.
Pagi pagi Daniel udah lari-lari sambil gendong Woojin, anaknya dan istri. Kebetulan hari ini sekolah Woojin ada acara open house dan Nayoung - nunanya Daniel - buka stan makanan, dan istrinya bantu-bantu disana dari pagi pagi banget tadi. Alhasil, Daniellah yang kebagian tugas nganterin Woojin setelah sebelumnya harus bangunin, mandiin, dan nyuapin dulu.
"Jin, Jin, diem, Jin, jatoh ntar."
Daniel nganter Woojin pake motor, Woojinnya di depan, tapi tu anak nggak bisa diem, bahaya kan.
"Haduh, anakmu, beb, nggak bisa diem kek emaknya," keluh Daniel begitu bertemu dengan istrinya.
"Nah, baru juga sehari, aku tiap hari tuh ngadepin dia."
"Iyadah, iya." Daniel ngalah, daripada ribut.
"Yaudah sana daftar ulang, ini kwitansinya," perintah Ong sembari menyodorkan selembar kwitansi pembayaran pendaftaran lomba pada suaminya.
"Aku?"
"Iya dong."
Daniel sabar aja, dia gandeng Woojin ke meja tempat daftar ulang.
Ya, Woojin ikut lomba matematika kreatif dan mewarnai.
Lombanya masih setengah jam lagi tapi Woojin uda buru-buru mau mewarnai.
"Bentar, Jin, bentar, nanti kalo udah dikasi kertas bergambarnya ya," bisik Daniel yang jongkok di samping Woojin yang udah siap sedia dengan sekotak pensil warna dan meja lipatnya.
"Berapa tahun, Pak?"
Eh, Daniel dipanggil Pak sama mbak cantik berrambut sebahu di sampingnya.
"Berapa ya? Eum, enam hampir tujuh."
"Baru satu?"
"Satu aja pusing."
"Kalo dua lebih mudah, karna ada teman main."
Daniel diem dulu, mikir, kemudian menimbang-nimbang, apa iya Woojin dikasih adik aja ya biar ada teman main?
Hmmm...
