.
.
.
.
Pacar(babu)nya Sasuke
.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Kasashi Mishimoto
.
.
.
Genre: Romance, Komedy
.
.
.
Selamat membaca.
.
.
.
Chapter 3
La La La...
Gue baru masak nih coi. Nasi goreng orak-arik sambel terasi. Mama dan Papa gue belum pulang dari urusannya. Biasa orang tua gaul, sekalian refresing katanya. Abang gue yang imut-imut lagi nunggu di belakang noh, duduk manis kayak anak TK waktu pembagian bubur kacang ijo. Duduk tenang sambil melipat tangan di atas meja makan.
Dan tara... Nasi goreng ala chef Sakura telah matang. Gue sajikan dua piring masing-masing buat gue dan abang gue. Di tambah telur mata sapi, irisan tomat dan mentimun, taburan bawang goreng di atasnya. Ayo kita sarapan…..!
Ting tong...
"Buka gih!" abang Sasori memberi perintah. Baru aja duduk mau makan bang. Karena gue adik yang baik hati dan rajin menabung, makanya gue samperin tuh tamu yang lagi nunggu di depan pintu.
Ceklek.
Ada embak-embak berambut pirang. Tapi kok badannya kekar ya? Bule, blasteran, atau cuma rambutnya aja embak yang pirang!
"Selamat pagi un, Sasori ada dek?" tanya embak ini. Tapi kok suaranya laki. Ternyata mas-mas kemayu. Tanpa sadar gue menaikkan satu alis gue.
"Ehem!" Deheman dari embak eh salah mas ini mengembalikan fokus gue. Agak gak enak juga sih, gue udah meragukan gender dari makhluk di depan gue. Abang gue yang imut-imut ternyata punya kenalan manusia absurd kayak gini ya...
"Selamat pagi mbak, ups mas. Abang baru sarapan. Tunggu bentar ya gue panggilkan!" gue langsung ngacir ke dalam. Takut si mas kemayu itu tersinggung gara-gara gue salah nyebut. Hehehe.
"Bang ada yang nyari loe. Gue suruh tunggu di depan noh!"
Abang gue langsung meninggalkan meja makan, nyamperin tuh tamu. Tak berapa lama mereka ikut gabung ke meja makan.
"Sakura! Kenalin nih teman gue. Namanya Deidara!"
Si mas kemayu mengulurkan tangannya yang langsung gue sambut.
"Sakura!" ucap gue.
"Loe udah sarapan?" tanya abang gue ma temannya.
"Belum un!"
"Sakura, ambilkan nasi goreng gih buat Deidara!" perintah abang gue. Bisa gak sih sekali-kali dia melakukannya sendiri. Gue juga lagi makan nih. Masih menggerutu dalam hati gue ambilkan nasi goreng. Biar image gue bagus di depan temannya Sasori.
"Ini mas, silakan dimakan!" ucap gue begitu menghidangkan nasi goreng.
Drrtt drrtt..
Hp gue bunyi. Telepon dari pacar /majikan gue.
"Halo!"
"Cepat keluar, gue udah di depan rumah nih!"
Tumben tuh pangeran es jemput gue. Kesambet apa ya?
"Bentar tak selesaikan sarapan gue!"
"Semenit loe gak keluar gue tinggal!"
Gila nih anak ya.. memang nasi goreng satu piring penuh gue makan langsung apa? Dasar gak peka, sok pemaksa!
"Yaudah loe tinggal aja, lagipula biasanya juga gue berangkat sekolah sendiri!"
"Fine!" Setelah mengatakan itu majikan gue mematikan sambungan teleponnya.
Gue mah santai aja, lagipula baru jam 6 lebih 15 menit. Masih punya waktu banyak. Gue nikmati sarapan gue. 15 menit kemudian gue siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Abang gue dan teman absurd nya sudah berangkat kerja duluan.
Motor udah di panaskan ma bang Sasori, tinggal starter lalu tancap gas.
Bruuum
Gue gas motor gue tercinta, sambil bersenandung pelan gue nikmati perjalanan ke sekolah. Satu mobil warna putih menyalip gue. Lalu satu motor lagi nyalip gue. Bahkan... Sepeda mini anak SD juga nyalip gue? Tunggu dulu... Perasaan udah gue gas pol nih motor, tapi kenapa tidak melaju kencang. Gue matikan nih motor. Ada yang tidak beres nih.
Ternyata oh ternyata ban motor gue kempes semua. Depan dan belakang. Mana udah di pertengahan jalan lagi. Mau balik ke rumah udah jauh, mau ke Sekolah pun tambah jauh. Nasib gue apeeees. Mana ada bengkel yang buka jam segini. Gue panik, gue cemas. Seumur-umur belum pernah gue telat ke sekolah. Kemarin kan nyaris telat, jadi lupakan.
Sambil menggigit ujung kuku ibu jari, gue jalan mondar mandir kayak setrika. Apa gue belum berdoa sebelum keluar rumah ya? Ya Allah bagaimana ini, tolonglah hambamu yang teraniaya ini! Sambil komat kamit gue baca surat-surat pendek yang gue hapal.
Waow...
Sepertinya doaku terkabulkan. Ada malaikat tampan yang menghentikan mobilnya tepat di samping motor buluk gue.
"Kamu kenapa?" tanyanya penuh perhatian. Ci hui... Hati gue lumeeerr, denger suaranya yang serak-serak basah. Gue yakin, pipi gue sekarang sudah sewarna dengan rambut gue.
"Ban motor ku kempes kak. Mana mau telat lagi ke sekolah!" jawab gue sambil memasang wajah melas. Siapa tau aja nih malaikat mau nolongin nganter gue ke sekolah.
"Dimana sekolahnya mbak?" Aih... Kenapa panggil gue mbak sih bang, adik kan lebih gue terima. Oke sambil tersenyum manis gue menjawab, "SMU Taruna Dharma kak!"
"Oh, sama adik ku juga sekolah di sana!" Haish... Kenapa jadi ngobrol begini sih. Kalau waktunya tepat sih gue senang-senang aja, banget malah. Masalahnya tuh, waktu gue mepet. Sepertinya kakak jelmaan malaikat ini mengerti kegundahan hati gue.
"Mari aku antar ke sekolah, mbak...?"
"Sakura kak, gak usah pake mbak. Kan umurku lebih kecil!" ucap gue sambil menyodorkan tangan gue. Halus, telapak tangan malaikat memang sehalus sutera.
"Terus motor ku bagaimana kak?" tanya gue yang masih mencemaskan nasib motor warisan Abang Sasori.
"Tenang saja biar aku telepon motor derek, ketik alamat rumahmu biar nanti temanku mengantar motormu!" ucap malaikat bertubuh manusia ini sambil menyerahkan Hp nya.
Klutak klutik Klutak klutik
Gue ketik alamat rumah gue sejelas-jelasnya. Siapa tau aja kakak tampan mau main ke tempat gue. Hehehe sambil modus dikit gak papalah.
Setelah selesai dengan urusan motor, gue semobil dengannya berangkat ke sekolah. Tak lama kemudian mobil mulus ini sudah di depan gerbang. Masih ada waktu lima menit lagi sebelum Bell dimulainya pelajaran berbunyi.
"Terima-kasih kak, tumpangannya! Hati-hati di jalan ya...!" ucap gue menampilkan senyum termanis gue.
"Yoi.. Belajar yang giat ya…. Aku pergi dulu!" ucap kakak malaikat begitu mobilnya meninggalkan gerbang sekolah.
Tapi... Tapi... Tapi... Sial aku lupa menanyakan namanya... Huhuhu... Yasudahlah lain kali gue pasti beruntung, toh kalau jodoh tak kemana. Gue jingkrak jingkrak ke kelas. Meski dipenuhi tatapan heran dari anak kelas lain, kagak peduli. Yang penting gue hepy.
.
.
.
Tap
Tap
Tap
Langkah sepatu gue penuh semangat menuju kelas. Tapi kok merinding ya tengkuk gue, berasa firasat buruk akan gue dapatkan.
"SELAMAT PAGI, GOOD MORNING, OHAYOU...!" teriak gue penuh semangat.
Hening, gak da seorangpun menjawab sapaan gue. Ada apa nih? Seperti punya perintah sendiri, kepala gue menengok ke bangku paling belakang pojok kiri, tempat duduk gue.
Serraam... Sasuke 'si pangeran es' melotot ke gue, telapak tangannya terkepal erat. Jangan-jangan pacar gue tadi liatin gue. Memang dari bangku gue, jika loe tengok kiri langsung menghadap ke gerbang sekolah. Tanpa gue sadari badan gue mulai menggigil ntah karena takut pada Sasuke atau dingin-nya ruang kelas. Sasuke berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghapiri gue perlahan. Udah kayak predator yang mengincar mangsanya. Mama tolongin gue….. Dengan susah gue telan air liur seperti menelan sebongkah garam.
Tap
Tap
Tap
Tap
Langkah sepatunya mirip langkah kaki pembunuh di film-film horor. Badan gue tambah menggigil begitu Sasuke berjarak satu langkah di depan gue. Wajah minim ekspresi miliknya mendekati telinga gue, "Siapa cowok BRENG-SEK yang berani mengantarmu SA-KU-RA!?" tanya Sasuke datar penuh penekanan, namun gue tau kalau cowok di depan gue ini lagi menahan amarahnya yang bisa meledak kapan aja.
Tak ada jawaban dari gue, karena selain tidak tau namanya juga tubuh gue tak mampu bereaksi saking takutnya menghadapi Sasuke.
"Tidak mau ngomong? Fine akan kucari tahu sendiri!" ucap Sasuke kemudian, "Selama aku belum menemukan tuh cowok BRENG-SEK, sebaiknya kau berkelakuan baik, Sa-yang!" terusnya lalu menepuk pipi gue pelan sebelum meninggalkan tubuh gue yang merosot ke lantai. Jantung gue mencelos…
"Hah….!" Gue menghela napas yang sedari tadi tanpa sadar gue tahan begitu Sasuke meninggalkan kelas 10 IPA 1.
"Loe gak papa Sakura?" tanya Ino pig sambil membantu gue berdiri dan jalan ke tempat duduk gue.
Belum sempat gue duduk, dan menghilangkan kegalauan di hati gue, pintu kelas kembali terjeblak lebar.
"Sakura, pacar loe mau membunuh berandalan kakak kelas!" teriak seorang siswa yang gue tau salah satu teman sekelas Sasuke. Tanpa pikir panjang gue keluar kelas mengikuti langkah temannya Sasuke. Dan apa yang ku dapatkan saat sudah berada di TKP? Sasuke berdiri di atas lima tubuh roboh kakak kelas yang terkenal sebagai berandalan sekolah. Salah satu kakinya masih menginjak dada salah seorang di antara mereka. Luka robekan dan bekas tonjokkan memenuhi tubuh mereka. Pun dengan Sasuke, bahkan di sudut bibirnya meneteskan darah dari bekas robekan.
"Apa yang kalian lakukan...?" teriakku penuh emosi. Ketakutan yang tadi kurasakan hilang seketika.
.
.
.
.
Tbc
.
.
