Title

Gwaenchanha

Chapter

3

Author

Nae

Rate

T

Genre

Brothership

Main Cast

Cho Kyuhyun. Kim Kibum. And other

Disclaimer

All of you Know, but I still hope Kim Kibum would truly be mine

Summary:

Kyuhyun yakin semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tidak tahu kenapa rasanya begitu sulit?

Warning :

OOC,typo(s), ide pasaran dan mudah ditebak, geje, tidak nyambung dan berbagai hal gak penting lainnya yang menjurus ke arah membosankan.

.

.

"Irreona, Kyu! Kau lupa hari ini hari pertamamu masuk sekolah, huh?"

"Hyung, apa dia benar-benar han—"

"Hae-ya, carilah pertanyaan yang lebih kreatif!"

"Ah, ne, ne, Hyung. Jangan marah begitu."

"Pertanyaanmu selalu sama. Aku bosan mendengarnya."

"Hyung pikir, aku tak bosan melakukan ini setiap pagi? Kau selalu mengajakku membangunkan bocah ini. Kau tidak bisa membangunkannya sendiri, eoh?"

"Tentu saja karena hanya kau yang selalu saja punya cara membuatnya terbangun."

"Itu berarti kau tidak kreatif, Hyung."

"Aku itu terlahir tampan, bukan kreatif."

"Mwo? Tapi aku lebih tampan darimu, Hyung!"

"Ani, Hae... kau itu lucu seperti ikan Nemo."

"Hyung! Aku itu tampan dan kau itu jelek!"

"YA! Kalian berisik sekali. Aiiisshh... jelas-jelas aku yang paling tampan!"

.

.

Kyuhyun merasa kurang sehat hari ini. Sejak semalam ia merasa kepalanya sakit, dan hawa panas terasa menguar di sekujur tubuhnya. Sedikit demam sepertinya. Kyuhyun yakin kalau demam yang menyerangnya saat ini adalah efek gugup yang membuatnya begitu tertekan. Sejak semalam ia tidak bisa tidur dengan lelap hanya karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan ia hadapi di sekolah barunya.

Sebenarnya Kyuhyun tidak suka menyembunyikan apa pun dari Eomma dan kedua hyung-nya. Terlebih jika itu soal kesehatannya. Tapi mengingat apa yang terjadi padanya hanya demam biasa yang mungkin beberapa jam ke depan akan mereda, Kyuhyun memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun pada Eomma dan hyung-hyung-nya. Tak perlu membuat kecemasan untuk hal-hal yang dirasa biasa saja. Lagipula ini hari pertamanya masuk sekolah. Tidak mungkin ia melewatkannya begitu saja.

"Aiishh... sudah kubilang aku ini yang paling tampan. Apalagi dengan seragam ini." Kyuhyun tersenyum lebar. Memerhatikan penampilan rapinya di balik cermin. Seragam Kyunghee, sekolah terbesar di Seoul yang sudah dipilihkan Eomma untuknya itu sudah melekat rapi di tubuhnya. Kyuhyun terlihat begitu tampan dengan seragam itu. Ia tertawa kecil mengingat perdebatan kedua hyung-nya beberapa jam lalu yang sukses mengusik tidurnya. Siwon Hyung benar, Donghae itu selalu punya cara untuk membuatnya terbangun.

Menarik nafas dalam, dan kembali menatapi pantulan dirinya di balik cermin. Menata baik-baik tiap inci penampilannya. Sempurna. Ia terlihat begitu tampan meski agak sedikit pucat. Tersenyum simpul, lantas kembali menghirup udara lebih dalam, memejamkan mata, dan menuntun jari-jari tangannya saling bertaut di depan dada. Seketika, barisan do'a meluncur merdu di balik bibirnya yang agak sedikit pucat dan kering.

"Appa, ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Aku berdo'a pada Tuhan agar hari ini aku mendapat teman yang baik di sekolah baruku. Atas nama Tuhan, aku berjanji akan menjadi anak yang pintar dan baik biar Appa di surga selalu bangga padaku."

Sebuah do'a sederhana dan sebuah janji yang berani, terukir dalam sanubari yang terdalam.

Kyuhyun membuka matanya bersamaan dengan suara ponselnya yang berdering, menandakan ada panggilan masuk. Memerhatikan penampilannya sekali lagi, lantas segera mungkin ia menyambar ponsel berwarna putih polos yang tergeletak sembarang di atas tempat tidurnya itu. Dan senyuman lebar tersemat rapi di balik bibirnya saat bola mata karamelnya menangkap foto beserta nama si pemanggil di balik layar ponselnya.

Dan aku yakin tidak akan ada teman lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, Chwang. Batin Kyuhyun sebelum mengangkat panggilan dari sahabatnya di Gyeongju sana itu.

"KYUNIE!"

Kyuhyun kembali menjauhkan ponselnya bahkan sebelum benda mungil itu menyentuh daun telinganya. Selalu seperti ini. Kebiasaan temannya itu, selain bisa merusak speaker handphone-nya dan gendang telinganya, juga bisa membuat ia terkena serangan jantung saking kagetnya.

"Kenapa kau selalu berteriak seperti itu saat menelponku, huh?!" ketus Kyuhyun pura-pura kesal. Ia berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya.

"Mianhae, ne? Aku terlalu bersemangat. Hahaha..."

Dalam satu gerakan, Kyuhyun membuka jeldela bergorden biru cyan itu. "Aiisshh, kau ini!" Angin musim gugur menerpa wajah tampannya. Mengibarkan surai ikal kecoklatan yang sudah disisir itu dengan lembut. Kyuhyun menghirup bebas udara yang bergerak itu sebanyak mungkin. Memberikan sensasi lega dalam paru-parunya.

Untuk beberapa saat Kyuhyun merasa begitu tenang dan damai dalam buaian angin sejuk musim gugur. Sampai di detik berikutnya, Kyuhyun merasa hembusan angin itu menusuk hidungnya, membuatnya terasa gatal. Rasa perih sontak menyerang matanya dan...

Huuaacchhimm!

"Kau sedang sakit, eh?"

Kyuhyun mengosok hidungnya dengan tangannya. Lantas mengusap matanya yang sedikit berair. "Ne. Aku sedikit demam hari ini." Namja berusia lima belas tahun itu kembali menutup jendela kamarnya. Berjalan menjauhinya dan segera mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. Kepalanya tiba-tiba saja terasa begitu pusing.

"Kau sudah minum obat? Sebaiknya jangan pergi ke mana-mana. Istirahatlah!"

"Ini hari pertamaku masuk sekolah, Chwang." Kyuhyun memejamkan matanya sembari memijit pelan keningnya. Kepalanya berdenyut lebih hebat.

"Jinjja? Di mana?"

"Kyunghee," jawab Kyuhyun pendek. Ia mati-matian menahan ringisan untuk tidak keluar dari mulutnya dan membuat Changmin berpikir berlebihan.

"Tapi, kau sedang sakit, Kyu. Kau bisa masuk setelah sehat nanti."

"Gwaenchanha. Ini hanya efek gugup karena mau masuk sekolah baru. Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya," jelas Kyuhyun menenangkan.

"Sekali-kali jangan berpikiran buruk dengan apa yang belum terjadi, Kyu. Ingat kondisimu yang mudah drop hanya karena tertekan sedikit saja."

"Aku hanya gugup, Chwang!" Kyuhyun kembali bersin.

"Gugup itu terjadi karena kau tidak bisa berpikir positif."

"Kau cerewet. Aku tutup teleponnya, ne? Keluargaku sudah menunggu." Tanpa menunggu jawaban Changmin, namja bertubuh tinggi kurus itu mengakhiri panggilan. Teriakan Donghae dari lantai bawah baru saja bertepi hingga gendang telinganya.

. .

"Aku pergi." Donghae membuka pintu mobil saat kendaraan peninggalan ayahnya yang membawa seluruh anggota keluarganya itu berhenti di depan kampus barunya.

Nyonya Lee dan Siwon menoleh ke arah putra kedua keluarga Lee itu dan mengangguk.

"Semoga harimu menyenangkan, Kyu." Namja jurusan psikologi itu menepuk singkat kepala Kyuhyun yang sejak tadi duduk di sampingnya sebelum berlari memasuki gerbang Universitas barunya.

Kyuhyun mendengus saja saat gerbang tinggi Universitas Kangnam itu menelan tubuh Hyung keduanya. "Semoga harimu menyenangkan juga, Hyung," ujarnya pelan. Siwon kembali menjalankan mobil silver tua itu menuju sekolah baru Kyuhyun yang berjarak tidak begitu jauh dari universitas Donghae. Setelah mengantar kedua adiknya, ia baru akan berangkat menuju tempat kerjanya bersama Eomma.

"Hyung, sebaiknya kita memutar arah dan kembali ke kampus Hae Hyung." Suara Kyuhyun menginterupsi aktifitas di jok depan.

"Wae?" tanya Siwon. Namja tampan itu menatap Kyuhyun di balik kaca spion sementara Nyonya Lee memilih untuk memutar tubuhnya guna menatap putra bungsunya itu.

"Hae Hyung meninggalkan bukunya, Hyung. Aiishh... dia itu ceroboh sekali," gerutu Kyuhyun menunjukan buku dengan tebal lebih dari 3 cm itu pada Siwon dan Nyonya Lee.

"Ini hari pertamanya masuk kuliah. Hyung yakin dia tidak begitu membutuhkan bukunya. Kau simpan saja, ne? Lagipula kita sudah hampir terlambat."

Kyuhyun menatap Eomma yang sudah mengangguk, menyepakati perintah Hyung pertamanya. Kyuhyun hanya mengangkat bahu dan memasukan buku ber-cover hijau gelap itu ke dalam tasnya. Ia juga tidak ingin terlambat di hari pertamanya.

.

.

Sakit kepala Kyuhyun hilang seketika. Benar dugaannya kalau demamnya hanya efek gugup yang berlebihan. Faktanya, setelah ia melewati hari yang menyenangkan di sekolah barunya, sakit itu sirna dan ia tidak bisa berhenti tersenyum. Sejak keluar dari kelas, senyumnya terus berkembang. Tergores rapi di bibirnya. Ia terus tersenyum di sepanjang koridor sekolah yang ia lewati saat ini.

Pertama kali masuk kelas, ia disambut hangat oleh teman-temannya. Mereka bahkan berebut ingin duduk di sampingnya. Yang sayangnya, Kang Seonsaengnim, wali kelas barunya menempatkannya di meja pojok yang kosong tanpa penghuni. Menguarkan koor kecewa dari teman-temannya.

Kyuhyun langsung mendapat banyak teman. Sesuatu yang berada di luar dugaannya. Meski sebenarnya ia belum benar-benar menganggap mereka teman yang baik, yang sesuai dengan hatinya seperti Changmin. Tapi, ia cukup senang dengan respon mereka atas kehadirannya.

"Hyungie!"

Kyuhyun terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang berteriak dan memeluknya dari belakang. Saking kagetnya, membuat ia refleks melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya itu dan menghempaskan si pemilik tangan itu hingga terjatuh ke lantai.

"A-a... kau? Aiissh, aku kira... a-auw! Aduhhh..." Namja itu meringis pelan sembari bangkit dan memegang pantatnya yang baru saja dengan sukses mencium lantai beranda sekolah.

Melihat hal itu, mau tidak mau membuat Kyuhyun merasa bersalah. Demi wajahnya yang tampan, ia benar-benar kaget dan spontan melakukan hal itu. Tak ada niat untuk melukai bocah mungil di hadapannya sekarang. Tanpa banyak berpikir lagi sesegera mungkin ia membantu namja dengan seragam yang berbeda dengannya itu untuk berdiri tegak. Lantas menuntun siswa yang—dilihat dari seragamnya—merupakan siswa Kyunghee Junior High School itu untuk duduk di salah satu kursi terdekat.

"Mianhae, ne? Kau baik-baik saja?" Kyuhyun berujar tulus. Diamatinya baik-baik namja berpipi chubby di hadapannya dengan rinci. Takut ia melukai adik kelasnya itu lebih parah lagi. Terlebih ia baru sadar kalau wajah namja itu dihiasi beberapa plester luka dan memar keunguan. Ia ingin bertanya kenapa wajah imut itu babak belur jika saja ia tidak ingat kalau ini kali pertamanya mereka bertemu. Ia tidak ingin dianggap kepo tentu saja.

"Gwaenchanha. Aku yang seharusnya meminta maaf. Sunbae pasti sangat kaget karena tiba-tiba kupeluk seperti itu. Dari belakang kau mirip sekali dengan Hyung-ku." Namja itu tertawa canggung. Warna merah karena malu berpadu dengan warna biru keunguan di wajahnya membuatnya terlihat begitu lucu di mata Kyuhyun.

"Ah, jinjja? Semirip itu, eoh?" Kyuhyun menggaruk tengkuknya.

"Ne, sunbae."

Kyuhyun tersenyum. Namja di hadapannya itu benar-benar lucu. Bola matanya yang lugu dan polos terasa begitu meneduhkan hatinya "Kalau begitu, kau boleh memanggilku Hyung juga." Kyuhyun menguacak pelan rambut hitam namja itu.

Bola mata namja yang satu tahun lebih muda dari Kyuhyun itu berbinar. Ia menatap Kyuhyun senang. "Kim Henry imnida," lanjutnya memperkenalkan diri.

"Lee Kyuhyun imnida."

"Kyuhyun Hyung?"

Kyuhyun tersenyum. Sebagai putra bungsu, dipanggil dengan sebutan Hyung itu terasa begitu aneh di telinganya. Membuat ia terkekeh kecil begitu namja yang rupanya bernama Henry itu memanggil namanya dengan embel-embel Hyung. Tapi, entah kenapa, Kyuhyun merasa begitu bahagia dengan panggilan itu. Terlebih begitu melihat senyum lebar nan manis yang tergurat sempurna di bibir merah Henry. Mungkin Henry bisa menjadi teman yang baik meski usianya jauh di bawahnya.

"Kita teman?" Kyuhyun mengacungkan kelingkingnya di hadapan Henry.

Henry tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Kyuhyun. "Kita saudara, Hyung."

Mendengar jawaban itu membuat Kyuhyun kembali tersenyum. Benar-benar menggemaskan.

"Ayo bantu aku mencari hyung-ku. Kabarnya dia tidak mengikuti pelajaran sepanjang hari ini."

"Jinjja?"

"Ne, Hyung. Tapi, aku yakin kalau dia ada di sekolah. Aiisshh, dia itu benar-benar aneh!"

"Siapa nama Hyung-mu, Henry-ya?"

"Kim Kibum."

"Dia itu aneh. Benar-benar aneh!"

Kyuhyun terkekeh pelan mendengar cerocosan panjang Henry di sepanjang koridor yang mereka lewati. Sudah hampir satu jam berlalu mereka menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai menyepi itu tapi belum juga menemukan sosok bernama Kim Kibum yang Henry bilang. Dan di satu jam ini juga Henry tidak berhenti membicarakan Kibum hyung-nya hingga membuat rasa penasaran merayap di kepala Kyuhyun. Tanpa ada yang tahu, dalam hati Kyuhyun menggumamkan nama itu berulang kali.

"Kau tau, Kyu Hyung? Kapasitas otaknya yang berada di atas rata-rata itu membuat aku dan semua orang di sekitarnya kadang tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Wajah datarnya yang jarang menggambarkan kalimat, dan juga sifatnya yang benar-benar pelit kata, membuatku kadang frustasi menghadapinya."

Kyuhyun menyimak baik-baik setiap kalimat yang keluar dari mulut Henry sembari sibuk membayangkan bagaimana sosok namja yang saat ini menjadi topik pembicaraan mereka.

"Kyu Hyung, kita teman, bukan?" Henry menatap Kyuhyun serius. Kyuhyun mengangguk singkat.

"Kalau begitu, boleh aku meminta tolong padamu?" Iris karamel Henry menyorotkan harapan penuh. Ia menatap Kyuhyun dengan lekat.

Kyuhyun mengangguk cepat. "Tentu saja." Namja berkulit pucat itu tersenyum nyakin. Dibalasnya tatapan namja dengan wajah penuh luka—yang belum Kyuhyun ketahui kenapa—itu dengan lembut. Demi Tuhan, namja di hadapannya yang baru saja ia kenal itu entah kenapa telah menarik perhatian lebih darinya. Rasanya Kyuhyun tidak perlu berpikir banyak untuk dekat dengan namja berusia di bawahnya itu.

"Jadilah teman hyung-ku, ne?"

"Hmm?" Kyuhyun menaikan sebelah alisnya, tak mengerti.

"Dia itu aneh. Jadi tak ada yang mau berteman dengannya. Aku ingin dia seperti remaja normal lainnya yang punya banyak teman dan bersikap normal seperti remaja biasanya juga."

Dalam bayangan Kyuhyun, Kim Kibum itu pasti bukan orang yang asyik. Mendengar cerita Henry, tentu saja membuat berbagai spekulasi bermunculan dalam benaknya. Rasa penasaran semakin bergerak liar di kepalanya. "Henry-ya, apa mungkin hyung-mu itu tid—"

BRAKK!

Kyuhyun menelan kembali pertanyaannya saat suara gebrakan itu membuatnya dan juga Henry terlonjak kaget. Entah sudah berapa kali Kyuhyun terkejut di sepanjang hari ini. Untuk beberapa saat mereka saling pandang sebelum akhirnya kompakan memandang ke arah ruangan dengan pintu tertutup yang hendak mereka lewati, tempat sumber suara yang baru saja mereka dengar.

"Jangan pernah mengganggunya lagi atau kau akan mati!"

Bola mata sipit Henry yang masih ditemani luka memar itu sontak membulat begitu suara ancaman yang berasal dari sumber yang sama bertepi di telinganya. Ia kenal suara itu. Benar-benar kenal dan ia yakin apa yang sedang terjadi di gudang sekolah itu bukan sesuatu yang baik. Tanpa memedulikan Kyuhyun yang bingung dengan reaksinya, secepat kilat namja bertubuh mungil itu berlari ke arah ruangan itu. Membuka pintunya dengan kasar. Kyuhyun yang masih larut dalam kebingungannya turut berlari mengikuti Henry.

Dan ia mematung di ambang pintu. Menonton adegan di depannya dengan tidak percaya.

"Hentikan, Hyung! Jangan lakukan ini!"

Mata Kyuhyun mengerjap beberapa kali. Memastikan matanya tidak kehilangan fungsi saat ini. Memastikan kalau orang yang saat ini tengah Henry peluk bukan orang yang pernah ia temui di taman tiga hari yang lalu. Bukan namja tampan pemilik senyum indah yang membagikan es krim pada anak-anak waktu itu.

Namun, seberapa keras pun ia mengelak, namja yang saat ini memenuhi bola matanya itu adalah benar-benar namja yang sama yang ia temui di taman tempo hari. Namja yang selama beberapa hari ini terus mampir dalam benaknya, namja yang membuatnya menyimpan harapan agar bisa bertemu kembali. Tentunya bukan pertemuan dalam situasi seperti ini. Namja yang rupanya bernama Kim Kibum itu terlihat begitu mengerikan saat ini. Lain dengan di hari pertama mereka bertemu.

"Lepas! Lepaskan aku, pabo!" Namja bernama Kibum itu mendorong tubuh Henry agar menjauh darinya.

Henry menguatkan pelukannya. "Ani, Hyung! Jangan pukul dia lagi. Sumpah demi Tuhan dia temanku, Hyung. Jebal... berhentilah!" mohonnya disela-sela usahanya menahan tubuh Kibum yang masih memberontak, berusaha melepaskan diri dan masih bernafsu menyerang namja lain di ruangan itu.

Bola mata Kyuhyun berputar ke arah namja berambut cokelat kusam di sudut ruangan. Dari penampilannya yang kusut dan beberapa luka memar di balik wajahnya sudah menjelaskan kalau ia menjadi korban penganiayaan yang Kibum lakukan. Kyuhyun ikut meringis melihat betapa parahnya luka di wajah namja yang sepertinya satu angkatan dengan Henry itu. Lukanya bahkan lebih parah dari luka yang ada di wajah Henry.

"Berhenti mempermalukanku dengan sikap idiotmu!" Kibum menepis kasar tangan Henry. Lantas segera berjalan keluar ruangan. Melewati Kyuhyun yang masih larut dalam ketidakpercayaannya.

Wangi parfum maskulin dapat Kyuhyun cium saat namja itu berjalan melewatinya. Jam ketidakpahaman masih belum berdetak dalam kepalanya. Otak jeniusnya tiba-tiba saja berjalan lebih lambat dari biasanya. Ia masih sibuk mencerna baik-baik apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Dan memikirkan semua itu membuat kepalanya kembali sakit. Kyuhyun menghela nafas dalam. Kenapa pusingnya datang lagi, eoh? Ugh! Kyuhyun membatin. Memijit pelan keningnya.

"YOU'RE LOSER! TUKANG NGADU, HUH?!"

BRUKK!

Beberapa detik Kyuhyun lewatkan untuk larut dalam pikirannya sendiri sampai ketika jam kesadarannya kembali berdetak, ia sudah melihat Henry tersungkur di antara tumpukan barang-barang bekas di ruangan itu.

"YA! Apa yang kau lakukan, huh?" Kyuhyun berlari menyerbu tubuh Henry dan membantunya berdiri. Ditatapnya sosok namja di hadapannya dengan tajam.

"Jangan kira semuanya bakal berhenti begitu saja, Kim Henry!" Tak memedulikan tatapan tajam Kyuhyun yang tidak berpengaruh apa pun untuknya, namja berambut cokelat kusam itu mendorong bahu Henry, sejurus kemudian dengan tertatih berjalan keluar ruangan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kyuhyun memerhatikan Henry lebih rinci lagi. Henry tak merespon. Adik kelasnya itu tampak sibuk menatap nanar pintu yang terbuka. Bola mata berwarna karamelnya menyorotkan kesedihan yang mendalam.

"Hei, sudahlah! Kajja, kita pulang." Kyuhyun mengguncang pelan bahu Henry.

Henry terkesiap. "Ah, gwaenchanha, Hyung. Kajja kit—YA! Hyung, hidungmu berdarah!"

"Eh?"

.

.

To be continue

.

.

Makasih yang udah review chapter kemarin. Maaf tidak bisa membalas satu-satu. Tapi saya baca semuanya kok.

Chapter 4-nya saya update sekitar 2-3 mingguan lagi. Jika lebih dari itu, boleh ingatkan saya.

gomawo

.

.

Jika ada yang tidak dimengerti dan ada yang perlu ditanyakan, you can contact me at (twitter : (et)nhyea1225/ facebook: Nae (nhyea1225 (et)yahoo..com) /bbm: 5467BAFB )