Yak, akhirnya setelah lama menghilang di dunia per-fanfict-an, akhirnya Ryu bisa updet cerita ini... hahaha... jujur, Ryu terkejut karena banyak yang review LEMON...

Haish.. baiklah, tetapi maaf kalau ceritanya hancur...

Sebenarnya Ryu agak takut karena ada isu yang katanya akan segera diberlakukan.

Apakah itu?,

Kalian akan mengetahuinya besok..

Maaf, kalau tidak menyenangkan chappy ke 3 ini...

Mohon di sukai ya minna..

Disclaimed : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru slight ShikaKiba

Rated : M

Genre : Drama and Romance

Summary : Sasuke sudah menjalankan jurus jitunya, rencana licik nan muslihat sudah terlihat... takdir sudah berubah... apakah takdir ingin mempermainkan mereka atau hanya author yang kurang kerjaan saja..? dan apakah ia akan memiliki Naruto ataukah sebaliknya.. siapakah yang akan termakan dengan permainan gila sang author terlebih dahulu?, Naruto, Sasuke atau Ino?.. for seme, time to have fun, but dont forget, Uke will be have fun too in next chapter.. and fujoshi will be happy forever in this fict.. #bahasa hancur

Warning: Typos, boyxboy, yaoi, not normal or yuri, gaje, aneh, gila, jauh dari kata sempurna, di buat oleh sang author gaje dan tidak bisa apa-apa selain menghayal video SasuNaru sambil ngelap darah pake tisu (?), dll

.

.

Kata orang, sifat itu tidak bisa diubah dengan cepat. Begitu juga dengan sifat yang dimiliki Naruto. Naruto yang memang dari dulu sifatnya keras kepala dan tidak pernah menyerah, tidak akan berubah sampai kapanpun. Termasuk dalam hal bertaruh. Panggil ia bodoh, dobe, tolol atau semacamnya. Karena tanpa pengamatan terlebih dahulu ia menerima taruhan terbodoh sepanjang umurnya. Taruhan yang bisa saja mengubah hidupnya secara drastis, mengingat saudaranya itu ternyata seorang devil fujo. Ah, andai saja ia mengetahuinya lebih awal, tentu saja ia tidak akan terjebak dengan situasi saat ini. Dimana, sekarang ia sedang mengamati seseorang yang sedari tadi duduk santai sembari menikmati kopi hitam miliknya.

"Kapan dia akan melakukan'nya', ini mulai membosan" keluh Naruto sembari menopang dagunya. Iris safirnya memandang si target dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak kesal, kalau dia menunggunya selama 2 jam lebih di bangku paling pojok di sebuah restoran dengan hanya memakai pakaian jaket bertudung dan harus menunduk untuk menutupi wajahnya setiap kali ada yang melewatinya. Ck, mendokusei.

Drrttt... Drrttt...

Handphone Naruto bergetar tiga kali. Setengah hati, Naruto merogoh jaketnya dan menemukan sebuah e mail baru di layar handphonenya. Alis Naruto yang tadinya bertaut kesal berubah menjadi bersinar bak matahari di musim panas setelah membaca e mail itu.

"Kau memang sahabat baik, Kiba" gumam Naruto senang. Dapat ia rasakan wangi semerbak dan suara genderang kemenangan di telinganya, dan Ino yang menangis terisak-isak karena kalah untuk pertama kalinya padanya. ahh, memikirkannya saja sudah membuatnya melayang ke langit ketujuh.

Oke, back to the story

Naruto kembali menaruh handphonenya setelah membalas e mail Kiba yang menyuruhnya untuk menemuinya di restoran ini. Namun senyuman itu semakin memudar di bibirnya ketika sebuah firasat buruk tiba-tiba merasuk di dalam hatinya. Firasatnya mengatakan bahwa ia sebaiknya pulang ke rumah, tidur dan bermimpi indah daripada mengikuti pemuda yang ada di depannya itu. Namun, ada juga sebagian yang menyuruhnya bertahan sehingga membuatnya bingung. Memilih antara mengikuti atau tidak.

Di lain pihak, Sasuke masih saja terlihat tenang. Meskipun beberapa kali ekspresi wajah datarnya sedikit berubah dengan wajah di tekuk kemudian beberapa detik kemudian menjadi datar kembali dengan ekor mata yang sedikit memperhatikan pintu masuk restoran itu. Sampai mata hitam kelamnya melihat seorang gadis berambut pirang dengan iris safir keabuannya.

"Kau terlalu lama" tegur Sasuke, menyilangkan tangannya di dadanya. Mata kelamnya menatap datar gadis di depannya itu. Gadis yang di tegur itu hanya tersenyum seperti biasanya, tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Tampaknya sudah terbiasa dengan sikap Sasuke yang hanya satu-satunya di dunia ini.

"Ayolah. Maafkan aku ya Suke" pinta si gadis bergelayut manja di lengan Sasuke, sukses membuat Naruto di belakang sana membelalakkan matanya terkejut. Saking terkejutnya, ia menjatuhkan handphonenya dengan mulut yang menganga sempurna. "Sial, si Teme itu memang brengsek" pikir Naruto geram.

Ini tidak bisa dibiarkan, begitulah pikiran Naruto saat ini. Entah karena ia geram dengan gadis itu atau Sasuke, yang sudah sukses membuat hatinya yang paling dalam meledak. Ia tidak tahu pasti. Yang ia tahu saat ini hanyalah mengikuti gerak gerik mereka berdua. Lupakan tentang pulang ke rumah dan tidur dibawah selimut hangatnya dan lupakan juga Kiba yang entah dimana, ia akan mengikuti mereka berdua kemanapun mereka berdua pergi. Meskipun ke neraka akan ia ikuti.

Oke, lupakan kalimat terakhir karena tentu saja Naruto tidak akan ikut dengan alasan takut hantu. Ck, penakut #di tendang readers

.

.

Mereka berdua (Sasuke dan si gadis) tengah berjalan bersama. Sedari tadi mereka asik berbincang, yang tentu saja di dominasi dengan suara si gadis dan jawaban singkat berupa 'hn' dari Sasuke. Mereka semakin jauh berjalan-bergandengan tangan, tidak menyadari sepasang mata safir mengintai dengan buku yang sudah hancur di tangannya. Tersirat ekspresi marah dari tatapan itu. Entah karena cemburu, kesal, tidak ada yang mengetahuinya pasti.

Sampai suatu ketika mereka berhenti di sebuah diskotik yang sedikit terpencil dari perkotaan. Meskipun terpencil, tampaknya diskotik itu sangat terkenal, terlihat dari deretan mobil-mobil mewah di tempat parkiran. Masih berbincang dengan lengan sang gadis dikaitkan di lengan Sasuke, mereka masuk ke dalam. Naruto merogoh kantongnya sekali lagi dan segera mengetik sebuah pesan untuk sahabatnya.

"Temui aku di diskotik, pinggir kota" begitulah isi pesan Naruto. setelah menekan tombol send, Naruto segera masuk ke dalam diskotik. Untung saja pengunjung diskotik sedang ramai sehingga Naruto yang belum boleh memasuki tempat itu, bisa dengan mudah menyelinapkan tubuh rampingnya diantara kerumunan. Bagaimana dengan Kiba yang akan menemui Naruto di sana?. Tentu saja Kiba boleh masuk, karena sebenarnya diskotik ini milik Shikamaru. Shikamaru adalah senpai Naruto dan sahabat Kiba sehingga Kiba bisa masuk dengan leluasa.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pengunjung diskotik itu semakin banyak saja. Iris safir Naruto memandang liar diantara kerumunan manusia yang tengah menikmati indahnya surga dunia sembari mengutuk dirinya sendiri karena telah kehilangan 'target'nya.

Lalu, apakah ia akan pulang dan mencobanya besok saja?

Tentu saja jawabannya TIDAK. Ia tidak akan membiarkan kesempatan emasnya yang hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya berlalu begitu saja. Karena akhirnya, ia bisa membuat Ino, kakaknya mengakui kehebatannya dan mungkin saja tidak akan mengganggunya lagi. perfect!.

Dengan perlahan, Naruto berjalan mengitari setiap ruangan yang ada di diskotik itu. iris safirnya tidak henti-hentinya menatap setiap orang yang ia lewati. Berharap ia akan menemukan target miliknya, meskipun yang ia dapatkan hanyalah tatapan bingung, kesal, dan mesum dari orang yang ditatapnya. Sampai suatu ketika, telinganya menangkap sebuah suara yang menurut asumsinya adalah suara si gadis. suaranya sedikit terengah dan tertahan oleh sesuatu, dan setelah itu mendesah pelan, mengerang lalu mendesah lagi.

"Toilet laki-laki" pikir Naruto langsung memasuki tempat itu. meskipun tanpa kamera dari Kiba, ia akan tetap masuk dan berharap ia tidak akan kehabisan darah lagi untuk kedua kalinya. Naruto yakin, dengan keahliannya dalam menulis, ia dapat merekam adegan lemon itu di bukunya yang sedari tadi sudah tidak berbentuk.

BRAK...

Kamar mandi dengan belasan bilik menyambutnya sesampainya di sana, tanpa ada seorang pun yang terlihat di sana. Waktu yang sangat sempurna baginya untuk mengintip. "Baiklah, ayo kita lakukan" gumam Naruto merasa jika dewi fortuna berada disampingnya. Berharap peruntungan yang baik, Naruto berjalan-berjinjit ke ruang pertama, dan...

KRIET..

Terdengar suara kenop pintu diputar mengalihkan perhatiannya sekaligus menghentikan pekerjaannya. Reflext, Naruto berlari cepat sembari membuka kenop pintu bilik toilet satu persatu.

Terkunci... terkunci... terkunci...

Keringat dingin semakin mengalir deras di dahinya. Firasatnya menyuruhnya untuk menjauh dari tempat itu secepat mungkin. Namun, karena perasaan takut entah pada siapa, Naruto hanya melakukan 1 solusi yang menurutnya terbaik saat ini. Otaknya tidak bisa memilirkan hal lain kecuali sembunyi. Apalagi ketika mendengar derap langkah kaki memasuki toilet itu.

Ceklek..

Naruto hampir saja sujud syukur kalau saja tidak tahu dimana tempatnya saat ini. Untung saja dari belasan bilik toilet yang ia buka, ada satu bilik yang tidak terkunci. Tanpa pikir panjang, Naruto memasukinya sembari melihat keadaan di luar melalui lubang pintu yang cukup besar.

Tidak lama kemudian, dua pasang kaki terdengar melangkah masuk. Karena lubang yang tidak cukup besar, Naruto hanya bisa melihat sebagian dari tubuh mereka, yaitu dada sampai pinggang. Dapat ia lihat, pemuda yang masuk lebih dulu didorong pelan sampai wajahnya membentur tembok yang ada di depannya. Dan pemuda keduanya menghimpitnya. Sebuah tangan mulai memasuki celana pemuda yang dihimpit itu.

"Aku harus menemui.. engh.. berhenti memainkan 'itu'." terdengar sebuah suara yang sedikit familiar di telinganya, yah kecuali desahan itu tentunya. Namun, ia tidak bisa memastikannya dengan pasti.

"Kenapa?, hmmm, kau menyukainya" terdengar suara lagi, suara itu datar namun terkesan mesum sehingga membuat wajah Naruto sedikit memerah karenanya.

"Eh" Naruto tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Apakah ia akan berteriak seperti yang dilakukannya di saat pertama kali bertemu dengan Sasuke atau merekam adegan di depannya sesuai dengan ucapannya yang tadi. Lagi lagi, ia tidak mengetahuinya.

"Shika, nanti ada yang lihat bagaimana" suara itu semakin meninggi. Tampaknya ia sudah semakin kesal dengan ulah temannya itu. sementara Naruto?, ia masih saja mematung.

Kosong.

Tidak ada yang ada dipikirannya. Ia tidak menyangka author satu ini sangat senang membuatnya seperti orang gila.

Kedip.. kedip.. kedip..

"Shika, Shikamaru. Kalau itu Shika, pasti yang satunya Kiba.. hahaha, mengapa mereka melakukannya di sini yah, dasar bodoh" gumam Naruto enteng, seakan-akan yang mereka lakukan di sana sudah sering ia lihat.

"Eh..."

1..

Naruto mulai berfikir

2...

TRING...

Otak Naruto masih me-loading

3...

Mata Naruto membelalak kaget

"AA... mmpphmmm"

Sebuah lengan putih nan halus segera menutup mulut Naruto sebelum ia berteriak histeris. Pelaku yang tidak lain adalah Uchiha Sasuke memberikan deathglare mematikannya kepada Naruto. memberikan isyarat bagi Naruto untuk tidak berteriak dan membuat pasangan diluar sana terganggu dengan 'acaranya'.

"Mmhhhppp" Naruto memberontak dalam dekapan Sasuke. Tidak terima dengan perlakuan dari makhluk Tuhan yang paling mesum macam Sasuke. Bahkan, disentuh pun ia tidak terima, apalagi di bekap. WTH! Ia tidak sudi.

"Diamlah Dobe!" perintah Sasuke merasa sedikit terganggu dengan sikap Naruto yang tidak bisa diam.

"Ahh.. mhaah" terdengar erangan panjang dari kedua insan itu dan sunyi setelahnya. Naruto yang belum mengerti apa-apa kemudian melirik Sasuke yang ada di belakangnya.

"Te.."

"Mereka sudah klimaks, Dobe" jawab Sasuke memotong ucapan Naruto dengan wajah datarnya. Beberapa detik kemudian, wajah datar itu berubah menjadi wajah mesum miliknya. Perlahan lahan matanya meneliti tiap lekuk tubuh Naruto yang tertutupi pakaian. "Tinggal sebentar lagi, kau akan menjadi milikku Namikaze" batin Sasuke menyeringai licik.

.

.

.

To be continue

Mohon maaf minna lemonnya belum ada...

Sebenarnya ryu mau bikin lemon, tapi karna banyak tugas ryu gak bisa bikin...

Hmm.. ryu janji besok akan ada lemon...

OTAK RYU ERROR... TIDAK ADA INSPIRASI MESUMNYA...

Gomennasai minna #cium satu-satu tangan readers..

Lagipula ryu pikir ini cukup karena wordnya udah mencapai 2000,, ryu pasti akan jadi males kalau wordnya udah 2000 #kebawaan waktu kecil..

LEMONNYA AKAN MENYUSUL...