chapter 3. Sacrifice

My Lovely Senpai

A Fiction By :

Disclaimer
Akatsuki Naruto Masashi Kishimoto

Dedicated To : My Lovely Senpai

Warning
Gaje, Garing, OOC, Ga Lucu

Tobi terpental kebelakang. Namun dengan sigap dan cepat Dia membalas pukulan itu. Setelah beberapa lama trio akatsuki perang dengan pasukan tersangka, akhirnya trio akatsuki menang. Sebenarnya yang bertarung cuma dua orang, Tobi dan Deidara. Kenapa? Karena Tobi ingin terlihat keren di mata konan dengan menghadapi banyak musuh dengan harapan Konan bisa menyukainya.

Pada akhirnya misi itu selesai. Tersangka dapat dibekuk dengan perjuangan berat. Deidara harus rela rambutnya kusut berantakan serta berceceran di berbagai tempat. Sementara Tobi harus rela topengnya hancur karena terlalu sering menerima serangan saat melawan para musuh.

"Misi selesai, senpai!" Lapor Tobi pada Konan saat keluar ruangan bersama Deidara yang menyeret tersangka yang babak belur pingsan.

"Bagus, ayo kita kembali." Jawab konan sambil meletakkan origami bangau ke-101. Wow, kenapa Konan bisa membuat sebanyak itu? Karena kesal saat ingin menghajar musuh selalu didahului Tobi. Makanya dia memilih untuk membuat origami.

Sebuah pagi yang cerah di sekitar daerah Konoha. Secerah pagi di musim kemarau daerah tropis atau di musim panas daerah lain. Seperti biasa, hiruk-pikuk jalanan dipenuhi berbagai warna. Angkutan umum berebut penumpang, mengejar setoran. Sepeda motor bekejar-kejaran memenuhi jalanan. Pejalan kaki berkecepantan berbeda menuju tujuan masing-masing. Banyak diantara mereka berpakaian seragam sekolah. Putih merah, putih biru, dan beberapa ada yang putih abu-abu.

Diantara mereka ada seorang gadis berseragam abu-abu yang tertutup jubah hitam dengan motif awan merah dengan garis putih di pinggirnya. Gadis berambut biru yang ditutupi semacam topi yang berbentuk mirip caping petani itu terlhat mencolok di tengah-tengah pejalan kaki. Hingga beberapa orang pun memperhatikannya dengan aneh dan serius.

Berjarak beberapa meter di belakang gadis itu, seseorang dengan pakaian yang sama mendekat. Gadis yang tidak lain adalah Konan itu berhenti saat orang yang mendekat tadi sampai di sampingnya. Ternyata orang itu adalah Tobi.

"Ohayo, Konan-senpai!" Sapa Tobi dengan senyum di balik topengnya.

"Kebetulan, ayo ikut aku!"

Sapaan Tobi dibalas perintah. Namun Tobi tak mengeluh. Malah Dia senang bisa bersama senpai yang dicintainya itu. "Siap!" Begitu katanya.

Mereka berputar-putar di daerah Konoha. Mencari kertas berbagai jenis dan warna untuk bahan origami Konan. Hingga akhirnya mereka selesai dan kembali menuju sekolah.

"Senpai? Tobi boleh bertanya?" Tobi mulai percakapan di tengah perjalanan.

"Apa?"

"Mau ga, jadi pacar Tobi?"

Konan terdiam sesaat. Beberapa saat. Lama. Kemudian menjawab "Gak" sontak jawaban itu membuat tobi kaget dan shock hingga tiga rim kertas lipat itu jatuh di trotoar. Konan hanya melihatnya tanpa rasa bersalah. Membantu Tobi mengambil kertas pun tidak.

"Tapi, aku cinta banget sama senpai" Lanjut Tobi setelah merapikan 3 rim kertas yang jatuh.

"Aku tau, Deidara pernah bilang."

"Lalu kenapa?"

"Aku sudah dengan Pain. Dan kami saling mencintai." Jawaban konan yang di lontarkan dengan ringan itu berhasil dengan sukses menghancur leburkan hati Tobi. Setelah itu mereka hanya diam hingga sampai di sekolahan.

Naas, sesampainya di sekolah mereka terlambat, dan kini harus mendekam di ruang konseling.

"Konan! Kamu sudah sering kali terlambat, hari ni hukuman untuk kamu adalah pulang!" Kata Asuma, sang guru konseling.

"Pulang?" Tanya konan khawatir.

"Maaf Sensei, tapi dia terlambat gara-gara saya mengajaknya membeli sesuatu. Jadi ini salah saya." Tobi berbohong untuk membela Konan.

"Jadi begitu, baiklah begini saja, Konan, kamu tidak jadi pulang, kamu yang pulang Tobi."

Akhirnya mereka berdua keluar dari ruang konseling itu. Tobi menuju rumahnya dan Konan menuju kelas. Tapi sebelum berpisah Tobi mengucapkan sesuatu dengan topeng terbuka penuh.

"Aku akan selalu mencintaimu senpai, sampai ku mati. Aku berjanji, sampai kapanpun aku takkan mencintai orang lain selain dirimu. Itu janji seumur hidupku!" Katanya dengan penuh senyuman.

Sementara itu konan hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kemudian melenggang pergi.

Begitulah setiap harinya. Tobi selalu melakukan sesuatu untuk konan. Dengan harapan suatu hari dia bisa bersama dengan yang dicintainya. Dia berkorban semuanya untuk bisa bersama Konan. Namun semua pengorbanannya sia-sia. Pengorbanannya tak pernah dihargai oleh Konan. Jangankan dibalas, ucapan terimakasihpun tidak.

Enam bulan berlalu semenjak mereka, Tobi dan Konan bertemu. Sudah enam bulan pula Tobi berusaha mendapatkan cinta dari senpainya itu dengan berbagai cara, sms, telepon, chating, ngobrol langsung, jalan-jalan bareng dan lain-lain. Belum lagi pengorbanan jiwa raga yang dilakukan Tobi untuk membuat senpainya senang. Namun tetap saja sia-sia.

Sedikit cerita pengorbanan Tobi sebagai penutup chapter 3

Ulangan Umum Semester Gasal

Ruang itu penuh berisi 40 orang dan dua pengawas. 40 orang tersebut terdiri dari siswa kelas sepuluh dan kelas dua belas. Di salah satu bangku di ruang itu, duduk Tobi, dan di sebelahnya konan. Entah kenapa mereka bisa satu ruang, bahkan satu meja. Authorlah yang tahu.

Lalu tanpa aba-aba, tanpa komando dan perintah, salah satu hp di ruang itu berbunyi. Ringtone khas para akatsukiers. Dalam sekejap mata, seluruh ruangan menoleh pada Konan. Tes kali ini sangat ketat, bila ketahuan menggunakan hp, hp akan disita dan tidak akan dikembalikan. Dan dilarang mengikuti tes untuk hari itu. Hal itulah yang membuat konan jadi amat sangat khawatir.

"Hp siapa tadi!" Teriak pengawas laksana guntur di tengah gurun.

Konan takut. Sangat akut. Dia hampir mengangkat tangan saat di dahului Tobi.

"Kau Tobi! Bawa kemari hp serta pekerjaanmu!"

Tobi mematuhinya, sesampai di meja pengawas, Tobi menyerahkan hp dan lembar jawab. Oleh pengawas itu, lembar jawab tobi dirobek menjadi dua, empat, delapan. Kemudian dilempar ke tempat sampah. Konan yang melihat hal itu hanya ternganga, menatap tobi keluar dengan tertunduk.

To be continued