It Is True That I Like You
Pairing : NejiTen (Neji Hyuuga x Tenten)
Language : Indonesia
Genre : Romance, Friendship
Rated : K
Summary : Kelas baru,berarti teman baru. Begitu juga dengan perjalanan cintaku. Kelas 3-1,disitulah aku mengenalmu,dan jatuh padamu disaat yang bersamaan.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto-sama,tapi idenya pyuuuur banget dari watashi HAHA! (?)
X
X
X
"Tadaima."
"Okaerinasai,Neji-sama." Jawab seseorang sembari menghampiriku dengan baju maid yang ia pakai. Ia adalah Shimura Kiseki,seorang penjaga rumah Hyuuga sedari aku lahir seakan kami sudah menerimanya sebagai anggota keluarga kami.
"Baa-chan,kenapa kau masih bangun selarut ini? Apa yang lain sudah tertidur?"
"Ini belum terlalu malam kok Neji-sama. Lagipula saya baru saja memanaskan makan malam dan air untuk mandi Neji-sama." Tutur Shimura baa-chan dengan sopan. Seulas senyum pun tak luput dari wajahku seakan aku menganggap Shimura baa-chan adalah ibuku sendiri. Jujur aku tidak mengenal sosok ibuku sendiri sedari aku lahir
"Arigatou,baa-chan. Gomen merepotkanmu terus."
"Tidak apa-apa Neji-sama. Sudah menjadi tugas saya." Jawab Shimura baa-chan dengan senyum. Lalu aku baru tersadar akan sesuatu.
"Baa-chan,kemana yang lain? Kok rumah ini jadi sepi?" Tanyaku sembari celingak-celinguk menatap seisi rumah yang terasa sepi.
"Oh Hinata-sama sedang berada dikamar Hanabi-sama. Kalau tidak salah,Hanabi-sama akan menghadapi ujian akhir kan? Maka dari itu Hinata-sama sedang membantu Hanabi-sama untuk persiapan ujian akhir. Sedangkan untuk Hiashi-sama ia sedang keluar kota mengurusi pekerjaannya disana." Terang Shimura baa-chan dengan lengkap.
'Pasti pergi ke kantor pusat.' Batinku
"Baiklah baa-chan. Aku mau makan dulu,habis itu langsung mandi." Kataku sembari memberikan coat hangat dan tas yang baru saja kupakai. Kantor cabang sedang sibuk-sibuknya,walaupun kedua asistenku sudah kembali dari liburan mereka. Lalu ada satu hal lagi yang masih menghantui otakku,yaitu kata-katanya tadi sore.
'Lebih banyak tersenyum ya? Benar-benar saran yang lucu.'
Lalu saat aku sedang berjalan ke ruang makan,terdengar sayup-sayup suara Hinata-sama sedang berbicara. Aku tidak begitu menangkap banyak tapi aku tau pasti bahwa dia berkata :
"Apalagi kalau orang yang membuatnya tersenyum kembali itu adalah orang yang katanya dia sukai.
X
X
X
Teng...
Tong...
Teng...
Tong...
Bel istirahat sudah berbunyi. Aku masih penasaran dengan perkataan Hinata-sama kemarin malam.
'Percakapan kemarin malam... apa maksudnya ya? Aku harus tanyakan soal ini kepada Hinata-sama nanti.'
"Neji,boleh minta tolong ajarkan materi yang tadi dibahas?" Panggil seseorang dari belakangku. Kalau suaranya datang dari arah belakang dan sangat merdu ditelinga,tanpa menolehkan kepalaku saja sudah tau siapa pemilik suara itu. Yap! Si nona panda yang sangat unik ini.
"Hn? Kenapa? Sensei terlalu cepat menjelaskan,makanya kurang mengerti?" Tanyaku sembari membenarkan posisi dudukku hingga menghadap mukanya yang lesu namun tetap terlihat imut itu alias Tenten.
"Iya. Aku jadi tidak bisa mengikuti..." katanya dengan jujur. Aku bisa memaklumi sih. Ini semua karena Kakashi-sensei yang datangnya 30 menit setelah pelajaran dimulai,mana ngebut pula menjelaskan materinya. Tidak heran kalau dia tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini.
"Hn. Kalau begitu,akan kuajari sembari makan siang. Tidak apa-apa kan?" kataku seraya mengambil bungkusan roti kroket yang adalah bekal favoritku dari tas.
"Ba-baik!" katanya sembari mengeluarkan buku pelajarannya. Aku berusaha untuk tidak menjelaskan terlalu cepat kepadanya,tapi sepertinya daya tangkapnya menjadi lebih baik daripada sebelum-sebelumnya. Aku yakin dengan progres belajarnya yang cenderung kearah memuaskan ini,dapat membantunya dalam ujian UTS besok. Tidak terasa semua materi yang diajarkan Kakashi-sensei sudah selesai kuterangkan padanya,namun ada yang aneh dari tatapannya kearahku.
'Ke-kenapa dia melihatku seperti itu?' Batinku begitu sadar bahwa tatapannya benar-benar ditujukan kepadaku. 'Manis...' Batinku lagi seraya mulai terhipnotis dengan tatapan dari mata hazel yang indah itu. Lalu aku pun tersadar dari lamunanku karena jika aku makin lama menatap matanya itu,aku bisa kehilangan kendali diriku sendiri. Aku mencoba memanggil-manggil namanya.
"Oy"
"E-eh? Ya,Neji?" Jawabnya salah tingkah dan mulai melihat ke segala arah.
"Kau kenapa? Jadi suka bengong sendiri." Tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Ti-tidak apa-apa kok! Memang sudah jadi kebiasaanku jika kelelahan. Ahahaha!" Jawabnya sembari menggaruk belakang kepalanya diikuti dengan tawaan garingnya. Dan dia mulai memalingkan tatapan matanya dariku,seperti orang yang sedang grogi.
"Yasudah kalau begitu. Tapi jangan sampai bengong saat pelajaran. Apalagi setelah ini adalah pelajaran Anko-Sensei." Kataku sembari berdiri dari tempat dudukku untuk membuang kantong bekas roti kroketku yang sudah habis sedari tadi.
"Baik..." Jawabnya lesu. Mungkin dia lesu karena setelah ini adalah pelajaran Anko-sensei,yang disebut-sebut sebagai 'Guru paling killer setelah Ebisu-sensei',dan juga karena ia belum makan apapun.'Waktu istirahat sudah hampir selesai. Kalau dia ke kantin jam segini,tidak akan keburu. Mungkin sudah saatnya aku berikan itu.' Kataku sembari melirik jam ditangan kiriku yang menunjukkan bahwa 10 menit lagi kelas waktu istirahat akan berakhir. Lalu aku pun mulai mengeluarkan benda yang sebenarnya sengaja kubawakan untuknya hari ini.
"Oh. Ada yang aku lupa berikan padamu." Aku meletakkan roti coklat yang persis dia beli di kantin (author: baca chappy 1 ya~) dan sekotak susu stroberi yang berdasarkan kata Hinata-sama,kedua bekal itu merupakan makan siang favoritnya. Tenten hanya memberikan tatapan bingung kepadaku yang secara tidak langsung aku mengerti apa maksud tatapannya itu sesaat setelah aku menaruh makanan dan minuman itu.
"Kau belum makan apapun,sedangkan waktu istirahat sudah mulai selesai. Tidak akan ada waktu untuk pergi ke kantin,jadi kuberikan saja bekal sore ku kepadamu." Jawabku sedikit berbohong. Padahal makanan dan minuman itu sengaja kubawakan untuknya.
"Arigatou,Neji!" Jawabnya dengan senyumnya yang membuatnya makin manis dimataku. Aku pun langsung keluar dari kelas,karena kalau aku masih bertahan ditempat itu,mungkin aku tidak akan kuat berdiri lebih lama lagi (baca : pingsan).
X
X
X
Seisi kelasku gempar seperti orang yang sedang tawuran karena beberapa jam yang lalu setelah pelajaran Anko-sensei berakhir,Ebisu-sensei masuk dan langsung mengumumkan bahwa akan diadakan jam tambahan khusus untuk kelasku. Mungkin niatnya baik,tapi sepertinya seisi kelasku pada menolak ide dadakan wali kelasku itu. Aku bisa mendengar Ino berkata sambil mengucek-ngucek rambut blonde nya yang dikuncir kuda itu.
"Aaaaah Ebisu-Sensei no yaro! Kenapa tiba-tiba memberikan jam pelajaran tambahan sih? Kalo begini,aku tidak bisa kencan bersama Sai-kun!"
"Yaaah mau gimana lagi? Besok kan kita ada UTS." Kata Kiba yang mukanya sudah seperti orang tak bernyawa.
"Aku... Tidak kuat lagi..." Sayup-sayup aku bisa mendengar suara merdu bagaikan malaikat diantara para setan (baca : teman-teman kelas) yang sedang berkoar-koar menghujat bos para setan (baca : Ebisu-sensei). Sontak,aku langsung berdiri dan melihat si Panda telah meletakkan kepalanya diatas meja yang sudah diberi tas sebagai bantalnya.
"Kau kenapa?" Tanyaku kepadanya.
"Emm... Aku hanya kecapean kok..." Katanya dengan lemas. Kasihan sekali dia. Sudah tadi dimarahi oleh Anko-sensei karena tidak sengaja ketiduran dikelas,ditambah ada jam tambahan. Biasanya jam segini kami langsung ke perpustakaan untuk memulai sesi privat kami,tapi melihat keadaannya seperti ini,aku mana tega.
"Kalau begitu,kita tidak usah privat dulu. Lagipula ini sudah terlalu sore untuk ke perpustakaan. Bagaimana kalau kita pulang saja?" Tawarku padanya sambil mengambil tasku,dan hanya dijawab dengan kata "Hai..." yang volumenya super duper minim. Sebenarnya rumahku dan Tenten berbeda blok,tetapi satu arah dengan rumahku (author : yaaah itung-itung tau dimana rumah calon pacarmu kan Neji? *dibekep sama Neji*).
X
X
X
Kruyuuuuuk~
Suara itu datang dari perut orang disampingku,karena dia juga langsung memegang perutnya.
"Aaah... Aku lapar..." Jawabnya sambil mengelus-elus perutnya yang langsing itu.
"Karena habis memakai otak untuk berpikir,kadar gula darah didalam tubuh juga akan menurun,makanya perut kita akan keroncongan. Akan lebih bagus jika keadaan seperti ini terjadi,sebaiknya kita makan makanan yang manis-manis." Kataku dengan nalarku yang sangat cepat ini.
"Kalau begitu,kita makan es krim yuk sebelum pulang!" Katanya tiba-tiba didepan kupingku.
"Eh?" Jawabku yang masih tidak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Panda imut yang sukses membuatku tuli mendadak disampingku.
"Ayo ayo. Sebelum tokonya tutup!" Katanya antusias tanpa memperhatikan pemandangan yang tersaji didepanku. Bagaimana tidak? Dia memegang tanganku! Sebenarnya sih tidak bisa diitung memegang secara langsung,karena dia hanya menarik lengan bajuku saja. Namun tetap saja aku senang.
Aaah pokoknya aku harus pilih yang rasa stroberi~" katanya sembari bersenandung ditengah-tengah perjalanan menuju toko es krim.
"Kau benar-benar suka stroberi ya?" Tanyaku. Jika dipikir-pikir,satu-satunya makanan yang tidak ada stroberinya sama sekali hanya roti coklat yang kuberikan tadi siang. Sisanya,stroberi semua.
"Sebenarnya aku suka semua rasa es krim,tapi aku lagi ingin es krim stroberi." Jawabnya.
Ketika kita sudah sampai di toko es krim dan aku sudah mau memasuki toko es krimnya,tiba-tiba aku melihat Tenten berhenti mendadak ditempat rekonstruksi bangunan. Apakah dia jadi seperti ini kalau otaknya terlalu diforsir bekerja? Aku memanggilnya,dan ia pun menghampiriku yang sudah berada didepan toko es krimnya dan masuk kedalam.
"Selamat datang,mau pesan apa?" sapa penjual es krim.
"Aku mau pesan gelato wijen dengan cone waffle!" katanya seketika. 'Lho? Kok berubah dari perkataannya sepanjang jalan tadi?'
"Hah? Bukannya tadi kau bilang ingin yang rasa stroberi?" kataku kaget bercampur heran.
"Waktu aku melihat pekerjaan bangunan di seberang sana,aku berpikir semennya mirip es krim wijen!"
"..."
Aku tidak kuat lagi! Aku pun langsung memalingkan badanku dan berusaha menahan ketawaku,tapi sepertinya percuma karena jawaban spontan yang keluar dari mulutnya itu. Jadi dia mudah sekali berubah pesanannya hanya karena melihat semen?
"Eh? Lho? Kenapa? Ada yang aneh?" Tanyanya kepadaku dengan polosnya.
"Hahaha. Pikiranmu itu manis sekali ya,Tenten? Aku saja nggak bakal kepikiran seperti itu" kataku di sela-sela tawaku yang akhirnya tidak bisa kubendung lagi.
"Manis? Masa?"
Satu kata itu langsung menyadarkanku dari acara tertawaku. Aku keceplosan! Bisa kurasakan pipiku merah disertai dengan mukaku yang mulai memerah.
"Bu-bukan manis... tapi lucu?" Kataku sembari memalingkan wajahku agar tidak dilihat olehnya,tapi percuma. Sekarang giliran dialah yang puas menertawaiku.
"Ahahaha. Tapi wajah Neji yang sedang tertawa juga manis kok!"
'Kau salah,Tenten...'
"Lebih manis kalau kau tertawa kok..." Hmph! Apa yang barusan kukatakan?! Aku tidak bermaksud untuk mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku! Apakah ia mendengarnya tadi?
"Eh? Kau bilang sesuatu,Neji?" 'Kuso! Ternyata dia mendengarnya!'
"Ka-kalau tidak cepat-cepat dimakan,nanti keburu meleleh lho!" Kataku sembari pergi keluar dari toko itu dengan muka yang sudah merah sekali menahan malu. Bagaimana bisa kata-kata yang seharusnya kukatakan dalam hati,keluar begitu saja dari mulutku? Aaaah aku tidak akan melakukan hal bodoh dan memalukan itu untuk kedua kalinya!
X
X
X
Hari ini adalah hari pertama UTS diadakan. Aku datang lumayan siang dari biasanya karena mengurusi urusan kantor sebentar lalu lanjut belajar sehingga bangun sedikit lebih siang,walaupun untuk seukuran siswa-siswi lainnya ini masih kepagian. Saat aku membuka pintu kelasku,sudah terpampang satu manusia yang khas dengan cepol duanya itu sedang menaruh kepalanya diatas meja. Dia terlihat sedikit pucat. Aku khawatir padanya. Apa ia terlalu memforsir tubuhnya untuk belajar kemarin malam?
"Ten,kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa... Hanya sedikit mengantuk saja." Jawabnya dengan lesu. Dia kelihatan sangat pucat dan kelelahan,ditambah dia datang sepagi ini. Aku pun langsung emlirik jam ditangan kiriku. Masih ada waktu untuknya tidur walaupun hanya sebentar saja. Aku pun langsung membuka blazerku dan kutaruh diatas kepalanya.
"Masih ada waktu untuk tidur sebelum masuk ujian. Istirahat saja dulu. Kalau pengujinya sudah datang,akan kubangunkan." Kataku dan dijawab dengan acungan jempol,lalu sisanya aku bisa mendengarkan dengkuran yang lembut dari mulutnya (author : tenang. Dia ga akan ngorok kayak bapak-bapak!). Mendengarnya sudah tertidur pulas,maka aku melanjutkan kegiatanku biasanya : belajar,tapi yang istimewanya aku tidak sendirian lagi di kelas. Sudah ada panda imut yang sedang tertidur dibelakangku. Tanpa sadar,aku pun menyunggingkan senyuman selama aku belajar. Entah kenapa aku merasa beruntung sekali. Kelas makin ramai seiring berjalannya waktu. Dan begitu penguji sudah masuk,sesuai janjiku aku membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak itu.
"Ten,bangun. Penguji sudah datang." Kataku sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya agar bangun,dan berhasil. Dia terbangun dan mengucek-ngucek matanya sebentar,dan menyunggingkan senyuman sembari menyerahkan blazer milikku. Aku hanya menjawab "Hn" dan kami pun memulai ujian kami.
(2 jam kemudian)
"Yak, silahkan kumpulkan kertas jawaban kalian ke barisan depan." suruh Kurenai-Sensei yang menjadi pengawas ruanganku hari ini.
"Haaaaah... Akhirnya selesai juga." Seru seseorang dari belakang. Yap,siapa lagi kalau bukan si Panda manis,Tenten itu. Aku pun langsung membalikkan posisi tempat dudukku hingga berhadapan dengannya.
"Bagaimana? Kau bisa menyelesaikannya?" Tanyaku kepadanya.
"Hmm... Mungkin. Masih ada beberapa yang membuatku bingung,tapi setidaknya nilaiku tidak akan 0 lagi hehe." Jawabnya.
"Baguslah kalau begitu."
'Semoga kau berhasil kali ini,Tenten. Semoga apa yang telah kau pelajari selama ini tidak sia-sia.' Doaku dalam hati.
X
X
X
3 minggu kemudian,hasil UTS pun keluar. Ebisu-sensei memberikan hasil ujian kami,namun tiba-tiba Ebisu-sensei meneteskan air mata setelah melihat hasil UTS milik Tenten.
"Tenten,bukannya ini pertama kalinya kau dapat nilai diatas rata-rata seperti ini? Bapak terharu lho!" Katanya kepada Tenten yang sepertinya shock atas hasil UTS miliknya sendiri. Sebegitu shocknya kah sampai tidak bisa mengatakan sesuatu? Benar-benar lucu sekali panda ini. Aku tanpa sadar sudah dipeluk oleh Ebisu-sensei.
"Kerja bagus,Hyuuga-san!" Katanya sembari memelukku terlalu keras hingga untuk nafas saja aku sedikit kesusahan. Ini kan hasil kerja keras Tenten juga,kenapa malah aku yang dipeluk?
"Tapi ini memang berkat Neji sih,jadinya nilaiku bisa sebagus ini. Arigatou,Neji!" Katanya sembari tersenyum bahagia. Wajar saja. Ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan hasil diatas nol.
'Itu salah,Tenten...'
"Ini karena kerja keras Tenten kok." Balasku sembari tersenyum singkat padanya.
'Selamat ya,Tenten. Setidaknya kau mulai mengerti untuk tidak pernah menolak untuk mau kerja keras'
X
X
X
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Aku tidak begitu yakin kapan dan kenapa Tenten keluar kelas,tapi aku tidak begitu mempermasalahkannya. Palingan dia pergi ke ruang guru lalu bertemu dengan Ebisu-sensei atau semacamnya. Aku pun lekas mengambil tasku dan hendak pergi ketika melihat Hinata-sama beserta Sakura masuk kedalam kelasku. Palingan ingin menemui Ino si Blonde atau bertemu dengan Panda Tenten. Aku pun tidak mempedulikan masalah itu dan langsung keluar kelas.
"Yo,Neji!" Sapa seseorang dari belakangku. "Ayo kita main basket. Lee dan Sai sudah berada di lapangan!" Katanya sembari melingkarkan sebelah tangannya di bahuku.
"Maaf,Kiba. Tapi aku sibuk. Kerjaan di kantor kembali menggunung karena aku harus mempersiapkan diri untuk UTS." Jawabku.
"Aaaah kau payah Neji. Yasudah deh terserah kau saja." Katanya dengan muka cemberut. Aku pun langsung pergi ke tempat rak sepatu untuk mengganti sepatuku. Aku sebenarnya akan segera beranjak pergi dari situ jika suara lembut bak malaikat itu memanggil namaku.
"Neji!" Panggilan itu sukses membuatku membalikkan badanku dan melihat Tenten yang terengah-engah karena habis berlari tadi.
"Tenten. Ada apa?" Tanyaku padanya. Aku melihat ia mencoba untuk mengatakan sesuatu sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah. Aku hanya menunggu dengan perasan sedikit penasaran bercampur khawatir. 'Apa yang ingin ia katakan padaku? Apa ia baik-baik saja?'
"Eh... Ah..."
"Hei Tenten,jangan main pergi begitu saja dong!" Aku bisa mendengar suara Sakura dari jauh. Dibelakang Sakura datanglah Ino dan Hinata-sama yang sepertinya ikut mengejar Tenten. Ada apa ini sebenarnya? Apa yang ingin dikatakan Tenten? Aku masih tidak mengerti tentang situasi ini.
"Teman-teman..." Jawab Tenten sembari memalingkan mukanya kearah Sakura.
"Ne-Neji nii-san?" Tanya Hinata-sama yang kaget mengetahui aku berada disini.
"Oooh jadi begitu toh~" Kata Ino tiba-tiba dengan wajah yang sepertinya baru saja menemukan gosip baru yang sangat menarik untuknya.
"Hei,Neji. Hari ini kau akan mengatakan langsung pada orangnya kan?" Tanya Ino secara tiba-tiba. Apa maksud dari perkataannya itu?
"Hah?" Jawabku tidak mengerti.
"Iya loh. Kalau bicara di belakang orangnya juga tidak ada artinya-" Kata-kata Sakura yang makin membuatku bingung terpotong oleh perkataan Tenten.
"Ka-kalian berdua ini apa-apaan sih?! Di antara kami berdua tidak ada apa-apa kok. Neji itu cuma guruku saja kok!"
DEG!
Entah kenapa,aku merasa lemas setelah ia mengatakan itu. Dan semakin kemari,aku semakin mengerti apa maksud perkataan Ino dan Sakura barusan : mereka sudah tau bahwa aku menyukai Tenten. Namun yang membuatku makin lemas adalah bahwa Tenten menganggapku tidak lebih dari seorang teman dan guru privat. Walaupun aku merasa lemas,aku tetap mampu memasang muka datarku.
"Tenten benar. Aku dan Tenten tidak ada hubungan apapun. Lagipula aku juga tidak ada perasaan apapun pada Tenten."
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku telah patah hati. Bahkan sebelum mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Aku memang sedikit menyesali perkataan yang keluar dari mulutku,tapi hanya itu yang terlintas dibenakku : menyerah dan pergi.
"Neji nii-san..." Aku bisa mendengar Hinata-sama menyebut namaku,namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin keluar dari tempat ini.
"Ayo,Hinata-sama. Kita pulang. Hiashi-sama sudah menunggu di luar." Jawabku sembari melangkahkan kakiku keluar dari gedung Konoha Gakuen,mencoba untuk tidak melihat ekspresi wajahnya barang sedetikpun.
'Aku sudah tidak peduli lagi...'
X
X
X
Tok
Tok
Tok
"Ne-Neji nii-san,kau didalam?" Aku bisa mendengar suara Hinata-sama dari luar. Aku tidak beranjak dari tempatku duduk. Bahkan entah kenapa aku sedikit benci pada sepupuku satu ini.
"Neji nii-san,ada yang ingin kubicarakan padamu. Tolong bukalah." Kata Hinata-sama sembari mengetuk pintuku terus-menerus. Akhirnya aku pun beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu bagi Hinata-sama untuk mempersilahkannya masuk. Begitu masuk,aku hanya langsung memberikan pandangan tidak peduli padanya.
"Kau mau mengatakan apa? Jika bukan hal yang penting,aku mohon dengan sangat terhormat untuk menyuruhmu keluar dari kamarku."
"Emm... Anu..."
Ini dia yang paling bikin makin bad mood. Sepupuku satu ini mudah sekali canggung,bahkan didepan kakak sepupunya sendiri. Bagaimana jika ia berbicara 4 mata dengan Naruto? Aku yakin Naruto akan menganggapnya perempuan aneh.
"Hhhh Hinata-sama,mungkin ini adalah saat yang tepat untuk keluar dari sin-"
'Tidak! Tunggu! Aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya!" Jawabnya dengan lantang. Aku sedikit kaget sebelumnya,namun aku dapat memasang kembali muka datarku. Aku menunggu Hinata-sama untuk melanjutkan perkataannya.
"Emm... Mengenai Tenten-chan..."
"Aku sedang tidak mood untuk membahas hal tadi,Hinata-sama."
"Kumohon dengarkan aku dulu Neji nii-san."
"..."
"Sebenarnya yang mengetahui bahwa Neji nii-san menyukai Tenten-chan adalah orangnya sendiri. Ia sedang kembali menuju kelas untuk mengambil buku tugas biologinya yang tertinggal dikelas,sampai akhirnya Tenten-chan mendengar bahwa kau menyukainya." Lanjutnya kepadaku. Aku kaget mendengar cerita yang keluar dari mulut Hinata-sama. Jadi selama ini ia sudah mengetahuinya?
"Beberapa minggu yang lalu,Tenten-chan menelponku setelah aku mengajari Hanabi-chan untuk ujian akhirnya." 'Jadi yang waktu itu menelpon Hinata-sama adalah Tenten?'
"Dia menanyakan apakah nii-san sering tersenyum dirumah. Dan aku jujur sedikit kaget saat Tenten-chan memberitahu alasannya ia bertanya seperti itu." Jelas Hinata-sama padaku sembari menundukkan kepalanya agar tidak melihatku.
"Kenapa kau kaget? Aku kan selalu tersenyum saat menyapa Hiashi-sama dan yang lain." Kataku datar. Apa benar aku tidak pernah terlihat tersenyum didalam rumah barang sekalipun?
"Bukan Neji nii-san. Senyuman yang kau berikan pada orang-orang dirumah dan pada Tenten-chan sangatlah berbeda. Yang kau berikan pada orang seisi rumah ini adalah karena sifat nii-san yang tunduk pada kalangan ayahku." Kata Hinata-sama. Apa bedanya? Menurutku semuanya sama saja. Aku baru mau menyuruhnya untuk keluar dari kamarku sebelum akhirnya ia mengadahkan kepalanya menatapku sambil tersenyum dan mengatakan :
"Apa yang kau berikan pada Tenten-chan adalah senyuman yang datang dari hatimu sendiri. Walaupun dirumah ini ada aku dan Hanabi-chan,tapi kau lebih membuka dirimu pada Tenten-chan."
X
X
X
Percakapan kemarin berakhir dengan saran Hinata-sama untuk lebih memikirkan posisi Tenten sekarang. Dia mungkin sama terlukanya denganku karena harus membohongi hatinya sendiri menurut Hinata-sama,tapi aku belum bisa percaya seutuhnya. Jika Tenten memang mengetahuinya,kenapa ia tidak bertanya secara langsung? Saat aku hendak berjalan kedalam kelas,tiba-tiba Kiba datang dan berkata kepadaku.
"Hei Neji. Apa yang terjadi di lorong loker kemarin itu adalah hal yang gila."
"Jadi kau sudah tau ya?" Tanyaku tanpa melihat Kiba.
"Tentu saja aku tau. Ino sendiri yang menceritakan semuanya padaku. Dan sekarang ia menyesal sekali untuk mengumbar sesuatu yang ternyata menyakiti hati temannya. Yang kutau setelah kejadian di loker kemarin,Tenten langsung pergi begitu saja meninggalkan Sakura dan Ino. Kau seharusnya tidak berkata seperti itu kemarin kau tau?" Katanya yang terkesan menceramahiku.
"Tapi dia duluan yang mengatakan hal yang menyakitkan itu. Dan aku tidak tau kalau memang reaksi Tenten akan seperti itu." Kataku yang masih sedikit batu;terlalu memikirkan diriku sendiri.
"Mungkin dia mengatakan hal itu secara tidak sengaja Neji. Dia pasti merasa bersalah setelah mengatakan hal itu. Aku memang tidak pernah merasakan hal seperti ini,namun aku tau persis rasanya membohongi perasaanmu demi gengsimu."
Kata-kata itu seakan sedikit menamparku. Pernyataan Kiba tadi entah kenapa telah membangunkanku dari keegoisanku sendiri. Entah kenapa percakapanku dengan Kiba,ditambah dengan Hinata-sama kemarin malam menjelaskan semuanya. Seharusnya aku lebih memperhatikan perkataanku. Melihatku yang termenung sedikit lama,Kiba pun menepuk pundakku dan tersenyum.
"Sekarang pikirkan dirimu jika berada di posisi Tenten,maka kau akan tau apa yang harus kau lakukan." Setelah mengatakan hal itu,Kiba pun langsung masuk ke kelas. Meninggalkanku dalam ketermenunganku.
X
X
X
"Hyuuga-san,coba baca teks pada halaman ini."
Perintah Ebisu-sensei kepadaku. Aku pun langsung membacanya. Entah kenapa rasanya sedikit aneh. Kenapa semua ini terasa biasa saja? Padahal kemarin baru saja ada peristiwa yang menghebohkan nyaris satu lorong loker di sekolahanku. Tapi yang lebih aku pedulikan sebenarnya adalah orang yang sekarang duduk dibelakangku. Ia datang dengan muka yang seakan-akan tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Sinar wajahnya redup saat ini. Apa benar ia terpukul sebegitunya? Namun sampai sekarang aku juga masih ragu,apa benar Tenten sudah mengetahui sejak awal bahwa aku menyukainya? Aku terus membaca sampai akhirnya Ebisu-sensei menghentikanku.
"Baiklah, Terima kasih,Hyuuga-san. Sekarang,tolong diterjemahkan apa yang dibacakan oleh Hyuuga-san,Tenten." Perintahnya kepada Tenten dan seiringan denganku yang akan duduk di kursiku,aku bisa merasakan bangku dibelakangku sedikit bergeser menandakan bahwa sang empunya bangku telah berdiri dari kursinya. Walaupun begitu,entah kenapa terasa hening sekali. Tak ada satupun suara dan kata yang terdengar dari belakangku. Apakah dia membacanya dalam hati?
"Ada apa,Tenten? Apa ada bagian yang tidak dimengerti?" tanya Ebisu-Sensei.
"... Tidak mengerti..."
'Hm? Tidak mengerti? Tidak mengerti apaan?'
"Aku tidak mengerti perasaan Neji..."
Kata-kata itu sontak membuatku memutar badanku untuk melihat sang empunya suara dibelakangku. Dan pemandangan didepanku ini benar-benar memilukan hati.
"Apa benar kamu tidak punya perasaan padaku..." kata-katanya kembali digantung. Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca seakan-akan butiran air mata itu sudah siap jatuh ke pipinya yang mulus itu.
"Atau... apakah benar bahwa kau menyukaiku?"
Dan kata-kata terakhir itu sukses menimbulkan kehebohan didalam kelasku. Saking berisiknya sampai Ebisu-sensei menggebrak mejanya sendiri.
"Kalian semua jangan berisik! Ini sedang jam pelajaran!" gertaknya yang sukses menimbulkan banyak sekali kalimat berbentuk protes dari seisi kelasku.
"Ayo,Hyuuga-san. Cepat jawab!" lanjutnya lagi sambil melirik kearahku. Ditambah lagi tatapan seisi kelas yang seakan-akan menunggu jawaban dariku. Aku hanya bisa protes karena ini sedikit memalukan. Lalu tiba-tiba Kiba datang kearahku.
"Neji,ini adalah saatnya. Kau sudah tahu sendiri jawabannya. Jangan lepaskan kesempatan ini atau kau akan menyesal." Bisiknya kepadaku. Sekarang aku mengerti dan aku telah mendapatkan jawaban yang pasti : aku mencintainya dan ia tau semua itu.
Tanpa babibu lagi,aku pun langsung mendekat kearahnya.
"Tenten..."
Kulihat tubuhnya yang menegang saat aku memanggil namanya dan air matanya pun ikut berjatuhan semakin deras. Aku yang tidak bisa melihat perempuanku menangis didepanku hanya bisa menangkup wajahnya dengan kedua tanganku dan menyeka bekas air matanya,dan membawanya kedalam pelukanku sehingga Tenten bisa mendengar degup jantungku yang berdetak kencang. Menandakan aku tidak bercanda dan tidak berbohong padanya.
"Aku suka padamu,Tenten. Aku suka semua yang ada padamu. Itu yang benar."
Dan akhirnya aku mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan padanya selama ini,walaupun aku masih sedikit canggung dengan situasi ini karena aku baru pertama kali mengalami peristiwa ini dalam hidupku. Aku pun memalingkan mukaku yang sepertinya telah memerah agar tidak dilihat orang,walaupun hasilnya percuma. Dan aku bisa mendengar suara tangisan Tenten yang telah resmi menjadi pacarku.
"Baiklah,kalian semua,ingat baik-baik bagian yang tadi. Itu menjadi PR kalian nanti!" !" kata Ebisu-Sensei kepada seisi kelas yang dibalas dengan siulan dari teman-teman,tapi nyaris kebanyakan para siswi di kelasku malah menangis tidak jelas.
"Sensei,itu sangat memalukan!" kataku penuh dengan nada protes didalamnya. Ini sungguh memalukan! Menyatakan suka kepada perempuan yang kucintai,disaksikan oleh seisi ruangan kelas dan juga guru yang notabene adalah paman dari perempuan yang kucintai itu! Aku hanya kembali protes kepada semua teman-temanku walaupun tetap saja mereka menggodaku.
"Neji..." kalimat dan suara itu sukses mengambil perhatianku. Aku pun refleks melirik kepada sumber suara itu,dan kulihat dia tersenyum kepadaku.
"Sukidayo,Neji!" katanya sambil melompat kearahku dan langsung memelukku. Ini pertama kalinya Tenten memelukku setelah aku menyatakan rasa sukaku padanya. Awalnya aku memang sedikit kaget karena dia melakukannya disaat aku belum siap,namun akhirnya aku dapat merilekskan badanku dan membalas pelukannya dan entah sejak kapan senyuman telah terlukis diwajahku. Aku pun mendekatkan mulutku kearah telinganya dan berkata pelan namun bisa didengar olehnya :
"Daisuki da,Tenten."
~OWARI~
A/N : HYAAAA! AKHIRNYA BISA DISELESAIKAN JUGA FIC YANG UDAH KELAMAAN HIATUS INI (kayak authornya kelamaan hiatus)! Maafkan watashi ya kalo mulai banyak yang udah ga menunggu kelanjutan fic ini entah dari kapan bulan. Watashi lagi sibuuuuuk banget di kampus. Alasan kenapa watashi kelamaan hiatus: 1) watashi lagi kebanyakan tugas dan ujian di kampus. Sampe stress sendiri! 2) tanggal 19 bulan lalu,obaa-san watashi (bagi yang tau ceritanya) akhirnya sudah berpulang ke rumah Bapa di Sorga. Jadi watashi kelamaan berkabung tapi tenang aja. Watashi udah ikhlas kok lagipula obaa-san watashi sekarang udah bisa quality time sama ojii-san watashi yang udah meninggal duluan pas watashi belom hadir ke dunia ini #eaaa. 3) yang ini mungkin alasan yang udah mainstream tapi memang banyak banget yang ngalamin ini : IDENYA ILANG-TIMBUL TERUS! Pas ada waktu,idenya malah kadang ga pernah muncul. Kalopun muncul,baru buka microsoft word langsung ilang lagi. HHHH! *jambak-jambak rambut sendiri*. Sebenernya udah banyak banget yang nge review fic ini,tapi watashi lupa (maafin memori watashi yang gampang banget ilang). Well,this is it! Fic kedua tapi complete belakangan karya Mizusagawa Hyuuga! Jangan lupa untuk terus favorite watashi dan fic yang telah watashi buat.
Akhir kata : TAMAYOU!
Regards,
Mizusagawa Hyuuga
