedulikan oleh sosial. Sungguh membingungkan!
Namun, karena alasan yang saling berkaitan, aku akhirnya memilih yang terakhir. Maksudku, aku pernah bilang kalau ada hal yang bisa dihindari, mengapa tidak dihindari?
Membaca itu hidupku, dan kehidupan sosial adalah yang membuatku begitu. Kehidupan sosial telah lama meninggalkanku, dan akhirnya memaksaku untuk menjadi seorang penyendiri. Jadi, karena alasan tadi, akhirnya kuputuskan untuk diam dan tetap membaca buku sambil mendengarkan ketukkan pintu yang semakin lama semakin keras. Yang kulakukan hanya tinggal diam dan tenang.
Diam dan tenang. Hmph! Sudah kuduga, aku ini memang seorang intelejen!
"Uzumaki, buka pintunya!"
Bicara soal itu, saat ini, aku sedang bersantai di kursi dan menyandarkan tanganku pada sebuah meja panjang. Meski sebelumnya aku bilang ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib memiliki desain yang sangat megah, namun, bicara soal peralatan klub, di sini hanya ada kursi, meja, dan peralatan minum teh sederhana. Bahkan, penghangat ruangannya sudah jebol dan itu menjadikan tempat yang sudah suram ini jadi tambah suram.
Tak ada sama sekali peralatan mewah seperti yang tampak terperi oleh kemegahan bangunan ini. Yang kutemukan di gudang pun, ketika aku menyusuri tempat ini kemarin, hanyalah tumpukkan kursi tua yang sudah tak layak lagi digunakan dan beberapa barang-barang buangan. Kerangka tubuh manusia yang tulang rusuknya sudah patah, kit tubuh yang jantung dan ginjalnya hilang entah di mana, dan beberapa catatan tak jelas anggota klub sebelumku.
Dan ketika aku bilang catatan tak jelas, catatan itu memang sungguh tak jelas. Aku bahkan harus mengernyitkan mata ketika membacanya. Di sana tulisannya ditulis dalam bahasa Inggris dan dengan tinta yang jelas dibuat luntur. Tertulis di sana berbagai macam jenis sihir, dan beberapa ritual iblis. Seperti penghidupan orang mati, perekrutan iblis baru, hingga metode pemilihan bidak yang cocok untuk manusia itu. Lalu itu membuatku berpikir kalau penulisnya adalah cuunibyou akut yang kelebihan fantasi.
Maksudku, apaan dengan penjelasan yang bilang kalau, beberapa manusia terpilih memiliki kelebihan yaitu sacred gear, dan setelah kematiannya, manusia terpilih tersebut akan bisa direikarnasi menjadi sosok iblis. Nah, kemampuan manusia yang telah direinkarnasi menjadi iblis akan ditentukan oleh bidak catur apa yang cocok dan dapat diresap oleh tubuhnya. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat membacanya, sumpah. Ini mengingatkanku pada masa-masa suramku saat tahun keduaku di SMP!
Tapi selain itu semua gedung ini memang sangat mencekam. Aku bahkan sempat berpikir kalau jika ada seseorang yang menanyaiku di manakah kira-kira tempat yang baik untuk mengambil gambar film horor, aku akan dengan sangat bangga menyarankan tempat ini.
Yah, meskipun begitu, aku juga agak merasa nyaman ada di ruangan ini. Masalahnya, meskipun letaknya ada di samping Klub Berpedang yang isinya cewek semua, tapi aku sama sekali tak mendengar kebisingan apapun di sini. Seolah, ada dinding sihir yang menghalanginya. Apalagi, lingkup ruangan ini ada di aekolah bagian belakang, yang berarti, takkan ada siswa yang mau repot-repot datang ke sekitar sini tanpa ada keperluan apapun.
Mungkin, rencanaku untuk mecari tempat tidur di atas rumput yang tampak nyaman kemarin harus kuurungkan. Tempat ini sudah lebih cukup bagiku untuk bisa bermalas-malasan tanpa gangguan dan batas. Apalagi, di samping itu semua di sekitar sini dipenuhi dengan pohon-pohon besar nan rimbun yang aku yakin, akan menjadi sangat berguna untuk meredam hawa panas ketika musim panas tiba.
Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul empat. Yang artinya sudah setengah jam aku di sini, dan sudah hampir setengah jam pula aku membiarkan Bu Rossweisse menggedor-gedor pintunya dan berisik sendiri di sana.
"Uzumaki, buka! aku pembimbingmu."
Terkadang aku berpikir betapa hebatnya tekad wanita yang sudah lama melewati masa remajanya itu. Masalahnya, aku sudah sering mempraktikkan aksi mendiamkan orang yang memanggilku ini di rumah. Dan biasanya selalu berhasil mengusir orang yang datang ke rumahku. Entah itu tukang pos, pembawa barang, hingga tamu ayahku.
Tapi, untuk orang yang menjadi wali kelasku ini, ia sama sekali tak bergeming. Meskipun sudah setengah jam kuabaikan, gedorannya pada pintu sama sekali tak ia hentikan. Bahkan, sesaat kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuatku takut. "Buka atau kudobrak pintunya."
Aku tahu itu gertakan biasa, tapi, aku juga tahu, orang ini tak pernah main-main. Misalnya...,
Brak!
..., benar 'kan!
Aku menyerah, cukup akting menjadi intelejensi-nya. Jika pintu ini hancur, maka ujung-ujungnya aku yang disalahkan.
"Iya Bu, tunggu sebentar."
Aku menandai buku itu, lalu menutupnya. Kalau sampai ia mendobrak pintu, aku akan dalam masalah besar. Meskipun aku masih punya simpanan uang tahun baruku beberapa tahun lalu, tapi aku sama sekali tak berencana untuk memakainya sebagai ganti rugi pintu yang rusak. Bahkan aku tak yakin uangku itu cukup, masalahnya, pintu yang ada di sini terlihat sangat berkelas, dan jelas bukan barang murahan.
Aku meraih sakuku, mengambil kunci yang kusimpan di sana. Dengan setengah berlari, aku menuruni tangga berkapet merah itu. Oh, iya, aku ada di lantai dua bangunan ini. Dan yang kebetulan memang itu agak membuat pergerakanku untuk mencapai pintu lebih susah.
Brak!
Sekali lagi suara itu terdengar, dan kali ini lebih mengerikan dari sebelumnya.
Aku tahu dia itu wanita. Tapi mengingat kemarin aku sudah diberitahu betapa brutalnya tinjuannya, aku sangat yakin kalau hanya sekedar menghancurkan pinru antik tua yang maha itu sama sepelenya dengan mendorong papan domino. "Iya Ibu, aku turun! Tunggu!"
Pintu, kumohon, bertahanlah!
Sambil berlari, aku sejenak sadar. Maksudku, jika aku datang padanya langsung sementara fakta bahwa dari tadi ia telah aku acuhkan, bisa-bisa aku terkena tinjuannya yang brutal itu lagi. Dan sekedar informasi, tinjuannya kemarin bahkan masih terasa menyakitkan sekarang.
Aku harus cari alasan.
Jika aku bilang, aku mengacuhkannya demi membaca buku. Habis aku!
Sementara jika aku bilang kalau dari tadi aku tidak mendengarnya, itu malah nampak irasional. Maksudku, seperti yang kubilang tadi, di sini sangatlah hening. Tak ada suara khas masa muda yang berkilauan di sekitar sini.
Apa? Berpikir Uzumaki Naruto!
Ah, iya! Sebuah ide terpikirkan oleh otakku.
Aku memasukkan kunci itu ke lubang pintu yang nampak begitu kesakitan akibat perbuatan tak bermoral wanita berambut putih itu. "Tunggu sebentar, Ibu!" ketika aku memutar kunci itu, bunyi klek, lemah berbunyi. Dalam hitungan milidetik, kutarik gagang pintu tersebut, dan hal pertama yang kulihat adalah, sosok mengerikan dengan tangan terkepal erat. "Sore, Uzumaki-kun!" ia tersenyum manis yang malahan membuatnya jadi tambah mengerikan.
Aku tahu, tersenyum manis dan menambah akhiran kun, adalah ciri-citi utama seorang wanita beradab yang manis. Dan karena makhluk yang ada di depanku ini adalah wanita, harusnya itu berlaku pula pada dirinya. Tapi, jika kau ingin melihat sang Leviathan yang agung, kau bisa bertanya padaku. Karena faktanya, Dia ada di hadapanku dan kini meraih pundakku.
"Bisa kau jelaskan ini?" entah bayanganku atau apa, tapi ada hawa hitam penuh energi negatif yang menguar dari rubuhnya.
"Ah..., itu, tidak. Hanya. Yah." bener 'deh. Aku gemetaran!
"Aku berdiri di sini hampir setengah jam dan kau baru membukakan pintu ini?" faktanya, Ibu kayaknya bukan cuma berdiri, tapi juga hampir membuat finansialku kacau gara-gara perlakuan penuh kasih sayang Ibu pada pintu ini.
"Aku sebenarnya, tadi, anu, itu..."
Jika tahu begini, aku tak akan mau jadi intelejen. Efek kemaran Bu Rossweisse bahkan secara drastis menurunkan semangatku untuk hidup. "Anu, apa?!"
Tenang. Uzumaki, tenang! Jika kau ingin selamat, kau hanya harus tenang. "Anu, itu Bu. Ibu tahu 'kan? Kalau hal yang paling dibutuhkan manusia adalah istirahat. Makan tanpa istirahat, kekenyangan juga. Minum tanpa istirahat, kembung, Bu."
"Yang intinya?" dia meninju dinding. Menakutka! Wanita ini benar-benar menakutkan!
"Oke Ibu, kami belajar hampir 7 jam sehari, dan akhirnya, itu memaksaku untuk mengoptimalkan seluruh jiwa dan ragaku untuk mendapatkan hasil yang bisa dibilang memuaskan, jadi-"
"Intinya?!" ia agak berteriak sekarang. Tangannya juga kembali menghantam dinding.
"Aku ketiduran."
"Oh."
Dan aku bisa merasakan, rasa sakit yang amat sangat di bagian perutku.
.
2.2
.
"Bagaimana?"
"Apanya?"
Saat ini, aku sedang berada di dalam ruangan klub dengan cahaya matahari sore menyinari kami. Bu Rossweisse sedang duduk dengan sikap otoriternya sebagai guru. Kakinya ia silangkan, tangannya berada di dadanya. "Kegiatan klubmu."
Dan lagipula, bisakah Anda mencari tempat duduk lain selain tempatku itu?
Seperti yang kubilang tadi, di ruangan ini hanya ada sebuah kursi, meja panjang, dan penghangat ruangan yang sudah jebol. Makanya, ketika ia seenaknya menduduki kursi yang kuambil dari gudang, itu membuatku harus repot-repot berdiri. Pangkatnya sebagai guru membuatku tak dapat mengusirnya.
"Tak ada yang spesial."
Maksudku, sudah hampir seminggu ini aku ikut klub, dan hidupku, bisa dibilang, tak ada yang berubah. Karena memang faktanya, tidak ada yang bisa membantuku bersosialisasi. Tidak ada kisah komedi romantis yang biasanya terjadi dalam sebuah klub. Tidak ada persahabatan erat antar anggota klub. Bahkan tidak ada pembicaraan antar anggota. Alasannya cuma satu, klub ini tak memiliki anggota selain aku.
"Baiklah..." wanita itu menyandarkan bahu. Ia menghela, dan menunjukkan ekspresi penuh lelah. "... sudah kuduga, orang sepertimu memang begitu."
"Tolong, jangan salahkan aku! Bagaimana aku bisa bicara dengan orang lain tanpa ada orang lain?"
Lagipula, bukankah Anda yang bilang kalau aku bisa menyerahkan masalah tantangan sosialisasi ini pada Anda!? Tapi apaan coba maksudnya... Klub ini sebelumnya hanya memiliki anggota kelas tiga yang langsung keluar ketika aku masuk. Dan itu artinya, saat ini hanya aku seorang yang terdaftar sebagai anggota tetap Klub Penelitian Ilmu Gaib. Lalu sekali lagi..., bagaimana bisa aku bersosialisasi tanpa sosial di sampingku?
"Bukankah aku sudah bilang, untuk menyerahkan semuanya padaku?" di situlah masalahnya, Bu. Ketika aku menyerahkan semuanya pada Anda, segalanya jadi seperti ini. "dan tenang saja, kejutanmu sebentar lagi datang."
"Oh, ternyata Anda bisa serius juga." kupikir, dia hanya bisa mementingkan diri sendiri, dan hanya menggunakanku sebagai ganjalan agar klub ini tak ditutup. "Tunggu, memang kaupikir aku ini orangnya seperti apa?"
Jika aku boleh jujur, mungkin: brutal, merepotkan, semaunya sendiri, penghasut orang lain, sadis, dan penyeretku dalam masalah. Tapi tentu saja aku tak bilang hal itu. Setidaknya, aku tak mau perutku tambah sakit. "Yah, seperti..., orang yang bertanggungjawab?" sial, aku tidak bisa menyembunyikan kebohonganku!
"Mengapa nadamu seperti mengejekku?" dia menggebrak meja. Dan matanya agak tajam menatapku. Jujur, itu membuatku agak ciut nyali sekarang. Bahkan aku tak berani mengarahkan pandanganku padanya. Jika sampai ia salah paham, bisa gawat urusannya. "Uzumaki, sudah kubilang, jika ada yang berbicara padamu, jangan alihkan perhatian!"
Jika aku tidak mengalihkan pandanganku, dan mata Bu Rossweisse serta mataku bertatapan, bisa-bisa ia menganggap aku mengajaknya berkelahi seperti tempo hari. Makanya, aku memilih untuk tetap mengalihkan pandangan, dan membiarkannya heboh sendiri.
Itu yang kupikir, sampai beberapa detik kemudian sebuah suara menginterupsi pembicaraanku dan Bu Rossweisse, "Permisi." suara itu terdengar dari bawah, dan diiringi ketukkan pintu pelan yang menggema.
Wajah Bu Rossweisse langsung berubah kembali. Dan posisi tubuhnya yang sempat membuatku takut tadi berubah menjadi sikap otoriternya kembali. "Kejutan untukmu sudah datang." ia mendengus pelan dan mengicapkannya penuh kebanggan.
Aku menatapnya. "Ha?"
"Jangan 'ha?' begitu. Buka pintunya!"
Maksudku, aku tahu aku akan membuka pintu. Sekalian aku juga berencana mengambil kursi di gudang lantai bawah. Aku sudah mulai pegal sekarang. Tapi, aku masih sedikit bingung dengan sikapnya ketika bilang 'kejutan' itu. "Cepat!" ah, iya.
Aku mengambil kunci di sakuku. Dengan langkah pasti, aku menuruni setiap anak tangga. Sakit di tubuhku kemarin belum sepenuhnya hilang, dan tadi, baru saja, Bu Rossweisse menambahkan porsi rasa sakit yang lebih. Jadi, ketika aku berjalan, perutku agak terasa tidak enak. Lalu ketika sampai di bawah, aku meraih gagang pintu dan memasukan kuci ke lubangnya. Bunyi gagang pintu diputar ringan terdengar lemah.
Hal pertama yang selanjutnya kulihat ketika pintu terbuka sempenuhnya adalah sesosok remaja seumuran denganku berambut sebahu dan tengah memegangi tas. Matanya berwarna ungu muda, dan ada jepitan rambut kuning yang menghiasi rambutnya. Wajahnya lancip ke bawah dan tingginya termasuk jangkung untuk cewek seusianya. Cahaya matahari sore yang menyinari tubuhnya membuatnya tambah memesona. Apalagi, pakaian yang membalut tubuhnya begitu rapi dan memenuhi seratus persen syarat pakaian yang harus dikenakan di sekolah ini. Mataku dan matanya bertatapan, dan entah bagaimana ada tarikan dalam diriku ketika memandang kacamatanya.
Aku bukan Akihito-kun. Aku bukan meganecom, sumpah!
Hanya saja, cewek ini memang benar-benar mengagumkan dalam seni kerapihan.
Aku menggaruk pipiku, dan kebingungan harus bilang apa padanya. "Ha-hai..., se-sela..." namun kemudian aku harus berhenti ketika cewek itu dengan cepat menyelaku. "Selamat sore, namaku Sona Sitri. Ditulis dengan sistem penamaan luar negeri, yang artinya nama keluargaku ada di belakang nama depanku. Itu juga berarti, aku memiliki afiliasi yang erat dengan hal-hal kebarat-baratan. Tapi, itu juga bukan berarti aku bukan warga Jepang asli, aku lahir di Tokyo, enam belas tahun lalu." dia lalu menunduk. "mohon bantuan ke depannya!"
Aku cabut semua pujianku tadi. Orang ini jelas bermasalah!
"Mo-mohon bantuan ke depannya..."
.
2.3
.
Tepat setelah aku menyilakan masuk seorang cewek berkacamata dan berambut hitam ke ruangan ini, aku segera menuju gudang penyimpanan kursi, lalu mengambil dua buah kursi yang nampak masih bisa kugunakan dari situ. Kirsiku sudah dikudeta oleh Bu Rossweisse dan sepertinya bukan hal yang sopan membiarkan cewek yang baru masuk itu berdiri. Kemudian dengan santai aku menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Kuletakan kursi itu masing-masih di bagian lebar meja kanan dan kiri. Seketika, cewek itu menduduki kursi yang kutaruh di bagian kanan meja. Dan sebelum aku sempat duduk wanita yang hampir menginjak kepala tiga iti dengan seenak udelnya menyuruhku membuatkan teh di dapur. Meski malas, tapi mengingat aku baru saja membuatnya emosi, aku tak mau mendapatkan sakit lagi di perut karena menolak permintaan sepele itu.
Jadi, di sinilah aku. Menunggu air mendidih sambil menyiapkan tiga buah cangkir yang kemudian kuisi ramuan teh. Dan bicara soal dapur ini, tempat ini meyatu dengan ruangan lantai dua Klub Penelitian Ilmu Gaib. Bahkan di dindingnya terdapat sebuah lubang sebesar satu kali dua meter yang membuatku, Bu Rossweisse dan cewek yang kutahu Sona Sitri itu bisa saling melihat.
"Sitri-kun, inilah tempat yang kujanjikan kepadamu saat pelajaran tadi." Bu Rossweisse dengan wajah yang biasa ia pakai tersenyum ke arah Sitri-san. "Tunggu, Bu! Daripada dijanjikan, bukannya lebih tepat disediakan untukku?"
Air yang kuseduh sudah mengepulkan asap dan mengeluarkan bunyi. Aku mematikan kompor itu dan menuangkan air yang telah mendidih ke atas saringan merah muda yang kuisi teh. Gelas kertas yang kupakai mengeluarkan asap dan bau menenangkan ketika saringan itu kuangkat. Aroma teh hijau berkumpul di depanku.
"Terserahlah. Tapi, bagaimana menurutmu?" mereka terus berbicara sementara aku mengaduk sebentar ketiga gelas itu.
Dan setelah teh itu selesai, aku mengangkatnya ke nampan dan membawanya ke ruangan utama klub.
Tanpa bekata, aku meletakkan cangkir di hadapan Bu Rossweisse dan cewek yang terlihat punya masalah yang sama sepertiku dengan Bu Rossweisse serta untukku sendiri di sisi yang paling jauh. Aku mengucapkan kalimat klise selamat dinikmati, untuk kemudian mengangkat nampan tersebun dan mengembalikannya ke dapur.
Butuh sekitar lima menit untukku merapikan kembali dapur itu. Lalu setelah selesai aku berjalan dengan gontai kembali ke ruangan utama lantai dua Klub Penelitian Ilmu Gaib. Aku langsung duduk ketika berada di depan kursi dan menghela sambil membuka novel ringan yang sempat kuabaikan tadi.
Aku menatap dua orang itu. "Jadi, inikah yang Anda maksud sebagai kejutan?" kupikir, ketika ia bilang kejutan, ini lebih seperti ia memasukkan anggota yang berbeda jauh denganku sifatnya. Tapi, untuk cewek yang duduk di sebelah sana itu, ia tampak punya masalah yang kurang lebih sama sepertiku.
Sebentar aku mengalihkan pandangan ke novel ringan kembali, sebelum kusadari ternyata penanda novel ringan dengan judul: 'Baka to Test to Shukanjuu' itu salah tempat. Aku yakin saat terakhir kubaca novel itu tadi, Yoshii-kun sedang debat dengan kakaknya. Namun, kenapa sekarang masalah Shouko dan Yuuji?
Apakah kakak geblek-nya Yoshii-kun pulang dengan baju saunanya lagi?
Saat aku sedang memikirkan itu, pikiranku tiba-tiba terbuyar saat Bu Rossweisse melempariku bolpoin. "Jika kau sedang berbicara dengan orang lain, jangan alihkan perhatianmu!"
Aku bukan mengalihkan perhatian, aku hanya khawatir kakak perempuan yang patut dipertanyakan kewarasannya Yoshii-kun itu melakukan hal aneh seperti ganti baju di rel kereta api. Lagipula, ini semua salahmu! Jika kau tak menggedor pintu tadi, penandaku takkan mungkin hilang.
Ah, biarlah. Nanti halaman yang tadi bisa kucari kembali. Sekarang, lebih baik aku menuruti orang yang suka seenaknya sendiri ini. Aku ingin membuka mulut untuk melanjutkan pertanyaanku yang sempat terpotong tadi. Tapi sebelum itu, Sitri-san yang ada di seberang sana dengan wajah datar mengatakan sesuatu. "Ini yang namanya Klub Penelitian Ilmu Gaib, Bu?"
"Aku bahkan hampir lupa berapa kali kau bertanya tentang itu." Bu Rossweisse tampaknya sudah lupa dengan apa yang ingin kukatakan. Masalahnya, ia tendensinya sekarang sepenuhnya teralih pada cewek berambut pendek itu. "Pokoknya iya."
Teh itu masih mengepulkan hawa panas. Tapi, Bu Rossweisse keliatan tak bermasalah dengan itu, ia menggenggap gelas kertas yang ada di depannya dan meniupnya sebentar untuk kemudian meminumnya. Namun karena memang teh itu masih panas, saat ia meminumnya ia tiba-tiba berteriak kecil. "Panas!" matanya terkejap sesaat.
Setelah itu, ia meletakan gelasnya dan menatapku. "Jadi, Uzumaki, menjawab pertanyaanmu tadi, inilah yang kumaksud sejak awal. Namanya Sona Sitri, tahun pertama kelas B. Dia adalah anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib kedua di tahun ini. Berbaikanlah dengannya!" di kalimat terakhir, ia menekankan kata 'berbaikan' dan matanya dengan sangat jelas mengucapkan: 'jangan-buat-dia-takut-dengan-mata-jahanamm-itu!'.
Tunggu, apaan itu? Aku ini tak pernah berniat membuat siapapun takut tahu!
"Salam kenal, Uzumaki-san." Sitri-san menatapku di balik kacamatanya dan mengangguk. Oh, jadi dia anak kelas B, berarti ia ada di kelas sampingku. "Hm, salam kenal, Sitri-san." dia tampak sopan.
Setelah mengenalkanku dan Sitri-san, Bu Rossweisse bilang sesuatu. "Lalu, hal pertama yang harus kau lakukan adalah menjelaskan apa itu Klub Penelitian Ilmu Gaib pada Sitri-kun, Uzumaki."
Apaan tadi?
"Yang benar saja, Bu." aku ingin protes, lagipula, bila dipikir-pikir, tugas ini adalah tugasnya sebagai orang yang mengaku jadi pembimbing klub ini. Dan aku yakin alih-alih paham dengan apa yang kujelaskan, cewek itu malah akan salah paham dan takut dengan mataku. Aku sudah siap untuk mengelak, ketika Bu Rossweisse menatapku tajam. Ah, orang ini beneran bikin repot! "Yah, baiklah..."
Mengingat kembali apa yang Bu Rossweisse katakan saat menjebakku ikut masuk klub ini, aku berdiri. "Jadi begini..." aku menggaruk pipi. Jujur saja, aku ini orang yang hanya punya satu lawan bicara selama di SMP dulu, dan bahkan sejak aku masuk sekolah ini, aku belum pernah bicara siapapun selain dua orang kakak kelas itu dan beberapa guru. Jadi, ketika aku harus disuruh untuk menjelaskan sesuatu pada orang lain, maka ada rasa gugup dalam hatiku. "... Klub Penelitian Ilmu Gaib adalah klub yang meneliti hal-hal yang yang berkaitan dengan dunia supranatural di mana anggota melakukan penelitian dan membuat laporan tentang itu."
Aku berusaha menjelaskan selogis mungkin, dan kuusahakan untuk terus menjaga hubungan dengan kata penelitian ilmu gaib. "Tapi, Uzumaki-san, jika tak ada masalah supranatural yang kita teliti, apa yang kita lakukan?" ia menatapku sambil memiringkan mata.
Hal pertama yang membuatku terkejut adalah, ia sama sekali tak salah paham dengan mataku, dan bersikap biasa saja. Bu Rossweisse juga terlihat tidak protes atas apa yang kujelaskan. Dan selanjutnya, aku sedikit emosi karena ia seenaknya mengganti 'aku dan dia' dengan 'kita'. Maksudku, kata 'kita' menunjukkan penggabungan antara kata 'aku' dan 'kamu', yang artinya 'aku' dan 'kamu' harus sudah sangat dekat. Kemudian mengingat bahwa baru saja aku dan dia bertemu yang artinya aku dan dia belum sedekat itu, kata 'kita' harusnya tidak boleh digunakan!
Tapi, memang pertanyaannya tadi sangat tepat dengan apa yang kutanyakan pada Bu Rossweisse. Yah, tentu saja sih, aku juga masih bingung dengan kegiatan utama Klub Penelitian Ilmu Gaib ini. Sejak kemarin yang kulakukan juga hanya membaca buku, minum teh, dan menyusuri tempat ini. "Tidak ada."
Mungkin kali ini, aku akan menjawab persis seperti apa yang dikatakan Bu Rossweisse kemarin. "karena memang ini adalah ladang berso–" entah bagaimana, dengan kecepatan yang tak sanggup kulihat dengan mataku, Bu Rossweisse berdiri dan tiba-tiba meninju perutku.
Ugh! Sakit perutku kemarin yang harus ditambah lagi sakit perut tadi masih terasa agak menyakitkan, dan sekarang, aku harus merasakan sakit perut lagi! Orang ini sadis atau apa sih!?
Tapi mengabaikan diriku yang tengan berguling di lantai dan mengeram penuh kesakitan, Bu Rossweisse berdiri dengan kembali dan menatap Sitri-san. "Intinya, kalian hanya akan mencoba mendekatkan diri antar satu sama lain." sekali lagi, jangan sebut aku dan dia dengan kalian!
Sitri-san juga tampak tak peduli dengan denganku, dan malah menyanggah pernyataan Bu Rossweisse. "Namun, jika begitu, lantas mengapa nama klub ini Klub Penelitian Ilmu Gaib? Maksudku, mungkin iya kita akan melakukan penelitian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan supranatural, namun, di abad ke-21 ini, saat manusia bahkan sudah mulai tak percaya Tuhan, menemukan hal-hal gaib jelas akan sangat sulit." dari pendengaranku ia berhenti sekejap dan menarik napas. "yang berarti kegiatan klub ini akan banyak berorientasi pada interaksiki dan cowok itu..., bukankah klub ini bahkan tidak pantas disebut klub?"
Selanjutnya, ia mengucapkan kalimat yang pasti akan jadi masalah menyakitkan nantinya. "Apakah sebegitu inginnya Anda untuk memasukkanku ke dalam kegiatan bodoh yang Anda sebut klub ini?" aku tak tahu apa masalahnya, tapi ia mengucapkan itu dengan penuh kebencian.
Dan mengingat itu, aku bertanya-tanya dalam hati, apa dia punya nyawa cadangan?
Bu Rossweisse memerah. Mugkin benar-benar tak menduga Sitri-san akan berkata begitu. "Mmm..."
Aku tahu ini masalah sepele. Tapi Bu Rossweisse adalah tipe cewek yang akan mati-matian menjaga argumennya. Maksudnya, walau ia tahu itu salah, ia akan menjaga omongannya dengan seluruh atensi yang ia punya dan berrjuang sampai titik darah terakhir. Dan jika keadaannya seperti ini, maka hal yang pasti ia akan lakukan adalah marah. Lalu, jika ia sudah marah, bahkan kepala sekolah-pun aku tak yakin bisa meredakannya.
Dan Sitri-san, selamat, kau sudah membangunkan sang Leviathan yang tidur di samudra pasifik. Kau akan segera merasakan betapa brutalnya wanita yang berpangkat sebagai wali kelasku ini. "Sona Sitri..."
Rasa sakit akibat pukulan mautnya wanita itu sudah agak mereda. Dan cukup untuk bisa membuatku berdiri lalu berusaha meraih tempat dudukku. "... kau harusnya bersukur karena kau adalah perempuan,"
Eh, memang mengapa kalau ia perempuan? "... karena andai saja kau laki-laki..." tunggu, jangan arahkan matamu kepadaku!
"... maka..."
Aku mulai khawatir sekarang!
" ... sudah pasti..."
Bu, Anda lihat sendiri tadi aku sudah berguling-guling karena pukulan terkahir Anda kan? Tolong ampuni aku!
[Pegasus Ryu Sei Ken]
Satu pukulan tepat mengenai perutku.
[Rozan Soryuha]
Shiryu-kun? Bagaimana bisa satu orang bisa punya dua-
[Diamond Dush]
-tiga jurus Saint?!
Lagipula, kenapa ia seolah senang sekali menganiayaku sih?!
"Lihat 'kan jika kau lelaki?"
Jadi, karena ini kau pernah bilang padaku kalau, untung saja aku lelaki. Maksudmu, aku bisa menjadi pelampisan emosimu?
Aku tak tahu emansipasi wanita itu bisa sangat menyengsarakan kaum lelaki. Jika saja tak ada orang yang meneriakkan 'Kesamaan Hak', maka aku tak akan terkena masalah bila meninju orang yang tak laku-laku ini.
"Tolong!" kembali, aku dipaksa untuk hanya bisa berguling-guling tanpa daya di lantai sambil memegangi perutku. Pukulannya kali ini beratus-ratus kali lebih menyakitkan dari yang pertama!
Seseorang ambilkan aku obat!
Aku mengangkat tangan, mencoba mendapatkan perhatian Sitri-san. Aku harus memringatkannya agar tidak membuat wanita brutal ini mengamuk lagi. "jangan buat Bu Rossweisse marah lagi."
Karena jika itu terjadi, habislah riwayatku.
Sitri-san ternganga, sebentar ia menghembuskan napas. Entah sadar atau tidak, ia berkata "Apa ini yang disebut itu, pantas saja..." sambil tangannya menutu mulut.
Aku tahu kelanjutannya, ia pasti akan bilang sesuatu seperti alasan mengapa wanita yang sudah membuatku berguling-guling ini tak laku-laku. Dan jika sampai ia tak kuhentikan, maka aku yakin rasa sakit yang mendera tubuhku ini akan segera bertambah. "Ibu tidak-"
Brak!
Meskipun aku memang berencana untuk menghentikan cewek itu, tapi suara gebrakan meja itu bukan ulahku. Tapi Bu Rossweisse yang sekarang memasang wajah mengerikannya kembali. "Tidak? Tidak apanya, sayang?"
Bu Rossweisse memang nampak tersenyum manis, bahkan sangat manis. Tapi, ketika mengingat betapa ia sering menghajarku dengan wajah yang sama itu, agaknya ini membuatku was-was. Bisa-bisa aku kena bogem lagi!
Sitri-san menelan ludah. "Ma-maaf Ibu, ti-tidak ada."
Ia tahu resikonya! Untunglah!
.
2.4
.
Saat ini aku dan Sirti-san sedang duduk sambil menikmati hembusan angin musim gugur di ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib. Daun momiji jatuh terkulai di bawah kakiku. Aku meraih light novel yang tadi sempat terjatuh akibat pukulan beruntun Bu Rossweisse yang diarahkan padaku.
Dalam pandanganku, kulihat cewek berkacamata itu juga sedang meraih manga shoujo di dalam tasnya.
Oh, iya, ngomong-ngomong Bu Rossweisse sudah pergi meninggalkan klub ini. Nampaknya ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan. Dan itu entah bagaimana membuatku agak nyaman. Dengan tak adanya wanita brutal itu, berarti takkan ada lagi rasa sakit yang menyerang perutku. "Ngomong-ngomong, Uzumaki-kun, mengapa kau ikut klub ini. Dari wajahmu aku tak yakin, kau punya minat tersendiri dalam hal yang berbau gaib,"
Ia masih mengarahkan pandangannya pada manga shoujo yang ia baca. "Atau mungkin ada hal lain?"
"Bukan begitu juga sih, tapi..." karena secara fakta memang benar begitu adanya. Aku adalah orang yang dijadikan tumbal dan mainan oleh wanita berambut putih itu untuk menjaga agar klub ini tidak dibubarkan. "aku memang tak terlalu tertarik sama hal yang berbau gaib. Tapi sepertinya berbaur dengan mitologi-mitologi itu menyenangkan."
Setidaknya, aku tidak ingin punya alasan yang normal. "Kalau Sitri-san sendiri."
"Mungkin karena sebuah kesalahan kecil." menjawab pertanyaanku, ia megapit rambutnya yang jatuh dan menyelipannya ke belakang telinganya. Ia juga membenarkan posisi kacamatanya yang bergeser turun. "karena aku terlibat masalah sosial. Jadi Bu Ross mengajakku, tidak, memaksaku masuk ke klub ini."
Orang itu seberapa sukanya sih, mengganggu masalah sosial orang lain? "Hanya bertanya, tapi kira-kira apakah masalah itu?"
"Hmph!" saat aku bertanya begitu padanya, aku mendengarnya mendengus lelah. "kira-kira apa, ya? Cewek-cewek itu yang asal menjudge-ku sebagai orang rendahan. Aku hanya membuat mereka sadar kalau mereka tak lebih dari sampah."
Itu ngeri. Benar-benar ngeri. Mana ada cewek bisa bilang begitu sama orang lain. Dan bagaimana kau bisa jujur soal itu?
"Jadi intinya kau masuk ke klub ini karena cewek-cewek di kelasmu iri padamu?"
"Mereka bukan iri. Tapi mereka terlalu menganggap diri mereka adalah yang terbaik."
Aku bisa merasakan desiran emosi yang aneh berhembus dari cewek ini. Dan itu lebih seperti emosi ketika kau sedang dihina mati-matian dan akhirnya kau bisa membalasnya dengan lebih kejam. "aku hanya menyudutkan mereka habis-habisan di pelajaran kewarganegaraan. Bu Ross yang menjadi pembimbing di acara itu. Mereka menangis dan aku yang kena masalah."
Sadis! Cewek ini sadis!
"Tunggu Sitri-san bukannya itu terlalu kejam untuk mereka?" aku tahu orang-orang semacam itu, dan aku juga membenci mereka. Tapi membuat mereka sampai menangis dan kau terkena masalah, itu bukan hal baik tentunya. "bukankah memang sifat dasar manusia begitu."
Mereka akan menunjukkan diri mereka ke muka umum dengan segala atribut keanehan yang mereka anggap wajar. Apalagi, dengan alasan masa muda, mereka mengabaikan semua norma yang ada agar mereka bisa diakui.
"Tepat sekali! Manusia adalah makhluk aneh yang hatinya hanya diisi oleh kebencian, kecemburuan, serta kedengkian dan hanya memikirkan diri sendiri," ia menutup bukunya. Lalu ia berdiri dan entah bagaimana wajahnya penuh kebanggan yang aneh. "persetan masalah zoon politicon, itu tak lebih dari omong kosong seperti bushido-nya para samurai yang telah kehilangan harga diri."
Aku mulai berpikir keadaan simulasi sosial yang dibicarakan Bu Rossweisse tentang klub ini adalah kebohongan belaka. Karena faktanya, di sini ada orang yang lebih membenci sosial lebih dari aku. Selain itu, aku yakin saat dua buah kebencian bersatu hal itu takkan menjadi hal yang baik.
Ia duduk kembali lalu menatapku tajam. "Wajahmu, apa itu karena kau sering terkena masalah sosial?"
Eh, apaan itu? Jangan menilai seseorang yang dari wajahnya. Itu pelajaran sosial yang sangat berharga. Lagipula, memang 'sih wajahku sering membuatku kena masalah, tapi asal kau tahu, aku juga membenci hal itu.
"Tidak."
Untuk menjaga harga diriku, aku balas menatapnya tajam. Entah apa yang ia pikirkan yang jelas, ia langsung mengalihkan perhatiannya. "Iya, aku tahu. Mana ada orang yang mau bergaul dengan orang aneh berpandangan mesum sepertimu yang seenaknya memandang dada orang lain sepertimu." dan lalu ia menyilangkan tangan di depan dadanya.
Aku tidak mesum! Lagipula, jikapun aku memandangmu, maksudku sama sekali lain dengan apa yang ada di pikiranmu itu. Mana mungkin aku memandang tebing rata yang kausebut dada itu!
"Lagipula aku tahu alasan mengapa Bu Ross mengirimmu ke klub ini. Pasti karena mata dan wajah vulgar dan menyeramkanmu itu," kembali ia menatapku dengan mata violetnya sambil membenahi posisi kacamatanya. "yang intinya, kau masuk klub karena tidak punya teman."
Sialan! Bagaimana cewek ini bisa bilang begitu pada orang yang baru ia temui. Lagipula, aku memang agak tertarik dengan mitologi-mitologi, seperti Percy-kun. "Aku bukan tidak punya teman."
"Aku hanya memiliki standar tinggi atas hal yang disebut pertemanan."
Aku mendengus. Menghadapi cewek ini tidak boleh memakai kata sabar, karena kau hanya akan diinjak-injak olehnya. Aku harus mengeluarkan semua kemampuan yang kupunya. "Asal kau tahu saja... aku ini aslinya cukup memesona."
"Aku masuk dalam 10 orang yang menerima beasiswa selama tiga tahun. Dan karena orang baik hanya akan bersama orang baik, maka orang pintar hanya akan bersama orang pintar." menunjukkan sisi baikku adalah yang paling penting. "cukup sulit, kau tahu? Menemukan siswa yang bisa masuk dalam deretan itu."
Ia menatapku, dari ekspresi wajahnya ia nampak jijik. "Dan asal kau tahu juga Uzumaki-san, hanya orang bodoh yang memamerkan senjata utamanya saat bertemu dengan musuh. Atau minimal, orang itu hanya cari mati."
Cewek ini! Dia lahir dari apa 'sih? Api? Atau dia itu iblis? "Lagipula, tak ada orang yang bisa menilai diri mereka sendiri. Sebuah keindahan hanya akan bisa dilihat oleh orang lain."
"Oh, aku tak menyangka orang sepertimu bisa bilang begitu pada orang lain. Dasar aneh."
"Kau adalah orang terakhir yang ingin kudengar mengatakan itu padaku. Cewek sadis!"
"Sekali lagi, Uzumaki-kun, jangan tatap aku dengan mata terkutukmu itu! Kau hanya menakut-nakutiku!'
"Berisik!"
Tanganku gatal! Beneran 'deh, aku ingin meninju mulutnya yang seperti ular itu. "Pantas saja Bu Rossweisse menyuruhmu ke klub ini. Mana ada orang yang bisa tahan dengan cewek aneh sepertimu."
"Itu lebih baik daripada bergaul dengan orang mesum dan menyeramkan sepertimu."
"Jalang!"
"Apa kau bilang?" jika biasanya cewek dikatai begitu maka ia akan memerah dan berteriak keras seperti; 'bego!', 'tolol!', atau apapun itu, cewek ini benar-benar berkebalikan. Dia tenang dan kalem. "Asal kau tahu saja, aku masih terlindungi kesucian."
"Yah, aku yakin itu..." mungkin ini sebenarnya juga berlaku untukku. "... mana ada cowok yang mau berpasangan denganmu."
Ia memiringkan kepala. Lalu menatapku angkuh. "Kau tak tahu saja, aku ini selalu manis..." iya, 'sih. Jika dilihat dari penampilan, kau memang begitu.
Dia adalah cewek berkacamata ungu dan bermata violet, rambutnya dipotong pendek. Apalagi, dengan penampilannya yang mencerminkan kesopanan dan kesantunan itu. Aku bahkan sempat takjub melihatnya tadi. Tapi setelah tahu seberapa mengerikannya mulutmu itu. Aku bisa bilang aku manarik semua kata-kataku tadi.
"Jadi banyak cowok yang mendekatiku selama bertahun-tahun, hanya karena ingin bersamaku."
"Jika hanya karena itu, lalu mengapa kau membenci sosial. Bukannya karena itu kau bisa menikmati masa muda seseorang yang kau anggap spesial."
"Bodoh, jika itu semua berjaan lancar, kau takkan melihatku di sini." walau ia masih tak mengendurkan tensinya padaku, aku bisa merasa kalau ia sudah lebih tenang. "kautahu, berapa kali aku tak ikut olah raga di SD dan SMP?"
Aku mengangkat bahu, apa peduliku soal itu. "Hampir setiap bulan."
"Karena setiap aku mengambil sepatu di loker, mereka sudah tidak ada. Dan aku lebih yakin, kalau orang yang menyembunyikan sepatuku adalah cewek. Karena faktanya, aku bisa mendengar tawa mereka di belakangku."
"Seperti yang kubilang; manusia adalah makhluk aneh yang hatinya hanya diisi oleh kebencian, kecemburuan, serta kedengkian dan hanya memikirkan diri sendiri. Dan itu semua hanya karena cewek-cewek tadi merasa terkalahkan dan iri karena kecantikanku."
"Makanya, akhirnya, aku memutuskan semua urusan dengan para lelaki, dan memilih masuk ke sekolah di mana jumlah siswa lelaki lebih sedikit, atau bahkan tidak ada. Tapi, kenyataannya, di manapun, yang namanya manusia takkan berubah."
Aku menatapnya, terdiam sejenak, untuk bilang; "Aku turut bersimpati. Pasti itu menyakitkan."
Aku tak pernah merasakan begitu, karena faktanya, hanya kepala geng sekolah yang bahkan hanya, berani bicara padaku. Jadi, presentase aku dijahili, adalah nol. Tapi, dalam hal kesepian dan kesendirian karena dibenci, aku dan dia sama.
"Tidak apa, toh memang benar, aku memang manis."
"Aku membenci mereka. Karenanya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan akhirnya bisa menyumpal mulut mereka dengan uang atau apapun itu yang mereka butuhkan."
"Kau tahu? Itu agak berlebihan."
"Biar saja. Toh, itu tak melanggar undang-undang yang berlaku."
"Tapi itu tetap terlalu berlebihan."
Sambil begitu, aku mulai berpikir. Normalnya, jika dihadapkan dengan situasi begitu, manusia akan berusaha mengikuti alur kehidupan. Yaitu dengan cara, meminta maaf kepada cewek-cewek tadi dan berusaha berhubungan dengan mereka. Seperti yang sering kulihat di anime dan manga.
Sona Sitri menderita karena apa yang dimilikinya, dan tidak dimiliki orang ia tak berusaha menyembunyikannya.
Dia sama sekali tak berbohong pada dirinya. Dan itu cukup membuatku terkesan, jujur saja.
Deting jarum jam mulai menggema di ruangan yang lebar ini. Kulihat Sitri-san mengambil manga shoujo miliknya dan membuka penanda yang nampaknya buatannya sendiri. Aku juga melakukan hal yang sama, dengan tenang, aku mengambil novel ringanku.
Keheningan tercipta di antara aku dan Sitri-san. Bagi orang yang lebih sering menikmati semua waktunya dalam kesendirian, hal itu benar-benar membuatku nyaman. Rasa canggung hanya akan tercipta saat kau berusaha menentukan topik apa yang akan kau jadikan pembicaraan. Jadi, solusinya adalah diam dan tak usah memikirkan hal itu.
Kuraih gelas teh yang mulai dingin dan meminumnya sedikit demi sedikit. Ada sedikit kehangatan yang kurasa ketika teh itu mengalir melewati tenggorokanku.
Dan aku pun berpikir. Mungkin, inilah takdir yang memertemukan kami berdua. Orang yang sama-sama terjebak dalam masalah sosial, dan sama-sama masuk dan terhimpun dalam klub yang sama.
Sona Sitri orang yang dibenci orang lain karena bakat alamiah yang ia miliki. Sementara aku, Uzumaki Naruto, adalah orang yang dibenci dan dipaksa untuk membenci orang lain karena wajah sangar yang kumiliki.
Kami sama-sama membenci kehidupan sosial. Dan jika ada dua buah kesamaan, maka biasanya, hal itu akan menjadi baik jika disatukan.
Orang yang menikah bisa akur dan bahagaia karena mereka saling berjanji untuk mencintai.
Seorang samurai akan setia kepada tuannya karena mereka sama-sama ada dalam keadaan di mana keduanya saling membutuhkan.
"Mungkin jika kau mau, kita bisa menjadi te –"
"Mohon maaf, namun, harapanmu itu terlalu tinggi."
"Aku bahkan belum selesai bicara."
Sona Sitri bagaimana-pun, dia itu agak ...
.
2.5
.
Aku sudah sadar, kalau dalam hidupku, kesialan seolah tak ada habisnya mengejarku. Tapi, untuk saat ini, kupikir kesialanku sedang bertumpu pada satu titik dan menghasilkan kesialan yang lebih sialan dari sebelum-sebelumnya. Aku baru saja kembali dari ruang klub ketika dering lonceng penanda jam klub telah habis berbunyi. Baru satu hari aku bersama Sitri-san di Klub Penelitian Ilmu Gaib dan rasanya wajahku akan segera mengalami penuaan dini.
Aku terus berjalan, sampai di bangku taman sekolah aku melihat seseorang berambut putih dengan seragam khas pengajar di sekolah ini tengah duduk sambil melambaikan tangannya ke arahku. "Ke sini sebentar Uzumaki!"
Walau sebenarnya aku ingin sekali menolaknya, tanpa kusadari langkah kakiku berjalan sendiri menunju arahnya. "Selamat sore, Bu!" aku menyapanya.
"Sore!" dia membalasku dan menepuk-nepuk bagian kursi kosong yang ada di sampingnya. "duduklah!" mengangguk perlahan aku duduk di sampingnya.
"Kopi?" saat aku duduk, ia bilang begitu. Di sampingnya memang ada mesin penjual minuman. "Mungkin itu bagus."
"Manis atau pahit?"
"Kudengar, hal-hal yang manis bisa menurunkan stress." berbicara dengan Sitri membuat seluruh tubuhku mendidih. Jadi, kupikir meminum-minuman manis bukanlah hal yang buruk.
"Kalau begitu, tunggu!"
Bu Rossweisse berdiri, lalu nampak memasukkan koin logam ke mesin kuning itu. Suaranya berdecit aneh. Dan akhirnya, sebotol kopi keluar dari dalam mesin itu. Ia mengambilnya dan kembali duduk di sampingku. Aku mengambilnya ketika ia menyerahkan kopi itu, dan selanjutnya, rasa hangat memenuhi telapak tanganku.
Angin itu serasa menusuk tulangku. Walau ini baru memasuki musim gugur, namun anginnya benar-benar dingin. Yah, tak pantas juga aku bilang baru memasuki, karena faktanya, tinggal beberapa minggu lagi musim dingin melanda Jepang.
Dan yang kutahu, semua orang sudah siap dengan pakaian super tebal khas musim dingin mereka.
Aku melilitkan lagi syal orenku yang mulai melorot. "Bagimana keadaan klub sekarang?"
"Jangan bilang kalimat seolah Anda sudah lama pergi dari sini dan baru saja kembali. Anda baru saja dari ruangank klub, bukan?" apa ia lupa?
Ia membuka kaleng minuman itu dan menenggaknya. "Hmm, kaubenar juga, Uzumaki." setelah selesai dengan minumannya, ia menggenggam kembali kaleng itu dengan kedua tangannya.
"Baiklah, kuganti pertanyaanku. Bagaimana menurutmu Sona Sitri itu?" aku masih merasakan kehangatan kopi itu pada tanganku ketika Bu Rossweisse menyandarkan diri pada bahu kursi.
"Jika boleh kubilang, dia itu aneh, penyendiri, dan bermulut pedas."
Bu Rossweisse tersenyum. "Tepat seperti dugaanku. Baru kutinggal beberapa menit saja kalian sudah mengalami kemajuan."
"Ha?"
Apa tadi dia bilang?
"Kau akhirnya bisa menilai orang lain dengan benar, walau dari sisi negatifnya. Itu tandanya kau sudah bicara dengan orang lain. Itu sudah cukup bagus."
Ia memukul pundakku. Tepat ketika aku berusaha membuka tutup kaleng kopi yang ia berikan padaku. Saat kaleng itu terbuka, uap air mengepul dari dalamnya.
Aku meminumnya. Hangat dan nyaman, hal itulah yang selanjutnya yang kurasakan. "Aku bukan tidak bisa bicara dengan orang lain. Aku hanya tidak suka pembicaraan yang penuh omon kosong bersama orang lain. Hanya itu."
"Tapi intinya kau bicara dengan Sitri-kun 'kan?'
"Iya. Namun, pembicaraanku dan dirinya isinya tak jelas semua."
"Ok, mungkin sekarang kau belum merasakannya, karena Sitri-ku memang begitu orangnya." sekolah sudah mulai sepi di jam segini. Jadi, di bangku taman ini, hanya ada aku dan Bu Rossweisse.
Jika Anda sudah tahu sifatnya si Sitri bermulut silet itii, mengapa Anda meminta pendapatki tadi? "selanjutnya masih ada kok! Tenang saja."
"Eh, jadi ini belum berakhir Bu?"
"Bahkan bisa dibilang, ini baru dimulai."
Dan Bu Rossweisse tersenyum licik padaku.
