.

Rose benar-benar ingin menyihir siapa pun yang mengganggunya hari ini, semata-mata karena patroli semalam berjalan dengan rusuh. Ada terlalu banyak murid di luar tempat tidur meskipun jam besar sialan sudah berdentang dua belas kali. Lewat pukul setengah dua baru gadis malang itu bisa merayap ke ranjangnya sendiri di menara Gryffindor, dengan kantung mata dan kelelahan yang rasanya tidak sanggup dia tangani.

Dan hari ini, hari ini, adalah hari yang indah kalau saja Thomas Creevey tidak menumpahkan jus labu di atas Daily Prophet milik Rose saat sarapan. Benar-benar menyenangkan. Gadis itu harus menggulung lengan bajunya ke siku sementara Creevey menyembah-nyembah dan membersihkan lengannya yang terkena percikan jus dengan mantra pembersih. Rose bisa membersihkannya sendiri, tentu, tapi dia butuh membiarkan bocah bodoh itu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jadi dia diam saja sementara Creevey meminta maaf dengan segenap jiwa raga seolah dia tahu Rose bisa mengutuknya di tempat kapan pun.

Well, dia memang bisa.

Tapi Rose memutuskan bahwa mengutuk adik kelas di depan umum akan menimbulkan cukup kekacauan dan mungkin akan menjauhkan dirinya dari lencana emas Ketua Murid (yang mati-matian dia dambakan)— jadi, okelah. Gadis itu bisa menahan diri.

"Ini bukan hari baikmu sepertinya."

Tetapi waktu Teresa Bowler akhirnya menyeletuk dari samping Rose, dengan gigi sibuk mengunyah apel yang tinggal separuh, cewek Malfoy itu hanya bisa menghela napas.

"Jangan gitu. Ini jelas hari baikku, toh pesananku datang hari ini." Gadis Gryffindor itu memasang jubahnya di atas kemeja, menyimpulnya dengan rangkap. "Omong-omong aku bakal menuntut pihak penjual kalau ada kerusakan."

"Maksudmu jubah pesta itu?" Teresa mendengus, memutar mata. "Pesta natal masih sekitar, entahlah, sebulan? Dan kau sudah membeli ini itu seolah acaranya besok."

"Hei, kemarin ada diskonan."

"Ampun, Rose." Gryffindor yang satunya itu balas mengomel. "Kau ini satu-satunya putri klan Malfoy, klan terkaya di generasi kita."

"Klan terkaya?" Alis Rose terangkat. "Siapa bilang? Memangnya kau sudah mengecek—"

"Permasalahannya adalah kenapa putri keluarga darah murni terhormat sepertimu masih berburu diskon akhir pekan?"

Rose refleks merengut. "Aku memang putri klan Malfoy, tapi aku bukan darah murni, Teresa sayang."

"Apa itu masalah?" Lawan bicaranya mengangkat bahu. "Ayahmu tetap Draco Malfoy. Draco Malfoy yang itu."

"Yeah, dan jangan bicara seolah itu anugerah besar yang harus kusyukuri."

"Tapi kan kau tidak menyesalinya."

"Memang tidak," sahut Rose jengkel. "Aku tidak menyesal terlahir di keluarga Malfoy. Aku hanya.. sedikit menderita karena efek sampingnya."

"Efek samping?" tawa Teresa. "Seperti apa? Memiliki saudara tiri yang tampan luar biasa?"

Rose mendecih. "Kau tidak menyebutkan saudara tiri yang berandal, brengsek, dan sok kasanova. Padahal aku yakin itulah efek samping yang sebenarnya kuderita."

"Ayolah, jadi saudari Scorpius Malfoy tidak mungkin seburuk itu."

"Tidak mungkin seburuk itu, kau bilang?" Rose menggertak rahang. "Asal tahu saja, rasanya kelewat mengerikan."

Teresa kembali tertawa. "Well, kalau begitu bersiaplah. Kelas pertama pagi ini: Ramuan, dengan Slytherin."

"Fuck it."

"Sudah kubilang ini bukan hari baikmu," cewek berkacamata itu nyengir kuda melihat sahabatnya membenturkan kepala ke meja makan asrama.

.

GinevraPutri presents

Nexus

.

Harry Potter © J.K. Rowling

.

Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini. Beberapa karakter orisinal adalah milik saya.

.

ii

.

"Aku tidak percaya dia menolakku mentah-mentah!"

Gerutuan Matthews Urquhart meledakkan tawa pada deretan bangku paling pojok di kelas Ramuan— ruang bawah tanah yang bau apek dan berpenerangan remang-remang. Tiga pasang bangku itu terletak jauh di ujung ruangan, menempel di sebelah dinding batu, dekat lemari penyimpanan. Tiga pasang bangku yang selalu dihuni enam bocah Slytherin setiap kali angkatan kelas enam memasuki pelajaran Ramuan.

Dari yang paling depan di antara tiga pasang bangku belakang itu, posisi milik Edward Hopkirk dan Jonathan Flint— duo ular paling iseng dan kocak yang pernah ada di muka bumi. Kau bakalan menyesal sedetik setelah kau sadar kau berada dalam radius tiga meter dari mereka. Edward biasa disapa Ed, dan Jonathan kerap dipanggil Nath. Tentu nama akrab itu hanya untuk kalangan terbatas.

Berikutnya, di belakang mereka, ada Matthews Urquhart atau Matt, bersama Albus Potter atau Al. Yang ini pasti kau sudah tahu. Siapa pula yang tidak?

Putra tengah Harry Potter yang notabene pahlawan dunia sihir itu sudah jadi artis bahkan semenjak jempol kakinya baru menapaki Hogwarts Express di tahun pertama. Semua tolehan kepala dan gumam-gumam menyertai setiap langkahnya. Tidak ada yang berubah sekalipun Al sudah beranjak enam belas tahun. Justru penggemarnya makin gencar mencuri-curi kesempatan untuk meracuninya dengan Amortentia. Agak sadis, tapi jujur saja Al suka. Dikejar-kejar, dicintai banyak orang— kalau boleh bilang, Al menikmati semua itu. Hidup ini toh cuma sekali, sayang kalau disia-siakan.

Berbeda lagi dengan Matt, yang ayahnya pemain tersohor milik Chudley Cannons, ketenaran yang dia miliki jauh lebih fleksibel. Saat tim ayahnya menang, reputasinya jadi dua kali lipat lebih baik. Sapaan-sapaan di lorong jadi lebih banyak. Gadis-gadis di Three Broomstick jadi lebih mudah diajak bicara. Meski begitu pembawaan Matt santai-santai saja, dia bukan orang yang mengagung-agungkan reputasi.

Terakhir, di pojok kelas, tempat duduk Scorpius Malfoy dan Trixie Dèsirèe. Scorpius Malfoy? Tidak perlu dijelaskan. Putra bungsu klan Malfoy, keluarga darah murni yang amat dihormati di dunia sihir. Trixie Dèsirèe? Satu-satunya cewek yang punya kesempatan menjadi sahabat baiknya.

Trixie memiliki darah Prancis, dan kalau ditelusuri, bisa dibilang keluarganya masih merupakan keturunan Veela (walaupun Trixie selalu menolak saat ada yang bilang begitu). Dia adalah tipikal-tipikal putri bangsawan, dengan rambut pirang panjang sepunggung dan mata ungu penyihir yang memesona. Bahkan tanpa berkat dari keturunan Veela sekali pun, Trixie adalah salah satu gadis tercantik yang Hogwarts miliki pada masa itu.

Namun, mengesampingkan fisik malaikat yang dia punya, Trixie masuk Slytherin dan berusaha menunjukkan kalau jati dirinya memang seorang Slytherin. Dia mengecat rambutnya jadi merah menyala di kelas empat— yang sayangnya, malah membuat dirinya semakin menonjol. Kesan malaikat polos itu hilang, digantikan kesan dewi yang sepenuhnya elegan. Kalau tujuan Trixie adalah mengusir cowok-cowok idiot yang tergila-gila padanya, well, dia gagal total.

Omong-omong, Scorpius sudah berteman dengannya sejak kelas satu. Mereka sekompartemen di Hogwarts Express— kebetulan juga bersama Al. Scorpius dan Al mulai saling melempar hinaan sepanjang perjalanan dan tidak ada satu pun di antara mereka yang merasa perlu mengajak Trixie bicara, tapi toh gadis itu nyaman-nyaman saja. Baru kemudian setelah upacara seleksi murid baru di Aula Besar, mereka bertemu kembali di meja Slytherin, Scorpius memperkenalkan diri padanya.

"Scorpius. Malfoy."

Trixie mengerlingnya sedikit. "Malfoy? Seperti pernah dengar."

Scorpius menyeringai. "Dan kau?"

"Dèsirèe," tandasnya. "Trixie Dèsirèe. Kau mungkin tidak mengenalnya, tapi kami bisa dibilang salah satu klan terbesar di Prancis."

Anggukan kepala. "Aku tahu."

Trixie mengangkat alis. "Oh, ya?"

"Dari pembawaanmu." Scorpius mengangkat bahu. "Kentara sekali bangsawan."

Tatap keduanya bertemu. Trixie tertawa kecil. "Kurasa aku bakal akrab denganmu, Scorpius."

"Scorp saja."

Dan itulah awal persahabatan mereka yang panjang.

Tiga pasang bangku paling pojok di kelas Ramuan, dihuni enam bocah Slytherin, lima laki-laki dan satu perempuan. Tiga pasang bangku yang selalu ramai, selalu ricuh, dan selalu penuh gelak tawa. Tiga pasang bangku yang kadang membuat risih murid lain, membuat iri, atau mungkin juga membuat kagum.

"Taruhan dia bakal menerimamu kalau kau kasih cokelat punya Al yang waktu itu."

"Jangan gila," tawa Al geli, kepalannya meninju bahu Nath. "Cokelat itu mengandung 90% Amortentia. Bisa mati kalau benar-benar dia makan."

"Memang. Tapi aku benar-benar heran, orang bodoh mana sih yang memproduksi cokelat semacam itu?"

Ed mendengus. "100% yakin cewek-cewek itu sudah putus asa digantung Al. Tidak ada kepastian. Makanya mereka nekat memberinya cokelat mirip racun begitu."

"Tapi kan setidaknya mereka bisa nyerah," celetuk Nath. "Bukan malah membahayakan nyawa orang."

"Kau ini protes terus," Trixie tertawa. "Coba deh, jadi cewek. Rasakan sendiri putus asanya digantung cowok macam Al."

"Al kan memang brengsek," komentar Scorpius lugu. "Apa sih, yang mereka harapkan darinya?"

Yang disebut brengsek segera saja tergelak, disusul teman-temannya yang lain. "Sialan kau."

"Dasar. Kalian benar-benar tidak membantu," omel Matt tiba-tiba, mengalihkan perhatian dari topik Al dan cokelat 90% Amortentia. Kepalanya masih pusing perkara penolakan Irene Ford kemarin. "Setidaknya beri aku solusi, kek!"

Trixie nyengir. Telapak tangannya menepuk bahu Matt dua kali. "Sabar. Cari yang lain saja."

"Sudah kubilang sejak dulu kalau kau mengincar Ford itu sama saja dengan menunggu Al tobat main-main cewek. Mustahil!" Nath menyerocos. "Makanya kalau cari target itu yang realistis. Mana mau Ketua Murid Perempuan dengan berandal semacam kau."

"Omong-omong, pernah lihat anak Ravenclaw yang rambutnya disemir biru metalik, tidak?" tanya Ed. "Body-nya sih dua kalinya si Ford. Lumayan!"

"Hus, kau ini!" Trixie merengut. "Kalian cowok-cowok sama saja. Lihat cewek jangan dari fisik, dong."

"Biar, cuma buat menghibur Matt ini."

Al nyengir kuda. "Atau kau mau kukenalkan ke Rawley?"

"Rawley gila yang memberimu cokelat itu?" Matt memutar mata. "Amit-amit. Mending jomblo."

Scorpius menggelengkan kepalanya. "Repot."

Pembicaraannya itu sebenarnya tidak akan terhenti kalau Profesor Covey tidak masuk kelas dengan kacamatanya yang bergoyang-goyang. Enam bocah tadi segera mengeluh, malas menghadapi pelajaran. Kendati begitu semua murid membetulkan posisi mereka menghadap ke depan, siap menerima materi. Profesor Covey membetulkan kacamatanya dan mulai mengabsen.

.

"Hopkirk. Ed."

Rose mencelup-celupkan pena bulunya ke botol tinta dengan sedikit melamun. Suasana kelas Ramuan memang selalu membuatnya mengantuk. Agak dingin, lembab, dan gelap. Belum lagi Teresa di sebelahnya yang sudah duluan menenggelamkan kepala di balik lengan di atas meja. Rose mengeluh. Dia jadi harus menjelaskan ulang pada cewek ini kalau nanti ada tugas atau apa.

Benar-benar membosankan.

"Malfoy. Rosaline."

Rose mengangkat tangan dengan gontai. Tersenyum tipis ke arah Profesor Covey (demi lencana Ketua Murid.. demi lencana Ketua Murid..).

"Malfoy. Scorpius."

Ha. Gadis Gryffindor itu menyembunyikan suara gertakan rahangnya. Dia baru ingat reptil berbisa itu ada di kelas ini. Ditolehkannya kepala ke bangku pojok—

Persetan.

Benar saja, di sana ada Scorpius Malfoy dan gerombolannya yang biang onar. Rose tidak mengenal mereka, (kecuali Scorpius, tentu), dan Albus. Itu pun karena ibunya adalah salah satu dari pahlawan yang menyelamatkan dunia sihir bersama ayah Al, Harry Potter yang terkenal. Al cukup baik menurut Rose. Mengesampingkan fakta bahwa dia adalah cowok populer yang brengsek dan senang mempermainkan cewek-cewek, tentu saja. Tapi toh Slytherin yang satu itu tidak pernah asal di depan Rose, dia selalu bersikap baik. Mungkin hanya karena James, kakaknya di Gryffindor, adalah sahabat baik Rose sebelum lulus tahun lalu. Tapi meskipun begitu, Al masih menjadi satu-satunya orang yang Rose hargai di gerombolan biang onar itu.

Atau, ditambah dengan si cantik Dèsirèe, bisa jadi. Sejauh ini Rose belum pernah menemukan cewek berdarah Prancis itu mendukung teman-teman sialannya mengacau. Dia hanya kadang-kadang duduk bersama mereka, itu saja. Mungkin sebenarnya dia juga baik, hanya salah pergaulan. Kenapa pula dia harus berteman dengan Scorpius? Toh itulah kesalahan terfatalnya, batin Rose sekenanya.

"Zephyne. Alexa."

Nama terakhir di daftar absen sudah disebut. Profesor Covey akhirnya mengangkat wajah, siap memulai pelajaran. Rose kembali merutuk.

"Baik. Agenda kita hari ini adalah membuat ramuan Tegukan Hidup Bagai Mati. Kalian akan membuatnya berpasangan, sesuai absen."

Tidak perlu menoleh untuk tahu wajah syok Rose yang begitu kentara. Jauh di belakangnya, gadis Gryffindor itu bisa mendengar seseorang mengumpat. Otaknya mendadak panas.

Tidak, emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Dia tidak akan berpasangan dengan cowok itu. Dia tidak mau berpasangan dengan cowok itu.

"Silakan bergabung dengan pasangan kalian masing-masing dan ambil satu kuali di lemari sekarang."

Brengsek.

Rose memejamkan mata dan mengatur napasnya. Belum genap bernapas, sebuah suara mengejutkannya.

"Grandma pasti senang kalau tahu hal sialan ini terjadi."

Rose menoleh dengan kaku.

Scorpius Malfoy, si pirang itu, berdiri di sana tanpa jubahnya, hanya kemeja putih polos yang melekat sempurna. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, dan rambutnya yang tidak pernah rapi itu dibiarkan berantakan, anak-anak helainya menggantung di depan kening. Senyum arogannya ditaruh di sudut bibir, dan alisnya dinaikkan sesenti.

"Yeah?" Si gadis mendengus. "Hal sialan apa yang kau maksud?"

"Aku, dan kau. Dalam satu kelompok." Scorpius mengangkat bahu. "Haruskah kuajukan keluhan resmi ke kantor Kepala Sekolah?"

"Aku benar-benar membencimu." Rose menghela napas, jemarinya refleks memijat kening. "Jangan bicara denganku hari ini."

"Jadi kau berharap aku bicara denganmu besok?"

"Selamanya!" gerutu Rose. "Kalau bisa jangan bicara denganku selamanya."

"Kalau bisa?"

"Kau tahu itu tidak akan terjadi semenjak kita adalah dua orang yang pulang ke tempat yang sama setiap dua tahun sekali." Rose bangkit dari kursinya, sepenuhnya suntuk. "Biar kuambil kualinya."

"Kenapa?" tawa Scorpius. "Tidak berani menyuruh-nyuruhku?"

"Hah." dengus Rose. "Kau punya harga diri yang terlalu tinggi untuk orang waras. Menyuruhmu mengambil kuali sama saja dengan menunda proyek ini setengah jam."

Si pirang memutar mata. "Kau tahu kau sangat cerewet, kan?"

"Lalu kau pikir kau sangat pendiam, begitu?" Rose sengaja menubruk pundak Scorpius dalam usahanya pergi ke bagian belakang kelas, ke arah lemari penyimpanan.

Scorpius menaikkan alis sebelah. Jemarinya menepuk-nepuk pundak, membersihkan dari debu tak kasat mata. Kakinya mengikuti langkah Rose dari belakang.

"Kasar sekali, Sissy. Aku tahu kau ini Malfoy kaleng-kaleng, tapi coba bersikaplah seolah punya martabat sedikit."

Rose menghentikan langkahnya, berbalik dengan asap mengepul dari telinga. "Kau yang harus memperbaiki sikap, Scorp. Tukang intimidasi sepertimu tidak akan membuat Dad bangga atau apa."

Scrpius mendengus keras. "Kau pikir model-model sok pintar sepertimu bisa menyenangkan Dad? Persetan denganmu, Rose, kau ini bukan apa-apa."

"Mr. Malfoy, Miss Malfoy, ada masalah apa?"

Keduanya sama-sama menoleh ke arah Profesor Covey. Guru Ramuan itu mengerutkan kening jengkel. Rose mengeluh dalam hati, menyesal sudah membuat keributan.

"Upsy. Kayaknya usaha cari mukamu hari ini gagal."

Gryffindor itu mengepalkan tangan, berusaha mengendalikan diri. Scorpius menyeringai, makin gencar.

"Mungkin lain kali kau harus sogok McGonagall supaya dia mau menjadikanmu Ketua Murid."

"Tutup. mulutmu. Malfoy."

"Kenapa?" tanya Scorpius pura-pura lugu. "Apa karena yang kukatakan 100% benar?"

"Kau bisa diam kalau tidak mau kusihir."

"Dan apa yang akan kau katakan pada si tua Covey? Aku menyihirnya karena dia berkata benar?"

"Fuck you."

Slytherin itu akhirnya tertawa penuh kemenangan. "Fuck you too, Sis."

Rose menyambar kuali kecil dari salah satu bilik lemari dan mendorongnya ke dada Scorpius.

"Kutarik kata-kataku. Aku bahkan tidak peduli dengan harga dirimu selama tugas ini bisa rampung."

"Yeah?"

"Jadi selesaikan dan pergi jauh-jauh dariku."

Scorpius mengangkat bahu ringan. "Setuju."

Demi Godric, Rose menyumpah dalam hati.

.

to be continued

.

a/n:

halo, semua! akhirnya balik. maaf buat yang udah nunggu lama. saya bener-bener berterima kasih untuk kalian yang sudah mengapresiasi fanfiksi ini dalam bentuk apa pun. i love you so much.

Putri.