[Flash Back On]
.
"Diluar akan hujan, kau mau pergi kemana, Baekhyun?" Kyungsoo berkata ketika melihat teman sekamarnya hendak memakai sepatu di atas ranjang.
"Tidak akan lama. Mungkin aku akan pulang sebelum air hujan turun. Dan kau harus tahu kalau aku akan pergi menemuinya!" Baekhyun dengan nada ceria diakhir kalimatnya, membuat Kyungsoo paham siapa yang akan ditemui oleh temannya itu.
"Tapi ini akan hujan, kau tahu betul bagaimana reaksi tubuhmu, setidaknya kau perlu memakai mantel, Baek!" namun nasihat itu tak diindahkan oleh pria bermarga Byun.
"Aku sudah terlambat lima menit, aku tidak akan membuatnya menunggu terlalu lama, Kyungsoo. Aku berjanji tidak akan terlambat!"
"Tidak bisakah esok hari kau menemuinya? Kalian itu satu sekolahan, Byun Baekhyun!" Kyungsoo menyimpan buku geografi dengan cara sedikit membantingnya pada meja belajar kecil. Ia begitu mengkhawatirkan kondisi Baekhyun jika terjadi sesuatu setelah pergi keluar. Baekhyun jika sakit itu merepotkan! Dan ia tidak ingin itu terjadi dihari yang akan datang.
Namun, melihat Baekhyun meringkuk dibalik selimut, entah kenapa ia benar-benar tidak tega. Lantas, ia pun harus bersikeras untuk membuat Baekhyun tidak keluar.
"Ayolah, Soo. Aku sebenarnya mau memastikan sesuatu.."
"Tidak, Baek. Ibumu sudah menyimpan kepercayaannya padaku." Kyungsoo akan berusaha lebih keras kepala. Tetapi itu tidaklah bertahan lama karena kini pria didepannya memberikan tatapan puppy.
"Astaga, berhentilah menampilkannya!"
"Aku tahu kau sahabat sejatiku, Baby Soo~" Baekhyun membuka pintu kelewat semangat. Berlari dan meninggalkan Kyungsoo yang menahan sebuah amarah.
"Apa yang membuatnya sampai menggilai pria sok tampan itu?"
.
.
Baekhyun telah sampai dilapangan basket, dan retinanya menangkap sesosok pria tinggi yang memunggunginya. Perlahan namun pasti, langkahnya mendekati pria yang tengah men-dribble bola oranye itu.
"Hyungnim... " lirihannya masih terdengar, karena kini sosok tinggi memutar tubuhnya tanpa melepaskan bola basket dari tangannya.
"Aku tidak menduga kalau kau akan datang terlambat." Wu Yifan pemilik ketinggian diatas rata-rata itu menampilkan ekspresi datar ketika bersuara.
Sementara Baekhyun mulai merasakan atmosfir aneh disekitarnya. "Aku minta maaf..."
Wufan melepaskan bola, membiarkan benda bulat itu menggelinding tanpa arah. "Aku mau mendengar alasan kenapa kau mengikutinya?", Baekhyun menatap tepat pada obsidian elang. Ia tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Wufan seperti marah kepadanya?
"Aku..hanya membantu, dia butuh pertolongan. Dan dia teman—"
Wufan memotong, "Aku pikir itu terlalu jauh kalau kalian sekedar berteman biasa. Aku tidak menyukainya, dan ketika kalian bersama aku semakin membencinya."
Wufan cemburu?
Kenapa hatinya terasa hambar? ,tak merasakan sebuah ledakan kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan sekarang ketika mengetahui fakta jika Wufan menyukainya sebagai pria yang dipuja. Cintanya ternyata bukanlah cinta satu pihak. Dan benarkah ia mencintai pria didepannya sekarang?
"Aku mengkhawatirkanmu saat tahu kalau kau dicari oleh semua orang pada malam itu. Gara-gara si bodoh itu, kau diberikan omelan dari ketua keamanan sekolah."
Tiba-tiba saja Wufan memeluknya dengan erat, Baekhyun hanya termangu, tangannya serasa membawa beban berat karena tak dapat ia angkat untuk membalas pelukan itu. Kedua tangannya masih tersimpan apik disamping tubuh.
"Baekhyun.. Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu padamu." Baekhyun hanya mengangguk kaku, melihat Wufan dengan tidak sefokus dulu..
Ia kini telah mengetahui kebenaran hatinya...
"Aku menyukaimu, aku mau kau menjadi kekasih priaku, apakah kau menginginkannya?" Wufan memberikan remasan pada bahu sempit pria yang lebih rendah, karena Baekhyun malah terlihat melamun.
"Aku tahu kau mungkin tidak menyangka dengan kejadian ini, kan?"
Baekhyun kembali pada dunianya ketika Wufan membelai pipinya, "Dreams come true. Kau anggap saja ini adalah mimpimu yang kini nyata."
Dan disaat Wufan menangkup wajahnya lalu mempersempit jarak diantara mereka, Baekhyun memalingkan pandangan dan itu otomatis memutuskan kontak fisik mereka.
Wufan terkejut oleh tindakan tersebut, tetapi sebisa mungkin ia mengontrol diri. "Apa yang terjadi?"
"A-aku tidak bisa menjadikan diriku sebagai kekasihmu. Aku hanya mengagumimu selama ini. Itulah kebenaran—"
Ucapan Baekhyun terpotong oleh perbuatan Wufan yang kini mencengkeram kerah bajunya. Sontak ia melebarkan mata, terlalu terkejut dengan tindakan kasar Wufan.
"Kau pikir kau siapa?" Wufan tidak dapat menahan kontrol emosi dengan cukup baik. Amarahnya naik kepuncak kepala secara cepat, melupakan siapa yang kini berada didepannya yang memberikan pancaran ketakutan dari tatapannya.
"Kau hanya seonggok sampah yang diambil kembali karena terlalu menyayangkan kemasan yang masih terlihat bagus!"
Bola mata si Byun melotot tak percaya...
Ia sampah? Jadi selama kedekatan yang terjalin satu tahun ini, ia hanya dianggap sampah oleh Wufan?
"Jaga bicaramu!" Baekhyun menggeram, lalu melepaskan sebuah tangan dari kerah bajunya.
Kemudian Wufan meninggalkannya sendiri. Hujan pun turun kebumi setelahnya.
Baekhyun tidak menepati janjinya kepada Kyungsoo. Dan benaknya terus-menerus tertuju pada sosok pria pemilik bibir tebal dengan telinga peri... Ia memikirkan Chanyeol. Ia ingin menemui pria sinis itu sekarang juga...
[Flash back off]
.
Fortune Telling Petal
.
.
.
ChanBaek
.
.
.
©riz614
Chapter 3
…
…
"Aku menyukaimu, Baekhyun.." Chanyeol bersuara setelah melepaskan pelukannya. Ia mengetahui jika ungkapannya akan memberikan keterkejutan dari si kecil. Namun, hatinyalah yang memenangkan segala peperangan dari dalam tubuhnya sendiri.
Dihadapannya, Baekhyun belum juga menyahuti. Chanyeol sedikit was-was, dan ia pun berniat untuk menyampaikan penjelasan. Tetapi tiba-tiba saja Baekhyun kini balas menatapnya dengan pancaran kebingungan. Tentu saja.
"Mana bisa? Kau tidak terlihat kalau kau menyukaiku, bukankah kedatanganku disisimu adalah perusak ketenangan—?"
Chanyeol menjawab cepat, "Lupakan permasalahan itu. Dan aku berkata jujur... Aku benar-benar menyukaimu, dan mungkin juga sudah mencintaimu."
Baekhyun ingin meyakinkan jika sekarang Chanyeol tidak sedang melontarkan sebuah lelucon, karena ia hanya melihat kesungguhan dari kedua pasang netra bulat pria tinggi itu. Hatinya berdentum-dentum dengan irama mengasyikkan. Ia menunduk, rona merah bekerja begitu cepat untuk mewarnai wajahnya sampai ke daun telinga.
"Aku juga akan mengatakan sesuatu padamu." Baekhyun membuka pembicaraan dengan topik yang ia angkat sendiri, tak melanjutkan topik awal mereka.
"Kau tahu betul kalau selama ini aku menyukai Wu—"
"Bisakah kau tak memasukkannya kedalam pembicaraan ini?" Chanyeol menginterupsi perkataan Baekhyun.
"—Aku belum selesai berbicara. Diam sebentar, sekarang giliran aku yang bersuara!"
Tetapi Chanyeol telanjur salah paham, "Dan kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Kalau kau tidak menyukaiku, bicara saja. Itu lebih baik daripada aku harus mendengarkan kelebihan pria idolamu itu yang kau impikan menjadi seorang kekasih!"
'Dan pada akhirnya kau menolakku..' Chanyeol melanjutkan perkataannya didalam hati.
Sementara Baekhyun termangu mendengarkan kalimat panjang yang baru Chanyeol katakan kepadanya. Dan pria kecil itu terperanjat tatkala Chanyeol akan bertolak darinya sekarang.
"Tunggu, Chanyeol. Aku hanya mau bercerita dan kau perlu mendengarkannya sampai tuntas. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.. " pria yang lebih tinggi telah membalikkan badannya, dan Baekhyun mencoba untuk menggapai tubuh pria itu.
Baekhyun memeluk Chanyeol dari belakang dan itu berhasil untuk menghentikan pergerakan tungkai panjang si Park. Pipinya menempel pada punggung kokoh, "Dulu aku menginginkan kalau Wufanlah yang menjadi posisimu saat ini.. Tapi, kedatanganmu sebagai murid pindahan entah kenapa eksistensinya perlahan hilang. Aku penasaran karena kau begitu kaku kepada semua orang..."
Baekhyun mengambil napasnya sebelum melanjutkan, "Aku tertarik dan sudah mengetahui kalau rasa tertarik itu berbeda dibandingkan kepada Wufan hyung. Dan sebenarnya yang sekarang terjadi adalah aku menyukaimu.." Chanyeol memegang tangan lain yang berada pada perutnya, mengelus lalu meremasnya pelan.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini datang. Tapi... Sedikit pun aku tidak menyesalinya.." suara Baekhyun teredam, karena kini seluruh wajahnya ia benamkan pada punggung Chanyeol.
Dan Chanyeol segera membalikkan tubuh, ia menangkap bahu kecil dari pria yang telah memeluknya. Lalu menatap netra sipit secara lurus, "Aku belum bertanya, sedang apa kau ada disini? Menunggunya?"
Kenapa pembicaraannya dialihkan? Apakah Chanyeol hendak membalas perlakuannya?
Namun, yang dapat Baekhyun lakukan sekarang adalah mengangguk kecil sebagai jawaban. "Iya, dan dia melakukan suatu hal yang membuatku membuka mata secara lebar. Dia... Dia ternyata tidak baik yang kukira mungkin kami semua ketahui bagaimana sikapnya tidaklah seperti itu."
"Apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" tuntut Chanyeol tidak sabar.
Baekhyun tidak ingin mengulang memori dimana ia merasa tertipu dan menyakitkan pada organ dalam tubuhnya. Karena itu ia menjinjitkan kaki pendeknya, untuk mendapatkan wajah Chanyeol lebih dekat lagi. Ia menghapus jaraknya, mencium cepat pada bibir Chanyeol.
"Yang terpenting adalah aku juga menyukaimu, Chanyeol. Bisakah kita melupakan kejadian yang sebelumnya?"
.
.
Chanyeol menuntun Baekhyun di sepanjang perjalanan menuju ke asrama sekolah. Tangan besar itu melindungi bahu si kecil, dan juga payung yang di pegang oleh tangan kanan Chanyeol untuk melindungi sentuhan air dari langit yang berjatuhan secara serentak pada tanah bumi.
Dan sisi tubuh mereka menempel sempurna.
"Terimakasih. Kau membantu banyak," ujar Baekhyun, ketika mereka sampai di depan gerbang asrama. Chanyeol disampingnya menolehkan kepala, "Itu hal wajar yang dilakukan oleh seorang kekasih, bukan begitu?" lalu memberikan senyuman tipis, dan tetap saja Baekhyun merona.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Kita belum mengatakan apapun yang menjurus kesana." Baekhyun melontarkan pertanyaan yang sedikit dibenarkan oleh Chanyeol.
Chanyeol menghadap kedepan. Dan tak ada lagi pembicaraan diantara kedua pria dengan perbedaan tinggi yang kontras, sampai mereka tiba di depan pintu kamar masing-masing. Baekhyun maupun Chanyeol enggan untuk menyairkan suasana yang tiba-tiba membeku.
"Baekhyun... " tahu-tahu suara Chanyeol terdengar disaat pria manis itu akan memutarkan daun pintu. Baekhyun menolehkan kepalanya tepat pada sosok tinggi Chanyeol yang kini balik menatapnya serius. Ia menunggu apa yang akan ia dengarkan lagi.
Tetapi Chanyeol malah berjalan mendekati pijakannya, menundukkan kepala berponi coklatnya dan itu nyaris bersentuhan dengan kening dari si Byun yang seketika menahan oksigen untuk masuk kedalam hidungnya.
Dan tiba-tiba saja bibirnya menyentuh sebuah benda hidup. Itu adalah bibir Chanyeol yang kini menciumnya. Rahang pipinya ditekan oleh tangan besar pelaku pencium. Dan setelah detik ke sembilan Baekhyun dapat menikmati bagaimana daging tak bertulang itu memenuhi rongga mulutnya sekarang.
Ciuman intim itu belum berakhir meskipun menit ketiga telah terlewati. Bahkan kini Baekhyun menekan leher jenjang si jangkung dan kepalanya mendongak keatas. Jemari lentiknya meremas surai Chanyeol.
Lagi, tangan besar Chanyeol meraih pinggang si mungil untuk maju lebih dekat, dimana perbuatannya itu membuat mereka kian terhanyut oleh pergulatan bibir.
Napas memburu mungkin dikarenakan hampir kehabisan pasokan oksigen pada paru-paru berkat ciuman panjang. Mereka saling menatap dengan sinar bahagia.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun..." Chanyeol mengungkapkan isi hatinya yang telah tersembunyi entah untuk waktu berapa lama. Dan perasaan itu senantiasa ia sangkal sebelumnya. Tetapi, ia tidak ingin membohongi dirinya lagi.
Dua kutub yang bersinggungan akan saling tarik-menarik. Meskipun ia bersikeras untuk menjauhi Baekhyun, dikarenakan pria mungil itu entah kenapa selalu muncul di sekitar areanya. Baekhyun akan ada pada jarak matanya yang tak teramat jauh. Karena mereka digambarkan pada teori dua kutub magnet.
Cukup dengan teori itu, Chanyeol harus mengalah, dan mengikuti suara hatinya mulai sekarang.
Dan didepan netranya, Baekhyun menyematkan senyuman amat cantik. "Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol.."
.
.
"Astaga, mereka berciuman tidak tahu tempat!" Kyungsoo menutup gorden kecil disamping pintu kamar. Wajahnya memerah sempurna entah untuk alasan apa.
.
"Dasar cabul!" Sehun segera memutar tubuh tingginya. Dan melupakan niatnya untuk menutupi jendela kaca.
#
#
#
TBC
.
Balasan review!
Asmaul: ini kelanjutannya sayaang~/belai kepala embul(?)/
.
a/n: Hei(?) gimana kelanjutannya nyambungkah? Maaf kalo ini tidak memuaskan krn aku bukanlah alat pemuas(?)
Kalo bingung dg ceritanya tanyain aja ke mbah gugel/digiling. Kkk~kalo kalian merasa kurang puas, komenin ffnya, aku gpp qoq/modus/
Terakhir aku ngucapin banyak terimakasih pada reviewnya meskipun itu cuman satu bji, tp segitu aja udah buat seneng aplg ratusan/korbantipi/ dan untuk followers sm favorit ffku yg masih teramat jauh dr kata bagus, makasih banyak. trus bagi silent reader, aku tetep seneng krn masih mau nyempetin baca atau malah liat-liat aja/jleb/*sakitbanget
.
Jika kalian merasa kurang puas, isi kotak reviewnya okeh, krn aku pen bisa membuat pembaca bisa menikmati tulisannya... Jika tidak ada ya.. chapie selanjutnya adlh endingnya :")
.
Salam sausage!
ANYWHERE TOBELI!
