Sepertinya aku mendapatkan—maksudku, aku dan Akashi-kun mendapatkan tugas kelompok paling susah dimengerti. Karena barusan tugas materi kelompoknya ditentukan dengan cara yang di undi, Akashi-kun lah yang mengambil undian dan mendapat bagian "Samurai."

Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan "Samurai.", tapi tentu saja aku tahu Samurai itu apa, maksudku—kami harus mencari materi Samurai seperti apa? Pedang yang mereka gunakan? Nama-nama Samurai yang berperang dulu? Atau semua tentang Samurai? Tidak, itu akan menjadi terlalu panjang. Aaah, kadang Shirogane-sensei memang complicated, tidak memberitahu tugas apa yang harus dikerjakan secara spesifik.

Sekarang. Akashi-kun, sedang duduk di depan bangkuku, dia menatapku dengan lurus, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Aura orang angkuh benar-benar terpancar dari tubuhnya.

"Aku tidak ingin kau menghambat pekerjaanku."

...pekerjaanku?

"Dan aku ingin tugas ini cepat selesai."

"Kalau begitu, pulang sekolah mau langsung mengerjakannya?"

"Tidak bisa, hari ini aku ada latihan dan rapat Osis, lebih baik mulai besok saja."

"Baiklah..." aku mengangguk kepalaku pelan. Akashi-kun masih menatapku dengan lurus, kemudian dia menghela nafas dan mengatakan;

"Dan bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?"


What Is Love?

[Akashi x Reader]

Rated: K—T

Warn: mungkin OOC, Typo,beberapa bahasa nggak sreg, dan masih banyak tetek bengek lainnya

HOPE YOU LIKE THIS!


"Yuri-chan... tukar pasangan denganku ya?"

"Tidak."

"Tapi Yuri-chan..."

"Pokoknya, Tidak!"

Sudah kesekian kalinya aku meminta Yuri-chan untuk bertukar pasangan, sejak istirahat pertama sampai jam pulang sekolah seperti ini saja aku masih saja mengusiknya, teman terdekatku saja tidak mau membantuku. Barusan aku ingin meminta Shirogane-sensei untuk mengganti pasanganku, tapi yang Shirogane-sensei katakan adalah;

"Tidak mau dipasangkan dengan Akashi? Kalau begitu, mau sendiri saja?"

Tentu saja aku tidak mau sendiri. Bayangkan saja saat presentasi nanti, aku berdiri sendirian di depan, dan menjadi pusat perhatian semua orang, aku tidak suka menjadi pusat perhatian seperti itu, hal itu selalu membuatku gugup dan juga malu (bisa dibilang kalau aku ini demam panggung). Dan siapa yang mau mengerjakan tugas sejarah sendirian?

"Hush, Hush, pergi sana. Lagipula bukankah kau menyukai mata Akashi-kun? kenapa kau malah ingin tukar pasangan?"

"Habis... aku kan hanya menyukai matanya... dan aku rasa... Akashi-kun bukanlah orang yang sebaik itu. "

"Secara tidak langsung kau mengatakan kalau dia adalah orang yang jahat! Daripada itu, bukankah sekarang saatnya kau menjaga perpustakaan?" Yuri-chan menunjuk ruang perpustakaan yang tidak jauh dengan keberadaan kami sekarang, aku menepuk keningku pelan, hampir saja aku lupa!

"Kau benar, untung saja kau mengingatkanku. Kalau begitu, sampai disini saja ya, sampai ketemu besok Yuri-chan." aku melambaikan tanganku kepada Yuri-chan dan mulai berjalan memasuki perpustakaan.

.

.

.

.

Walaupun sekarang sudah waktunya untuk pulang sekolah, dan memasuki jam ekstrakulikuler, perpustaan sekolah masih saja ramai, lebih ramai daripada jam-jam sebelumnya, terkadang aku selalu keteteran mengurus data orang yang mengembalikan buku dan meminjam buku, itu karena aku menjaga perpustakaan sendirian, terkadang ada senpai yang membantuku, tapi setiap kali giliranku untuk menjaga perpustakaan, pasti mereka sibuk dengan kegiatan klub mereka.

Aku ini memang sial.

Tapi, daripada aku cepat pulang dan tidak melakukan apa-apa, lebih baik aku menjaga perpustakaan. Lagipula hari ini juga lagi sepi, tidak ramai seperti biasanya.

Lamunanku langsung pecah, saat mendengar pintu dibuka dan melihat laki-laki kekar berkulit tan memasuki perpustakaan, ia mengenakan seragam Rakuzan. Aku tidak percaya kalau dia itu seorang murid SMA. Maksudku—lihatlah ototnya!

Lalu dibelakangnya diikuti oleh laki-laki (yang sepertinya) hyper active. Ia memiliki rambut pirang dengan poni pendek. "Ei-chan, pastikan kau cepat memilih buku yang akan kau pinjam, jika kita telat datang latihan—pasti Akashi akan menghukum kita!" keluh si laki-laki pirang itu.

Oh, pasti mereka anggota klub basket.

"Tidak akan lama, lagipula kau ini berisik sekali Hayama." Dia menggaruk kepalanya, kemudian menguap dengan lebar.

"Selain itu—pasti Reo-nee akan menceramahi kita!" seru si laki-laki pirang itu, aku langsung berdehem. "Ehem!" menandakan kalau mereka itu berisik, si laki-laki pirang itu sempat menatapku sesaat kemudian dia menganggukkan kepalaku sambil tersenyum paksa, dan sepertinya dia berbisik "Maaf." Kepadaku dari sana.

Curiga kalau mereka akan membuat masalah di perpustakaan, aku memerhatikan gerak gerik mereka berdua secara seksama.

.

.

.

Tidak lama kemudian, mereka berdua kembali—dengan buku ditangan mereka masing-masing. Mereka berdua berdiri di depanku dan meletakkan buku yang akan mereka pinjam di mejaku, aku mengambil pulpen dan mengambil kartu peminjaman yang diselipkan di setiap buku. Aku menuliskan tanggal dan nama dan kelas—tunggu, siapa nama mereka? Dan mereka kelas berapa?

Aku menengadahkan kepalaku, menatap mereka berdua secara bergantian.

"Maaf, tapi... nama dan kelas kalian—"

"Nebuya Eikichi, kelas 2-D." Potong si laki-laki kekar itu, aku tidak percaya kalau dia ini kelas dua!

"Hayama Koutarou, kelas 2-D juga~" ucap pria pirang itu dengan riang.

Tapi tunggu, sepertinya aku kenal dengan nama mereka. Aku mundur sedikit dari meja, dan membuka laci meja—mencari daftar nama orang-orang yang belum mengembalikan buku.

"Maaf, tapi tolong tunggu sebentar." Akhirnya aku menemukan daftar namanya, aku mencari nama mereka dengan teliti. Dan benar saja dugaanku—

"Hayama-senpai, Nebuya-senpai, kalian belum mengembalikan beberapa buku yang dulu kalian pinjam saat kelas satu ya?"

Mereka berdua saling menatap. Hayama-senpai mulai cengengesan, dan Nebuya-senpai memutar bola matanya kesal.

"Oh, ayolah. Lagipula bukunya juga sudah sangat tua, bahkan kertasnya sudah kuning, memangnya perpustakaan masih perlu buku yang sudah usang begitu?" ucap Nebuya-senpai, membuatku menyerinyitkan dahiku

"Walaupun buku itu sudah tua dan usang, Senpai harus tetap mengembalikannya, karena banyak orang lain yang membutuhkan buku yang Senpai belum kembalikan sampai sekarang juga." Tegurku kepada Nebuya-senpai. Aku menolehkan kepalaku dan menatap Hayama-senpai.

"Eeto... kalau bukunya hilang, bisakah pihak perpustakaan melupakannya saja?" ucap Hayama-senpai, walaupun dia mengatakannya dengan kesan bercanda—aku tahu kalau dia menghilangkan semua buku yang ia pinjam.

"Mana bisa begitu dong, kalau bukunya hilang—paling tidak Senpai harus bayar denda, atau Senpai bisa menyumbangkan beberapa buku milik Senpai yang sudah tidak dipakai lagi."

Tanpa Aku sadari, tangan Nebuya-senpai dan Hayama-senpai diam-diam mulai menarik buku yang ingin mereka pinjam, aku langsung menahannya dengan kedua tanganku.

"Tidak bisa, Senpai harus janji akan mengembalikan buku dan menggantinya!" aku menatap mereka berdua secara bergantian, mereka mendesah kesal, dan semakin menarik buku yang ingin mereka pinjam, tentu saja aku semakin menahannya.

"Ayolah, kami butuh buku ini untuk mengerjakan tugas!"

"Biarkan kami pergi! Lagipula kami kan kakak kelasmu!"

Aku langsung menatap mereka dengan tajam "Status 'kakak kelas' atau 'lebih tua' disini tidak berlaku. Meminjam buku, artinya harus mengembalikan. Buku hilang, artinya harus menggantinya. Istilahnya, kalian harus bertanggung jawab begitu kalian meminjam buku perpustakaan!"

"Baik-baik, aku mengerti! Sekarang lepaskan bukunya!" titah Hayama-senpai, dia memelototiku—dan aku mempelototinya kembali.

"Biarkan aku meminjam buku ini, kalau kau terus menahannya, kau akan—" Nebuya-senpai seperti mau mengancamku, aku langsung menatapnya dan mengatakan

"Senpai akan apa?"

Dia langsung diam, dan terus menarik buku yang mau ia pinjam. Uuh—terkutuklah tangannya yang kekar itu, dia kuat sekali!

Terjadilah tarik menarik buku diantara kami bertiga. Aku menatap mereka secara bergantian, suasana perpustakaan yang sepi ini dipenuhi dengan geraman kesal antara kami bertiga seperti; "Grrrr!"

"Kau ini keras kepala sekali! Kita bisa telat latihan!" rutuk Hayama-senpai, yang memasang ekspresi kesal.

"Lepaskan bukunya, kalau begini terus bisa sobek karena ototku!" ucap Nebuya-senpai.

Aku menggelengkan kepalaku dan menjawab "Tidak! Sampai Senpai berjanji akan mengembalikan dan mengganti buku perpustakaan!" seruku tidak mau kalah. Akhirnya mereka berdua berteriak—mengatakan kalau mereka

"Aku berjanji!" secara bersamaan. Aku langsung melepaskan genggamanku, dan menatap mereka berdua lagi.

"Janji?"

"Iya, janji."

Aku mengangkat kedua jari kelingkingku, dan mengarahkannya kepada mereka berdua. Hayama-senpai, dan Nebuya-senpai menatapku dengan kebingungan.

"Kalian janji bukan? Ayo, tautkan jari kelingking kalian dengan kelilngking ku." Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka, dan terlihat agak gugup. Kenapa? Aku hanya meminta mereka untuk menautkan jari kelingking mereka.

"Euhm... ya, baiklah." Hayama-senpai menautkan jari kelingkingnya denganku, tapi dia menghindari kontak mata denganku.

"Ei-chan, ayo! Biar kita cepat pergi dari sini!"

Nebuya-senpai mengerang dan menautkan jari kelilingkingnya denganku. Ukh, walaupun hanya kelingking aku bisa merasakan otot-ototnya.

"Kalian sudah berjanji padaku, dan juga pihak perpustakaan. Paling telat minggu depan ya!"

"Baik-baik, sekarang kami bisa pergi kan?!"

"Tidak, masih belum. Kalian harus membuat surat perjanjian dulu."

"Oh, AYOLAH!"


Hayama dan Nebuya cepat-cepat mengganti baju mereka dan memasuki Gym, mereka berdua langsung disambut hangat oleh kapten—dan wakil kapten mereka.

"Kotarou, Eikichi. Kenapa kalian telat?" tanya Akashi dengan nada yang dingin.

"Barusan kami ke perpustakaan dulu, mau meminjam buku." Jawab Nebuya, tidak lengkap.

"Lalu? Kenapa hanya meminjam buku kalian bisa telat selama 40 menit?" kali ini Reo yang bertanya

"Itu... penjaga perpustakaannya mencegah kami dulu untuk pergi." Ujar Hayama.

Akashi mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Kalian membuat ulah disana?" tanyanya dengan curiga, yang langsung ditolak keras oleh Hayama dan Nebuya.

"Tidak!"

"Kami hanya lupa mengembalikan buku perpustakaan selama satu tahun, dan perempuan itu terus mencegah kami, dan memaksa kami untuk berjanji kepadanya untuk mengembalikan buku, dan membuat surat perjanjian!" keluh Nebuya, dia masih kesal karena kejadian di perpustakaan barusan.

Hanya?

Reo menghela nafas, kesal. "Makanya, aku sudah mengatakannya dari dulu kan. Kembalikan buku yang kalian pinjam dari perpustakaan kalau memang sudah tidak dipakai lagi!" bentaknya kepada teman seangkatannya itu. "Lagipula, siapa nama penjaga perpustakaan itu?"

"Yang penting dia itu perempuan, dan dia anak kelas satu." Jawab Nebuya ogah-ogahan.

"Bodoh, apa kau tidak lihat pin nama di dadanya?" ucap Hayama, yang membuat Nebuya salah paham "Kau ini lihat pin namanya atau dadanya?" tanyanya sambil menatap Hayama dengan mesum.

"Tentu saja da—maksudku namanya! Euhm... barusan namanya..." Hayama menekan dahinya dengan jari telunjuknya, berusaha untuk mengingatnya lagi. "Kalau tidak salah... [Last Name]... [Last Name] apa ya?"

Mendengar nama yang sangat dia kenal itu, Akashi langsung menebak "Maksudmu [Full Name]?"

Hayama menjentikkan jarinya dan menunjuk-nunjuk wajah Akashi "Nah, itu dia! Kau kenal dia Akashi?"

Akashi menyingkirkan tangan Hayama yang sedang menunjuknya itu. "Aku kenal dia, dia teman sekelasku." Akashi langsung merubah tatapannya menjadi tatapan yang sangat tajam dan dingin. "Karena kalian telat, lari keliling sekolah sebanyak tiga kali."

"Eh!? tapi—Rakuzan kan sangat be—" sebelum Hayama menyelesaikan kata-katanya, Akashi langsung memotongnya

"Apa katamu? Mau ditambah jadi enam kali?"

"Tidak, terima kasih, tiga sudah lebih dari cukup!" seru Nebuya dan melesat keluar dari Gym sambil menyeret Hayama bersama dengannya untuk menjalani hukuman dari Akashi. Reo yang berdiri disebelah Akashi menghela nafas berat dan mulai kembali latihan. Sementara Akashi yang masih berdiri di tempat yang sama sedang menggumamkan sesuatu

"[Name]-san ya..."


Aku meregangkan tubuhku, duduk di kursi selama ber jam-jam itu benar-benar membuatku pegal, barusan aku terlalu serius menyusun data. Tidak terasa sekarang sudah jam 6 sore, Perpustakaan sudah sangat sepi, tidak ada siapa-siapa selain aku. Memang agak menakutkan sih, tapi toh, tidak terjadi apa-apa selama aku sendiri disini.

Aku mengemaskan barang-barangku, dan mulai berjalan pulang kerumah.

Malam ini... aku makan apa ya? Beli makanan instant? Tidak, aku tidak boleh sering makan makanan instant. Berhenti di sebuah restoran? Tidak, lebih baik aku masak sendiri saja.

Aku berjalan di trotoar yang cukup ramai, di sebrang jalan ada banyak kedai jajanan, tapi tempat yang aku butuhkan sekarang adalah supermarket!

.

.

.

Akhirnya aku menemukan sebuah supermarket, dan aku beruntung sekali kalau hari ini sedang banyak diskon, hehe~

Aku membeli beberapa kentang, daging sapi dan daging ayam, sayur-sayuran, bumbu dapur, beberapa cemilan dan... tofu. Sebenarnya aku tidak pernah membeli tofu sebelumnya, tapi entah kenapa firasatku mengatakan kalau aku harus membelinya. Lagipula harganya juga murah.


3rd POV

Gadis bersurai hitam itu keluar dari supermarket, dari ekspresinya saja orang-orang yang melihatnya pasti tahu kalau dia sedang melamun atau memikirkan sesuatu. [Name] sama sekali tidak tahu kalau dibelakangnya ada pengendara sepeda yang sekarang sudah mau menabraknya, karena pengendara itu tidak fokus ke jalan, pengendara itu menyetir dengan tangan sebelah kirinya, dan tangan sebelah kanannya digunakan untuk memainkkan ponselnya.

Seseorang berteriak kepada [Name]

"Hei, awas!"

Tapi gadis itu sama sekali tidak tahu kalau orang itu sedang berteriak kepadanya


READER POV

Aku berjalan keluar dari supermarket, sambil melamun malam ini harus masak apa. Tiba-tiba seseorang berteriak

"Hei, Awas!"

GREP!

Aku tidak tahu orang itu berteriak kepada siapa, tapi saat aku menolehkan kepalaku ke belakang, aku melihat ada orang yang berdiri di belakangku, dia membelakangiku, dan saat aku menengadahkan kepalaku, aku langsung tahu siapa orang ini walaupun dia sedang membelakangiku.

"Kalau kau sedang menyetir sepeda, simpan ponselmu untuk nanti, apa kau tidak bisa lihat kalau kau hampir menabrak seseorang?"

"A-Akashi-kun?"

Ternyata itu Akashi-kun, dia sedang menahan sepeda seseorang di depannya dengan tangan sebelah kanannya.

"Ma-maafkan aku." Si pengendara sepeda itu meminta maaf kepada Akashi-kun, Akashi-kun melepaskan genggamannya dari setir sepeda itu, membiarkan orang itu pergi.

Akashi-kun menolehkan kepalanya kepadaku, kami pun saling menatap. Tapi masalahnya dia menatapku dengan tajam! Apa tatapannya memang tajam seperti itu?

"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan yang datar. Aku sama sekali apa yang dia maksud, tapi aku tetap saja menjawab

"Iya...?"

"Lain kali kalau kau sedang jalan jangan melamun, barusan kau tidak tahu kalau kau hampir tertabrak bukan?" Tegurnya.

Eh? Jadi... barusan aku hampir tertabrak?!

Aku menundukkan kepalaku "Terima Kasih Akashi-kun, aku sama sekali tidak tahu..." ucapku dengan suara yang kecil.

"Sama-sama." Jawabnya singkat.

Tess

Aku merasakan ada sesuatu yang basah jatuh diatas kepalaku. Aku melihat langit yang sudah gelap, dan mengulurkan kedua tanganku.

Tes... tes... Tes Tes...

DRRRSSSHH

Tiba-tiba hujan turun, aku langsung menarik tangan Akashi-kun, membawanya bersamaku mencari tempat yang teduh.

.

.

.

"Maaf ya Akashi-kun, aku tiba-tiba menarik tanganmu seperti itu." Ucapku sambil tersenyum. Aku menepuk-nepuk bahuku yang agak basah karena kena hujan barusan.

"Tidak apa-apa." Jawabnya sama sekali tidak menatapku.

Dia ini dingin sekali...

Aku menghela nafas, membuka tasku untuk mengambil payungku.

Tapi tunggu...

Payungku dimana?!

"Lho?" Aku meletakkan tasku di bawah, aku jongkok dan mencari payungku lagi. Bahkan aku sampai mengeluarkan semua buku yang aku bawa. Tapi tetap saja tidak ada!

"Kok tidak ada?!"

Jangan bilang ketinggalan dirumah atau hilang di suatu tempat!

Jangan bilang kalau aku harus menunggu hujan reda!

Aku menggigit kuku jempolku dengan khawatir. Maksudku... bagaimana kalau hujannya tidak reda-reda juga?

Masa aku harus menumpang memakai payung Akashi-kun? (Itupun kalau dia bawa)

Tidak, aku harus cepat pulang, aku lapar!

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membawa tasku di atas kepalaku, dan berlari keluar dari tempat berteduh.

"Maaf Akashi-kun, aku dulu-Ommfh!" baru satu langkah keluar dari tempat berteduh, aku sudah menabrak sesuatu. Saat aku melihat apa yang aku tabrak barusan, aku hanya melihat warna Putih, jika dilihat baik-baik, ini adalah payung lipat.

Akashi-kun menghalangiku pulang dengan payungnya, dia menatapku dengan datar dan bertanya.

"Rumahmu dimana?"

Kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu?

"Euhm... agak jauh dari sini, aku tinggal jalan lurus saja untuk sampai gedung apartement, memangnya kenapa?"

Dia menatapku selama beberapa detik, tidak memberi respon apapun, dan mulai berjalan ke jalan yang sedang diguyur hujan dengan payungnya, meninggalkanku disini yang kebingungan dengan pertanyaannya barusan.

Tapi entah kenapa Akashi-kun berhenti jalan, dia menolehkan kepalanya dan kembali menatapku, kemudian dia mengatakan:

"Kenapa kau diam disitu saja?"

"Eh?"

Akashi-kun menghela nafas, tiba-tiba dia menarik tanganku sampai aku berada di bawah satu payung yang sama dengannya. Dia masih menatapku, dan aku menatapnya kembali.

"Kau masih tidak mengerti? Aku akan mengantarmu pulang."

DEG...

Jantungku langsung berdetak dengan kencang. Kami masih saling menatap dengan posisi yang sangat dekat seperti ini.

Aku pikir... Akashi-kun itu orang yang sangat dingin, dan tidak pernah menolong orang lain.

Tapi ternyata Aku salah.

Akashi-kun itu orang yang baik.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cie yang tatap-tatapan, Cie yang dianterin pulang, Cie yang mulai baper #hush

Okeh, disini Misa udah masukin romance-romance gitu, dan disinilah akan dimulai... euhm... suka-sukan nya? Yah, pokoknya gitulah.

Semoga puas lah sama chapter ini, dan maaf kalau masih kehitung pendek ya~