Captain Tsubasa (c) Takahashi Youichi

Warning: OOC PARAH. Penistaan character. AR. Typo(s).


Team Up!

.
by St. Chimaira (id: 1658345)

.

.

.

Chapter 03


"Bang! Ini perampokan namanya!"

"Tsubasa? Kenapa sih teriak-teriak?" Ishizaki yang kepo mendengar jerit-jerit labil yang dia kenal, langsung mendekati teman satu timnya yang sedang berada di kios pulsa di depan gerbang sekolah.

"Ishizaki? Ngapain disini? Mau beli pulsa? Jangan! Disini mahal!" terang Tsubasa pajang lebar.

"Gua baru aja jajan terus mau pulang, tapi suara toa lu kedengeran dari kantin luar jadinya gua ksini dulu bisi lu ada apa-apa." ternyata Ishizaki penuh perhatian, "Ada apa sih?" tanya Ishizaki lagi.

"Iya nih, Masa aku mau beli pulsa 10.000 dijualnya 11.000?" ungkap Tsubasa sewot.

"Mas, harganya udah paling murah." sahut si penjual pulsa frustasi. Soalnya Tsubasa udah hampir setengah jam ngotot buat nurunin harga dari 11.000 jadi 10.000 doang.

"Ampun deh! Kirain apaan. Wajar kali beli pulsa lebih seribu-dua ribu dari harga asli." ucap Ishizaki sambil nyengir, mengusap-usap kepala yang hampir botak.

"Tapi beli di kampus author malah bisa jadi 9.000." Tsubasa tidak mau kalah.

"Itu karena author fic ini nggak tau malu sama kayak kamu!" Ishizaki ikutan sewot. "Udah, nih gua pinjemin seribu. Balikinnya ke Izawa aja. Gua buru-buru mau ke tempat Urabe, bantu dia jualan tahu. Duluan ya!" serunya yang sekarang sudah lari ke luar gerbang sekolah.

"Nih pak… kali ini nggapapa deh 11.000, tapi lain kali murahin ya, hehehe…" ujar Tsubasa tidak tahu malu. Abang penjual pulsanya cuma bisa nerima duit sambil geleng-geleng. Mulai besok, dia bertekad untuk pindah tempat mangkal ke sekolah lain saja daripada stress ngadepin anak kayak Tsubasa lagi.


.

.

.

.

.

"Selamat pagi, Ma."

"Pagi Mitsuru. Kamu udah makan? Sebelum pergi makan dulu, ya! Mama ada shooting. Kalau sampai malam belum pulang kamu makan duluan aja. Dah, sayang!"

Wanita cantik dengan postur tubuh proporsional itu pergi terburu-buru setelah mengecup kening anak tunggalnya kilat, sementara Sano hanya bisa melihat kepergian wanita itu sambil terdiam. Padahal dia sudah bangun cukup pagi supaya bisa melihat ibunya di rumah lebih lama, tapi tetap saja gagal. Sepertinya nasib mengharuskan dia bertemu dengan ibunya di lokasi shooting.

"Tuan Mitsuru, anda tidak sarapan?" sang kepala pelayan di rumah Sano menjadi heran karena majikannya malah kembali ke kamar, bukannya menuju ke ruang makan.

"Papa mana?" respon Sano pelan kepada pengasuhnya dari kecil itu.

"Tuan besar tidak pulang dari kemarin, ada bisnis yang harus dia urus." jawab pengasuhnya sopan.

'Bisnis lagi, bisnis lagi. Apa di otaknya cuma ada bisnis?', Sano mulai manyun karena kesal.

"Tuan muda, sarapannya—"

"Aku nggak lapar." potong sano singkat sambil berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang luas.

'Misa, aku iri denganmu', batinnya sambil meringkuk di atas tempat tidur, mencoba menahan tangis. Tapi ternyata air matanya tidak bisa berhenti sehingga terlanjut mengalir bebas membasahi bantal yang sedang dipeluknya.

CRINGCRINGCRING.

Tapi tangisan itu seketika terhenti karena telepon genggamnya tiba-tiba bersuara. Sano menghapus air matanya secepat mungkin lalu mengambil Ponselnya.

"Halo."

"Pagi! Gini, aku lagi nyari pasukan buat tanding bola minggu depan. Dan dikaw adalah salah satu calon yang terpilih, selamat! Mau ya bantuin aku, biar menang gitu loh. Katanya dikaw jago main bola…" jelas suara di seberang dalam satu tarikan nafas.

"Hah? salah sambung kali…"

"Sorry lupa ngenalin diri, habis lagi semangat sih. Aku Tsubasa, situ Sano kan? Aku perlu dirimu untuk ikut pertandingan bola antar daerah minggu dephannn" sekarang Tsubasa mengikuti intonasi lebay ala sinetron.

"Bola? Maaf, tau nomor ini dari siapa, ya?"

"Dari Izawa. Izawa Mamoru yang sekarang di Nankatsu. Mau ya! Ya!" desak Tsubasa hepi.

"Oh, Kak Izawa temennya kak Ishizaki? Iya tau… gimana kabar mereka?"

"Baek… baek… Ishizaki makin botak. Btw, mau nggak, gan?"

"Apanya?"

"Yaelah, lemots bangets. Tadi kan aku dah cape-cape jelasin tentang pertandingan bola tea…"

"Kapan jelasinnya?" pertanyaan polos Sano bikin Tsubasa tiba-tiba jadi depresi. Sontak suaranya berubah jadi super alto.

"Beuh… gini ya! Ekeu en pren bakal tanding bola minggu depan di lapangan Nankatsu, tapi karena kurang orang ekeu minta bantuan ente gitchu. Paham?"

"Paham sih, tapi aku udah lama nggak maen bola. Lagian aku sibuk." ujar Sano agak kecewa.

"Waduh, Jaman teknologi gini kok pada sibuk semua sih? Tolong deh… cuma bwat minggu depan kok. Ayo seneng-seneng dikit." rupanya kata 'seneng-seneng' mulai nyangkut di kepala sano. Baginya hal menyenangkan merupakan salah satu cara untuk melupakan suasana sepi rumahnya, juga di hatinya.

"Trus aku harus ngapain?" tanya sano lagi.

"Ya Tuhankuuuu! Dewakuuuu! Nih orang mikirnya lambat amat! Pertama, kamu kudu setuju dulu. Kedua, kita kudu latihan. Dan ketiga, minggu depan kita tanding! Coba di loudspeaker deh, bisi hapemu yang butut."

"Enak aja! Hape gua keluaran Nok*a terbaru yang belum masuk ke Indonesia tau! Hp situ kali yang butut!" balas Sano tidak kalah sewot.

"Jadi? Mau kan?" ajak Tsubasa lagi.

"Tapi kan kita belum kenal…"

"Kenalan mah ntar aja di lapangan, yang penting kamu setuju dulu."

"Boleh deh…"

"CIHUUUUUUUUY!"

"Asal…"

"Hah? ada syarat?"

"Ajak Wakabayashi juga donk. Itu loh, anak pemilik Wakabayashi Corporation."

"Sapa tuh?"

"Duh, nggak gaul banget sih, Wakabayashi Genzo. Cari gih di Gugel. Pasti ada kok. Bokap dia kan businessman terkenal. Kalo dia nggak ikut, aku nggak mau." Sano jadi merajuk.

"Duh, aneh-aneh aja. Aku taunya Kaiba corporation ama Capsule Corporation.* Emang kenapa harus dia sih?"

"Soalnya waktu rajin main bola dulu, hanya dia kiper yang nggak bisa kucuri gol-nya. Lagian dia anak dari relasi bisnis papa aku, rasanya kangen juga karena dah lama nggak ketemu."

"Hadooooh... aku tuh nyari relawan ato pada bantuin orang-orang reunian sih? Ya udah. Ntar kucari deh. Tapi kalo dia ikut, kamu ikut, ya.

"Beres…"

"Dah…"

Sano mulai senyum-senyum sendiri melihat handphone sambil membayangkan penelpon misterius tadi. Dia belum pernah berteman dengan orang yang volume suaranya melebihi kapasitas volume radio. Mudah-mudahan anak bernama Tsubasa tadi menepati janji untuk menghiburnya. Lamunan Sano terhenti ketika suara ketukan terdengar di pintu kamarnya.

"Tuan muda, ada kiriman naskah dari Agensi anda."

.

.

.

Siang hari tidak lebih baik bagi Sano. Setelah ditarik dengan kasar oleh partnernya, dia melihat sebuah pintu dengan pandangan kosong. Pintu yang bertuliskan 'Tsuruno Misa'. Tanpa ragu-ragu remaja itu mengeluarkan kunci untuk membuka pintu tersebut, memasuki ruangan dengan interior yang sangat luar biasa, tentu saja.

Karena Misa adalah top model Scramble Egg yang tersohor. Seorang Tsuruno Misa. Sebuah anagram dari nama dirinya 'Sano Mitsuru'.

Sano melepas gaun serta wig-nya dan melemparnya ke lantai, mengganti pakaiannya hanya dengan celana Jeans. Suatu saat semua orang akan tahu bahwa sesungguhnya Misa tidak pernah ada. Bahwa nama yang mereka idolakan bukanlah seorang perempuan melainkan laki-laki. Sano memasuki kamarnya lebih dalam, merebahkan diri di tempat tidur besar yang disediakan untuknya—menatap beberapa foto di dinding.

Salah satunya adalah foto mamamya; Sano Mimosa. Seorang Artis cantik senior yang ikut berjasa membesarkan Scramble Egg. Sudah tidak heran darimana tubuh kecil dan wajah cantik Sano berasal, namun baginya anugrah itu merupakan sebuah kutukan.

"Sampai kapan aku harus melakukan hal ini?" tanya pemuda berambut coklat itu pada diri sendiri. Manik kecoklatannya mengalihkan fokusnya untuk melihat laki-laki tinggi berkulit tanning sedang duduk santai di depan meja rias sambil menikmati cola kesukaannya.

"Kamu tanya berkali-kalipun, aku nggak bisa jawab" ucap pemuda itu cuek.

"Kita cuma lagi sial, Hyuga" jawab Sano pelan. Kali ini pandangannya terarah pada langit-langit.

"Enak aja, gua lebih sial! Ini first kiss-ku tauk!"

"Terus aku gimana? Monyooooong!" Sano terduduk lalu mengambil bantal terdekat dan melemparnya ke wajah Hyuga. Membuat isi cola berhamburan ke bajunya.

"Ampun dah! Ini kan baju bwat Shooting, kamu udah gila ya?" Hyuga cepat-cepat mengeluarkan sapu tangan lalu membersihkan bekas cola yang tumpah dibajunya.

"Kamu sih ngajak ribut!" jawab Sano tidak mau kalah. "Haduh, semoga hari ini cepat berakhir…"

"Makanya, adegan nanti kita lakuin dengan serius" kata-kata hyuga langsung disambut bogem mentah Sano telak di pipi kiri.

"Sakit jiwa, ya? Kok malah mau serius sih?"

"Rese! Jangan main pukul donk! Maksudku kalo kita gugup dan... errr... harus mengulang-ulang take, aku yang makin stress. Kamu beruntung dapet adegan sakit begini sama aku yang udah tau rahasia kamu! Bukan orang lain!" Sano terdiam mengingat ucapan Hyuga ada benarnya. Tapi tetap saja cowo imut itu masih memasang tampang stress.

"Dengar, kamu ini model senior, jadi lakukan dengan profesional donk!" Hyuga memandang Sano tajam.

"Siapa juga yang mau jadi model? Aku ini terpaksa tau!" semprot sano kasar. Setelah berteriak dan melewati pertarung adu bantal yang sengit. (Dan sudah pasti Sano kalah) akhirnya keduanya mulai kembali tenang.

"Ya udah, cepet pake baju kamu! Shooting kita mulai sebentar lagi."

PRAAANG.

"Siapa?" Hyuga dan Sano yang terkejut refleks berlari ke arah sumber suara dan melihat Nitta yang sekarang sudah pucat pasi.

"Nitta? Apa saja yang sudah kamu lihat dan kamu dengar?" Sano kaget luar biasa, lupa bahwa saat ini dia hanya memakai celana jeans. Setelah sadar, secepatnya cowo kecil itu berlari masuk ke dalam untuk berpakaian.

"Kita harus bicara" ujar Hyuga dingin dan menarik tangan Nitta menuju tempat tidur Sano.

"Hei! Tenang, choy! Kalem! Aku nggak liat apapun!" Nitta yang ketakutan mencoba menolak tatapan mata Hyuga yang seganas harimau.

"Tapi kamu jadi tahu semuanya. Lagian ngapain kamu di sini?"

Bukannya menjawab, Nitta melihat ke arah sano yang sekarang sudah memakai kaus pastel kesukaannya. Melihat anak itu hanya terus menunduk.

"Ja… jadi… Misa itu… laki-laki, ya?" Nitta yang bingung mencoba menjabarkan keadaan yang baru dialaminya. Sano mengangguk samar.

"Aku... bukan mau menipu… A-aku punya alasan…" Nitta tidak bisa melihat jelas ekspresi Sano karena poninya yang panjang menutupinya, belum ditambah rona merah pipinya yang sangat menggemaskan.

"Awas kalau kamu berani cerita ke media massa. Sekarang, keluar!" perintah Hyuga ketus. Tapi Nitta malah berjalan mendekati Sano, menyingkirkan poni panjang yang menutupi wajah idolanya.

"—heh!" Bentak Hyuga lagi.

"Kamu bener-bener nggak pake make-up ya? Gila, untuk ukuran cowo kamu imut banget. Aku aja sampe ketipu, hahaha!" di antara rasa syok, cowo dengan gingsul itu malah tertawa-tawa. Dia membelai dan menarik-narik pipi halus Sano, kontan mukanya semakin memerah.

"Hoi! Gua bilang keluaaaar!" Hyuga menarik kerah baju Nitta dan melemparnya keluar kamar.

.

.

.

"Terima kasih atas hari ini…" deru haru pak sutradara dan para kru menggema di dalam auditorium.

Mata Sano mengamati sang pemeran utama yang lelah akhirnya berhasil mencari tempat duduk di pojok untuk beristirahat, "Ano... maaf ya, tadi Hyuga nggak bermaksud begitu." ucap remaja mungil yang sekarang ada di hadapan Nitta.

"Hah? Nggak masalah kok." Nitta masih memandang Sano dengan pangling. Dia tahu rambut panjang Sano hanya sebuah wig, tapi siapapun pasti tidak akan menyangka kalau idolanya itu laki-laki. Karena walau dalam jarak sedekat itu, Nitta tidak merasakan firasat apa-apa soal jenis kelamin idolanya.

"Syukur deh…" Sano tersenyum sangat manis, hampir membuat Nitta meleleh. Diapun duduk di sebelah Nitta, "Kali ini aku yang minta, tolong jangan bilang siapapun, ya…" anak itu membungkukkan kepalanya.

"Eh, Misa! jangan nunduk! Maksudku… ya iyalah..ngapain juga aku cerita-cerita."

"Sano.."

"Apa?"

"Nama asliku Sano Mitsuru." Sano menjulurkan tangannya hendak bersalaman.

"Namaku Nitta Shun." cowo itu dengan malu-malu menjawab uluran tangan Sano. "Nama kamu sama sama artis besar itu… ngg... AAAAAAAAAAAHHH? JANGAN-JANGAN?" Nitta berteriak tidak percaya, Sano hanya mengangguk.

"Sano Mimosa itu mamaku." jawab Sano enteng.

"Ya ampun! Ortuku ngefans banget sama beliau, ntar boleh minta tanda tangan mamamu juga?" Nitta menyerahkan beberapa papan tandatangan lagi kepada seniornya. Sano yang tadinya terlihat defensive mulai memberi senyum lebar—mengambil papan tanda-tangan itu dan memasukkkannya ke dalam tas.

"Terus? Kenapa bisa… jadi begini?" tanya Nitta ragu-ragu. Takut menyinggung hal yang terlalu pribadi.

"Karena kalau nggak begini, aku nggak bisa sering bertemu mama." ujar Sano pelan. "Papaku jarang pulang karena kerjaan. Mama juga. Karena itu aku berpura-pura dengan indentitas ini. Aku ingin membuat mama bangga kalau aku juga bisa seperti dia. Scramble Egg dipegang oleh perusahaan papa, jadi aku juga lebih sering bertemu papa di sini daripada di rumah." jelasnya panjang lebar. Dia sendiri pun heran, kenapa bisa langsung memercayai Nitta padahal baru dua kali ini mereka bertemu.

"Berarti? Ortu dan temen-temen deket kamu tahu donk?" Sano menggeleng untuk menjawab.

"Yang tahu sedikit kok..." Sano mencoba menghitung memakai jarinya, "Sebetulnya aku ingin sahabatku tahu, tapi sekarang kami sedang bertengkar." Sano menutup wajah sedih dengan poninya, membuat Nitta menjadi merasa bersalah.

"Tapi Papa, mama juga semua pelayan di rumahku tahu. Kalau Hyuga dan Wakashimazu tahu, itu karena kecelakaan. Waktu itu mereka diam-diam ke rumahku pas aku ulang tahun. Ceritanya mau bikin kejutan, hahahaha…" Sano menjelaskan dengan senyum yang lebar. Berusaha terlihat ceria kembali.

"Wakashimazu? Wakashimazu Ken? Anak pemilik dojo Wakado Ryu?" Nitta makin kaget. Kalau ada sakit jantung, mungkin dia sudah tewas berkali-kali di hari yang sama.

"Betul, kok tahu sih?" tanya Sano tidak kalah terkejut.

"Dia itu tutor karate aku! Dunia emang sempit, Hahaha." Nitta tertawa lebar. Melihat Nitta, Sano juga ikut tertawa. Namun tawa mereka dihentikan seseorang yang berdiri di depan mereka yang sudah memasang tatapan sedingin es.

"Aku kan udah bilang… jangan-deket-deket-Misa!" serunya sinis.

"Hyuga jangan galak-galak ah! Lagian aku udah cerita semuanya kok." Sano langsung berdiri di depan Hyuga, menaruh kedua tangan di pinggang sambil memasang tatapan lebih galak. Menciuma adanya sumbu-sumbu pertengkatan, otomatis Nitta juga langsung berdiri.

"Ngapain kamu cerita-cerita ke dia? Kurang kerjaan banget!" Hyuga melemparkan tatapan sadisnya ke arah pemuda bertaring di hadapannya.

"Dia muridnya Wakashimazu, loh…" Sano mencoba mengalihkan topik.

"Hah? Serius? Kok kamu kecil sih?" tanya Hyuga jutek.

"Emang kalo belajar Karate langsung tiba-tiba besar? Kecil ini udah dari sononya!" jawab Nitta emosi.

"Udah… udah… kalian berantem aja! Baikan donk! Sekarang kita kan satu tim." Sano menarik tangan Hyuga dan Nitta, memaksa keduanya untuk berjabat tangan.

"Ayo salaman!" Perintah Sano lagi. Akhirnya Nitta dan Hyuga meraih tangan masing-masing walau sambil memalingkan muka. Sano hanya tertawa geli melihat kelakuan dua partnernya.


.

.

.

.

.

"Halo pa kabar? Dah lama ya! Tsubasa nih!" sahut Tsubasa tanpa basa-basi ketika Sano mengangkat handphonenya.

"Halo juga. Ada apa ya?"

"Buset, lemotmu nggak sembuh-sembuh. Ini, tentang pertandingan bola tea."

"Oh... trus? gimana? Wakabayashi mau?" Sano langsung bersemangat.

"Tsubasa gitu loh! Apa sih yang nggak bisa? Dia mau kok. Berarti sesuai janji. Kamu ikut ya!" Tsubasa nyengir lebar dan membusungkan dada bangga.

"Iya, iya! Eh, kok bisa sih? Beneran browsing di Gugel?" Sano penasaran.

"Tadinya… tapi ternyata dia juga salah satu dari sepuluh orang incaranku, hohohoho."

"Emang siapa aja sih? Kamu kok yakin banget bisa dapet semua, anggotanya aja pas-pasan gitu?" cowo cantik itu mulai melangkah ke tempat yang agak sepi, mendudukkan diri di kursi terdekat.

"Nggak yakin sih, tapi kalo gagal kita bikin konser aja kali ya? Mumpung ada dua artis yang aku ajak."

"Hah? Artis? Siapa?" Sano mulai takut, kalau salah satunya ada orang dari Scramble Egg, bukan mustahil jati dirinya bisa langsung ketahuan.

"Hyuga Kojirou sama Nitta Shun. Mereka tuh yang video klipnya baru kluar kemaren. Keren loh, udah liat belum?"

"Oh, mereka berdua." Sano langsung lega. Ternyata dua orang sahabatnya termasuk dalam daftar yang akan have fun bersamanya.

"Emang kenal?" gantian Tsubasa yang heran.

"Eh... nggak kok, cuma pengen bilang 'Oh'." Sano buru-buru mengelak.

"Yeee… udah lemot, aneh lagi. Ya udah, aku masih mau nelpon relawan sisa. Tengkyu ya…"

"Oke deh thank's juga!"

"Yuk ah!"

Saat sembungan terputus, Sano menutup hapenya dan mendesah panjang. Perasaannya melambung dan dia ingin sekali berteriak sukacita.

"Dari siapa?" tanya Hyuga sambil memberikan minuman untuk partnernya yang masih belum berhenti tersenyum.

"Tengkyu. Tadi telpon dari Tsubasa. Tau kan? Yang ribut ngajak tanding bola antar daerah."

"Kamu diajak?" mendengar nama Tsubasa disebut, Hyuga langsung berhenti minum. Takut-takut nyembur karena terlalu kaget.

"Iya, kamu juga diajak kan? Kita bisa seneng-seneng bareng."

"Nggak kok. Aku udah nolak." ucap Hyuga dingin.

"Loh? Kenapa?" sekarang Sano memasang muka cemberut. "Kenapa? Kenapa?"

"Males." Hyuga memalingkan muka dan kembali meneguk minumannya. Sano hanya tertawa kecil mendengar ucapan Hyuga. Tapi dia cukup kecewa juga, karena sebetulnya dia ingin Hyuga ikut bermain bola juga bersamanya.

'Yaaah…mungkin lain waktu', batin pemuda kecil itu sembari menghela nafas panjang sekali lagi.

Beberapa jam kemudian, Sano menemukan Nitta sedang berada di pojok sambil menelpon. Sekarang Sano dan Nitta sudah bersahabat baik yang sering bertukar pikiran. Walau kadang Hyuga masih sering mengajak Nitta bertengkar, tapi mereka bertiga sudah lebih sering pergi dan jalan-jalan bersama.

Akhir-akhir ini Sano mulai berubah. Walau keadaan rumahnya sama seperti biasanya—sepi dan suram, tapi sekarang dia jarang mengeluh serta terlihat lebih ceria setiap hari. Hampir setiap pekerjaannya dikerjakan dengan baik terutama kalau di-pairing bersama Hyuga dan Nitta. Tidak jarang dia juga mampir ke tempat Wakashimazu untuk curhat dan makan ramen kegemarannya.

"Terima kasih." ujar Sano pelan pada diri sendiri sebelum memandang Nitta dari jauh sambil tersenyum. Ketika yang ditunggu terlihat selesai menelepon, Sano berlari mendekati sahabat barunya itu.

"Lama amat, dari siapa?" tanya cowo cantik itu penasaran.

"Tsubasa… Katanya kita bakal latihan mulai besok. Dan ternyata Hyuga juga setuju mau ikut."

"Serius? Waktu kutanya tadi dia katanya nggak mau."

"Kurang tahu ya… ntar aja habis beres shooting kita tanya lagi" ajak Nitta bersemangat.

"Oke!"


To Be Continued...

.

.

* Parodi Yugioh dan Dragon Ball

A/N:

Yosh, akhirnya kebongkar dikit-dikit cerita yang tadinya ilang. Semoga kalian menikmatinya, ya! ヾ(・ω・*)ノ
...terutama penderitaan Tsubasa yang sibuk nyari pasukan bwat pertandingannya (walau kayaknya lebih menderita yang diajak deh.)

Hehehehe…Akhirnya si imoet Sano Mitsuru (16) keluar jugaaa~ akhirnyaaa~ #senang
Cerita tentang Sano jadi model ini juga udah headcanon sedari awal, sayangnya perealisasiannya baru bisa sekarang—itu pun cuma dalam bentuk fic.
Btw, 16 tuh chara fave author pake BANGET! Jadi kalau ada yang bikin fic soal Sano lagi, author akan sangat berterima kasih #modus

This chapter dedicated to all 16's fans :D