Bond

.

Warning: AU, OOC, OC, Misstype.

Disclaimer: Uchiha Itachi, Hyuuga Hinata, dan seisi desa Konoha adalah milik Om Masashi

.

.

3

.

.

Aku melihat bosan dari jendela mobil.

Tidak ada yang menarik. Cuma pohon dan pohon, langit, awan, dan rumput yang tumbuh di tepi jalan. Aku bosan.

Kami telah menghabiskan waktu lebih dari lima jam menuju Kiri. Ayah mengajakku ke tempat kakek dan nenek. Karena besok ada perayaan tahun baru, ayah mendapat cuti dari Kakashi.

Kakekku bernama Fugaku, seperti namaku. Nenek bilang itu karena dia sangat menghormati ayahnya, maka ia menamai aku, yang anaknya, Fugaku juga.

Nenek sangat baik. Dia sering bercerita tentang masa kecil ayah yang konyol dan lucu. Dia juga pintar memasak, masakannya selalu membuatku ketagihan. Dia tidak gampang marah dan tawanya lembut. Waktu aku masih balita, saat aku dan ayah masih tinggal bersama mereka, nenek sering sekali mengusap kepalaku dengan lembut. Dia juga sering menemaniku tidur. Aku tidak pernah kesepian di sana.

Aku tersadar mobil kami telah berhenti. Ayah membuka sabuk pengaman yang kukenakan, lalu aku langsung membuka pintu dan berlari menuju kakek yang telah menanti di depan pintu. Dia menggendongku dengan penuh semangat. Dia seolah bukan pria diusianya. Semangatnya membuat dia terlihat lebih muda.

Ayah menyusul tak lama kemudian. Dia memeluk nenek, mengangguk pada kakek, dan kami sama-sama masuk ke dalam rumah.

Karena aku sudah sepuluh tahun, kali ini aku dapat kamar sendiri. Kamar di ujung lorong yang ada di lantai dua.

Nenek bilang itu dulunya kamar ayah.

Tanganku yang hampir menyetuh handelnya jadi berkeringat. Aku gugup. Dalam diriku bertanya-tanya, 'Seperti apa kamar ayah waktu muda? Seperti apa dunia ayah waktu itu? Seperti apa ayah waktu muda?' aku benar-benar penasaran.

Jawabannya kutemukan di detik pintu kamar terbuka.

Kamar itu tidak terlalu luas. Sepasang jendela besar yang terbuka membuat angin bebas masuk dan keluar, suasananya jadi segar. Dinding kamar bercat putih. Seprai, meja, dan kursi, juga sama. Sebuah lemari berisi buku-buku pelajaran di pajang di pojok ruangan. Aroma cendana memenuhi udara.

Kamar yang sempurna.

Aku seharusnya tahu, kalau dari dulu, ayahku memang begitu; simpel, rapi, dan terlalu detil. Yah, tidak terlalu berubah dengan dia yang sekarang.

Kamarnya yang bilang.

Kami jarang ke sini. Jarak yang jauh jadi salah satu alasannya. Dan ini adalah pertama kalinya aku melihat kamar yang digunakan ayah waktu dia muda. Aku penasaran. Jadi aku membawa kakiku melangkah melihat-lihat lemari buku yang bersih dari debu.

Di rak bagian atas, ada beberapa piala, lalu, pigura yang memuat foto ayah waktu SMA. Sisanya adalah ensiklopedi, kamus, dan bacaan berat lain. Aku tertarik pada sebuah buku bersampul hitam yang terapit kamus Oxford yang tebal dan sebuah ensiklopedi sains. Bentuknya tidak terlalu besar, dan tidak terlalu tebal. Ada magnet yang jadi penguncinya. Bentuknya benar-benar klasik.

Aku membukanya hati-hati sekali, berusaha menahan antusias besar yang seperti ingin meluap dari dalam perutku. Halaman pertama penuh dengan tulisan dari pensil yang telah buram karena dibawa waktu. Ada beberapa tanggal dan kegiatan serta tugas yang harus diserahkan. Di baliknya, ada setumpuk rumus yang hanya terlihat seperti kumpulan angka dan simbol yang saling tumpang tindih. Halaman ketiga tidak jauh berbeda. Saat membalik halamannya lagi, aku terus menemui hal yang sama.

Bosan, aku mengembalikan notesnya ke tempat semula.

Lalu pandanganku bertemu dengan selembar foto yang dipajang di atas meja belajar.

Itu ayah, dengan teman-teman masa mudanya.

Aku mendekat dan duduk di kursi. Tanganku menjangkau foto itu.

Ternyata ayahku seperti ini ketika dia masih muda. Dia adalah pemuda serius yang punya kharisma. Tatapan matanya tajam saat menghadap kamera. Dia tetap tenang di sana, sementara teman-temannya tengah sumringah sambil memegang tropi juara. Dia seperti imun pada suasana yang cerah meski harus tenggelam dalam jersey oranye yang menyala. Ayahku tidak banyak berubah, sepertinya.

Aku mengenali orang yang duduk di samping ayah sebagai Kakashi. Rambut putihnya benar-benar menyolok. Di sebelah mereka, ada guru yang rambutnya klimis. Aku ingin tertawa melihat gaya rambutnya. Serius? Apa masih jaman gaya rambut seperti itu?

Di barisan paling pinggir, berdiri dua orang perempuan mengenakan seragam sailor. Aku cukup terkejut karena salah satunya sangat mirip dengan Hinata-san, orang yang aku asumsikan sebagai kekasih Naruto. Ayah memang kelihatan pernah mengenal HInata sebelumnya. Ternyata benar, mereka satu sekolah.

Aku masih memegang foto itu ketika ayah masuk dan menghampiriku.

"Makan?"

"Tidak, aku masih kenyang," aku menolak.

Ayah bertahan di situ, sementara aku masih bergumul dengan rasa penasaranku.

"Ayah dan Hinata-san dulu satu sekolah?" tanyaku tanpa sadar. Aku terkesiap dan buru-buru menutup mulut. Aku memberanikan diri melihat ayah.

Ayahku kelihatan berpikir. Matanya menatap lurus suatu titik tak terlihat di dinding. Ekspresinya tak banyak berubah. Dia seperti lelah, atau mungkin jenuh. Entahlah. Yang pasti aku jadi tidak enak padanya.

"Iya. Kami satu sekolah. Dia adik kelasku."

"Oh," aku cuma menanggapi sebatas itu. Sebaiknya pembicaraan ini diakhiri. Aku tidak ingin ayahku punya ekspresi menyedihkan seperti ini.

"Dia dulu manajer tim sepak bola. Karena ayah juga anggota klub, kami sering bertemu."

Karena ayah cerita, aku jadi tahu banyak hal. Seperti kenapa ayah bisa dekat dengan Kakashi, nama pemuda perambut klimis itu, kakak Hinata-san yang jadi teman sekelasnya, dan kehidupan masa SMA. Aku sebenarnya ingin tahu lebih banyak, tapi nenek keburu memanggil kami untuk makan.

Di dapur, paman Sasuke sudah duduk bersama kakek dan nenek. Aku mengambil tempat di sebelah ayah. Setelah kakek selesai berdoa, kami mulai makan. Yang pertama kali mengambil perhatianku adalah aroma lezat dari sup yang nenek buat.

Nenekku memang sangat ahli memasak. Jika nanti ayah akhirnya punya isteri, aku ingin dia bisa memasak makanan seperti yang nenek buat.

Pasti akan menyenangkan.

.

Hari ini ada kunjungan orang tua di sekolah. Itu sebabnya, sekolahku sudah ramai sejak pagi. Para orang tua akan melihat kegiatan belajar anak mereka selama beberapa jam ke depan dari tempat yang telah disediakan di belakang kelas. Beberapa teman-temanku terlihat gelisah di bangkunya, mereka mungkin gugup. Jika dia tidak serius belajar hari ini, orang tua mereka akan tahu. Lalu, mereka akan dihukum. Hanya aku yang kelihatannya tanpa beban.

Ayahku tidak datang. Dia mungkin lupa, atau dia terlalu sibuk bekerja hingga tak punya waktu. Aku kesal, tapi juga tidak tahu harus berbuat apa. Jujur saja, aku iri pada Shikaku yang meskipun ibunya galak (dia sempat cerita kalau ibunya bisa berubah jadi monster tak berperasaan ketika marah), dia masih sempat menjenguk anaknya.

Kalau aku punya ibu, kalau ayah punya isteri, tentu aku tidak akan berakhir begini. Maksudku, jika ayah tidak sempat datang ke sekolah, itu bukan masalah besar. Masih ada ibu yang bisa diandalkan.

Aku benar, 'kan?

Kan?

Tentu saja jika isteri ayah nanti tidak seperti ibu tiri dalam drama Cinderella.

Kelas hari ini selesai lebih cepat. Aku sebenarnya senang, hanya saja, keabsenan ayah pagi ini di sekolah membuatku sedikit lemas juga. Ayolah, orang tua lain begitu antusias hari ini, masa' ayahku justru tidak hadir?

.

Rute dari sekolah ke halte memang melewati kawasan pertokoan yang ramai. Ada banyak orang dewasa dengan tubuh tinggi mereka yang berlalu lalang di sini, kalau tidak hati-hati, akan mudah sekali terombang-ambing tanpa tahu jalan keluar. Tubuh besar mereka akan dengan mudah menghantam anak kecil sepertiku. Tapi aku adalah Uchiha Fugaku, putera dari Uchiha Itachi, anak sepuluh tahun yang kuat dan pintar (setidaknya itu yang para siswi di sekolah bilang), aku tidak akan membiarkan diriku mengalami penderitaan semacam itu.

Tapi semuanya berubah waktu aku melihat seseorang berambut pirang, yang aku kenal sebagai Naruto, menggandeng seorang perempuan yang juga pirang masuk ke sebuah toko perhiasan.

Aku terlalu terkejut dan tak bisa bergerak, hingga kemudian sepasang kaki besar benabrakku. Tubuhku tergeser beberapa senti ke samping, lalu kaki lain datang menubruk, aku terbawa lagi. Selanjutnya terus seperti itu sampai aku tidak tahu entah sudah berapa kali aku ditabrak.

Akhirnya, dengan usaha keras, aku berhasil keluar. Aku masuk ke toko yang disinggahi Naruto, mencari-cari, dan akhirnya menemukannya berdiri di depan sebuah etalase sambil mencoba memasangkan cincin ke wanita pirang itu.

Aku marah.

Jadi aku berteriak, berlari, dan menendang kakinya hingga cincin yang coba dia pasang ke kekasihnya itu jatuh. Kemudian, aku berlari keluar.

Di dalam bis yang membawaku pulang, aku tertawa.

Rasanya puas menghajar orang itu.

Aku merasa dikhianati. Aku merasa ditipu.

Aku dengan rela menjauh dari Hinata agar mereka bisa bersama. Aku tidak mengusik ayahku lagi tentang ibu yang ingin kupunya. Aku membiarkannya bisa bersama dengan Hinata, tapi dia justru memberi cincin ke wanita lain.

Sial!

"Fugaku?"

I-itu… Hinata-san?

Aku linglung sebentar.

Di depanku, berdiri seorang Hyuuga cinta pertama ayahku dengan sweater kuning dan celana panjang yang gombrong. Wajahnya terlihat pucat dan hidungnya memerah. Ya ampun… pantas ayahku yang terkenal cuek pada perempuan bisa naksir padanya. Biarpun dia sedikit pucat, dia tetap bersinar.

"Dari mana?"

"Sekolah."

"Oh."

"Aku ingin bilang sesuatu," kataku.

Hinata-san tertawa kecil, "Yare, yare, aku juga ingin ngobrol dengan Fugaku. Ayo kita singgah ke toko es krim."

.

"Hinata-san kenal dengan ayah, ya?"

Dia terkejut, aku tahu dari tangannya yang sempat berhenti sebentar mengaduk-aduk es krimnya. Dia adalah wanita dewasa yang emosinya bisa dilihat seperti buku yang terbuka. Mungkin sulit bagi anak kecil biasa, tapi tidak bagiku. Aku ini 'kan Uchiha Fugaku, putera Uchiha Itachi, yang bekerja di kepolisian.

Hinata-san diam sebentar, lalu tertawa kecil. "Iya," sahutnya, "Sudah lama sekali tidak bertemu," lanjutnya lagi. Dia mundur sedikit, menyandarkan bahunya di sandaran bangku toko es krim yang nyaman, lalu bertanya dengan nada pelan, "Bagaimana kabar Uchiha-san?"

"Ayah?"

"Ya."

"Dia baik."

Hinata-san tersenyum.

Sepertinya tersenyum itu hobinya.

"Ibumu?"

"Ibuku?"

"Ya."

"Aku tidak punya ibu," kataku jujur.

"Oh."

Sepertinya Hinata-san tidak bisa berkata-kata. Aku jadi kebingungan melihat wajahnya yang merasa bersalah. Aku buru-buru menambahkan, "Sejak lahir aku memang tidak punya ibu." Tapi sepertinya keputusanku salah. Wajah Hinata-san justru semakin sedih. "Aku bukan anak kandung ayah," kataku lagi.

Raut wajahnya tidak banyak berubah. Aku benar-benar merasa canggung sekarang.

Udara di sekitar kami entah kenapa jadi terasa berat. Hinata-san adalah pihak yang berinisiatif untuk mencairkan suasana lewat dehemannya. "Aku… tidak mengira Senpai adalah sosok yang bisa dekat dekat anak-anak," katanya dengan nada yang ringan.

Selera humornya memang tidak bagus, tapi aku juga tidak ingin ibuku nanti jadi seorang pelawak. Jadi, ini tidak masalah.

Bicara soal masalah, aku jadi teringat Naruto-san.

"Hinata-san dan Uzumaki-san pacaran, ya?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

Wanita itu memerah, terlihat kebingungan, tapi tetap tersenyum. "Tidak. Kami cuma berteman."

"Teman?"

"Ya."

Uh-oh. Mungkin aku salah paham pada Naruto-san.

Aku semakin memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh. "Jadi, bagaimana dulu hubungan ayah dan Hinata-san? Apakah kalian… dekat?"

"Kami cukup dekat," dia mengangguk, "Yah, tapi tidak dekat juga, sih."

"Aku bingung," kataku jujur. Hinata-san tertawa.

Biarlah. Yang penting aku sudah dapat kepastian. Dengan ini, aku bisa menyusun rencana untuk mendekatkan ayah dan cinta pertamanya. Sekarang, saatnya aku menggunakan otak Uchihaku.

.

Malam itu ayah terkejut karena ada orang lain yang menyambutnya di rumah kami saat dia pulang kerja. Dia terlihat seperti pria tua yang otot-ototnya sudah mati rasa. Masih dengan pakaian kerja dan wajah lelahnya, dia berdiri di ambang dapur, melihat meja makan yang diisi aku dan Rika dengan pandangan bingung.

"Senpai?"

Hinata-san yang berdiri di pojok mengambil alih perhatian. Aku melihat ayah yang bahunya menegang, lalu melemas, dan dia tertawa pelan. Aku menarik Rika, mengajaknya menonton tv di ruang tengah dan membiarkan orang dewasa menyelesaikan masalahnya.

Sebelum benar-benar pergi, aku melihat ayah yang entah sejak kapan ada di depan Hinata-san, mengepal dan melemaskan jemari tangannya, lalu mulai membuka mulutnya.

"Hai."

"Hai."

Ayahku memang perlu belajar untuk bicara di depan wanita yang dia suka.

Ah. Sudahlah. Mereka, 'kan, sudah dewasa.

.

Ayah pernah bilang, dari sedikit orang yang dia kenal, Hinata-san adalah orang yang paling menarik perhatiannya. Aku mengangguk mengiyakan karena wanita itu memang mudah mendapatkan perhatianku mulai dari pertama kali kami bertemu. Mungkin karena aku anak ayah, aku jadi merasakan apa yang ayah rasakan.

Hinata-san (atau mulai sekarang aku harus mulai memanggilnya ibu) bilang, ayah adalah orang yang pendiam saat masih sekolah. Dia bilang, sekarang dia jadi orang yang lebih baik meski tidak seramah Naruto. Senpainya yang dulu susah sekali tersenyum pada orang lain, tapi Itachi-kun yang sekarang sudah bisa tersenyum meski kecil dan sebentar.

Andai saja ibu tahu bahwa ayah hanya tersenyum begitu waktu ada di depannya, akan seperti apa pandangannya tentang calon suaminya itu?

Karena malam belum larut, ayah mengajak calon ibuku dan Rika nonton film di ruang depan. Film anak-anak jadi pilihan yang teraman. Ayah dan Hinata-san duduk di sofa beludru yang nyaman, sementara aku dan Rika lebih nyaman dengan karpet bulu yang lembut. Aku membagi selimut dan bantal lumba-lumbaku untuk Hyuuga muda itu dan aku langsung senang waktu dia menerimanya tanpa ragu. Wajahku sedikit panas waktu dia dan mata besarnya menatapku berkaca-kaca sambil menarik lenganku untuk berbagi bantal bersama.

Aku ingin menolak. Biar bagaimanapun, aku ini laki-laki. Dia perempuan. Meski kami masih anak-anak, tidur di bantal yang sama jelas bukan ide bagus. Aku tidak tahu kenapa tidak baik, sebenarnya. Yang aku tahu, tetangga depan sering sekali menjerit marah sambil membanting barang-barang di rumahnya waktu si suami diduga tidur dengan perempuan lain.

"Fugaku-kun…"

Oh, Tuhan. Aku paling tidak tahan melihat dia yang ingin menangis begini.

"Sini…"

Aku menghela nafas dan mulai mendekat. Dia seharusnya tahu hal ini tidak baik. Tapi aku juga mungkin seharusnya mengerti, bahwa dia yang masih kecil tidak mungkin tahu hal-hal seperti ini.

"Begitu…" dia bilang sambil tersenyum. Aku seperti membatu, nafasku seperti ditarik dalam sekejap. Aku berpaling, melihat televisi yang sudah mulai menayangkan filmnya. "Kau harus mulai belajar dewasa," gumamku pelan tapi Rika terlanjur tidak mendengar.

Aku menoleh ke belakang, melihat ayah yang terlihat kaku dan Hinata-san yang tak lebih baik. Aku jadi merasa kasihan pada mereka.

Sepasang kekasih itu tidak seharusnya duduk di sofa sambil menonton kartun dengan dua bocah ingusan yang harus mereka jaga. Mereka adalah dua orang dewasa yang perlu ruang untuk menyamankan diri terhadap satu sama lainnya.

Hah…

Pasti akan lebih baik jika pintu depan rumah kami terbuka, lalu muncul nenek Tsunade dengan senyumnya yang ramah dan menawarkan diri untuk jadi pengasuhku dan Rika. Mungkin dengan begitu, ayah bisa mengajak Hinata-san nonton film berdua di bioskop, makan malam romantis, atau duduk-duduk sambil bicara hal-hal sederhana yang akan mendekatkan mereka.

Aku merasa kehadiran kami justru mengganggu.

Aku menyadari Rika yang sudah tak bergerak lagi. Waktu menoleh, aku baru sadar kalau dia tertidur. Aku melihat tivi dan sadar bahwa filmnya memang membosankan.

.

"Mereka sudah tidur."

"Sepertinya memang begitu."

"Malam juga sudah larut, aku akan mengantarmu," kudengar langkah kaki ayah yang mendekat. Aku berusaha bersikap layaknya orang yang sedang tertidur. Lengan ayah meraihku. Aku diletakkan di punggungnya. Dia membawaku ke kamar sementara langkah kaki yang lebih pelan mengiringi kami berdua.

"Fugaku-kun mungkin kelelahan," ini suara Hinata-san.

"Sepertinya begitu."

"Tadi… dia minta tolong padaku untuk membuatkannya makan malam."

"Karena itu kau di sini?"

"Ya," suaranya bergetar sedikit.

"Anak ini memang suka merepotkan orang," kata ayah, aku yang kesal mengeratkan lilitan lenganku di lehernya. Ayah malah tertawa. "Padahal Tsunade-san biasanya akan ada di sini tepat waktu Fugaku telah tiba di rumah. Karena hari ini dia pulang terlambat, wanita tua yang baik itu khawatir dan menelponku."

Oh. Itu sebabnya ayah pulang lebih cepat hari ini.

"Menurutku dia anak yang manis."

Inilah impianku jika punya ibu nanti. Akan ada yang membelaku dari kemarahan ayah, Hah… seandainya saja ayah punya keberanian untuk melamar Hinata-san saat ini juga, dan kemudian mereka menikah, dan Hinata-san jadi ibuku, kehidupan pasti akan lebih baik lagi dari ini.

"Hinata?"

"Ya?"

Ayo lamar!

"Pria pirang yang kemarin itu…"

"Naruto-kun?"

"Ya."

"Kami berteman."

"Oh."

Gemuruh kelegaan ayah terasa sampai ke telingaku yang menempel di belakangnya. Aku juga lega dan ikut berbahagia.

Besok aku akan minta maaf dan berterima kasih pada Naruto yang tidak menyukai calon ibuku.

.

.

TBC

.

.

Cuapan Author:

Terima kasih telah mau membaca dan meninggalkan jejak di sini. Suatu kepuasan tersendiri mengetahui ada yang menyukai tulisan ini.
#smile
Oh, dan Fugaku kecil di sini adalah OC. Maaf karena lupa memberi tahu di warningnya. Maaf juga karena tidak membalas satu per satu review. Kepadatan jadwal membuat segalanya menjadi susah. Dan karena alasan itu pula, mungkin untuk selanjutnya fiksi ini akan diupdate lama. Mungkin hanya pada hari Sabtu, atau hari Minggu, atau Sabtu dan Minggu, atau tidak juga keduanya jika Marine ini terlalu sibuk. #tee-hee
Mungkin tidak ada yang terlalu menantikan fiksi ini (lol), tapi aku rasa akan adil rasanya jika hal ini diberitahukan #grin

Salam,

Marine