Naruto © Masashi Kishimoto
Conversation © Lala Yoichi
Warning:
Fic abal, gaje, typo bertebaran, garing, ide pasaran,
judul tidak sesuai dengan isi dan lain-lain.
Don't Like Don't Read.
But review, please? #plakk :v
Happy reading~
.
.
.
Sepasang emerald itu terpaku menatap layar televisi yang tengah menayangkan adegan dimana seorang perempuan paruh baya sedang terjepit di pintu lift, kepala perempuan itu berada di dalam lift sedangkan badannya ada di luar. Keringat dingin meluncur dari keningnya saat menyaksikan bagaimana perempuan itu berteriak histeris meminta tolong pada teman-temannya yang berusaha membuka pintu lift dan mengeluarkannya.
'Help! Help me! I don't want to die! Please, help me!'
Perempuan berambut blonde yang ada di dalam film itu semakin berteriak histeris saat lift mulai bergerak dan menyeret tubuhnya ke atas yang tak khayal membuat teman-temannya ikut berteriak bahkan mengumpat saking paniknya. Air mata mengucur deras dari sepasang manik biru milik perempuan itu. Rasa horror dan tegang menyelimuti mereka, tak terkecuali dengan si pemilik manik emerald yang kini tengah mencengkram erat bantal sofa yang ada di pangkuannya. Lift terus naik dan kepala perempuan yang sebelumnya sudah ada di atas kini sudah ada di bawah. Perempuan itu berteriak, begitu juga teman-temannya. 'Kretak' Suara tulang patah mulai terdengar. Sakura, si pemilik manik emerald tak hanya mencengkram bantal sofa tapi bahkan menggigit benda tak bersalah itu saking ngerinya. Lift terus naik, naik dan leher perempuan itu…
'Klik!'
Sakura yang tengah menyembunyikan wajahnya di balik bantal merasa heran karena suasana tiba-tiba menjadi hening. Bukankah seharusnya dia mendengar teriakan yang begitu histeris sekarang? Tapi kenapa dia tidak mendengar apa-apa? Karena rasa penasaran, gadis bersurai pink itu menurunkan batal sofa yang menghalangi pandangannya. Mata hijau bulatnya berkedip lucu saat layar televisi yang sebelumnya menampilkan adegan menegangkan berubah menjadi gelap, mati.
"Kau itu penakut, jangan sok menonton film horror. Dasar bodoh." Sakura segera menoleh ke sumber suara dan saat itulah dia menangkap sosok pemuda berwajah dingin bin datar tengah duduk di sampingnya sembari memegang remot Tv. Ia tahu sekarang siapa pelaku yang mematikan televisinya tanpa permisi. Wajah Sakura berubah masam, ia hempaskan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk.
"Kenapa sih kau selalu mengganggu kesenanganku, Sasuke? Menyebalkan." Gerutu Sakura sambil bersidekap dada. Bibirnya maju beberapa centi ke depan. Sasuke mendengus, ia melirik Sakura dari ekor matanya.
"Mengganggu? Menyelamatkan, itu lebih tepatnya." Ucap Sasuke dengan nada mengejek. Sakura semakin memajukan bibirnya, membuat Sasuke ingin sekali melumatnya.
'Cup'
"Vanilla. Tidak buruk." Komen Sasuke setelah mengecup dan melumat bibir Sakura singkat. Sakura segera menjauhkan diri.
"Me-mesum! A-apa yang kau lakukan!" teriak Sakura sembari menutupi bibirnya menggunakan punggung tangannya. Wajahnya memerah semerah tomat matang kesukaan Sasuke. Menggemaskan, batin Sasuke.
"Aku tidak mesum, kau yang menggodaku duluan." Ucap Sasuke cuek.
"A-apa?! Aku tidak menggodamu, bodoh!" protes Sakura kesal, disini dia lah yang menjadi korban tapi kenapa malah dia yang disalahkan?
"Memajukan bibirmu seperti itu di depan seorang pria normal, apa menurutmu itu tidak menggoda?" Sakura ingin sekali membalas kata-kata Sasuke, tapi entah kenapa tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia hanya megap-megap seperti ikan koi.
"Ck! Terserah. Aku mau nonton film, berikan remotnya!"
"Tidak. Kau itu penakut." Sasuke menjauhkan remot Tv dari jangkauan makhluk pink di sampingnya. Sakura mencoba merebut, tapi Sasuke begitu gesit.
"Sasuke!"
"Tidak ya tidak. Apa kau sudah lupa gara-gara film itu kau takut menyalakan kompor hanya karena salah satu adegannya menayangkan adegan kompor meledak? Kau juga takut naik eskalator, naik pesawat, berenang di kolam renang umum, mandi di bath tub…" mendengar Sasuke yang terus-terusan menyudutkannya membuat telinga Sakura memerah, ah bukan hanya telinga tapi juga wajahnya. Sekarang dia terlihat seperti bom yang siap meledak.
"Baiklah, baiklah! Kau menang, Tuan pantat ayam!" teriak Sakura frustasi. Dia kembali menghempaskan bokongnya ke sofa. Dia tidak tahu Sasuke yang banyak bicara ternyata jauh lebih menyebalkan daripada Sasuke yang minim kata. 'Gezz! Aku ingin sekali menjambak rambut ayamnya itu!' batin Sakura kesal.
"… kau bahkan takut saat melihat pemotong rumput dinyalakan." Sasuke menghentikan ucapannya, menoleh ke arah Sakura dengan wajah meremehkan.
"Jadi kau mengakui kalau kau itu memang penakut,eh?" Sakura menoleh cepat, menatap wajah menyebalkan milik kekasihnya. "Aku tidak bilang begitu!" elaknya.
Sasuke mendengus. "Baiklah. Aku punya tantangan untukmu." Ucap Sasuke kalem. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan nyaman, memainkan remot Tv dengan jari-jarinya yang ahli dalam segala hal, ehem, ya segala hal.
"Tantangan? Apa?" tanya Sakura dengan pandangan menyipit. Pemuda raven itu menghentikan gerakan jarinya yang tengah memainkan remot, dia menatap Sakura dengan ujung matanya.
"Mudah. Aku akan mengijinkanmu menonton film ini sampai selesai."
"Sungguh?!" tanya Sakura dengan mata berbinar, layaknya seorang emak-emak yang menang arisan dan mendapat diskon pakaian dalam. Sasuke mengangguk sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Tapi besok kau harus ke atap sekolah naik lift dan jika kau tidak berhasil…" sejenak Sasuke melirik ke arah Sakura, "… aku akan membuang semua koleksi film horrormu." Lanjut Sasuke yang entah sejak kapan sudah membaca novel misteri favoritnya. Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Hanya itu?" tanyanya heran. Sasuke mengangguk menanggapi pertanyaan gadis berisik yang entah kenapa ia sukai itu.
"Pfft…Hahaha!" tawa Sakura meledak, "Apa kau bercanda Sasuke? Tantangan macam apa itu? Bukankah kita setiap hari menaiki lift?" Gadis itu benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda yang duduk di sampingnya sekarang. Pemuda itu menantangnya untuk naik lift? Itu mudah, terlalu mudah malahan. Dia benar-benar merasa diremehkan sekarang. Sasuke hanya mengedikkan bahu cuek.
"Aku sudah bilang mudah bukan?"
"Bagaimana jika aku berhasil?"
"Kau boleh minta apapun dariku."
"Baiklah. Aku terima tantanganmu, Sasuke!" Ucap Sakura dengan senyum penuh percaya diri. Sasuke hanya bergumam dan tanpa Sakura sadari, di balik novel yang sedang ia baca, pemuda itu tersenyum kecil.
.
.
.
Kaki kecil itu tertatih menaiki anak tangga yang terasa tak ada ujungnya. Nafasnya putus-putus dan dadanya terasa sesak, padahal ini masih lantai 3 sedangkan kelasnya ada di lantai 5. Ck, gadis itu mengumpat dalam hati tentang gedung sekolahnya yang begitu tinggi. Selama ini dia selalu menggunakan lift, jadi dia tidak perlu capek-capek naik tangga darurat, tapi karena kejadian waktu itu membuat Sakura mau tak mau menggunakan tangga untuk mencapai kelasnya.
"Haah… aku lelah…" desah gadis bersurai merah muda itu seraya menyeka keringat yang menempel di keningnya menggunakan punggung tangannya. Dia berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Harusnya waktu itu dia mendengarkan apa kata Sasuke, pasti dia tidak akan naik tangga seperti ini. Dia tidak menyangka, jika dia benar-benar takut naik lift hanya karena menonton film horror itu. Sasuke benar, dia memang penakut.
"Ternyata selain penakut kau itu jorok ya." Sakura menoleh ke belakang dan manik hijaunya melebar.
"Sasuke?" Sasuke hanya bergumam datar. Pemuda itu menyeka keringat di wakah Sakura dengan sapu tangan biru miliknya, diperlakukan seperti itu membuat wajah Sakura bersemu merah.
"Berhenti menggodaku atau aku akan mencium mu, Sakura." Ucap Sasuke pelan, masih sibuk menyeka keringat Sakura. Sakura menatap onyx Sasuke heran.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Sasuke berhenti mengelap wajah Sakura, kini onyxnya balas memandang manik hijau milik Sakura.
"Wajahmu memerah. Apalagi namanya kalo bukan menggoda." Sakura terkekeh pelan mendengar jawaban Sasuke.
"Hahaha… itu karena kau saja yang mesum." Ejek Sakura sambil menarik pipi pemuda yang minim ekspresi itu. Sasuke berdecak kesal dan menggengam tangan gadis musim seminya. Ia menarik gadis itu menuju ke arah lift, tapi gadis itu segera menarik kembali tangannya. Raut ketakutan muncul di wajah cantiknya. Sasuke kembali menggenggam tangan kecil itu, onyxnya memandang emerald penuh arti, seoalah mengatakan bahwa semua akan baik-baik, tapi sang gadis menggeleng pelan, tanda bahwa dia tidak setuju dengan pemuda di hadapannya. Pemuda keturunan Uchiha itu menghela nafas perlahan, dia segera berjongkok di hadapan gadis keturunan Haruno yang sudah menjadi kekasihnya beberapa bulan yang lalu.
"Naik."
"A-apa?" pemuda itu menoleh ke belakang.
"Tch. Cepat naik!" perintahnya. Sakura tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia hanya menuruti perintah Sasuke. Ia kalungkan kedua lengannya melingkari leher Sasuke, pipinya memanas saat dirinya menempel dengan punggung lebar nan hangat milik kekasihnya itu. Aroma maskulin memenuhi indra penciumannya dan Sakura menyukai bau ini, begitu menenangkan.
"Sasuke…"
"Hn?" Sasuke segera menegakkan tubuhnya dengan Sakura yang menempel di punggungnya. Piggy back. "Kau berat Sakura." Imbuhnya yang sukses membuat kepala ayamnya mendapat jitakan. Dia segera melangkah dan menanjaki anak tangga satu persatu. Hening. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun di antara mereka, hanya suara ketuka sepatu yang membentur lantai, tapi itu tak lama karena suara Sakura memecahkannya.
"Kenapa kau ada disini?"
"Memastikan seorang gadis penakut tidak tersesat dan pingsan di tengah jalan." Jawab Sasuke acuh tak acuh. Sakura tersenyum melihat sikap tsun-tsun Sasuke. Walaupun Sasuke ini tipe cowok cuek dan dingin, tapi dia tahu sebenarnya dia itu orang yang baik dan peduli. Sakura mengeratkan rengkuhannya pada Sasuke.
"Kau pasti sangat mencintai gadis itu." bisik Sakura membuat pemuda itu terkekeh pelan.
"Heh. Dia membuatku gila."
"Kau juga membuatnya gila."
"Aku tahu."
"Sasuke…"
"Hn?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Selalu ada di sampingku."
"…Hn." Perasaan hangat mengalir di hati kedua insan itu bersama dengan keheningan yang kembali menyelimuti langkah mereka.
.
.
.
The End
.
.
.
Hahaha apa ini? Aku juga tidak tahu ini apa x'D #plakk
Maaf jika chapter ini terasa maksa dan tidak ada feels sama sekali, tapi tetep nekat aku publish. Aku juga tidak tahu kenapa nekat publish. *dibantai* :'v
Terimakasih untuk yang sudah review, fav dan juga follow. Kalian membuatku bersemangat! Arigatou gozaimasu!
Jadi…
.
.
.
Review? :'D
