Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
La Princesse et Le Cheval © MiracleUsagi
Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya meminjam karakter milik Isayama-sensei untuk dinistakan.
Hati-hati dengan misstypes, OOC, dan bahasa yang tidak baku. Fem!Eren. Kingdom!AU.
Elena menatap langit-langit kamarnya—yang sebenarnya kamar Jean—dengan sebal.
"Ngantuk! Tapi nggak bisa tidur!" Desisnya.
Ia pun duduk, memandang sekeliling. Menyingkap selimut dengan pikiran mengawang-awang. Masih dini hari, bahkan ayam jago milik Connie belum berisik. Suara mendengkur kuda jadi satu-satunya yang masuk indera pendengar. Ia keluar menenteng selimut tebal, melupakan rasa kantuk. Berhenti di sebelah sofa usang yang ditiduri makhluk sewujud siluman kuda.
Tangan Elena terjulur demi memasang selimut pada tubuh Jean. Sudah dibilang, Elena mendadak menyesal menikahi si muka kuda. Jadilah, Jean harus menjadi pengungsi sementara dari kamarnya sendiri. Toh sedari awal kedatangan Elena, pria itu sudah merelakan kamarnya untuk dipakai si gadis.
Elena menghela napas. Kenapa hidupnya jadi begini. Kok bisa-bisanya dia nyasar ke kandang kuda terus menikahi salah seekornya. Elena bangun hendak menatap keluar jendela. Perkataan pendeta di gereja kemarin-kemarin terngiang dalam telinganya.
Pemuda-pemudi yang berumur si atas lima belas diharuskan menikah!
Menikah untuk mengusir bala dan kutukan!
Harus menikah!
Elena jatuh terduduk ketika serombongan ingatan kembali menerobos masuk, menyeruak ke dalam setiap inci sel otaknya. Kepalanya berputar-putar aneh dan telinganya berdengung hebat. Ia mendapati fatamorgana dirinya yang berbalut gaun kerajaan. Visualisasinya pindah kepada pria berbaju necis yang menatapnya tajam. Pria lain dengan kacamata dan mahkota. Wanita oriental yang amat familiar. Semuanya tampak nyata, membuat Elena takut membuka mata.
Di saat pikirannya kalut oleh serangkaian hujaman memori yang familiar, aroma kayu manis pekat menggelitik hidungnya. Aromanya begitu dalam, menelusup melalui lubang hidungnya, bahkan Elena tidak tahan untuk tidak menghirupnya lewat mulut. Aroma menenangkan. Perlahan kepingan-kepingan memori tadi lenyap, menjauhi pikirannya yang kini dipenuhi aroma kayu manis.
Elena merasa tenang, lalu ia membuka mata.
Tapi cepat-cepat ditutupnya kembali karena menyesal.
"O-oi, kau kenapa?"
Jean, pria yang kini berpura-pura sudah beristri karena perintah konyol dari pendeta freak di kampungnya, mendadak terbangun dari mimpi indahnya karena massa seorang perempuan yang tiba-tiba menindih perutnya.
Elena menyembunyikan wajahnya pada selimut yang tadi menutupi tubuh Jean. Ia tidak tahu kata-kata apa lagi yang bisa menginterpretasikan dirinya saat ini. Sial. Bisa-bisanya ia memiliki fetish pada wewangian rempah semacam kayu manis. Elena menangisi dirinya dalam hati.
"Oi, kau kenapa?" Jean mengulang pertanyaannya yang bernada khawatir. Tidak tahu saja jantungnya sedang konser alat musik pukul di dalam.
Elena perlahan menarik kepalanya dari selimut. Wajahnya menampakkan ekspresi hendak menangis—yang sumpah demi apapun, lucu sekali. Jean menahan diri untuk tidak tertawa—dan tidak menggigit kedua pipi kenyal yang kemerahan itu.
"J-jangan menertawakanku kuda!" Elena menyalak garang.
"Aku tidak melakukannya." Jean menyeringai. "Omong-omong kau suka sekali posisi kita sekarang ini atau bagaimana?"
Elena kelabakan dan segera bangun. Menyambar selimut di pangkuan Jean dan dipakainya untuk menutupi diri. Jean bangun perlahan sembari memegangi punggungnya—sok—kesakitan. Tidak pernah dirasakannya mengisengi orang semengasyikkan begini.
"Aduh, pinggangku!" Katanya dramatis, "Kau berat juga ya, Elena?"
"Kurang ajar! Beratku ini ideal tahu!" Elena tidak terima. Alis tebalnya menukik tajam.
Jean tertawa mendengarnya. "Iya, percaya…"
"Jadi? Mimpi mencium kuda?" Tanya Jean.
Elena menoleh kikuk. Jean terkekeh demi melihat wajah Elena yang salah tingkah. Tangan Jean gatal ingin menangkup dan mencubit kedua pipi itu.
"Bukan! Pokoknya bukan seperti yang kau pikirkan!" Elena duduk di sisi lain sofa. "Aku hanya…"
"Hanya berjalan dalam tidur! Ya!"
Ya Tuhan, makhluk unyu di depan ini apa ya?
"Hanya itu?"
"Oui! Hanya itu!"
"Oh, begitu. Ya sudah." Jean berdiri dari sofa, beranjak ke dapur kecil rumahnya. Hendak mengambil air.
Entah apa yang merasuki Elena, dia mengikuti langkah Jean sambil mengamit atasan Jean dengan telunjuk dan jempolnya.
"Apa sih? Aku hanya mau minum."
Sekarang ini Elena merasa takut jika ditinggal sendirian—enggak, lebih tepatnya, ia takut jika memori itu datang lagi menyakiti pikirannya, tapi Jean tidak ada di sana. Elena menggumam mencari alasan. Ya ampun, tidak mungkin kan dia bilang pada Jean kalau dia tidak mau kehilangannya?
"Aku juga ingin minum! Ah, hausnya! Rasanya seperti mau mati saja!"
"Lebay."
Jean mengambil dua gelas, mengisinya dengan air. Satu diteguknya dalam sekali napas, satunya disodorkan pada Elena. "Nih."
"Merci, Jean." Elena menerima gelas itu tapi tak segera minum. Genggamannya mengerat pada gelas. Saking eratnya gelas itu perlahan bergetar.
"Jean…. Aku rasa aku tidak ingin mendapatkan ingatanku kembali."
Jean menaikkan sebelah alisnya, penasaran. "Oh, kenapa begitu?"
"Entahlah. Rasanya sakit setiap mengingatnya." Elena berkata lirih.
Jean menarik napas, menghembuskannya pelan. Tangannya terulur demi meraih puncak kepala Elena. Ia mengusap surai kastanye panjang yang tertutupi selimut.
"Kalau begitu tidak usah diingat. Ingatanmu adalah hal kemarin, tidak perlu dilihat lagi. Jalani hidupmu yang sekarang. Itu saja sudah cukup, kan?"
Aneh. Padahal angin tidak berhembus, jendela juga jauh posisinya dari tempat mereka. Tapi Elena kembali merasakan aroma legit kayu manis. Rasanya menenangkan. Elena menarik sudut bibirnya. Jean benar, masa bodoh dengan ingatannya dahulu. Siapa tahu Tuhan memang memberinya kesempatan mengulang kehidupan dari masa lalunya yang terlihat melelahkan?
"Merci, Jean…"
=00=
Ruang pertemuan dengan ornamen rokoko kental itu nampak tegang. Suasana itu semata-mata didalangi oleh seorang pria dengan manik obsidian yang terlihat kesal. Berkali-kali decihannya serasa membuat umur Grisha berkurang drastis.
"Kalian mau menjadikanku lelucon?"
Aksen Perancisnya yang tajam membuat seluruh ruangan menahan napas. Monsieur Rivaille—namanya—bangsawan keturunan Ackerman yang tingkat ke-legend-nannya hampir menyamai ratu Victoria dari kerajaan seberang. Tidak ada yang berani main-main dengan keluarga besarnya, terkhususnya beliau sendiri.
Kelemahannya hanya satu, ia masih melajang di usia yang pangkal awalnya tiga. Entah itu bisa dibilang kelemahan atau tidak karena perangainya yang kelewat sensitif dibanding bangsawan Perancis lainnya, ia tidak akan segan menggorok leher manusia-manusia yang berani memperolok statusnya.
Karena keagungan keluarganya yang bahkan melebihi sang raja, serta kelakuannya yang lebih mirip bos mafia, maka jangan heran jika bangsawan lain mundur jika disuruh berbesanan.
Tapi itu tidak berlaku bagi Grisha—raja yang baru saja kehilangan putri barbarnya karena menolak perjodohan dengan seorang cebol sado.
Yah, awalnya Grisha pikir karena putrinya bakal kelepek-kelepek sama wajah tampan si Monsieur sadis, ia jadi tidak ragu untuk mengundang pria itu datang jauh-jauh dari pertemuan pentingnya dengan ratu Victoria di istana Buckingham.
Ia barusan gali kuburan sendiri, ya kan?
"Non. Kami semua tidak bermaksud begitu, Monsieur."
"Lalu jelaskan padaku mengapa hal remeh seperti ini bisa terjadi."
Grisha menarik napas berat. Menyesali perbuatannya yang sudah memanggil iblis datang ke istananya. Jempolnya mengurut-urut kening. Pusing.
"Kami semua tidak memprediksi putri mahkota akan nekat kabur dari istana. Mohon maaf sebesar-besarnya."
Rivaille tidak menganggapi kalimat sang raja barusan. Baru kali ini ada yang mempermainkannya sampai sejauh ini. Gengsinya tersinggung kala calon istrinya mendadak hilang karena kabur darinya. Masa bodoh dengan calonnya yang dari keluarga kerajaan, gengsinya jauh lebih tinggi dibanding mereka.
"Begitu." Rivaille berdiri, membuat kursi berderit kencang. Ia berjalan ke arah pintu sambil mengibaskan tangannya.
"Au revoir."
Tepat sebelum ia meraih gagang pintu, seseorang masuk hendak menyampaikan berita. Ia terkejut dengan kehadiran Rivaille di depan pintu, namun ia tidak berani bertanya dan hanya membungkuk dalam. Ia pergi menghadap Grisha, membungkuk, kemudian menyampaikan maksud tujuan.
"Mohon maafkan saya karena sudah mengganggu pertemuan."
Grisha mengibaskan tangan. Tidak masalah.
"Pasukan sudah selesai menyisir daerah di dekat sini. Tidak ada tanda-tanda putri mahkota, tapi…" Orang suruhan itu berhenti sejenak. "Di sebelah Selatan ditemukan barang-barang jarahan. Kami menangkap kumpulan bandit yang sudah lama meresahkan warga. Di antara barang-barang jarahan itu, kami mendapati benda-benda ini…"
Orang itu membuka buntalan kain yang tadi dibawanya. Isinya baju dan beberapa koin emas serta sebuah bingkai foto. Grisha terperanjat ketika melihat bingkai foto itu. Itu foto mendiang ibu ratu. Istrinya, Carla.
"Jadi maksudnya…. Elena…"
"Seperti yang mulia pikirkan. Kami akan melacak daerah sekitar situ untuk memastikan apakah putri mahkota ada di sana."
Grisha mendengus lega. Sudahlah, lupakan saja perjodohan ini. Ia hanya ingin putri kecilnya kembali ke pangkuannya. Ia mengangguk dan segera memberi perintah kepada sang suruhan untuk mempersiapkan keberangkatan. Rivaille yang menonton sedari tadi kembali menghadap Grisha. Manik obsidiannya mengkilat tajam.
"Ijinkan aku pergi bersama pasukanmu, Grisha."
Bersambung….
Glosarium :
Oui : Iya.
Merci : Terima kasih.
Au revoir : Selamat tinggal.
A/N
Hm, yang kali ini pendek seperti—uhukRivailleuhuk—tapi semoga hintsnya dapet.
Chapter depan sepertinya akan panjang dan….
….lumayan panas—ehem.
Salam, MiracleUsagi.
Bonus
Elena meringis saat kelima kalinya jarinya tertusuk jarum sulam. Ibu Jean menatap khawatir. Mereka sekarang sedang berada di kamar sang ibu. Jean sedang pergi menyelesaikan pekerjaan jasanya. Elena tersenyum masuk menyapa ibu Jean dan memintanya mengajari menyulam.
"Seperti kata Jean, kamu keras kepala ya, nak."
Elena tertawa kikuk. "Aku hanya ingin melakukan yang terbaik."
Elena kembali mencoba membuat kelopak-kelopak mawar di kain sulamannya. Wajahnya serius. Ibu Jean memerhatikan dengan sabar, sesekali memberi advis. Ketika kelopak terakhir selesai Elena tersenyum puas. Agak berantakan, tapi Elena puas.
"Terima kasih, ibu…" Katanya. Namun wajah Elena mendadak sendu.
"Ada apa, nak?" Ibu Jean mengusap kepala Elena.
"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya merasa tidak pernah memiliki seorang ibu. Entahlah, aku tidak ingat kenanganku karena amnesia ini."
Ibu Jean tersenyum. Tangannya yang tadi mengusap pucuk kepala Elena beralih ke pipinya.
"Kamu sekarang punya aku, nak. Jadi jangan khawatir."
Elena merasakan dadanya hangat. Kehangatan juga merambah pipinya dan menekan kantung air matanya. Setetes air mata jatuh menabrak tangan sang ibu.
"Kenapa menangis?" Ia menghapusnya pelan. "Tu es belle, Elena. Jadi tersenyumlah."
Elena mengangguk pelan. Tersenyum sumringah. "Oui."
Glosarium :
Tu es belle : Kamu itu cantik.
