Second Life (Reincarnation)

Chap. 3: The Truth..

Disclaimer: Vocaloid©Yamaha Corp, Fanfiction©Mine

Rated: T

Summary: Rin yang telah bertemu dengan Luka, memutuskan untuk mengikuti sarannya. Apakah Len bisa mengingatnya? Dan... Apa bisa semudah itu?

.

.

.

.

.

.

Rin POV

"Rin, kau yakin akan memotong rambut indahmu?" tanya Rinto sambil memainkan rambut panjangku. Ya, saat ini, rambutku sangat panjang. Padahal, sebelum aku, rambutku masih sepanjang rambut Len.

"Yakin. Hng.. Rinto, bisakah kau mengambilkanku pita putih? Dan ambilkan 4 jepit" perintahku. Rinto patuh.

"Arigatou.. Nah! Tinggal memotong rambut ini.." gumamku.

Helaian rambut honey blonde berjatuhan di lantai. Tiap-tiap helai itu sangatlah lembut dan indah. Wajar saja, sang pemilik tubuh ini—yang sekarang tubuhku, adalah nona muda kaya raya. Aku baru menyadari hal itu. Apa ini memang keberuntunganku, Kami-sama?

"Nah, apa sudah rapih?" tanyaku pada Rinto sambil memasangkan 4 jepit diponiku, persis seperti aku yang dulu.

"Sudah. Kau tampak.. Sangat berbeda.. Manis, dan terlihat ceria.." gumam Rinto. Aku hanya tertawa.

"Memang seperti apa aku dulu, sebelum aku sadar?" tanyaku.

"Emm.. Kau.. Dulu adalah nona muda yang dingin. Tak pernah tersenyum ataupun bicara.. Tapi sekarang.." Rinto menatap sedih. Kupikir aku tahu kenapa.

"Kau tak usah khawatir," kataku mengelus pipinya, "Aku akan selalu jadi adikmu, Nee-san,"

Rinto tersenyum senang dan memelukku.

"Ini, surat rujukan dari rumah sakit. Ingat, seperti kata Luka, bersikaplah seperti orang yang hilang ingatan." tegas Rinto.

"Tenanglah. Aku tanpa berpura-pura pun, aku memang tak mengingat mereka." kataku sambil menggendong tas. Saat keluar, aku ditunggu oleh para supir. Sekaya itu kah, aku—maksudku tubuh si nona ini?

Len POV

Aku menatap gadis aneh kemarin. Semakin lama, ia semakin aneh. Ia memotong rambutnya. Hampir persis sepertiku—tanpa ponytail. Dan, wajahnya terlihat sangat ceria. Padahal, kemarin kemarin, ia SANGAT DINGIN DAN TAK BEREKSPRESI. Tapi.. hal itu membuatnya sangat manis—ah, lupakan!

"Baiklah.. Saya akan mengumumkan hal penting. Teman kita, Megamine Rin, mengalami sebuah kecelakaan—yang diakibatkan shock, dan menyebabkan hilang ingatan, jadi dimohon pengertian kalian. Bimbing dia agar dapat mengingat masa lalunya kembali." kata Kasane-sensei. Ia terlihat memegang kertas rujukan.

Benar kan, dia memang hilang ingatan. Lalu, kenapa dia hanya mengingatku saja?

"Ng.. Maafkan aku, aku tidak bisa mengingat kalian semua. Dan, maaf jika aku memiliki kesalahan pada kalian selama ini. Aku benar-benar tidak bisa mengingat beberapa potongan memori." katanya sambil menunduk pilu.

"Ano.. Megamine-san.. Kenapa kau terlihat berbeda?" tanya Hatsune Miku. Ah.. gadis yang aku suka.

"Hm.. maksudmu penampilanku? Aku merasa seperti ini lebih enak, dan agar aku dapat membuat seseorang ingat padaku." katanya riang. Dan menatap ke arahku! What!

Semua anak cengo. Bayangkan saja, orang yang sangat dingin, tiba-tiba berubah sangat riang dan manis—lupakan bagian akhir.

"Nah, karena saya ada beberapa keperluan, saya harus pergi. Karena itu, saya putuskan hari ini BEBAS! Dan, cobalah mengenal Megamine lebih dekat!" kata Kasane-sensei, meninggalkan kelas begitu saja.

Aku melihat beberapa anak lelaki—tidak, hampir semua anak lelaki mendekati Megamine-san. Kecuali aku. Bagus. Berkat dia, hari ini kami tidak belajar!

"Kamu manis sekali ya!"

"Aku Mikuo, salam kenal, semoga kau ingat padaku!"

"Aku dulu pacarmu lho!"

Astaga, yang terakhir benar-benar keterlaluan. Mengaku-ngaku pacar orang seenaknya. Kulihat Megamine-san sangat kebingungan. Wajah bingung itu... rasanya tidak asing bagiku.

Bets—aku menarik tangan Megamine-san.

Tidak! Bukan aku! Tubuhku seperti memiliki kehendak sendiri.. Aku tidak mengerti kenapa aku malah membawanya ke kelas yang kosong. Nanti kalau FG ku lihat, bisa habis dia. Ah, kenapa aku peduli?

"Len? Kenapa kau membawaku kesini?" tanyanya.

"Ma—maaf!" kataku, "A..no Megamine-san... tadi itu.. aku.."

"Rin. Jangan panggil yang lain. Kau ingin bilang bahwa badanmu bergerak sendiri kan?" tebaknya. Tepat. Sangat tepat

Bets!—Ia memelukku! Kami-sama, aku... aku bisa gila!

"Nah, anggap aku pun tidak sengaja, dan kita impas oke!" ia tertawa. Menyebalkan. Wajahku merah, baka! Dia terlalu mendorongku—sehingga aku jatuh terduduk. Dia juga.

Sungguh. Ini posisi yang tidak strategis. Wajah Rin—tepat didepanku. Bola mata Azurenya serupa denganku. Rambutnya yang kini hanya sebahu. Persis sepertiku. Seperti.. Bercermin!

'Refleksiku..."

Eh?! Kalimat itu...

"Itai! Len..." Rin meringis kesakitan. Ya, ampun... Rupanya aku mencengkram belakang pundaknya begitu keras.

"Go—gomen!" aku segera bangkit dari hadapannya, lalu berlari pergi. Meninggalkan ia sendiri yang masih terduduk penuh tanda tanya.

Ada apa sebenarnya?!... Apa yang barusan saja terjadi? Kepalaku.. sakit! Sangat sakit!

Ckrek.

Someone POV

Wanita yang dari tadi mengamati mereka dari tempat tersembunyi, tersenyum penuh kemenangan. Ia mendapat foto seorang Len Kagamine, yang tadi memeluk—atau dipeluk Rin.

"Manager pasti akan senang dengan foto ini... Namun, aku takkan menyerahkan foto ini semudah itu." katanya tertawa sadis.

Ia lalu menatap kamera digital bermerek Canonnya itu. Tapi.. Ia sangat terkejut ketika melihat foto itu, dengan teliti.

"Mu... mustahil! I..ini.."

Rin POV

Aku hampir hampir tak percaya atas apa yang Len lakukan terhadapku. Apa itu berarti dia mengingatku—walau pun sedikit? Aku..

"Rin!" teriak seseorang, berambut biru aqua, dengan twintail ang sangat panjang. Ng.. dia..

"Ah.. kau.." aku berusaha mengingatnya, tapi percuma.

"Tidak usah dipaksa untuk mengingat! Aku mengerti, kau pasti sangat kelelahan, apa perlu aku antar ke UKS? Oh, ya, aku Hatsune Miku, salam kenal" katanya tersenyum ramah.

Aku hanya tersenyum lebar, "Arigatou, Miku-chan!"

"Wah.. kau benar-benar berbeda! Padahal kau dulu—ng.." Miku ragu untuk mengatakannya.

"Dingin? Ya, Rinto pernah berkata itu padaku."

"Tapi, kau sangat baik Rin-chan. Potongan rambutmu sangat sesuai dengan image-mu ang sekarang!"

"Haha.. Kau juga Miku!" kataku. Dia memang benar-benar baik. Heran, kenapa bisa ya, aku itu dulu dingin..

"Hm.. Apa kau melihat Len? Kulihat tadi ia bersamamu. Tadi dia memaksamu keluar ya?" tanya Miku.

"Ah.. Itu.. Karena aku dipanggil oleh guru, sedangkan anak lelaki itu tidak mau melepaskanku, jadi dia menolongku," kataku, sedikit berbohong.

"Oh.. Hm.. Dia memang baik." gumam Miku.

"Ano..Miku, apa hubunganmu dengannya?" tanyaku.

"Hm.. tapi, ini rahasia kita berdua saja ya?" kata Miku. Aku mengangguk.

"Kami.. bertunangan."

Aku adalah refleksimu..

Dunia kita terhalang oleh sebuah kaca..

Jika aku hancurkan..

Apa sang kaca akan marah?

Jika aku hancurkan..

Apa refleksi kita masih ada?

Yee.. Part 3 jadi XD

Mind to RnR?

Hope you like XD