Disclaimer: Asagiri Kafka

Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini dan semata-mata dibuat untuk bersenang-senang.


Chapter 3: ChuuAku

Suara ketukan pintu menjadi salah satu pertanda kehidupan di markas Port Mafia yang menyepi sejak sore. Akutagawa Ryuunosuke–nama dari sang dalang, telah melakukannya nyaris berpuluh-puluh kali sampai ketukan tersebut terdengar menjengkelkan. Sabar memang bukan pribadi sungguhannya, lebih-lebih objek di balik ruangan tersebut adalah eksekutif muda jenius merangkap mentornya, Dazai Osamu.

Alasan yang membawanya kemari sangatlah sederhana, Akutagawa hendak menyerahkan laporan misi tempo lalu untuk Dazai ketahui dan telaah lebih mendalam.

TOK ... TOK ... TOK ...

CKLEK!

"Berisik, Dazai! Jangan ke-!" Omongannya terhenti menyadari sosok jangkung yang bukan si idiot perban. Eksekutif sekaligus rekan sang mentor–Nakahara Chuuya berdeham sebelum melanjutkan.

"Maaf. Aku pikir kau Dazai. Ada perlu apa?"

"Dazai-san di dalam?" tanyanya sembari mencuri pandang dari celah ruang yang kosong separuh. Tidak ada siapa pun selain Chuuya dan perabot-perabot kayu.

"Tidak. Dia belum balik dari penyelidikan. Kalau mau menyerahkan laporan berikan saja padaku."

"Saya akan menunggu Dazai-san pulang." Berkas diserahkan kepada Chuuya yang menghadiahkan tatapan heran–ambil pusing bukanlah kebiasaannya sehingga pintu ia buka lebar-lebar.

"Masuklah. Ini perintah."

Hanya mereka berdua di ruangan sebesar itu bersama perabot mewah yang mengungkung dengan rasa sepi–jelas canggung bukan main, walau Akutagawa hanya memikirkan Dazai yang entah kapan pulang. Chuuya asal membaca laporannya sembari curi-curi pandang dari balik kertas. Sebagai tuan yang mengundang tamu kemari, ia merasa wajib mencairkan suasana daripada terdiam meresahkan seperti ini.

"Ada perlu apa dengan idi ... maksudku Dazai?"

"Hanya ingin bicara beberapa hal." Baru satu kalimat meluncur hening sudah mengepung lagi. Chuuya harus memutar otak lebih keras ternyata.

"Sebenarnya aku heran kenapa kau terobsesi dengannya."

"Terobsesi? Saya hanya menghormatinya sebagai mentor sekaligus penyelamat."

"Setiap hari mencarinya sampai menunggu berjam-jam seperti ini. Apa jangan-jangan kau jatuh cinta padanya?" Senyum usil tersungging membuat Akutagawa terbatuk ketika mencerna maksudnya. Tingkah Chuuya terasa ganjil baginya.

"Santai saja. Anggap kita ini teman."

"Mana boleh begitu! Saya–! Bantahannya terpatahkan oleh intimidasi yang dipancarkan mata kebiruan itu. Chuuya menolak alasan dan membenarkan niatnya untuk bertindak selayak 'teman'.

"Kalau tidak mau menjawab bukan masalah. Aku hanya iseng bertanya."

Iseng dengan patung sepertinya tentu membosankan–Akutagawa tidak se-ekspresif Chuuya yang disaksikannya selalu mengambek jika diisengi Dazai. Entah gerangan apa sampai pemuda cebol itu menganggapnya teman bahkan menghujani dengan basa-basi–ia kurang memikirkannya karena mungkin, beginilah sifat dan keseharian Nakahara Chuuya di luar pekerjaan.

"Apa Nakahara-san jatuh cinta pada Dazai-san setelah setiap hari diusili?" Bir kalengannya tersembur begitu saja. Giliran Chuuya yang batuk mendengar pertanyaan tersebut.

"Mustahil aku jatuh cinta pada idiot itu! Asal kau tahu, aku tersiksa dengan segala keisengannya!"

"Beberapa hari lalu, aku mabuk dan Dazai diculik oleh seseorang. Padahal aku sudah menghajar pelakunya, tetapi dia tidak berterima kasih padaku dan bilang 'cih' dengan wajah menyebalkan."

"Tetapi Nakahara-san, dari yang saya dengar sebenarnya Dazai-san yang 'menyerangmu', atau lebih tepatnya dia mengisengimu lagi." Jadi, si pengejut bertampang buram itu adalah Dazai? Chuuya berdeham lagi untuk meluruskan pembicaraan.

"Baiklah, lupakan yang satu itu. Dia juga pernah memasukkan serangga ke dalam topiku. Dan, tidak hanya itu saja, si idiot menempelkan bekas permen karet ke kursiku yang SIALNYA DIA CAMPUR DENGAN LEM! Jadinya di perjalanan aku ditertawai oleh orang-orang."

"Bukan hanya itu saja. Dazai pernah hampir membunuhku dengan wine palsu buatannya. Dia juga sering menukar kaleng birku dengan susu dan bilang 'supaya tidak cebol lagi' sambil cekikikan. Lalu yang paling mengesalkan, dia selalu menyuruhku untuk mengejarkan laporannya lalu bermain PSP!"

"Ya ampun, aku tidak habis pikir apa alasanku untuk jatuh cinta padanya." Cerita panjang kali lebar dan tingginya itu diakhiri dengan memijat kening sendiri. Diingat saja bikin pusing, apa lagi kalau Dazai pulang dan menyiapkan jebakan lain?

"Omong-omong bukan maksudku menjelek-jelekkan Dazai. Soalnya sudah jelek dari sananya. Eh, bukan, bukan, intinya begitu, deh."

Kali itu sunyinya lebih mencekik dibandingkan tadi. Wajah masam Akutagawa memahitkan lidah Chuuya untuk melanjutkan percakapan. Ia membiarkan hening menjadi apa adanya sementara mengambil surat di laci meja kerja. Sepasang obsidian yang semula menatapi karpet bulu merah sedikit mengesampingkan fokusnya dan melirik ke yang bersangkutan–Chuuya tersenyum entah memaksudkan apa.

"Sebagai teman, boleh aku minta pendapat?"

"Jika Nakahara-san meminta saran, saya akan menjawab sebisanya dengan jujur."

"Aku jatuh cinta pada seseorang yang bahkan jarang kuajak mengobrol. Karenanya aku menuliskan surat ini untuk memberitahuku perasaannya, bagaimana pendapatmu?"

"Saya rasa tergantung. Tidak semua orang suka menerima surat soalnya." Netral, ya? Chuuya memikirkan betul kelanjutan niatnya demi memperoleh jawaban terbaik.

"Kau lebih suka ditembak langsung atau bagaimana?"

"Ditembak memang secara langsung dan Dazai-san sering melakukannya padaku." Kenapa melenceng ke sana?! Peluh yang membasahi keningnya mendadak terhenti gara-gara nyaris ketawa.

"Maksudku ditembak dalam artian seseorang menyatakan cinta kepadamu."

"Maaf jika saya menyinggung. Tetapi bagi saya, mafia seperti kita tidak membutuhkan cinta. Kalau yang Nakahara-san maksud orang di luar Port Mafia, maka tidak mungkin karena orang tersebut pasti saya bunuh."

Giliran Chuuya yang mendatangkan hening dengan seulas sendu di bibirnya. Para perabot, ornamen dinding, cat putih gading, karpet bulu merah, vas tak berbunga di meja kerja–mereka yang menjadi saksi bisu tentu tahu, seberapa keras ia berusaha menamatkan keraguannya dan bertekad menjadi berani. Tong sampah di samping kursi adalah kenekatan paling kasat mata yang bisa ditampakkan–jika mengakhiri kebodohan tersebut tidaklah semudah meniatkannya.

Bahwa mengungkapkan cinta dengan kata-kata ketika tindakan dibatasi adalah kesulitan paling berarti, sewaktu Chuuya mengharapkan diamnya dapat menyentuh seujung rasa yang sesungguhnya, telah Akutagawa buang entah kemana.

"Apa saran saya membantu?"

"Te-tentu! Suratnya akan kusimpan dulu sampai kami lebih banyak mengobrol." Amplop putih bersegel lem seadanya dipaksakan masuk ke laci. Chuuya tersenyum kecil sebagai ungkapan terima kasih.

"Semoga sukses, Nakahara-san."

"Kuharap juga dia bisa menyadarinya suatu hari nanti."

Apalah arti dari surat yang kehilangan alamatnya selain kata-kata tak bertuan karena tuannya sendiri melupakan makna hatinya? Entah kapan rasa dalam kalimatnya membusuk oleh waktu yang berlari mengejar–Chuuya sengaja menghindari hitungan maju yang dapat meluruhkan segala afeksi kepada Akutagawa Ryunosuke, memilih duduk dan menikmati wajah pucat tak terdefinisikan itu.

Untuk sekarang, Chuuya sekadar ingin menjebak diri ke masa kini dan lalu–saat di mana Akutagawa persis menghadapnya dan mengobrol seperti saat ini. Mungkin di luar waktu yang sekarang, akan lebih banyak alangan menanti untuk menguji kesetiaan akan perasaannya, tentang cintanya yang begitu klise karena alasan sesederhana itu–dasar yang bahkan tiada terpikirkan oleh akal, namun lucunya dirasai penuh dengan segenap jiwa.

Bahwa ajaibnya, berani dan jujur seseorang mampu menjatuhkan cinta walau tanpa kata-kata.

Tamat.

A/N: Akhirnya tamat juga fanfic ini. dan maaf banget karena enggak update kamis minggu lalu atau kamis kemarin, aku beneran lupa asli wkwkw. jadi daripada ketunda lagi, aku sengaja publish chap 3 nya bareng sama birthday fanfic akutagawa. semoga kalian terhibur dan thx buat yang udah review ataupun sekedar SR, aku menghargai apa pun yang kalian berikan ke aku~

Balasan review:

zian: emang begini kok sejak awal direncanakan wkwkw. ntah kenapa aku cuma kepikiran buat bikin mareka angst karena buatku, OdaAngo enggak terlalu ada interaksi di anime. Thx ya udah review~