Flashback.
Dua hari setelah Wooyoung mendapatkan Love Note.
Wooyoung kembali memasuki kamarnya dengan sekotak es krim favoritenya yang ia ambil dari kulkas dapur. "Omo!" dan ia hampir menjatuhkan es krimnya saking terkejutnya dengan sosok namja yang tahu-tahu sudah barbaring di atas ranjangnya.
"Annyeong~" sapa namja baby face itu, berbaring menyamping menghadap Wooyoung dengan kepala disanggah oleh satu tangannya, dan tangan yang lain melambai pada Wooyoung dengan senyuman lebar tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Wooyoung mendengus kesal. Ia melirik jendela kamar yang sudah terbuka lebar sambil bergumam, "Lain kali aku harus mengunci rapat jendelaku sendiri."
Mata Nichkhun tampak berbinar mengamati gerakan Wooyoung yang mendekati meja belajarnya, menaruh sekotak es krim di samping laptopnya yang terbuka, dan kembali melanjutkan kegiatannya pada blog Ultra Lover yang baru saja kemarin ia buka.
Merasa sengaja diabaikan, Nichkhun pun mencari kegiatan lain. Ia melompat turun dari atas ranjang dengan gaya salto yang menurut Wooyoung terlalu berlebihan. Yeah, selain berkutak dengan laptopnya, sebenarnya diam-diam arah pandang mata Wooyoung memperhatikan gerak-gerik Nichkhun di sampingnya. Bagaimana pun juga, Nichkhun masihlah orang baru yang ia kenal dan sedikit patut diwaspadai.
Nichkhun mendekati rak buku Wooyoung yang sebagian dipenuhi dengan berbagai komik koleksinya. Ia mengamati semua judul yang tertulis dan mengambil salah satu darinya. "Semuanya tentang komendi romantic," ia menoleh pada Wooyoung. "Apa kau tidak punya cerita yang lebih menantang? Seperti perkelahian, pembunuhan, atau tema horror yang menakutkan?"
Wooyoung menggeleng tanpa menoleh pada Nichkhun, "Aku hanya membaca buku untuk hiburan atau menambah pengetahuan. Bukan malah menambah tekanan dan emosi yang meluap dengan membaca cerita yang menyedihkan."
"Oh... jadi kau hanya menyukai yang happy ending?" Nichkhun mendesah. "Tapi nyatanya, kehidupan di dunia ini tidak selamanya berakhir dengan bahagia," gumamnya kemudian.
Tangan Wooyoung yang menggerakkan mouse, seketika berhenti. Ia menoleh pada Nichkhun, dan mereka berdua saling memandang dalam diam. Sorot mata Nichkhun yang tampak datar dan sedikit hampa, entah mengapa membuat Wooyoung memunculkan rasa penasaran.
"Meski begitu..." Wooyoung memulai berkata tanpa melepas pandangannya pada Nichkhun, seolah berusaha meyakinkannya. "Tidak ada salahnya kalau kita berusaha menjalankan kehidupan ini dengan bahagia kan? Dengan kisah yang happy ending."
Nichkhun langsung tersenyum. "Kau sangat polos yah? Sampai-sampai memandang kehidupan di dunia ini dengan cara yang begitu mudah?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, pikiranmu juga masih kekanakan."
"Yach! Beraninya kau–Aissh!" Wooyoung mendesah kesal dan kembali berbalik menghadap laptopnya. 'Seharusnya aku tidak usah mempedulikannya,' pikirnya.
Seketika itu senyuman Nichkhun berubah miris tanpa sepengetahuan Wooyoung. "Tapi apa kau tahu Jang Wooyoung?"
Wooyoung tak membalas.
Nichkhun menutup komik di tangannya, berbalik ke rak buku dan mengembalikan komik tersebut. "Tidak semua cerita cinta itu membahagiakan," bisiknya lirih tapi masih bisa terdengar oleh Wooyoung.
Hawa angin yang tak mengenakkan berhembus menyapu punggung Wooyoung dan tanpa sadar tengkuknya merinding. "Yach! Tak bisa kah kau menutup jendela itu?"
Tak ada jawaban.
Wooyoung berbalik dan mendapati sosok Nichkhun tak ada di kamarnya. Ia mendengus kesal. "Dia pikir dirinya siapa? Datang dan pergi begitu saja!" umpatnya kesal.
Ultra Lover
By Jang Aya
Fantasy/Romance
Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!
Warning: BoyxBoy. NamjaxNamja. Don't like, so i hope you dont read this. Oke?
Pairing: Nichkhun x Wooyoung
Chansung x Junho
Taecyeon x Junsu.
2PM pairing!
Summary: Ketika semua orang terdekatnya seolah menyalahkan dirinya, membuat Wooyoung semakin terpuruk. "Karena diriku… semuanya gara-gara aku." dan dia mendadak datang bagaikan guardian angel untuk Wooyoung.
.
~KhunYoung~
.
"Akh!" Taecyeon meringis ketika kapas berlumuran antiseptic di tangan Junsu menyapu luka di sudut bibirnya. "Pelan-pelanlah sedikit."
Bukannya memelankan tangannya, Junsu malah melotot garang sambil menekan kapas tersembut.
Otomatis Taecyeon memundurkan kepalanya dan meringis sakit "Yach!" serunya protes.
"Waeyo? Waeyo-waeyo-WAEYO?" Junsu malah membentak Taecyeon dengan garanganya.
Nyali Taecyeon seketika itu juga menciut. "M-mwo? Kau kenapa Junsunnie?"
Junsu mendengus miris. "Aku kenapa? Kau yang kenapa?" balik tanya Junsu. "Apa kau sudah gila? Adu jotos seperti preman saja dengan Seunggi hanya karena Yoona? Hah. Sulit dipercaya."
"Seunggi yang memulai duluan. Saat itu aku baru datang ke sekolah dengan menggonceng Yoona di sepeda motorku. Setelah aku turun dan membuka helmku, dia mendadak datang dan tau-tau meninju pipiku." Taecyeon menunjuk luka di sudut bibirnya. "Aku tak terima begitu saja, makanya langsung aku balas."
"Tentu saja Seunggi marah padamu. Kau mengencani tunangannya."
"Aku kira mereka sudah putus. Yoona sendiri yang bilang begitu padaku," bisik Taecyeon lirih.
Junsu mendesah. "Terus di mana pacar tersayangmu itu, hah? Kenapa kau malah menyuruhku datang ke uks untuk merawat lukamu ini?"
"Dia pergi sebentar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Seunggi." Taecyeon langsung tersenyum pada Junsu. "Jadi kupikir, sahabat terbaikku ini tak akan keberatan untuk merawatku sebentar. Iya kan?"
Junsu tersenyum miris. 'Bahkan setelah ia menyakitiku untuk kesekian kalinya. Aku tak pernah menolak untuk terus berada di sisinya,' pikirnya miris. Dan ia kembali merawat luka Taecyeon.
"Err.. ngomong-ngomong Junsunnie," bisik Taecyeon sambil melirik namja chabi yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka. "Sampai kapan kau akan terus mendiamkan Wooyoung?"
Posisi Taecyeon yang duduk berhadapan dengan Junsu di atas ranjang yang berada dalam ruangan uks tersebut, dan Wooyoung yang berdiri di belakang Junsu, di sisi ujung ranjang tersebut, membuat Taecyeon bisa melihat Wooyoung sementara Junsu tidak karena duduk membelakanginya.
"Yach, Junsunnie, kenapa kau tidak menjawabku?" protes Taecyeon. "Apa kau sedang marah dengannya?"
Junsu tetap bungkam dengan tangannya yang terus menyapu luka Taecyeon.
Merasa kasihan dengan raut wajah Wooyoung yang terus memelas dan menundukkan wajahnya. Taecyeon menyuruhnya pergi. "Yach, Wooyoung. Sebaiknya kau kembalilah ke kelas. Kau tidak boleh membolos jam petama pelajaran," saran Taecyeon.
Bahu Wooyoung langsung menegak. Ia baru saja tersadar dari lamunanya, entah lamunan apa itu. Pandangannya langsung menatap penuh penyesalan pada punggung Junsu yang menghadapnya. "Junsu-hyung..." panggilnya dengan suara yang agak bergetar, namun sekali lagi tak ada jawaban dari Junsu.
Wooyoung menggigit bibirnya, berusaha menahan tangisnya. Ia segera membungkuk penuh penyesalan. "Mianhe hyung. Jeongmal mianhe." dan Wooyoung langsung berlari meninggalkan uks karena ia sama sekali tak mendapatkan jawaban dari Junsu. Hyung kesayangannya itu malah terus mengabaikannya.
"Junsunnie," panggil Taecyeon pelan. "Gwencana?" tanyanya khawatir melihat mata Junsu yang tampak berair. Tak tahukan Taecyeon, kalau pertengkaran Junsu dan Wooyoung karena dirinya.
Junsu menutup matanya, mengakibatkan air matanya itu malah mengalir di pipi kirinya. "Hm," jawabnya tak meyakinkan.
Taecyeon menghapus air matanya pelan, menyapu pipi Junsu dengan gerakan yang begitu lembut dan menenangkan bagi Junsu. "Meski aku tidak tahu masalahnya. Tapi aku yakin kau pasti kuat menghadapinya. Itulah sosok Kim Junsu yang ku kenal. Namja yang sangat tegar. Dan kau juga tak boleh melupakan satu hal yang penting."
Junsu membuka matanya, ia bisa melihat Taecyeon tersenyum lembut padanya. "Apa itu?" tanyanya serak.
"Kau punya aku. Sahabatmu yang selalu berada di sisimu, arraso?" ujar Taecyeon dengan nada bangga.
Hati Junsu bergetar, seluruh emosi yang ia punya seolah teraduk menjadi satu. Membuat ia sesak, merasa bahagia selagus sedih dalam waktu yang sama. Dadanya sesak dan matanya terasa memanas. Bagaimana bisa, orang yang tak sadar menyakitinya malah mencoba untuk menghiburnya dari sakit tersebut? Ironis.
"K-kau bilang... aku punya dirimu?" tanya Junsu masih dengan suara serak, menahan tangis.
"Hm," Taecyeon mengangguk semangat.
"Sahabat yah?"
Taecyeon tak menyadari adanya nada lirih yang menyedihkan dari suara Junsu. Ia tetap mengangguk semangat.
Seketika itu Junsu terisak, ia menghapus air matanya, "Mengapa aku begitu cengeng," bisiknya.
"Memerlukan sandaran?" tawar Taecyeon sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar di hadapan Junsu.
Junsu tersenyum, perlahan ia mendekat, melingkarkan tangannya di perut Taecyeon dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Taecyeon. Dan ia kembali terisak. 'Begini saja juga tak apa. Tak apa,' gumamnya dalam hati, untuk menenangkan dirinya sendiri. 'Meski aku menginginkan lebih, tapi begini saja, aku harus merasa cukup.' Pikirnya lagi.
Taecyeon membalas pelukannya, mengusap punggung Junsu, mencoba menenangkan tangisan sahabatnya. Ia tersenyum, tak sadar kalau ia menikmati aroma Junsu yang menyeruak dalam hidungnya. Namja itu juga tak sadar, dengan perasaannya yang juga menyenangkan, ketika ia merangkul Junsu dalam dekapannya. Dan Taecyeon hanya tersenyum sambil menutup matanya.
.
~TaecSu~
.
Sudah dua hari berlalu sejak Junsu tak mau lagi bicara dengan Wooyoung. Ini membuat namja itu semakin sedih karena dijauhi oleh hyung tersayangnya. Padahal ia sudah menganggap Junsu sebagai kakak kandungnya sendiri yang selalu bersedia jadi penampung segala masalahnya. Lalu kemana ia harus pergi jika hyungnya sendiri terluka gara-gara ia yang begitu naif menggunakan Love Note. Dan selama ini pula, ia juga tidak pernah melihat sosok Nichkhun semenjak pertengkaran (atau lebih tepatnya Wooyoung yang marah) di cafe Bonamana tempo lalu. Apa benar Nichkhun, namja baby face itu menuruti keinginannya untuk tidak lagi muncul di hadapannya?
Untuk pertama kalinya Wooyoung merasa kalau dia merindukan sosok Nichkhun yang kadang mengganggunya.
Namja itu berjalan lesu di sepanjang koridor sekolah sambil menunduk. Ketika ia menengadah, tidak sengaja matanya bertemu dengan Junho yang berjalan berlawanan arah di depannya. Mata mereka bertemu pandang. Wooyoung langsung tersenyum sumringah mendapati sobatnya, tapi Junho malah menampakkan wajah tegang yang panik. Namja sipit itu berbalik, membelakangi Wooyoung dan berjalan menjauh menghindari Wooyoung.
Wooyoung menyerngit bingung. "Yach! Junho-yah!" serunya. Tapi Junho seolah tak mendengar dan terus berjalan jauh. Wooyoung terpaksa berlari untuk mengejarnya. "Yach! "Kau mau kemana?" Tanya Wooyoung setelah ia mencapai bahu Junho dan menghentikan langkahnya.
"A-aku mau ke perpustakaan."
Alis Wooyoung mengerut. "Perpustakaan kan di sebelah sana." Wooyoung menunjuk arah jalan yang berlawanan dengan Junho tuju.
"Ah, ah," Junho terlihat gelagapan. "Maksudku, aku mau ke toilet dulu, setelah itu baru ke perpustakaan."
Wooyoung makin curiga. Untuk apa pergi ke toilet di sisi gedung lain, kalau kau juga bisa menemukan toilet di samping perpustakaan?
Wooyoung mendesah. "Kalau kau mau pergi berkencan berdua dengan Chansung. Katakan saja. Tak perlu menghindariku," kata Wooyoung menggoda.
Tapi bukannya wajah yang tertangkap basah dan terlihat malu, Junho malah menampakkan wajah cemberut dan sangat sedih sambil menunduk.
"Junho-yah, gwencana?" tanya Wooyoung khawatir.
Junho menggeleng. "Aniya. Aku sedang bertengkar dengan Chansung." Junho mendesah. "Lebih tepatnya aku yang menghindarinya sih."
"Waeyo?" tanya Wooyoung makin bingung.
.
~ChanHo~
.
Kedua namja dengan postur tubuh yang nyaris sama, tinggi badan yang sama, memiliki hobi sama dengan dance, dan mata sipit yang nyaris sama, sehingga selalu disebut-sebut 'kembar' meski sebenarnya tidak. Duduk berdua di bangku taman sekolah.
Niat awalnya, seharusnya Wooyoung yang berbagi cerita tentang masalahnya. Tapi melihat keadaan sekarang, lebih pantas untuk Junho bercerita terlebih dahulu mengenai masalahnya. Wooyoung memilih untuk mengalah.
"Ada apa?" tanya Wooyoung pada Junho yang sejak tadi menunduk dalam diam. "Kau ada masalah apa dengan Chansung? Kupikir Chansung sudah sangat-sangat menyukaimu, iya kan?" Wooyoung merasa ia sangat benar, karena ia sendiri yang menulis tentang hal itu di Love Note. Junho sendiri juga tahu hal itu.
Tapi Junho malah menggeleng. "Justru itu yang membuat aku ragu."
"Ragu?"
"Iya, aku ragu dengan perasaan Chansung yang sebenarnya." Junho menoleh menatap Wooyoung. "Karena aku tahu, dia menjadi namjachinguku itu akibat tulisanmu di Love note. Bukan karena ia tulus mencintaiku."
Junho meletakkan kepalan tangannya di dadanya. "Rasanya selalu sesak, setiap kali aku memikirkan hal itu. Semua perlakuan baik yang kuterima darinya, setiap tatapannya yang seolah sangat mencintaiku, senyuman lembutnya, atau bahkan pelukan hangatnya. Itu terasa palsu begitu aku sadar dia melakukan hal ini karena pengaruh magic buku itu."
"Junho-yah, itu tidak benar," Wooyoung mencoba untuk menghibur.
"Kalau begitu di mana letak benarnya, Wooyoung-ah!" seru Junho, suaranya terdengar frustasi. "Seandainya aku tidak tahu kebenarannya. Andai saja aku tidak tahu apa-apa. Kebenaran bahwa dia tidak pernah mencintaiku dengan tulus sedikit pun" Junho tersenyum miris. "Mungkin aku sangat bahagia sekarang."
Wooyoung menepuk bahu Junho pelan. "Kau tidak boleh berpikir seperti itu. Barangkali dia sebenarnya mencintaimu sebelum aku menulisnya di Love note, mungkin saja ia tidak menyadari sebelumnya," suara Wooyoung berusaha untuk terdengar meyakinkan.
Tapi Junho menepis tangannya. "Tidak Wooyoung-ah, tidak," ia menggeleng lemah. "Chansung tidak pernah benar-benar mencintaiku."
"Bagaimana bisa kau seyakin itu? Memangnya Chansung pernah mengatakan hal itu padamu? Tidak kan?" tanya Wooyoung.
"Pernah."
Dan Wooyoung membeku begitu mendengar jawaban lirih dari Junho.
"P-pernah? Kapan? Apa kau pernah ditolaknya? Kupikir kau tidak pernah menyatakan cintamu sebelumnya."
"Tidak secara langsung Wooyoung-ah. Tapi pengakuannya saat itu sudah memukul diriku telak, hingga aku melangkah mundur. Makanya aku tidak pernah menyatakan cintaku padanya. Sampai kau menemukan Love note itu."
"Bagaimana bisa? Ceritakan padaku," pinta Wooyoung.
"Kau yakin ingin mendengarnya?" tanya Junho langsung sambil menatap mata Wooyoung dengan tampang serius.
Wooyoung mengangguk dengan ragu. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa firasat buruk.
"Satu bulan yang lalu, Chansung mengaku padaku. Dia bilang..." air menggenang di atas kantung mata Junho. "Kalau dia mencintaimu, Wooyoung-ah. Bukan aku!" ia menggeleng lemah dengan air matanya yang terjatuh.
"B-bohong!" Wooyoung ikut menggeleng dengan tampang keterkejutannya. "Itu tidak mungkin. Kau pasti bohong."
"UNTUK APA AKU BERBOHONG PADAMU!" seru Junho seraya berdiri. "Kau pikir, selama ini untuk apa Chansung mendekati kita? Untuk apa namja ketua taekwondo itu mendadak ingin bersahabat dengan kita, yang hanyalah anggota baru di klub dancenya Jaeboem hyung? Untuk apa dia rela membagi bekal makan kesayanganya pada kita? Kau pikir untuk apa dia melakukan itu semua, HAH?" mata sipit Junho membesar seolah ingin keluar dari kelopaknya.
"Itu semua semata-mata hanya karena ingin mendekatimu! Kamu Wooyoung-ah, orang yang dia inginkan! Bukan AKU!" Junho memukul dadanya sendiri dengan keras. "Bukan aku di hatinya... hiks... bukan aku..." ia terisak kecil dengan emosi yang meluap di dadanya. Rasanya sangat sakit. Begitu sakitnya hingga ia ingin sekali menghancurkan dadanya sendiri dengan cara memukulnya. Memukul terus dadanya sendiri dengan kepalan tangannya sambil terisak kecil.
Wooyoung masih membeku di tempat duduk itu. Ia masih terlalu syok untuk menerima semua kebenaran yang mendadak begini. Ia bahkan tidak mampu berpikir, apa yang harus dia lakukan di saat-saat seperti ini.
"Hentikan itu," suara berat namja lain terdengar. Mereka berdua sontak menoleh dan mendapati Chansung berdiri tak jauh dari mereka. Tatapan mata besarnya Chansung lurus memandang Junho. Entah apa arti dari tatapan itu, Junho tak tahu.
"Junho-yah...:" panggilnya pelan kemudian.
Tapi Junho menggeleng dalam diam dengan mata sembab. Ia mundur selangkah, dan kemudian berbalik untuk lari secepat mungkin dari tempat itu.
"JUNHOOO!" seru Chansung, dan ia juga ikut berlari mengejar Junho. Melewati Wooyoung begitu saja. Meninggalkan Wooyoung yang masih duduk di bangku taman sekolah itu sendirian. Dia... sendirian.
Bunyi bel sekolah pertanda berakhirnya jam istirahat, sedikit menyentakkan Wooyoung dalam lamunan kosongnya. Perlahan ia berdiri, dengan pandangan kosong. Namun baru selangkah otot kakinya terasa lentur, lemas, dan ia terjatuh duduk, di atas rerumputan taman tersebut.
"O...ottoke..." bisiknya lirih. Pandangan matanya yang bingung itu, mulai buram dengan munculnya anak air mata. "O-ottoke..." gumamnya lagi dengan suara serak.
"Ah, hyung..." pikirannya langsung tertuju pada Junsu. Tapi kemudian niatnya untuk mendatangi hyung-nya itu langsung terhempas begitu saja ketika ia kembali mengingat kemarahan Junsu padanya. "Ani..." ia menggeleng. "Aku tidak bisa menemuinya..."
Wooyoung menekuk kedua kakinya di depan dadanya dan memeluknya, meringkuk dalam diam. Rasa penyesalan yang sangat muncul dalam benaknya. Gara-gara dia. Iya, semua karena dirinya. Orang-orang yang ia sayang tersakiti. Mereka yang ia sayangi pergi, meninggalkannya sendirian. Pikirannya terus menyalahkan dirinya sendiri. Dan ia merasa dirinya sangat menyedihkan, karena ia hanya sendirian di sini.
Tak bisakah ada seseorang saja yang menemaninya di sini? Hanya temani saja dia. Dan wajah Nichkhun langsung muncul dalam benak Wooyoung. Namja baby face yang beberapa hari lalu sering mengikutinya dan mengganggunya, tapi bukannya namja itu sekarang juga tak pernah muncul lagi sejak kemarahan Wooyoung di cafe Bonamana.
Rasa sesak di dadanya itu makin membesar, dan membuat Wooyoung terisak, menangis sambil membenamkan wajahnya dalam lekukan kedua lututnya. "Khun..." tanpa sadar ia membisikkan nama itu, berharap kalau namja aneh itu bisa datang menemaninya. Entah kenapa, ia merasa hanya namja itu harapan satu-satunya untuk berbagi saat ini.
"... Khun..."
Hanya sepoian angin lembut yang membalas bisikannya. Pikirannya langsung kembali pada waktu terakhir kalinya ia bertemu dengan Nichkhun di cafe Bonamana. Suara Nichkhun yang berat menginstrupsi perkataannya saat itu, kembali tergiang dalam bayanganya. 'Panggil aku hyung,' potongnya saat itu.
Wooyoung tersenyum kecil, tapi kemudian ia kembali terisak. "Hyung... khun hyung..." bisiknya lagi di sela isakan. "Hiks... h..hyung...khun hyung..."
Dan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, meringkuhnya dalam dekapan. Memberikan kehangatan yang menenangkan. "Ndeh, Uyongie..." bahkan suara beratnya terdengar begitu mendamaikan hatinya. "... aku di sini."
Tangis Wooyoung malah semakin pecah dalam dekapan itu. Nichkhun, dalam posisi duduk terlentag di belakang Wooyoung –yang sedang meringkuk– meluruskan kakinya di kedua sisi tubuh Wooyoung, seraya memeluk namja chabi itu dari belakang.
Nichkhun meletakkan dagunya di atas bahu kiri Wooyoung yang terus bergetar karena tangisnya. Wajah Wooyoung yang menunduk dalam ringkukannya, membuat Nichkhun hanya bisa melihat sisi wajah Wooyoung dari samping. Ia kemudian meniup-niup lembut pipi chabi Wooyoung yang basah. Bermaksud agar Wooyoung segera berhenti menangis.
Getaran dalam hati Wooyoung berubah menjadi lebih menyenangkan. Rasa sesak dalam dadanya seolah menyeruak keluar, menghilang di luar sana dengan tiupan angin lembut yang menghapusnya. Ia merasa lebih tenang dan tangisannya perlahan berhenti.
Merasa Wooyoung sudah berhenti menangis, Nichkhun pun menghentikan tiupannya, dan ia tersenyum manis tanpa sepengetahuan Wooyoung.
"Kau benar, Khun hyung..." bisik Wooyoung kemudian tanpa mengangkat wajahnya dalam dekapannya.
"Hm?" gumam Nichkhun tak mengerti.
"Kau benar," bisik Wooyoung lagi. "Tidak semua kisah cinta itu membahagiakan," ucapnya mempraktekkan kalimat Nichkhun beberapa tempo hari yang lalu.
"Kisahmu?"
"Ani, tapi ini kisah orang-orang terdekatku. Dan ini semuanya gara-gara aku. Cinta Junsu hyung semakin jauh tercapai gara-gara perbuatan naifku pada Love note. Juga kisah cinta Junho yang merasa tertipu oleh perasaan Chansung karena kehadiranku dan Love note ini. Semuanya karena aku, mereka jadi tersakiti... gara-gara aku..."
"Sssh... berhentiah menyalahkan diri sendiri," Nichkhun mengusap dengan lembut lengan Wooyoung. "Terus-terusan menyesal dan menangis tanpa melakukan apapun, tidak akan menyelesaikan masalah."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Wooyoung dengan nada frustasi, masih dengan wajah menunduk.
"Pertama-tama, tenangkan hati dan pikiranmu dulu. Agar kau bisa lebih jernih memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan kau ambil," saran Nichkhun bijaksana.
Wooyoung menghela nafas dalam, mencoba menenangkan hatinya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, tapi sorot matanya terlihat bingung. Nichkhun yang masih memeluknya dari belakang dan melihatnya dari samping itu bisa melihat raut wajahnya.
"Jangan ragu dan kau tak perlu bingung," bisik Nichkhun. "Aku masih di sini, siap untuk menemanimu, Uyongie."
"Jijjayo?" kata Wooyoung sambil menolehkan kepalanya secara mendadak. Dan tanpa sengaja sedikit menyenggol ujung hidung mancung Nichkhun yang tadi berbisik padanya. Ia membeku. Menyadari posisi mereka begitu dekat.
Apalagi ketika Nichkhun tersenyum begitu lembut padanya. Membuat wajah baby face itu tampak lebih bersinar dan sangat tampan dalam jarak sedekat ini. Tapi kemudian senyuman Nichkhun perlahan menghilang, terpaku pada sinar mata Wooyoung yang memandangnya dengan berbinar. Begitu menarik bagi Nichkhun, dan tanpa sengaja pandangan mata Nichkhun jatuh pada bibir Wooyoung. Bibir yummy yang terlihat begitu lembut dengan warna merah muda yang merekah.
Sesuatu dalam diri Nichkhun mendorongnya untuk lebih dekat, dan Nichkhun menurutinya. Sedikit memiringkan kepalanya kekanan, dan meraih bibir yummy itu dengan bibirnya sendiri. Mengecupnya, menciumnya, dan menekannya lembut.
Pikiran Wooyoung seolah melayang. Nafasnya terasa sesak tapi begitu menyenangkan dan meluap-luap. Tanpa sadar ia ikut menutup matanya, meresapinya. Saking lembut dan menenangkannya ciuman itu. Wooyoung melupakan kenyataan, kalau sekarang yang telah merebut ciuman pertamanya adalah seorang namja, yang bahkan tak begitu ia kenal identitasnya.
Ia terlalu larut. Bahkan ia merasa dirinya seolah dibawa terbang ke atas langit dengan ciuman Nichkhun yang mendadak berubah jadi lumatan lembut pada bibir yummy-nya.
"Mmmhngh..." tanpa sadar Wooyoung mendesah menikmati.
Tapi suara itu justru memukul alaram bahaya dalam gendang telinga Nichkhun, menyentakkannya langsung dalam alam sadar. Mata Nichkhun terbuka lebar secara mendadak, dan ia langsung melepaskan ciuman itu, memundurkan kepalanya dengan cepat.
Gerakan Nichkhun secara tiba-tiba itu membuat Wooyoung ikut tersentak dan membuka matanya. Ia pun ikut terkejut begitu melihat mata Nichkhun yang membulat kaget melihatnya.
Sadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Wooyoung mendorong tubuh Nichkhun menjauh, dan ia merangkak mundur sambil memegang bibirnya yang basah, bekas ciuman tadi.
"Tidak..." lirih Nichkhun sambil menggeleng. "Ini tidak benar..."
Ini pertama kalinya Wooyoung melihat raut wajah yang sangat terkejut dan tertekan pada wajah Nichkhun. Entah kenapa dalam lubuk hatinya ia merasa sedikit tersakiti.
"Yah. Aku setuju..." balas Wooyoung sama lirihnya. "Ciuman ini... sangat salah..."
Karena untuk saat ini Wooyoung begitu yakin dirinya masih straight. Itulah alasannya ia masih memilki IU.
.
.
.
_To_be_continue_
Tiap pairing Aya buatkan konfliknya, biar lebih kerasa.. :)
Pengennya, mungkin fic ini habis di chap 5 atau gak di chap 6 aja yah...
Balasan review dari chingu...^^
minIRZANTI: Ah ya, Aya baru sadar klo ChanHo bisa juga dg Changmin Yunho :p . Kagak lama kok, paling tidak, klo bukan chap 5, di chap 6 udah tamat...^^
Ghamsahamida...^^
Kira itu Jung Dabin Naepoppo: Sipp…. Lam kenal juga… :)
Balloon: kurang nendang kayak gimana lagi? ? ? ni, udah dikasi scene kiss-nya, meski akhirnya masih ragu dan blum happy ending.. :p
khunyoung shipper: Oh, senangnya aku dinantikan *merona*
yg ini masih kurang panjang blum? O,o klo yg fic akhir Junsu skandal ditunggu aja yah,, sabar neng.. :p
Gamsahamida ya chingu^^
Momoelfsparkyu: Konfliknya memang baru terlihat di sini semua…. Sebuah cerita dan masing-masing pasangan gak bakal seru kalo gak ada konfliknya, ya gak.. :p
AmiWo: Oke…. Gamsahamida^^
Lee Jae En: Waah… gamsahamida^^ seneng rasanya penggemar Khunyoung bertambah.. :D
OkkhuN: Sipp…. Gamsahamida^^
Junnie: iya ya, gamsahamida^^
Nn: Oh iya dunk…. Asli buatan Aya… *membusungkan dada dengan bangganya* Wah, klo Nichkhun disamakan dg Ryuk jadi jauh amat… bagaikan atas langit dengan bawa neraka *plaak#digantung Ryuk.
Gamsahamida^^
Sekali lagi terima kasih banyak semuanya chingu...
Sebenarnya, diam-diam Aya menargetkan jumlah review sebelumnya sebagai patokan buat Aya, apa perlu dilanjutin atau tidak nih fic. Yang chapter kemarin, Aya berharap paling tidak ada pe-review 15 lah, baru Aya lanjutin... eh, ternyata nyampe juga, makanya Aya langsung up date nih... :D
Review lagi yah,,, paling tidak buat Aya senang baca tiap review dari kalian, apalagi tangan Aya sempat pegal gara-gara ngebalap saat ngetik nih fic, O,o
