Chapter 3
Normal P.O.V.
Lucy mengetuk-ngetukan tangannya pada meja kelasnya yang terdapat di pojok belakang kelas itu.
Sambil menunggu bel berbunyi, ia menatap keluar jendela, melihat beberapa burung yang sedang bertengger di dahan pohon
'Natsu Dragneel.. ya? Parasnya agak familier' batinnya sendiri
Beberapa detik kemudian ia meletakan sebelah tangan untuk menopang dagunya, lalu menghembuskan napas dalam-dalam. Dirinya sempat berpikir bahwa lelaki itu adalah cinta pertamanya dulu, sebelum Mirajane menyebutkan namanya
'Dia bukan Gray, Lucy! Ingat-ingat! Kau tak bisa begini terus!' batinnya sekali lagi sambil menggetok-getok kepalanya.
Di depannya, Levy hanya dapat memperhatikan kelakuan sahabat yang baru ditemuinya itu dengan wajah datar dan bersweat drop
''RING-RING-RING!"
Beberapa detik kemudian terlihat beberapa murid berhamburan masuk ke dalam kelas, salah satu yang menarik perhatian gadis blonde itu adalah gadis berambut putih pendek yang berparaskan mirip Mirajane tapi entah mengapa terlihat jahat (?)
"Levy-chan, itu adiknya Mira-san?" tanya Lucy sembari berbisik
"Hm, sepertinya ya, oh ya! Jangan cari masalah sama dia loh, kalo gamau dapet masalah" jelas Levy tanpa memalingkan pandangan dari gadis berambut putih itu
"O ya, Lu-chan, istirahat nanti aku akan mendaftar di klub buku, kau mau ikut?" tanya Levy
Lucy mengalihkan pandangan untuk memandang sahabatnya itu lalu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum
Beberapa menit kemudian, seorang guru memasuki kelas itu. Guru itu bernama Mrs. Sherry, ia mengajarkan pelajaran kesehatan.
2 jam berlalu akhirnya kelas pun selesai dan istirahat dimulai.
"Oke semuanya, kumpulkan laporan kalian mengenai cara menjaga kesehatan kulit minggu depan!" sahut guru itu kepada seluruh kelas yang diikuti dengan keluarnya murid-murid dari kelasnya.
Setelah kepergian Levy pun ia menelusuri koridor penuh loker dan kaca, menuju ke atap sekolah. Semua murid terlihat asing baginya
'Mungkin aku harus mencoba berkenalan dengan yang lainnya nanti' batin Lucy
Setelah melewati koridor ia akhirnya sampai disebuh tangga nan gelap berujung pintu. Gadis itu melangkah naik sampai akhirnya membuka pintu itu dan merasakan hembusan angin musim panas menerpa wajahnya. Gadis itu terus berjalan sampai ke ujung atap, tempat rantai-rantai pembatas diletakkan.
'Kota Magnolia ternyata jauh lebih indah dari Acalypha' batinnya sembari tersenyum melihat pemandangan kota di depannya.
Ketika ia membalikan badannya, tak sengaja dirinya menginjak kaleng bekas dan terpeleset,
'awas!" teriak seseorang dari kejauhan
Seseorang itu dengan cekatan berlari ke arah gadis pirang tersebut,
"BRUG!"
Terdengar suara yang agak keras membentur lantai atap itu. Lucy yang masih menutup matanya pun kaget, dirinya yang terjatuh tak merasakan sakit sedikit pun.
Angin berhembus sepoi ketika perlahan ia membuka matanya
'Eh? Pink?' tanya Lucy pada dirinya sendiri
"Hati-hati lain kali bodoh!" sahut seseorang dibawahnya
Ketika mendengar suara itu, seakan disambar petir, matanya membelalak besar dan mukanya berubah menjadi semerah api
"EH?!" teriaknya
Dengan segera Lucy berpindah dari posisinya yang 'awkward', ia dapat melihat lelaki di depannya itu tersenyum lebar. Senyum yang dapat membuat siapapun yang melihatnya meleleh (?)
"Ano maafkan aku!" kata gadis blonde itu sembari membantunya duduk
Lelaki itu memegangi punggungnya yang nyeri akibat terjatuh. Tak lama kemudian ia mengalihkan pandangan kepada gadis di depannya,
"Santai aja kali!" balasnya dengan grins khasnya
'Astaga senyuman itu lagi Sungguh menawan' batin Lucy sambil melihat lelaki itu dengan lekat.
Tak lama kemudian Lucy mengembalikan senyuman itu pada lelaki pinkish dan tertawa kecil
"Oke mungkin ini bukan pertemuan yang baik tapi, kau Natsu Dragneel?" tanya Lucy sembari mengetukan jarinya pada lantai di atap itu.
Lelaki yang disebut Natsu itu kemudian menggaruk-garuk kepala belakangnya
"Segitu terkenalnya ya?" tanya Natsu kepada gadis di depannya
Lucy yang mendengar hanya dapat bersweat drop serta memasang muka datarnya.
"Ya, itu benar, dan namamu?" tanya lelaki tersebut dengan pede sambil menatap gadis itu tepat dimatanya.
"Lucy, Lucy Heartfilia" jawabnya
Tiba-tiba Natsu menyodorkan tangannya kepada gadis di depannya
"Yosh! Salam kenal, Lucy!" sahutnya dengan riang
Lucy melihat uluran itu, ia kembali tersenyum dan mengambil tangan lelaki itu
"Hai! Salam kenal, Natsu!"
Keduanya membicarakan banyak hal selagi beristirahat, menurut Lucy, Natsu adalah sosok yang sangat menyenangkan. Mendengar ceritanya membuat Lucy senang, untuk seketika, Lucy merasakan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya.
"Lucy, kau harus bertemu kucingku!"
"Heh.. Kucingmu?" tanyanya kebingungan
"Dia berwarna biru" jawab Natsu singkat
Seketika keheningan menyelimuti mereka. Keduanya hanya saling memandang satu sama lain, sampai akhirnya
.
.
.
"APA?!" teriak gadis berambut blonde itu
"Gee, berisik amat pagi-pagi" kata Natsu sembari menutup kuping dengan kedua tangannya
"Itu gila! Apa kau mencelupkannya ke pewarna tekstil?" tanya Lucy dengan panik
"Aku tak sebodoh itu, bodoh. Dia normalnya berwarna biru" jawab lelaki pinkish itu dengan muka datar
Lucy hanya dapat tertawa menanggapi perkataan lelaki itu. Ia menyandarkan badannya ke salah satu jaring-jaring besi dan menatap langit di atasnya.
"Rambutmu pink, kucingmu biru"
"Perbedaan membuatmu unik" kata Natsu dengan bangga sembari menatap langit biru.
Unruk sementara mereka bertahan dalam posisi itu, merasakan angin menerpa wajah mereka serta mendengarkan suara –suara sayup dari aktivitas warga kota itu.
"Cewe aneh, kau kelas berapa?" tanya Natsu tanpa memalingkan pandangan
"DUAGH!"
Sebuah tinjuan mendarat di kepala Natsu, menyebabkan lelaki itu terkapar disertai bintang-bintang berputar di atas kepalanya.
"Jangan katain aku aneh, kalau kau sendiri lebih aneh, hmph!" ketus Lucy sembari memalingkan pandangan dari lelaki itu
"Ittai..." rengek lelaki itu sembari mencoba kembali ke posisi awal sembari mengusapi kepalanya
'Mungkin itu berlebihan?' batin Lucy sembari menggigit bibirnya
"Aw.. kau tak rame. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku berada di tahun seniorku" jelas Natsu sembari masih mengusap-usap kepalanya pelan
Setelah mendengar perkataannya, Lucy meletakan tangan di mukanya
"Astaga, kau lebih tua! Maafkan aku" pinta gadis itu sekali lagi
Lelaki itu memalingkan mukanya perlahan kearah Lucy dan tersenyum lebar
"Ga sakit ko.." bohongnya
Perlahan ia menghentikan gerakan tangannya itu, menggantinya dengan senyuman hangat yang begitu menyilaukan (?)
Gadis di hadapannya pun tak mampu menahan dirinya untuk mengembalikan senyuman hangat lelaki pinkish tersebut
"Jadi haruskah kupanggil dirimu Natsu-senpai?"
"Hmm.. Natsu saja oke"
"Aku bingung" kata Lucy singkat seraya menubah topik pembicaraan
Natsu melihat gadis disebelahnya itu dan mengangkat sebelah alisnya
"Apa yang harus dibingungin?" tanyanya dengan bingung
"Kebanyakan lelaki seumurmu menghabiskan waktu untuk bermain dan kau tahu, tidak seperti ini" jelas Lucy
Seakan mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu, Natsu mengangguk dan menatap lurus ke depan
"Aku adalah salah satu murid yang tak bisa diem kau tahu, tapi setiap orang pasti ingin punya waktu sendiri" jelasnya
"Oh.. Souka, kalo gitu nanti aku pergi" kata Lucy sembari bersiap berdiri
Seketika itu pula ia merasakan tangan kirinya dicegat oleh sesuatu. Ketika ia melihat tangan Natsu memegang tangannya, reflek semburat merah memenuhi wajahnya. Ia pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu
"Kau tidak mengganggu tapi menyenangkan" jelas Natsu
Beberapa menit pun tak terasa telah berlalu dan bel selesainya istirahat pun telah berbunyi. Natsu segera berdiri dan merapikan seragamnya
"Luce, aku harus cepat pergi, Ice Prick pasti nyariin, jaa-nee!" teriaknya sembari melambaikan tangan, berlari menuju tangga. Sosok laki-laki itupun akhirnya menghilang di balik pintu.
'Luce huh? Lelaki itu memang unik' batin Lucy seraya tersenyum pada dirinya sendiri.
Ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu itu, di pikirannya sosok lelaki itu seakan mengenangkannya pada seseorang yang tak dapat ia ingat sepenuhnya.
Gadis itu akhirnya menghilangkan ide itu dan segera berlari menuju kelas sebelum kena hukuman telat masuk.
Satu hal yang tak mereka ketahui,
Selama ini mereka tidak hanya berdua di atap sekolah
~To Be Continued~
Bagaimana pendapat kalian? Tolong me review ya!
Maafkan bila ada kesaahan pengejaan ataupun OOC yang berlebihan
Arigatou-nee!
