Halo. Kembali dengan ff yg gaje ini. Ternyata ada yg baca juga nih FF. padahal udh amel re-post loh. wkwkwk.. untuk chapter 3, amel bikinnya rada panjangan dikit. Udh ah mulai aja...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

My Imouto

Don't like don't read

Disclaimer : chara bukan punya saya. Ide juga bukan punya saya. Saya Cuma lanjutin saja.

Genre = Family, romance, ama friendship kayaknya

Rated : T buat jaga aja

Warning : typo, GaJe, alurnya ga jelas, abal, OOC, dll


CHAP 2

NORMAL POV

Merinding. Ketakutan. Kesialan. Inilah mungkin yang dirasakan oleh latihan kali ini. Aura psikopat ini berasal dari Akashi tentunya. Tidak. Tidak hanya berasal dari Akashi Seijuuro. Tapi Akashi Akiko juga mengeluarkannya. Tapi aura ini datang saat mereka bersama. Masalahnya, Akashi sedang berbicara dengan Momoi. Dan didekat Momoi ada Akiko. Dan keluarlah aura membunuh satu sama lain.

"A-ano… Akashi-kun… apakah kau medengarnya?" tanya Momoi ketakutan. Ini dikarenakan Akashi mengeluarkan muka super seram. Tapi itu bukan tertuju ke Momoi. Tapi dibelakang Momoi, yaitu Akiko.

"Ya… aku mendengarnya." Jawab Akashi sambil menatap Akiko dingin + sinis.

"Apa maksudmu menatapku dengan tatapan itu BAKAshi-niisan?" tanya Akiko enteng. Tapi aura membunuh juga keluar dari tubuhnya.

"Sebagai adik, seharusnya kau menghormati Onii-san mu ini, Akiko. Dan jangan menambahkan kata 'Baka' dalam namaku." Ujar Akashi sinis.

"Siapa yang mau menghormati kakak sepertimu? Selain itu, kata 'Baka' memang harusnya ada dinamamu. Karena kau BAKA!" jawab Akiko dengan penekanan di kata 'Baka'

"Su-sudahlah… Akashicchi.. Akikocchi.. kalian tidak perlu bertengkar disini, ne." Kise pun menengahi mereka berdua.

"DIAM!" teriak duo Akashi berbarengan hingga membuat Kise bungkam seketika.

"Kau merusak komputerku! Padahal aku membutuhkannya!" teriak Akiko lantang.

"Siapa yang merusaknya?! Kau jangan menuduh kakakmu ini sembarangan!" balas Akashi tak kalah lantang.

"Bohong! Kau memotong kabelnya dengan gunting!"

"Aku tidak memotongnya! Mungkin saja ini ulah tikus!"

"Kalau memang tikus, kenapa potongannya rapih sekali?! Pasti kau yang memotongnya Baka-Oniisan!"

"Diam atau kuhancurkan semua komikmu!" Akashi mulai greget. /plak

"Kenapa ujungnya ke komik?! Kalau begitu aku akan mematahkan semua gunting Oniisan!" Akiko mulai mengancam kakaknya

"Memangnya kau bisa?! Membuka tutup saus saja gak bisa!"

"Itu kan dulu! Sekarang tidak!"

"Dulu? Sekarang pun masih Akiko…" Akashi pun menjawab dengan nada meremehkan.

"Urusai!" teriak Akiko lalu melempar papan yang dia pegang ke kakaknya. Entah kenapa Akashi tidak bisa bergerak secara tiba-tiba, lalu papan itu mulus menghajar muka tampan Akashi. Yang lain pun shock berjamaah. Pasalnya, belum pernah ada kejadian langka /? Seperti ini.

"U-ukh…" Akashi bergumam lalu mengeluarkan 2 gunting merah.

"Dasar tidak tau diri!" Akashi melemparkan satu gunting ke arah Akiko. Dan….

#TRANG!

Dengan mulusnya Akiko menangkis gunting itu dengan penggaris besi yang entah dia dapat darimana.

"Oniisan yang gak tau diri!" Akiko pun melempar penggaris besi yang entah dapat darimana. Dengan anggunnya Akashi menghindar /ngek.

"Serangan seperti itu tidak akan mengenaiku Akiko." Jawab Akashi enteng.

"Teme! Rasakan ini!" Akiko meng-ignite pass kan bola basket yang ada didekatnya. Memang tidak mengenai kepala, tapi mengenai perut. Dan itu membuat Akashi sedikit terhempas kebelakang.

"Akashi-san, darimana kau mempelajari teknikku?" tanya Kuroko disela kemarahan Akiko.

"Uhm… entahlah. Tiba-tiba saja aku bisa.." jawab Akiko enteng.

"Sepertinya dia mirip Kise-kun…" batin Kuroko dalam hati.

"Oi! Akashi! Kau baik-baik saja?!" tanya Aomine. Akashi tampak masih memegangi perutnya.

"Ne Akichin, apa kau tidak terlalu keterlaluan dengan Akachin?" tanya Murasakibara kepada Akiko. Akiko hanya melihat kakaknya yang sekarang jatuh terduduk.

"Buat apa mengasihani dia. Dia tak pernah kasihan kepada orang lain." Jawab Akiko. Entah kenapa semuanya tertegun kepada jawaban Akiko. Mungkin itu adalah hal yang benar. Akashi tak pernah kasihan dengan orang lain.

"Tapi Akiko-chan, lihat kakakmu itu. Sepertinya kamu sudah kelewatan deh." Gantian Momoi yang membela Akashi.

"Sudah kubilang dia baik-baik saja. Lihat, dia berdiri kembali." Jawab Akiko sembari menunjuk Akashi yang bangun dari duduknya. Akashi pun menatap Akiko.

"Apa? Kau mau menyalahkanku lagi?" tanya Akiko. Mukanya pun masih kesal karena Akashi tampak tidak sama sekali memperlihatkan muka bersalah.

"Tidak. Aku tidak menyalahkanmu lagi." Jawab Akashi yang mukanya tetap datar. Akiko hanya menaikan satu alisnya.

"Lakukan saja sesukamu, Akiko." Tambah Akashi. Dan satu kalimat terkahir Akashi sebelum dia menyuruh kembali anggotanya untuk berlatih. Akiko hanya diam.

5 minute laters

"Akiko-chan, ayo minta maaflah kepada Akashi-kun. Bagaimana pun juga seorang adik harus menghormati kakaknya. Mungkin rasanya sulit untuk sekarang. Tapi cobalah minta maaf padanya. Aku yakin dia mengerti. Akashi-kun tidak sekeras kepala seperti itu." Nasihat Momoi kepada Akiko.

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian. Minta maaflah dan semuanya akan selesai. Kamu juga tidak ingin terus bertengkar dengan Akashi-kun, kan?"

"Baiklah Momoi-senpai. Akan kuusahakan." Jawab Akiko. Dia pun memandangi kakaknya yang sibuk memarahi Kise dan Aomine yang bertengkar. Lalu dia pun tertawa kecil.

-skip time, kediaman keluarga Akashi-

Di kamar Akiko

"Ukh.. masa minta maaf ke Onii-san, sih! kan dia yang salah duluan!" Akiko mengancungkan pisaunya dan menusuk guling yang ada dipelukannya.

#TOK TOK

"Akiko, kau didalam?" tanya Akashi.

"Kok dia datang saat moodku dalam keadaan begini, sih?!" batin Akiko dalam hati.

"Akiko? Kau ada didalam kan?" tanya Akashi sembari mengetuk pintu lagi.

"Masuk saja Oniisan. Tidak dikunci, kok." Jawab Akiko sambil mencabut pisau dari guling kesayangannya dan menaruhnya dibawah bantal.

Setelah dipastikan Akiko didalam, Akashi pun masuk.

"Ada apa Oniisan?" tanya Akiko sambil memeluk gulingnya. Akashi pun berjalan dan duduk dipinggir kasur Akiko.

"Aku… aku minta maaf." Kata Akashi dengan nada yang sangat kecil.

"Hah? Oniisan tadi ngomong apa? Gak kedengeran." Tanya Akiko lalu dia menghampiri kakaknya itu.

"Aku minta maaf tau!" jawab Akashi sambil setengah teriak. Akiko hanya kaget saja melihat kakaknya yang Yandere Type ini bisa minta maaf juga. tapi, dia hanya tersenyum tipis.

"Oke… oke Oniisan. Aku juga minta maaf. Mungkin aku yang salah. Sudah menyalahkanmu secara terus menerus." Kata Akiko sembari memeluk leher kakaknya itu.

"Jadi, gak usah berantem lagi ya?" Akashi bertanya dengan nada datar. Padahal dalam hatinya dia seneng karena dipeluk adiknya.

"Mungkin. Hahahaha…" Akiko tertawa diatas kepala kakaknya itu.

"Dasar…" gumam Akashi. Akashi melepaskan pelukan adiknya. Lalu memegang pundaknya hingga Akashi dan Akiko bertatapan.

"Oniisan? A-ada apa?" tanya Akiko. Dia punya firasat buruk. Benar saja, Akashi mengurangi jarak antara dia dan Akiko.

Dan

.

.

.

Dan

.

.

.

.

.

Me-

.

.

.

.

mereka

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BERCIUMAN!

Lebih tepatnya Akashi yang mulai. Beberapa detik kemudian, Akashi melepaskan ciumannya dan meninggalkan adiknya yang masih membatu.

"A-APA MAKSUDMU?!" teriak Akiko yang sudah sadar dan juga Hard Blush.

"Ungkapan sayangku kepadamu Akiko." Jawab Akashi yang sudah ada di ambang pintu.

"Tapi kenapa harus begitu?!" tanya Akiko dengan teriakan juga. Akashi hanya berbalik.

"Terserah aku dong mau melakukannya seperti apa. Sudah ya Akiko. Selamat malam…" Akashi menyeringai dan menutup pintu kamar Akiko.

"BAKASHI-NIISAN WA BAKA!" teriak Akiko sambil melempari pisaunya ke pintu kamarnya.

"Apa? Aku tak mendengarnya Akiko." Jawab Akashi dengan nada menggoda.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Amelo : Nah, bagaimana? pendek kah? amel sendiri pas ngedit nih chapter deg-degan sendiri hadeuh... Nah, keliatan kan incestnya? wkwkwk... Amel mau ngasih pilihan. Endingnya duo Akashi pacaran, atau duo Akashinya tetep pacaran. Kalau bisa, para reader ngasih saran endingnya ya! AKHIR KATA...

REVIEW PLEASE

SEE YOU NEXT INCEST! #digamparsatuRW